Sabtu, 08 Agustus 2015

TEN KNIGHTS

PART 37

“Siapa disana?”, aku berseru pada sesuatu yang mendekat ke arah kami. Perlahan, suara itu semakin keras, dan getarannya makin terasa. Aku berdiri di depan Chinen berusaha untuk melindunginya.

“Are? Kenapa ada manusia disini? Bukankah lorong ini cukup dalam di bawah tanah?”, kata sosok itu dalam kegelapan. Aku bisa melihat ada seperti bayangan hitam yang mendekat ke arah kami. Perlahan bayangan itu semakin jelas, dan ternyata itu adalah sosok seorang pemuda. Badannya tinggi, rambutnya pirang, tubuhnya kurus, dan dia tidak membawa apapun. Sekilas dia tampak tidak membahayakan bagi kami.

“Kalian siapa?”, tanya pemuda itu pada kami. Matanya yang hitam, menatap kami dengan tajam. Saat dia semakin dekat, aku bisa mencium sesuatu yang berbau amis.

Chinen yang berdiri di belakangku, menarik belakang bajuku dengan pelan, “Ryochan, berhati-hatilah. Dia bukan manusia. Aku bisa merasakannya”, bisik Chinen ditelingaku.

“Kau benar, aku merasakan ada sesuatu yang lain dari dirinya”, aku terus mengamati pemuda itu.

“Kenapa kalian tidak menjawab? Siapa kalian?”, tanya pemuda itu sekali lagi.

“Bukankah lebih sopan kalau kau memberitahu kami siapa dirimu terlebih dahulu sebelum kau bertanya pada orang lain?”, seru Chinen.
Pemuda itu menepuk pelan jidat kepalanya, “Ah iya, kau benar. Warui na. Namaku Kamiyama Tomohiro, umurku 21 tahun, salah satu prajurit kegelapan. Kalian sendiri siapa?”. Aku dan Chinen terperanjat kaget mendengar ucapan pemuda itu. Kami sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan musuh di tempat seperti ini. Situasi ini benar-benar tidak menguntungkan bagi kami.

“Bagaimana ini Ryochan?”, bisik Chinen.

“Lebih baik kita berpura-pura saja dulu. Jangan beritahu dia kalau kita adalah salah satu ksatria. Lebih baik kita menghindar bertarung dengannya. Kalau kita bertarung disini sekarang, kita tidak akan bisa bertarung dengan maksimal”, jawabku sambil berbisik pada Chinen.

“Kok kalian tidak menjawab pertanyaanku? Aku kan sudah memperkenalkan diriku, berarti sekarang giliran kalian”, ucap pemuda itu lagi.
Aku menelan ludah, “Ah maaf, kami tadi hanya terkejut ketika ada orang yang lewat disini. Kupikir tidak akan ada satupun orang yang lewat disini. Perkenalkan, aku Yamada, dan dia Chinen. Kami tadi sedang berjalan-jalan diatas, lalu tiba-tiba ada lubang di tanah, kami berdua akhirnya terjatuh dan berada dilorong ini. Kami sama sekali tidak bisa naik lagi ke atas tanah. Jadi, kami memutuskan untuk berjalan mengikuti lorong ini untuk mencari pintu keluar”, kataku sambil berusaha keras membohongi pemuda itu.

“Ah begitu rupanya, kalian tersesat ya?”, ucap pemuda itu sambil menepuk kepalanya sekali lagi. “Maaf ya, kalian sampai terjatuh ke dalam sini. Aku yang membuat lorong ini, tapi aku sama sekali tidak menyangka akan ada manusia yang terjatuh ke dalam sini”, pemuda itu berjalan mendekati kami. Saat pemuda itu mendekat, bau amis tadi tercium semakin kuat. Aku semakin yakin kalau bau itu berasal dari pemuda yang berdiri di hadapanku ini. “Ikuti aku. Aku tahu jalan keluar dari lorong ini”.

Aku dan Chinen hanya menatap pemuda di hadapan kami dan tidak bergerak satupun. Sepertinya dia belum menyadari kalau kami adalah ksatria. Akan tetapi, bisakah kami mempercayai pemuda ini? Dia adalah salah satu prajurit kegelapan. Jika mendengar cerita Yabu dan Yuya yang pernah menghadapi mereka, mereka adalah maou yang cukup membahayakan dan merepotkan. Masing-masing dari mereka memiliki kemampuan yang unik. Kalau begitu, apa jenis kemampuan pemuda yang ada dihadapan kami ini?

Pemuda itu terus melangkah mendahului kami, kemudian dia berbalik melihat ke arah kami, “Sedang apa kalian? Kenapa kalian diam saja disana? Kalian tidak ingin keluar dari sini?”.

Aku dan Chinen saling bertatapan. Kami berdua ragu untuk mengikuti pemuda itu. Pemuda itu adalah musuh kami, benarkah dia ingin membantu kami keluar dari lorong ini? “Ryochan, bagaimana ini? Apakah kita akan mengikutinya?”, tanya Chinen.

“Lebih baik, kita mengikuti dia saja dulu. Sepertinya dia tidak tahu kalau kita adalah ksatria. Ini kesempatan bagus. Dengan mengikutinya, kita bisa keluar dari sini sekaligus menyelidiki lorong ini”, bisikku lagi.

“Tapi, kalau ternyata itu adalah jebakan, bagaimana?”

“Soal itu kita pikirkan nanti. Lebih baik sekarang kita berpura-pura menjadi orang yang tersesat saja. Kalau kita tidak mengikutinya sekarang, dia akan tambah curiga”.

“Baiklah, aku percaya padamu Ryochan”, kata Chinen.

Aku dan Chinen mulai berjalan mendekati pemuda itu. Kami akhirnya memutuskan mengikuti pemuda itu hingga keluar dari lorong ini. Sekali lagi, aku mengamati pemuda itu dari belakang. Dari luar, dia tampak seperti pemuda biasa. Aku tidak melihat dia membawa apapun. Lalu, bagaimana caranya dia bisa menggali lorong ini? Terlebih lagi, bau amis yang terus tercium dari tadi, bau apa itu sebenarnya? Kenapa bau itu bisa muncul dari pemuda ini?
Kami terus berjalan hingga akhirnya kami tiba di bagian lorong yang agak luas. Berbeda dengan lorong yang kami lewati sebelumnya, di lorong ini ada pencahayaan yang cukup sehingga kami bisa melihat dengan cukup jelas. Aku melihat ke sekeliling ruangan ini. Untuk apa sebenarnya ruangan ini?

“Nah, kalau disini kita bisa bertarung sesukanya kan, etto.....”, pemuda itu melihat kami dan sepertinya sedang mengingat sesuatu, “Yamanaka dan China?”.

“Yamada dan Chinen!”, seru kami ke arah pemuda itu.

“Ah iya, Yamada dan Chinen. Kupanggil Yamachii saja ya? Biar gampang. Atau mau kupanggil Yamanen? Atau Chida? Atau Chiyama?”.

“Huwaa....pemuda ini tampaknya bodoh”, gumam Chinen pelan.

“Terserah kau mau memanggil kami apa”, kataku. “Terlebih lagi, apa maksudmu dengan bertarung?”.

“Are? Bukankah itu yang akan kita lakukan? Tugas kalian para ksatria adalah bertarung melawan kami kan, para makhluk kegelapan?”, ucap pemuda itu santai. Kami berdua terperanjat kaget saat mendengar penjelasan pemuda itu.

“Bagaimana...kaubisa tahu?”, tanya Chinen.

“Sejak awal kalian masuk ke dalam sini, aku sudah mengetahuinya kok. Tidak hanya aku, semua petinggi maou juga sudah mengetahui kalau kalian ada disini. Oleh karena itu, aku diperintahkan oleh Queen untuk menghabisi kalian disini dan mencegah kalian untuk mencapai tempat segel”, kata pemuda itu.

Aku dan Chinen segera mundur selangkah, aku memegang gagang pedang milikku, sedangkan Chinen menyiapkan kedua tongkat miliknya. Kami berdua memasang sikap siaga.

“Menyerahlah, kalian tidak akan bisa menang melawanku”, pemuda itu lalu bersandar di dinding lorong dengan santai.

“Sombong sekali kau! Teman-teman kami, bisa mengalahkan sebagian prajurit kegelapan, tentu saja kami pun bisa”, seru Chinen.

“Ah, maksudmu, Shigeoka dan teman-temannya? Empat orang makhluk kegelapan yang sebelumnya diutus untuk membunuh kalian itu sangat lemah. Meskipun mereka adalah maou, dan kami juga sama-sama prajurit kegelapan, tingkat kekuatan kami sangat berbeda”.

“Apa maksudmu?”, tanyaku yang tidak mengerti dengan penjelasan barusan.

“Hmm, baiklah... akan kuberitahu kalian. Prajurit kegelapan semuanya ada 7. Kami adalah maou yang telah bersumpah setia pada para petinggi maou, King, Queen, dan Jack. Kami memiliki kemampuan khusus yang menyebabkan kami berbeda dengan maou lainnya. Di dalam prajurit kegelapan itu sendiri, kami dibagi menjadi dua. 3 maou terkuat di prajurit kegelapan, menjadi asisten pribadi para petinggi maou. Aku termasuk salah satu diantaranya. Aku adalah asisten pribadi dari Queen, sang ratu kegelapan. 4 maou yang telah dikalahkan oleh teman kalian itu tidak ada bedanya dengan maou biasa yang lain”, jelas pemuda itu.

“Queen?!?! si cewek menyebalkan itu??”, seru Chinen kesal. Dia teringat kembali pertemuannya dengan Queen. “Kalau begitu, aku akan mengalahkanmu dan berikutnya aku akan menghajar si Queen itu!”.

“Percuma. Kalian tidak akan bisa mengalahkanku”, kata pemuda itu dengan tenang.

“Kita tidak tahu kalau tidak dicoba kan?”, setelah berkata seperti itu, Chinen langsung menyerang maju. Dia mengarahkan kedua tongkatnya ke arah pemuda itu.

“Sudah kubilang kalau itu hanya tindakan yang sia-sia”, ucap pemuda itu tenang.

BRUAGH!! Tiba-tiba saja Chinen terpental jauh ke belakang. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.

“YURI!!”, aku berlari menghampiri Chinen yang terlempar ke belakang. ‘apa yang sebenarnya terjadi? Aku sama sekali tidak melihatnya menggerakkan badannya sekalipun. Bagaimana caranya dia menyerang Chinen’, pikirku. Aku memeriksa tubuh Chinen dengan seksama. Ada bekas hantaman keras di tubuhnya. Selain itu, aku bisa menduga kalau ada beberapa tulang rusuknya yang patah.

“Tuh kan, kubilang juga apa. Kalian tidak akan bisa mengalahkanku”, ucap pemuda itu dengan santai.

“Ry...Ryochan....”, lirih Chinen pelan, tampaknya dia mulai sadar kembali. “Ce...cepat pe...pergi dari... sini....Dia.... sangat kuat”.

“Apa yang kau katakan??”, kataku. “Tenanglah, aku akan menggunakan kemampuanku untuk menolongmu”, aku bersiap menggunakan kemampuanku untuk menolong Chinen. Tiba-tiba aku merasakan hawa membunuh yang sangat kuat terasa di belakangku. Ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat maou itu telah berdiri dibelakangku. Tangannya mengarah ke kepalaku. Aku sama sekali tidak punya waktu untuk melarikan diri. Aku memejamkan mataku. Selang berapa lama, aku sama sekali tidak merasakan ada sesuatu yang mengenai tubuhku.

Aku merasa ada sesuatu yang menetes mengenai wajahku. Kubuka mataku untuk melihatnya. Betapa terkejutnya aku ketika melihat Chinen berdiri di hadapanku. Aku bisa melihat tangan pemuda itu menembus badannya. Darahnya mengucur dari luka tusukan itu.

“Yu...Yuri, apa yang kau lakukan?”.

“Ah, kau baik-baik saja Ryochan? Syukurlah....”, Chinen melihat ke arahku sambil tersenyum. Pemuda itu melepaskan tangannya dari tubuh Chinen. Chinen langsung jatuh tersungkur.

“YURI!!YURI!!!”, aku memanggil Chinen berulang kali. Mukanya semakin pucat. Darahnya terus mengalir keluar dari luka tersebut. “Tenanglah Yuri, aku akan segera menolongmu”. Aku segera menggunakan kemampuanku untuk menutup lukanya.

“Tidak akan kubiarkan kau melakukan hal itu”, pemuda itu mendekat dan mengarahkan tendangannya ke arahku. Aku tidak sempat menghindarinya sehingga aku terpental cukup jauh dari Chinen. Aku merasa seluruh tubuhku remuk dan beberapa tulangku ada yang patah. Aku seperti sudah dihantam oleh sesuatu yang sangat berat. Padahal, pemuda itu cukup kurus.

Pemuda itu berjalan menghampiri Chinen yang terbaring tidak sadarkan diri. “Aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja setelah kau menghina Queen”.
“Kau mau membawanya kemana??”, teriakku saat melihat pemuda itu mengangkat Chinen dan membawanya pergi. Aku berusaha menggerakkan badanku, tapi badanku sama sekali tidak mau bergerak.

“Percuma saja. Saat ini, seluruh tulang di tubuhmu sudah kuremukkan. Kau tidak akan bisa bergerak dengan bebas. Tenang saja, aku akan menggantikanmu untuk mengawasi cewek ini”, kata pemuda itu sambil berjalan pergi membawa Chinen yang tidak sadarkan diri. Aku hanya bisa melihat Chinen yang dibawa pergi oleh pemuda itu.

“SIIAAAALLLLLLL!!!!!!!”, suara teriakanku menggema di dalam lorong.

Dalam perjalanan menuju tempat segel, Yabu dkk.

Dengan bantuan Keito, mereka menuju ke tempat segel. Sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan timbunan mayat makhluk kegelapan yang bergelimpangan. Beberapa diantaranya tercerai berai. Pohon-pohon banyak yang tumbang, tanah pun retak dan terbelah. Disana sini terlihat ada bekas pertarungan.

“Hei, coba lihat itu!”, Inoo menunjuk ke arah timbunan mayat makhluk kegelapan.

“Ya. Kurasa itu perbuatan Hikaru dan yang lain. Mereka membasmi semua makhluk kegelapan yang menyerang mereka tanpa ampun”, ucap Yabu sambil melihat ke sekeliling.

“Berkat mereka, kita bisa melalui jalan ini tanpa halangan. Ayo kita segera pergi dari sini dan menyusul mereka. Mereka pasti akan sangat membutuhkan bantuan kita”, kata Inoo.

“Kurasa tidak akan semudah itu”, kata Keito saat melihat bola kristal miliknya. “Kita kedatangan tamu”.

“Benar kata temanmu, kalian tidak akan semudah itu melewati jalan ini. Terlebih lagi, melewatiku”, terdengar suara dari arah semak-semak. Ada sebuah sosok yang mendekat ke arah kami. Sosok itu seperti seorang pria dewasa dengan pakaiannya yang rapi. “Aku tidak akan membiarkan satupun dari kalian melewati jalan ini”.

Di tempat lain, Hikaru dan Yuto.

“Wah, hanya segini kemampuan kalian? Kupikir kalian lebih tangguh dari itu”, ucap pemuda itu dengan senyum mengejek melihat Hikaru dan Yuto yang tersungkur ditanah.

“Yuto, kau baik-baik saja?”, tanya Hikaru.

“Ya. Tidak usah khawatir. Lebih baik kita pikirkan saja bagaimana cara melawan dia. Kemampuannya sangat merepotkan”.

“Kemampuanku sama sekali tidak bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaannya. Dia tidakmenimbulkan bunyi sama sekali saat bergerak, dia bergerak menggunakan bayangannya sehingga aku sama sekali tidak bisa memprediksi arah serangannya”.

“Aku juga sama. Aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya. Tapi, dia berkali-kali bisa menyerang kita dengan menggunakan bayangan dirinya dari arah yang tidak kita duga. Kalau terus seperti ini, kita akan kalah. Kau tidak punya cara untuk menghadapinya?”.

“Kita harus melakukan sesuatu terhadap bayangan itu. Kita harus menghentikannya menggunakan kemampuannya yang sangat merepotkan itu. Kalau dia tidak bisa menggunakan bayangannya, maka kita bisa menyerangnya”.

“Sedang apa kalian bisik-bisik disitu?”, tanya pemuda itu lagi. “Aku tadi sudah memperingatkan kalian kan? Salah kalian sendiri yang tidak mau mendengarkanku. Jika kalian ingin melarikan diri, itu sudah terlambat. Aku tidak akan membiarkan kalian lari”.

Di dalam kediaman Jack, Daiki dan Yuya.

Daiki.... daiki......”, terdengar sebuah suara sedang memanggil Daiki. Daiki yang sedang tertidur pun terbangun. Dia mulai membuka matanya.

 “Ah, kau sudah bangun? Bagaimana kondisi tubuhmu? Sudah merasa lebih baik?”, tanya Yuya.

“Kau tadi memanggilku?”

“Tidak kok. Aku tidak berani membangunkanmu”, jawab Yuya keheranan.

“Lalu,suara siapa tadi?”, gumam Daiki yang kebingungan.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar