Rabu, 08 Juli 2015

HIME TO KISHI

Cast : Member JUMP
Main Cast : Arioka Daiki & Takaki Yuya
Author : Hida Salmah & Ruika Rei Mizutani
Genre : Romance Comedy
Warning! Gender Switch! Siapa yang jadi cewek, uda bisa ditebak kan ya???
Part 1
Suasana hari ini sangat cerah. Semua orang menjalankan aktivitasnya dengan penuh semangat. Begitu pula dengan keadaan di kerajaan Union. Beberapa butler dan maid tampak sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ada yang membersihkan taman, ada yang menyapu, ada yang memasak, dll.
“Tuan Putri! Tuan Putri! Tolong jangan lari-lari begitu. Tuan putri bisa jatuh”
Seorang pelayan tampak sedang mengejar seorang wanita muda yang mengenakan gaun berwarna oranye muda dengan hiasan bunga di bagian ujungnya. Wanita muda itu adalah tuan putri kerajaan Union ini. Wajah tuan putri itu langsung merekah saat melihat sekumpulan orang yang masuk ke dalam istana.
“Ryosuke!!!”
Seorang laki-laki muda berpakaian rapi yang berada di antara kumpulan orang yang baru saja memasuki istana langsung menoleh ke arah balkon istana yang berada di lantai 2. Dia langsung tersenyum saat melihat sosok yang memanggilnya.
“Pangeran, semua sudah saya jalankan sesuai perintah anda”
Seorang laki-laki tinggi tiba-tiba mendekat ke arah laki-laki muda yang dipanggilnya pangeran tersebut.
“YUYA!!!”
Tuan putri itu sangat bersemangat saat melihat laki-laki tinggi yang dipanggil Yuya oleh tuan putri itu. Belum sempat Yuya menjawab, dia terkejut saat melihat tuan putri itu melompat turun dari lantai 2.
“WAA!!! TUAN PUTRI!”, seru pelayan yang mengikutinya dengan panik. Ryosuke yang melihatnya juga ikutan panik.
GREP! Yuya berhasil menangkap Tuan Putri sebelum menyentuh tanah. Ryosuke dan pelayan itu langsung menghela nafas lega saat melihat Tuan Putri itu baik-baik saja.
“Tu-an-pu-tri...”, geram Yuya. “Itu tadi sangat berbahaya. Kalau anda terluka bagaimana?”, omel Yuya.
“Daiki. Kau sudah kusuruh memanggilku seperti itu kan?”, Tuan putri yang bernama Daiki itu menunjukkan wajah cemberutnya.
“Tidak bisa Tuan putri. Anda adalah tuan putri negeri ini, jadi saya tidak pantas memanggil anda hanya dengan nama saja”, jawab Yuya. Daiki tetap menunjukkan wajah cemberutnya yang tampak sangat menggemaskan. Yuya akhirnya menghela nafas panjang. “Baiklah, aku akan memanggilmu Daiki. Tapi itu di saat kita Cuma berdua saja. Setuju?”
Daiki mengangguk pelan. Dia sebenarnya masih tidak terima. Tapi, Yuya mau memanggilnya ‘Daiki’ lagi itu sudah cukup baginya. Waktu kecil dulu Yuya sering memanggilnya Daiki, tapi semenjak dia menjadi pewaris tahta dan Yuya menjadi pengawal pribadinya, Yuya mulai memanggilnya Tuan Putri.
“Ayo berdiri tuan puteri. Gaun anda bisa kotor nanti”
Daiki menggeleng. Dia lalu membuka kedua tangannya lebar-lebar seakan minta dipeluk. “Gendong..”
“Ha?”
“Kakiku sedikit sakit saat melompat tadi”
“Salahmu sendiri turun dengan cara seperti tadi”
“Gendong... Ayo gendong aku Yuya”, Daiki tetap mengulurkan kedua tangannya. Tapi Yuya tetap diam. Sama sekali tidak ada tanda kalau dia akan melakukan permintaan Daiki. “Ini perintah dari tuan puteri!”
Yuya menghela nafas panjang. Dia tidak bisa menolak kalau Daiki mengatakan ini adalah perintah. Yuya kemudian berjongkok di hadapan Daiki, bersiap untuk menggendongnya.
“Aku tidak mau digendong di belakang. Aku mau di depan!!!”
Daiki langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Yuya tanpa mendengar persetujuan dari Yuya. Yuya hanya bisa menghela napas. Dia kemudian mengangkat tubuh Daiki dengan kedua lengannya dan menggendongnya dengan gendongan ala tuan puteri seperti yang diinginkan Daiki.
“Pangeran, saya minta ijin untuk mengantar tuan putri terlebih dahulu”
“Ah... silahkan”, Ryosuke yang masih sedikit terkejut dengan adegan yang ditimbulkan oleh kakaknya itu hanya bisa meng-iya-kan.
Daiki tersenyum senang saat melihat Yuya menggendongnya masuk ke dalam istana. Semenjak Yuya ditunjuk menjadi pengawal pribadi Ryosuke, Daiki jadi jarang bertemu dengannya. Dulu, Yuya adalah pengawal pribadinya. Semenjak kedatangan Ryosuke yang menggantikan posisi Daiki sebagai pewaris tahta, Yuya ditunjuk sebagai pengawal pribadi Ryosuke, sedangkan Yuto ditunjuk sebagai pengawal pribadi Daiki.
Ryosuke dan Daiki memang bukan saudara kandung. Ryosuke adalah anak dari adik Yang Mulia Ratu Hikari, Yamada Kei. Suami Kei telah meninggal dunia. Raja Kota kemudian mengangkat Ryosuke sebagai anak untuk menggantikan posisi Daiki sebagai pewaris tahta. Menurut Raja, laki-laki lebih pantas menjadi pewaris tahta daripada perempuan. Raja juga kasihan pada puterinya, Daiki, bila dia menjadi pewaris tahta. Ada beberapa hal yang cukup berat dijalankan bagi seorang perempuan sebagai pewaris tahta.
Daiki sama sekali tidak keberatan dengan keputusan ayahnya itu. dia malah tampak sangat gembira. Selain karena dia terbebas dari tugas berat sebagai pewaris tahta, dia juga mendapatkan seorang adik baru. Selama ini Daiki adalah anak tunggal, sehingga dia sering merasa kesepian. Hanya Yuya saja menemaninya bermain.
Satu hal lagi yang membuat Daiki sangat senang. Terbebas dari pewaris tahta, itu berarti dia terbebas dari perjodohan. Selama ini, calon raja akan menikah dengan orang yang sudah ditentukan oleh para petinggi kerajaan. Dulu Daiki sangat keberatan dengan aturan itu karena dia diam-diam menyukai teman sejak kecilnya sekaligus pengawal pribadinya itu. Si Takaki Yuya. Tapi, begitu dia terbebas dari jabatan sebagai pewaris tahta, maka ada kesempatan baginya untuk menikah dengan Yuya.
Tapi, cinta tidak berjalan mulus seperti yang Daiki kira. Raja Kota memerintahkan agar Yuya menjadi pengawal pribadi Ryosuke. Tentu saja hal ini membuat Daiki keberatan. Berkali-kali Daiki meminta kepada Raja Kota, ayahnya, agar tetap menjadikan Yuya sebagai pengawal pribadinya, tapi ditolak oleh Yang Mulia Raja. Alasannya adalah karena Yuya adalah pengawal yang paling jago, sehingga dia bisa dipercaya untuk menjaga si pewaris tahta yang baru.
“Hei, hei, Yuya...”, bisik Yuya.
“Apa?”
“Nanti malam pesta ulang tahunku”
“Aku tahu”
“Nanti malam aku berumur 16 tahun”
“Aku tahu”
“Di umur 16 tahun kita sudah boleh menikah kan?”
“Iya”
Daiki merengut kesal karena Yuya hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat. Daiki akan membuka mulutnya lagi untuk berbicara, tapi Yuya telah memotong pembicaraannya.
“Kita sudah sampai tuan puteri”
Yuya membuka pintu kamar Daiki. Dengan hati-hati, Yuya menurunkan Daiki di atas kasur.
“TUAN PUTERI! TUAN PUTERI TIDAK APA-APA??”
Keito, pelayan pribadi Daiki tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Mukanya terlihat sangat pucat. Dia lalu berjongkok untuk memeriksa kedua kaki Daiki.
“TUAN PUTERI TIDAK APA-APA? TIDAK TERLUKA? ADUH... TUAN PUTERI... KENAPA TUAN PUTERI NEKAT MELOMPAT DARI LANTAI 2??? UNTUNG TAKAKI ADA DISANA. KALAU TIDAK, KALAU TERJADI SESUATU PADA TUAN PUTERI BAGAIMANA??? SAYA HARUS BAGAIMANA??? APA YANG AKAN SAYA KATAKAN PADA YANG MULIA RAJA???”
“Keito... tenanglah sedikit...”, Yuya berusaha menenangkan Keito sambil menutup telinga Daiki agar tidak terasa sakit saat mendengar suara Keito yang hampir seperti orang yang berteriak. “Tuan Puteri tidak apa-apa”
“MAAF... MAAFKAN SAYA TUAN PUTERI. HAMBA HANYA KHAWATIR DENGAN KESELAMATAN TUAN PUTERI”
“I-iya... aku tahu kok Keito. sudah cukup. Aku tidak apa-apa. Kakiku sama sekali tidak sakit kok”, balas Daiki. “Ah... ups...”, spontan Daiki langsung menutup mulutnya.
“Tidak sakit?”, Yuya melirik ke arah Daiki. “Apa maksudnya tidak sakit tu-an-pu-te-ri??”
“Habisnya... kalau aku tidak bilang begitu, kau tidak mau menggendongku kan?”
Yuya tersenyum. Dia kemudian meletakkan kedua tangannya di pipi Daiki yang gembul. Dia kemudian mencubit kedua pipi Daiki. “Dasarr.... kupikir kakimu sakit beneran...”
“Ah, eh, aduh... sakit Yuya... aduh, jangan ditarik... nanti pipiku tambah melar... iya, aku janji tidak akan bohong lagi...”
Yuya menghentikan cubitannya. Daiki langsung memegangi kedua pipinya yang kemerahan akibat cubitan Yuya. Setelah mengelus kepala Daiki, Yuya langsung berbalik badan menuju keluar. Langkahnya sempat dihentikan oleh Daiki yang menarik bajunya.
“Mau kemana?”, tanya Daiki.
“Kemana? Ya kerja-lah... aku harus memantau keadaan kota”, jawab Yuya.
“Oh... begitu...”, Daiki sedikit kecewa saat Yuya harus pergi meninggalkannya. Dia sama sekali belum mau melepaskan baju Yuya.
“Tuan puteri? Bisa lepaskan bajuku?”
“Ah, eh iya...”, dengan berat hati, Daiki melepaskan pegangannya. Dia hanya bisa menatap sayu ke arah Yuya yang berjalan keluar tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun.
“Uh... Padahal aku ingin bersamanya sedikit lagi...”, keluh Daiki.
“Tuan puteri, saya akan meminta pelayan wanita untuk mengambil baju yang baru, tuan puteri disini saja dulu”, sahut Keito.
Sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikiran Daiki. Dia langsung tertawa pelan saat memikirkan rencananya itu. Dia segera meminta Keito untuk segera memanggil pelayan wanita.
“Yuya... tunggu aku”

Tsuzuku ~~~

2 komentar: