Ini ff sebenarnya untuk memperingati 14th anniversary YabuNoo. Cuman telat posting disini. Tapi di fb, tepat waktu kok. Maafkan saya ya. :(
Douzo
Yabu tampak sibuk menata meja makan. Dia mengatur letak peralatan makan di atas taplak berwarna putih. Tidak lupa dia menaruh bunga mawar berwarna senada di tengah meja. Tidak lama, dia mengeluarkan beberapa hidangan makan malam dan mengaturnya hingga tampak serasi dan rapi. Dia kemudian mengambil sebuah botol wine dari dalam lemari dan meletakkannya juga di atas meja.
“Kau mengaturnya dengan sangat rapi sayang”
Inoo tiba-tiba menghampiri meja makan sambil membawa sebuah cake yang dia buat sendiri. Dengan arahan Yabu, Inoo menempatkan cake itu di tengah meja. Yabu tersenyum saat membaca tulisan di atas cake itu. ‘Happy Anniversary’.
Yabu menarik sebuah kursi yang ada di dekatnya, mempersilahkan Inoo untuk duduk. Inoo tersenyum dan menurut. Setelah memastikan Inoo duduk dengan nyaman, Yabu kemudian menduduki kursi yang berhadapan dengan Inoo.
Dengan sangat hati-hati, Yabu membuka botol wine. Seperti sommelier terkenal, Yabu menuangkan sedikit wine di gelasnya, menggoncangnya sedikit, lalu mencium baunya. Setelah puas dengan wine pilihannya. Dia kemudian menuang wine ke gelas Inoo. Inoo tampak kagum dengan keahlian Yabu. Dia tidak tahu kalau Yabu memiliki pengetahuan tentang wine.
Setelah bersulang, Yabu dan Inoo masing-masing menegak wine. Yabu menatap lurus ke arah Inoo yang tampak sangat cantik. Penerangan yang temaram di ruangan itu, tidak membuat kecantikan Inoo terlihat buram. Justru dia terlihat bagaikan mutiara putih yang bersinar di kegelapan. Yabu tersenyum bangga, dia tidak menyangka bisa memiliki gadis secantik Inoo. Betapa beruntungnya dia.
“Kalau kau nyengir terus seperti itu, aku akan menelepon Rumah Sakit Jiwa sekarang juga”, ucap Inoo yang sadar kalau Yabu terus tersenyum saat melihatnya.
“Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Aku sangat senang memiliki wanita sepertimu. Beruntungnya diriku bisa memiliki wanita cantik sepertimu”
Inoo tersipu malu saat mendengar ucapan Yabu. Yabu sangat jarang mengucapkan kata romantis. Lebih tepatnya, mereka berdua jarang bersikap romantis. Sifat random Inoo menyebabkan suasana romantis di antara mereka hancur dan berubah menjadi candaan.
“Kenapa kau menulis anniversary yang ke-8, sayang?”, tanya Yabu saat melihat tulisan yang ada di atas cake. Dia baru menyadari angka ‘8’ yang tertulis disana.
“Kan hari ini memperingati 8 tahun kita bersama. Kita jadian tahun 2007 kan? Jadi hitungannya benar 8 tahun”
Yabu menggeleng. “Kau salah. Kita sudah bersama selama 14 tahun. Kau lupa?”
“14 tahun?”
“Kita pertama bertemu tanggal 23 september tahun 2001. Tepat hari ini, 14 tahun yang lalu, di sebuah lift bersama orangtua kita. Kau lupa?”
---***---
“Kita mau kemana bu?”, tanya seorang anak kecil berumur 11 tahun yang sedang digandeng oleh ibunya.
“Ke sekolah musik ternama, Kota. Kau akan belajar tentang menyanyi disana”
Anak kecil itu menggeleng. “Aku tidak mau menyanyi, aku mau main bola!”
“Suaramu itu bagus Kota. Sayang kalau tidak dilatih. Kalau masuk sekolah musik ini, kemampuan bernyanyimu akan lebih baik lagi. Siapa tahu kau bisa menjadi penyanyi terkenal”
Anak itu menggeleng lagi. “Aku tidak mau menyanyi! Pokoknya aku tidak mau!”
Ibu anak itu menghela napas. Dia kemudian berjongkok di hadapan anaknya yang sedang merajuk. “Kalau kau mau masuk sekolah musik, ibu berjanji akan membelikanmu pin lencana tim sepak bola favoritmu. Kau sangat menginginkan itu kan?”
Anak itu tampak berpikir sejenak. Tanpa butuh waktu lama, anak kecil itu mengangguk. Bujukan ibunya berhasil. Sang ibu tersenyum saat melihat anaknya yang mengangguk setuju. Akhirnya mereka berdua bergandengan tangan menuju tempat sekolah musik.
“Tempat pendaftarannya ada di lantai 3”
Sang ibu mengucapkan terima kasih pada resepsionis dan segera menuju ke lift. Segera setelah mereka masuk, sang ibu langsung memencet tombol ‘3’.
“Tunggu sebentar!”
Sesaat sebelum pintu tertutup, ada seorang wanita yang tampak berlari menuju lift. Ibu Kota langsung menahan pintu lift dan membiarkan wanita itu masuk.
“Terima kasih”, ucap wanita itu pada ibu Kota. “Kei! Ayo cepat!”
Tidak lama kemudian, ada seorang anak perempuan kecil yang masuk ke dalam lift. Gaya pakaian anak itu sangat trendy dan fashionabel. Anak laki-laki kecil itu sempat tertegun saat melihat anak perempuan itu. Meskipun wajahnya sebagian tertutup topi yang dikenakannya, tapi Yabu bisa merasakan kalau wajah anak itu sangat cantik. Anak laki-laki itu terus menatap ke punggung anak perempuan yang terus memegangi lengan baju ibunya itu.
Ting! Lift terbuka di lantai 3. Seluruh penghuni lift itu turun. Termasuk anak perempuan itu bersama dengan ibunya. Tampaknya dia juga ingin mendaftar di sekolah ini.
“Yabu Kota dan Inoo Kei ya? Selamat bergabung di sekolah musik Johnny’s”. Seorang pemuda paruh baya yang tampaknya merupakan salah satu instruktur di sekolah itu menyambut mereka berdua. “Latihan kalian dimulai minggu depan. Kalian bisa latihan sepulang sekolah, tidak ada batasan waktu kapan kalian mulai. Oh iya, apakah kalian bisa menunjukkan keahlian kalian dalam bernyanyi? Dimulai dari Inoo-chan dulu”
Anak perempuan itu menunduk sebentar, lalu mengangguk.
“Apa lagu yang ingin kau nyanyikan?”
“Flower. Lagu Kinki Kids”
Yabu tertegun saat mendengar suara Inoo yang pelan dan lembut. Yabu semakin terkejut saat melihat wajah Inoo yang kini terlihat seluruhnya karena dia telah melepas topinya. Dia menduga kalau anak itu juga memiliki suara yang indah. Seindah wajahnya yang benar-benar terlihat polos.
Inoo mulai bernyanyi. Yabu langsung tercengang saat mendengar suara Inoo.
“Jelek”
Inoo langsung berhenti menyanyi. Dia melihat ke arah Yabu dengan pandangan kesal. Yabu langsung menutup mulutnya. Dia tanpa sadar sudah mengungkapkan isi pikirannya saat mendengar suara anak perempuan itu berbeda dengan bayangannya. Ibu Yabu mencubit lengan anaknya. Menyuruhnya untuk diam. Yabu langsung merasa kecewa saat melihat anak perempuan itu yang ingin menangis.
“Hora! Kota! Ayo minta maaf. Kau sudah menyakiti perasaannya”
Yabu berjalan maju mendekat ke arah Inoo. “Maaf”, ucap Yabu sambil mengulurkan tangannya. Tapi Inoo malah menangis dan memeluk ibunya. Yabu semakin merasa bersalah. Dia kikuk. Tidak tahu harus mengucapkan apa lagi.
Karena Inoo tidak berhenti menangis, ibunya kemudian mengajaknya pulang. Ibu Yabu pun ikut meminta maaf pada ibu Inoo. Tapi ibu Inoo hanya tersenyum sambil tertawa, “ini hanya kepolosan anak kecil. Anak ini gampang menangis. Jadi wajar saja”
Yabu terus melihat ke arah Inoo yang terus menangis. Bahkan ketika Inoo menghilang ke dalam lift, Yabu terus melihat ke arah Inoo pergi. Dia terus merasa menyesal sudah menyakiti perasaan anak perempuan yang manis itu.
“Besok aku akan minta maaf”
Keesokan harinya, Yabu kembali datang ke sekolah musik. Kali ini tidak disuruh oleh ibunya. Dia datang dengan kemauannya sendiri. sesampainya di sekolah, Yabu mencari sosok Inoo. Dia berniat meminta maaf karena ucapannya yang menyakitkan. Tapi dia langsung kecewa karena tidak menemukannya.
Seminggu telah berlalu dan Inoo masih belum muncul juga. Yabu akhirnya mengira kalau Inoo tidak mau lagi melanjutkan sekolah musik. “Aku belum minta maaf padanya”
Langkah Yabu mendadak berhenti saat mendengar alunan piano yang indah. Yabu yang penasaran, berusaha mencari darimana sumber suara itu berasal. Dia kemudian sampai di sebuah ruangan tempat anak-anak bermain alat musik. Dari jendela kecil yang ada di depan pintu, Yabu bisa mengintip ke dalam. Dia ingin mengetahui siapa yang sedang bermain.
“Eh?”
Yabu terkejut saat melihat anak perempuan yang dicarinya selama seminggu ini berada di dalam ruangan itu sambil bermain piano. Jari-jarinya yang kecil tampak lihai memainkan tuts piano. Yabu terus terdiam sambil melihat Inoo bermain piano.
“Cantiknya...”, gumam Yabu. Tanpa sadar dia terpesona dengan Inoo yang tampak anggun saat bermain piano berwarna putih yang ada di hadapannya.
Yabu kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam. Dia ingin melihat permainan piano Inoo lebih dekat.
“Kamu?”. Inoo terkejut saat melihat Yabu memasuki ruang latihannya.
“Kau ingat padaku?”
Inoo tersenyum. “Kau orang yang mengejek suaraku kan?”
Yabu merasa bersalah, “Maaf”
“Gara-gara kau, aku jadi menangis dan dimarahi oleh mama setelah sampai rumah”
“Maaf”, ucap Yabu lagi.
Inoo hanya terdiam. suasana di antara mereka mendadak menjadi hening. Baik Yabu maupun Inoo sama sekali tidak mau bersuara. Yabu semakin menunduk, dia merasa kalau Inoo benar-benar marah padanya.
“Ahahaha... kenapa jadi kaku begini?”
Inoo tertawa. Yabu hanya melihat Inoo dengan pandangan heran.
“Suaraku memang jelek kok. aku tahu. Aku masuk ke sekolah musik ini karena aku ingin belajar piano, bukan karena ingin belajar menyanyi. Aku menangis saat itu karena aku malu suaraku yang jelek didengar oleh orang lain”
Yabu menghela nafas lega. Dia merasa sangat lega karena Inoo tidak marah padanya. Sekali lagi, Yabu merasa Inoo sangat manis. ‘Wajahnya yang biasa saja sudah manis, tapi saat Inoo tertawa, dia jauh lebih manis’, pikir Yabu.
“Aku ingin mendengar suaramu”, permintaan mendadak Inoo membuat Yabu terkejut. “Saat itu, aku langsung pulang tanpa sempat mendengarmu bernyanyi kan? Jadi, maukah kau bernyanyi untukku? Sebagai balasan karena sudah mengejekku”
Yabu mengangguk. Dia kemudian bernyanyi. Lagu Flower sesuai dengan permintaan dari Inoo. Inoo tertegun saat mendengar suara Yabu. Tidak lama kemudian, suara alunan piano mulai terdengar. Inoo pelan-pelan mulai mengiringi Yabu bernyanyi. Yabu semakin bersemangat. Ini pertama kalinya dia suka bernyanyi.
“Suaramu bagus sekali. Kau bisa menjadi seorang penyanyi terkenal”, puji Inoo.
“Kau juga. Permainan pianomu bagus. Kau bisa jadi pianis handal”, balas Yabu. Mereka berdua saling bertatapan dan tertawa.
---***---
“Kenapa kau masih mengingat cerita itu?”, komentar Inoo saat Yabu selesai menceritakan pertemuan pertama mereka.
“Karena itulah hari pertama aku bertemu denganmu. Dan itu juga awal hubungan kita”. Yabu menggenggam tangan Inoo. “Maukah kau bernyanyi untukku lagi? semenjak saat itu aku tidak pernah mendengarmu bernyanyi”
“Tidak mau. Setelah ada seorang anak laki-laki pendek yang mengejekku, aku tidak mau bernyanyi di hadapan orang lagi”
“Hei, aku tidak pendek!”
“Dulu kau pendek. Bahkan aku lebih tinggi darimu”, Inoo tidak mau mengalah. Dia kemudian berdiri di hadapan Yabu sambil berdiri tegak. “Bahkan kau menjinjit kakimu supaya bisa menciumku saat itu. Ya, walaupun Cuma di pipi sih”
“Tapi sekarang aku jauh lebih tinggi darimu”, Yabu berdiri. Dia kemudian memberikan sedikit ciuman di bibir tipis wanita yang ada di hadapannya. “Aku bisa melakukan hal ini kapanpun dan dimanapun”
“Dasar hentai!”, Inoo menutupi bibirnya. Rona merah tampak sedikit terlihat di kedua pipinya. Yabu tersenyum saat melihat Inoo tersipu-sipu.
Yabu mengulurkan tangannya dan memeluk Inoo. “Terima kasih sudah bersama denganku selama 14 tahun ini Kei. Tanpamu, aku tidak akan sukses seperti sekarang. Kau selalu mendukungku. Kau selalu ada untukku. Terima kasih”
Inoo membalas pelukan Yabu. “Aku juga. Terima kasih karena sudah selalu menemaniku. Kau selalu ada ketika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku. Bahkan kau mau mengangkat teleponku malam-malam saat aku butuh teman bicara. Terima kasih”
Mereka berdua kembali ke kursi masing-masing. Yabu menyalakan lilin di atas cake. Dia tampak mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
“Hari ini adalah peringatan 14 tahun kita bertemu. 8 tahun kita berpacaran. Dan aku berharap tahun depan akan menjadi peringatan 1 tahun pertunangan”. Inoo tampak terkejut saat mendengar ucapan Yabu. Yabu kemudian mengulurkan sebuah cincin yang berada dalam sebuah kotak merah. “Kuharap kau mau menemaniku lebih lama lagi Kei. Yah, semoga kau tidak bosan dan semoga kau tidak kecewa memiliki tunangan sepertiku”
Inoo mengusap matanya. “Harus berapa lama lagi aku bersama denganmu?”
“Entah. Sampai kau merasa bosan?”
Inoo tersenyum. “Aku sudah bersama denganmu selama 14 tahun. Aku sudah kebal bersamamu. Jadi kurasa, aku akan menemanimu lebih lama lagi”
Yabu dan Inoo tertawa. Yabu kemudian memasang cincin itu di jari manis tangan kiri Inoo. Terakhir, mereka meniup lilin bersama-sama.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar