PART 38
Yabu, Inoo, dan Keito yang sedang menuju ke arah tempat segel dihadang oleh seorang pria yang berpakaian rapi. Mereka bertiga bisa merasakan bahwa pria yang ada dihadapan mereka saat ini bukanlah pria sembarangan. Yabu, Inoo, dan Keito tetap memasang ekspresi dan sikap siaga dalam menghadapi seseorang yang kemungkinan adalah musuh ini.
“Siapa kau?”, tanya Yabu pada pria itu.
Pemuda itu merapikan kerah kemejanya, dan melihat Yabu dengan pandangan sinis, “Yare, yare, apakah pemuda jaman ini semuanya tidak diajarkan sopan santun? Begitukah sikap kalian pada orang yang lebih tua?”.
“Maafkan kekasaran kami, kau benar, kami sudah berlaku tidak sopan padamu”, ucap Inoo yang memberanikan diri untuk maju. “Maafkan atas kelancangan kami, tapi, kalau kami boleh tahu, siapa anda sebenarnya, tuan?”, ucap Inoo sopan. Bahkan dia juga menundukkan kepalanya pada pria tidak dikenal itu.
“Yahahahaha!!!! Tampaknya masih ada seseorang yang masih bisa bersikap sopan”, pria itu tertawa terbahak-bahak. “Aku suka kau, gadis muda, siapa namamu?”.
“Bukankah lebih sopan kalau anda memperkenalkan diri anda terlebih dahulu sebelum bertanya pada orang lain, tuan?”, Inoo tetap bersikap sopan pada pria itu. Yabu memandang Inoo dengan pandangan tidak suka. Dia tidak suka Inoo bersikap sopan pada musuh yang baru datang itu.
“Hah...kau betul juga gadis manis. Baiklah, karena ini permintaanmu, akan kuberitahu. Namaku Hamada Takahiro, 26 tahun, pemimpin dari prajurit kegelapan”, ucap pria itu. Yabu dan Keito yang mendengar hal itu membelalakkan matanya. Tidak disangka, salah satu prajurit kegelapan akan menghadang mereka.
“Nah, karena aku sudah memberitahu namaku. Sekarang giliranmu gadis manis, siapa namamu?”, tanya Hamada pada Inoo. Saat Inoo akan menjawab, Yabu mencegahnya. Dia menarik Inoo hingga ke belakangnya.
“Kau tidak perlu memberitahu namamu padanya”, kata Yabu sambil melotot ke arah Hamada.
“Tampaknya sang putri telah dijaga oleh sang pangeran. Berarti aku harus merebut sang putri dari pangeran yang menjaganya”, kata Hamada sambil balas melotot pada Yabu.
“Keito, bawa Inoo, dan segera pergi dari sini”, perintah Yabu pada Keito.
“Eh? Lalu kau?”, tanya Keito.
“Aku akan melawannya. Sementara aku menghadangnya, kalian berdua segera menuju ke tempat segel dan berkumpul bersama Hikaru dkk”, kata Yabu.
“Tidak! Aku tidak mau meninggalkanmu sendirian, aku akan disini bersamamu!”, rengek Inoo.
“Inoo! Turuti perintahku! Kalian berdua, segera pergi dari sini! Ini perintah dari pemimpin kalian!”, bentak Yabu. Inoo langsung terdiam saat Yabu membentaknya.
“Baiklah, kami akan segera pergi dari sini. Inoo, ayo kita pergi”, Keito menarik tangan Inoo agar segera beranjak dari sana. Tapi Inoo sama sekali tidak mau bergerak. “Inoo, ada apa?”, tanya Keito.
“Kota.....”, gumam Inoo pelan sambil memandang Yabu.
Yabu mendekat ke arah Inoo, membelai rambutnya pelan dan berkata, “Aku akan segera mengalahkannya dan kembali berkumpul bersama kalian. Kau tidak usah khawatirkan aku. Aku pernah menghadapi salah satu diantara mereka dan menang kan? Percayalah padaku”.
Inoo mengibaskan tangan Yabu dan menundukkan wajahnya. “Kei......”, Yabu mengangkat dagu Inoo agar Inoo memandang wajahnya lagi. “Bagiku, dari dulu sampai sekarang, kau adalah yang nomor satu. Keselamatanmu adalah yang terpenting bagiku. Aku juga mengkhawatirkan Hikaru dkk. Serahkan urusan disini padaku, dan segeralah pergi menuju ke tempat mereka”.
Inoo masih terdiam, “baiklah, kalau kau tidak segera menyusulku, aku tidak akan memaafkanmu”, ucap Inoo kemudian. Yabu tersenyum mendengar perkataan Inoo dan mengusap rambutnya.
“Siap tuan putri”, Yabu mengecup kening Inoo.
Keito hanya terdiam termangu saja melihat mereka berdua. ‘Yah, ini masih mending daripada Daiki dan Yuya tadi’, gumam Keito pelan.
Inoo segera menghampiri Keito dan mereka berdua melanjutkan perjalanan. Tinggal Yabu sendiri yang menghadapi musuh.
“Wah, sayang sekali. Kukira tadi aku bisa berduaan dengan gadis cantik itu. Kenapa aku harus berduaan denganmu?”, keluh Hamada.
“Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya. Dia adalah tuan putriku yang sangat berharga”, Yabu membentuk sebuah pedang dari air sungai yang mengalir di dekat situ.
“Tidak apalah. Aku akan bermain denganmu sebentar. Setelah aku mengalahkanmu, aku akan segera menyusul mereka berdua. Akan kujadikan gadis manis tadi menjadi milikku”, ucap Hamada.
“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi”, Yabu mengarahkan bola air yang dibentuknya ke arah Hamada. Hamada berhasil mengelak dari serangan bola itu. Pohon yang terkena bola air itu lalu tumbang dan meninggalkan jejak seperti sebuah lubang yang besar.
“Wew, lumayan juga”, ucap Hamada yang melihat bekas serangan Yabu.
“Jangan remehkan aku. Aku, Yabu Kota, pemimpin dari para ksatria. Aku akan membereskanmu disini”, ucap Yabu lantang. Setelah berkata seperti itu, Yabu melesat maju ke arah Hamada dan menyerangnya dengan pedang air. Hamada selalu berhasil mengelak dari tebasan pedang Yabu. Hamada berusaha balas menyerang Yabu dengan berusaha meninjunya menggunakan tangan kirinya, akan tetapi Yabu berhasil menahannya dengan perisai air yang dibentuk olehnya.
Mereka berdua terus berusaha saling menyerang. Yabu membentuk sebuah bola air lagi ditangannya, tapi dia merubah suhu air itu menjadi sangat panas. Dia melempar bola air panas itu ke arah Hamada. Hamada berusaha menghindari serangan itu dengan melompat ke arah kiri. Akan tetapi, gerakan kakinya dihentikan oleh tali air yang dikendalikan oleh Yabu. Hamada terkena telak serangan bola air milikYabu.
“Berhasil!”, seru Yabu saat bola air itu berhasil mengenai Hamada.
“Lumayan juga, aku tidak tahu kalau kau bisa mengubah suhu air menjadi seperti itu”, dari balik uap air yang mengepul, Hamada mencoba untuk bangkit kembali.
Yabu memandang Hamada dengan pandangan tidak percaya. “Mustahil, bagaimana kau bisa selamat dari seranganku?”, Yabu melihat Hamada yang kembali berdiri tanpa adanya luka sedikitpun. Bahkan kulitnya sama sekali tidak melepuh akibat serangan tadi.
“Hmm?? Ah, tubuhku ini istimewa. Serangan apapun yang kau berikan padaku, tidak akan mempan melukai tubuh ini. Coba saja serang aku lagi dengan bola airmu itu”, ucap Hamada dengan pandangan mengejek.
“Baiklah, kalau itu maumu”, ucap Yabu yang kesal dengan omongan Hamada. Dia membuat bola air itu sekali lagi, kali ini dia membuat suhu bola air itu jauh lebih panas dari bola air yang sebelumnya. Yabu melempar bola air itu ke arah Hamada. Kali ini, Hamada sama sekali tidak berusaha mengelak atau menghindar. Bola air itu mengarah langsung ke arah Hamada.
BLAR! Terdengar suara seperti suara ledakan saat bola air itu mengenai Hamada. Yabu yang melihat itu yakin kalau bola air miliknya berhasil mengenai Hamada dan memberikan luka di tubuhnya. Akan tetapi, betapa terkejutnya dia saat melihat Hamada berdiri di sana tanpa luka sedikitpun. Bajunya memang hangus terbakar akibat terkena bola air panas tadi, akan tetapi, seperti yang dikatakan Hamada, tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan luka sedikitpun.
“Apa yang terjadi?”, tanya Yabu yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang barusan terjadi. Dia yakin kalau serangannya itu mengenai Hamada. Suara ledakan itu buktinya. Tapi, kenapa tubuhnya sama sekali tidak apa-apa?
“Ah, bajuku yang bagus jadi hangus deh. Tidak kusangka kau akan membuat bola air dengan suhu yang lebih panas dari yang pertama”, ucap Hamada sambil melihat bajunya yang hangus terbakar. “Sudah kubilang kan, kalau kau tidak akan bisa melukaiku”.
Yabu kembali menyerang Hamada, kali ini dia menyerangnya langsung dengan pedang air yang dibuat olehnya. Yabu mengarahkan pedangnya langsung ke arah leher Hamada, PRANG! Tiba-tiba pedang air Yabu patah, dan patahan pedangnya kembali menjadi air. Yabu hanya tercengang melihat hal itu.
“Jangan-jangan tubuhmu....”, ucap Yabu yang mulai mengerti kemampuan musuhnya.
“Aku bisa mengubah tubuhku menjadi sangat keras. Tubuhku yang keras ini juga bisa menahan serangan apapun yang kalian arahkan padaku”, Hamada menarik tangan Yabu dan mengarahkannya ke arah kepalanya. “Hora... kau bisa lihat kan kalau ini keras?”. Hamada mengarahkan tangan Yabu dan mengetukkan tangannya ke kepalanya. Yabu bisa merasakan kalau tubuh Hamada menjadi sangat keras. “Kalau begitu, sekarang giliranku untuk menyerangmu”, Hamada mengayunkan tangannya dan mengarahkannya ke tubuh Yabu.
BLARR!!!! Terdengar suara ledakan dari tempat bertarung Yabu dan Hamada. Inoo dan Keito yang telah berjalan lebih dulu menuju tempat segel, berhenti sejenak karena mendengar suara ledakan. Mereka melihat ada asap yang membumbung tinggi dari tempat mereka berpisah dengan Yabu tadi.
“Kota.....”, gumam Inoo pelan. Raut mukanya menjadi cemas. Matanya terus terpaku pada asap itu.
Keito yang menyadari perasaan Inoo, memegang tangannya, “tenang saja. Yabu pasti bisa mengalahkannya. Dia adalah pemimpin kita, dia juga salah satu ksatria yang tangguh. Dia sudah pernah mengalahkan salah satu prajurit kegelapan kan?”. Keito berusaha menenangkan Inoo. Rasa cemas di muka Inoo berkurang setelah mendengar perkataan Keito.
“Kau benar. Dia tidak pernah sekalipun melanggar janjinya padaku. Dia pasti akan segera menyusul kita”, ucap Inoo yakin. Akhirnya mereka berdua terus melanjutkan langkah kaki mereka menuju ke tempat segel dimana Hikaru dkk berada.
Di kediaman Jack, Daiki dan Yuya....
“Kau sudah baikan?”, tanya Yuya yang melihat Daiki berusaha bangun.
“Hmm...iya. Tubuhku sudah jauh lebih baik sekarang. Berkat obat yang diberikan Inoo dan Keito, tubuhku menjadi jauh lebih baik. Aku juga tidak bisa lama-lama istirahat disini. Teman-teman kita yang lain mungkin membutuhkan bantuan kita. Kita juga harus segera menyusul mereka”, ucap Daiki. Dia meregangkan tubuhnya dan menggerakkan tubuhnya perlahan-lahan. Dia perlu melakukan pemanasan sebentar. Maklumlah, sudah lama dia tidak bergerak. Tiba-tiba Daiki merasakan ada yang aneh dari tubuhnya. Dia mengamati seluruh tubuhnya.
“Ada apa?”, tanya Yuya yang heran melihat Daiki hanya diam saja melihat tubuhnya.
Daiki tersadar dari lamunannya, “Ah tidak, bukan apa-apa”, jawab Daiki sambil tersenyum.
“Benarkah? Kalau kau masih tidak enak badan, sebaiknya kau bilang padaku”, Yuya melihat Daiki dengan muka cemas.
“Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Saa...ayo kita pergi sekarang”, Daiki menarik tangan Yuya dan segera keluar dari ruangan itu. Mereka segera menuju ke arah yang sama dengan arah saat Yuya datang.
“Daiki......Daiki.......”. Daiki mendengar suara itu lagi. Suara yang sama dengan yang membangunkannya. Suara itu berasal dari arah belakangnya. Daiki menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang.
“Kenapa Daichan?”, tanya Yuya yang melihat Daiki menghentikan langkahnya. Daiki tidak menjawab Yuya dan malah langsung pergi ke arah suara itu berasal. “Kau mau kemana?”, tanya Yuya yang menghentikan langkah Daiki.
“Aku mau pergi kesana”, jawab Daiki singkat tanpa mempedulikan Yuya.
“Kemana? Arah pintu keluar bukan kesana Daichan, kau kenapa sih?”, tanya Yuya heran.
Daiki sama sekali tidak menghiraukan Yuya, dia terus berjalan ke arah sebaliknya. Yuya yang tidak mengerti tingkah aneh Daiki, akhirnya memutuskan untuk mengikutinya. Mereka berdua akhirnya sampai ke jalan buntu.
“Tuh, jalan buntu kan? Ayo kita segera kembali .....”, ucap Yuya.
Daiki meraba dinding yang ada di depannya. CKLEK. Terdengar suara seperti sesuatu yang terbuka. Dinding yang ada di hadapan Daiki mulai terbuka lebar. Di balik dinding itu tampak ada sebuah jalan berupa lorong yang sangat panjang. Daiki dan Yuya tercengang saat melihatnya.
“Bagaimana kau bisa tahu kalau ada jalan dibalik dinding itu?”, Yuya menatap Daiki keheranan.
“Aku sendiri juga tidak tahu. Ada suara yang memanggilku dari arah sini. Aku Cuma mengikutinya saja. aku sendiri juga tidak menyangka ada jalan disini”, jawab Daiki.
“Suara? Siapa?”, tanya Yuya. Dia sama sekali tidak mendengar suara apapun selain suara Daiki.
“Aku juga tidak tahu”, Daiki melangkah masuk ke dalam lorong yang gelap itu. Tampaknya dia ingin melewati lorong itu.
Yuya menarik tangan Daiki, “Kau mau kemana?”.
“Bukankah sudah jelas? Aku akan melewati lorong ini”.
“Kita tidak tahu jalan ini akan mengarah kemana. Lebih baik kita kembali ke jalan semula dan menuju ke tempat segel. Kita sendiri tidak tahu apa saja yang ada di dalam lorong ini. Bagaimana kalau seandainya musuh sudah menanti di dalam lorong yang gelap ini?”.
“Tidak apa-apa. Aku yakin lorong ini mengarah ke suatu tempat. Kalaupun ada musuh yang menyerang kita, kan ada kau. Serangan apapun tidak akan mempan melawanmu kan?”, Daiki mengedipkan sebelah matanya ke arah Yuya. Yuya hanya bisa menyerah pada kemauan cewek yang ada di hadapannya ini.
“Baiklah...”, Yuya mengambil sebatang kayu yang ada di dekat situ. Dia membakar kayu itu dengan api yang menyala di dinding. Kini, sebuah obor tengah menyala di tangan Yuya. “Ayo, kita masuk. Tapi, kau jangan jauh-jauh dariku”. Daiki tersenyum senang dan merangkul tangan Yuya dengan erat. Keduanya kini masuk ke dalam lorong tersebut.
Di tempat Hikaru dan Yuto
“YUTO!!!”, pekik Hikaru saat melihat Yuto yang saat ini berada di genggaman musuh. Yuto sama sekali tidak bisa bergerak. Hikaru berusaha berdiri untuk menolong Yuto, tapi tampaknya tenaga di tubuhnya sudah tidak ada lagi. Untuk menggerakkan kakinya saja dia tidak bisa.
“Hi.....ka.......”, lirih Yuto pelan sambil melirik ke arah Hikaru. Pancaran mata Yuto menunjukkan kalau saat ini dia benar-benar tidak berdaya dan memutuskan ingin menyerah saja.
“Sudah kubilang dari awal kan... Kalian tidak akan bisa menang melawanku. Aku sudah menyarankan pada kalian untuk meninggalkan tempat ini, tapi kalian sama sekali tidak mau mendengarkanku. Aku akan membunuh kalian semua disini. Bayangan kalian sendirilah yang akan menghabisi kalian”, ucap pemuda itu. Setelah berkata seperti itu, bayangan Hikaru dan Yuto tampak seperti bergerak sendiri. Perlahan-lahan bayangan mereka seperti menelan tubuh mereka masuk ke dalam. “Kalian akan terperangkap dalam bayangan kalian sendiri”.
Hikaru dan Yuto sudah benar-benar tidak bisa bergerak lagi. Tubuh yang penuh luka akibat pertarungan, beberapa tulang yang patah, serta stamina yang telah habis, membuat mereka sama sekali tidak bisa bergerak satupun untuk menghindar. Mereka berdua benar-benar hanya bisa pasrah membiarkan tubuh mereka ditelan oleh bayangan mereka sendiri.
“HIKARU! YUTO!”, seru seseorang dari arah berlawanan. Sosok itu langsung menyerang kearah musuh yang berhadapan dengan Yuto dan Hikaru. Hikaru yang masih memiliki sedikit kesadaran, dengan pandangan yang samar-samar berusaha untuk melihat siapa yang datang. “Ke...i...to”, lirih Hika
Tsuzuku~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar