Minggu, 12 Juli 2015

AKUMA NO YOROI

PART 20

“Anak itu sudah mengikat kontrak dengan Hika”

“Darimana kau tahu?”

“Samar-samar aku bisa melihat tanda demon milik Hika di dahi anak itu. Memang tanda itu tidak jelas karena sudah tertutupi sesuatu. Kurasa itu akibat perbuatan Inoo”

“Kenapa tadi kau tidak bilang langsung pada Juri yang ada disana?”

“Tidak ah. Aku tidak berminat. Lagipula Jesse ada disana. Mereka pasti merencanakan untuk membaca ingatan anak itu”

“Hmm... Tapi Yuya, kau tahu, samar-samar aku mencium baumu di tubuh anak itu”

“Aku? Kok bisa?”

“Entahlah”

---***---
“Apa hubungan kalian dengan Kaoru-san?”

Sekali lagi Yama bertanya pada Inoo yang terus diam di hadapannya. Yabu juga terlihat diam. Gerakan keduanya terhenti seakan-akan nama itu adalah sebuah mantra yang menyegel pergerakan mereka.

“Sudah kubilang kalau aku tidak akan menjawab pertanyaanmu dengan gratis”

Yama mundur beberapa langkah ke belakang. Kali ini Inoo tidak tersenyum manis seperti biasanya. Raut mukanya terlihat tegang. Matanya yang merah terlihat bersinar. Aura demonnya pun keluar. Inoo benar-benar berada dalam mode demon.

Kali ini keberanian Yama lenyap. Yama benar-benar takut menghadapi Inoo. Yama sadar, kalau mereka berdua bertarung, Yama tidak akan menang.

“Hentikan Inoo! Kita tidak bisa membunuhnya. Kau membutuhkan mereka untuk mencapai tujuanmu kan?”

Ucapan Yabu telah menenangkan Inoo. Aura demon milik Inoo lenyap. Tampaknya dia kembali tenang. Setelah tenang, Inoo langsung pergi keluar ruangan. Hika yang tidak mengerti apa yang terjadi memutuskan mengikuti Inoo. Tinggallah Yabu dan Yama berdua saja di ruangan itu.

“Demi keselamatanmu sendiri, lebih baik jangan mengungkit nama Kaoru di hadapan kami”

“Kenapa?”, tanya Yama ingin tahu. Kenapa Kaoru-san memiliki efek yang cukup besar bagi mereka?
Kali ini giliran Yabu yang menatap tajam Yama. “Perempuan itu adalah dalang semua kejadian ini. Jika bukan karena dia, semua kejadian ini tidak akan terjadi. Bahkan kutukan yang ada di tubuh tuanmu itu karena dia”

---***---
Pusing. Itulah yang dirasakan Keito saat ini. Kepalanya terasa berat. Dia pun mendengar ada seseorang yang berbicara di dalam kepalanya. Seakan-akan ada yang berusaha masuk ke dalam otaknya. Berkali-kali Keito memejamkan mata untuk menjelaskan pandangannya yang terlihat buram. Tapi usahanya sia-sia, pandangannya tetap buram.

“Kau tidak apa-apa?”

Sebuah suara menyadarkan Keito kembali. Entah kenapa, pandangan Keito kembali jelas. Kepalanya pun tidak terasa berat lagi. Dia bisa melihat kembali muka Jesse di hadapannya. Mukanya terlihat sedikit cemas.

“Ah maaf, aku sedikit pusing tadi. Aku baik-baik saja kok sekarang”

“Benarkah?”, tanya Jesse sekali lagi.

“Iya. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Maaf aku sudah menabrakmu”

Keito kembali berdiri dan berjalan pergi menjauhi Jesse. Yugo dan Juri mengikutinya dari belakang. Jesse mengamati Keito dari jauh.

“Bagaimana?”

Taiga mendekati Jesse. Sebenarnya sedari tadi Taiga sudah mengamati Keito. Semenjak Keito masuk ke dalam kantin bersama dengan Juri. Taiga jugalah yang menyuruh Jesse untuk menyelidiki ingatan Keito.

Jesse menggeleng. “Entah kenapa aku tidak bisa menyelidiki ingatannya. Yang kudapat hanyalah ingatannya saat mengikat kontrak dengan Inoo dan Yabu. Hanya itu. Selebihnya aku tidak bisa membaca apapun”

“Cih”, Taiga berdecak kesal. “Ini semua pasti ulah si Hime-sama itu. Lagi-lagi kita ketinggalan selangkah darinya”

“Kau memang selalu kesal kalau berkaitan dengan Inoo-san”

“Tentu saja. Aku tidak suka dia dari dulu. Tidak hanya dia lebih pintar dariku, dia juga memiliki wajah yang tidak kalah cantiknya denganku. Di sekolah ini, dia memiliki pengikut yang lebih banyak dariku”

“Kalian berdua memang memiliki banyak persamaan. Tapi Taiga, dia jauh lebih licik darimu”

“Maka dari itu. Kita tidak tahu apa yang akan direncanakan selanjutnya olehnya. Terus mencari. Kita tidak bisa memberitahukan hal ini pada Yang Mulia”

---***---
“Kei, kenapa demon dan manusia harus selalu bermusuhan? Tidak bisakah kita hidup berdampingan? Kalian para demon juga makhluk hidup sama seperti kami kan? Hei Kei, aku punya ide bagus. Kau mau dengar? Aku akan mencari cara untuk mengembalikan demon kembali menjadi manusia, dengan begitu kita bisa selalu bersama. Kau setuju kan Kei?”

---***---
“Merenung masa lalu?”

Inoo kembali tersadar dari lamunannya. Yabu datang menghampiri Inoo. Sedangkan Hika tertidur tidak jauh dari sana.

“Tidak. Aku hanya mengamati sinar matahari. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan kehangatannya”

“Jangan terlalu lama terpapar sinar matahari. Demon tidak terlalu tahan terlalu lama terkena sinar matahari”

“Aku tahu”, Inoo kembali mendekat ke arah Yabu dan duduk di sebelahnya. “Sudah berapa lama kita menjadi demon? 100 tahun? 1000 tahun? Aku sudah tidak terlalu ingat. Apa mungkin 10.000 tahun?”

Yabu mengusap kepala Inoo. “Sudah kubilang dulu. Jangan terlalu dekat dengan perempuan itu. Kau tidak mendengarkanku”

Inoo hanya tersenyum. Dia kemudian menatap jam yang ada di dinding. Waktu sudah hampir semakin sore. Sebentar lagi sudah waktunya pulang sekolah.

“Yabu. Beritahu anjing itu. Suruh dia menelepon bocah terkutuk itu. Beritahu dia untuk melonggarkan ikatan di kantung itu saat dia pulang”

Yabu hanya diam dan menuruti perkataan Inoo. Dengan segera dia mencari Yama dan menyampaikan  pesan dari Inoo.

Inoo menghampiri Hika yang sedang tertidur. Dengan kakinya, Inoo membangunkan Hika.

“Hika, bangun. Sebentar lagi waktunya kau beraksi. Kita akan menangkap Daichan setelah ini”

Hika yang masih setengah mengantuk, mengerjapkan matanya, “Oke... aku mengerti”

“Hika, jangan membunuhnya. Cukup tangkap Daichan saja. Aku membutuhkan Daichan dalam kondisi hidup dan lapar”

---***---
“Oke. Aku mengerti”

Keito menutup teleponnya dan meletakkan Hpnya kembali ke dalam saku. Setelah itu, dia melonggarkan sedikit ikatan di kantung merah yang dibawanya.

“Untuk apa Keito-sama melakukan hal itu?”, tanya Chii penasaran.

“Yama yang memberitahuku. Dia bilang dia diminta oleh Hime-sama untuk memintaku melonggarkan sedikit ikatan di kantung ini sebelum pulang. Dia juga meminta kita untuk berjalan pulang seperti biasa”

---***---
Semua murid bergegas pulang ke rumah masing-masing. Setelah berpamitan dengan teman-teman mereka, dengan segera mereka melangkahkan kaki menuju rumah. Tidak semua murid langsung bergegas pulang. Ada beberapa di antara mereka yang masih tetap berada di sekolah karena ada hal lain yang harus mereka kerjakan.

“Yuyan... kau dimana... aku lapar...”

Daiki terduduk lesu di kursinya. Yuya pergi entah kemana setelah kelas selesai. Daiki menunggu Yuya di kelas seperti biasanya.

“Ukh... tahu begini tadi aku akan mengikutinya... Yuyan...”

Daiki meletakkan kepalanya di meja. Rasa lapar di perutnya membuatnya tidak bisa bergerak. Sekantung plastik penuh jajan yang ditinggalkan Yuya sebelum pergi tidak bisa menahan rasa laparnya. Bagi Daiki, satu-satunya yang bisa memuaskan rasa laparnya hanyalah daging. Apalagi itu daging demon yang kelasnya lebih tinggi.

Daiki memang demon yang bisa dibilang ‘aneh’. Biasanya, demon akan memangsa makhluk lain atau demon yang lebih rendah sebagai makanan. Tapi, Daiki tidak. Dia malah memilih memakan daging demon yang memiliki kelas lebih tinggi darinya. Daging demon kelas rendah sama sekali tidak bisa memuaskan rasa laparnya. Karena itulah dia selalu memakan daging Yuya yang merupakan demon kelas tinggi.

Daiki tersentak. Sesuatu telah tertangkap indra penciumannya. Sesuatu yang sudah sangat dikenalnya. dengan segera, Daiki langsung mencari sumber bau itu. Dengan tergesa-gesa Daiki berlari keluar kelas, menuju halaman sekolah, dan menuju ke jalanan.

“Daging... daging... daging...”, gumam Daiki riang. Tanpa dia sadari, air liurnya mulai menetes. Rasa laparnya hilang seketika saat mencium bau daging.

Berkat rasa laparnya. Daiki sama sekali tidak menyadari kalau dia berjalan mengikuti Keito. Perhatiannya terfokus pada bau daging yang diciumnya. Karena itu adalah bau daging Yuya, Daiki mengira kalau dia sedang mengikuti Yuya.

“Dekat... dekat... sebentar lagi...”

Daiki semakin mempercepat langkahnya. Bau daging semakin kuat.

“Ketemu!!!”

Daiki langsung menyergap sang pemilik bau. Keito langsung terkejut saat mendapati Daiki tiba-tiba menyerangnya. Chii pun dengan sigap membuat pelindung di sekitar tubuh Keito.

“Eh? Bento-kun?”

Sebelum Daiki sadar dengan apa yang terjadi. Hika tiba-tiba datang dan langsung menyergap Daiki. karena gerakan Hika begitu cepat, Daiki tidak bisa mempertahankan diri. Dengan mudah Daiki ditaklukan. Untunglah Daiki menyerang Keito di saat Keito sudah hampir tiba di rumahnya. Sehingga Hika bisa menyergap Daiki dengan cepat.

---***---
“Daiki... ayo pulang...”, Yuya kembali ke dalam kelas. Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat bangku Daiki kosong. Hanya tinggal bungkus makanan kosong di bangkunya.

“Daiki?”

Yuya mencari sosok Daiki kemana-mana. Biasanya Daiki langsung datang kalau dipanggil olehnya. Apalagi saat ini Daiki pasti merasa sangat lapar. Pastilah Daiki akan langsung menyerangnya dan memakannya.

“Hah... ya sudahlah. Toh kalau dia lapar, dia sendiri akan mencariku”

---***---
“Ternyata benar-benar bekerja”, Keito menggumam tidak percaya saat melihat Arioka senpai berhasil ditangkap oleh Hika.

“Selamat datang Daichan”

Inoo mendekat ke arah Daiki yang kini telah terikat oleh tali khusus yang dibawa oleh Inoo. Selain itu, Inoo juga mengurung Daiki di sebuah kurungan mantra yang dia buat bersama dengan Keito.

“Inoo-chan... aku lapar...”, rengek Daiki. Daiki terlihat lemas. Dia sama sekali tidak berontak saat Inoo mengikat dan mengurungnya. Tenaganya benar-benar sudah habis. Rasa laparnya membuat tenaganya hilang.

“Sabar dulu ya Daichan... aku tahu itu menyakitkan. Tapi tunggulah setelah semuanya selesai”, ucap Inoo.

“Cepat kembalikan kekuatanku demon!”, bentak Chii.

“Tunggu dulu rubah cilik”, cegah Inoo. “Kau tidak bisa mengambil kekuatanmu darinya begitu saja”

“Kenapa?”, tanya Chii tidak sabar.

“Kau lupa? Meskipun Hika bisa mengalahkannya dan membuatnya babak belur, tapi kekuatanmu tidak bisa keliuar begitu saja. Kami tidak bisa mengeluarkan sendiri kekuatan yang sudah diambil. Butuh kekuatan demon dengan kelas lebih tinggi dari demon ini untuk mengeluarkannya”

“Tapi, bukankah Daiki ini demon kelas A, level yang paling tinggi? Memangnya ada demon yang lebih tinggi lagi?”, tanya Yama.

“Di antara kami para demon, ada 1 kelas lagi demon. Demon ini adalah demon kelas spesial. Kekuatan mereka 2x lipat lebih tinggi dari demon kelas A. Tapi jumlah demon kelas S ini tidak banyak, jadi tidak banyak yang tahu keberadaan mereka”, jelas Inoo.

Yabu terbelalak. Kini dia mulai mengerti apa rencana Inoo. Kenapa dia memilih menangkap Daiki terlebih dahulu.

“Inoo, jangan-jangan tujuanmu yang sebenarnya adalah Yuya?”

Tsuzuku~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar