Sabtu, 08 Agustus 2015

TEN KNIGHTS

PART 36
(Kalo byk typo, maafkan ya. Lagi males ngedit.... Thx uda setia membaca hingga saat ini :))

“Daichan, benarkah yang kau katakan itu?”, tanya Yabu tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Daiki.

“Ya. Mereka bertiga sering berada disini. Secara bergantian mereka menyiksaku, kemarin mereka membicarakan hal ini, jadi aku tidak mungkin salah dengar. Mereka bertiga mungkin telah berada disana saat ini bersama dengan makhluk kegelapan dari berbagai level yang jumlahnya ribuan”, ucap Daiki pelan.

“Menyiksamu? Kau disiksa oleh mereka sampai seperti ini?”, seru Yuya yang kaget mendengar ucapan Daiki. Raut muka Yuya berubah, tangan Yuya semakin menggenggam tubuh Daiki dengan erat. Daiki sedikit meringis kesakitan akibat remasan tangan Yuya. Hawa membunuh mulai keluar dari tubuhnya. Keito, Yabu, dan Inoo yang berada didekatnya langsung mundur beberapa langkah.

“Yuya, yuya....”, ucap Daiki sambil memegang wajah Yuya. “Aku... sudah tidak apa-apa. Tenanglah....”. Daiki berusaha menahan rasa sakit akibat remasan tangan Yuya.

“Aku tidak akan memaafkan mereka. Mereka menyiksamu sampai seperti ini. Kau hampir mati tadi. Kalau saja kami terlambat menemukanmu, kau bisa .....”, Yuya menggeram marah. Hawa membunuhnya semakin kuat. Yabu, Inoo dan Keito semakin mundur ke belakang.

“Yuya, tenanglah..... kau membuat yang lain ketakutan. Tenanglah sedikit....”, Daiki masih berusaha menenangkan Yuya, tapi hawa membunuh dari tubuh Yuya terus keluar. Raut muka Yuya tetap tidak berubah.

“Yuya....lihat kemari”, ucap Daiki pelan. Yuya menoleh ke arah Daiki. Daiki segera mengecup bibir Yuya dengan bibirnya. Hawa membunuh yang keluar dari tubuh Yuya lenyap secara tiba-tiba. Yabu, Inoo, dan Keito segera memalingkan muka mereka dan berdiri membelakangi mereka agar tidak melihat adegan yang ada di depan mereka.

“Hei, apa mereka berdua sudah selesai?”, bisik Inoo yang tampaknya ragu untuk melihat ke belakang

“Tidak. Mereka masih melakukannya”, bisik Keito yang tampaknya melihat mereka berdua melalui bola kristalnya.

“Sampai kapan mereka akan melakukannya? Ini sudah cukup lama....”, bisik Yabu sambil melihat ke jam tangannya

“Akhirnya kau tenang juga....”, ucap Daiki. Raut muka Yuya sudah kembali seperti semula.  “Kau membuat yang lain ketakutan. Jadi, tenanglah sedikit. Tuh lihat, mereka sampai mundur sejauh itu”, tunjuk Daiki ke arah Yabu dkk yang masih membelakangi mereka.

“Maafkan aku. Kalian pasti ketakutan kan?”, ucap Yuya pada mereka bertiga.

“Ah, ti-tidak apa kok. Lagipula, ini bukan pertama kalinya kau seperti itu”, Yabu tidak berani menatap Yuya secara langsung. Dia masih gugup karena adegan tadi. Inoo dan Keito pun salah tingkah. Daiki yang melihat tingkah laku teman-temannya hanya tersenyum kecil.

“Kenapa kalian?”, tanya Yuya yang  tidak mengerti dengan tingkah laku aneh teman-temannya.

“Yuya....tidak usah dibahas lagi”, ucap Daiki yang mengerti alasan dari tingkah laku teman-temannya itu. “Yang penting, lebih baik sekarang kita segera menuju ketempat segel”, Daiki berusaha untuk berdiri, akan tetapi karena tubuhnya yang masih lemah, tubuhnya segera terjatuh ke depan. Yuya segera menangkap tubuh Daiki.

“Kau tidak apa-apa? Jangan memaksakan dirimu. Kau baru saja pulih”, Yuya membantu Daiki untuk berdiri dan menopang tubuh Daiki.

“Yuya benar. Kau masih butuh banyak istirahat Daichan. Obat yang kuberikan padamu bisa mengatasi luka dan memulihkan tenagamu, tapi tubuhmu masih kekurangan darah”, ucap Inoo. “Terlalu berbahaya untukmu untuk menggunakan kemampuanmu”.

“Tapi, kalau kita tidak segera kesana, segelnya.....”, ucap Daiki lagi.

“Biar kami yang mengatasi hal ini. Kau istirahat dulu saja disini bersama dengan Yuya. Setelah kau merasa baikan, kau boleh menyusul kami”, Yabu mendekat kearah Daiki. “Misi kami yang sebenarnya adalah menyelamatkanmu. Kalau kau terluka lagi setelah kami menyelamatkanmu, berarti misi kami gagal dong. Jangan keras kepala dan istirahatlah dengan tenang disini”.

“Yang dikatakan Yabu itu benar Daichan... Pulihkan dirimu dulu disini, setelah itu kau boleh pergi menyusul kami”, ucap Inoo.

“Minum ini”, Keito menyerahkan sesuatu pada Daiki. “Ini sisa obat penambah darah yang dulu kuminum. Memang jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi kurasa ini akan sangat membantu untuk memulihkan jumlah darah dalam tubuhmu”.

Daiki mengulurkan tangannya untuk menerima obat itu dari Keito, “Terima kasih Keito. Ini sudah sangat membantuku. Cuma sekarang aku punya masalah besar yang lain”. Ekspresi Daiki berubah menjadi sangat serius. Ksatria yang lain memasang wajah dengan serius juga setelah melihat Daiki seperti itu.

“Apa?”, tanya Yuya yang cemas.

“Aku sangat haus saat ini. Yabu, aku minta air minummu donk...”, ucap Daiki dengan nada manja dan tingkah laku seperti anak kecil. Semuanya langsung menghela nafas lega setelah mendengar ucapan Daiki.

“Kau ini.... kupikir ada masalah apa....”, Yabu memberikan botol air minum miliknya pada Daiki.

“Aku kan tidak bisa minum obat tanpa air”, Daiki menerima botol air minum dari Yabu. “Tidak apa-apakah kalau ini kuminum?”, tanya Daiki.

“Tidak masalah kok. Aku membawa itu untuk berjaga-jaga seandainya aku bertarung ditempat yang tidak ada airnya. Tapi karena daerah ini dekat dengan sungai yang lumayan besar, maka aku bisa menggunakan air sungai itu.

Daiki yang hendak meminum air yang ada di botol tiba-tiba mengurungkan niatnya. Daiki menjauhkan botol itu dari mulutnya dan menatap botol itu dengan curiga.

“Kenapa Daichan?”, tanya Yabu yang melihat Daiki terus mengamati isi botol tersebut.

“Air di dalam botol ini... bukan air sungai kan?”.

Yabu menjitak pelan kepala Daiki, “kau ini.... itu air matang kok. Tidak mungkin aku memberikan air mentah padamu untuk diminum kan??”.

“Ehehehehe....hanya memastikan saja kok”, ucap Daiki sambil tertawa kecil. Semua orang yang ada di ruangan itu melihat Daiki. “Kenapa?”, ucap Daiki yang merasa risih dengan tatapan teman-temannya itu.

“Sudah lama kami tidak melihat senyumanmu itu. Melihatmu seperti itu benar-benar terasa kalau kau sudah kembali”, kata Inoo.

“Kalian ini.... membuatku malu saja”, ucap Daiki tersipu. Dia segera meminum obat penambah darah itu.

“Saa....ayo kita segera menuju tempat segel dan berkumpul bersama Hikaru dkk. Semoga mereka tidak mengalami masalah apapun disana”, kata Yabu.

“Tapi, bagaimana kita kesana? Kau tahu jalannya?”, tanya Inoo.

“Tenang saja. Aku bisa melihatnya melalui bola kristalku. Selain itu, aku masih bisa mengingat sedikit rute ke tempat segel itu”, kata Keito.

“Baiklah, ayo kita segera pergi. Yuya, kuserahkan Daichan padamu. Daichan, pastikan kondisi tubuhmu kembali seperti semula. Kami akan menunggu kalian berdua”, ucap Yabu pada dua temannya itu. Saat Yabu telah melangkah pergi beberapa langkah, dia berhenti, dan melihat  ke arah Yuya dan Daiki, “ngomong-ngomong, kalian tahu jalan kesana?”.

“Akupernah kesana kok. Ayah dan ibu pernah membawaku kesana. Aku juga pernahmengikuti paman kesana bersama dengan Hika”, jawab Daiki.

“Baguslah. Nah, kami pergi dulu ya....”, Yabu melambaikan tangannya ke arah Yuya dan Daiki. Mereka berdua membalas lambaian tangan Yabu. Mereka terus melambaikan tangan hingga Yabu dkk tidak tampak lagi. Tiba-tiba Daiki terduduk lemas.

“Kau kenapa?”, tanya Yuya yang cemas melihat Daiki. “Lebih baik kau tidur saja dulu. Aku akan tetap disini menemanimu kok”.

“Kalau begitu, baiklah... aku boleh pinjam dadamu sebentar?”, Daiki menyandarkan kepalanya ke dada Yuya.

“Jangan begini, posisi tidurmu tidak nyaman kan? Tidur di pangkuanku saja....”.

“Tidak. Aku lebih suka begini. Dengan begini, aku bisa mendengar suara jantungmu denganjelas. Aku lebih tenang saat bisa mendengar suara jantungmu”, Daiki meremas baju Yuya. “Sebenarnya aku takut sekali Yuya... aku takut tidak bisa bertemu dengan kalian semua, terutama tidak bisa bertemu denganmu lagi. Aku sangat senang kau ada disini untukku”.

Yuya memegang tangan Daiki yang meremas bajunya. Tangannya yang lain memegang bahu Daiki dengan erat. “Aku ada disini. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi untuk kedua kalinya. Kalau kau pergi, aku pasti akan langsung mencarimu dan menemukanmu, dimanapun kau berada”. Daiki tersenyum saat mendengar ucapan Yuya. Tak lama setelah itu, dia tertidur pulas seperti anak kecil. Yuya menatap wajah Daiki yang sedang tidur, “aku akan selalu melindungimu”, gumam Yuya pelan.

Di tempat yang lain, di luar wilayah barat.

Master dan Jin telah berada di luar kota dan sekarang mereka berusaha untuk menuju ke daerah timur. Dengan kemampuan master, mereka berdua dapat melayang di udara dan bisa segera mencapai daerah timur. Di tengah perjalanan, mereka bisa melihat ke sekelompok makhluk kegelapan dalam jumlah besar sedang menuju kearah yang sama dengan mereka.

“Kau lihat itu?”, master menunjuk ke sekumpulan makhluk kegelapan itu.

“Ya. Kukira jumlah mereka sudah berkurang setelah kita membasmi rombongan makhluk kegelapan kemarin. Sebenarnya mereka semua ada berapa banyak sih?”, ucap Jin kesal saat melihat rombongan makhluk kegelapan itu.

“Yang penting kita harus mencegah mereka untuk sampai di tempat segel”.

“Kalau begitu, kau buatlah pelindung di perbatasan di wilayah timur itu pak tua. Buatlah pelindung yang tidak bisa ditembus oleh satupun makhluk kegelapan. Aku tidak merasakan kehadiran maou yang disebut King itu. Lebih baik kita segera mengurus mereka sebelum si King itu datang. Biar aku yang mengurus mereka”, setelah mengatakan itu, Jin bersiul. Tak lama, ada sesuatu yang mendekat ke arah mereka. Makhluk itu memiliki sayap yang indah, seluruh tubuhnya berwarna putih, empat kaki makhluk itu mengeluarkan bunyi yang tegap saat berlari.

“Pegasus. Kupikir mereka sudah musnah saat perang besar itu terjadi”, ucap master.

“Ah, dia ini istimewa. Sepertinya dia adalah satu-satunya pegasus yang tersisa. Aku menemukannya saat berkelana keliling dunia. Waktu aku menemukannya, dia masih kecil”, pegasus itu menghampiri Jin yang sudah memanggilnya. Jin membelai bulu pegasus itu. “Pak tua, kau pergilah duluan ke wilayah timur dengannya. Dia jauh lebih cepat dari kuda dan burung biasa. Kecepatannya sama seperti kecepatan angin”.

Master menaiki pegasus itu, “Baiklah, aku akan pergi dulu kesana. Kau berhati-hatilah”.

“Tidak usah mengkhawatirkanku. Lebih baik kau khawatirkan dirimu saja”, ucap Jin. Setelah itu, master segera berlalu pergi dengan menaiki pegasus itu.

“Nah, enaknya diapain ya mereka ini”. Jin menghirup napas panjang, menutup matanya,“Ah, aku pakai itu saja deh. Mumpung anginnya sedang bagus”, Jin megarahkan tangannya ke udara. Udara mulai berkumpul di tangan Jin. Semakin lama semakin banyak, dan mulai membentuk seperti pusaran udara kecil. Lama kelamaan pusaran udara itu semakin besar, dan tornado pun tercipta. Jin mengarahkan tornado itu ke arah rombongan makhluk kegelapan yang ada di bawahnya itu. Serangan tornado itu membuat sebagian makhluk kegelapan itu terseret angin dan kocar-kacir.

“Yosh, serangan ini cukup efektif rupanya”. Jin kembali membentuk tornado dan mengarahkannya ke arah makhluk kegelapan itu sehingga perlahan jumlah mereka berkurang.

Master yang telah tiba di wilayah timur segera membentuk sebuah lapisan pelindung di daerah perbatasan. Pelindung yang dia buat melingkupi seluruh wilayah timur seperti membungkus kota itu. Beberapa makhluk kegelapan yang sudah terlanjur berada di dalam hancur tidak bersisa. Makhluk kegelapan yang berusaha menembus pelindung itu akan terbakar sampai habis. Makhluk kegelapan tidak akan bisa menembus pelindung yang dibuat oleh master baik melalui darat, air, bahkan udara. Benar-benar pelindung yang sempurna.

Di lorong. Yamada dan Chinen...

Tap, tap, tap, suara langkah kaki kami di lorong terdengar dengan jelas dan menggema ke seluruh lorong. Sudah cukup lama kami berjalan di lorong tersebut, tapi sama sekali tidak ada tanda dimana lorong itu akan berakhir, bahkan sama sekali tidak ada petunjuk apapun siapa yang membuat lorong ini. Lama-lama kakiku merasa kelelahan setelah berjalan cukup lama.

“Ryochan...istirahat sebentar yuk. Aku sudah capek....”, kata Chinen.

Aku melihat ke arah Chinen, mukanya tampak kelelahan. Aku melihat ke arah depan dan belakangku, aku ingin memastikan bahwa tidak ada makhluk kegelapan yang berada di sekitar kami, “Baiklah, kita istirahat sebentar disini”, kataku yang tidak tega melihat Chinen. Aku sendiri juga merasa capek.

“Sebenarnya, lorong ini ada untuk apa sih? Panjangnya seberapa? Siapa yang membuatnya?”, Chinen terus berkata tanpa henti. Sepertinya karena capek, dia terus berkata tanpa henti. Aku hanya diam saja mendengarkan Chinen, karena aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sendiri juga tidak tahu jawabannya.

Aku kemudian duduk, menyandarkan punggungku ke dinding lorong itu dan meluruskan kakiku. Chinen ikut duduk di sampingku, dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Tidak berapa lama kemudian, aku merasakan ada yang bergetar melalui punggungku. Getaran itu terasa sangat lemah dan menghilang sehingga kupikir itu hanya perasaanku saja. Tapi, getaran itu terasa lagi dan kali ini cukup kuat sehingga aku bisa merasakan seluruh tubuhku yang menempel di dinding lorong itu bergetar. ‘kali ini bukan hanya perasaanku saja, ada sesuatu yang menyebabkan lorong ini bergetar’, gumamku dalam hati.

“Ryochan, kau bisa merasakannya?”, tanya Chinen yang ada di sampingku sambil melihat ke arahku. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Rupanya dia juga merasakan hal yang sama sepertiku. Dia bisa merasakan getaran itu.

“Kira-kira itu apa ya? Gempa bumi kah?”, tanyaku.

“Kurasa tidak. Ada sesuatu yang sedang mendekat kemari”, ucap Chinen sambil meletakkan tangannya di dinding agar bisa merasakan getaran itu dengan cukup jelas.

Aku berusaha menajamkan pendengaranku. Keterbatasan cahaya membuat kami tidak bisa melihat ke dalam lorong yang cukup gelap. “Yuri, kau dengar itu?”, aku mendengar sesuatu yang bergerak seperti suara mesin motor. Suara itu sama persis dengan suara yang kami dengar sesaat sebelum kami terjatuh ke dalam lubang.

“Tidak salah lagi. itu suara yang sama dengan yang kita dengar sebelumnya”, ucap Chinen. “Kira-kira apa itu ya? Kalau itu musuh, kita tidak punya jalan lain selain menghadapinya”. Aku melihat ke sekeliling kami. Benar kata Chinen, kami sekarang berada di dalam lorong yang gelap dan jauh di dalam tanah. Tidak ada satupun tempat yang bisa kami gunakan untuk bersembunyi. Bila itu benar musuh, maka kami harus segera menghadapinya.
Aku memegang gagang pedangku. Sedangkan Chinen juga melakukan hal yang sama. Dia memegang kedua tongkatnya dan memasang sikap siaga. Suara itu semakin mendekat ke arah kami. Getaran yang terasa juga semakin keras.

“Siapa disana?”, tanyaku pada si sumber suara.

Di tempat Hikaru dan Yuto...

Hikaru dan Yuto terus berjalan menuju tempat segel. Hikaru memandu Yuto sambil terus memasang telinganya lebar-lebar. Berkat kemampuannya, mereka berhasil menghindari beberapa makhluk kegelapan yang berjaga di sekitar situ. Lama kelamaan, jumlah makhluk kegelapan yang mereka temui semakin bertambah. Akan tetapi, Yuto dan Hikaru berhasil menghindar agar tidak bertemu dengan mereka. Sebisa mungkin mereka berusaha menghindari pertarungan yang tidak perlu. Mereka juga harus menjaga stamina dan tenaga mereka.

Tiba-tiba Hikaru menarik baju Yuto dan bersembunyi di balik semak, “Ada apa sih Hika?”, gerutu Yuto yang kesal karena ditarik tiba-tiba. Hikaru segera menutup mulut Yuto dengan tangannya.

“Sst...diam. Kita harus tetap sembunyi disini, ada beberapa makhluk kegelapan yang mengarah kemari. Mereka bukan makhluk kegelapan biasa, kelihatannya mereka adalah maou”, bisik Hika. Dia berusaha berbicara sepelan mungkin agar suaranya tidak terdengar oleh siapapun kecuali Yuto.
Tidak lama kemudian, beberapa makhluk kegelapan lewat di hadapan mereka. Sosok mereka sangat mirip dengan manusia. Mereka pun berjalan tegap dan berbicara selayaknya manusia. Melihat ciri-ciri makhluk kegelapan ini, benar yang dikatakan oleh Hikaru, mereka adalah maou. Para maou itu tidak menyadari Hikaru dan Yuto yang sedang bersembunyi di balik semak di dekat mereka.

Hikaru memberi tanda pada Yuto agar berjalan mengikutinya, mereka berdua berusaha berjalan sepelan mungkin agar para maou itu tidak menyadarinya. Meskipun mereka tidak sekuat para petinggi maou, akan tetapi, mereka lawan yang cukup merepotkan. Apalagi dengan jumlah mereka yang cukup banyak.

“Wah, wah, tampaknya ada tikus yang sedang bersembunyi di sekitar sini”, terdengar sebuah suara dari atas pohon. Spontan Hikaru dan Yuto menoleh ke atas. Di atas mereka, tepat di salah satu batang pohon, ada seorang pemuda yang sedang duduk santai disana dan mengamati mereka.

“Siapa kau?’, seru Hikaru. Dia sama sekali tidak mendengar bahwa ada seseorang yang berdiri di atas mereka. Baru kali ini dia tidak bisa mendeteksi musuh melalui kemampuannya.

“Untuk apa kuberitahukan namaku pada tikus-tikus kecil seperti kalian?”, pemuda itu lalu turun dari pohon dan saat ini berdiri di hadapan mereka berdua. “Ada perlu apa 2 orang ksatria datang kemari? untuk menghentikan proses pembukaan segel? Percuma saja, sebentar lagi segel akan dilepas dan kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa”.

“Kalau begitu, kami harus segera kesana dan menghentikan proses itu”, ucap Yuto sambil memasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang musuh yang berada di hadapannya.

“Sia-sia saja. Karena aku disini akan menghentikan kalian untuk melangkah lebih jauh ke tempat segel. Kami, para prajurit kegelapan telah diperintahkan oleh para petinggi maou untuk menghentikan tikus-tikus kecil yang akan datang untuk mengganggu proses itu. Kalau kalian berniat pergi dari sini, maka aku akan membiarkan kalian pergi dan aku tidak akan menyakiti kalian. Tapi, kalau kalian berniat untuk tetap maju, maka aku akan menghentikan kalian disini. Nah, apa jawaban kalian? Mana yang akan kalian pilih?”.

Hikaru dan Yuto saling bertatapan. Mereka kemudian mengangguk bersamaan, “tentu saja jawaban kami adalah ini!”. Hikaru dan Yuto segera menyerang musuh yang ada dihadapan mereka.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar