Senin, 12 Oktober 2015

MYTH

Genre : Angst, Romance, Drama, Fantasy
Cast : Inoo Kei, Yabu Kota, dan sekilas Takaki Yuya, Arioka Daiki, dan Chinen Yuri

NB : terinspirasi oleh cerita dongeng putri duyung dan Cinderella serta mitos tentang putri duyung.
Jika kau meminum darah manusia duyung, kau akan hidup abadi.
Jika kau meminum air yang dicelupkan sisik manusia duyung, maka segala permohonanmu akan terkabul.
---***---
"Nah... Bagaimana Yabu? Keren sekali kan?"
Yabu hanya diam saja melihat ke arah Takaki yang tampak antusias. Takaki sibuk bercerita sambil menyiapkan peralatan menyelamnya.
"Besok, aku akan menyelam dan mencari keberadaan manusia duyung itu. Aku ingin bertemu mereka!"
Takaki tampak berseri-seri saat bercerita mengenai manusia duyung. Entah sudah berapa kali Takaki bercerita mengenai manusia duyung. Bertemu manusia duyung adalah impian Takaki. Bahkan alasan Takaki belajar menyelam adalah karena ingin bertemu dengan mereka.
"Kau mau ikut?", Takaki menoleh ke arah Yabu. Yabu menggeleng sambil menunjuk ke arah dadanya. "Ah, gomen"
Yabu hanya tersenyum sambil merangkul sahabatnya itu. "Yuya, aku Tidak apa-apa"
'Justru aku yang harus minta maaf padamu karena telah berbohong, Yuya', batin Yabu.
---***---
Yabu terduduk di karang batu yang menonjol di pinggir pantai. Sesekali dia melihat ke arah ombak yang bergulung.
Splash!
"Kota!"
Yabu tersenyum saat mendengar suara merdu yang memanggilnya. Dia segera menuju ke balik karang yang tersembunyi.
"Kei..."
Seorang manusia berekor ikan berparas cantik muncul disana. Tersenyum ke arah Yabu. Ya, Inoo Kei adalah salah satu manusia duyung yang dicari oleh Takaki.
Yabu sudah tahu keberadaan mengenai manusia duyung sebelum Takaki. Dia sudah lama mengenal Inoo. Tapi, Yabu merahasiakan soal ini. Bukan karena dia tidak percaya pada Takaki, tapi dia tidak ingin sosok Inoo diketahui siapapun selain dirinya. Hanya itu.
"Kenapa wajahmu murung begitu? Kau putus asa lagi?"
Inoo membelai lembut pipi Yabu. Yabu menutup matanya. Menikmati usapan lembut dari tangan halus Inoo. Dia kemudian teringat pertemuan pertama mereka.
3 tahun lalu. Yabu didiagnosis memiliki kelainan jantung dan satu-satunya cara adalah transplantasi jantung. Keberhasilan transplantasi sangat kecil, kurang dari 10%. Hal ini disebabkan karena organ donor susah didapat.
Yabu putus asa. Dia tidak ingin tersiksa lagi. Yabu kemudian menenggelamkan dirinya ke laut ini.
Sayang bagi Yabu. Rencananya gagal. Dia masih hidup. Inoo menyelamatkannya yang tenggelam.
"Baka! Kenapa kau mau mati?"
Yabu sangat terkejut saat melihat Inoo pertama kalinya. Selama ini dia menganggap manusia duyung hanyalah mitos. Tapi, dia tidak menyangka kalau mereka nyata.
Paras yang cantik. Suara yang merdu. Tubuh yang elok. Kulit yang halus dan putih. Serta ekor yang berkilauan.
"Cantiknya..."
Itulah kata-kata Yabu yang pertama diucapkan saat melihat Inoo. Putri duyung yang dipuji itu langsung memerah. Kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih.
Semenjak saat itulah, Yabu dan Inoo sering bertemu. Tentu saja secara sembunyi-sembunyi. Inoo takut bertemu dengan manusia yang lain. Mitos tentang manusia duyung membuat manusia memburu manusia duyung.
"Hari ini pun kau terlihat cantik. Aku tidak bosan melihatmu"
Inoo memerah. Dia malu. Ini bukan pertama kalinya Yabu memujinya, tapi tetap saja Inoo tidak tahan dengan semua pujian itu.
"Bernyanyilah untukku", pinta Inoo.
"Bukankah suaramu lebih bagus dariku? Kau saja yang bernyanyi untukku"
Inoo mengangkat tubuhnya sedikit ke permukaan sehingga ekornya yang berkilauan tampak. Tangannya meraih leher Yabu. Inoo mendekatkan wajahnya dan mengecup pelan bibir Yabu.
"Kau akan melakukannya untukku kan?"
Yabu tertawa dan akhirnya menyerah. Alunan merdu mulai terdengar. Inoo memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di paha Yabu.
"Aku menyayangimu Kota", bisik Inoo.
---***---
Hari ini, seperti biasanya, Yabu dan Inoo bertemu dan saling bertukar kata. Sesekali mereka menatap lurus ke mata lawan bicara, bertukar kata lewat pikiran, dan diakhiri dengan sebuah kecupan. Entah itu di dahi, pipi, dagu, ataupun bibir. Rasa cinta begitu terasa saat melihat 2 makhluk yang berbeda itu.
"Aku menyayangimu"
Itulah kata yang sering dilontarkan mereka berdua. Tidak perlu kalimat yang panjang, mereka sudah mengerti arti tersembunyi di dalam kalimat pendek itu.
Yabu selalu melakukan apa yang diminta oleh Inoo. Menyenangkan kekasihnya adalah kebahagiaan terbesar Yabu. Yabu selalu membawa sesuatu yang baru untuk ditunjukkan pada Inoo yang tidak pernah berjalan di daratan. Duyung memiliki ekor, bukan kaki. Dan Inoo akan selalu memasang wajah kagumnya yang manis saat Yabu memperlihatkannya.
Sebagai balasannya, Inoo akan memberikan kecupan atau nyanyiannya yang merdu sebagai ucapan terimakasih pada Yabu.
Yabu selalu tersenyum saat Inoo tersenyum. Sesekali, di saat Inoo tidak melihat, Yabu menunjukkan wajahnya yang lain. Wajah yang penuh rasa khawatir dan sedih. Dan Inoo sama sekali tidak tahu akan hal ini.
---***---
"Kemana dia?"
Inoo berkali-kali mengelilingi pantai itu. Tapi sosok orang yang dicintainya tidak ada. Tidak seperti biasanya, Yabu tidak mengunjunginya. Bahkan di saat sakit pun biasanya Yabu tetap bertemu dengannya. Tapi Kali ini tidak ada tanda kehadirannya.
"Semoga tidak ada apa-apa", Inoo berdoa sepenuh hati. Berharap tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan.
Besoknya, dan besoknya lagi, dan besok besoknya lagi, Inoo tetap mencari Yabu, tapi sosoknya tetap tidak terlihat.
"Kemana kau Kota? Sedang apa?"
Inoo membalikkan badannya, bersiap kembali ke kediamannya yang berada di kedalaman laut. Inoo merasa kecewa saat dia tidak bisa melihat Yabu. Pikirannya selalu dipenuhi pikiran buruk mengenai Yabu.
"Kei!"
Sebuah suara menghapus perasaan gelisah yang dia rasakan. Dia menoleh. Yabu kini berdiri di tepi pantai. Nafasnya tampak tidak beraturan. Terlihat kalau dia buru-buru kemari. Yabu terus memegangi dadanya sambil mengatur nafas.
"Baka! Kau kan sakit! Seharusnya kau tidak berlari seperti itu!"
"Well, kalau aku tidak lari, sosokmu keburu hilang". Yabu menarik tangan Inoo dan memeluknya. "Aku merindukanmu Kei. Sangat"
Inoo membalas pelukan Yabu. "Aku juga. Aku sangat lega ketika melihatmu dan mendengar suaramu lagi". Inoo mempererat pelukannya. "Kemana saja kau? Aku kangen"
"Maafkan aku. Aku harus pergi ke suatu tempat kemarin dan tidak sempat memberitahumu"
"Seharusnya kau memberitahuku sebelum kau pergi. Kau kan bisa memanggilku"
"Aku pergi malam hari. Aku tidak mau memanggilmu malam-malam. Banyak nelayan yang berlayar, dan aku tidak ingin kau terlihat oleh mereka"
Inoo menempelkan dahinya ke dahi Yabu. "Sudahlah. Yang penting aku senang bisa melihatmu lagi"
Sebagai permintaan maaf, Yabu memeluk Inoo sekali lagi dan mengakhirinya dengan ciuman yang paling romantis Dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
---***---
Hari ini pun seperti biasanya. Yabu dan Inoo bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Yabu bersikap seperti biasanya, tapi entah kenapa Inoo merasa ada yang lain. Sesekali Yabu melihat ke arah laut dengan pandangan kosong, dan ketika Inoo menegurnya, Yabu akan kembali melihatnya dengan senyuman manisnya.
"Kei, jika aku tidak ada, apa yang kau lakukan?"
"Bicara apa kau? Jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka"
"Maafkan aku. Aku hanya bercanda", Yabu membelai lembut kepala Inoo. "Aku mencintaimu Kei"
Inoo melihat Yabu. Dia baru mengetahui alasannya beberapa hari kemudian.
---***---
"Lagi-lagi, dia tidak ada"
Inoo mendengus kesal. Sudah seminggu Yabu tidak menemuinya.
"Apakah dia melupakanku?"
Inoo menunduk sedih. Dia terus berenang hingga dia tidak Sadar kalau dia hampir mendekati sebuah perahu.
"Kau... Manusia duyung?"
Inoo tersentak. Dia baru sadar kalau ada perahu di dekatnya. Buru-buru Inoo menyelam untuk melarikan diri.
"Tunggu!"
Orang yang ada di perahu itu langsung menyelam dan mengejar Inoo. Sayang, Inoo kurang cepat bereaksi sehingga orang itu berhasil menangkapnya.
"Lepaskan aku!", Inoo memberontak.
"Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Aku ingin meminta bantuanmu untuk menyelamatkan Kota!"
Inoo terdiam. 'Barusan dia mengatakan Kota?'
Melihat lawannya tidak berontak, orang itu mulai mengendurkan cengkeramannya. "Namaku Takaki Yuya. Aku mendengar mitos soal kalian, dan aku ingin menyelamatkan temanku. Temanku, Yabu Kota, saat ini sedang berada di rumah sakit. Jantungnya semakin melemah. Dan dia bisa saja..."
Bagai tersambar petir, Inoo hanya diam saja. Dia baru tahu soal Yabu. Inikah alasannya kenapa Yabu bersikap aneh sebelumnya dan menghilang?
Tidak tahu harus bersikap apa, Inoo kembali menyelam. Kali ini dia berenang dengan lebih cepat sehingga Takaki tidak bisa menyusulnya.
"Kota... Kota..."
---***---
"Jangan lakukan itu Inoo, kau tidak akan bisa kembali lagi!"
"Lalu aku harus diam saja melihat kekasihku mati, Chii?"
"Sejak awal hubungan kalian sudah salah"
"Aku mencintainya. Dia satu-satunya untukku! Kau jangan ikut campur Chii! Daichan, cepat lakukan!"
"Baiklah, tapi batas waktumu hanya sampai tengah malam. Kalau kau tidak segera kembali, kau akan menjadi buih"
"Aku mengerti"
Inoo berenang ke permukaan dan mulai berjalan dengan ekornya yang kini telah berubah menjadi sepasang kaki. Dengan terhuyung-huyung, Inoo berjalan menuju rumah sakit tempat Yabu berada.
"Tunggu aku, Kota"
---***---
Jam menunjukkan pukul 11.45 malam. Yabu terus memandang ke arah laut yang terlihat Dari jendelanya. Tangannya terus memegang dadanya. Merasakan detak jantungnya yang melemah.
"Kei... Aku ingin bertemu..."
"Aku juga"
Yabu langsung tersentak saat melihat sosok Inoo yang berdiri di pintu kamarnya. Inoo berjalan mendekatinya.
"Kei?". Yabu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah manis yang ada di depannya. "Kenapa kau ada disini?"
"Untuk menemuimu", Inoo mengeluarkan sebuah botol berisi cairan merah kepada Yabu. "Minum ini Kota"
"Apa ini?"
"Darahku. Darah duyung bisa menyembuhkan semua penyakit dan memberikan hidup abadi kepada manusia meskipun kami bukan makhluk abadi"
Yabu mendorong kembali botol yang disodorkan padanya. "Aku tidak butuh ini"
"Kenapa? Kalau kau minum ini, penyakitmu akan sembuh dan kau bisa---"
"Menjadi manusia abadi?", potong Yabu. "Aku tidak ingin kehidupan abadi jika kau tidak ada di dalamnya Kei. Jika kau mati, aku akan sendirian tanpamu. Aku tidak mau itu Kei"
"Tenang saja. Aku hanya pergi lebih dulu ke suatu tempat yang indah. Aku akan menunggumu disana", tambah Yabu. Dia menarik Inoo dan menciumnya. "Terima kasih sudah datang Kei. Aku pergi dulu ya"
---***---
Inoo terdiam melihat Yabu yang memejamkan matanya. Wajahnya terlihat Tenang dan bahagia.
Teng! Teng! Teng! Teng! Teng! Teng!
Inoo duduk di samping Yabu dan memegangi tangannya.
Teng! Teng! Teng! Teng!
"Tenang saja Kota, aku akan segera menemuimu disana"
Teng! Teng!
Bersamaan dengan dentang jam yang ke-12, sosok Inoo menghilang menjadi buih yang menyelimuti Yabu.
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar