Kamis, 10 September 2015

AKUMA NO YOROI

Part 24

“Yuya! Hentikan dia!”, perintah Hikaru pada Yuya yang sedang bersandar di tembok.

Yuya menggeleng. “Tidak bisa. Tidak ada yang bisa menghentikannya kalau sudah begini. Kita hanya bisa membiarkannya sampai dia merasa kenyang”

Semua demon disana hanya bisa memandang Daiki dengan ketakutan. Takut karena kalau mereka tidak melakukan sesuatu, Daiki bisa melahap habis mereka dan mereka akan terperangkap dalam tubuh Daiki selamanya.

Itulah yang terjadi 10 tahun yang lalu. Entah bagaimana kejadian awalnya, tapi Daiki merasa sangat lapar sehingga dia menyerang kediaman keluarga Okamoto dan memakan beberapa dewa pelindung milik keluarga Okamoto. Salah satu dewa pelindung yang menjadi korban ‘lapar’ Daiki adalah Chii, dimana kekuatannya diambil dan Chii hanya bisa bertahan hidup dengan sisa kekuatannya yang ada setelah dia bersusah payah meloloskan diri dari tubuh Daiki.

Jikalau dugaan Yuya benar, maka dalang peristiwa 10 tahun yang lalu adalah Yuto. Pada saat itu, Yuto-lah yang mengajak pergi Daiki ke suatu tempat tanpa sepengetahuan Yuya. Yuya juga tidak terlalu mempedulikan hal itu, dia hanya berpikir kalau Daiki lapar, dia akan kembali dengan sendirinya.

Dan entah mengapa sedikitnya Yuya mulai mengerti apa maksud tindakan Yuto saat itu. kenapa dia membiarkan Daiki yang sedang kelaparan dan membiarkannya berkeliaran membabi buta di dunia manusia.

Inoo tersenyum. Di saat semua temannya kebingungan bagaimana caranya mengembalikan Daiki seperti semula, Inoo malah tersenyum.

“Kenapa kau malah bahagia dengan situasi ini? kau mau mati begitu saja?”, ucap Yama yang kesal melihat sikap Inoo yang tenang-tenang saja.

“Ini kesempatan yang bagus”

“Haa??? Kesempatan bagus apanya Inoo? Kita semua juga akan dimangsa oleh Daiki”, sahut Yabu kesal.

“Tidak akan. Aku punya cara untuk mengeluarkan kita dari bahaya ini”

“Apa maksudmu?”, tanya Yabu lagi.

Inoo menoleh ke arah Yuya yang masih menjaga jarak pada Daiki. “Yuya, bisakah kau membawa Daiki keluar dari sini dan membawanya ke suatu tempat?”

Takaki melihat Inoo dengan pandangan tidak percaya. “Kau ingin aku menjadi umpan untuknya? Jangan bercanda!”

“Aku memintamu untuk membawanya, bukan menjadikanmu sebagai umpan”, Inoo mendesah panjang. “Pancing Daiki keluar dan bawa dia ke tempat dua demon kelas S itu berada”

---***---
“Morimoto”

Shin dan Ryu segera menoleh secara serempak saat nama mereka dipanggil oleh salah satu pelayan Yang Mulia.

“Siapa yang kau maksud?”, tanya Shin.

“Kalian berdua Tuan Morimoto. Ada perintah dari Yang Mulia Raja Demon. Beliau meminta kalian berdua untuk pergi ke dunia manusia”

“Untuk apa?”, tanya Ryu malas sambil memainkan hpnya.

“Tuan Kyomoto meminta bantuan dan Yang Mulia Raja menyuruh Tuan sekalian untuk membantunya”

“Cih. Merepotkan saja”, gerutu Ryuu kesal.

---***---
“Jesse!”

Taiga berteriak saat Jesse terpukul mundur karena serangan yang diarahkan oleh duo Kenichi-sama dan Chii. Kenichi mengarahkan kekuatannya untuk melindungi Chii disaat Chii maju untuk menyerang. Sebaliknya, bila Taiga atau Jesse mengarahkan serangan mereka pada Kenichi, Chii segera berlari untuk melindunginya.

“Tutup mulutmu Taiga! Jangan berteriak seakan-akan aku akan mati begitu saja”

Jesse memuntahkan darah dari mulutnya. Setelah cukup banyak darah yang keluar, tubuh Jesse yang terkoyak maupun terluka berangsur-angsur kembali seperti semula.

“Cih! Ini merepotkan!”, umpat Jesse. “Aku mulai lapar”

Taiga masih tetap fokus bertarung dengan Chii. Taiga terus melancarkan serangannya tanpa henti pada lawannya. Taiga terus membuat dan memanggil demon kelas rendah untuk menyerang dan semua serangan itu berhasil dimusnahkan oleh Chii.

“Menghadapi seekor kyuubi memang tidak mudah”, gumam Taiga.

“Uh... coba ada Daiki. kita bisa memintanya untuk menghisap kekuatan kyuubi itu dan kita bisa mengalahkannya dengan mudah”, gerutu Jesse.

Taiga dan Jesse tiba-tiba terdiam. keduanya merasakan sesuatu sedang mendekat dengan cepat ke arah mereka. salah satunya mempunyai aura membunuh yang sangat kuat.

“Jesse, keinginanmu terkabul”

“Tapi kita tidak tahu apakah dia berada di pihak kita atau di pihak musuh”, Jesse mengeluarkan sebuah senjata dari tubuhnya. “kalau dia menjadi musuh, itu akan sangat merepotkan”

---***---
“Ayah?”

Keito terdiam sejenak saat melihat sosok ayahnya yang sudah menghilang bertahun-tahun kini berdiri di hadapannya. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan ayahnya disini. Awalnya, Keito berniat untuk membantu Arioka senpai dan Takaki senpai untuk bertarung dengan dua demon kelas S. Tapi dia sama sekali tidak mengira kalau dia juga bisa kembali bertemu dengan ayahnya disini.

“Kenichi... sama?”

Yama juga sama terkejutnya dengan Keito. Dia hanya bisa terpaku saat melihat tuan yang sangat dihormatinya berada di depannya. Perasaan haru bercampur marah mulai timbul dalam diri Yama. Haru karena bisa bertemu lagi dengan tuannya, marah karena tuannya itu telah memutus kontrak mereka secara sepihak.

“Keito... Yama...”

---***---
“Brengsek!”

Jesse semakin gusar ketika Daiki mulai menyerangnya. Kini dia merasa sangat kerepotan menghadapi serangan Chii dan Daiki sekaligus. Sebenarnya dia bisa mengalahkan Daiki karena Daiki adalah demon kelas A. Tapi kemampuan yang dimiliki Daiki ini sangat spesial. Dia bisa menghisap kekuatan lawan yang jauh lebih kuat darinya. Jadi, meskipun Daiki terluka karena serangan musuh, selama Daiki bisa menggigit lawannya, maka Daiki menang saat itu juga.

“Takaki-san! Apa kau benar-benar mau mengkhianati kami?”, seru Taiga pada Yuya yang hanya diam mengamati pertarungan mereka.

“Diam kau bocah! Itu juga bukan keinginanku”, balas Yuya.

“Eh?! Tidak kusangka kalau Takaki akan berkhianat dan memihak pada manusia. Bukankah diantara demon kelas S, kau yang paling membenci manusia?”, ejek Jesse.

“Sudah kubilang, itu bukan keinginanku! Bocah terkutuk itu seenaknya saja mengikat kontrak denganku! Si Inoo itu juga seenaknya saja memberikan darahku padanya!”

“Bukankah itu berarti kau yang lemah? Kau bisa ditipu oleh Inoo dan kini menjadi budak manusia selamanya”, ejek Jesse lagi.

“Jesse, hentikan. Kalau kau mengejeknya lagi, kau yang akan kerepotan”, cegah Taiga. Taiga tahu kalau Jesse sengaja mengejek Yuya. Tapi itu akan semakin memperburuk keadaan. Mereka berdua sudah kerepotan menghadapi seekor kyuubi dan Daiki yang mengamuk. Jika Yuya juga turun tangan ke pertarungan ini, sudah dipastikan siapa yang akan menang nanti.

“Tenang saja Taiga”

Jesse tersenyum dan menunjuk ke sisi lain mereka. Sebuah pintu dimensi terbuka yang menghubungkan antara dunia manusia dan dunia demon terbuka. Di saat itulah dua demon kembar keluar dari pintu itu.

“Shin!”, seru Taiga riang, dia senang akhirnya bala bantuan telah tiba. “Kau juga sudah bangun rupanya, Ryuu”

“Huaamm... kau saja yang membantu mereka Shin, aku mau tidur”

Shin hanya menggeleng melihat kakaknya. Ryuu mengambil jarak beberapa meter untuk menjauh dari pertarungan. Disaat dia akan memejamkan matanya, perhatiannya kini teralihkan pada sosok yang selalu dicarinya. Tubuhnya terasa aneh. salah satu kekuatan yang ada di dalam tubuhnya memberontak ingin keluar.

Ryutaro tersenyum senang saat melihat Yama yang berdiri tidak jauh dari situ. Ryutaro bahkan tidak bisa menyembunyikan gigi tajamnya akibat senyumnya yang terlalu lebar.

“Kau juga ada disini, Yama”

Yama menoleh ke atas. Dia merasa ada yang memanggilnya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok demon yang telah mengambil kekuatannya. Demon itu melihat ke arahnya dengan senyum yang menjijikkan.

“Ryuu...”, Yama menggeram. Yama bingung harus bagaimana. Dia ingin sekali bertarung dengan Ryutaro dan mengambil kekuatannya kembali. tapi dengan kondisi tubuhnya saat ini, hal itu sangat mustahil dilakukan.

“Shin, kau bantu mereka disini, aku ingin bermain terlebih dahulu”

“Eh, Kak.. tunggu”

Belum sempat Shintaro menyelesaikan kalimatnya, Ryutaro sudah meluncur terlebih dahulu ke tempat Yama. Matanya semakin bersinar ketika melihat Yama.

“Yaa... maa... ayo kita main...”, ucap Ryutaro girang.

“Keito, Kenichi-sama, kalian menjauhlah dari sini”. Yama segera memasang kuda-kuda itu menyerang Ryutaro yang mendekat ke arahnya.

---***---
“Uwah... tampaknya situasi semakin memburuk. Si kembar Morimoto juga turun tangan”

“Apakah semua ini juga berjalan sesuai rencanamu Inoo?”

“Yah... sebagian iya, sebagian tidak. Aku sudah menduga kalau Daiki akan mengamuk karena kelaparan. Aku juga sudah tahu kalau Ryu dan Shin itu akan memperoleh kekuatan baru dari Hokuto. Tapi yang aku tidak sangka adalah kalau mereka semua harus berhadapan saat ini juga”

“Berarti kau gagal?”

Inoo tersenyum dan melihat ke arah Yabu dengan tenang.

“Aku tidak gagal Yabu. Ini semua memang di luar rencanaku, tapi aku juga sudah memikirkan kemungkinan hal seperti ini akan terjadi. kau harus memiliki ribuan rencana cadangan bila rencana utamamu gagal”

“Kau memang jenius Inoo! Aku suka kau! Sayang kau demon yang paling lemah di antara kita”

“Terima kasih Hikaru. Aku juga menyukaimu. Kau demon yang paling baik hati di antara kita”

Entah apa maksud ucapan kedua demon ini. sekilas mereka tampak memuji, tapi di saat yang bersamaan, mereka juga saling mengejek. Itu sifat alami demon, sifat buruk.

“Lalu... apa rencanamu sebenarnya?”,Yabu penasaran dengan rencana asli Inoo.

“Hmm... tunggu sebentar”, Inoo berpikir. “Sebenarnya aku berencana untuk membuat Daichan mengikat kontrak dengan Keito setelah Yuya. Lalu bersama-sama kita akan berusaha untuk mengembalikan kekuatan si anjing kecil itu untuk meningkatkan kekuatan pertahanan kita. Tapi Daichan lebih cepat mengamuk dari yang aku kira, kemunculan Yuto juga di luar perkiraanku”

Yabu hanya menatap Inoo dengan sedikit kagum. Teman demonnya ini memang jenius. Bahkan di saat dia masih menjadi manusia, Inoo sudah termasuk manusia yang sangat jenius. Alasan Inoo menjadi demon pun berbeda dengan yang lain. inoo hanya ingin tahu segalanya. Dia rela menjadi makhluk abadi hanya untuk mengetahui semua pengetahuan yang ada di dunia ini.

“Lalu? Apakah kita hanya diam saja disini? Kita tidak ikut terjun dalam pertarungan?”, tanya Hikaru yang tampaknya juga ingin ikut bersenang-senang bersama demon yang lain. tubuhnya tidak bisa diam melihat pertarungan yang terjadi di depan matanya.

“Lebih baik jangan. Saat ini, Ryu sudah berada disana. Kemampuan Ryu sama dengan Daichan. Mereka berdua bisa memakan kekuatan demon yang lebih kuat dari mereka. Kekuatan Ryu saat ini hampir setara dengan Yabu. Kalau aku, kau, dan Yabu kesana, kita hanya akan dimangsa saja”

“Jadi kita hanya akan diam saja disini? Tidak melakukan apapun?”, tanya Hikaru.

Inoo mengangguk, “Iya. Kita hanya akan menunggu. Kalau waktunya sudah tiba, kita akan bergerak”

“Menunggu apa?”

Yabu bertanya pada Inoo, tapi seperti biasa, Inoo tidak menjawab pertanyaan Yabu dan membuat Yabu kembali kesal padanya.

---***---
“Demon kembar itu ikut terjun dalam pertarungan rupanya”, Yuto melihat semua yang terjadi dari cermin besar yang menampilkan apa yang sedang terjadi di dunia manusia. “Yang Mulia rupanya ingin mengetes sejauh mana kekuatan mereka berdua naik”

Yuto menutup cermin itu dengan selembar kain dan mulai berjalan keluar menuju ke suatu tempat. “Sudah saatnya aku bergerak juga. Nah, Yugo dan Juri, siapa yang lebih dulu ya?”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar