Sabtu, 08 Agustus 2015

TEN KNIGHTS

PART 35

“Adudududuuhhhh....... Ittai!”, terdengar suara Chinen yang menggema.

“Apa yang sedang terjadi?”, tanyaku yang tersadar akibat suara Chinen. Aku melihat ke sekelilingku. Hikaru dan Yuto tergeletak tidak jauh dariku. Sedangkan Chinen sedang bersandar di tanah sambil memegangi lututnya yang terluka. Aku melihat ke arah atas, aku bisa melihat ada cahaya dari lubang kecil. Benar juga, kami semua terjatuh ke dalam tanah. “Dimana ini?”, tanyaku lagi.

“Huwaa.... rasanya ajaib kita masih bisa selamat setelah jatuh sejauh itu”, ucap Yuto.

“Kalian semua baik-baik saja?”, tanya Hikaru. Aku mengangguk. Yuto juga. Chinen masih meringis kesakitan karena lututnya yang luka. Aku menghampiri Chinen dan melihat luka di lututnya. Aku menggunakan kemampuanku untuk mengobati lukanya.

“Terima kasih Ryochan!”, Chinen memelukku dengan erat.

“Kalian bagaimana? Apakah tubuh kalian juga merasa sakit?”, tanyaku pada Hikaru dan Yuto.

“Tenang saja. Badanku ini kuat kok. Lebih baik kau khawatirkan Hika saja”, ucap Yuto sambil menggerakkan tubuhnya seakan ingin menunjukkan kalau tubuhnya tidak apa-apa.

“Dasar tubuh monster. Manusia biasa pasti kesakitan setelah jatuh dari tempat sejauh itu. Badanku saja rasanya remuk semua ini”,ucap Hikaru sambil memgang seluruh tubuhnya. Kuhampiri Hikaru dan kugunakan kemampuanku untuk memulihkan tubuhnya dan tenaganya seperti semula. “Terima kasih Yamada”, Hikaru tersenyum padaku.

“Tidak masalah. Aku pasti akan memulihkan tubuh kalian jika kalian memerlukannya”.

“Ngomong-ngomong Yamachan, badanmu tidak apa-apa?”, tanya Yuto.

“Hmm... tidak tuh. Awalnya aku memang merasa sedikit sakit, tapi sekarang rasa sakit itu sudah hilang. Badanku terasa bertenaga sekarang”, jawabku enteng.

“Praktis banget punya kemampuan itu. Kau bisa langsung memulihkan dirimu sendiri setelah kau terluka”, kata Hika lagi.

“Waa!! Ryochanku memang hebat!”, Chinen memelukku lagi dari belakang dengan sangat erat sehingga aku kesulitan untuk bernafas.

“Yu....Yu....Yuri....”, ucapku sambil bersusah payah untuk berkata-kata.

“Hentikan Chii. Yamachan bisa mati kalau kau memeluknya seperti itu”, ucap Yuto sambil menarik Chinen agar melepas pelukannya dariku. Setelah pelukan Chinen lepas, aku bisa bernafas lega. Chinen memasang muka cemberut pada Yuto.

“Hei kalian, coba lihat ini!”, seru Hikaru. Kami semua menoleh ke arahnya dan menghampiri Hikaru. Aku bisa melihat ada jalan yang cukup besar disana. Aku baru menyadari kalau kami jatuh ke tempat yang seperti lorong bawah tanah. Lorong ini sangat luas, aku tidak bisa membayangkan bagaimana membuat lorong sebesar ini dan letaknya sangat jauh di dalam tanah, mengingat bahwa sepertinya kami telah jatuh jauh di dalam tanah.

“Tempat apa ini? Siapa yang membuat lorong ini?”,tanyaku.

“Entahlah. Aku tidak tahu. Seingatku tidak ada lorong bawah tanah di sekitar sini”, kata Hikaru.

“Dilihat dari bekas galiannya, tampaknya lorong ini baru saja dibuat. Coba lihat, permukaan tanah di lorong ini masih terlalu kasar. Dan bekas galiannya juga masih ada”, kata Yuto.

“Apa mungkin lorong ini dibuat oleh seseorang, atau mungkin sesuatu?”, ucap Chinen.

“Apa maksudmu Chii?”, tanya Hika tidak mengerti.

“Sebelum kita jatuh kita mendengar suara dari dalam tanah kan? Kalau aku tidak salah, suara itu terdengar seperti suara mesin motor yang menyala. Setelah suara itu makin dekat, tanah yang kita pijaki menjadi runtuh dan berlubang sehingga kita semua terjatuh ke dalam sini. Setelah kita berada di bawah sini, kita tidak mendengar suara itu lagi kan?”, terang Chinen.

“Kalau kau bilang begitu, benar juga”, gumam Hikaru sambil mengamati lorong yang ada di depannya. “Berarti ada yang membuat lorong ini. Tapi untuk apa?”.

“Entahlah. Mungkin saja para maou itu yang membuatnya”, ucap Chinen lagi.

Aku melihat lorong ini. Aku sama sekali tidak bisa melihat jalan yang ada di depan, begitu pula lorong yang ada di belakangku, aku juga sama sekali tidak bisa melihat sejauh mana lorong ini berasal.

“Yang penting, lorong ini mencurigakan. Lokasinya sangat dekat dengan tempat segel. Terlebih lagi, kalau benar para maou itu yang membuatnya, kita tidak bisa diam saja. Bagaimana kalau kita selidiki lorong ini?”, saran Yuto.

“Jangan. Misi kita adalah segera pergi ke tempat segel. Kita tidak tahu kemana lorong ini akan berakhir. Terlebih lagi, kita tidak punya banyak waktu lagi. Bila benar Daichan ada di tempat segel, maka kita harus segera membebaskannya”, ucap Hikaru.

“Tapi Hika, kalau benar ini buatan para maou, kita juga tidak bisa membiarkannya begitu saja. Mereka pasti merencanakan sesuatu”,kata Yuto lagi.

“Kalau begitu, kita bagi 2 saja”, kataku. Yuto dan Hikaru melihat ke arahku. “2 orang tetap menuju tempat segel, 2 orang lagi menyelidiki lorong ini. Aku tahu kalau kita sedang terburu-buru dan harus segera menuju tempat segel, tapi benar kata Yuto, aku juga merasa ada yang tidak beres dengan lorong ini. Jadi kurasa dengan membagi tim ini menjadi 2 tim adalah keputusan yang bagus”, saranku.

“Kalau begitu, biar aku dan Ryochan saja yang menyelidiki tempat ini. Kalian berdua segera menuju tempat segel saja”, ucap Chinen.

“Jangan gila Chii. Aku saja yang menyelidiki lorong ini. Kalian bertiga langsung menuju tempat segel. Dari awal aku yang menyarankan untuk menyelidiki lorong ini. Aku tidak bisa membiarkan orang lain yang melakukannya”, kata Yuto.

“Tidak boleh Yuto. Kau saja yang pergi bersama Hikaru. Tempat segel adalah tempat yang berbahaya. Kemungkinan para petinggi maou berada disana. Hika sendirian tidak akan mampu menghadapi mereka. Diantara kami semua, kaulah yang paling kuat. Jadi, kau yang paling mampu menghadapi mereka. Aku tidak mungkin membiarkan Ryochan pergi sendiri, jadi aku akan menemani Ryochan. Kau tidak keberatan kan Ryochan?”.

“Tidak. Kau pergi saja Yuto. Setelah selesai menyelidiki tempat ini, aku akan segera menyusul kalian”, kataku.

“Tapi, memangnya kalian tahu dimana tempat segel itu berada?”, tanya Hikaru.

“Tidak”, aku dan Chinen menjawab kompak.

“Yappari... kalau begitu, kalian bawa ini”, Hikaru menyerahkan selembar gulungan kertas pada kami. Aku membuka lembaran kertas itu. Ternyata lembaran kertas itu adalah peta.

“Ini peta menuju tempat segel. Aku membawanya untuk berjaga-jaga kalau aku lupa di tengah jalan karena sudah lama aku tidak kesana. Tapi sekarang kurasa aku sudah mengingatnya dengan baik jadi aku tidak butuh peta itu. Kalian bawa saja, gunakan peta itu untuk menyusul kami”, kata Hikaru.

“Terima kasih Hikaru”, kataku.

“Lebih baik kalian segera menyusul kami. Jika hanya kami berdua, belum tentu kami bisa mengatasi semua makhluk kegelapan itu sendirian”, ucap Yuto.

“Ya. Kami pasti kembali untuk membantu kalian”, kataku mantap.

“Kalau begitu, kita segera pergi dari sini. Kalian, jaga diri baik-baik ya. Chii, jangan membuat Yamachan kesusahan ya”, ucap Yuto sambil mengacak-acak rambut Chinen.

“Tapi, bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini?”, tanya Hikaru sambil memandang lubang diatas yang tampaknya sangat jauh.

Yuto tersenyum simpul dan mulai memeluk tubuh Hikaru, “Gampang saja. jangan lepaskan pegangan dariku ya”, Yuto melompat dengan sekuat tenaga. Dengan sekali lompatan, dia berhasil keluar dari dalam lubang dan telah tiba diatas. “Yamachan, Chii, hati-hati ya!”, Yuto melambaikan tangannya dari atas.

“Kau juga hati-hati ya!”, kataku sambil membalas lambaian tangan Yuto. “Nah Yuri, ayo kita selidiki lorong ini”, aku melihat kearah lorong yang ada didepanku. Aku tidak bisa melihat apapun karena gelap.

CKLIK! Ada secercah cahaya kecil dari belakangku. Aku melihat ke sumber cahaya dan aku bisa melihat jam tangan Chinen menyala. “Bagus kan? Inoo yang membuat benda ini sebagai hadiah ulang tahunku. Kupikir benda ini kekanak-kanakan, ternyata jam ini berguna juga disaat seperti ini. Memang tidak terlalu terang sih, tapi cukup untuk menerangi kita kan?”.

Aku mengangguk. Kami mulai berjalan menyelidiki lorong itu, sepanjang perjalanan, Chinen memgang tanganku dengan erat. Kami berjalan sudah cukup lama. Sebenarnya, lorong apa ini?

Di depan kediaman Jack, Yabu dan Inoo...

“Hah....hah...hah.... ini sudah semua kan?”, Yabu kesusahan mengatur nafasnya. Badannya benar-benar capek. Benar apa yang dikatakan Keito, dia memang mampu membasmi semua musuh, tapi badannya sekarang benar-benar kelelahan.

“Kau tidak apa-apa?”, tanya Inoo yang khawatir dengan kondisi Yabu. “Kau sih, ngotot ingin membasmi mereka semua. Aku kan juga bisa menghadapi mereka. Tapi, kau malah membasmi musuh yang ada di hadapanku juga”, omel Inoo. Inoo mengeluarkan sebuah botol dari sakunya. Di dalam botol itu terdapat sesuatu yang tampaknya seperti bola-bola kecil. Inoo mengeluarkan salah satu isi botol itu dan memberikannya pada Yabu. “Minum ini”.

“Apa itu?”

“Jin memberikannya padaku sebelum kita pergi. Dia bilang ini pil ajaib yang dapat memulihkan tenaga. Cepat minum”, Inoo menyodorkan pil itu langsung ke mulut Yabu. Yabu membuka mulutnya dan segera menelan pil itu. Tidak lama kemudian, Yabu merasa ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Seluruh rasa sakit di tubuhnya telah hilang dan tenaganya telah kembali.

“Tenagaku kembali”, Yabu menatap tubuhnya tidak percaya.

“Syukurlah kalau pil itu bekerja. Yamada tidak bersama dengan kita, jadi Jin memberikan ini untuk berjaga-jaga kalau misalnya kita terluka”, Inoo membantu Yabu berdiri. “Sudah waktunya kita menyusul Keito dan Yuya. Aku penasaran dengan apa yang terjadi di dalam. Kau sudah siap?”.

“Ya. Tubuhku baik-baik saja sekarang. Ayo kita pergi menyusul mereka”. Yabu dan Inoo segera pergi menuju ke dalam bangunan.

Di dalam kediaman Jack, Yuya dan Keito....

“Daichan?!”, seru Yuya dan Keito. Mereka bisa melihat Daiki terikat dengan erat di tengah ukiran bintang itu.

Yuya segera berlari menghampiri Daiki yang tampaknya tidak sadarkan diri itu. Keito pun ikut menyusul Yuya. Gerakan mereka berdua terhenti setelah melihat Daiki dalam jarak dekat. Keito menutup mulutnya yang menganga, sedangkan Yuya mengepalkan tangannya berusaha menahan amarahnya. Kondisi Daiki sangat mengenaskan. Kedua tangan dan kakinya diikat. Terdapat banyak sekali luka irisan di seluruh tubuhnya. Irisan paling lebar terdapat di kedua pergelangan tangannya. Tubuhnya sangat kurus, bahkan tulangnya sampai terlihat dari permukaan kulitnya itu. Mukanya sangat pucat. Di lantai terdapat bekas tetesan darah Daiki yang tercecer.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada Daichan? Daichan.... kenapa bisa jadi seperti ini?”, ucap Keito pelan sambil mengamati tubuh Daiki yang penuh dengan luka dari atas hingga bawah.

“Keito! Kenapa, kau diam saja! Cepat bantu aku menurunkan Daichan dari sini”, seru Yuya sambil mulai berusaha membuka ikatan di tangan dan kaki Daiki. “Daichan? Kau bisa mendengarku? Aku datang untuk menyelamatkanmu”, Yuya menatap wajah Daiki. Tapi Daiki sama sekali tidak merespon suara Yuya. “Gawat! Nafasnya mulai lemah!”, Yuya mendengarkan desah nafas Daiki yang bahkan hampir tidak ada. “Tunggu Daichan, aku akan segera menurunkanmu”. Yuya berusaha membuka tali yang mengikat tangan Daiki.

“Yuya, tali ini tidak bisa dibuka”, kata Keito.

“Kau benar. Sedari tadi aku berusaha menariknya, tapi tali ini tidak terlepas satu pun”.

“Kurasa, seseorang telah memberikan mantra semacam segel pada tali ini agar tali ini tidak mudah lepas. Kalau ini Cuma tali biasa, aku yakin, Daichan pasti bisa melepaskan diri dari tali ini. Mereka pasti memberikan mantra di tali ini agar Daichan tidak bisa melarikan diri”.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Coba lihat Daichan, kondisinya semakin melemah”.

“Kita harus melepas mantra yang berada di tali ini. Dengan begitu, kita bisa menurunkan Daichan”.

“Yosh, akan kugunakan kemampuanku untuk membatalkan mantra ini”, Yuya bersiap menggunakan kemampuannya, tapi Keito menahannya. “Kenapa Keito? Aku sedang terburu-buru”.

“Dasar bodoh! Kita tidak bisa melepas mantra sembarangan. Kalau kita melepas mantra tanpa tahu cara yang benar, mantra itu akan berbalik menyerang kita dan Daichan akan terkena dampak serangan yang paling besar karena dia paling dekat dengan mantra ini. Kita tidak tahu serangan apa yang akan ditimbulkan oleh mantra ini. Satu-satunya cara dengan melepas mantra ini dengan pembalik mantra”.

“Kau tahu cara menggunakan pembalik mantra?”

“Tidak. Aku tidak pernah mempelajarinya”, gumam Keito sedih.

“Aku tahu caranya”, terdengar suara seseorang dari arah pintu. Keito dan Yuya menoleh ke asal suara, mereka melihat Yabu dan Inoo berdiri disana. Inoo mendekat ke arah mereka, “aku bisa menggunakan pembalik mantra. Master pernah mengajariku”. Yuya menarik nafas lega mendengar perkataan Inoo.

“Kalian.... kenapa kalian tahu kami ada disini?”, tanya Keito.

“Begitu kami masuk kemari, kami bisa mendengar suara kalian yang menggema dalam bangunan ini. Lalu kami berusaha kemari secepat mungkin”, Yabu melihat ke arah Daiki yang terikat tidak berdaya dan kondisinya yang cukup mengenaskan, “Astaga Daichan... kenapa ini bisa terjadi?”.

Inoo mengamati tali yang mengikat Daiki. Dia mengamati tali itu satu persatu. Setelah selesai mengamati, dia meminta yang lain untuk mundur. Mereka bertiga mematuhi perintah Inoo. Tidak lama kemudian, Inoo tampak seperti menggumamkan sesuatu dengan pelan. Keempat tali yang mengikat kaki dan tangan Daiki bercahaya. CTASS! Terdengar suara seperti sesuatu yang telah putus. Bersamaan dengan itu, cahaya itu menghilang.

“Nah, sekarang cepat turunkan Daichan dari sana. Aku sudah menghilangkan mantranya”, ucap Inoo. Yuya dan Keito dengan sigap membuka tali yang mengikat Daiki. Tidak lama kemudian, semua tali berhasil dilepaskan, dan Daiki bisa dibebaskan.

“Tapi, kenapa Daichan bisa ada disini? Kupikir dia berada bersama dengan para petinggi maou. Kenapa mereka meninggalkannya sendirian disini?’, tanya Yabu heran.

“Kurasa itu karena urusan mereka dengan Daichan sudah selesai”, kata Inoo sambil mengamati ceceran darah di bawah tempat Daiki diikat tadi. “Coba lihat ini. Mereka pasti telah mengambil seluruh darah di tubuh Daichan. Luka irisan diseluruh tubuh Daichan itulah bukti kalau mereka berusaha mengambil seluruh darahnya”.

“Darah Daichan? Kenapa?”, tanya Yabu lagi.

“Kau lupa Yabu? Untuk membuka segel, mereka membutuhkan darah dari keturunan ksatria murni. Yang berarti, mereka hanya butuh darahnya saja”, jawab Inoo.

“Tapi, kalau begitu, ini gawat donk. Jika seluruh darah di tubuh Daichan sudah diambil, maka cepat atau lambat Daichan bisa tewas”, kata Keito.

“Daichan....”,Yuya memeluk dengan erat tubuh Daiki yang terlihat sangat lemah itu. “Maafkan aku karena tidak bisa segera menyelamatkanmu. Seandainya aku bisa menemukanmu lebih cepat, kau tidak perlu menderita seperti ini”.

“Tunggu dulu”, Inoo memasukkan tangannya ke dalam saku dan berusaha mencari sesuatu. “Ah, ini dia”, Inoo mengeluarkan sebuah botol berisi bola-bola dari dalam sakunya.

“Ah itu....”, tanya Yabu.

“Apa itu?”, tanya Keito.

“Pil obat dari Jin. Coba kita meminumkan pil ini padanya”, Inoo mengeluarkan sebuah pil dari botol itu dan memberikannya pada Yuya. Yuya menerimanya dan memasukkan pil itu ke dalam mulut Daiki.

“Tidak ada apapun yang terjadi...”, kata Yuya setelah pil itu masuk ke dalam mulut Daiki.

“Apa pilnya tidak bekerja ya?”, gumam Inoo sedih.

“Tunggu, coba lihat itu!”, seru Keito sambil menunjuk ke arah Daiki, terjadi keanehan ditubuh Daiki. Semua luka irisan yang ada di tubuhnya menghilang. Tubuhnya yang kurus kering, kembali seperti semula. Raut mukanya yang pucat juga mulai segar kembali.

“Daichan?”,Yuya memanggil Daiki pelan. Yabu, Inoo, dan Keito juga mengamati Daiki.

“Daichan??”, panggil Yuya lagi. Perlahan mata Daiki mulai terbuka. Yabu, Inoo, dan Keito menampakkan wajah lega.

“Yu....ya??", ucap Daiki pelan. Yuya langsung memeluk Daiki dengan erat. Akhirnya dia bisa mendengarkan suara Daiki setelah sekian lama.

“Syukurlah, kau sudah sadar. Aku tidak bisa membayangkan kalau sesuatu terjadi padamu”, ucap Yuya sambil tetap memeluk Daiki.

“Kenapa.....kalian..... semua bisa ada disini?”, ucap Daiki setelah melihat Yabu, Inoo, dan Keito yang juga berada disana.

“Kami semua datang untuk menyelamatkanmu”, Yabu berjongkok di dekat Daiki. “Maafkan kami yang datang terlambat Daichan....”.

“Tidak apa, aku senang kalian datang untukku”, ucap Daiki pelan. “Dimana Fuu?”, tanya Daiki saat melihat ke sekeliling ruangan yang kosong.

“Kami hanya menemukanmu sendirian disini. Tidak ada yang lain”, jawab Yuya. “Memangnya kenapa?”.

“Gawat...kita juga harus segera menyusul Fuu... kalau tidak, semua akan terlambat”, ucap Daiki lagi.

“Apa maksudmu Daichan?”, tanya Yuya lagi.

“Fuu sedang mengarah ke tempat segel. Para maou berencana untuk segera membuka segel. Tidak hanya Fuu saja, Queen dan King juga menuju kesana”, jelas Daiki. Semua ksatria yang lain saling bertatapan. Rombongan Hikaru dkk dalam bahaya besar!

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar