One Shot
Main Cast : Takaki Yuya & Arioka Daiki
Genre : Comedy, Romance, Shounen Ai
"Uwah... Capeknya..."
"Otsukare..."
Chinen menyambut Daiki yang baru saja menyelesaikan bagiannya di shooting PV ini. Setelah memastikan sutradanya memberikan kata 'Oke', Daiki langsung menarik nafas lega. Dia lalu mencari sebuah kursi untuk duduk.
"Ah, kalau mau kau bisa duduk disini Daichan...". Chinen segera berdiri dan menawarkan kursi yang didudukinya.
Daiki tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak usah. Aku sudah menemukan tempat duduk yang nyaman kok". Daiki menghampiri Yuya yang duduk tidak jauh Dari situ. Tanpa berkata apa-apa, Daiki langsung duduk di pangkuan Yuya dan menyandarkan kepalanya di Dada Yuya. Sedangkan Chinen hanya melihat semua kejadian itu dengan heran.
---***---
"Kau tertarik pada fotografi juga?", tanya Yuto pada Yuya yang asyik melihat foto di kameranya.
"Hmm... Ya... Begitulah"
"Kau mau mencetak foto? Aku bisa membantumu. Aku punya ruang gelap di rumahku untuk mencetak foto", tawar Yuto.
"Benarkah? Aku sangat tertolong", ucap Yuya sambil menyerahkan kameranya pada Yuto.
"Serahkan padaku"
Dan berikutnya, Yuto merasa menyesal membantu Yuya. Perasaan iri muncul tiap Kali dia melihat foto Yuya yang sudah jadi. Tiap lembar foto itu penuh dengan aura kemesraan Yuya dan Daiki. Perasaan iri Yuto memuncak saat melihat foto terakhir Daiki yang mencium pipi Yuya.
---***---
"Enak", gumam Yuya sambil memakan sebuah kue bolu strawberry.
"Untung kau ada di rumah. Aku sempat bingung bagaimana menghabiskan kue ini sendirian", gumam Yamada sambil sibuk mengunyah kue strawberry kesukaannya.
"Kalian sedang makan apa?", Daiki tiba-tiba muncul.
"Ah... Gomen daichan. Aku tidak tahu kau ada di rumah. Jadi aku tidak menyisakannya untukmu"
"Tidak apa Yamachan. Ini sudah cukup kok"
Daiki lalu duduk di sebelah Yuya dan membuka mulutnya. Yuya pun menyuapi Daiki dengan sisa kue miliknya.
"Enak?", tanya Yuya.
"Unn! Enak sekali", jawab Daiki riang. Dan Yuya melanjutkan menyuapi Daiki hingga semua kue habis.
---***---
"Kau keren sekali Daiki"
Daiki menoleh pada Keito yang duduk mengamatinya saat bermain DJ.
"Kau juga. Kau jauh lebih keren saat bermain gitar". Daiki balik memuji Keito. "Aku tidak bisa memainkan satupun alat musik. Kau bisa mengajariku?"
Keito terlihat ragu. "Baiklah. Tapi aku tidak yakin kalau aku guru yang baik"
Keito mulai mengajari Daiki bermain guitar. Dimulai dengan cara memegang guitar, memberi tahu letak kunci gitar, hingga cara memetik guitar.
"Berhati-hatilah. Kalau terlalu kasar, jarimu bisa terluka"
"Aduh!"
Belum selesai Keito berbicara, jari Daiki terluka karena terkena senar gitar. Keito langsung panik dan mencari plester untuk menghentikan darah yang keluar.
"Tidak perlu panik Keito", ucap Yuya yang baru saja masuk. Dia kemudian mendekati Daiki dan menghisap jari Daiki yang terluka. "Lihat. Darahnya sudah berhenti kan? Tidak usah khawatir lagi"
---***---
Hikaru sedang asyik menyiram tanaman sambil bersenandung sehingga dia tidak sadar kalau ada seseorang yang mengendap-endap di belakangnya.
"BAA!!!"
"UWAA!!!!", Hikaru spontan menyemprot air ke arah orang yang mengagetinya. "Daichan! Kau bikin kaget saja!", tiba-tiba Hikaru tersadar saat melihat tubuh Daiki yang basah. "Gomen Daichan, aku tidak sengaja menyirammu. Lebih baik kau segera ganti baju sebelum masuk angin"
"Kalian sedang apa?", tanya Yuya yang kebetulan lewat. Selembar handuk bertengger di pundaknya. "Kenapa kau basah begitu Daiki?"
"Yuya, kau mau mandi?", tanya Daiki pada Yuya. Yuya mengangguk. "Oke. Kalau begitu kita mandi sama-sama saja"
"EH?! Kalian mandi berdua?", tanya Hika yang terkejut.
"Kenapa? Ini bukan pertama kalinya kami mandi berdua kok", balas Daiki sambil menarik tangan Yuya.
Hikaru hanya bisa melongo melihat dua temannya menuju ke arah kamar mandi bersama-sama.
---***---
"Kau sedang baca apa?"
Inoo yang asyik membaca buku tersentak kaget saat menyadari Yuya yang ada di sampingnya.
"OMG Yuya! Kau hampir membuatku jantungan!"
Yuya terkikik pelan, "gomen. Aku tidak menyangka kau akan terkejut begitu", Yuya melirik isi buku Inoo. "Ah, kau membaca sebuah buku mandarin rupanya"
"Kau ingin belajar bahasa mandarin? Aku bisa mengajarimu. Daripada kau hanya bisa mengatakan 'wo ai ni'".
"Kenapa? Itu bukan kata-kata yang buruk kan?"
"Tapi aku bosan mendengarmu mengatakan kata-kata itu saja"
"Hmm... Tapi... Ada satu orang yang kukenal yang sangat suka saat aku mengucapkan kata-kata itu". Yuya melihat ke arah Daiki yang berada tidak jauh dari mereka. "Daiki...", panggil Yuya.
"Iya?", balas Daiki.
"Wo ai ni"
Daiki langsung berlari ke arah Yuya dan memeluknya. Yuya tersenyum ke arah Inoo. "Tuh kan, ada satu orang yang menyukainya?"
---***---
"Ah, sudah pagi rupanya"
Yabu melihat ke arah jam wekernya dan mulai berdiri untuk membereskan tempat tidurnya. Seperti biasa, dia pergi membangunkan Yuya yang merupakan teman sekamarnya.
Yabu menatap bingung ke arah ranjang Yuya. Sosok Yuya terlihat sangat besar. Selimut yang menutupi tubuhnya terlihat mengembang dan berisi.
"Apakah Yuya bertambah gemuk dalam semalam?"
Yabu terkejut saat gundukan selimut itu mulai bergerak. Tanpa ragu, Yabu menyingkap selimut Yuya. Dan...
"Ya ampun Daiki... Kenapa kau bisa ada disini???", seru Yabu yang terkejut saat mendapati sosok Daiki sedang tidur sambil memeluk Yuya di balik selimut.
"Engh, Yabu-kun? Aku tidak bisa tidur tadi malam. Jadi aku kemari untuk tidur bersama dengan Yuya. Aku merasa tenang saat tidur bersamanya", balas Daiki masih dalam keadaan setengah mengantuk.
---***---
"Daiki... Aku mencintaimu"
"Aku juga Yuya"
Wajah mereka mulai saling berdekatan. Bibir mereka akan saling menempel tetapi...
"Kalian berdua! Bisakah tidak berlaku mesra di depan kami setiap hari?", protes member lain secara serempak. Daiki dan Yuya sempat tertawa sebentar dan kemudian melanjutkan ciuman mereka tanpa mempedulikan pandangan iri member yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar