PART 31
“Si Yuya itu... dia benar-benar berniat membunuh musuhnya”, ucap Hika. Mereka bertiga menunggu di tempat yang agak jauh dari tempat pertarungan Yuya.
“Sudah lama aku tidak merasakan hawa membunuh seperti itu. Sudah berapa tahun kita tidak merasakannya?”, sahut Yabu.
“Kurasa sudah agak lama. Terakhir aku merasakannya waktu kejadian itu”, jawab Hika.
“Kejadian itu?”, tanya Inoo.
“Kau lupa Inoo? Itu loh, saat Daichan nyaris saja tewas saat melawan sekelompok makhluk kegelapan yang sangat banyak itu. Jika Yuya tidak datang membantu Daichan saat itu, Daichan akan tewas saat itu juga”, ucap Yabu. Inoo berusaha mengingat kembali kejadian yang dimaksud oleh Yabu.
“Aaahhhh.....Yang itu ya. Saat Daichan sakit, tiba-tiba banyak makhluk kegelapan yang muncul. Karena yang bisa melawan saat itu hanya Daichan, maka Daichan bertarung sendirian menghadapi musuh yang terlalu banyak itu ya...”, ucap Inoo yang akhirnya ingat kejadian yang dimaksud oleh Yabu.
“Benar. Kita semua juga kena getahnya waktu itu kan. Yuya memarahi kita semua karena membiarkan Daichan bertarung sendirian padahal dia sedang sakit. Aku tidak akan melupakan hal itu”, kata Hika.
“Ahahaha...gara-gara itu, akhirnya kita tidak pernah membiarkan Daichan pergi sendiri kan? Kita takut kalau Yuya memarahi kita lagi”, kata Yabu.
“Ya meskipun begitu, kalau Daichan terluka sedikit saja, Yuya akan langsung marah. Karena aku sering sekelompok dengan Daichan, aku sering terkena amarah dari Yuya”, gerutu Hika.
“Ngomong-ngomong, aku sama sekali tidak menyangka lo kalau Yuya itu tahu identitas makhluk itu yang sebenarnya. Aku kaget waktu kau menunjukkan pada kami isi pesan dari Yuya itu”, kata Yabu.
“Benar, kupikir Yuya sama sekali tidak tahu hal ini. Habisnya sikapnya sama seperti memperlakukan Daichan yang asli sih....”, sahut Inoo juga.
“Kalau Yuya tidak bersikap seperti itu nanti yang lain akan curiga kan? Lalu nanti makhluk kegelapan itu juga akan semakin berhati-hati dan kita tidak akan bisa menangkapnya”, kata Hika.
Rrrrr....rrrr....rrrr.....terdengar bunyi getar Hp. Yabu meraba sakunya, ternyata hp yang bergetar itu miliknya. Diambilnya hp dari saku, lalu dia mulai membuka kunci tombol hpnya.
“Gahh....10 panggilan tidak terjawab dan 5 pesan baru”, ucap Yabu kaget saat melihat hpnya. “Dan semuanya dari Chii...”, Yabu membaca satu persatu sms yang masukdari Chinen.
Rrrrr.....rrrr.....rrrrr....kali ini terdengar bunyi getar hp lagi. Tapi bukan dari hp Yabu, melainkan dari hp lain milik seseorang. Inoo meraba saku celananya, dimana dia meletakkan hpnya. Ternyata kali ini hp yang bergetar itu miliknya. Inoo mengambil hpnya dan membuka kunci hpnya.
“Howaa....aku juga dapat 8 panggilan tidak terjawab dan 3 pesan baru, dan semuanya juga dari Chii”, ucap Inoo saat melihat hpnya. Dia juga mulai membaca satu persatu pesan yang masuk dari Chinen.
“Ada apa dengan Chii? Kenapa dia mengirim pesan ke kalian berdua?”, tanya Hika. “Tunggu, jangan-jangan aku juga....”, Hika mengecek hpnya. Benar saja. Ada panggilan tidak terjawab dan pesan baru yang masuk, dan itu semua dari Chinen. Sama seperti Yabu dan Inoo, Hika juga mulai membaca satu persatu pesan yang masuk dari Chinen.
Ketiganya langsung diam saat selesai membaca pesan yang masuk. Mereka bertiga berpandangan. Dari tatapan mereka, mereka semua sudah mengerti kalau mereka mendapatkan pesan yang sama, dan itu bukanlah berita yang baik.
“Kalian, apa kalian juga mendapatkan pesan yang sama sepertiku?”, tanya Yabu pada Hika dan Inoo.
“Kalau dilihat dari ekspresi yang sama dari kita semua, kurasa isi pesan yang kita terima dari Chii isinya sama”, kata Hika.
“Apa yang akan kita lakukan?”, tanya Inoo.
“Kurasa lebih baik kita kembali kesana terlebih dahulu, lalu kita akan memikirkan bagaimana caranya. Aku akan terus mencoba menghubungi master. Tapi, kurasa sebaiknya kita juga membawa Yuya kembali bersama kita. Kemampuannya sangat diperlukan oleh Yamada saat ini”, kata Yabu. Dia lalu mengeluarkan hpnya dan mulai menghubungi seseorang.
“Haahhhh....berapa lama lagi Yuya akan selesai?”, keluh Inoo.
“Kurasa sudah selesai kok. Tuh lihat”, kata Hika sambil menunjuk ke arah seseorang yang datang mendekat. Mereka bertiga bisa melihat Yuya yang berjalan santai menghampiri mereka. Ketika Yuya semakin dekat, mereka semua dapat melihat dengan jelas noda darah yang ada di sekujur tubuh Yuya.
“Yuya, kau terluka?”, seru Inoo saat melihat tubuh Yuya yang bersimbah darah.
“Tenang saja. Aku baik-baik saja kok. Ini bukan darahku, tapi darah miliknya”, jawab Yuya santai. Inoo menghela napas lega saat mendengar jawaban Yuya.
“Kau ini.... mengagetkan kami saja. Tidak bisakah kau menyelesaikan pertarungan dengan cara yang lebih halus?”, kata Hika.
“Maaf, aku terlalu terbawa emosi. Jadinya seperti ini”, Yuya mengelap darah yang ada di tangan dan mukanya dengan bajunya. Inoo memberikan sapu tangannya kepada Yuya dan membatunya mengelap darah yang ada. “Terima kasih”, ucap Yuya pada Inoo.
“Lalu, dimana dia sekarang?”, tanya Hika
“Dia? Maksudmu makhluk kegelapan yang menyamar jadi Daichan? Tubuhnya sudah tercerai berai disana. Tidak usah khawatir, nanti juga burung dan anjing yang ada disekitar sini akan membawa daging yang berserakan itu. Kita tidak usah repot membereskannya”, kata Yuya santai. Hika hanya menelan ludah mendengar perkataan Yuya, sedangkan Inoo memalingkan wajahnya, dia berusaha untuk tidak membayangkan apa yang dilakukan oleh Yuya.
“Apa yang Yabu lakukan dari tadi? Dia terus saja menelepon”, tanya Yuya saat melihat Yabu yang sibuk dengan teleponnya, bahkan tampaknya dia tidak tahu kalau Yuya telah selesai melakukan pertarungannya.
Tiba-tiba terdengar bunyi nada dering hp. Inoo dan Hika melihat ke arah Yuya, suara itu berasal dari hp Yuya. Yuya mengambil hpnya, dan menjawab telepon yang masuk.
“Moshi-moshi?”, kata Yuya saat menjawab teleponnya.
“APA YANG KAU LAKUKAN DARI TADI, BAKAKI!!”, seru seseorang dari seberang telepon. Suaranya terdengar keras sekali, bahkan Inoo dan Hika yang berada di dekat Yuya juga bisa mendengar suara yang ada di seberang telepon dengan jelas. Yuya sampai menjauhkan hpnya dari telinganya.
“Chii?! Ada apa? Kenapa teriak-teriak seperti itu?”, kata Yuya lagi. Kali ini, Inoo tidak dapat mendengar suara Chinen dari seberang telepon karena suaranya sudah kembali normal, tetapi Hika dengan kemampuannya masih bisa mendengar dengan jelas suara Chinen dari seberang telepon. Dia tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka berdua.
“Baiklah, aku mengerti. Kami semua akan segera kembali kesana”, setelah berkata seperti itu, dia langsung menutup teleponnya. Yuya melihat layar hpnya. “Geh, 15 panggilan tidak terjawab dan 8 pesan baru, semuanya dari Chii. Pantas saja saat aku bertarung tadi, hpku terus berbunyi dan bergetar tiada henti. Aku sempat merasa terganggu karena ini”.
“Tidak hanya kau. Kami juga mendapat telepon dan sms dari Chii, dan isi pesannya semuanya sama”, sahut Hika. “Keadaan Yamada bagaimana?”.
“Chii tadi mengatakan kalau keadaannya sama sekali tidak ada perubahan. Racun itu tampaknya mulai menyebar semakin luas. Mereka yang ada disana tidak tahu apa yang harus dilakukan”, kata Yuya.
“Yabu! Ayo kita segera kembali!”, seru Hika pada Yabu yang masih saja sibuk dengan hpnya. Yabu menutup teleponnya dan menaruh hpnya kembali ke dalam saku.
“Kau dari tadi menelepon siapa sih?”, tanya Yuya. Yabu terperanjat kaget saat melihat Yuya berdiri di dekatnya.
“Yuya! sejak kapan kau datang?”, seru Yabu. “Kau.... tubuhmu kenapa? Kau terluka?”, ucap Yabu saat melihat ke tubuh Yuya yang berlumuran darah. Yuya hanya menghela napas saja saat mendengar pertanyaan Yabu. Inoo dan Hika yang mendengar hal itu langsung tersenyum menahan tawa.
“Yabuu....kau ini.... terlalu sibuk menelepon sampai-sampai Yuya datang kau tidak tahu”, ucap Inoo.
“Sudahlah, aku malas menjawab pertanyaanmu, kita kembali saja dulu ke rumah. Kasihan Chinen, dia terus menerus menelepon kita dari tadi”, ucap Yuya sambil melangkah kembali ke rumah Hika. Hika berjalan di samping Yuya. Inoo menarik tangan Yabu agar segera berjalan mengikuti 2 orang yang sudah berjalan terlebih dahulu. Yabu masih penasaran apa yang terjadi pada Yuya.
Sesampainya di rumah, mereka berempat disambut oleh Yuto yang mukanya terlihat cemas. Dia menuntun keempat orang itu menuju kamar tempatku berada. Chinen sedang duduk disampingku, menjagaku. Chinen terus memegang tanganku dengan erat seakan tidak akan melepaskan tanganku apapun yang terjadi.
“Kenapa bisa begini? Apa yang Yamada lakukan?”, tanya Yabu.
“Dia berusaha mengambil racun dari tubuh Keito. Dia berhasil melakukannya, saat iniracun di tubuh Keito sudah hilang sepenuhnya, tapi yang tidak disangka racun itu kini malah masuk ke tubuh Yamachan”, jawab Yuto.
“Dia terlalu sembrono, yang bisa melakukan itu hanya Daichan. Kenapa dia mencoba melakukannya sih?”, tanya Yuya.
“Dia...dia tidak ingin Keito bernasib sama seperti Ryuu. Sehingga akhirnya dia memutuskan untuk mengambil racun di tubuh Keito untuk menolongnya”, lirih Yuto.
“Tunggu...kenapa bisa ada racun di tubuh Keito? Setahuku dia hanya terluka akibat tusukan benda tajam dan kekurangan darah saja”, sahut Hika.
“Kurasa ini juga perbuatannya. Aku juga tidak menyadari kalau di tubuh Keito ada racunnya”, gumam Inoo.
“Mana Daichan? Dia tidak bersama kalian?”, tanya Chinen saat melihat hanya mereka berempat saja yang kembali. “dan kau Yuya, kenapa tubuhmu penuh dengan darah? Kau terluka?”.
Yuya, Hika, Yabu, dan Inoo saling berpandangan. Mereka akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dimulai dari kecurigaan mereka terhadap Daichan, peristiwa Ryuu dan Keito, dan yang terakhir, yang baru saja mereka alami. Yuto dan Chinen yang mendengarkan hal itu langsung diam. Mereka berdua saling berpandangan tidak percaya. Daiki yang berkumpul dengan mereka beberapa hari ini adalah makhluk kegelapan yang menyamar menjadi Daiki yang asli.
“Kalau begitu, siapa yang bisa membantu Ryochan? Aku berharap kalau Daichan bisa menolongnya, tapi ternyata dia bukan Daichan yang asli. Lalu siapa lagi yang bisa menolong Ryochan?”, ucap Chinen pelan. Suaranya terdengar lemas dan parau.
“Bagaimana dengan master? Dia pasti bisa menolong Yamachan”, kata Yuto.
“Percuma. Aku sejak tadi berusaha menghubunginya, tapi sama sekali tidak bisa. Apa sesuatu sedang terjadi pada mereka ya?”, gumam Yabu sambil terus menatap hpnya.
“Kurasa saat ini master dan Jin sedang berhadapan dengan makhluk kegelapan”, ucap Keito pelan yang tampaknya sudah tersadar. Yuto segera menghampiri Keito yang sudah sadar.
“Keito! Kau sudah sadar!”, seru Yuto.
“Aku terbangun karena mendengar suara kalian”, Keito melihat ke arahku yang sedang terbaring di sebelahnya. “Benarkah Yamada jadi seperti ini karena menolongku?”, lirih Keito pelan. Mukanya tampak sedih.
“Iya. Yamachan berusaha menolongmu dengan cara mengeluarkan racun dari tubuhmu. Tapi, racun itu sekarang malah menyerang Yamachan”, jawab Yuto.
“Yang lebih penting... Keito, apa maksudmu kalau master dan Jin berhadapan dengan makhluk kegelapan?”, tanya Yabu.
“Saat aku menguntit makhluk kegelapan itu, aku mendengar percakapannya dengan seseorang di telepon, aku mendengar kalau mereka juga berbuat sesuatu untuk mengurus master dan Jin”, jawab Keito.
“Jadi...alasan kenapa kita tidak bisa menghubungi mereka akhir-akhir ini, karena ada masalah yang menghadang mereka?”, ucap Yabu lagi.
“Kupikir juga begitu. Maaf aku tidak bisa memberitahu kalian lebih cepat soal ini”, lirih Keito. Yabu mendekat ke arah Keito dan mengusap kepalanya dengan pelan.
“Tidak apa. Kau berhasil memberitahu kami mengenai identitas sebenarnya si Daichan palsu kan? Itu sudah lebih dari cukup. Karena hal ini saja, nyawamu sudah berada dalam bahaya”, ucap Yabu sambil tersenyum ke arah Keito. Keito menundukkan kepalanya, wajahnya masih tampak sedih.
“Tapi...Yamada jadi seperti itu karena aku.... karena dia berusaha menolongku”, ucap Keito lagi.
“Bukankah wajar kalau kita menolong teman kita sendiri?”, Chinen yang sedari tadi diam akhirnya mulai buka suara. “Ryochan adalah orang yang baik. Dia tidak bisa membiarkan orang lain dalam kesusahan. Aku tahu, kalau dia yang paling menderita karena tidak bisa menolong Ryuu. Dia tadi juga menunjukkan ekspresi lega dan bahagia saat berhasil menolongmu dan mengeluarkan racun dari tubuhmu”, Chinen mulai mendekat ke arah Keito. “Ryochan pasti sangat senang kalau tahu kau sudah sadar dan lebih baik”.
“Tapi, Chii.....”, ucap Keito. Chinen mengangkat kepala Keito, kali ini wajah mereka berdua saling bertatapan.
“Keito, aku akan marah kalau kau bilang Ryochan seharusnya tidak menolongmu. Kalau aku berada di situasi seperti Ryochan, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama sepertinya. Aku tidak ingin kita kehilangan teman lagi”. Keito hanya terdiam saja, dia menatap ke semua ksatria lain yang ada disana, lalu dia membuka mulutnya, “Aku mengerti, maafkan aku karena sudah membuat kalian khawatir”, ucapnya pelan. Semua ksatria yang hadir tersenyum saat mendengar jawaban Keito.
“Baguslah, kalau begitu. Sekarang, apa yang bisa kita lakukan untuk menolong Ryochan?”, tanya Chinen.
“Aku akan mencoba mencari tahu dimana master dan Jin berada dengan menggunakan kemampuanku. Semoga aku bisa melacak mereka”, Keito lalu bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke meja dimana bola kristalnya terletak disana.
“Kau tidak usah memaksakan diri Keito, kau baru saja pulih, tidak seharusnya kau langsung menggunakan kemampuanmu”, kata Yuto yang membantu Keito berjalan mengambil bola kristalnya.
“Tidak apa-apa. Ini situasi darurat. Kemampuanku sangat dibutuhkan saat ini, jadi aku tidak akan membuang waktu yang ada”, kata Keito. Dia berhasil mengambil bola kristalnya dan menggunakan kemampuannya untuk melihat apa yang terjadi dengan master dan dimana mereka sekarang.
Keito memejamkan matanya untuk berkonsentrasi menggunakan kemampuannya. Semua ksatria yang ada di ruangan terdiam, dan menunggu Keito. Setelah beberapa lama, Keito membuka matanya dan melepaskan bola kristal dari tangannya.
“Bagaimana Keito?”, tanya Yabu yang penasaran dengan apa yang berhasil dilihat oleh Keito. Keito melihat ke arah ksatria yang lain lalu menggelengkan kepalanya. Tampaknya dia tidak berhasil melacak keberadaan master dan Jin.
“Aku tidak bisa melihatnya. Kabut tipis ini masih menghalangi penglihatanku. Aku hanya bisa melihat keadaan di sekitar rumah ini saja”, ucap Keito. Ekspresi kekecewaan tampak di muka ksatria yang lain, sepertinya mereka sangat berharap Keito bisa mengetahui apa yang terjadi pada master dan Jin.
‘Apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya badanku lemas sekali? Ah iya, aku ingat. Aku tadi berusaha mengambil racun di tubuh Keito, dan itu berhasil. Bagaimana dengan Keito sekarang?’ Aku menatap ke sekelilingku. ‘Dimana aku? Kenapa di sekelilingku berwarna putih semua? Kemana yang lain? Yuri? Yuto? Dimana mereka? Bukankah tadi aku masih bersama dengan mereka?’. Tiba-tiba ada sosok lain yang mulai mendekat kearahku, tampaknya seperti seorang laki-laki. Laki-laki itu semakin mendekat. Aku terkejut ketika melihat orang yang berdiri di hadapanku. Orang yang sudah lama tidak kutemui. Orang yang sudah meninggalkanku lebih dulu saat aku kecil.
‘Ayah...’, gumamku pelan. Ayah hanya tersenyum dan membelai kepalaku dengan lembut. Tak terasa, air mata mulai keluar membasahi pipiku. Ayah mengusap air mataku, aku bisa merasakan kelembutan tangannya. Air mataku semakin deras keluar, tangan yang menyentuhku ini terasa sangat nyata, kelembutan dan kehangatan tangan ayah yang sudah lama tidak kurasakan. Aku tidak mungkin melupakannya.
‘Kenapa ayah ada disini?’, tanyaku pelan. Ayah memegang tanganku. Aku bisa melihat ada sebuah cahaya yang keluar dari tempat yang disentuh oleh ayah. Cahaya itu terasa hangat. Lama kelamaan seluruh tubuhku mulai bercahaya dan seluruh tubuhku mulai terasa hangat. Ayah melepas genggaman tangannya dan mulai pergi menjauh.
‘Ayah? Tunggu, ayah mau pergi kemana?’, aku berlari mengejar ayah. Tapi seberapapun kerasnya aku berusaha berlari mengejarnya, aku tetap tidak bisa mencapainya. ‘ayah, kenapa kau meninggalkanku lagi?’.
Seluruh ksatria yang ada di ruangan terkejut menatap Yamada tidak percaya. Dari seluruh tubuh Yamada, keluar cahaya putih. Cahaya itu terasa hangat dan entah kenapa membuat perasaan menjadi lebih tenang. Tidak hanya itu, para ksatria yang ada entah kenapa merasa lebih berenergi dibandingkan dengan sebelumnya. Kondisi tubuh mereka saat ini jauh lebih baik. Semua menatap satu sama lain dengan keheranan kemudian menatap ke arah Yamada.
“Semuanya, coba lihat!”, seru Chinen. Semua ksatria mendekat ke arah Yamada, bercak kehitaman yang ada di tubuh Yamada perlahan menghilang dan sekarang hilang tanpa bekas. Mereka semua takjub dengan apa yang mereka lihat.
“Purification”, gumam Keito pelan. “Proses penyucian. Kemampuan yang bisa menghilangkan semua hal yang buruk. Tidak kusangka, selain master, Yamada juga bisa menggunakannya”.
Sayup-sayup aku mendengar suara orang. Perlahan aku mulai membuka mataku. Saat mataku terbuka, aku bisa melihat semua ksatria berdiri melingkar di dekatku. Wajah cemas mereka berubah menjadi kegembiraan saat melihatku mulai membuka mata. Chinen yang berada paling dekat denganku langsung memelukku dengan gembira.
“Ryochan! Syukurlah! Kau sudah sadar!”, seru Chinen gembira.
“Kau hebat Yamachan! Kau bisa menetralisir sendiri racun yang ada di tubuhmu. Cahaya putih yang keluar dari tubuhmu itu apa?”, tanya Yuto. Aku hanya termangu terdiam. Aku bangkit, lalu melihat ke sekujur tubuhku. Bercak kehitaman yang ada di tubuhku sudah hilang. Badanku pun dalam kondisi yang lebih baik. ‘sebenarnya, apa yang kulakukan?’, gumamku dalam hati.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar