PART 39
“Ke...i...to....”, lirih Hikaru pelan. Keito berdiri di hadapan Hikaru dan bersiap untuk menghadapi musuh. Inoo yang datang belakangan segera menghampiri Hikaru dan membantunya untuk keluar dari bayangannya.
“Hika! bertahanlah! Aku akan segera membantumu keluar dari sini”, Inoo menarik tubuh Hikaru yang sudah terbenam setengahnya didalam bayangannya sendiri. dengan susah payah Inoo berusaha menarik tubuh Hikaru. Akhirnya Inoo berhasil menarik Hikaru keluar.
“Kenapa....kalian bisa berada disini? Bukankah kalian pergi ke kediaman Jack?”, tanya Hikaru pelan. Suaranya terdengar lemah.
“Daichan memberitahu kami kalau para makhluk kegelapan itu berusaha untuk membuka segelnya sekarang dan mereka sedang berkumpul disana. Yabu memutuskan agar kami segera kemari untuk membantu kalian. Syukurlah kalau kami tidak terlambat”, jelas Inoo pada Hikaru.
“Tunggu dulu... kau bilang tadi Daichan yang memberitahumu?”, tanya Hikaru.
“Ya... kami berhasil menyelamatkan Daichan. Dia selamat, dia mungkin agak terlambat menyusul kita. Kondisi tubuhnya masih lemah, jadi kami memintanya untuk beristirahat dulu”, jelas Inoo lagi. Hikaru yang mendengar kabar baik itu langsung menarik nafas lega.
“Anoo.... kalian sudah selesai bicara? Inoo, bantu aku untuk menghadapinya. Kita juga harus menyelamatkan Yuto”, Keito menunjuk kearah Yuto yang masih berada di dalam genggaman musuh. Separuh tubuhnya sudah mulai terbenam kedalam bayangannya sendiri.
“Ah iya, tunggu sebentar”, Inoo mengeluarkan botol yang berisi obat penyembuh. Dia mengeluarkan sebutir pil dan memberikannya pada Hikaru.
“Minum ini supaya energi tubuhmu kembali”. Hikaru menerima obat itu dan mulai meminumnya. “Istirahatlah. Biar aku dan Keito yang akan menghadapinya dan menolong Yuto”.
Inoo berdiri di samping Keito. Dua pedang yang ada di pinggangnya kini telah berada di kedua tangannya. Baik Inoo maupun Keito telah bersiap-siap untuk menyerang musuh yang ada di hadapan mereka.
“Hmm... bertambah 2 ekor tikus kecil tidak akan merubah apapun”, kata pemuda yang ada di hadapan mereka itu.
“Kalian berdua berhati-hatilah. Dia bisa memanipulasi bayangan. Dia bisa menyerang menggunakan bayangannya sendiri ataupun bayangan lawannya. Dia juga bisa berpindah melalui bayangannya sehingga kita tidak akan tahu darimana dia akan menyerang”, ucap Hikaru pada Inoo danKeito.
“Ah... begitu ya. Terima kasih sudah memberitahu kami Hika”, ucap Keito.
Pemuda yang ada di hadapan mereka tertawa dengan lebar, “Ahahaha.... memangnya ada bedanya kalian tahu kemampuanku atau tidak? Kalian akan bernasib sama dengan teman-teman kalian saat ini”. Pemuda itu kemudian menghilang dari hadapan mereka. Tampaknya dia menggunakan kemampuannya lagi untuk menyerang Inoo dan Keito.
“Kalian berdua! Hati-hati! Dia bisa menyerang darimana saja!”, seru Hikaru memperingatkan keduanya. Inoo berusaha mencari dimana musuhnya berada saat ini, tapi dia sama sekali tidak tahu musuh berada dimana. Hikaru juga berusaha menggunakan kemampuannya, tapi karena tubuhnya sudah sangat lemah, dia hanya bisa melihat kedua temannya itu bertarung.
“Inoo! Kiri!”, seru Keito. Dengan sigap Inoo mengarahkan kedua pedangnya ke sebelah kiri. Bertepatan dengan itu, pemuda itu muncul dari sebelah kiri Inoo.
“Bagaimana bisa.....??”, ucap pemuda itu tidak percaya. Pemuda itu lalu melihat ke arah Keito yang berdiri dengan bola kristal di tangannya. “Begitu rupanya, aku pernah mendengar kalau ada seorang ksatria yang bisa ‘melihat’ segalanya. Ternyata kau orangnya”.
Pemuda itu lalu mundur beberapa langkah dari Inoo. Inoo mengarahkan salah satu mata pedang miliknya ke arah pemuda itu. Dia terusmengarahkan pedangnya ke arah pemuda itu, seakan ingin memberitahunya kalau dia tidak akan membiarkan pemuda itu lari lagi. Pemuda itu lalu berjalan menuju Yuto yang masih terikat kuat dalam bayangan. Mereka semua saling terdiam dan mengamati pergerakan musuh dengan seksama.
PSYUU...... CTARR!!!! Terdengar suara seperti kembang api yang melesat tinggi. Di langit tampak ada cahaya berwarna merah yang menyala. Semua yang ada disitu melihat ke arah cahaya merah itu. Pemuda itu tersenyum lebar saat melihat cahaya itu.
“Cahaya apa itu?”, tanya Keito.
“Sudah waktunya.....”, gumam pemuda itu pelan. Dia lalu beranjak pergi dengan membawa serta Yuto di punggungnya.
Inoo yang melihat pemuda itu pergi membawa Yuto segera berseru untuk menghentikannya, “Hei, tunggu! Kau mau kemana? Lepaskan Yuto!”.
Pemuda itu lalu berhenti dan melihat ke arah para ksatria, “Para petinggi maou telah meminta kami untuk kembali berkumpul ditempat segel. Cahaya itu adalah sinyalnya. Aku harus segera menuju kesana”,jawab pemuda itu.
“Lalu, untuk apa kau membawa Yuto? Lepaskan dia!”, seru Keito. Keito segera berlari menuju pemuda itu, tapi langkahnya terhenti saat melihat ada sebuah bayangan yang akan menusuk Yuto.
“Kusarankan kalian untuk tetap diam. Kalau kalian ingin menyerangku, maka aku tidak akan segan-segan membunuh teman kalian ini. Aku akan membawanya sebagai jaminan kalau kalian akan membiarkanku pergi dan tidak akan berbuat macam-macam padaku”.
“Dasar licik”, gumam Inoo kesal.
“Aku akan membawanya ke tempat para petinggi maou berada. Kalau kalian ingin menyelamatkannya, silahkan datang ke tempat segel.Aku akan dengan senang hati menyambut kalian”, pemuda itu beranjak pergi menjauhi Inoo dkk. “Aku belum memberitahu namaku ya? Namaku Fujii Ryusei. Sampai jumpa para ksatria”, setelah berkata seperti itu, dia menghilang dari hadapan mereka bertiga.
Keito terduduk lemas, Inoo menurunkan mata pedangnya, dan Hikaru terbaring tidak berdaya. Mereka bertiga tidak bisa menyelamatkan Yuto dan membiarkan musuh pergi membawanya.
“SIAL!”, geram Keito kesal.
Di tempat lain, Yabu.....
Sinar isyarat itu juga tampak di tempat dimana Yabu bertarung dengan Hamada. Hamada mengamati sinar itu dan tersenyum. “Ah, rupanya sudah waktunya kami kembali berkumpul. Untung saja urusanku sudah selesai”. Hamada melihat ke arah Yabu yang tergeletak tidak sadarkan diri di dekatnya.Tubuhnya penuh dengan luka. Tidak terhitung lagi berapa jumlah luka dan memar di tubuhnya.
“Lalu, sekarang enaknya dia diapakan ya??”, Hamada berjongkok di dekat Yabu sambil mengamatinya. “Sebenarnya aku ingin segera menyusul gadis cantik tadi, tapi karena sudah ada perintah untuk kembali berkumpul, aku tidak bisa mengejarnya”. Hamada memejamkan matanya seakan sedang berpikir dengan keras. “Ah, lebih baik kubawa dia saja. Siapa tahu nanti dia berguna”. Hamada mencoba mengangkat tubuh Yabu dan mulai menggotongnya menuju ke tempat segel.
Di lorong, Daiki dan Yuya.
Daiki masih merangkul tangan Yuya dengan erat. Mereka berdua terus menyusuri lorong tersebut. Suasana di dalam lorong sangat gelap, sehingga mereka berdua berjalan dengan hati-hati. Berkali-kali Daiki hampir jatuh tersandung, tapi Yuya selalu sigap menolongnya. Samar-samar Daiki melihat ada sesuatu yang tergeletak tidak jauh dari mereka. Cahaya remang-remang dari sinar obor membuat Daiki tidak bisa melihat dengan jelas sesuatu yang ada di depan.
“Hei, hei, Yuya. Kau bisa lihat itu kan?”, tunjuk Daiki sambil menarik baju Yuya. Yuya melihat ke arah yang ditunjuk Daiki. Dia mencoba menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan jelas.
“Ah, kelihatannya ada sesuatu disana. Tapi, aku tidak bisa melihatnya karena disana terlalu gelap”, Yuya mencoba mengarahkan obornya jauh ke depan. “Ayo kita selidiki apa itu”. Mereka berdua segera berjalan mempercepat langkah mereka. Mereka berdua akhirnya semakin dekat dengan sesuatu itu. Alangkah terkejutnya mereka saat mereka tahu ‘apa’ yang tergeletak disana.
“YAMADA?!?!”, seru mereka bersamaan. Tepat dihadapan mereka, Yamada tergeletak tidak sadarkan diri. Daiki mencoba memeriksa kondisi Yamada.
“Uwah... badannya penuh dengan luka. Aku bisa melihat ada beberapa memar di tubuhnya. tidak hanya itu, kelihatannya mungkin ada beberapa tulang yang patah”.
“Tapi, apa yang Yamada lakukan sendirian disini?”,Yuya mengamati lorong tempat mereka berada. “Kenapa dia bisa seperti itu? Apakah dia habis bertarung dengan musuh?”, tanya Yuya setelah melihat kondisi Yamada yang luka parah.
“Kurasa begitu. Tapi, yang membuatku heran adalah kenapa dia tidak langsung menyembuhkan dirinya? Bukankah dia memiliki kemampuan Healing?”.
“Kurasa saat ini pun dia sedang menggunakan kemampuannya. Hanya saja, dilihat dari kondisi tubuhnya yang belum juga membaik, aku merasa kalau dia terluka sangat parah sehingga butuh waktu untuk menyembuhkan dirinya”.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan terhadapnya?”, tanya Daiki.
“Kita tunggu saja dia sampai sadar disini. Kita tidak tahu ada apa di lorong yang gelap ini. Akan lebih baik kalau kita menunggu Yamada sadar dan kita akan bertanya padanya apa yang terjadi di lorong ini. Kurasa itu keputusan yang lebih baik”, jawab Yuya. Daiki pun menggangguk menuruti kata Yuya.
..................................................
Akhirnya kesadaranku kembali, aku bisa merasakan rasa sakit di beberapa bagian tubuhku. Memang masih ada rasa sakit, tapi ini sudah jauh lebih baik bila dibandingkan dengan rasa sakit yang kualami tadi. Samar-samar aku bisa mendengar suara seseorang yang sedang bercakap-cakap didekatku. Apakah itu musuh yang tadi? Kurasa tidak, musuh tadi sudah pergi dengan membawa Chinen. lalu, apakah yang ada di dekatku saat ini adalah musuh yang baru? Perlahan aku mencoba membuka mataku untuk melihat siapa yang ada didekatku. Samar-samar aku bisa melihat ada dua orang yang duduk di dekatku.
“Yuya.... aku lapar......”, rengek seseorang.
“Ah, gomen Daichan... aku tidak bawa makanan apapun. Kau benar-benar lapar sekarang?”.
“Aku sudah lama tidak makan. Sekarang akubenar-benar kelaparan nih....”.
“Maafkan aku ya. Aku buru-buru pergi kesana tanpa membawa makanan”.
Yuya? Daichan? Aku mendengar suara percakapan dua orang yang ada di dekatku. Mereka memanggil satu sama lain dengan Yuya dan Daichan. Benarkah dua orang yang di dekatku ini Yuya dan Daiki. Pandanganku kini semakin jelas, aku bisa melihat ada dua orang yang sedang duduk disampingku. Satunya cewek, satunya cowok.
“Daichan.... Yuya.....”, lirihku pelan. Dua orang yang sedang duduk di dekatku langsung menoleh ke arahku saat mendengar suaraku.
“Yamada! Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?”, tanya Yuya.
“Ah syukurlah, kalau kau sudah bangun. Kami tidak tahu harus bagaimana kalau kau terus tidak sadarkan diri”, ucap Daiki.
Aku tercengang saat melihat Daiki yang duduk disampingku. “Dai...chan??”, gumamku pelan sambil menatap tidak percaya pada sosok yang berdiri di sampingku ini.
“Iya, ada apa?”.
“Kau.... selamat? Kau.... Daichan yang asli kan?”.
“Ah Yamada, kau kenapa sih? Iya, ini aku Daichan”, ucap Daiki sambil tersenyum.
Aku segera bangkit dan langsung memeluk Daiki yang ada di hadapanku. Entah kenapa, aku merasa kangen dan rindu setelah sekian lama tidak melihatnya. “Syukurlah, kau baik-baik saja”, ucapku lega.
“Ahem...”, terdengar suara Yuya yang berdehem agak keras. Spontan aku sadar dan melepas pelukanku terhadap Daiki. Daiki hanya tersenyum melihatku. Aku melirik ke arah Yuya yang tampaknya agak sedikit kesal.
“Go, gomen. Aku terlalu senang melihat Daichan lagi”, kataku berusaha mencari alasan pada Yuya.
“Ahahaha... tidak usah khawatir Yamada.... Aku tidak keberatan dipeluk olehmu kok”, ucap Daiki sambil tersenyum jahil ke arah Yuya. Muka Yuya masih menunjukkan ekspresi kesal. Aku yang melihatnya merasa sedikit takut. “Ngomong-ngomong Yamada, kenapa kau bisa ada disini? Lalu, kenapa tubuhmu penuh dengan luka?”, tanya Daiki yang tampaknya berusaha mencari topik baru.
“Ah, eh, iya...”, tiba-tiba aku teringat dengan Chinen yang dibawa pergi oleh musuh. “YURI! Kalian melihat Yuri?”.
“Chii??”, Daiki dan Yuya saling berpandangan. “Tidak. Kami sama sekali tidak melihatnya. Kami hanya melihatmu sendirian terbaring disini”, jawab Daiki.
“Sebenarnya, apa yang terjadi Yamada?”, tanya Yuya.
Aku menghela napas panjang dan kuputuskan untuk menceritakan semuanya pada mereka berdua. Dimulai dari kami yang jatuh secara tidak sengaja di lorong bawah tanah ini. Lalu saat aku dan Chinen yang memutuskan untuk menyelidiki tempat ini. Hingga akhirnya kami berdua bertemu dengan musuh yang pada akhirnya musuh tersebut membawa Chinen pergi. Daiki dan Yuya mendengarkan ceritaku dengan seksama.
“Jadi, sekarang Chinen berada di tangan musuh?”, tanya Daiki setelah aku selesai bercerita. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Hya.... setelah Daichan, sekarang gilirannya Chinen. Berarti sekarang kita harus segera pergi menyusul musuh untuk menyelamatkan Chinen”, ucap Yuya. “Bagaimana keadaanmu Yamada? Apakah sekarang kau baik-baik saja? Tubuhmu terluka parah saat kami menemukanmu tadi”, tanya Yuya padaku.
“Ah, kurasa sekarang aku jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kemampuanku membantuku memulihkan luka di sekitar tubuhku”, jawabku sambil melihat ke sekujur tubuhku. Beberapa anggota tubuhku memang masih sedikit sakit tapi ini jauh lebih baik dibandingkan saat aku terkena serangan musuh tadi.
“Syukurlah....”, ucap Daiki sambil tersenyum. Dia membantuku berdiri. Yuya mengambil kembali obor yang diletakkan di tanah. Kami bertiga kembali menyusuri lorong untuk menemukan jalan keluar agar bisa menyelamatkan Chinen.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kalian berdua bisa ada disini?”, tanyaku.
“Ah, setelah aku menemukan Daichan di kediaman Jack, Daichan mendengar suara seperti memanggilnya, lalu kami menemukan sebuah jalan rahasia disana. Jalan itu berupa lorong bawah tanah seperti ini. Tidak kusangka kalau di dalam lorong ini kami akan menemukanmu”, jawab Yuya.
“Tuh kan, firasatku benar kan. Seandainya kita tidak masuk kesini, kasihan Yamada nanti dia sendirian disini”, timpal Daiki.
“Suara? Memangnya siapa yang memanggilmu Daichan?”,tanyaku.
“Hmm.. entahlah. Aku tidak tahu. Tapi dia memanggil namaku beberapa kali. Suara itu juga yang menuntunku kemari. Kukira awalnya itu suaramu yang memanggilku, tapi setelah kupikir lagi kurasa bukan”, jawab Daiki.
“Lalu, bagaimana sekarang? Kau masih mendengar suara itu?”, tanyaku lagi.
“Tidak. Sejak aku menemukanmu hingga menunggumu sadar, aku tidak mendengar suara itu lagi”, jawab Daiki. “Ah, sudahlah. Daripada mengurusi hal itu, sebaiknya kita segera menyusul musuh, Chii membutuhkan bantuan kita kan?”. Kami bertiga pun mempercepat langkah kami.
Di tempat Hikaru dkk
“Kau bisa berdiri lagi Hika?”, tanya Inoo.
Dengan susah payah Hika berusaha untuk bangkit. Keito membantu Hikaru yang kelihatannya masih agak susah untuk berdiri.“A...du...du...duh.....”, rintih Hika pelan.
“Kau masih merasa sakit? Mau istirahat dulu?”, tanya Keito sambil menatap cemas Hika.
“Tidak. Aku hanya sakit sedikit kok”, Hika berusaha tersenyum ceria ke arah Keito seakan berusaha menutupi rasa sakitnya. Inoo yang khawatir dengan keadaan Hikaru, mendekat ke arah Hikaru dan mengamatinya. Ekspresi mukanya benar-benar menunjukkan rasa cemas. “Inoo, tidak usah melihatku seperti itu. Sudah kubilang kan kalau aku baik-baik saja”. Inoo masih menunjukkan ekspresi yang sama.
“Arghh!! Kalian berdua ini. hentikan menantapku seperti itu! Pandangan mata kalian seakan menunjukkan kalau aku ini akan mati sebentar lagi”, Hika menatap Inoo dan Keito dengan pandangan kesal. Inoo dan Keito yang melihat ekspresi Hika, langsung tersenyum dan tertawa. Hikaru melihat kedua temannya dengan bengong.
“Baguslah kalau kau sudah semangat lagi Hika”, Keito menepuk pundak Hikaru.
“Nah, kalau kau sudah baikan. Ayo kita segera menuju ke tempat segel. Yuto sedang menunggu kita”, Inoo menarik tangan Hikaru dan membantunya untuk berdiri.
Hikaru akhirnya kembali berdiri. Dia mengisi pistolnya dengan peluru yang tersisa. Mereka bertiga segera bersiap-siap menuju ke tempat segel. Dengan penuh semangat mereka segera berjalan menuju ke tempat segel.
“Oh ya, aku tidak melihat Yabu. Kemana dia?”, tanya Hikaru yang baru sadar kalau Yabu tidak ada. Dia merasa heran karena Inoo sendirian bersama dengan Keito.
“Ah, dia .....”, Inoo tidak melanjutkan perkataannya. Dia melihat jauh ke belakang, ke arah yabu mungkin berada.
Keito yang melihat Inoo yang diam saja, akhirnya mulai buka suara, “Yabu tadi masih bersama kami. Setelah menemukan Daichan,kami bertiga langsung menuju kemari. Tapi, di tengah perjalanan kemari, musuh datang menghadang. Salah satu prajurit kegelapan. Sama seperti yang kau dan Yuto hadapi tadi”.
Keito menatap ke arah yang sama dengan Inoo, “Yabu membiarkan kami pergi terlebih dahulu. Dia bilang, dia akan menyusul kami kalau dia sudah selesai. Pelindung yang dibuat olehnya sudah lama hilang. Tapi sampai sekarang dia belum muncul juga....”.
“Jangan-jangan Yabu....”, pikiran buruk mulai muncul di kepala Hikaru. Mukanya tampak cemas. Setelah apa yang dia alami tadi dan Yuto yang dibawa pergi oleh musuh, dia memiliki firasat kalau sesuatu yang buruk telah terjadi. Yabu tidak akan pernah meninggalkan Inoo terlalu lama. Pasti telah terjadi sesuatu padanya.
“Kalian berdua, apa yang kalian pikirkan”, seru Inoo yang kini telah kembali berjalan di depan. “Ayo cepat kita segera ke tempat segel dan menyelamatkan Yuto. Yuto membutuhkan bantuan kita saat ini”.
Hikaru dan Keito menatap Inoo dengan muka heran. Mereka sama sekali belum bergerak dari tempat mereka berada. Inoo melihat tingkah kedua temannya, “Kenapa? Kalian khawatir dengan Yabu?”, tanyanya.
“Tentu saja kami khawatir. Musuh sangat kuat. Kalau misal terjadi sesuatu pada Yabu bagaimana?”, tanya Hikaru.
“Tidak usah dipikirkan. Yabu pasti akan baik-baik saja”, ucap Inoo enteng. “Masa kalian tidak percaya dengan pemimpin kalian? Yabu adalah pemimpin kita semua, pemimpin para ksatria. Terlebih lagi, sebelumnya dia telah berhasil mengalahkan salah seorang dari mereka kan? Tidak akan kumaafkan kalau kalian berpikir Yabu akan kalah”, Inoo melirik tajam ke arah Keito dan Hikaru. Sesaat mereka berdua merasa takut melihat Inoo.
Hikaru mendesah pelan, “Ya, kau benar”. Hikaru mendorong punggung Keito hingga Keito hampir saja terjatuh, “Nah, ayo kita segera menuju tempat segel”. Keito melihat ke arah Hikaru dengan sedikit kesal. Mereka berdua berjalan melewati Inoo dan melangkah lebih dulu dari Inoo.
Inoo yang saat ini berada paling belakang, menghentikan langkahnya sejenak, dan memalingkan wajahnya untuk melihat ke arahtempat Yabu berada tanpa diketahui kedua temannya. Pandangannya terlihat seperti menerawang jauh. Kali ini Inoo tidak menyembunyikan ekspresinya lagi.Raut muka penuh kecemasan tampak di mukanya. “Kota... kau kenapa? Kau baik-baik saja kan?”, gumam Inoo pelan.
“Inoo! Ayo cepat! Nanti kau terpisah dengan kami”, seru Hikaru.
“Ah, iya!”, Inoo mempercepat langkahnya untuk menyusul kedua temannya yang sudah berjalan lebih dulu di depan.
Mereka berjalan dengan penuh waspada. Mereka berusaha agar langkah kaki mereka terdengar sepelan mungkin. Semakin dekat dengan tempat segel, semakin banyak makhluk kegelapan yang mereka temui. Bahkan, makhluk kegelapan yang mereka temui ini semuanya bukan tingkat rendah lagi, mereka adalah makhluk kegelapan tingkat menengah dan tinggi. Sebisa mungkin mereka bertiga berusaha menghindari pertarungan dengan para makhluk kegelapan ini. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan tenaga untuk menghadapi semua musuh. Dengan bantuan kemampuan pendengaran milik Hikaru dan kemampuan melihat Keito, mereka berhasil menghindari bertemu dengan makhluk kegelapan. Tidak jauh dari situ, mereka bisa melihat sebuah gerbang merah tua yang sudah hampir roboh.
“Itu dia! Gerbang merah itu adalah pintu masuk menuju tempat segel. Bertahanlah, sebentar lagi kita akan tiba disana”, bisik Hikaru pada dua temannya. Hikaru berjalan di depan dan membimbing kedua temannya. Gerbang merah itu terlihat semakin besar, menandakan bahwa mereka bertiga telah semakin dekat dengan tempat segel. Hikaru menghentikan gerakan kedua temannya sambil menaruh telunjuknya di depan bibir, “sssttt....”,menandakan mereka harus diam. Dengan telunjuknya, dia menunjuk ke arah sekumpulan makhluk kegelapan yang berjaga di depan gerbang, seakan tidak akan membiarkan apapun melewati mereka dengan Cuma-Cuma.
Dari balik semak tidak jauh dari gerbang, Hikaru, Inoo dan Keito mengamati para makhluk kegelapan itu. Masing-masing dari mereka berusaha berpikir keras mencari cara agar mereka bisa masuk ke dalam.
“Hei, bagaimana ini? Apakah kita harus menghadapi mereka semua agar kita bisa masuk?”, bisik Keito.
“Baka! Kalau kita melawan mereka semua, kita akan kehabisan tenaga sebelum menyelamatkan Yuto. Kau tahu kan kalau prajurit kegelapan yang menghadapi kita itu sangat kuat? Belum tentu kita seorang diri bisa mengalahkannya”, Inoo mencubit lengan Keito. Keito meringis kesakitan dan mengusap lengannya yang kemerahan akibat dicubit oleh Inoo.
“Sstt... kalian berdua. Jangan berisik! Kita nanti bisa ketahuan”, hardik Hikaru pelan. Serentak Keito dan Inoo langsung menutup mulut mereka dengan tangan. Hikaru kembali mengamati gerbang sambil berusaha mencari sebuah celah kecil dimana mereka bertiga bisa masuk kedalam.
Hikaru mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Dia kemudian melihat ke arah Keito dan Inoo, “kalian berdua, sudah kubilang jangan berisik!”, Hikaru kembali memarahi mereka berdua.
Inoo dan Keito melihat Hikaru dengan pandangan heran. “Kami sama sekali tidak bersuara kok Hikaru. Kenapa kau marah-marah?”, tanya Inoo kesal karena sikap Hikaru yang memarahi mereka terus.
Kali ini giliran Hikaru yang melihat Inoo dengan muka heran, “eh, aku jelas mendengar ada suara orang yang sedang berbicara. Itu bukan kalian?”, tanyanya.
“Kau bicara apa sih? Sejak kau memarahi kami tadi, kami sama sekali tidak bersuara lo....”, jawab Keito.
“Tapi, aku tadi jelas mendengar ada suara orang....”, Hikaru berhenti berbicara dan memasang telinganya lebih jelas.“Tuh, aku mendengarnya lagi”, Hikaru melihat ke arah Keito dan Inoo yang terus terdiam. “Kalau bukan kalian, terus siapa...”, kali ini Hikaru melihat ke tanah yang dipijakinya. Dia mendekatkan telinganya ke tanah. “Suaranya dari sini”, gumam Hikaru pelan. Inoo dan Keito saling bertatapan tidak percaya.
Hikaru memejamkan matanya dan berusaha berkonsentrasi pada kemampuannya. Dia berusaha mendengarkan lebih baik suara-suara itu. Tiba-tiba Hikaru membuka matanya, ekspresi wajahnya terlihat cerah. “Aku mendengar suara mereka! itu mereka!”, pekik Hikaru riang. Suaranya terdengar lebih keras. Sontak Keito dan Inoo langsung mengarahkan tangan mereka untuk menutup mulut Hikaru. Untungnya para makhluk kegelapan yang berada didekat mereka tidak mendengar suara Hikaru.
“Kau kenapa sih Hika? tiba-tiba teriak seperti itu”, tanya Inoo.
“Aku mendengar suara Yamada, Yuya, dan Daichan dari bawah sini!”.
“Yamada, Yuya, dan daichan?”, tanya Keito heran. “Maksudmu mereka sekarang ada di bawah tanah? Bagaimana caranya?”, Keito melihat ke tanah dan memasang ekspresi wajah bingung.
“Mereka pasti melalui lorong yang tadi. Kurasa ada jalan masuk lewat bawah tanah. Sebaiknya kita juga menyusul mereka dan masuk ke bawah sini”, kata Hikaru yang gembira karena pada akhirnya dia bisa menemukan cara untuk masuk ke tempat segel.
“Masuk? tapi, bagaimana caranya?”, tanya Keito dan Inoo kebingungan. Hikaru hanya tersenyum bangga pada dua temannya itu.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar