PART 32
Satu hari berlalu sejak Keito dan aku sadarkan diri. Aktivitas hari ini kami jalani seperti biasa. Inoo memasak di dapur dengan dibantu oleh Chinen dan Hikaru. Yuto dan Yuya sedang melakukan latihan bersama, sedangkan Yabu dan Keito masih berusaha melacak keberadaan master dan Jin yang sampai saat ini masih belum bisa dihubungi. Kemarin, Yabu memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi pada Daiki. Aku kaget dan masih belum bisa percaya sepenuhnya kalau Daiki yang bersama kami hanyalah makhluk kegelapan yang menyamar. Yuya bilang kalau Daiki yang asli masih ditahan oleh makhluk kegelapan.
“Tapi, apa yang sebenarnya terjadi kemarin?”, gumamku. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Aku berusaha menolong Keito dengan cara mengambil racun dari dalam tubuhnya, lalu racun itu kemudian malah menyerangku hingga tubuhku akhirnya penuh dengan racun. Aku ingat kalau aku kemudian tidak sadarkan diri, lalu aku bermimpi bertemu dengan ayah. Ketika aku berusaha mengejar ayah, aku terbangun, dan mendapati diriku telah bebas dari racun tersebut. Aku menatap langit biru yang luas, ‘ayah, apa yang sebenarnya terjadi?’.
“Ryochan??”, Chinen tiba-tiba muncul di depan wajahku. Sontak aku kaget dan hampir saja menjatuhkan tubuhku ke belakang.
“Yuri?!”, rasa kaget yang kurasakan masih belum hilang. Chinen menatapku dengan tersenyum geli.
“Hihihi...kau kenapa Ryochan?! Aku mengagetkanmu ya? Maaf deh”, Chinen tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. “Aku tidak bermaksud mengagetkanmu kok. Sejak tadi aku memanggilmu, tapi kau sama sekali tidak menjawab. Lalu aku mencarimu, kulihat kau sendirian disini, lalu kuhampiri deh. Kau kenapa? Kok sepertinya sedang memikirkan sesuatu?”, tanya Chinen lagi.
“Aku hanya masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin dan apa yang kulakukan kemarin”, jawabku.
“Soal bagaimana caranya kau bisa menetralkan racun itu kan? Kami sendiri juga awalnya kaget saat melihatnya. Aku tidak menyangka kalau kau punya kemampuan purification juga”.
“Purification??”
“Purification, kemampuan untuk menetralkan semua hal yang bersifat buruk dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baik”, ucap Yabu yang tiba-tiba muncul dan bergabung bersama kami.
“Kupikir hanya master yang bisa melakukan hal itu, tapi aku tidak menyangka kalau kau juga bisa melakukannya”, Keito juga datang dan bergabung bersama kami.
“Bagaimana keadaanmu Keito?”, tanyaku saat melihat Keito.
“Berkatmu, aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih sudah menolongku”, ucap Keito sambil tersenyum. Aku juga membalas senyumannya.
“Ngomong-ngomong, apa itu purification?”, tanyaku.
Yabu memandangku dengan heran, “Itu kan yang kau lakukan kemarin. Kau menetralkan racun yang ada di dalam tubuhmu, tidak hanya itu, kau mengubah racun itu menjadi seperti ‘obat’ yang membantu mengembalikan energi. Kami semua yang berada di dekatmu saat itu langsung merasa lebih baik, bahkan kami merasa penuh dengan energi kemarin”.
“Kau sama sekali tidak tahu tentang kemampuanmu yang itu?”, tanya Keito.
“Tidak. Aku sama sekali tidak tahu”, jawabku.
“Jarang sekali ada seorang ksatria yang memiliki dua kemampuan. Aku pernah mendengar dari Jin, seorang ksatria biasanya memiliki satu kemampuan saja, kalaupun dia punya dua kemampuan, itu berarti ksatria tersebut merupakan keturunan ksatria murni. Daichan yang merupakan keturunan ksatria murni hanya memiliki satu kemampuan saja, meskipun kemampuannya itu sangat luar biasa”, kata Yabu.
“Lalu, bagaimana caranya Yamada bisa memiliki dua kemampuan?”, tanya Keito.
“Entahlah, aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak ada ide tentang hal itu”, kata Yabu lagi.
“Seorang ksatria bisa memiliki dua kemampuan kalau salah satu kemampuan itu diberikan oleh ksatria yang lain”, sahut seseorang dari arah lain. Aku menoleh ke asal suara. Aku melihat Inoo berdiri disana sambil tetap memakai celemeknya.
“Diberikan oleh ksatria yang lain?”, tanyaku.
“Aku pernah membaca jurnal mengenai ksatria terdahulu, seorang ksatria bisa mentransfer kemampuan miliknya pada ksatria yang lain sehingga ksatria tersebut bisa memiliki dua kemampuan. Berarti ada seorang ksatria lain yang memberikan kemampuannya padamu Yamada”, jawab Inoo.
“Ksatria yang lain? Siapa? Diantara kita semua, tidak ada yang memiliki kemampuan purification”, ucap Keito bingung.
“AHH!!!”, aku tiba-tiba teringat dengan mimpiku. Ayah datang kepadaku dan setelah mimpi itu, aku bisa memiliki kemampuan ini. Tapi, yang jadi pertanyaanku sekarang adalah ayah kan sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, bagaimana caranya dia bisa mentransfer kemampuannya padaku? Terlebih lagi, aku tidak tahu kemampuan yang dimiliki oleh ayahku, apakah dia memang memiliki kemampuan purification?
“Kenapa Ryochan? Ada yang sakit?”, tanya Chinen khawatir. Mukanya tampak terlihat cemas.
“Tidak. Aku hanya tiba-tiba teringat sesuatu”, jawabku.
“Kau mengagetkan kami saja. tiba-tiba kau teriak, lalu kau diam. Kupikir ada apa denganmu”, kata Yabu.
“Sudahlah. Ayo kita makan dulu. Makanannya sudah siap, nanti keburu dingin lo”, kata Inoo. Kami semua menuju ke ruang makan.
Saat kami tiba di ruang makan, Yuya, Yuto, dan Hikaru sudah duduk disana dengan piring kosong di depan mereka. Wajah mereka terlihat lesu.
“Osooiii.....kalian kemana saja....”, kata Yuto lemas.
“Kami sudah kelaparan nih”, ucap Hikaru sambil memegang perutnya.
“Maaf,maaf, ayo kita makan sekarang”, ucap Inoo.
Kami semua lalu duduk di bangku masing-masing dan mulai mengambil makanan. Sebelum makan, kami berdoa terlebih dahulu dengan dipimpin oleh Yabu. Kami semua lalu makan dengan lahap. Sesekali saat makan, kami mendengar candaan Hikaru. Setelah selesai makan, kami pun kembali melakukan kegiatan masing-masing. Yuto dan Yuya kembali melanjutkan latihan mereka. Inoo dan Chinen mencuci piring bekas makan. Hikaru memainkan gitarnya. Yabu masih terus mengutak atik Hpnya, sedangkan Keito masih terus mencoba melihat melalui bola kristalnya.
“Bagaimana Yabu? Keito? Apakah kalian sudah bisa mengetahui sesuatu mengenai master?”, tanyaku. Yabu dan Keito menggeleng pelan.
Sudah beberapa hari kami semua tidak mendengar kabar mengenai mereka, apakah sesuatu yang buruk telah terjadi dengan mereka? Hikaru memainkan sebuah lagu dengan gitarnya (BGM : Star time). Lagu yang dimainkannya sangat merdu. Aku sampai terhanyut dengan nada yang terlantun dari gitar itu. Tiba-tiba lagu itu berhenti. Tangan Hikaru tetap diam di atas senar dan tidak bergerak untuk memetik senarnya.
“Ada apa Hika?”, tanyaku. Hikaru mulai memejamkan matanya, tampak seperti sedang mendengarkan sesuatu dari kejauhan. Setelah itu dia mulai membuka matanya. Mukanya tampak sangat cerah.
“Mereka telah kembali!”, seru Hika mengagetkan semua orang yang sedang ada disitu. Kami semua menoleh ke arah Hika dan memasang muka keheranan.
“Mereka? siapa?”, tanyaku lagi.
“Master dan Jin! Mereka telah kembali! Aku bisa mendengar suara mereka. Mereka berada di dekat sini”, jawab Hika. Yabu langsung spontan berdiri.
“Benarkah apa yang kau katakan Hika?”, tanya yabu tidak percaya.
“Aku yakin”, kata Hika menyakinkan.
“Tapi, kenapa aku tidak mendengar suara mobil?”, tanyaku. “Bukankah saat mereka pergi dari sini mereka mengendarai mobil?”.
“Ah, aku juga tidak mendengar adanya suara mobil. Jadi kupikir master dan Jin kemari tanpa mengendarai mobil, aneh...”, jawab Hikaru.
“Yang lebih penting, ayo kita segera menuju ke depan rumah”, kataku.
Kami semua segera menuju ke depan rumah untuk memeriksa apakah benar yang dikatakan oleh Hikaru. Yuya dan yuto yang sedang berlatih di halaman pun berhenti melakukan latihannya dan mengikuti kami semua menuju ke depan rumah. Dari kejauhan aku melihat ada 2 sosok pria yang sedang mendekat. Kedua pria itu semakin mendekat dan akhirnya aku bisa melihat dengan jelas wajah dari kedua pria itu. Tidak salah lagi, itu master dan Jin.
“Master!”, seru Yabu sambil berlari menghampiri master. Kami semua pun mengikuti Yabu dan berjalan mendekat menghampiri master.
“Apa yang terjadi master?”, tanya Yabu. “Apakah benar kalian diserang makhluk kegelapan?”.
“Yabuu...aku juga ada disini. Kenapa dari tadi kau hanya bertanya kepada master”, sahut Jin. “Yang lebih penting, kenapa kalian sama sekali tidak menyambut kami dengan baik? Malah langsung menanyakan kondisi kami”. Jin menunjukkan ekspresi kesal. Dari wajahnya aku bisa melihat kalau dia sangat kelelahan.
“Selamat datang kembali master dan Jin”, kata Inoo sambil menundukkan kepalanya. Kami semua juga melakukan hal yang sama dengan Inoo. “Kalian pasti lelah, lebih baik kita masuk ke dalam rumah dulu”.
Kami semua lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Yabu membukakan pintu untuk master dan Jin. Master dan Jin masuk ke dalam rumah, satu persatu ksatria pun masuk kedalam rumah. Hanya Yuya yang masih berdiri di depan pagar rumah. Dia tampak sedang berdiri menunggu sesuatu, matanya melihat ke arah jalan. Raut mukanya menunjukkan ekspresi kesepian.
“Yuya? Kau tidak mau masuk?”, tanyaku.
Yuya tampak sedikit terkejut dengan perkataanku. “Ah, eh, iya. Aku akan masuk sebentar lagi”, jawab Yuya lalu melangkah menuju pintu. Sebelum melalui pintu rumah, sekali lagi Yuya melihat ke arah pagar rumah, seakan menanti sesuatu untuk muncul di balik pagar tersebut.
“Ada apa?”, tanyaku.
“Tidak apa-apa”, jawab Yuya singkat. Dia akhirnya melangkahkan kakinya kembali untukmasuk ke dalam rumah. “Benar juga, dia tidak mungkin ada disini”, gumam Yuya pelan. Setelah berkata seperti itu, aku bisa melihat raut wajah kesepian yang timbul di wajah Yuya.
Aku menatap punggung Yuya dari belakang, sosoknya memang terlihat tegap, akan tetapi, entah kenapa aku bisa merasakan kesepian saat melihat punggungnya itu. Setelah sosok Daiki palsu itu terbongkar, raut wajah Yuya kembali seperti sebelum Daiki palsu itu datang ke hadapan kami. Aku mengira suasana hati Yuya saat ini ada kaitannya dengan Daiki yang ternyata belum diketahui keberadaannya.
Kami berdua pun masuk ke dalam sebuah ruangan dimana master, Jin, dan ksatria lainnya berkumpul. Aku dan Yuya yang datang belakangan mencari tempat duduk yang tersedia dan bersiap untuk mendengarkan cerita dari master dan Jin mengenai hilangnya keberadaan mereka akhir-akhir ini.
“Apa yang terjadi master?”, tanya Yabu yang tampaknya sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari master.
“Baiklah, aku akan menceritakannya pada kalian. Setelah selesai mengantarkan Morimoto kembali ke keluarganya, kami berniat untuk segera kembali secepatnya kemari. Kami memutuskan kalau lebih baik kami kembali lebih cepat. Apalagi setelah mendengar laporan dari Yabu kalau Arioka telah kembali. Karena kami sudah mencurigai Arioka sejak awal, jadi kami kira akan terjadi sesuatu yang buruk.Tapi tampaknya masalah itu sudah beres sekarang”, ucap master saat melihat bahwa sosok Daiki tidak ada dimanapun. “Saat dalam perjalanan kemari, kami dihadang oleh sekelompok makhluk kegelapan. Kami lengah dan tidak menyangka kalau makhluk kegelapan akan datang menyerang kami, sehingga kami terkena jebakan musuh. Kami terkurung dalam perangkap yang telah disiapkan oleh mereka. Kami dihadang oleh sejumlah besar makhluk kegelapan tingkat rendah dan menengah, jumlahnya mungkin sekitar ribuan”.
“Lalu, apakah kalian berdua mengatasi mereka?", tanya Hikaru.
“Kau pikir kami siapa? Kami adalah sang magician dan sang alchemist. Makhluk kegelapan seperti itu bukanlah masalah bagi kami”, ucap Jin angkuh.
“Tapi, saat dia muncul, kami sempat dibuat kewalahan. Ternyata kami sama sekali tidakmenduga kalau ada musuh seperti itu”, sahut master.
“Seperti itu? Apa maksudnya?”, tanyaku.
“Ada salah satu maou yang menghadang kami. Tampaknya dia adalah maou yang dipanggil King. Dia muncul di hadapan kami saat kami selesai menghabisi seluruh makhluk kegelapan dan menghadang kami saat dalam perjalanan. Kemampuannya itu, sama sekali tidak bisa kami tandingi. Serangan yang kami arahkan ke arahnya sama sekali tidak berpengaruh padanya”, ucap Jin. Seluruh ksatria yang ada diruangan menunjukkan ekspresi terkejut. Sekuat itukah petinggi maou terkuat, King, hingga membuat master dan Jin kewalahan.
“Seluruh serangan kami sama sekali tidak ada yang bisa mengenainya. Setiap kali kami menyerangnya, dia bisa membelokkan kembali serangan itu ke arah kami”, ucap master.
“Bukankah itu sama dengan kemampuan Yuya?”, tanyaku.
“Bukan. Sama sekali beda. Kemampuan milik Yuya, nullification, adalah kemampuan untuk menetralkan serangan yang diarahkan kearahnya menjadi sesuatu yang tidak berarti, tapi dia tidak bisa mengembalikan serangan tersebut. Sedangkan kemampuan milik King ini, tampaknya dia memiliki kemampuan seperti mengembalikan serangan yang diarahkan kepadanya kembali menuju ke arah penyerang. Kemampuan ini kalau tidak salah disebut ‘repeller’”, terang master.
“Seandainya kami bertarung lebih lama lagi, kurasa kami tidak akan mampu melawannya. Kami berdua akhirnya memutuskan untuk mundur dan melarikan diri dari musuh. Memang tindakan ini tampak seperti seorang pengecut, tapi kami tidak ada pilihan lain. Kami tidak memiliki strategi yang bagus untuk bisa menang melawannya”, ucap Jin.
Seluruh ksatria yang ada di ruangan itu terdiam. Kekuatan King yang baru saja dijelaskan oleh master dan Jin membuat kami, para ksatria, semakin cemas. Musuh kami terlalu kuat. Bisakah kami menang melawannya.
“Kalian sudah tahu dimana Daiki berada?”, tanya Jin tiba-tiba. Kami semua saling berpandangan.
“Kami hanya mengetahui kalau saat ini dia ditawan di kediaman Jack, tapi kami tidak mengetahui dimana tempat itu berada”, jawab Yuya.
“Jadi, sampai saat ini kalian belum berhasil menyelamatkannya?”, tanya Jin. “Mau sampai kapan kalian hanya diam disini dan menunggu Daiki dibunuh?”. Kami semua terdiam.
“Apa maksudmu?”, suara Yuya terdengar agak keras. Aku bisa merasakan kemarahan dari perkataannya.
“Kami sudah bilang kalau kami bertemu dengan ribuan makhluk kegelapan kan? Para Makhluk kegelapan itu sedang berjalan menjauhi kota ini dan tampaknya menuju kearah timur. Itu berarti mereka telah mempersiapkan upacara untuk membuka segel. Tahap pertama membuka segel telah dijalankan”, ucap master.
“Tahap pertama?”, tanyaku.
“Aku dulu pernah cerita kalau sang necromancer dikurung dan disegel oleh sang alchemist dan sang magician terdahulu kan? Sang alchemist dan sang magician masing-masing membuat segel di dua tempat yang berbeda, di barat ini dan satunya lagi di timur. Untuk membuka masing-masing segel, darah keturunan ksatria murni sangat diperlukan. Bila segel di daerah barat ini telah berhasil terbuka, maka selanjutnya mereka akan membuka segel di daerah timur. Kalau ada sejumlah pasukan makhluk kegelapan yang berjalan ke arah timur, itu berarti mereka telah mempersiapkan tahap berikutnya”, terang master.
“Dan kalian tahu apa yang lebih buruk dari kabar ini? Bila saat ini tahap pertama telah berjalan, maka Daiki yang merupakan kunci untuk membuka segel, nyawanya saat ini benar-benar telah terancam”, ucap Jin.
“Daichan....”, lirih Yuya pelan. Mukanya tampak semakin terlihat lesu dan murung setelah mendengar apa yang mungkin terjadi pada Daiki.
“Tapi, bukankah masih ada waktu sekitar 2 minggu lebih sebelum waktunya tiba?”,tanyaku.
“Itu juga yang membuat kami bingung. Makhluk kegelapan sudah mulai membuka segel yang pertama, padahal belum saatnya segel itu dibuka”, ucap master. “Tapi, yang lebih penting kita harus segera menyelamatkan Arioka sebelum makhluk kegelapan itu berhasil membuka segel itu seutuhnya”.
“Kalian tahu dimana kediaman Jack?”, tanya Jin. Tidak ada satupun yang menjawab diantara kami. “Apa tidak ada satupun diantara kalian yang tahu?”.
Tiba-tiba Inoo mengacungkan tangannya, “Anoo... kurasa aku tahu arah ke kediaman Jack”. Kami semua menoleh ke arah Inoo.
“Benarkah itu Inoo?”, selidik Jin.
“Aku tidak tahu tempatnya secara persis, tapi aku bisa menunjukkan arah yang mungkin menuju ke kediaman Jack”, jawab Inoo. “Saat aku mencari Ryuu, aku menemukannya di tempat yang agak dalam ke arah hutan. Kurasa saat itu Ryuu sedang berusaha menuju ke kediaman Jack”.
“Baiklah, besok kita akan memeriksa tempat itu. Sebaiknya hari ini kita istirahat saja dan persiapkan diri kalian untuk menyerang tempat musuh besok. Ingat, kalian akan berhadapan dengan Jack, yang tidak lain adalah Fuka, adik kandung Daiki. Kemampuannya pun sama seperti Daiki dan dia sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Kita juga harus memikirkan kemungkinan kalau akan banyak makhluk kegelapan yang menghadang kalian. Mulai dari tingkat rendah, hingga mungkin kalian akan menghadapi yang tingkat tinggi. Jangan lengah sedikitpun”, ucap Jin.
“Prioritas utama kalian adalah menyelamatkan Arioka. Bila kalian sudah berhasil menyelamatkannya, maka segera keluar dari tempat itu. Hindari pertarungan yang tidak perlu. Kalian mengerti?”, ucap master. Kami semua mengangguk serempak.
Kami semua saling merenung masing-masing. ‘Akhirnya, kami akan bertarung dengan makhluk kegelapan. Semoga pertarungan besok bisa berjalan dengan baik’, gumamku dalam hati.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar