Senin, 27 Juli 2015

AKUMA NO YOROI

Part 21
“Apa yang ingin kau lakukan dengan Yuya? Dia adalah demon yang paling tidak bisa diatur. Yang Mulia saja tidak bisa mengaturnya, apalagi kau”
“Itu benar Inoo”, tambah Hika. “Kalaupun Yuya ada disini, apakah kita harus bertarung dengannya? Kau tahu kan kalau di antara kita tidak ada satupun yang bisa mengalahkannya. Yuya adalah salah satu demon kelas S”
“Tunggu dulu”, Yama tiba-tiba menyela. “Aku tidak mengerti pembicaraan kalian. Bisa kalian jelaskan pada kami?”
Inoo melihat Yama, lalu ke Chii, dan terakhir Keito. Cukup lama Inoo mengamati Keito. Perlahan Inoo berjalan mendekat ke arah Keito, Inoo memegang dada Keito, dimana tanda kutukan itu berada.
“Jawab pertanyaanku”
“Ha?”, Keito kaget ketika Inoo tiba-tiba melihatnya dengan pandangan yang cukup serius.
“Kau ingin tanda kutukan ini hilang?”
Keito melotot. “Kau bisa menghilangkannya?”
“Jawab saja pertanyaanku”
“Ya”, jawab Keito mantap.
Inoo tersenyum. Entah kenapa, Keito merasa tangan Inoo yang sedang mengusap kepalanya itu terasa sangat lembut.
“Kalau begitu, mulai sekarang turuti semua perkataanku. Selama kau menurutinya, kutukanmu akan hilang. Tenang saja, aku tetap akan menjelaskannya pada kalian apa rencanaku”
Yama menggeram tanda tak suka. Demon ini sudah membuat Chii menderita akibat siksaan, membuat Keito kelelahan karena imbalan mereka, dan sekarang mereka meminta Keito untuk menuruti perintahnya? Kalau sampai seperti itu, Chii akan lebih menderita.
Yama membuka mulutnya untuk protes. Tapi tiba-tiba tangan Chii sudah menutup mulutnya. Chii mengangkat tubuh Yama dan menggendongnya.
“Diamlah dulu Yama”, Chii berkata sangat pelan sehingga suaranya hanya bisa terdengar oleh mereka berdua.
“Kalau Keito mengikuti perkataan demon itu, maka siksaan yang kau terima akan semakin berat”, balas Yama dengan suara yang tak kalah pelannya.
“Tidak apa. Aku memang tidak mempercayai demon-demon itu sepenuhnya, tapi saat ini hanya mereka-lah yang bisa menolong Keito-sama. Lihat sisi baiknya, demon-demon itu berpihak pada kita sehingga mereka disebut pengkhianat kan? Itu sangat menguntungkan bagiku. Apalagi mereka bersedia membantu kita mengembalikan kekuatan kita yang sudah direbut oleh demon yang lain. Jadi, tidak ada salahnya kan?”
“Demon tetaplah demon. Mereka adalah makhluk gaib yang kejam dan tidak bisa dipercaya!”, suara Yama agak keras kali ini. Hika yang berdiri tidak jauh dari mereka sampai melihat ke arah mereka berdua sekilas.
“Aku tahu. Tapi bersabarlah sebentar Yama. Tunggu sampai kekuatan kita kembali. Lagipula, apa kau lupa? Cara untuk menghilangkan kutukan demon yang ada di tubuh Keito-sama adalah mengikat kontrak dengan 7 demon. Jadi, kita tidak punya pilihan lain”
Belum sempat Yama membantah, mulutnya tertutup kembali saat mendengar Keito mengiyakan kalau dia akan menuruti semua perkataan Inoo. Yama menggeram kesal. Chii mengelus-elus kepala Yama dengan lembut, berusaha menenangkan perasaan temannya itu.
“Semua akan baik-baik saja Yama. Percayalah pada keputusan Keito-sama”
“Nah”, Inoo tersenyum dengan puas. “Kalau begitu, aku akan menjelaskan semuanya. Kemarilah”
Semua yang hadir di ruangan itu mendekat ke arah Inoo untuk mendengar penjelasan yang akan diutarakan demon berwajah cantik itu. Inoo menatap ke arah Daiki yang kini sedang terbaring kelaparan. Daiki menatap Inoo dengan penuh harap, tapi Inoo hanya membalasnya dengan senyum.
“Di tubuhmu, lebih tepatnya di bagian dadamu, ada sebuah tanda kutukan yang tampak seperti luka bakar kan?”, tanya Inoo pada Keito. keito mengangguk. “Tanda kutukan yang ada di tubuhmu adalah tanda kutukan yang diberikan oleh Yang Mulia. Tanda kutukan itu berarti, kau akan menjadi santapan bagi Yang Mulia Raja tepat pada saat kau mencapai usia 17 tahun”
“Kenapa harus menungguku sampai aku berusia 17 tahun? Kenapa pada saat itu dia tidak langsung memakanku saja?”, tanya Keito.
Kali ini, Yabu yang menjawab karena Inoo menoleh padanya seakan menyuruhnya untuk menjawab. “Kau memiliki kekuatan spiritual yang besar. Kami semua bisa melihatnya. Memang saat ini kekuatan itu belum sempurna. Kekuatan itu belum tampak saat kau masih kecil.Biasanya, kekuatan ini baru akan muncul saat seseorang sudah mencapai dewasa, yang artinya saat dia sudah berusia 17 tahun. Tapi Yang Mulia Raja tahu itu, sehingga dia membiarkanmu hidup dan memberikan tanda kutukan padamu agar Yang Mulia bisa menyantapmu saat semua kekuatan spiritualmu bangkit”
Keito menelan ludah. Dirinya sendiri tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Setahu dia, ayahnya-lah yang memiliki kekuatan spiritual terbesar. Benarkah dia memiliki kekuatan spiritual yang cukup besar sehingga mampu menarik perhatian Yang Mulia Raja Demon?
“Lalu, apa alasan kalian menyerang keluarga Okamoto?”, kali ini giliran Yama yang bertanya. Masih jelas ingatannya saat dia bertarung melindungi Kenichi-sama dari serangan para demon yang buas.
“Itu karena...”, Yabu sempat melirik sekilas ke arah Inoo.
“Itu karena kekuatan spiritual Keito-lah yang memancing Yang Mulia”. Inoo tiba-tiba memotong ucapan Yabu. “Yang Mulia bisa mendeteksi manusia yang memiliki kekuatan spiritual yang cukup kuat sehingga dia berusaha untuk memakannya. Ya kan, Yabu?”
Yabu terdiam. Inoo menatapnya dengan pandangan tajam. Yabu akhirnya mengangguk pelan.
Yama memandang Inoo dan Yabu dengan penuh curiga. Yama merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka berdua. Betul apa yang dirasakan Yama, demon tidak bisa dipercayai sepenuhnya.
“Jadi...”, Keito terdiam sejenak untuk mengambil nafas panjang. “Kejadian 10 tahun lalu, kejadian yang menewaskan hampir seluruh anggota keluargaku itu, gara-gara aku?”. Muka Keito berubah menjadi agak pucat. “Gara-gara aku lahir di dunia ini, aku hampir menewaskan semua anggota keluargaku?”
Yama melepaskan diri dari dekapan Chii dan berlari menghampiri Keito. Yama menjilati tangan Keito. hal ini dilakukan Yama untuk membuat Keito tenang. “Itu bukan salahmu. Jangan menyalahkan diri”
Chii juga mendekat ke arah mereka berdua. “Itu benar Keito-sama. Sama sekali tidak ada yang menyalahkan Keito-sama. Ini semua gara-gara demon itu. Mereka bahkan berusaha membunuh Keito-sama yang masih kecil. Mereka juga membunuh anggota keluarga Okamoto lain yang tidak memiliki salah apapun”. Sorot mata kebencian Chii sangat terasa. Chii melihat ke arah Daiki yang masih terbaring lemas dengan penuh kebencian.
Inoo menepuk tangannya. “Adegan yang cukup mengharukan. Sekali lagi, aku merasa tersentuh. Sebenarnya, aku ingin membiarkan adegan ini lebih lama lagi karena menurutlku sangat lucu. Tapi sayang kita tidak punya banyak waktu”. Inoo menatap ke arah Daiki yang mulai menggeliat.
“Kau tahu makna sebenarnya tanda kutukan itu?”, tanya Inoo.
“Bukankah ini tanda kalau aku akan menjadi santapan Yang Mulia?”
“Itu memang salah satu makna kutukan itu. Tapi, tahukah kau apa yang akan terjadi kalau kau telah disantap Yang Mulia?”
Keito menggeleng.
“Kau akan menjadi demon. Siapapun yang telah dimakan oleh Yang Mulia akan menjadi demon. Atau lebih tepatnya, manusia yang dimakan oleh demon akan berubah menjadi demon. Itulah asal usul demon”
Keito terhenyak saat mendengar penjelasan Inoo. “Menjadi demon?”. Suatu pemikiran melintas di kepalanya, dia menatap ke arah Inoo, Yabu, dan Hika secara bergantian. “Jadi, kalian ingin bilang kalau demon itu awalnya berasal dari manusia? Dan, jangan bilang kalau kalian dulu adalah manusia?”
Inoo, Yabu, dan Hika mengangguk secara serempak. Keito membuka mulutnya karena terkejut mengetahui suatu kenyataan yang tidak terduga. Kenyataan yang tidak disangka.
“Yah, diantara kami bertiga, Yabu yang pertama kali menjadi demon. Sama sepertimu, dia juga dimangsa oleh Yang Mulia Raja dan berubah menjadi demon”, jelas Inoo
“Tapi, sejarah mengatakan kalau demon adalah makhluk yang tercipta karena keburukan dan kejahatan yang terkumpul. Aura jahat itu akan berkumpul menjadi satu dan menciptakan suatu makhluk yang mengerikan”
Yabu yang menjawab. “Memang, beberapa demon tercipta karena sifat buruk manusia. Sifat buruk itu mengeluarkan aura yang khusus sehingga sesama aura itu saling tarik menarik dan berkumpul. Sifat jahat yang sudah berkumpul itu kemudian melahirkan sosok kejam, yang kalian namakan ‘demon’. Demon itu kemudian memangsa manusia yang sudah menciptakan mereka. Kalian, para manusia, membenci demon seakan-akan kami adalah makhluk yang kejam, tapi justru kalian-lah yang menciptakan kami. Jika saja manusia tidak ada, kami tidak akan tercipta. Dan manusia yang lain tidak perlu sampai menjadi demon”, dari nada suara Yabu bisa terasa kebenciannya terhadap manusia. Rasa benci yang pasti ada di setiap demon.
Keito terdiam. Yama menunduk. Chii juga sama. Mereka bertiga kemudian sama-sama terdiam. Sama sekali tidak ada yang berani berkomentar di antara mereka. Ucapan Yabu ada benarnya. Mereka membenci demon, padahal mereka sendiri yang menciptakan mereka.
“Yang Mulia Raja adalah demon yang pertama kali tercipta” kali ini giliran Inoo yang kembali menjelaskan. Yabu kembali terdiam karena emosinya meningkat setelah penjelasannya tadi. “Yang Mulia adalah demon yang paling kuat dan paling lama hidup di antara semua demon. Yang Mulia-lah yang kemudian menemukan cara kalau manusia bisa berubah menjadi demon setelah disantap oleh demon. Itulah yang membuat jumlah demon meningkat akhir-akhir ini”
“Jadi, semua demon yang ada sekarang ini adalah manusia yang telah diubah menjadi demon?”, tanya Keito.
“Tidak semuanya. Ada beberapa demon yang murni lahir dari sifat buruk manusia. Seperti halnya Yang Mulia. Demon-demon inilah yang disebut demon kelas S. Mereka adalah demon terkuat kedua setelah Yang Mulia Raja. Jumlah mereka ada 6. Kekuatan mereka setara dengan 10 demon kelas A”, jawab Inoo.
“Lalu kenapa kalian membantu Keito menghilangkan kutukannya? Dari cara pengucapan kalian, aku bisa merasa kalau kalian sama-sama membenci manusia. Kenapa kalian malah membantu Keito?”
“Cara menghilangkan tanda kutukan itu adalah mengikat kontrak dengan 7 demon kan? Kalian tahu kenapa harus mengikat kontrak dengan demon?”, tanya Inoo. Keito hanya terdiam, menandakan kalau dia tidak tahu jawabannya.
“Tanda kutukan itu awalnya dibuat oleh Yang Mulia Raja. Saat kau mengikat kontrak dengan demon lain, itu artinya tanda kutukan yang dibuat oleh Yang Mulia mulai melemah. Dan akan semakin melemah dengan semakin banyaknya demon yang kau kontrak. Buktinya, tanda kutukan itu mulai memudar kan?”, jelas Inoo.
Keito membuka bajunya dan melihat tanda kutukan di dadanya mulai memudar. Berbeda dengan pertama kali saat tanda kutukan itu ada. Kali ini tanda kutukan itu mulai tampak seperti luka bakar ringan. Dadanya pun jarang terasa sakit semenjak mengikat kontrak dengan demon.
“Lalu, apa hubungannya?”, tanya Yama yang mulai tidak sabar.
“Karena kami ingin kembali menjadi manusia”, jawab Hika spontan. Yama, Chii, dan Keito terkejut lagi untuk kedua kalinya. “Kami tidak ingin menjadi demon lagi. Kami ingin kembali seperti dulu, saat kami masih menjadi manusia”
“Saat Yang Mulia memberi kutukan di salah satu targetnya, saat itu juga pengaruh Yang Mulia pada targetnya terikat. Rasa sakit yang kau rasakan di dadamu itu adalah buktinya. Tanpa kau sadari, Yang Mulia telah mengambil kekuatanmu secara perlahan. Saat kau mengikat kontrak dengan demon lain, saat itulah pengaruh Yang Mulia mulai berkurang. Selain itu, Yang Mulia juga akan ikut melemah. Semakin banyak demon yang kau ikat, semakin melemah Yang Mulia”, jelas Inoo.
“Lalu, kalau Raja Demon melemah, apa yang kalian rencanakan?”, tanya Keito.
“Tentu saja melenyapkannya. Dengan melenyapkan Raja Demon, ada kemungkinan kalau kami bisa kembali menjadi manusia”, jawab Inoo.
“Kalian ingin membasmi sesama demon?”, tanya Chii tidak percaya.
“Itulah sebabnya kami disebut pengkhianat”, ucap Inoo sambil tersenyum. “Nah, karena kau sudah mengikat kontrak dengan 3 demon. Maka sudah waktunya kau mengikat kontrak dengan demon keempat”
Yabu mendesah nafas panjang. “Aku mengerti sekarang. Kau ingin agar bocah ini mengikat kontrak dengan Yuya kan?”
“EH?!?!”, Hika melonjak kaget saat mendengar ucapan Yabu. “Bocah ini mengikat kontrak dengan Yuya??? dia tidak akan bisa. Itu mustahil. Tidak ada cerita demon kelas S mengikat kontrak dengan manusia”
“Tidak ada yang tahu sebelum dicoba kan?”, Inoo tersenyum penuh arti. “Nah, Keito”. Keito menunggu apa yang akan dikatakan Inoo. “Aku ingin kau mengikat kontrak dengan Takaki Yuya. Demon kelas S. Ini memang sedikit susah, tapi kau harus berhasil”
“Kenapa harus dengan demon kelas S? Kenapa tidak dengan Arioka senpai saja?”, Keito menunjuk ke arah Daiki yang tampaknya mulai bertingkah aneh. keito sedikit tertegun melihat perubahan tingkah Daiki yang makin lama makin kelihatan sedikit kasar.
“Yah, setelah kau mengikat kontrak dengan Yuya, kau akan kuminta mengikat kontrak dengan Daichan kok”, ucap Inoo seenaknya. “Tapi, aku ingin kau mengikat kontrak dengan Yuya terlebih dahulu. Demon keempat adalah demon penentu. Aku ingin memberikan efek yang cukup besar pada Yang Mulia saat kau mengikat kontrak dengan Yuya”
“Kau memang gila”, Yabu menyindir temannya itu. “Tidak ada jaminan Yuya akan mengikat kontrak dengan bocah ini. Apalagi bagaimana caranya memanggil Yuya kemari? Memangnya Yuya akan datang begitu saja saat kau panggil?”
Inoo berjalan menghampiri Daiki yang tampak mulai sedikit buas. Rasa laparnya yang semakin menjadi membuat aura demonnya meluap keluar. Matanya kini telah berubah menjadi merah menyala. Yama merasa seluruh tubuhnya berdiri saat melihat Daiki. Chii juga merubah wujudnya menjadi seekor rubah kecil karena dia mulai merasa bahaya saat melihat Daiki.
“Kalau aku yang memanggil Yuya, dia tidak akan datang. Tapi, kalau anak ini yang memanggilnya, Yuya pasti akan datang menemuinya”, ucap Inoo sambil mengusap rambut Daiki. “Nah Daichan, sekarang bisa kau panggilkan tuanmu itu kemari?”
---***---
Di sebuah kamar yang gelap. tampak ada seorang pemuda yang duduk di samping tempat tidur. Di tempat tidur itu, berbaring seorang pemuda bermuka sama.
“Dia belum sadar?”
Yuto tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Shin yang terus duduk menunggui Ryuu yang masih terpejam. Shin menggeleng. Shin kemudian meraih tangan Ryuu dan menggenggamnya dengan erat.
“Semenjak dia melahap Hokuto, dia terus tertidur. Sepertinya tubuhnya tidak kuat menahan kekuatan Hokuto yang masuk”
“Tapi, sepertinya kau baik-baik saja. kalian berdua sama-sama melahap Hokuto sampai habis kan?”
“Itu karena di tubuh kakak saat ini ada 2 kekuatan yang bertumpuk. Yang satu milik Hokuto, yang satunya lagi milik anjing sialan itu”
“Ah, dewa pelindung Okamoto” gumam Yuto. “Yah, aku mengerti kok. Saat ini di tubuhnya terjadi tubrukan antar kekuatan yang berbeda. Jadi, tubuhnya butuh waktu yang lama untuk beradaptasi”
Shin menggeram. “Cih, kenapa kakak tidak langsung membunuh anjing itu saja? Selama sang pemilik kekuatan asli masih hidup, kekuatan itu tidak bisa menjadi milik kakak”
Yuto hanya tersenyum mendengar ucapan Shin. Dia memutuskan segera keluar ruangan, meninggalkan kedua demon kembar itu sendirian.
“Ryuu tidak akan bisa membunuh anjing itu Shin. Selamanya tidak akan bisa”, gumam Yuto sesaat sebelum menjauhi ruangan tempat Ryuu dan Shin berada.
Sesekali Yuto menatap ke luar istana. Langit hitam dan berkabut menyambutnya. Istana ini memang selalu diliputi awan hitam dan gelap. Sama sekali tidak ada sinar matahari yang menyinari istana ini.
“Lagi-lagi...”, keluh Yuto.
Yuto bisa merasakan aura kejam dan jahat mendekat ke arahnya. Dari auranya, Yuto bisa menebak siapa pemilik aura tersebut. Tidak berapa lama, Yuya muncul dari arah yang berlawanan. Mata merahnya bersinar cukup terang di lorong istana yang cukup gelap.
“Aku tidak melihat Daiki sejak pulang sekolah tadi”
Yuto bisa menebak apa yang akan dikatakan Yuya padanya. Saat ini biasanya adalah waktu makan bagi mereka berdua, dan seperti biasanya, mereka berdua akan berada di satu ruangan dan mulai memangsa satu sama lain.
“Aku tahu. Aku juga tidak bisa merasakan auranya di istana ini. Sudah berkali-kali kupanggil dia juga tidak datang”
“Jangan-jangan dia kabur?”, tebak Yuto. “Atau mungkin, dia akhirnya berkhianat dan memilih untuk bersengkokol dengan Inoo?”, Yuto mengucapkan ide yang terlintas di kepalanya. Raut muka Yuya langsung berubah.
“Tidak mungkin. Itu adalah hal yang bodoh”, bantah Yuya.
“Kenapa tidak mungkin? Bagi kita, demon kelas S, itu memang hal yang mustahil, tapi bagi Daiki, Inoo, Yabu, dan Hika, hal itu adalah hal yang mereka harapkan. Mereka dulunya adalah manusia, begitu pula Daiki. Kau yang mengubah Daiki menjadi demon pasti tahu tentang hal itu kan?”
Yuya memukul dinding yang ada di sebelahnya. Begitu kerasnya hingga dinding itu retak dan muncul sebuah lubang besar dari bagian dinding yang dipukul Yuya.
“Daiki milikku. Dia makananku. Tidak ada satupun yang boleh merebutnya”, geram Yuya.
“Kalau dia memang peliharaanmu yang berharga, lebih baik kau menjaganya. Salahmu sendiri tidak bisa menjaganya. Kalaupun dia menjadi pengkhianat, kau kan bisa mencari manusia lain yang bisa kau jadikan demon. Kehilangan satu peliharaan tidak akan merugikan kan?”
Yuya hanya berdecak kesal. Sesaat kemudian dia tiba-tiba berhenti. Sesuatu sedang menangkap pendengarannya. Semenit kemudian, Yuya menghilang dari hadapan Yuto, meninggalkan Yuto sendiri lagi di lorong istana yang gelap.
---***---
Daiki mulai terlihat berbahaya. Gigi-giginya kini mulai terlihat runcing. Berkali-kali dia menunjukkan giginya itu dengan mulutnya yang terbuka. Dengan sekuat tenaga Daiki berusaha melepaskan ikatan yang ada di tubuhnya. Tali yang awalnya bisa menahan kekuatan Daiki ini mulai tidak berpengaruh pada Daiki. Jika saja Hika tidak mengikatnya dengan erat, tentu Daiki sudah bisa melepaskan diri dan menyerang mereka semua.
“Inoo, ini mulai gawat. Dia benar-benar sudah terlalu lapar”, Hika melihat ke arah Daiki yang terus berusaha melepaskan ikatannya. Entah sampai kapan tali dan mantra kurungan ini bisa menahan Daiki. “Kalau dia mulai membabi buta, kita tidak bisa menghentikannya. Aku tidak ingin mengalami hal yang sama seperti 10 tahun yang lalu”
Inoo hanya tersenyum. Berbeda dengan Hika dan Yabu yang mulai berjalan menjauhi Daiki, bersiaga seandainya Daiki bisa meloloskan diri dan menyerang mereka. Inoo dengan santainya malah duduk di sebelah Daiki.
“Daichan... kau lapar?”, tanya Inoo.
Daiki mengangguk dengan sekuat tenaga. bahkan suara perutnya pun bisa terdengar.
“Kalau begitu, apa yang ingin kau makan? Daging?”, tanya Inoo. Daiki mengangguk. Mata merahnya terlihat bersinar penuh harap. “Daging apa? Hewan? Manusia? Dewa pelindung? Atau...”, Inoo menghentikan ucapannya sebentar. “Kau ingin memakan daging demon? Mana yang kau pilih?”
“DEMON! AKU INGIN MEMILIH MAKAN DAGING DEMON!”, jawab Daiki.
Hika dan Yabu sontak mundur selangkah lagi. Sedangkan Keito, Chii, dan Yama diam-diam menarik nafas lega.
“Siapa? Kau ingin makan dagingku? Hika? Yabu? Atau... Yuya?”, tanya Inoo sekali lagi.
“YUYAN!!! YUYAN!!! YUYAN!!!”
Daiki berkali-kali meneriakkan nama Yuya. Saking kerasnya suara Daiki sampai seluruh rumah terasa bergetar. Chii menutup kedua telinga Keito agar gendang telinganya tidak pecah karena suara Daiki yang sangat keras.
Inoo tersenyum puas saat Daiki meneriakkan nama Yuya, Inoo menjetikkan jarinya. Ada bunyi sesuatu yang retak. Tidak lama, Yuya sudah berdiri di hadapan mereka semua. Keito kembali terkejut melihat kemunculan senpainya itu tiba-tiba di rumahnya.
“DAIKI, DIAM!”
Daiki langsung menutup mulutnya saat mendengar perintah Yuya. Mukanya terlihat sangat senang saat melihat sosok Yuya. Air liurnya pun menetes dari mulutnya.
‘Makan, makan, makan’, batin Daiki.
Yuya mengamati tempatnya berada saat ini. Matanya langsung menangkap sosok Inoo, Yabu, dan Hika yang berdiri di sebelahnya. Yuya juga menyadari kehadiran Keito beserta kedua dewa pelindungnya.
“Sudah kuduga kalian bertiga ada disini”, ucap Yuya. Yuya menatap ke arah Daiki yang melihatnya dengan pandangan mata yang menandakan bahwa Daiki siap memangsanya. “Tidak kusangka, kau benar-benar ada disini Daiki. Yuto benar”
“Yuyan! Aku lapar! Lapar! Lapar!”, rengek Daiki.
Yuya mengacuhkan Daiki dan malah melihat ke arah Inoo. “Apa maumu? Kau kan yang membuat pelindung di sekitar sini sedikit melemah. Kau juga yang menyuruhnya berteriak kan?”, Yuya menunjuk ke arah Daiki yang sedang melihatnya kesal.
“Aku tidak menyuruhnya berteriak kok. Dia sendiri yang berteriak. Lalu, aku merasakan kehadiranmu. Aku mencoba membantumu masuk kemari karena kau tidak bisa menembus pelindung itu sendirian”, balas Inoo tenang.
“YUYAN!!!”
Daiki mengeluarkan aura demonnya. Aura membunuhnya sangat terasa. Sedetik kemudian, tali yang mengikat Daiki akhirnya lepas. Yabu dan Hika langsung memasang sikap siaga. Yama dan Chii juga berdiri di hadapan Keito untuk melindungi Keito. Semua yang ada di ruangan itu memasang wajah panik dan siaga, kecuali Yuya dan Inoo.
Dalam sekejap, Daiki langsung menyerang Yuya. Tangan kanannya putus karena Daiki menariknya dengan kuat. Yuya hanya berdecak kesal. Yabu dan Hika menghela nafas lega. Sedangkan Keito hanya termangu melihat adegan yang ada di depan matanya itu. Sesekali Keito menutup matanya karena adegan yang ada di matanya terlihat cukup menjijikkan.
“Aku jadi heran melihat kalian. Siapa sebenarnya majikan, siapa sebenarnya peliharaan?”, ucap Inoo sambil melihat ke arah Yuya dengan pandangan meledek. Yuya hanya berdecak kesal.
---***---
Tidak jauh dari rumah Keito. Ada seseorang yang mengamati rumah itu dengan lekat-lekat. Dari perawakan tubuhnya, bisa diduga kalau orang itu adalah laki-laki. Usianya tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu tua. Laki-laki itu tampak seeprti menyembunyikan dirinya dengan hati-hati, seperti berusaha agar dirinya tidak ketahuan.
“Keito... Kau sudah mengikat kontrak dengan mereka rupanya”
Laki-laki itu terdiam sejenak. Matanya menatap rumah Keito dengan pandangan sayu, ada sedikit perasaan bersalah terpancar dari raut matanya.
“Keito, maafkan ayahmu yang tidak berguna ini. Ayah belum bisa menemuimu sekarang, tapi ayah janji akan segera kembali padamu. Yama, Chii, kuserahkan Keito pada kalian, jagalah dia dengan baik. Chii, bertahanlah sedikit lagi. Sebentar lagi, kau tidak akan merasa siksaan itu lagi”
---***---
“Kenichi-sama?”
Samar-samar Chii merasakan kehadiran Kenichi-sama, ayah Keito.
“Kenichi-sama, anda ada di dekat sini?”, gumam Chii lagi.
Yama yang melihat tingkah aneh Chii memutuskan untuk bertanya padanya. “Kenapa Chii? Ada sesuatu?”
Chii terdiam sejenak. Chii berusaha merasakan lagi hawa keberadaan Kenichi, tapi sia-sia. Hawanya terasa sangat tipis, antara ada dan tiada. “Tidak ada apa-apa kok Yama. Mungkin hanya perasaanku saja”
Yama tersenyum lega melihat Chii baik-baik saja. Dia khawatir kalau-kalau ternyata Chii merasa kesakitan lagi akibat siksaan yang dia terima karena dia tidak bisa menjalankan perintah dengan baik.
“UARGH!”
Suara erangan Yuya membuat Chii melonjak kaget. Keadaan Yuya saat ini cukup mengenaskan. Kedua tangannya lepas dan dimakan oleh Daiki. Darahnya pun mengucur deras dari tangan yang terpotong. Sedangkan Daiki kini memakan daging dengan lahapnya. Cara makannya yang cukup berantakan membuat tubuhnya kini berlumuran darah.
“Inoo... sialan kau...”, geram Yuya marah ke Inoo. Inoo hanya tersenyum melihat Yuya yang tampak sangat kesal padanya.
Keito melihat Daiki dan Yuya dengan takut. Apa yang terjadi di depan matanya membuatnya semakin takut dengan Yuya. Tapi, yang membuatnya lebih takut dan jijik adalah saat melihat Daiki yang dengan asyiknya terus menyerang dan melahap Yuya tanpa henti. Meskipun Yuya masih tetap hidup meskipun Daiki menyerangnya, tapi Keito tetap merasa jijik.
“Nah...”, Yuya berusaha bangkit berdiri. Seketika itu juga darah berhenti mengalir dari tubuhnya. tangannya yang telah putus akibat Daiki kembali utuh. Yuya menggerakkan kedua tangannya yang tumbuh kembali seakan-akan kedua tangan itu tidak pernah putus sebelumnya.
“Apa maksudmu sebenarnya? Kau tidak mungkin membiarkanku kemari hanya gara-gara anak ini merasa lapar kan?”, ucap Yuya sambil menarik Daiki yang tampak asyik menjilat sisa daging yang menempel di tulang. Daiki menawarkan tulang itu pada Hika, tapi Hika menolak dengan keras saat melihat Yuya menatap tajam ke arahnya.
“Bukan aku. Keito yang ingin bicara denganmu”, Inoo mendorong Keito maju ke arah Yuya. Keito menatap Inoo dengan pandangan heran sekan bertanya, ‘apa maksudmu?’
“Kau ingat apa yang kubicarakan sebelumnya kan? Aku ingin kau mengikat kontrak dengannya”, bisik Inoo seakan tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Keito.
“Tapi...”
Keito ingin menolak, tapi belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Inoo sudah mendorongnya. Kini Keito sudah berdiri tepat di hadapan Yuya.
“Anak ini? Apa maumu bocah?”, Yuya menatap tajam ke arah Keito. Keito selalu takut saat melihat pandangan mata itu.
“Ah... eh... ah...”, Keito merasa sangat gugup.
“Kau mau apa bento-kun?”, kali ini giliran Daiki yang bertanya. Daiki telah kembali seperti semula. Aura membunuhnya telah hilang. Mata merahnya pun telah berubah kembali menjadi hitam. Keito merasa sedikit tenang saat melihat senpai-nya itu.
“Aku ingin mengikat kontrak dengan kalian berdua!”
Keito segera memejamkan matanya. Dia takut melihat langsung ke arah dua demon yang ada di hadapannya.
“AHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!”, suara tawa Yuya terdengar keras. Keito tampak terkejut melihat Yuya tertawa. Ini pertama kalinya dia melihat Yuya tertawa. Dia berpikir kalau Yuya sama sekali tidak pernah tertawa.
“KAU? MENGIKAT KONTRAK DENGANKU?”, Yuya terdengar seperti sedang meledek Keito. “Apa untungnya aku mengikat kontrak denganmu?”
“Aku akan memberikan apapun imbalan yang kau minta. Jadi aku mohon kalian mengikat kontrak denganku”
“Eh? Hontou?”, kali ini Daiki yang menjawab. Wajahnya terlihat gembira. “Aku ingin makan daging demon kelas S tiap hari. Itu imbalan dariku”
Yuya menjitak kepala Daiki pelan. “Dia tidak akan bisa memenuhinya Daiki. Lagipula untuk apa aku mengikat kontrak denganmu? Asal kau tahu saja, aku sangat membenci manusia. Mereka yang menciptakan kami, mereka pula yang membenci kami. Jadi, kenapa aku harus menolongmu?”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar