Genre : Kalian akan tahu saat membacanya.
Sedikit sho-ai, tapi no kiss, no NC. Just hug. :)
Kau akan merasa sesuatu itu sangat penting
saat kau kehilangan.
---***---
Yamada dan Arioka sedang bersiap-siap membereskan
barang mereka, sedangkan 7 orang yang lain tetap melanjutkan latihan dance
mereka. Ya, Yamada dan Arioka berencana mengakhiri latihan mereka terlebih
dahulu karena mereka akan menuju lokasi syuting untuk pengambilan film dorama
baru mereka.
"Nee... Ryo-chan... Kau bisa kan
minggu ini?", bisik Chinen.
Yamada menoleh ke arah Chinen dengan muka
muram, "Gomen Yuri, aku ada syuting besok. Gomen"
Sekilas Chinen terlihat kecewa. Dia sangat
menantikan hari minggu besok. Rencananya mereka berdua akan pergi berbelanja
bersama. Tapi Chinen berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya karena dia tahu
Yamada sibuk dengan dorama barunya. Dia tidak ingin Yamada merasa terganggu.
"Aku mengerti. Lain Kali saja"
Yamada memegang tangan Chinen dan mengikat jari
kelingking mereka berdua.
"Kita akan pergi lain kali, aku janji.
Dan aku akan mentraktirmu"
"Kau juga yang akan membayar barang
yang akan aku beli!", tambah Chinen.
Yamada hanya tertawa. Dia memang sudah biasa
membayar keperluan Chinen saat mereka pergi bersama. 'Yama adalah dompetku'.
Itulah kata-kata egois Chinen. Tapi Yamada sama sekali tidak merasa sebal pada Chinen,
mungkin karena Yamada sudah terbiasa, atau memang karena dia sayang pada member
termuda itu.
Di sisi lain, Arioka berjalan mendekati
Takaki yang sedang menyandarkan dirinya di tembok.
"Yu~yan~", itu cara memanggil
Arioka pada Takaki kalau mereka sedang berdua atau ada hal yang ingin dikatakan
Arioka mengenai mereka berdua.
"Hmm? Apa?", balas Takaki sambil
meneguk air dalam botol minumnya.
Arioka mengatupkan kedua tangannya di hadapan
mukanya. "Gomen! Aku harus membatalkan rencana kita besok minggu. Aku tidak
bisa ikut bersama denganmu ke pantai besok"
"Ya, aku tahu. Kau ada syuting kan?
Kita bisa pergi kapan-kapan kok"
"Err... Kau bisa pergi kesana dengan
yang lain kok"
"Kau yakin?", Takaki memiringkan
wajahnya sambil melihat wajah member termuda BEST itu. "Kalau begitu aku
akan pergi bersama dengan Inoo". JLEB. Arioka merasa sedikit kecewa saat
Takaki berkata akan pergi bersama dengan orang lain. Dalam hati dia sebenarnya
tidak rela kalau Takaki pergi dengan orang lain.
"Ahahaha", tawa Takaki membuat
bingung Arioka. "Aku bohong. Aku akan pergi kesana denganmu kok. Aku sudah
janji kalau kau member pertama yang akan kuajak kesana kan?"
Arioka merasa wajahnya sedikit memerah. Dia
merasa Takaki bisa membaca Isi hatinya. Tapi selain itu, Arioka merasa lega Takaki
tidak akan pergi kesana bersama dengan orang lain. Arioka ingin dia yang
pertama tahu mengenai semua hal tentang Takaki.
"Ah, sudah waktunya. Yama-chan! Ayo
pergi!", Arioka membalikkan badannya sekilas ke Takaki yang melambaikan
tangan padanya, Arioka memberi tanda semacam kode pada Takaki yang menandakan,
'jangan lupa telepon atau SMS aku'. Dan Takaki menunjukkan kode 'OK' padanya.
"Ah... Jyaa ne Yuri, kalau aku sedang
senggang, aku akan meneleponmu dan kita akan segera pergi bersama", Yamada
memeluk Chinen sebentar sebelum dia melangkah keluar, membuat Yaotome dan Nakajima
menyoraki mereka karena kemesraan yang diperlihatkan oleh mereka. Chinen hanya
bisa tertunduk malu karena aksi berani Yamada.
Dan semua member melambaikan tangan pada
mereka saat mereka berpamitan.
---***--
Syuting drama ini memakan waktu lebih lama
dari yang diperkirakan. Banyak scene yang harus diulang karena sang sutradara
merasa adegannya kurang mengena. Yamada dan Arioka pun terpaksa harus menunda
janji mereka pada Takaki dan Chinen. Takaki hanya mengangguk mengerti saat
Arioka menjelaskan soal itu. Takaki terkesan baka, tapi di saat tertentu dia
bersikap dewasa. Berbeda dengan Chinen, Chinen langsung menunjukkan muka masamnya
setiap kali Yamada memberitahunya kalau janji mereka tertunda. Yamada bahkan harus
berulang kali menelepon Chinen untuk memperbaiki mood teman tersayangnya itu.
"Ah... Enaknya...", gumam Yamada
saat melihat Takaki menjemput Arioka di lokasi syuting. Arioka terlihat sangat
gembira setiap kali Takaki menjemputnya. Arioka memiliki jumlah scene yang
lebih sedikit daripada Yamada sehingga dia bisa pulang terlebih dahulu. Maklum,
Arioka bukan pemeran utama, Yamada-lah pemeran utama drama ini, jadi wajar kalau
scene Yamada jauh lebih banyak dari Arioka.
"Coba Yuri seperti Takaki", keluh
Yamada.
Chinen memang tidak pernah mengemudi Mobil
sendiri. Setiap kali mereka keluar, pasti Yamada yang menyetir, dan Chinen
berlagak seperti seorang bos. Bahkan Yamada sampai sekarang masih ragu apakah
Chinen bisa mengemudi Mobil atau tidak karena dia tidak pernah melihatnya menyetir.
Semakin lama, kegiatan mereka semakin
padat. Drama sudah mendekati bagian akhir, sehingga seluruh pemain berusaha
agar segera menyelesaikan drama secepat mungkin. Sang sutradara pun semakin
ngotot agar seluruh pemain berakting maksimal, sedikit kesalahan, maka seluruh
adegan diulang.
Yamada pun semakin jarang membalas sms dan
mengangkat telepon dari Chinen. Tidak ada waktu. Itulah alasan utama. Jadwal
syuting yang sangat padat membuat Yamada tidak sempat memikirkan kata 'istirahat'
di otaknya.
"Chii? Ah dia baik-baik saja kok. Akhir-akhir
ini dia sering keluar bersama dengan Yuya", ucap Yaotome saat secara tidak
sengaja bertemu dengan Yamada di lokasi syuting. Yaotome juga sedang syuting dorama
terbarunya. Sama seperti Yamada, Yaotome berperan sebagai tokoh utama. Yamada
menanyakan soal Chinen pada Yaotome saat mereka kebetulan bertemu.
"Dengan Yuya? Eh? Kok bisa?",
gumam Yamada tidak mengerti.
"Kau tidak pernah menggubris ajakannya
sih. Akhirnya Chinen meminta Takaki menemaninya", sahut Inoo yang
tiba-tiba muncul. Inoo juga berperan di drama yang sama dengan Yaotome.
"Eh?? Chinen dengan Yuya? Tidak. Aku tidak
setuju!", protes Arioka tiba-tiba.
"Kenapa tidak? Chinen kesepian dan
Takaki menemaninya. Itu wajar kan?", sahut Yaotome lagi.
"Tidak! Tidak boleh! Kalau Yuya
menemani Chinen terus, bisa-bisa uang Yuya habis. Aku tidak mau hal itu terjadi.
Kasihan Yuyan~~"
"Alasan, bilang saja kau cemburu kalau
Takaki keluar bersama dengan Chinen. Pacarmu sedang menemani Chinen yang
kesepian. Relakan saja sebentar. Lagipula kau disini asyik bersama
Yamada", balas Inoo.
"Tidak mau!", Arioka segera berlalu
pergi sambil mengetikkan sesuatu di HPnya. Sesekali dia tampak menggerutu. Inoo
dan Yaotome tertawa pelan melihat tingkah Arioka sedangkan Yamada terperangah
saat menyadari sesuatu.
"Eh? Daichan dan Yuya pacaran? Sejak
kapan??"
Yaotome dan Inoo kini melihat ke arah
Yamada. "Kau ini bebal atau apa? Bukankah sikap mereka sudah jelas kalau
mereka pacaran?", gerutu Yaotome.
"Tampaknya mereka berdua berusaha
menyembunyikannya Dari kita, tapi saking kesalnya Daichan, dia bahkan tidak
membantah kalau Takaki adalah pacarnya", ucap Inoo sambil tertawa.
Yamada mulai mengerti. Kini semuanya jelas.
Kenapa Takaki mau bersusah payah menjemput Arioka di tempat syuting. Kenapa
Arioka sangat gembira saat menerima SMS atau telepon Dari Takaki di sela-sela syuting.
"Lalu, kapan kau mengungkapkan
perasaanmu?"
Yamada menoleh heran ke arah Yaotome.
"Oh ayolah... Semua juga tahu kalau kau
menyukai Chii"
JDAR! Ucapan Yaotome seakan membangunkan
sesuatu dalam dirinya. Dia menoleh ke arah Inoo yang juga tampaknya menanti
jawaban darinya dengan penuh tanda tanya.
"Semua?", tanya Yamada tidak
percaya.
"Ya, semuanya. Perlakuanmu pada Chii sangat
berbeda bila dibandingkan perlakuanmu pada kami. Kalian bahkan sudah bersikap
seperti sepasang kekasih", Yaotome mengingatkan Yamada kembali akan
aksinya yang tampak mesra bersama dengan Chinen.
Yamada merasa mukanya panas. Mungkin bila
dia bisa melihat wajahnya di cermin, dia bisa melihat mukanya yang memerah.
"Lebih cepat kau nyatakan. Lebih baik.
Apalagi Chinen mempunyai perasaan yang sama denganmu. Kalau kau tidak segera mengungkapkannya,
Daichan akan tambah bad mood karena Chinen terus meminjam Takaki
bersamanya", Inoo menunjuk ke arah Arioka yang tampak mondar mandir sambil
berbicara di telepon. Dari raut mukanya, bisa ditebak siapa lawan bicaranya
sekarang.
"Setelah semua ini selesai, aku akan
bicara dengannya", ucapan Yamada membuat Yaotome dan Inoo bersorak
gembira. "Aku ingin fokus syuting dulu. Bisakah kalian sampaikan salamku
padanya?"
---***---
Yamada semakin tidak sabar ingin segera
bertemu dengan Chinen. Dia ingin segera mengungkapkan perasaannya. Dia juga
ingin segera mengembalikan mood sahabatnya sekaligus lawan mainnya di dorama Kali
ini.
Yamada dan Arioka kini harus menginap di
suatu pulau terpencil untuk pengambilan gambar terakhir. Berapa lama mereka
akan menginap, mereka belum tahu pasti. Oleh karena itu, baik Yamada maupun
Arioka sama-sama memberitahu Chinen dan Takaki mengenai soal ini. Agar mereka
tidak berpikiran buruk.
Hampir seminggu mereka berdua berada di
pulau tersebut, hari ini adalah hari terakhir mereka syuting. Mereka bisa
kembali keesokan harinya. Arioka langsung berlari mencari sinyal untuk
memberitahu Takaki mengenai hal baik itu. Selama berada di pulau itu, Arioka
dan Yamada tidak pernah menghubungi yang lain. Sinyal sangat sudah didapat di pulau
yang bisa dibilang terpencil itu.
"Kenapa mukamu masam begitu?", tanya
Yamada yang keheranan melihat wajah Arioka yang sangat berbeda dibandingkan
saat dia pergi.
"Dia tidak mengangkat teleponku.
Biasanya dia langsung mengangkatnya di Nada dering ketiga saat kutelepon"
Yamada tersenyum saat melihat tingkah
temannya yang terlihat seperti seorang gadis. 'Benar juga, kenapa aku tidak
menyadarinya Dari dulu', batin Yamada.
"Besok kita akan pulang, kita akan
segera bertemu dengan mereka semua. Jangan khawatir"
Arioka hanya mengangguk pasrah. Tapi dia
tetap memandangi hpnya itu. Perasaan tidak enak melanda dirinya. Tingkah Takaki
yang aneh untuk pertama kalinya membuat Arioka berpikir macam-macam. 'Semoga
tidak ada apa-apa', gumam Arioka dalam hati.
---***---
"Yosh! Kupikir Yuri akan senang dengan
semua ini"
Yamada tampak puas saat melihat tumpukan
hadiah yang terletak di dalam tasnya. Itu semua adalah hadiah yang dipilih
khusus oleh Yamada untuk Chinen. Rencananya, Yamada akan langsung mengajak Chinen
kencan saat mereka bertemu nanti. Dan di saat itu dia akan mengungkapkan
perasaannya.
Yamada melangkah menuju kantor dengan
riang. Bahkan dia merasa tasnya yang besar itu terasa sangat enteng. Dia tidak
sabar ingin segera bertemu dengan Chinen. Di depan kantor, Yamada bertemu
dengan Arioka yang tampak kebingungan.
"Yo Daichan! Ada apa?"
"Ah Yamachan... Hari ini bukan hari
libur kan?"
Yamada menatap jamnya. Disana juga tertera
tanggal hari ini. "Tidak kok. Kenapa?"
"Aku sudah masuk ke dalam. Tapi sepi.
Aku bahkan sempat berpikir apakah hari ini libur. Aku menelepon Yuya berkali-kali
tapi tidak diangkat. Aku juga mencoba menelepon member yang lain, tapi tidak
ada yang mengangkat juga"
"Hmm... Apa mungkin, semuanya berniat mengerjai
kita?", tebak Yamada.
"Ah... Kalau benar begitu, mungkin ini
adalah suatu acara iseng", tambah Arioka yang tampaknya sedikit setuju
dengan ide Yamada. Sebenarnya Arioka memiliki firasat yang tidak enak sejak kemarin.
Tapi dia berusaha menghilangkan perasaan itu.
"Ah! Itu gori! Yo keito!", Yamada
memanggil Okamoto yang tampak berjalan mendekati mereka. Mukanya tampak sedikit
sendu dan tidak bersemangat. "Kemana senua orang? Apakah hari ini libur?"
Okamoto melihat Yamada dan Arioka secara
bergantian. "Aku datang untuk menjemput kalian. Semuanya berkumpul di
tempat lain"
"Eh? Dimana?", tanya Yamada
penasaran. Okamoto hanya berlalu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Arioka hanya mengangkat bahu saat Yamada bertanya apa ada yang aneh. Mereka
berdua pun mengikuti Okamoto meskipun banyak tanda tanya di kepala mereka.
Okamoto menyetir mobilnya dengan hati-hati.
Sepanjang perjalanan, Yamada mencoba mengajak Okamoto berbicara, tapi Okamoto
hanya diam saja. Matanya terpaku pada jalan, seakan-akan dia tidak mendengar suara
Yamada.
Mobil terhenti di sebuah rumah sakit. Yamada
dan Arioka saling berpandangan. Okamoto berjalan masuk ke rumah sakit tanpa menjelaskan
apapun pada mereka berdua.
Okamoto berhenti di sebuah kamar. Arioka
membaca nama yang terpasang di depan kamar tersebut. Inoo Kei. Arioka
mengernyitkan dahinya. 'Inoo sakit? Sakit apa?'
Di dalam kamar tersebut, Arioka dan Yamada
melihat sosok Inoo yang sedang duduk bersandar. Mukanya terlihat lelah. Tak
hanya itu, seluruh member JUMP juga ada disana. Kecuali Takaki dan Chinen. Mereka
tidak terlihat dimanapun.
"Kei...", Arioka memanggil Inoo
pelan. Inoo langsung tersentak saat melihat Arioka berdiri di depan pintu
kamarnya. "Kau sakit apa?", tanya Arioka dengan sedikit cemas. Inoo
dan Arioka sudah lama bersama, mereka bagaikan saudara.
Reaksi Inoo selanjutnya membuat Arioka
terkejut. Inoo menangis. Ya, dia langsung menangis saat melihat Arioka.
"Maafkan aku daichan. Seharusnya aku
bisa mencegahnya. Maafkan aku"
"Kei? Apa yang terjadi? Kenapa?"
Inoo tidak membalas pertanyaan Arioka.
Sebagai gantinya, dia menangis dengan lebih keras. Arioka menatap Inoo dengan
tidak mengerti. Yabu memeluk Inoo dan berusaha menenangkan member terpintar
itu. Yabu memberikan kode pada yang lain, meminta agar membiarkan mereka berdua
sendirian di kamar. Yaotome yang mengerti, mengajak seluruh anggota untuk pergi
keluar kamar dan memberikan waktu untuk Inoo.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kei
sakit apa?", tanya Arioka.
Yaotome, Okamoto dan Nakajima saling
berpandangan. Yaotome menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Arioka.
"Inoo mengalami trauma Berat. Akibat hal itu, mentalnya jadi tidak stabil.
Dokter memutuskan untuk merawat Inoo disini sampai dia stabil kembali"
"Trauma Berat? Kok bisa?", Kali
ini giliran Yamada yang bertanya.
"Dia melihat kejadian itu di depan matanya,
tentu saja dia trauma". Nakajima langsung menyenggol Okamoto dan Yaotome
melirik kesal pada Okamoto.
"Kejadian apa?", Arioka bertanya lagi.
"Oh damn! Kalian ini kenapa? Jelaskan semuanya pada kami sekarang. Terlebih
lagi, dimana Yuyan dan Chinen? Aku tidak melihat mereka"
Ekspresi wajah ketiga orang itu langsung
berubah. Perasaan tegang langsung menyelimuti mereka.
"Kita tidak bisa menyembunyikannya terus
menerus", Nakajima melihat ke arah Yaotome.
"Baiklah. Ikuti aku, aku akan
mengantar kalian ke tempat Takaki", Yaotome melangkah terlebih dahulu,
diikuti oleh member yang lain.
"Yuyan ada disini? Apakah dia juga
sakit seperti Kei?", wajah Arioka mulai terlihat panik. Tapi ketiga orang
itu tidak berniat mengatakan apapun. Mereka terus saja berjalan sampai tiba di
sebuah ruangan yang tampak tertutup. Tulisan ICU tertera di depan ruangan itu.
Yaotome berhenti di sebuah jendela besar.
Dia kemudian menatap Arioka dengan sendu. "Yuya ada di dalam sana"
Arioka menatap ke arah jendela yang
dimaksud Yaotome. Disana dia bisa melihat seseorang sedang terbaring kaku di
sebuah tempat tidur. Di dekatnya terdapat banyak sekali alat Bantu kesehatan. Tubuhnya
dibalut perban sehingga Arioka tidak yakin kalau orang yang sedang terluka
parah itu adalah Takaki.
"Hika... Kalau kau ingin bercanda, ini
tidak lucu"
"Aku sedang tidak bercanda Daichan.
Orang itu memang Yuya"
Mata Arioka mulai berkaca-kaca saat dia
melihat keseriusan di mata Yaotome. Orang itu memang Takaki, Yaotone tidak
berbohong.
"Apa yang terjadi?", tanya
Yamada. Sama seperti Arioka, dia juga sangat syok melihat kondisi Takaki
menjadi seperti itu.
Yaotome dan Nakajima saling berpandangan.
Beberapa detik kemudian, Yaotome mulai bercerita. "2 hari lalu, kami melakukan
pemotretan di tengah kota. Seperti biasanya, kami memulai pemotretan di pagi hari".
Yaotome menghentikan ceritanya sebentar, lalu melanjutkannya lagi. "Pada
saat itu, Chinen berusaha memungut gantungan HPnya yang terjatuh. Tiba-tiba...
Ada sebuah truk yang melintas, sepertinya pengemudinya mabuk karena truk melaju
dalam kecepatan tinggi dan tidak terkendali. Dan sepertinya dia juga tidak
melihat ada Chinen di jalan. Takaki langsung berlari untuk menyelamatkan
Chinen, tapi..."
Yaotome menghentikan ceritanya. Tampaknya
meskipun tidak dilanjutkan, Yamada dan Arioka bisa mengerti apa yang terjadi.
"Lalu Yuri? Dimana dia?", tanya
Yamada panik. "Dia baik-baik saja?"
Nakajima memandang Okamoto, Okamoto melihat
jam di tangannya. "Acaranya dimulai 1 jam lagi. Kurasa kalian bisa datang
lebih dulu, itu lebih baik"
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke
tempat Chinen", ucap Nakajima sambil menggandeng tangan Yamada. Meninggalkan
3 orang yang lain di depan ruang Takaki.
"Kenapa bisa begini? Yuyan... Apa yang
terjadi?", gumam Arioka.
"Yuya berusaha melindungi Chinen, tapi
mereka berdua tetap tertabrak truk sehingga tubuh mereka mengalami luka berat,
Inoo melihat semua yang terjadi sehingga dia mengalami trauma Berat. Takaki berhasil
diselamatkan, tapi dia sudah mengalami koma 2 hari ini, harapan hidupnya sangat
tipis. Dokter bahkan mengatakan kalau..."
Yaotome menghentikan ucapannya saat Okamoto
memegang tangannya. Mengisyaratkan kalau lebih baik Yaotome tidak bercerita
lebih banyak lagi. Arioka terus menggumamkan kata 'Yuya' sambil terus memandang
sosoknya di balik jendela besar ruang ICU.
---***---
Nakajima memacu mobilnya. Mereka berdua
menuju rumah Chinen. Yamada tahu karena dia sering menuju ke rumah Chinen.
"Yuri ada di rumah? Dia baik-baik
saja?"
Nakajima tidak menjawab. Dia hanya memandu Yamada
masuk ke dalam rumah. Ibu Chinen menyambut mereka. Dia mengenakan kimono hitam.
Tidak hanya itu, semua orang yang ada disana juga mengenakan pakaian hitam.
Dari sini, Yamada mulai merasa tidak enak. Air matanya tidak terbendung saat mereka
kini tiba di sebuah ruangan. Sebuah peti berwarna putih dan foto Chinen yang
terpajang di dekat peti menjelaskan semuanya.
"Bohong... Ini semua bohong kan? Yuri...
Yuri tidak mungkin mati kan?"
Yamada berusaha mendapat jawaban dari
Nakajima yang tertunduk diam. Dia tidak berani melihat mata Yamada langsung.
"Mereka berdua tertabrak truk. Takaki
masih bisa diselamatkan. Tapi Chinen mengalami luka parah di kepala sehingga
dia meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit"
Yamada merasa semua tenaganya hilang saat
Nakajima menjelaskan apa yang terjadi. Dengan langkah gontai, dia menghampiri
sosok Chinen yang tertidur di dalam peti. Sosok Chinen yang ada di dalam sana,
menjelaskan semuanya kalau Chinen tertidur selama-lamanya.
"Yuri... Aku pulang... Hei, Yuri...
Aku sudah janji akan membawamu jalan-jalan kan? Coba lihat, aku bawa oleh-oleh
yang banyak. Kau pasti akan suka ini. Yuri..."
Berkali-kali Yamada memanggil Chinen, tapi
Chinen tidak membuka matanya. Membuat Yamada semakin terpukul dengan kenyataan
pahit ini.
'Kenapa? Aku belum memberitahumu semuanya.
Kenapa kau meninggalkanku begitu saja? Apa ini hukuman darimu karena sudah meninggalkanmu
dan tidak menemanimu beberapa hari ini? Ini hukuman yang Berat Yuri... Sangat Berat.
Apa yang harus kulakukan sekarang tanpa kehadiranmu?'
---***---
10 menit lagi upacara pemakaman Chinen akan
dimulai. Okamoto dan Yaotome sudah pergi menuju ke rumah Chinen. Arioka masih
terduduk lemas di depan ruang ICU. Menunggu Takaki untuk sadar. Sedangkan Yabu masih
menemani Inoo yang terus saja menangis dan menjeritkan nama Chinen berulang Kali.
Arioka tersentak saat beberapa perawat dan
dokter mulai masuk ke ruangan tempat Takaki berada. Jendela besar itu kemudian
ditutup sehingga Arioka tidak tahu apa yang terjadi di dalam. 10 menit
kemudian, dokter yang menangani keluar dan menghampiri Arioka.
"Anda keluarga pasien? Kami akan
memberitahukan kondisi terbaru pasien Takaki"
Dan Arioka tidak sanggup membendung air
matanya saat dokter menjelaskan semuanya.
---***---
Beberapa bulan sudah terlewati sejak kejadian
itu. JUMP masih belum kembali beraktifitas. Bahkan tidak ada kata 'kembali' bagi
mereka semua. Dengan sisa 6 member, apa yang bisa mereka lakukan?
Inoo masih terbaring lemah di rumah sakit.
Dokter sudah memperbolehkan dia pulang, tapi Inoo langsung menjerit saat mendengar
suara kendaraan atau melihat jalan raya. Dia bahkan langsung menangis saat
melihat Yamada maupun Arioka. Melihat kondisi Inoo seperti itu, dokter
memutuskan agar Inoo dirawat di rumah sakit sambil menjalani terapi agar
traumanya hilang.
Yabu terus menemani Inoo di rumah sakit.
Tidak pernah sekalipun dia meninggalkan Inoo. Yabu hanya akan meninggalkan Inoo
di saat Inoo tertidur, tapi itu tidak lama. Hampir setiap 1 jam sekali Inoo
akan terbangun, meneriakkan nama Takaki dan Chinen dan kemudian menangis. Inoo
terus seperti itu sejak kematian mereka berdua.
Yaotome kini juga dirawat di rumah sakit.
Alasannya juga sama seperti Inoo. Yaotome mengalami trauma. Dia bahkan takut
melihat air. Semenjak dia melihat sendiri tubuh Arioka yang menghilang ditelan
ombak, Yaotome selalu menjerit saat melihat air dan meneriakkan kalimat yang
sama. "Daichan! Jangan kesana! Daichan!"
Nakajima dan Okamoto berusaha menemani
Yamada. Yamada masih aktif di dunia artis, karirnya tetap saja melesat naik.
Tapi jiwanya sudah pergi. Dia bukan lagi Yamada yang dulu, dia bagaikan robot.
Bergerak hanya karena diperintah. Meskipun ada 2 orang temannya yang
menemaninya, Tidak ada lagi yang bisa mencairkan hatinya yang telah beku.
Mataharinya telah pergi untuk selamanya.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar