Sikap Yuya yang menolak dengan keras permintaan Keito untuk mengikat kontrak dengannya memang sudah diduga oleh Inoo. Demon kelas S adalah demon yang bisa dikatakan sombong. Bagi mereka, manusia hanyalah sampah tak berguna. Kebencian demon terhadap manusia jauh lebih tinggi dirasakan oleh demon kelas S daripada demon kelas A hingga E. Aturan yang melarang demon dekat dengan manusia adalah aturan yang ditetapkan oleh para demon kelas S ini.
Keito mennoleh dengan penuh harap ke arah Inoo. Maksudnya agar Inoo mau membantu Keito untuk membujuk Yuya. keito benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi.
“Takaki”
Inoo akhirnya memanggil Yuya, tapi Yuya sama sekali tidak mau menoleh ke arahnya. Bahkan kini Yuya tengah sibuk mengalihkan perhatian Daiki yang ingin menggigitnya dan memakannya sekali lagi. Adegan yang dilakukan kedua orang itu sebenarnya sangat lucu. Bagaikan manusia dengan kucing peliharaannya. Tapi aura ketegangan yang terasa di ruangan itu membuat semua yang ada disana tidak bisa tertawa, atau bahkan tidak bisa merasa kelucuan adegan yang ada di hadapan mereka.
“Daichan”
Inoo akhirnya menyerah memanggil Yuya dan mencoba memanggil Daiki.
“Avha?”, jawab Daiki dengan mulut penuh. Perjuangannya yang tiada henti akhirnya membuatnya berhasil memakan Yuya sekali lagi.
“Kau masih ingat dengan yang dulu kukatakan?”
“Yang mana?”, tanya Daiki.
“Kalau kita bisa kembali menjadi manusia. Kau ingat kan?”
Yuya langsung tersentak mendengar ucapan Inoo. Dengan segera dia menarik Daiki dan memeluknya untuk menutup telinga Daiki.
“ADUH!”, jerit Yuya saat Daiki malah menggigit dadanya dan meninggalkan bekas cabikan di tubuhnya. Seketika itu juga Yuya melepas pelukannya dari Daiki.
“ADUH!”, jerit Yuya saat Daiki malah menggigit dadanya dan meninggalkan bekas cabikan di tubuhnya. Seketika itu juga Yuya melepas pelukannya dari Daiki.
“Da...i...ki...!”, geram Yuya marah. Tapi, Daiki hanya tersenyum melihat Yuya. Wajahnya tampak sangat puas.
“Daichan, kau tidak ingin kembali menjadi manusia?”, tanya Inoo lagi.
Daiki melihat ke arah Inoo. Wajahnya tampak seperti berpikir. “Hmm... sebenarnya aku ingin sekali kembali menjadi manusia. Tapi, jika mengingat apa yang dilakukan penduduk desa padaku saat itu, aku kembali membenci manusia dan tidak ingin kembali menjadi manusia"
Daiki melihat ke arah Inoo. Wajahnya tampak seperti berpikir. “Hmm... sebenarnya aku ingin sekali kembali menjadi manusia. Tapi, jika mengingat apa yang dilakukan penduduk desa padaku saat itu, aku kembali membenci manusia dan tidak ingin kembali menjadi manusia"
“Memangnya apa yang dilakukan penduduk desa itu padamu?”, kali ini giliran Keito yang bertanya karena dia rasa ingin tahu.
Daiki menoleh sekilas ke arah Yuya. Yuya hanya menatapnya kesal. Daiki lalu mendekat ke arah Yuya dan memeluknya. Semenit kemudian, gigi taring tajam Yuya sudah melekat di leher Daiki. Daiki membiarkan Yuya menghisap darahnya untuk membuatnya tenang.
“Dulu... aku adalah salah satu penduduk di sebuah desa. Desaku adalah desa yang cukup terpencil dan jauh dari desa tetangga. Jaman dulu, kepercayaan penduduk desa terhadap kekuatan spiritual sangat kuat. Termasuk desaku”
Daiki berhenti sejenak dan merintih pelan. Tak berapa lama, Daiki melanjutkan ceritanya. “Suatu ketika, desa kami dilanda musibah. Semua sawah tidak menghasilkan panen yang cukup. Hewan ternak mati satu persatu karena sakit. Tetua desa akhirnya memutuskan sesuatu untuk menghentikan bencana yang berkelanjutan ini”
Daiki terdiam. Yuya kini mengganti lokasi gigitannya. Sekali lagi, Yuya menancapkan taringnya yang tajam di tubuh Daiki dan menghisap darahnya lagi. keito yang sudah tidak sabar memutuskan untuk bertanya. “Apa yang dilakukan tetua desamu?”
“Tetua desa kami memutuskan untuk memberikan tumbal. Tetua desa mencoba membunuh semua pemuda yang memiliki kemampuan spiritual dan menyerahkan daging kami kepada makhluk gaib sebagai makanan. Ada 10 pemuda yang terpilih, termasuk aku”
Keito terdiam. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar hal itu. Tidak pernah terpikirkan olehnya ada kejadian yang seperti itu.
“Lalu, apa yang terjadi?”, Keito sebenarnya takut menanyakan hal ini pada Daiki, tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.
“Para penduduk desa menyerangku dan membunuhku. Dengan kondisi hampir mati, aku bersama 9 pemuda lain dibuang begitu saja di hutan untuk menjadi santapan makhluk gaib. Sampai saat ini aku tidak bisa melupakan wajah penduduk desa yang mencoba membunuhku”
“Itukah alasannya kau membenci manusia?”, tanya Keito.
“Ya. Jika aku teringat akan hal itu, aku merasa kalau manusia itu makhluk paling kejam di bumi ini. bahkan mereka tidak segan membunuhku. Kedua orangtuaku pun tidak bisa menolongku. Mereka takut akan tetua desa dan penduduk lain. Mereka Cuma bisa menatapku dengan dingin”
Keito tetap diam tidak berkomentar. Dia tidak tahu harus berkata apa. Kenyataan pahit yang dialami oleh Daiki membuat dia berpikir kembali tentang demon dan manusia. Sebenarnya mana yang jauh lebih jahat? Demon yang memakan manusia, atau manusia yang menciptakan makhluk seperti demon?
“Lalu, bagaimana ceritanya kau bisa menjadi demon?”, kali ini giliran Yama yang bertanya.
Yuya melepas gigitannya di leher Daiki. Dia kemudian mendorong Daiki dengan kasar agar dia menjauh. Setelah itu dia memilih duduk bersandar di dinding sambil memejamkan matanya karena kantuk yang menyerang. Daiki mengusap pelan bekas gigitan Yuya. perlahan bekas gigitan itu tertutup dan sembuh.
“Itu semua gara-gara Yuya”
Daiki menoleh ke arah Yuya yang sedang bersandar. Daiki berjalan mendekat ke arah Yuya dan menyentuhnya pelan.
“Yuya adalah salah satu makhluk gaib yang ada disana. Yuya tidak sendirian, dia bersama dengan beberapa makhluk gaib yang lain. Tidak lama kemudian, makhluk gaib itu mulai memangsa teman-temanku yang sudah tidak bernyawa. Aku yang masih setengah sadar berusaha untuk melawan, tapi kekuatanku tidak cukup untuk mengalahkan mereka. Saat beberapa makhluk gaib itu hendak menyerangku, Yuya menghentikan mereka. Lalu kami mengadakan perjanjian”
“Perjanjian?”, tanya Keito
“Dia akan membiarkanku tetap hidup dengan cara menjadi demon asalkan aku bersedia menjadi sumber makanannya. Sebagai gantinya, dia juga membiarkanku memakan anggota tubuhnya”
“Sejak saat itulah hubungan mereka berdua seperti majikan dan hewan peliharaan”, sahut Inoo sambil tersenyum simpul.
“Aku tidak mengerti”, Keito kembali menyahut “Kenapa kau bersedia menerima perjanjian itu? kenapa kau mau menjadi demon?”
Daiki tersenyum saat mendengar ucapan Keito. Senyumnya kini terlihat sedikit menyeramkan. Beda dengan senyum ceria yang biasa terpasang di wajahnya. Yuya hanya melihat dan mendengarkan percakapan antara Keito dan Daiki.
“Karena aku ingin balas dendam”, jawab Daiki enteng. “Aku tidak bisa memaafkan penduduk desa yang sudah mencoba membunuh kami. Setelah Yuya menjadikanku demon, aku segera kembali ke desa dan menghabisi seluruh penduduk desa”
“Termasuk kedua orangtuamu?”, tanya Keito
“Justru mereka berdualah yang pertama kali membuangku dan mencoba membunuhku”. Jawaban Daiki membuat Keito sedikit terkejut. “Setelah aku menghabisi semuanya, aku mengikuti Yuyan kemanapun dia pergi. Hingga aku menjadi salah satu prajurit demon”
Keito kembali terdiam. dia tidak tahu harus berkata apa. Masa lalu Daiki membuat Keito berpikir sekali lagi. Timbul sebuah pertanyaan di kepala Keito yang sama sekali tidak bisa diduga olehnya. ‘Sebenarnya, siapa yang jauh lebih jahat? Manusia? Ataukah demon?’. Kini Keito tidak tahu harus berpihak pada siapa. Demon yang disangkanya adalah makhluk yang paling kejam, ternyata ‘korban’ dari sifat jahat manusia.
“Nah, kau sudah mengerti kan? Tidak mungkin, kami akan berpihak padamu”, Yuya kini mulai angkat bicara setelah diam mendengarkan ucapan Daiki. “Untuk kau tahu saja, aku benci sesama demon. Tapi, yang jauh lebih kubenci adalah manusia. Lebih baik aku mati daripada berpihak dengan manusia”
Yuya kini mulai bangkit berdiri. Dari tingkah lakunya, Inoo menduga kalau Yuya sedang membuka pintu antar dimensi agar bisa segera kembali ke dunia demon.
“Maafkan aku!”
Semua yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke arah Keito. keito terlihat tampak sedang menundukkan kepalanya ke arah Daiki dan Yuya yang sudah bersiap untuk melangkah pergi.
“Keito-sama?”, tanya Chii yang heran melihat tingkah Keito.
“Keito? Kenapa?”, tanya Yama.
“Sebagai seorang manusia, aku minta maaf!”, seru Keito lagi. “Mendengar cerita kalian para demon, aku sadar kalau manusia juga bersalah dalam hal ini. Bahkan ternyata justru kami yang menciptakan kalian dan membenci kalian seenaknya. Sebagai seorang manusia, aku malu dan merasa bersalah. Oleh karena itu, aku minta maaf!”
Yuya, Daiki, Inoo, Yabu, dan Hika, tampak tertegun melihat tingkah Keito. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka kalau ada seorang manusia yang meminta maaf pada mereka. Manusia yang bertemu dengan demon pasti berusaha untuk melenyapkan demon tanpa terkecuali. Keito adalah manusia pertama yang meminta maaf pada mereka.
“Tapi”, Keito kini menegakkan kepalanya kembali. “tidak semua manusia jahat seperti yang kalian bayangkan. Ada juga manusia yang baik. Aku tidak bilang kalau aku ada salah satu manusia yang baik, tapi setelah aku mendengar kenyataan tentang kalian, aku sama sekali tidak bisa membenci kalian”
“HUAHAHAHAHA!!!”, Inoo tiba-tiba tertawa lepas. “tidak kusangka aku bisa mendengar ucapan itu untuk yang kedua kalinya. Ya kan Yabu?”. Yabu hanya terdiam dan mendengus cuek.
“Kedua kalinya? Memangnya siapa yang pertama kali mengatakannya?”, Keito kini tampak kebingungan saat melihat Inoo tertawa terbahak-bahak.
“Ra-ha-si-a”, balas Inoo sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Yama yang diam memperhatikan Inoo bisa mengira siapa yang dimaksud oleh Inoo.
“Kau bocah yang menarik juga”, Hika tiba-tiba berdiri di depan Keito. “Aku suka kau”. Hika menepuk-nepuk pundak Keito. Keito sedikit merintih kesakitan saat Hika menepuknya. Hika tidak bisa memperkirakan tenaga yang keluar.
Tiba-tiba suasana ruangan menjadi senyap. Keito bisa merasakan hawa tidak enak yang berasal dari luar rumah. Para demon yang ada di dalam ruangan itu semuanya menunjukkan wajah tegang. Tampaknya ada musuh yang datang mendekat.
“Mereka sudah mulai bergerak”, gumam Yabu.
“Mereka? yang kau maksud para demon?”, tanya Yama.
“Ya. Ini pasti ulah Jesse. Dia membuat pelindung dalam ukuran besar sehingga membuat kita semua terkurung disini”, sahut Inoo.
“Eh? Mereka sudah mengetahui tempat kediaman ini?”, tanya Keito takut.
“Belum. Justru karena itulah Jesse melakukan ini. Dia ingin memancing kita keluar dengan mengerahkan semua auranya”, tambah Yabu lagi.
“Nah, apa yang sebaiknya kalian lakukan, Yuya?”, Inoo berjalan menghampiri Yuya. “Melihat kondisi ini, kau sendiri juga mengerti kan? Kau sudah dianggap pengkhianat sama seperti kami. Apalagi, Jesse tidak sendirian, disana juga ada Taiga. Mereka semua adalah demon level S, itu artinya Yang Mulia juga menyuruh mereka untuk menghabisimu yang juga level S”
“Cih”, Yuya berdecak kesal. “Aku tidak peduli”. Yuya terus berjalan menuju ke lubang dimensi yang dia buat.
“Kau bisa kembali menjadi manusia sekali lagi, Daichan. Aku tahu kalau kau ingin kembali menjadi manusia”
Inoo berseru pada Daiki. Inoo berusaha menggoyahkan Daiki. Dan... rencana itu berhasil. Daiki tampak terdiam tidak bergerak. Seolah-olah ada sesuatu yang menggoyahkan pikirannya.
“Daiki! Apa yang kau lakukan? Ayo cepat!”
Yuya menarik tangan Daiki, tapi Daiki sama sekali tidak bergeming. Semenit kemudian, Daiki menepis tangan Yuya.
“Apa maksudmu?”, geram Yuya marah.
“Aku... aku tidak tahu...”, gumam Daiki pelan.
Inoo menghela nafas panjang saat melihat Yuya yang tampak bersikeras untuk pergi. Dia kemudian mengambil sebuah botol dari tasnya. Botol itu berisi cairan merah. Sama persis seperti botol yang Inoo keluarkan saat hendak memanggil Hikaru dengan mantra.
Inoo berjalan menghampiri Keito yang berdiri mengamati Yuya dan Daiki. inoo menepuk pelan pundak Keito. keito sedikit terperanjat kaget, saat Keito akan berteriak, Inoo menutup mulutnya. Menyuruhnya agar tetap diam. Inoo kemudian menyodorkan botol itu pada Keito.
“Minum ini”
Keito menerima botol yang tampaknya sudah tidak asing lagi baginya. “Eh? Apa ini?”
“Sudah. Cepat minum!”, ucap Inoo setengah memaksa. Matanya berubah menjadi merah saat meminta Keito meminum cairan yang ada di dalam botol itu.
Keito membuka botol itu dengan perlahan. Pelan-pelan, Keito mendekatkan botol itu ke mulutnya. Bau amis yang menusuk langsung tercium olehnya saat botol itu telah terbuka.
Inoo yang tidak sabar akhirnya mendorong botol itu ke mulut Keito. Mau tidak mau semua cairan yang ada di botol itu akhirnya tertelan oleh Keito. Setelah meminumnya, Keito bisa menebak apa cairan yang telah diminumnya.
BRUGH! Yuya tiba-tiba terjatuh. Dengan pandangan kesal dia melihat ke arah Inoo. “INOO.... dasar brengsek!”
Keito langsung menutup mulutnya. Rasa mual langsung menyerangnya saat mengetahui minuman yang dia minum barusan. Bau amis dan rasa yang menjijikkan membuat Keito langsung tahu apa yang diminumnya. Darah. Dan melihat ekspresi Yuya yang saat ini sedang kesakitan, membuat Keito langsung bisa mengetahui kira-kira siapa pemilik darah tersebut.
“Apa yang kau berikan pada Keito, demon brengsek!”, umpat Yama. Inoo langsung bergerak menjauhi Yama dan bersembunyi di belakang Yabu sambil tersenyum.
“Aku hanya membantunya mengikat kontrak saja kok. Karena Takaki tidak mau bekerjasama dengan kita secara sukarela, tidak ada cara lain selain paksaan. Meminum darah demon juga salah satu mengikat kontrak kok. dengan ini dia akan menuruti semua perintahmu”. Inoo melirik ke arah Yuya yang tampaknya sedikit melemah. Dia kemudian tersenyum puas.
“Cara itu memang berhasil untuk demon kelas A hingga E, tapi apa bisa dilakukan pada demon kelas S juga? Kurasa kekuatan spiritual anak itu belum cukup besar untuk mengontrol dan mengendalikan demon kelas S”, tanya Hika.
“Tidak masalah. Keito bisa kok. Kalian lupa? Keito memiliki kekuatan spiritual yang cukup besar, yang bisa menarik perhatian raja demon, jadi dia bisa mengendalikan demon kelas S”, jawab Inoo.
Inoo kemudian berjalan menuju ke arah Keito yang terus memegangi mulutnya. Rasa mual terus menyerang dirinya setelah meminum darah milik Yuya. inoo kemudian membisikkan sesuatu ke Keito.
“Perintahkan dia untuk menuruti perintahmu, dia tidak akan bisa menolaknya”
“Tapi...”
BLAR!
Terdengar suara ledakan yang cukup keras di dekat mereka. Bahkan terasa gempa yang begitu dahsyat di dekat mereka. Rupanya, Jesse sedang menyerang dengan membabi buta. Karena dia tidak tahu dimana Keito berada akibat penghalang yang dipasang oleh Inoo, Jesse akhirnya menyerang secara membabi buta. Beberapa orang yang ada di dalam rumah mereka, langsung berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Beberapa orang mengira hal ini adalah kejadian alam. Sama sekali tidak ada yang mengira kalau ini perbuatan demon.
“Cepatlah! Tidak ada waktu lagi. Perintahkan Yuya untuk mengeluarkan kekuatan rubah itu dari dalam tubuh Daiki”, Inoo menatap lurus mata Keito. “Atau kau ingin timbul banyak korban akibat serangan Jesse yang membabi buta?”
Keito terdiam. Dia kemudian melihat ke arah Yuya, “Takaki Yuya. Sebagai pengikat kontrakmu, aku meminta kau untuk melepaskan kekuatan dewa pelindung yang ada di dalam tubuh demon bernama Arioka Daiki”
Yuya menatap Keito dengan kesal, “Kalau aku tidak mau? Aku tidak suka diperintah manusia”
“Ikuti saja perintahnya Yuya... kau akan merasa kesakitan kalau menolak perintahnya”, ucap Inoo sambil tersenyum mengejek.
Yuya berdecak kesal. Ucapan Inoo benar. Pada saat dia mengatakan kalau dia tidak mau menuruti perintah Keito, saat itu dia merasakan sakit yang amat sangat dari dalam tubuhnya. Dengan berat hati, Yuya menuruti perintah Keito. meskipun dia sangat kesal karena Keito berhasil membuat dirinya patuh.
“Daiki. Kemari!”
Daiki kemudian mendekati Yuya. Yuya menusukkan tangannya ke perut Daiki. Meskipun tangan Yuya telah masuk sepenuhnya, tapi sama sekali tidak ada darah yang mengalir keluar. Daiki juga diam saja, tidak berkutik sedikitpun. Yang membuat Keito heran, meskipun tangan Yuya telah masuk sepenuhnya, sama sekali tidak ada tanda tangan Yuya akan keluar atau menembus tubuh Daiki.
BLAR! BLAR!
Suara ledakan terdengar lagi. Rupanya Jesse terus melancarkan serangannya untuk memancing Keito keluar, agar dia bisa tahu dimana letak persembunyian Keito. Keito menatap Yuya dengan tidak sabar.
Yuya menarik keluar sesuatu dari dalam tubuh Daiki. Sesuatu itu bercahaya putih dan hangat. Chii langsung berbinar saat melihat kekuatannya. Tubuhnya langsung gemetar tidak sabar ingin segera mendapatkan kembali kekuatannya.
Yuya menarik keluar sesuatu dari dalam tubuh Daiki. Sesuatu itu bercahaya putih dan hangat. Chii langsung berbinar saat melihat kekuatannya. Tubuhnya langsung gemetar tidak sabar ingin segera mendapatkan kembali kekuatannya.
“Nih”, Yuya melempar bola cahaya itu ke arah Chii. Chii segera melompat untuk menangkapnya. Dengan segera, Chii menelan kembali kekuatannya.
“Akhirnya... kekuatanku kembali”
---***---
“Apa yang terjadi?”
“Apa yang terjadi?”
Yuto bertanya pada salah satu demon kelas rendah yang kebetulan sedang lewat. Suasana dalam istana memang sedang ribut sejak Jesse menyerang dunia manusia, tapi kini suasananya jauh lebih ribut lagi.
“Yang Mulia Raja mengamuk!”, jawab demon itu sekenanya. Dia langsung berlari menjauh, seakan ketakutan.
“Raja? Kenapa?”, gumam Yuto.
“Itu karena Takaki berkhianat”, Yugo tiba-tiba muncul dari belakang Yuto. “Raja merasakan kutukannya di tubuh bocah itu semakin melemah. Begitu Raja mengeceknya, ternyata Takaki telah mengikat kontrak dengan bocah itu”
“Yuya?”, tanya Yuto memastikan. Dia kemudian mengalihkan pandangannya. “Sudah kuduga”, Yuto menggumam pelan. Diam-diam dia tersenyum lebar.
“Kau kenapa Nakajima?”, tanya Yugo yang heran melihat Yuto menggumam sendirian.
“Eh? Ah, tidak apa kok”, kilah Yuto. “Aku pergi sebentar”
---***---
“Siapa namamu?”
“Siapa namamu?”
“Morimoto. Aku berasal dari hutan ini. Kau siapa?”
“Yamada. Aku tinggal di gunung itu”
“Untuk apa makhluk penjaga gunung turun kemari?”
“Aku bosan. Tidak ada yang bisa kuajak main”
“Pulanglah. Hutan ini bukan hutan yang bisa dimasuki makhluk sepertimu”
“Tidak mau. Aku sudah susah payah turun kemari. ah, aku tahu. Kau jadi temanku saja. kita main sama-sama. Kau mau?”
“Aku tidak mau. Aku tidak suka bergaul dengan makhluk yang berasal dari luar hutan”
---***---
Daiki langsung jatuh pingsan setelah Yuya mengambil kekuatan Chii dari dalam tubuhnya. Yuya menopang tubuh Daiki dengan tangannya.
Daiki langsung jatuh pingsan setelah Yuya mengambil kekuatan Chii dari dalam tubuhnya. Yuya menopang tubuh Daiki dengan tangannya.
“Aneh”, gumam Keito.
“Ada apa Keito?”, tanya Yama.
“Aku tidak mendengar suara ledakan lagi. gempa-gempa dahsyat sudah tidak terasa lagi. apa mereka sudah pergi?”
Semua yang ada di dalam ruangan itu langsung terdiam, mencoba menebak apa yang terjadi di luar sana. Chii yang merasakan sesuatu, langsung berdiri. Bulu-bulunya berdiri tegak. Matanya melotot dan mulutnya menganga.
“Tidak mungkin...”, gumam Chii.
“Apanya?”, tanya Yama.
Tanpa sempat menjawab pertanyaan Yama, Chii langsung melesat keluar. Sosoknya langsung berubah. Dari seekor rubah putih kecil, menjadi sesosok rubah raksasa berekor sembilan. Keito hanya bisa tercengang melihat perubahan wujud Chii.
“Kyuu... bi? Chii adalah kyuubi?”, tanya Keito. Saking terkejutnya, Keito sampai tidak bisa bergerak. Dia juga tidak bisa segera mengejar Chii yang sudah berlari keluar terlebih dahulu.
“Kau bagaimana sih? Dewa pelindung sendiri tidak tahu. Kami saja tahu dengan sekali lihat kalau dia adalah kyuubi”, ejek Inoo.
Yama melotot ke arah Inoo. Inoo langsung bersiul dan mengalihkan pandangannya dari Keito dan Yama.
“Tapi, apa yang sebenarnya terjadi sampai Chii harus berlari seperti itu?”, tanya Yama.
“Jesse dan Taiga sedang bertarung”, Yuya tiba-tiba menyahut. Dia masih duduk bersandar. Daiki yang pingsan kini sedang tidur di pangkuannya.
“Dengan siapa?”, tanya Keito.
“Dengan siapa?”, tanya Keito.
Yuya mengalihkan matanya. Dia sama sekali tidak mau melihat ke arah Keito. “Aku tidak tahu. Ada manusia yang menyerang mereka. manusia itu memiliki kemampuan spiritual yang cukup tinggi”
“Manusia?”, gumam Yama. Seketika matanya membesar, dia bisa menebak siapa yang sedang bertarung dan alasan Chii berlari keluar. “Keito. kita juga harus menyusul Chii!”
Keito mengangguk setuju walaupun dia tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Yama dan Chii. Dia dan Yama bergegas keluar menyusul Chii, tapi Inoo tiba-tiba menghalangi mereka di pintu dan tidak bisa keluar.
“Apa maumu?”, tanya Yama kesal.
“Tunggu sebentar anjing kecil. Keito adalah orang yang paling dicari saat ini. Para demon bawahan Yang Mulia Raja pasti disuruh menangkap Keito agar tidak mengikat kontrak dengan demon lagi. apalagi kini dia telah mengikat kontrak dengan Takaki yang merupakan salah satu demon kelas S”
“Benar sekali”
Seluruh isi ruangan langsung terkejut saat melihat Yuto tiba-tiba muncul di antara mereka. Yabu dan Hikaru langsung memasang sikap waspada. Beda dengan Inoo yang tersenyum melihat Yuto.
“Bagaimana kau bisa tahu kami ada disini?”, tanya Hikaru.
“Aku mengikuti jejak Yuya sebelumnya. Lalu aku menemukan jalan yang digunakan Yuya sebelumnya”
“Tapi, di sekitar sini kan ada pelindung? Kau tidak bisa masuk kesini dengan mudah”, sahut Yabu.
“Kalian ini bodoh atau apa? Sudah jelas kan kalau si Hime itu yang membuka jalannya. Sama seperti waktu aku datang tadi”, sahut Yuya.
“Kau kelihatan buruk sekali Yuya. kau yang sangat membenci manusia, malah terpaksa harus mengikat kontrak dengan manusia. Ironis sekali”, ejek Yuto saat melihat tanda demon milik Yuya berada di dahi Keito. yuya hanya berdecak kesal.
“Ah... Eh... Nakajima Yuto?”, tanya Keito. Ekspresinya terlihat sangat kebingungan. “Ke-ke-kenapa kau ada di rumahku? Kau mengenal mereka? Kau... demon?”
Yuto tersenyum. “Salam kenal Okamoto, namaku adalah Nakajima Yuto. Demon kelas S”
Keito menganga. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yuto adalah demon. Yah... meskipun kenyataan kalau beberapa siswa di sekolahnya adalah demon bukanlah hal yang baru, tetap saja Keito tidak menyangka kalau mereka ternyata sedekat ini dengannya.
“Lalu? Ada perlu apa demon kelas S datang kemari? Well, kalau Yuya aku mengerti, tapi kenapa Yuto juga datang kemari? Memangnya ada perlu apa?”, tanya Yabu pada Inoo.
“Hmm... aku dan Yuto memiliki kesepakatan. Ya kan Yuto?”, Inoo mengedipkan sebelah matanya pada Yuto, sedangkan Yuto hanya tersenyum simpul.
“Kau pikir, bagaimana bisa Hikaru lolos dari penjara itu hah? Lalu bagaimana bisa aku mendapatkan tulang yang banyak untuk persediaan makanan Hika? Lalu bagaimana bisa Yuya datang kemari tanpa diketahui oleh Yang Mulia? Itu semua ada campur tangan dari Yuto”, jelas Inoo.
Yuya mendelik marah ke arah Yuto, “Brengsek! Ternyata selama ini kau bersengkokol dengannya. Sejak kapan kalian bekerjasama?”
“Sejak kapan?”, Yuto terdiam sejenak lalu melihat ke arah Daiki yang masih pingsan. “Bagaimana kalau aku mengatakan sejak awal aku dan Inoo sudah bersengkokol?”
Yabu, Hikaru, dan Yuya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Mereka sama sekali tidak menyangka Yuto yang merupakan demon kelas S, mau bersengkokol dengan Inoo. Yuya kemudian tersadar akan sesuatu.
“Jangan-jangan... kaulah yang menyebabkan Daiki membabi buta 10 tahun yang lalu?”, tanya Yuya.
Yuto hanya membalas dengan senyuman. Dia lalu berbalik arah menghadap ke arah Inoo. Sama sekali tidak tampak kalau Yuto berniat menjawab pertanyaan Yuya.
“Bagaimana keadaan disana?”, tanya Inoo.
Yuto menggeleng. “Sangat buruk. Yang Mulia marah besar. Pengkhianatan Yuya telah diketahui oleh Raja. Kini Yang Mulia tampaknya ingin segera membawa Keito pergi dan memenjarakannya”
“Hmm...”, Inoo melihat ke arah Keito yang tampak masih bingung karena tidak mengerti apa yang terjadi. “Kalau begitu, mau tidak mau kita harus melindungi anak ini? aduh... merepotkan. Mana ada Jesse dan Taiga lagi”, keluh Inoo.
“Apa tujuanmu?”, Yabu membuka suara. “Kalau kami, kami melakukan ini karena kami ingin kembali menjadi manusia, tapi kau? Apa untungnya bagimu? Bukankah demon kelas S tidak akan pernah bisa menjadi manusia? Kenapa kau mau bekerjasama dengan Inoo?”
Yuto tersenyum ke arah Yabu. Dia menggerakkan tangannya. Seketika ada sebuah pintu yang muncul di udara. Yuto membuka pintu itu. Tampaklah sebuah pemandangan lain di balik pintu tersebut.
“Tanyakan saja pada Inoo. Dia tahu segalanya”
Setelah mengatakan hal itu, Yuto langsung menghilang. Meninggalkan tanda tanya besar bagi semua yang ada disana kecuali Inoo dan Daiki yang masih pingsan dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
---***---
“Bau ini... sensasi ini... tidak salah lagi, ini Kenichi-sama. Kenichi-sama telah kembali”
“Bau ini... sensasi ini... tidak salah lagi, ini Kenichi-sama. Kenichi-sama telah kembali”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar