Selasa, 01 September 2015

PRECIOUS

Cast : All member JUMP (9 member)
Genre : Kalian akan tahu saat membacanya.

Sedikit sho-ai, tapi no kiss, no NC. Just hug. :)

Kau akan merasa sesuatu itu sangat penting saat kau kehilangan.

---***---

Yamada dan Arioka sedang bersiap-siap membereskan barang mereka, sedangkan 7 orang yang lain tetap melanjutkan latihan dance mereka. Ya, Yamada dan Arioka berencana mengakhiri latihan mereka terlebih dahulu karena mereka akan menuju lokasi syuting untuk pengambilan film dorama baru mereka.

"Nee... Ryo-chan... Kau bisa kan minggu ini?", bisik Chinen.

Yamada menoleh ke arah Chinen dengan muka muram, "Gomen Yuri, aku ada syuting besok. Gomen"

Sekilas Chinen terlihat kecewa. Dia sangat menantikan hari minggu besok. Rencananya mereka berdua akan pergi berbelanja bersama. Tapi Chinen berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya karena dia tahu Yamada sibuk dengan dorama barunya. Dia tidak ingin Yamada merasa terganggu.

"Aku mengerti. Lain Kali saja"

Yamada memegang tangan Chinen dan mengikat jari kelingking mereka berdua.

"Kita akan pergi lain kali, aku janji. Dan aku akan mentraktirmu"

"Kau juga yang akan membayar barang yang akan aku beli!", tambah Chinen.

Yamada hanya tertawa. Dia memang sudah biasa membayar keperluan Chinen saat mereka pergi bersama. 'Yama adalah dompetku'. Itulah kata-kata egois Chinen. Tapi Yamada sama sekali tidak merasa sebal pada Chinen, mungkin karena Yamada sudah terbiasa, atau memang karena dia sayang pada member termuda itu.

Di sisi lain, Arioka berjalan mendekati Takaki yang sedang menyandarkan dirinya di tembok.

"Yu~yan~", itu cara memanggil Arioka pada Takaki kalau mereka sedang berdua atau ada hal yang ingin dikatakan Arioka mengenai mereka berdua.

"Hmm? Apa?", balas Takaki sambil meneguk air dalam botol minumnya.

Arioka mengatupkan kedua tangannya di hadapan mukanya. "Gomen! Aku harus membatalkan rencana kita besok minggu. Aku tidak bisa ikut bersama denganmu ke pantai besok"

"Ya, aku tahu. Kau ada syuting kan? Kita bisa pergi kapan-kapan kok"

"Err... Kau bisa pergi kesana dengan yang lain kok"

"Kau yakin?", Takaki memiringkan wajahnya sambil melihat wajah member termuda BEST itu. "Kalau begitu aku akan pergi bersama dengan Inoo". JLEB. Arioka merasa sedikit kecewa saat Takaki berkata akan pergi bersama dengan orang lain. Dalam hati dia sebenarnya tidak rela kalau Takaki pergi dengan orang lain.

"Ahahaha", tawa Takaki membuat bingung Arioka. "Aku bohong. Aku akan pergi kesana denganmu kok. Aku sudah janji kalau kau member pertama yang akan kuajak kesana kan?"

Arioka merasa wajahnya sedikit memerah. Dia merasa Takaki bisa membaca Isi hatinya. Tapi selain itu, Arioka merasa lega Takaki tidak akan pergi kesana bersama dengan orang lain. Arioka ingin dia yang pertama tahu mengenai semua hal tentang Takaki.

"Ah, sudah waktunya. Yama-chan! Ayo pergi!", Arioka membalikkan badannya sekilas ke Takaki yang melambaikan tangan padanya, Arioka memberi tanda semacam kode pada Takaki yang menandakan, 'jangan lupa telepon atau SMS aku'. Dan Takaki menunjukkan kode 'OK' padanya.

"Ah... Jyaa ne Yuri, kalau aku sedang senggang, aku akan meneleponmu dan kita akan segera pergi bersama", Yamada memeluk Chinen sebentar sebelum dia melangkah keluar, membuat Yaotome dan Nakajima menyoraki mereka karena kemesraan yang diperlihatkan oleh mereka. Chinen hanya bisa tertunduk malu karena aksi berani Yamada.

Dan semua member melambaikan tangan pada mereka saat mereka berpamitan.

---***--

Syuting drama ini memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Banyak scene yang harus diulang karena sang sutradara merasa adegannya kurang mengena. Yamada dan Arioka pun terpaksa harus menunda janji mereka pada Takaki dan Chinen. Takaki hanya mengangguk mengerti saat Arioka menjelaskan soal itu. Takaki terkesan baka, tapi di saat tertentu dia bersikap dewasa. Berbeda dengan Chinen, Chinen langsung menunjukkan muka masamnya setiap kali Yamada memberitahunya kalau janji mereka tertunda. Yamada bahkan harus berulang kali menelepon Chinen untuk memperbaiki mood teman tersayangnya itu.

"Ah... Enaknya...", gumam Yamada saat melihat Takaki menjemput Arioka di lokasi syuting. Arioka terlihat sangat gembira setiap kali Takaki menjemputnya. Arioka memiliki jumlah scene yang lebih sedikit daripada Yamada sehingga dia bisa pulang terlebih dahulu. Maklum, Arioka bukan pemeran utama, Yamada-lah pemeran utama drama ini, jadi wajar kalau scene Yamada jauh lebih banyak dari Arioka.

"Coba Yuri seperti Takaki", keluh Yamada.

Chinen memang tidak pernah mengemudi Mobil sendiri. Setiap kali mereka keluar, pasti Yamada yang menyetir, dan Chinen berlagak seperti seorang bos. Bahkan Yamada sampai sekarang masih ragu apakah Chinen bisa mengemudi Mobil atau tidak karena dia tidak pernah melihatnya menyetir.

Semakin lama, kegiatan mereka semakin padat. Drama sudah mendekati bagian akhir, sehingga seluruh pemain berusaha agar segera menyelesaikan drama secepat mungkin. Sang sutradara pun semakin ngotot agar seluruh pemain berakting maksimal, sedikit kesalahan, maka seluruh adegan diulang.

Yamada pun semakin jarang membalas sms dan mengangkat telepon dari Chinen. Tidak ada waktu. Itulah alasan utama. Jadwal syuting yang sangat padat membuat Yamada tidak sempat memikirkan kata 'istirahat' di otaknya.

"Chii? Ah dia baik-baik saja kok. Akhir-akhir ini dia sering keluar bersama dengan Yuya", ucap Yaotome saat secara tidak sengaja bertemu dengan Yamada di lokasi syuting. Yaotome juga sedang syuting dorama terbarunya. Sama seperti Yamada, Yaotome berperan sebagai tokoh utama. Yamada menanyakan soal Chinen pada Yaotome saat mereka kebetulan bertemu.

"Dengan Yuya? Eh? Kok bisa?", gumam Yamada tidak mengerti.

"Kau tidak pernah menggubris ajakannya sih. Akhirnya Chinen meminta Takaki menemaninya", sahut Inoo yang tiba-tiba muncul. Inoo juga berperan di drama yang sama dengan Yaotome.

"Eh?? Chinen dengan Yuya? Tidak. Aku tidak setuju!", protes Arioka tiba-tiba.

"Kenapa tidak? Chinen kesepian dan Takaki menemaninya. Itu wajar kan?", sahut Yaotome lagi.

"Tidak! Tidak boleh! Kalau Yuya menemani Chinen terus, bisa-bisa uang Yuya habis. Aku tidak mau hal itu terjadi. Kasihan Yuyan~~"

"Alasan, bilang saja kau cemburu kalau Takaki keluar bersama dengan Chinen. Pacarmu sedang menemani Chinen yang kesepian. Relakan saja sebentar. Lagipula kau disini asyik bersama Yamada", balas Inoo.

"Tidak mau!", Arioka segera berlalu pergi sambil mengetikkan sesuatu di HPnya. Sesekali dia tampak menggerutu. Inoo dan Yaotome tertawa pelan melihat tingkah Arioka sedangkan Yamada terperangah saat menyadari sesuatu.

"Eh? Daichan dan Yuya pacaran? Sejak kapan??"

Yaotome dan Inoo kini melihat ke arah Yamada. "Kau ini bebal atau apa? Bukankah sikap mereka sudah jelas kalau mereka pacaran?", gerutu Yaotome.

"Tampaknya mereka berdua berusaha menyembunyikannya Dari kita, tapi saking kesalnya Daichan, dia bahkan tidak membantah kalau Takaki adalah pacarnya", ucap Inoo sambil tertawa.

Yamada mulai mengerti. Kini semuanya jelas. Kenapa Takaki mau bersusah payah menjemput Arioka di tempat syuting. Kenapa Arioka sangat gembira saat menerima SMS atau telepon Dari Takaki di sela-sela syuting.

"Lalu, kapan kau mengungkapkan perasaanmu?"

Yamada menoleh heran ke arah Yaotome.

"Oh ayolah... Semua juga tahu kalau kau menyukai Chii"

JDAR! Ucapan Yaotome seakan membangunkan sesuatu dalam dirinya. Dia menoleh ke arah Inoo yang juga tampaknya menanti jawaban darinya dengan penuh tanda tanya.

"Semua?", tanya Yamada tidak percaya.

"Ya, semuanya. Perlakuanmu pada Chii sangat berbeda bila dibandingkan perlakuanmu pada kami. Kalian bahkan sudah bersikap seperti sepasang kekasih", Yaotome mengingatkan Yamada kembali akan aksinya yang tampak mesra bersama dengan Chinen.

Yamada merasa mukanya panas. Mungkin bila dia bisa melihat wajahnya di cermin, dia bisa melihat mukanya yang memerah.

"Lebih cepat kau nyatakan. Lebih baik. Apalagi Chinen mempunyai perasaan yang sama denganmu. Kalau kau tidak segera mengungkapkannya, Daichan akan tambah bad mood karena Chinen terus meminjam Takaki bersamanya", Inoo menunjuk ke arah Arioka yang tampak mondar mandir sambil berbicara di telepon. Dari raut mukanya, bisa ditebak siapa lawan bicaranya sekarang.

"Setelah semua ini selesai, aku akan bicara dengannya", ucapan Yamada membuat Yaotome dan Inoo bersorak gembira. "Aku ingin fokus syuting dulu. Bisakah kalian sampaikan salamku padanya?"
---***---
Yamada semakin tidak sabar ingin segera bertemu dengan Chinen. Dia ingin segera mengungkapkan perasaannya. Dia juga ingin segera mengembalikan mood sahabatnya sekaligus lawan mainnya di dorama Kali ini.

Yamada dan Arioka kini harus menginap di suatu pulau terpencil untuk pengambilan gambar terakhir. Berapa lama mereka akan menginap, mereka belum tahu pasti. Oleh karena itu, baik Yamada maupun Arioka sama-sama memberitahu Chinen dan Takaki mengenai soal ini. Agar mereka tidak berpikiran buruk.

Hampir seminggu mereka berdua berada di pulau tersebut, hari ini adalah hari terakhir mereka syuting. Mereka bisa kembali keesokan harinya. Arioka langsung berlari mencari sinyal untuk memberitahu Takaki mengenai hal baik itu. Selama berada di pulau itu, Arioka dan Yamada tidak pernah menghubungi yang lain. Sinyal sangat sudah didapat di pulau yang bisa dibilang terpencil itu.

"Kenapa mukamu masam begitu?", tanya Yamada yang keheranan melihat wajah Arioka yang sangat berbeda dibandingkan saat dia pergi.

"Dia tidak mengangkat teleponku. Biasanya dia langsung mengangkatnya di Nada dering ketiga saat kutelepon"

Yamada tersenyum saat melihat tingkah temannya yang terlihat seperti seorang gadis. 'Benar juga, kenapa aku tidak menyadarinya Dari dulu', batin Yamada.

"Besok kita akan pulang, kita akan segera bertemu dengan mereka semua. Jangan khawatir"

Arioka hanya mengangguk pasrah. Tapi dia tetap memandangi hpnya itu. Perasaan tidak enak melanda dirinya. Tingkah Takaki yang aneh untuk pertama kalinya membuat Arioka berpikir macam-macam. 'Semoga tidak ada apa-apa', gumam Arioka dalam hati.

---***---
"Yosh! Kupikir Yuri akan senang dengan semua ini"

Yamada tampak puas saat melihat tumpukan hadiah yang terletak di dalam tasnya. Itu semua adalah hadiah yang dipilih khusus oleh Yamada untuk Chinen. Rencananya, Yamada akan langsung mengajak Chinen kencan saat mereka bertemu nanti. Dan di saat itu dia akan mengungkapkan perasaannya.

Yamada melangkah menuju kantor dengan riang. Bahkan dia merasa tasnya yang besar itu terasa sangat enteng. Dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan Chinen. Di depan kantor, Yamada bertemu dengan Arioka yang tampak kebingungan.

"Yo Daichan! Ada apa?"

"Ah Yamachan... Hari ini bukan hari libur kan?"

Yamada menatap jamnya. Disana juga tertera tanggal hari ini. "Tidak kok. Kenapa?"

"Aku sudah masuk ke dalam. Tapi sepi. Aku bahkan sempat berpikir apakah hari ini libur. Aku menelepon Yuya berkali-kali tapi tidak diangkat. Aku juga mencoba menelepon member yang lain, tapi tidak ada yang mengangkat juga"

"Hmm... Apa mungkin, semuanya berniat mengerjai kita?", tebak Yamada.

"Ah... Kalau benar begitu, mungkin ini adalah suatu acara iseng", tambah Arioka yang tampaknya sedikit setuju dengan ide Yamada. Sebenarnya Arioka memiliki firasat yang tidak enak sejak kemarin. Tapi dia berusaha menghilangkan perasaan itu.

"Ah! Itu gori! Yo keito!", Yamada memanggil Okamoto yang tampak berjalan mendekati mereka. Mukanya tampak sedikit sendu dan tidak bersemangat. "Kemana senua orang? Apakah hari ini libur?"

Okamoto melihat Yamada dan Arioka secara bergantian. "Aku datang untuk menjemput kalian. Semuanya berkumpul di tempat lain"

"Eh? Dimana?", tanya Yamada penasaran. Okamoto hanya berlalu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua. Arioka hanya mengangkat bahu saat Yamada bertanya apa ada yang aneh. Mereka berdua pun mengikuti Okamoto meskipun banyak tanda tanya di kepala mereka.

Okamoto menyetir mobilnya dengan hati-hati. Sepanjang perjalanan, Yamada mencoba mengajak Okamoto berbicara, tapi Okamoto hanya diam saja. Matanya terpaku pada jalan, seakan-akan dia tidak mendengar suara Yamada.

Mobil terhenti di sebuah rumah sakit. Yamada dan Arioka saling berpandangan. Okamoto berjalan masuk ke rumah sakit tanpa menjelaskan apapun pada mereka berdua.

Okamoto berhenti di sebuah kamar. Arioka membaca nama yang terpasang di depan kamar tersebut. Inoo Kei. Arioka mengernyitkan dahinya. 'Inoo sakit? Sakit apa?'

Di dalam kamar tersebut, Arioka dan Yamada melihat sosok Inoo yang sedang duduk bersandar. Mukanya terlihat lelah. Tak hanya itu, seluruh member JUMP juga ada disana. Kecuali Takaki dan Chinen. Mereka tidak terlihat dimanapun.

"Kei...", Arioka memanggil Inoo pelan. Inoo langsung tersentak saat melihat Arioka berdiri di depan pintu kamarnya. "Kau sakit apa?", tanya Arioka dengan sedikit cemas. Inoo dan Arioka sudah lama bersama, mereka bagaikan saudara.
Reaksi Inoo selanjutnya membuat Arioka terkejut. Inoo menangis. Ya, dia langsung menangis saat melihat Arioka.

"Maafkan aku daichan. Seharusnya aku bisa mencegahnya. Maafkan aku"

"Kei? Apa yang terjadi? Kenapa?"

Inoo tidak membalas pertanyaan Arioka. Sebagai gantinya, dia menangis dengan lebih keras. Arioka menatap Inoo dengan tidak mengerti. Yabu memeluk Inoo dan berusaha menenangkan member terpintar itu. Yabu memberikan kode pada yang lain, meminta agar membiarkan mereka berdua sendirian di kamar. Yaotome yang mengerti, mengajak seluruh anggota untuk pergi keluar kamar dan memberikan waktu untuk Inoo.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kei sakit apa?", tanya Arioka.

Yaotome, Okamoto dan Nakajima saling berpandangan. Yaotome menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Arioka. "Inoo mengalami trauma Berat. Akibat hal itu, mentalnya jadi tidak stabil. Dokter memutuskan untuk merawat Inoo disini sampai dia stabil kembali"

"Trauma Berat? Kok bisa?", Kali ini giliran Yamada yang bertanya.

"Dia melihat kejadian itu di depan matanya, tentu saja dia trauma". Nakajima langsung menyenggol Okamoto dan Yaotome melirik kesal pada Okamoto.

"Kejadian apa?", Arioka bertanya lagi. "Oh damn! Kalian ini kenapa? Jelaskan semuanya pada kami sekarang. Terlebih lagi, dimana Yuyan dan Chinen? Aku tidak melihat mereka"

Ekspresi wajah ketiga orang itu langsung berubah. Perasaan tegang langsung menyelimuti mereka.

"Kita tidak bisa menyembunyikannya terus menerus", Nakajima melihat ke arah Yaotome.

"Baiklah. Ikuti aku, aku akan mengantar kalian ke tempat Takaki", Yaotome melangkah terlebih dahulu, diikuti oleh member yang lain.

"Yuyan ada disini? Apakah dia juga sakit seperti Kei?", wajah Arioka mulai terlihat panik. Tapi ketiga orang itu tidak berniat mengatakan apapun. Mereka terus saja berjalan sampai tiba di sebuah ruangan yang tampak tertutup. Tulisan ICU tertera di depan ruangan itu.

Yaotome berhenti di sebuah jendela besar. Dia kemudian menatap Arioka dengan sendu. "Yuya ada di dalam sana"

Arioka menatap ke arah jendela yang dimaksud Yaotome. Disana dia bisa melihat seseorang sedang terbaring kaku di sebuah tempat tidur. Di dekatnya terdapat banyak sekali alat Bantu kesehatan. Tubuhnya dibalut perban sehingga Arioka tidak yakin kalau orang yang sedang terluka parah itu adalah Takaki.

"Hika... Kalau kau ingin bercanda, ini tidak lucu"

"Aku sedang tidak bercanda Daichan. Orang itu memang Yuya"

Mata Arioka mulai berkaca-kaca saat dia melihat keseriusan di mata Yaotome. Orang itu memang Takaki, Yaotone tidak berbohong.

"Apa yang terjadi?", tanya Yamada. Sama seperti Arioka, dia juga sangat syok melihat kondisi Takaki menjadi seperti itu.

Yaotome dan Nakajima saling berpandangan. Beberapa detik kemudian, Yaotome mulai bercerita. "2 hari lalu, kami melakukan pemotretan di tengah kota. Seperti biasanya, kami memulai pemotretan di pagi hari". Yaotome menghentikan ceritanya sebentar, lalu melanjutkannya lagi. "Pada saat itu, Chinen berusaha memungut gantungan HPnya yang terjatuh. Tiba-tiba... Ada sebuah truk yang melintas, sepertinya pengemudinya mabuk karena truk melaju dalam kecepatan tinggi dan tidak terkendali. Dan sepertinya dia juga tidak melihat ada Chinen di jalan. Takaki langsung berlari untuk menyelamatkan Chinen, tapi..."

Yaotome menghentikan ceritanya. Tampaknya meskipun tidak dilanjutkan, Yamada dan Arioka bisa mengerti apa yang terjadi.

"Lalu Yuri? Dimana dia?", tanya Yamada panik. "Dia baik-baik saja?"

Nakajima memandang Okamoto, Okamoto melihat jam di tangannya. "Acaranya dimulai 1 jam lagi. Kurasa kalian bisa datang lebih dulu, itu lebih baik"

"Baiklah, aku akan mengantarmu ke tempat Chinen", ucap Nakajima sambil menggandeng tangan Yamada. Meninggalkan 3 orang yang lain di depan ruang Takaki.

"Kenapa bisa begini? Yuyan... Apa yang terjadi?", gumam Arioka.

"Yuya berusaha melindungi Chinen, tapi mereka berdua tetap tertabrak truk sehingga tubuh mereka mengalami luka berat, Inoo melihat semua yang terjadi sehingga dia mengalami trauma Berat. Takaki berhasil diselamatkan, tapi dia sudah mengalami koma 2 hari ini, harapan hidupnya sangat tipis. Dokter bahkan mengatakan kalau..."

Yaotome menghentikan ucapannya saat Okamoto memegang tangannya. Mengisyaratkan kalau lebih baik Yaotome tidak bercerita lebih banyak lagi. Arioka terus menggumamkan kata 'Yuya' sambil terus memandang sosoknya di balik jendela besar ruang ICU.

---***---

Nakajima memacu mobilnya. Mereka berdua menuju rumah Chinen. Yamada tahu karena dia sering menuju ke rumah Chinen.

"Yuri ada di rumah? Dia baik-baik saja?"

Nakajima tidak menjawab. Dia hanya memandu Yamada masuk ke dalam rumah. Ibu Chinen menyambut mereka. Dia mengenakan kimono hitam. Tidak hanya itu, semua orang yang ada disana juga mengenakan pakaian hitam. Dari sini, Yamada mulai merasa tidak enak. Air matanya tidak terbendung saat mereka kini tiba di sebuah ruangan. Sebuah peti berwarna putih dan foto Chinen yang terpajang di dekat peti menjelaskan semuanya.

"Bohong... Ini semua bohong kan? Yuri... Yuri tidak mungkin mati kan?"

Yamada berusaha mendapat jawaban dari Nakajima yang tertunduk diam. Dia tidak berani melihat mata Yamada langsung.

"Mereka berdua tertabrak truk. Takaki masih bisa diselamatkan. Tapi Chinen mengalami luka parah di kepala sehingga dia meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit"

Yamada merasa semua tenaganya hilang saat Nakajima menjelaskan apa yang terjadi. Dengan langkah gontai, dia menghampiri sosok Chinen yang tertidur di dalam peti. Sosok Chinen yang ada di dalam sana, menjelaskan semuanya kalau Chinen tertidur selama-lamanya.

"Yuri... Aku pulang... Hei, Yuri... Aku sudah janji akan membawamu jalan-jalan kan? Coba lihat, aku bawa oleh-oleh yang banyak. Kau pasti akan suka ini. Yuri..."

Berkali-kali Yamada memanggil Chinen, tapi Chinen tidak membuka matanya. Membuat Yamada semakin terpukul dengan kenyataan pahit ini.

'Kenapa? Aku belum memberitahumu semuanya. Kenapa kau meninggalkanku begitu saja? Apa ini hukuman darimu karena sudah meninggalkanmu dan tidak menemanimu beberapa hari ini? Ini hukuman yang Berat Yuri... Sangat Berat. Apa yang harus kulakukan sekarang tanpa kehadiranmu?'
---***---

10 menit lagi upacara pemakaman Chinen akan dimulai. Okamoto dan Yaotome sudah pergi menuju ke rumah Chinen. Arioka masih terduduk lemas di depan ruang ICU. Menunggu Takaki untuk sadar. Sedangkan Yabu masih menemani Inoo yang terus saja menangis dan menjeritkan nama Chinen berulang Kali.

Arioka tersentak saat beberapa perawat dan dokter mulai masuk ke ruangan tempat Takaki berada. Jendela besar itu kemudian ditutup sehingga Arioka tidak tahu apa yang terjadi di dalam. 10 menit kemudian, dokter yang menangani keluar dan menghampiri Arioka.

"Anda keluarga pasien? Kami akan memberitahukan kondisi terbaru pasien Takaki"

Dan Arioka tidak sanggup membendung air matanya saat dokter menjelaskan semuanya.

---***---

Beberapa bulan sudah terlewati sejak kejadian itu. JUMP masih belum kembali beraktifitas. Bahkan tidak ada kata 'kembali' bagi mereka semua. Dengan sisa 6 member, apa yang bisa mereka lakukan?

Inoo masih terbaring lemah di rumah sakit. Dokter sudah memperbolehkan dia pulang, tapi Inoo langsung menjerit saat mendengar suara kendaraan atau melihat jalan raya. Dia bahkan langsung menangis saat melihat Yamada maupun Arioka. Melihat kondisi Inoo seperti itu, dokter memutuskan agar Inoo dirawat di rumah sakit sambil menjalani terapi agar traumanya hilang.

Yabu terus menemani Inoo di rumah sakit. Tidak pernah sekalipun dia meninggalkan Inoo. Yabu hanya akan meninggalkan Inoo di saat Inoo tertidur, tapi itu tidak lama. Hampir setiap 1 jam sekali Inoo akan terbangun, meneriakkan nama Takaki dan Chinen dan kemudian menangis. Inoo terus seperti itu sejak kematian mereka berdua.

Yaotome kini juga dirawat di rumah sakit. Alasannya juga sama seperti Inoo. Yaotome mengalami trauma. Dia bahkan takut melihat air. Semenjak dia melihat sendiri tubuh Arioka yang menghilang ditelan ombak, Yaotome selalu menjerit saat melihat air dan meneriakkan kalimat yang sama. "Daichan! Jangan kesana! Daichan!"


Nakajima dan Okamoto berusaha menemani Yamada. Yamada masih aktif di dunia artis, karirnya tetap saja melesat naik. Tapi jiwanya sudah pergi. Dia bukan lagi Yamada yang dulu, dia bagaikan robot. Bergerak hanya karena diperintah. Meskipun ada 2 orang temannya yang menemaninya, Tidak ada lagi yang bisa mencairkan hatinya yang telah beku. Mataharinya telah pergi untuk selamanya.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar