Senin, 27 Juli 2015

TEN KNIGHTS

PART 33

Aku terbangun dari tidurku. Rasanya aku tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Aku melihat ke arah Keito dan Yuto yang berbaring di sampingku. Mereka berdua tidur dengan lelap. Aku merasa iri saat melihat mereka berdua bisa tidur dengan nyenyaknya. Tiba-tiba aku merasa haus. Kuputuskan untuk mengambil air minum. Aku melangkah keluar kamar dengan hati-hati agar tidak membangunkan Keito dan Yuto yang sedang tidur.
Perlahan aku menuju dapur untuk mengambil air minum. Aku melangkahkan kakiku dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang terlalu berisik. Aku melihat keluar jendela, malam ini bulan hanya tampak separuh, akan tetapi aku masih bisa melihat sinarnya yang terang. Aku kemudian melihat ada sosok yang berdiri ditengah halaman. Aku mendekat ke arah sosok itu. Sosok itu kemudian menoleh kearahku.

“Yuya?!”, kagetku saat melihat bahwa sosok yang berdiri itu adalah Yuya.

“Yamada? Sedang apa kau disini?”, tanya Yuya yang kelihatan kaget ketika aku menghampirinya.

“Kau juga, sedang apa kau disini?”, tanyaku balik.

“Aku tidak bisa tidur, lalu aku keluar sebentar untuk mencari angin segar”, kata Yuya.

“Ah, aku juga tidak bisa tidur. Lalu, aku merasa haus dan aku sedang menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Kemudian aku melihat dirimu sedang berdiri disini”, kataku. Aku melihat wajah Yuya yang masih menunjukkan muka murungnya. Raut wajahnya terus seperti itu dari kemarin. “Kau kenapa? Kau terus menunjukkan muka seperti itu”, tanyaku.

Yuya hanya diam tidak menjawab pertanyaanku. Dia kemudian melihat ke arah bulan yang ada di langit yang kini tengah bersembunyi di balik awan yang tebal.

“Apa ada hubungannya dengan Daichan?”, tanyaku lagi. Yuya kemudian menghela napas panjang.

“Aku tidak bisa berhenti memikirkannya”, Yuya akhirnya membuka suaranya. Aku diam menunggu sampai dia melanjutkan lagi perkataannya. “Aku terus memikirkan Daichan. Dimana dia sekarang, apa yang terjadi padanya, bagaimana keadaannya, aku terus berpikir tentang hal itu. Sebelum ini, aku mencoba untuk tidur dan menenangkan pikiranku. Tapi, kemudian aku bermimpi”, Yuya berhenti bicara.

“Mimpi seperti apa?”, tanyaku.

Yuya memejamkan matanya, seperti berusaha mengingat sesuatu, kemudian dia akhirnya mulai bercerita kembali. “Aku bermimpi, kalau saat ini Daichan sedang disekap oleh makhluk kegelapan, dia disiksa oleh mereka. Di dalam mimpiku aku terus melihat Daichan meronta kesakitan dan menangis. Aku tidak tahan melihatnya. Kemudian aku terbangun. Aku terus berpikir apakah mimpiku itu menunjukkan keadaan Daichan yang sebenarnya saat ini”, setelah menceritakan mimpinya, wajahnya kembali murung. Aku bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Yuya saat ini. Orang yang paling cemas mengenai keadaan Daiki pastilah orang yang sangat menyayanginya, yaitu Yuya.

“Kau tahu Yamada, sebenarnya aku malu mengakui hal ini, akan tetapi saat Daichan palsu itu datang kemari, aku merasa sangat senang. Seakan-akan Daichan yang asli telah kembali. Meskipun aku tahu itu bukan Daichan yang asli”, ucap Yuya.

“Tenanglah Yuya, besok kita akan pergi menyelamatkan Daichan kan? Aku yakin kalau kita akan berhasil membawa Daichan kembali”, kataku berusaha untuk menenangkan Yuya. “Lebih baik kalau kau kembali tidur agar kau bisa memiliki banyak tenaga untuk pertarungan besok”.

“Kau benar. Kalau begitu, aku kembali ke kamar ya. Kau juga lebih baik segera kembali tidur”. Yuya melangkah kembali masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan aku menuju ke dapur untuk menghilangkan rasa haus ditenggorokanku.

“Ah, leganya.....”, tenggorokanku yang terasa kering langsung terasa lega saat air dingin membasahinya. Aku pun berjalan kembali menuju kamar untuk kembali tidur,tak kusangka aku berpapasan dengan Jin.

“Apa yang kau lakukan chibi?”, tanya Jin.

“Aku haus, lalu aku putuskan untuk mengambil minum. Kau sendiri sedang apa?”, tanyaku balik.

“Badanku masih terasa kaku saat aku tidur, jadi aku memutuskan untuk melakukan pemanasan ringan untuk mengatasi rasa kaku di tubuhku”, jawab Jin. Jin mengambil sebatang rokok dari bungkus rokok yang ada di sakunya, “Kudengar kau memiliki kemampuan baru”.

“Kau dengar dari siapa?”, tanyaku heran karena setahuku aku tidak pernah menceritakan hal ini padanya.

“Yabu yang cerita. Dia memberitahu apa saja yang terjadi pada kalian selama kami tidak ada. Lalu, benarkah kau punya kemampuan purification?”, selidik Jin. Dia menyalakan rokoknya dan mulai menghisapnya.

“Kata Yabu dan Keito, kemampuan itu disebut purification. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya aku bisa menggunakan kemampuan itu”.
Jin mengepulkan asap rokok yang ada di mulutnya, “Jadi, itu sebabnya dia kalah dipertarungan, karena dia telah memberikan kemampuannya padamu”.

“Dia??”

“Ayahmu, dia memiliki kemampuan purification. Waktu itu, saat pertarungan terakhirnya, dia sama sekali tidak menggunakan kemampuannya di pertarungan, kupikir itu karena badannya yang semakin lemah, tapi akhirnya aku tahu sebabnya”, Jin melihat ke arahku, “Itu karena dia telah memberikan kemampuannya padamu”.

“Ayahku?! Dia memberikan kemampuannya padaku??”, kataku tidak percaya. Ternyata benar, kalau ayahku memiliki kemampuan purification.
“Dia melawan para makhluk kegelapan itu hanya dengan kemampuan berpedangnya saja. Karena dia tidak menggunakan kemampuannya, dia terus menerus menerima serangan dari makhluk kegelapan dan akhirnya dia tewas”.

Aku merenung mendengar cerita Jin. Itulah yang sebenarnya terjadi di saat terakhir ayahku. Seandainya dia tidak memberikan kemampuannya padaku, tentu dia bisa memenangkan pertarungan itu dan tidak akan tewas saat itu, sehingga kami sekeluarga bisa berkumpul lebih lama. Aku semakin sedih saat mengingat bagaimana kemarin ayahku datang dalam mimpiku. Tiba-tiba Jin mengelus kepalaku, dia mengelus kepalaku dengan sangat lembut.
“Kau tidak perlu merasa bersalah dengan apa yang ayahmu lakukan. Dia melakukan itu untuk melindungi anak yang dikasihinya. Seharusnya kau merasa bersyukur dengan apa yang telah dilakukan oleh ayahmu. Kalau dia tidak melakukan hal itu, kau pasti sudah tewas akibat infeksi racun itu kan?”.

Aku hanya terdiam saja. aku masih merasa bersalah telah menerima kemampuan ayah. Disisi lain, aku memang merasa bersyukur dengan kemampuan yang telah diberikan oleh ayah ini. Seakan-akan ayah selalu melindungiku selama ini.

“Sudahlah, tidak ada gunanya kau memikirkan hal ini terus menerus. Lebih baik kau juga segera kembali tidur. Simpan tenagamu sehingga kau bisa mengeluarkan kemampuanmu dengan maksimal untuk pertarungan besok. Ingat, kemampuanmu sangat dibutuhkan oleh ksatria yang lain. Mereka akan sangat bergantung padamu”. Aku mengangguk mendengar ucapan Jin. Aku segera menuju ke kamar untuk kembali tidur. Bersiap untuk menghadapi esok hari. 

Keesokan harinya

Kami semua sudah bersiap untuk melakukan penyerangan dan penyelamatan terhadap Daiki.  Seluruh ksatria telah berkumpul di ruang tengah. Hikaru, Chinen, dan Inoo sedang mempersiapkan senjata mereka masing-masing. Hikaru menghitung jumlah peluru yang dimilikinya, Chinen menyiapkan tongkat yang dimilikinya, sedangkan Inoo mengasah dua pedang kecil miliknya dengan dibantu oleh Yabu. Keito masih berkutat dengan bola kristalnya, seakan ingin mengecek sesuatu. Yuto dan Yuya melakukan pemanasan fisik di halaman. Tidak lama kemudian Jin dan master datang. Mereka membawa sesuatu di tangan mereka.

“Tampaknya kalian semua sudah bersiap untuk melakukan penyerangan hari ini”, ucap master saat melihat kami semua. “Sebelumnya aku akan menjelaskan strategi penyerangan hari ini”, master membuka lembaran kertas besar yang dibawanya lalu dibentangkan di hadapan kami semua.

“Ini peta daerah ini”, gumam Hikaru.

Kami semua mendekat dan melihat peta yang ada di hadapan kami. Aku bisa melihat bahwa kertas itu cukup lusuh, aku menduga peta itu dibuat sudah cukup lama. Aku bisa melihat ada tanda silang yang cukup besar di peta itu.

“Benar kata Yaotome, ini peta daerah ini. Peta ini sudah dibuat cukup lama. Sang magician generasi pertama yang membuat peta ini. Peta ini diturunkan kepada magician berikutnya. Peta ini menunjukkan lokasi dimana segel itu berada”, ucap master sambil menunjukkan tanda silang di peta itu. “Disinilah, segel yang dibuat oleh magician generasi pertama dibuat. Sang magician membuat segel didaerah barat, sedangkan sang alchemist membuatnya di daerah timur. Kami menjaga tempat ini dengan berhati-hati agar makhluk kegelapan tidak mengetahui tempatini. Oleh karena itulah, aku dulu meminta ayah Yaotome dan kedua orangtua Arioka untuk menjaga daerah ini, dengan dalih mereka tinggal di daerah ini.Sedangkan untuk menjaga segel di daerah timur aku meminta tolong pada kakek dan nenek Yabu, Inoo, dan Morimoto”.

“Tapi, karena saat ini baik Yaotome maupun pasangan Arioka itu telah meninggal, tidak ada lagi yang menjaga tempat itu, sehingga makhluk kegelapan bisa bebas memasuki tempat itu. Begitu pula dengan segel di daerah timur. Aku yakin, pasti saat ini makhluk kegelapan ini berkumpul di tempat ini”, ucap Jin.

“Tunggu dulu, tanda silang ini menunjukkan tempat segel itu berada kan?”, tanya Inoo.

“Iya,benar”, jawab master.

“Tempat kediaman Jack sama sekali tidak berada di sekitar situ. Kalau aku tidak salah, arahnya ke sekitar sini”, Inoo menunjuk ke tempat yang lokasinya cukup jauh dan berlawanan dengan tanda silang itu berada.

“Hmm...kita juga tidak tahu pasti apakah Arioka ada di tempat segel, atau masih berada di kediaman Jack”, gumam master.

“Kalau begitu, kita bagi menjadi 2 tim saja. Satu tim mengarah ke tempat kediaman Jack, satunya lagi menuju ke tempat segel”, sahut Jin.

“Ide bagus”, sahut master. “Baiklah, sekarang kita akan membagi menjadi 2 tim”.

“Hikaru, Chinen, Yamada, dan Yuto, kalian berempat menuju ke tempat segel. Hika kau memimpin mereka menuju ke tempat itu. Kau tahu tempatnya kan?”, kata Jin.

“Ayah pernah mengajakku kesana. Kurasa aku masih ingat jalannya”, kata Hikaru.

“Bagus, nah, kalian berempat, kalian pergi ke tempat kediaman Jack. Inoo, kau yang memimpin perjalanan mereka”, kata Jin sambil menunjuk ke arah Yabu, Inoo, Yuya, dan Keito.

“Lalu, apa yang akan kalian berdua lakukan?”, tanyaku.

“Aku dan Akanishi akan menghambat para makhluk kegelapan yang saat ini menuju kearah timur. Kami akan berusaha agar mereka tidak sampai kesana”, kata master.

“Baiklah, kita tidak boleh membuang waktu. Ayo segera kita laksanakan rencana ini”, ucap Jin. Kami semua pun segera menuju keluar rumah, “Ryosuke, tunggu. Ada yang ingin kuserahkan padamu”, kata Jin sambil menahanku. Aku pun berhenti dan menunggunya.

“Ambil ini”, Jin menyerahkan sesuatu yang panjang dan dibalut dengan kain hitam kepadaku. Aku menerimanya dan membukanya. Sebuah pedang. Aku menarik pedang itudari sarungnya. Aku bisa melihat kilatan cahanya dari pedang itu. Aku juga bisa merasakan betapa tajamnya pedang itu. Kurasa pedang itu telah dirawat dengan baik. “Itu pedang milik ayahmu”, ucap Jin lagi.

“Milik ayah?”, kataku tidak percaya. Pedang yang kugenggam ini adalah milik ayahku.

“Aku menyimpannya, itu adalah peninggalan dari ayahmu. Kurasa ayahmu akan sangat senang bila kau memakainya. Kau bisa menggunakannya kan?”, ucap Jin sambil berjalan mengikuti master yang sudah terlebih dahulu keluar.

“Huwaa!!! Sugoi!! Pedang ini kelihatannya sangat hebat. Kau beruntung Ryochan!”, ucap Chinen yang sedari tadi ada di sebelahku.

“Ayahmu pasti sangat menyayangimu, Yamachan”, ucap Yuto sambil menepuk bahuku.

Aku tidak bisa menahan rasa haru yang kualami. Aku merasa ayah selalu di sampingku, aku memiliki 2 hal yang berkaitan dengan ayah, kemampuan purification miliknya, dan pedang yang digunakannya. Aku janji aku akan menggunakannya dengan baik. Aku pun merasa lebih percaya diri saat ini dibandingkan dengan sebelumnya. Aku memasukkan kembali pedang itu ke sarungnya dan membawanya dengan mantap.

Kami akhirnya berpisah menuju tempat tujuan masing-masing. Aku, Chinen, dan Yuto, mengikuti Hikaru menuju tempat dimana segel itu berada. Sedangkan yang lain menuju ke kediaman Jack. Master dan Jin menuju kembali ke daerah timur untuk menghadang musuh. Kami berangkat dengan satu tujuan, yaitu menghentikan makhluk kegelapan dan menyelamatkan kembali Daiki dari tangan musuh.

Sudah beberapa lama aku berjalan mengikuti Hikaru. Kami telah sampai di suatu tempat yang sepi. Pohon-pohon yang ada di sekitar situ kering kerontang. Aku juga bisa melihat banyak bangkai binatang yang berserakan di sekitar sana. Tubuh mereka seperti tercabik sesuatu.

“Sudah kuduga, pelindungnya telah rusak. Pantas makhluk kegelapan itu bisa masuk kemari”, gumam Hikaru sambil menunjuk ke selembar kertas yang tertempel dipohon yang ada di dekat situ. Aku bisa melihat ada beberapa lembar kertas yang tertempel di beberapa pohon yang ada di sekitar situ. Tapi, kondisi kertas-kertas itu telah robek, bahkan ada juga yang telah terbakar. Tiba-tiba aku bisa merasakan udara dingin menerpa wajahku dari arah depan.

Yuto berdiri di depanku dan Chinen, Hikaru pun mengeluarkan pistolnya dan berusaha untuk berkonsentrasi. Ada perasaan tidak enak menghampiriku. Aku memegang pedang ayah yang kudapat dari Jin tadi dengan erat. Chinen akhirnya mulai memasang pelindung.

“Waspadalah, para makhluk kegelapan itu ada di dekat sini”, kata Yuto. Dia memasang kuda-kudanya dan terus mengawasi keadaan sekitar. “Hika, kau bisa melacak dimana mereka?”.

“Aku bisa mendengar ada pergerakan dari segala arah. Dari udara bahkan dari dalam tanah juga. Jumlahnya banyak sekali....”, kata Hika. Aku menelan ludah, aku segera mengeluarkan pedangku dari sarungnya.

“Tampaknya mereka sudah tahu kalau kita telah tiba ya”, Chinen mengubah bentuk tangannya menjadi sepasang sayap. Tampaknya dia meniru kemampuan Ryuu. “Mereka menyambut kita secara besar-besaran. Kita tidak bisa lari maupun bersembunyi”.

“Tidak ada cara lain, kita harus menghadapi mereka. Kalian semua sudah siap?”, tanya Hika. Kami bertiga mengangguk.

“Aku akan menghadapi musuh yang datang dari arah atas”, Chinen melebarkan sayapnya dan bersiap untuk terbang.

“Baiklah, aku akan membantumu Chii. Kuserahkan musuh yang ada disini pada kalian”, ucap Hika.

“Yamachan, musuh yang ada di dalam tanah, serahkan padaku, kau hadapi saja musuh yang datang dari arah depan”, ucap Yuto sambil membelakangiku. Aku menggenggam pedangku dengan erat dan menghunuskannya ke arah depan. “Serahkan padaku”, jawabku.

“Baiklah, kalian semua, dengarkan aba-aba dariku. Setelah aku beri tanda, kalian mulai menyerang. Lebih baik kita langsung menyerang mereka semua. Mengerti?”, kata Hika. Kami semua melihat ke arah Hika dan menunggu aba-aba darinya. Hika berusaha mendengarkan dengan kemampuannya. Perlahan aku bisa merasakan getaran di kakiku, aku juga bisa mendengarkan suara yang awalnya pelan, tapi lama kelamaan suara-suara itu semakin keras dan jelas.

“SEKARANG!”, seru Hika.

Setelah mendengarkan aba-aba dari Hika, kami mulai menyerang. Chinen langsung mengepakkan sayapnya dan menghadapi musuh yang datang dari atas. Aku bisa melihat sekelompok makhluk kegelapan yang sepertinya sejenis dengan yang dulu berusaha membunuhku di rumah dan melukai ibuku. Hikaru membantu Chinen dari bawah dengan menembak beberapa makhluk kegelapan sehingga makhluk kegelapan itu tersungkur jatuh akibat sayap mereka terkena tembakan.

Yuto mengarahkan kepalan tangannya ke arah tanah dan membuat tanah retak terbelah. Dari dalam retakan tersebut, aku bisa melihat beberapa zombie yang bersembunyi di dalam situ. Yuto langsung menghajar beberapa zombie yang keluar hingga mereka hancur tidak terbentuk. Dari arah depan, aku bisa melihat beberapa makhluk kegelapan yang datang berlari ke arahku. Aku mengenali beberapa jenis dari mereka, itu adalah si muka rata yang dulu pertama kali menyerangku. Beberapa jenis yang lain aku tidak mengenalnya. Yang pasti, makhluk-makhluk kegelapan ini sangat jelek, badannya tidak bagus, dan satu hal yang pasti, mereka menyerang kami dengan nafsu ingin memangsa kami. Segera kuhunuskan pedangku ke arah makhluk-makhluk itu dan kutebas satu persatu makhluk kegelapan yang mendekat. Kami berempat bertarung dengan sekuat tenaga dan menyerang dengan tenaga penuh.

“Habisi mereka semua hingga tidak bersisa!”, seru Hikaru.

Di tempat lain.....

“Inoo, benarkah ini jalannya?”, tanya Yuya.

“Iya, aku yakin. Yabu dan Keito juga bisa memastikannya kok. Mereka berdua juga pernah kemari sebelumnya”, kata Inoo.

“Kalau begitu, dari sini kita langsung berjalan lurus saja”, ucap Yabu. Mereka berempat lalu berjalan lurus menapaki jalan yang ada di hadapan mereka. Mereka dapat melihat sebuah bangunan yang tampaknya sudah runtuh dan tidak dihuni.

“Itukah kediaman Jack?”, tanya Yuya.

“Entahlah, ayo kita mendekat dan memeriksanya untuk mencari tahu”, Yabu mulai melangkah maju tapi langkahnya dihentikan oleh Keito. Keito memegang tangan Yabu dengan erat. “Ada apa Keito?”, tanya Yabu.

“Aku melihat ada gerakan mencurigakan melalui bola kristalku. Aku yakin, ada beberapa makhluk kegelapan yang sedang bersembunyi di sekitar sini”, ucap Keito sambil melihat bola kristalnya. Tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi panik, “Semuanya awas!”, seru Keito.

Setelah Keito berseru seperti itu, mereka semua bisa merasakan ada sesuatu yang mendekat ke arah mereka. Dalam waktu singkat, mereka dikurung oleh beberapa makhluk kegelapan. Mereka menyerang dari segala arah, sehingga tidak ada tempatuntuk lari bagi mereka berempat.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar