Kamis, 24 September 2015

13 CM

Part 3

“Anak kecil itu Forward? Kemampuan dribelnya memang bagus”

Takaki mengangguk setuju dengan ucapan Yabu. Dia masih ingat dribel indah yang ditunjukkan oleh anak laki-laki yang bernama Arioka itu. Dribel yang indah, luwes, seperti sedang menari. Kekuatan lompatannya juga lumayan.

“Arioka?”, gumam Takaki. Sesuatu mengganjal pikirannya. Samar-samar dia mulai teringat sesuatu. Takaki melihat Arioka, tanpa disengaja, pandangan keduanya bertemu. Arioka langsung melempar senyum pada Takaki.

“AAAHHHHH!!!!!”

Seisi gedung olahraga langsung melihat ke arah Takaki yang tiba-tiba menjerit. Takaki langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Yabu melirik ke arah Takaki dengan heran, sedangkan Inoo malah melotot ke arahnya, mukanya tampak sedikit kesal karena kegaduhan kecil yang ditimbulkan oleh Takaki.

“Kau kenapa?”, bisik Yabu.

“Aku ingat siapa cowok pendek itu sekarang”

“Eh? Hontou? Dimana kau pernah bertemu dia?”

“Nanti saja kuceritakan. Inoo sedang melihat ke arah kita”

Yabu dan Takaki kompak melihat ke arah Inoo yang masih melotot ke arah mereka berdua. Takaki dan Yabu langsung kembali memasang muka serius mereka. setelah selesai acara perkenalan anggota baru, Yabu dan Takaki langsung mengarahkan anggota baru dalam menjalani latihan.

---***---
Latihan basket telah selesai. Beberapa anggota baru terlihat cukup kelelahan. Maklum, latihan basket memang tidak bisa dibilang enteng. Apalagi klub ini baru saja bisa menembus 5 besar dalam turnamen Winter Cup kemarin. Tentu saja mereka ingin mempertahankan gelar mereka sampai akhir. Apalagi tahun ini mereka mempunyai target untuk meraih juara Inter High dan Winter Cup.

Sepanjang latihan, Takaki terus saja melihat ke arah cowok bertubuh pendek itu. setelah melihatnya bermain, Takaki semakin yakin kalau cowok itu adalah cowok yang pernah dia temui waktu itu. waktu itu, Takaki bertemu dengannya di turnamen Inter High 1 tahun lalu, saat dia pergi mendukung tim basket putra bertanding.

Waktu itu, tim basket putri telah berhasil lolos babak penyisihan dan masuk ke babak semifinal. Saat itu, dia bersama temannya akan pergi mendukung tim basket putra. Saat tim putri tiba di tempat pertandingan, ternyata tim basket putra yang dipimpin Yabu masih belum bertanding. Untuk menghabiskan waktu, dia kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. Takaki terlalu fokus melihat atlet-atlet basket yang berada disana hingga tidak memperhatikan jalannya.

BRUK!

“Ah maaf”, kaget Takaki saat dia sadar telah menabrak seseorang.

“Tidak apa”, balas orang yang ditabrak Takaki.

“Tunggu”, tanpa sadar Takaki mengulurkan tangannya untuk menghentikan langkah pemuda yang tadi ditabrak oleh Takaki. Badannya tergolong cukup pendek untuk ukuran laki-laki. “Kau tidak apa-apa?”

Pemuda itu menampik tangan Takaki dengan cukup kasar. Tampaknya dia tidak suka dengan perbuatan Takaki yang menghentikannya. “Aku tidak apa-apa. Tidak usah pedulikan aku”, jawab pemuda itu tanpa melihat ke arah Takaki. “Kenapa kau peduli sekali dengan orang yang kau tabrak? Aku tidak akan menuntutmu kok”

Takaki terdiam. bukan itu maksud Takaki. Dia memang bersalah karena sudah menabrak pemuda itu. tapi ada sesuatu yang lain yang mengganggu pikiran Takaki. Takaki merogoh tasnya dan mengeluarkan handuk kecilnya yang masih kering. Dia kemudian meletakkan handuk itu di atas kepala pemuda itu.

“Pakai ini”

Pemuda itu menoleh ke arah Takaki. Kini matanya yang berkaca-kaca itu terlihat jelas. Bahkan masih bisa terlihat bekas air mata yang mengalir dari kedua matanya. Inilah alasan kenapa Takaki menghentikan pemuda itu.

“Aku kalah”. Pemuda itu akhirnya mengeluarkan suara. Suaranya kini terdengar sangat lemah dan parau. “Aku telah melakukan kesalahan. Gara-gara aku, tim kami kalah”

Takaki terdiam. Tanpa perlu mendengar penjelasan lebih lanjut dari pemuda itu, dia telah mengerti secara garis besar. Dilihat dari pakaian yang dipakai oleh pemuda pendek itu, bisa diketahui kalau dia adalah salah satu anggota klub basket yang bertanding hari ini. Dan dari ekspresi serta tingkahnya ini, Takaki bisa menduga kalau pemuda ini telah kalah dalam suatu pertandingan.

“UWAA!!!”

Pemuda itu meninju tembok yang ada di hadapannya. Sesekali dia berteriak untuk meluapkan rasa kecewanya. Melihat hal itu, Takaki pun terdiam. Dia tahu bagaimana sakitnya menderita sebuah kekalahan.

“Hentikan tangisanmu itu. Sudah tidak ada lagi yang bisa kau lakukan. Kalau kalah, ya kalah”

Cowok pendek itu langsung menghentikan tangisannya dan melihat Takaki dengan pandangan kesal. Takaki langsung menyadari perkataannya yang kasar dan segera menutup mulutnya. ‘Baka! Apa yang kau ucapkan pada orang yang telah kalah dalam suatu pertandingan?’, batin Takaki.

Takaki merasa menyesal telah mengucapkan kata-kata yang kasar. Seharusnya dia tahu bagaimana perasaan seseorang yang kalah bertanding karena dia sering mengalaminya. Tapi dalam hati, Takaki juga sedikit kesal karena cowok pendek ini terus-terusan menangis dan meratapi kekalahannya.

“Maaf aku...”, Takaki berusaha mengucapkan kata maaf karena cowok pendek itu terus melihatnya.

“Dai-chan! Aku mencarimu dari tadi!”

Seorang perempuan yang cukup cantik tiba-tiba datang dan menghampiri mereka berdua. Dia melihat ke arahku cukup lama dan kemudian melihat ke arah cowok pendek itu.

“AH!!! Kau menangis lagi ya? Menyedihkan”, ejek cewek itu saat melihat wajah si cowok dari dekat.

“Berisik! Jangan ganggu aku!”

“Terserah deh. Tapi semua orang mencarimu. Kita harus segera kembali”

Cewek itu lalu menyeret si cowok. Takaki hanya terdiam melihat kedua orang itu berlalu pergi. “Ah... aku lupa minta maaf padanya”, keluh Takaki. “Kalau bertemu lagi, aku akan meminta maaf padanya”

Kembali ke waktu sekarang...

“Aku lupa. Aku harus minta maaf padanya”, gumam Takaki sambil melihat cowok pendek yang bernama Arioka itu. Arioka kini sedang menjalani latihan bersama dengan anggota cowok lainnya. Yabu menyuruh mereka melakukan pemanasan ringan dengan cara berlari sambil mendrible bola.

“Taka-chan! Kau sedang apa?”

Seruan Inoo membuyarkan lamunan Takaki. Dia segera berbalik dan kembali melatih anggota baru klub basket putri. Klub basket putri melakukan latihan yang sama dengan klub basket putra.

“Ah maaf”. Takaki tidak sengaja menabrak anak baru. Dia lalu menolong anak itu dan membantunya berdiri. “Kau tidak apa-apa? Tidak terluka?”, tanya Takaki.

Anak baru itu langsung berdiri dan mengibaskan tangan Takaki yang terulur ke arahnya. “Aku baik-baik saja kok”

“Kenapa anak itu?”, gumam Takaki heran saat merasa anak itu bersikap agak judes padanya. Takaki terus melihat anak baru itu. gerakan anak itu sangat bagus. Terlihat sekali kalau dia sudah lama bermain basket dan cukup mahir.

“Dia jago kan? Benar-benar anggota yang bisa diharapkan”, ucap Inoo tiba-tiba. “Yamada-san memang anggota baru yang kita harapkan”

“Yamada?”, tanya Takaki.

“Dia itu Yamada Ryosuke, salah satu best forward kejuaraan basket SMP tahun lalu. Anggota baru yang kuceritakan tadi. Kau lupa?”

“Ah maaf. Aku tidak begitu bagus mengingat wajah orang”. Takaki terdiam sesaat. “Tunggu. Aku rasa aku pernah bertemu dengannya sebelum ini”

“Mungkin kau pernah melihatnya dalam majalah basket?”

“Bukan. Rasa-rasanya aku pernah bertemu dengannya dulu dan baru-baru ini”, Takaki berusaha mengingat. “AH!”. Seruan Takaki mengagetkan Inoo. “Anak itu, Yamada, dia anak perempuan yang menjemput anak cowok pendek bernama Arioka itu!”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar