“Anak itu sudah mengikat kontrak
dengan Hika”
“Darimana kau tahu?”
“Samar-samar aku bisa melihat
tanda demon milik Hika di dahi anak itu. Memang tanda itu tidak jelas karena
sudah tertutupi sesuatu. Kurasa itu akibat perbuatan Inoo”
“Kenapa tadi kau tidak bilang
langsung pada Juri yang ada disana?”
“Tidak ah. Aku tidak berminat.
Lagipula Jesse ada disana. Mereka pasti merencanakan untuk membaca ingatan anak
itu”
“Hmm... Tapi Yuya, kau tahu,
samar-samar aku mencium baumu di tubuh anak itu”
“Aku? Kok bisa?”
“Entahlah”
---***---
“Apa hubungan kalian dengan
Kaoru-san?”
Sekali lagi Yama bertanya pada
Inoo yang terus diam di hadapannya. Yabu juga terlihat diam. Gerakan keduanya
terhenti seakan-akan nama itu adalah sebuah mantra yang menyegel pergerakan
mereka.
“Sudah kubilang kalau aku tidak
akan menjawab pertanyaanmu dengan gratis”
Yama mundur beberapa langkah ke
belakang. Kali ini Inoo tidak tersenyum manis seperti biasanya. Raut mukanya
terlihat tegang. Matanya yang merah terlihat bersinar. Aura demonnya pun
keluar. Inoo benar-benar berada dalam mode demon.
Kali ini keberanian Yama lenyap.
Yama benar-benar takut menghadapi Inoo. Yama sadar, kalau mereka berdua
bertarung, Yama tidak akan menang.
“Hentikan Inoo! Kita tidak bisa
membunuhnya. Kau membutuhkan mereka untuk mencapai tujuanmu kan?”
Ucapan Yabu telah menenangkan
Inoo. Aura demon milik Inoo lenyap. Tampaknya dia kembali tenang. Setelah
tenang, Inoo langsung pergi keluar ruangan. Hika yang tidak mengerti apa yang
terjadi memutuskan mengikuti Inoo. Tinggallah Yabu dan Yama berdua saja di
ruangan itu.
“Demi keselamatanmu sendiri,
lebih baik jangan mengungkit nama Kaoru di hadapan kami”
“Kenapa?”, tanya Yama ingin tahu.
Kenapa Kaoru-san memiliki efek yang cukup besar bagi mereka?
Kali ini giliran Yabu yang
menatap tajam Yama. “Perempuan itu adalah dalang semua kejadian ini. Jika bukan
karena dia, semua kejadian ini tidak akan terjadi. Bahkan kutukan yang ada di
tubuh tuanmu itu karena dia”
---***---
Pusing. Itulah yang dirasakan
Keito saat ini. Kepalanya terasa berat. Dia pun mendengar ada seseorang yang
berbicara di dalam kepalanya. Seakan-akan ada yang berusaha masuk ke dalam
otaknya. Berkali-kali Keito memejamkan mata untuk menjelaskan pandangannya yang
terlihat buram. Tapi usahanya sia-sia, pandangannya tetap buram.
“Kau tidak apa-apa?”
Sebuah suara menyadarkan Keito
kembali. Entah kenapa, pandangan Keito kembali jelas. Kepalanya pun tidak
terasa berat lagi. Dia bisa melihat kembali muka Jesse di hadapannya. Mukanya
terlihat sedikit cemas.
“Ah maaf, aku sedikit pusing
tadi. Aku baik-baik saja kok sekarang”
“Benarkah?”, tanya Jesse sekali
lagi.
“Iya. Terima kasih sudah
mengkhawatirkanku. Maaf aku sudah menabrakmu”
Keito kembali berdiri dan
berjalan pergi menjauhi Jesse. Yugo dan Juri mengikutinya dari belakang. Jesse
mengamati Keito dari jauh.
“Bagaimana?”
Taiga mendekati Jesse. Sebenarnya
sedari tadi Taiga sudah mengamati Keito. Semenjak Keito masuk ke dalam kantin
bersama dengan Juri. Taiga jugalah yang menyuruh Jesse untuk menyelidiki
ingatan Keito.
Jesse menggeleng. “Entah kenapa
aku tidak bisa menyelidiki ingatannya. Yang kudapat hanyalah ingatannya saat
mengikat kontrak dengan Inoo dan Yabu. Hanya itu. Selebihnya aku tidak bisa
membaca apapun”
“Cih”, Taiga berdecak kesal. “Ini
semua pasti ulah si Hime-sama itu. Lagi-lagi kita ketinggalan selangkah
darinya”
“Kau memang selalu kesal kalau
berkaitan dengan Inoo-san”
“Tentu saja. Aku tidak suka dia
dari dulu. Tidak hanya dia lebih pintar dariku, dia juga memiliki wajah yang
tidak kalah cantiknya denganku. Di sekolah ini, dia memiliki pengikut yang
lebih banyak dariku”
“Kalian berdua memang memiliki
banyak persamaan. Tapi Taiga, dia jauh lebih licik darimu”
“Maka dari itu. Kita tidak tahu
apa yang akan direncanakan selanjutnya olehnya. Terus mencari. Kita tidak bisa
memberitahukan hal ini pada Yang Mulia”
---***---
“Kei, kenapa demon dan manusia
harus selalu bermusuhan? Tidak bisakah kita hidup berdampingan? Kalian para
demon juga makhluk hidup sama seperti kami kan? Hei Kei, aku punya ide bagus.
Kau mau dengar? Aku akan mencari cara untuk mengembalikan demon kembali menjadi
manusia, dengan begitu kita bisa selalu bersama. Kau setuju kan Kei?”
---***---
“Merenung masa lalu?”
Inoo kembali tersadar dari
lamunannya. Yabu datang menghampiri Inoo. Sedangkan Hika tertidur tidak jauh
dari sana.
“Tidak. Aku hanya mengamati sinar
matahari. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan kehangatannya”
“Jangan terlalu lama terpapar
sinar matahari. Demon tidak terlalu tahan terlalu lama terkena sinar matahari”
“Aku tahu”, Inoo kembali mendekat
ke arah Yabu dan duduk di sebelahnya. “Sudah berapa lama kita menjadi demon?
100 tahun? 1000 tahun? Aku sudah tidak terlalu ingat. Apa mungkin 10.000
tahun?”
Yabu mengusap kepala Inoo. “Sudah
kubilang dulu. Jangan terlalu dekat dengan perempuan itu. Kau tidak
mendengarkanku”
Inoo hanya tersenyum. Dia
kemudian menatap jam yang ada di dinding. Waktu sudah hampir semakin sore.
Sebentar lagi sudah waktunya pulang sekolah.
“Yabu. Beritahu anjing itu. Suruh
dia menelepon bocah terkutuk itu. Beritahu dia untuk melonggarkan ikatan di
kantung itu saat dia pulang”
Yabu hanya diam dan menuruti
perkataan Inoo. Dengan segera dia mencari Yama dan menyampaikan pesan dari Inoo.
Inoo menghampiri Hika yang sedang
tertidur. Dengan kakinya, Inoo membangunkan Hika.
“Hika, bangun. Sebentar lagi
waktunya kau beraksi. Kita akan menangkap Daichan setelah ini”
Hika yang masih setengah
mengantuk, mengerjapkan matanya, “Oke... aku mengerti”
“Hika, jangan membunuhnya. Cukup
tangkap Daichan saja. Aku membutuhkan Daichan dalam kondisi hidup dan lapar”
---***---
“Oke. Aku mengerti”
Keito menutup teleponnya dan
meletakkan Hpnya kembali ke dalam saku. Setelah itu, dia melonggarkan sedikit
ikatan di kantung merah yang dibawanya.
“Untuk apa Keito-sama melakukan
hal itu?”, tanya Chii penasaran.
“Yama yang memberitahuku. Dia
bilang dia diminta oleh Hime-sama untuk memintaku melonggarkan sedikit ikatan
di kantung ini sebelum pulang. Dia juga meminta kita untuk berjalan pulang
seperti biasa”
---***---
Semua murid bergegas pulang ke
rumah masing-masing. Setelah berpamitan dengan teman-teman mereka, dengan
segera mereka melangkahkan kaki menuju rumah. Tidak semua murid langsung
bergegas pulang. Ada beberapa di antara mereka yang masih tetap berada di
sekolah karena ada hal lain yang harus mereka kerjakan.
“Yuyan... kau dimana... aku
lapar...”
Daiki terduduk lesu di kursinya.
Yuya pergi entah kemana setelah kelas selesai. Daiki menunggu Yuya di kelas
seperti biasanya.
“Ukh... tahu begini tadi aku akan
mengikutinya... Yuyan...”
Daiki meletakkan kepalanya di
meja. Rasa lapar di perutnya membuatnya tidak bisa bergerak. Sekantung plastik
penuh jajan yang ditinggalkan Yuya sebelum pergi tidak bisa menahan rasa
laparnya. Bagi Daiki, satu-satunya yang bisa memuaskan rasa laparnya hanyalah
daging. Apalagi itu daging demon yang kelasnya lebih tinggi.
Daiki memang demon yang bisa
dibilang ‘aneh’. Biasanya, demon akan memangsa makhluk lain atau demon yang
lebih rendah sebagai makanan. Tapi, Daiki tidak. Dia malah memilih memakan
daging demon yang memiliki kelas lebih tinggi darinya. Daging demon kelas
rendah sama sekali tidak bisa memuaskan rasa laparnya. Karena itulah dia selalu
memakan daging Yuya yang merupakan demon kelas tinggi.
Daiki tersentak. Sesuatu telah
tertangkap indra penciumannya. Sesuatu yang sudah sangat dikenalnya. dengan
segera, Daiki langsung mencari sumber bau itu. Dengan tergesa-gesa Daiki
berlari keluar kelas, menuju halaman sekolah, dan menuju ke jalanan.
“Daging... daging... daging...”,
gumam Daiki riang. Tanpa dia sadari, air liurnya mulai menetes. Rasa laparnya
hilang seketika saat mencium bau daging.
Berkat rasa laparnya. Daiki sama
sekali tidak menyadari kalau dia berjalan mengikuti Keito. Perhatiannya
terfokus pada bau daging yang diciumnya. Karena itu adalah bau daging Yuya,
Daiki mengira kalau dia sedang mengikuti Yuya.
“Dekat... dekat... sebentar
lagi...”
Daiki semakin mempercepat
langkahnya. Bau daging semakin kuat.
“Ketemu!!!”
Daiki langsung menyergap sang
pemilik bau. Keito langsung terkejut saat mendapati Daiki tiba-tiba
menyerangnya. Chii pun dengan sigap membuat pelindung di sekitar tubuh Keito.
“Eh? Bento-kun?”
Sebelum Daiki sadar dengan apa
yang terjadi. Hika tiba-tiba datang dan langsung menyergap Daiki. karena
gerakan Hika begitu cepat, Daiki tidak bisa mempertahankan diri. Dengan mudah
Daiki ditaklukan. Untunglah Daiki menyerang Keito di saat Keito sudah hampir
tiba di rumahnya. Sehingga Hika bisa menyergap Daiki dengan cepat.
---***---
“Daiki... ayo pulang...”, Yuya
kembali ke dalam kelas. Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat bangku Daiki
kosong. Hanya tinggal bungkus makanan kosong di bangkunya.
“Daiki?”
Yuya mencari sosok Daiki
kemana-mana. Biasanya Daiki langsung datang kalau dipanggil olehnya. Apalagi
saat ini Daiki pasti merasa sangat lapar. Pastilah Daiki akan langsung
menyerangnya dan memakannya.
“Hah... ya sudahlah. Toh kalau
dia lapar, dia sendiri akan mencariku”
---***---
“Ternyata benar-benar bekerja”, Keito
menggumam tidak percaya saat melihat Arioka senpai berhasil ditangkap oleh Hika.
“Selamat datang Daichan”
Inoo mendekat ke arah Daiki yang
kini telah terikat oleh tali khusus yang dibawa oleh Inoo. Selain itu, Inoo
juga mengurung Daiki di sebuah kurungan mantra yang dia buat bersama dengan
Keito.
“Inoo-chan... aku lapar...”, rengek
Daiki. Daiki terlihat lemas. Dia sama sekali tidak berontak saat Inoo mengikat
dan mengurungnya. Tenaganya benar-benar sudah habis. Rasa laparnya membuat
tenaganya hilang.
“Sabar dulu ya Daichan... aku
tahu itu menyakitkan. Tapi tunggulah setelah semuanya selesai”, ucap Inoo.
“Cepat kembalikan kekuatanku
demon!”, bentak Chii.
“Tunggu dulu rubah cilik”, cegah
Inoo. “Kau tidak bisa mengambil kekuatanmu darinya begitu saja”
“Kenapa?”, tanya Chii tidak
sabar.
“Kau lupa? Meskipun Hika bisa
mengalahkannya dan membuatnya babak belur, tapi kekuatanmu tidak bisa keliuar
begitu saja. Kami tidak bisa mengeluarkan sendiri kekuatan yang sudah diambil.
Butuh kekuatan demon dengan kelas lebih tinggi dari demon ini untuk
mengeluarkannya”
“Tapi, bukankah Daiki ini demon
kelas A, level yang paling tinggi? Memangnya ada demon yang lebih tinggi
lagi?”, tanya Yama.
“Di antara kami para demon, ada 1
kelas lagi demon. Demon ini adalah demon kelas spesial. Kekuatan mereka 2x
lipat lebih tinggi dari demon kelas A. Tapi jumlah demon kelas S ini tidak
banyak, jadi tidak banyak yang tahu keberadaan mereka”, jelas Inoo.
Yabu terbelalak. Kini dia mulai
mengerti apa rencana Inoo. Kenapa dia memilih menangkap Daiki terlebih dahulu.
Tsuzuku~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar