Minggu, 19 April 2015

AKUMA NO YOROI

Part 3

Keito tidak bisa merasa tenang saat mengikuti pelajaran. Dia terus terbayang dengan ucapan Chii saat mereka memasuki sekolah tadi. ‘Keito-sama, aku mencium bau demon yang sama dengan bau demon yang kita temui kemarin’. Keito menatap buku pelajarannya sambil menghela nafas panjang.

“Okamoto. Apa jawabannya?”

Keito tersentak kaget saat mendengar namanya dipanggil. Dia langsung melihat ke arah gurunya yang kini menatapnya, menunggu jawaban yang dilontarkan olehnya. Dia langsung melihat ke arah bukunya dengan panik. Dia sama sekali tidak mendengar perkataan gurunya. Keito merasa keringat dinginnya keluar, gurunya ini terkenal galak dan suka memberi nilai minus pada muridnya.

“Hal 94, nomor 1”

Juri yang duduk di belakangnya memberitahunya. Keito langsung membuka halaman yang dimaksud dan mulai membaca soal nomor satu.

“Ada apa Okamoto? Apa jawabannya?”, tanya sang guru yang sudah mulai tidak sabar.

“Emm... jumlah neutron yang tersisa adalah 9”, jawab Keito mantap.

Guru IPA yang galak itu langsung tersenyum. Keito menghela nafas lega begitu melihat ekspresi gurunya itu. Untunglah dia masih bisa menjawab soal itu. Dia melirik ke arah belakang sekilas, ke arah Juri yang duduk di belakangnya.

“Arigatou”, ucap Keito pelan. Juri tersenyum sekilas.

Keito kembali memusatkan perhatiannya ke pelajaran. Dia berusaha melupakan sejenak ucapan Chii tadi. Lebih baik berkonsentrasi pada pelajarannya dulu. Dia tidak ingin kejadian tadi terulang. Untung dia masih bisa menjawab pertanyaan itu. Kalau tidak, nilainya kini pasti sudah terancam. Keito tidak ingin peringkatnya turun gara-gara ini. Dia bisa bersekolah disini karena mendapat beasiswa. Jika peringkatnya turun dari peringkat satu, maka beasiswanya akan dicabut.

---***---
“Hah... yang tadi hampir saja”, ucap Keito sambil menyandarkan tubuhnya ke kursinya.

“Kau kenapa? Tidak biasanya kau melamun di tengah pelajaran. Apalagi pada saat pelajaran Ueda sensei”, tanya Juri.

“Hmm... ada yang kupikirkan tadi”, jawab Keito singkat.

“Ahh... aku lapar. Ayo kita ke kantin”, ajak Juri.

“Tapi aku bawa bekal sendiri”

Keito mengangkat kotak bekalnya yang terbungkus rapi. Bekal yang selalu disiapkan oleh Yama untuknya setiap hari. Tapi Keito tidak pernah tahu apakah Yama memasak sendiri makanan itu atau tidak. Makanan sudah siap tersedia saat makan. Keito hanya tinggal menyantapnya saja.

“Aku tahu... makanya temani aku makan di kantin”

Juri menarik tangan Keito. Mau tidak mau, Keito mengikuti Juri ke kantin. Tidak lupa, Keito membawa Chii yang menjadi gantungan kunci di sakunya.

“Apa itu?”, tanya Juri sambil menunjuk saku Keito. Juri langsung merogoh saku Keito dan mengambil benda yang ada di dalamnya. “Uwaahh... gantungan kunci yang imut sekali. Tidak kusangka kau suka barang-barang imut seperti ini”. Juri mengamati gantungan kunci rubah itu dengan seksama.

“Kembalikan”, seru Keito sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil kembali gantungan kunci Chii yang dipegang oleh Juri. Tapi Juri malah mengulurkan tangannya lebih jauh lagi agar tidak terjangkau oleh tangan Keito. terjadi persaingan sengit di antara keduanya. Keito ingin segera mengambil kembali Chii, tapi Juri malah menggoda Keito.

BRUK! Tanpa disadari keduanya. Mereka menabrak seseorang di dekat tangga.  BRAK! BRUK! BRAK! Terdengar bunyi benda yang jatuh berurutan dengan keras. Keito dan Juri langsung terdiam terpaku di dekat tangga. Mereka bisa melihat ada seseorang yang jatuh bersama dengan beberapa buku. Orang itu kini terkapar di tangga.

“Uwah!!! Hime-sama (tuan putri) ! Hime-sama jatuh!”, seru seseorang yang berada dekat dengan orang yang terbaring jatuh di tangga tersebut. Orang-orang yang berada di sekitar situ langsung berkerumun di tangga untuk melihat apa yang terjadi.

“Siapa? Eh, benarkah itu? hime-sama jatuh?”

Keito bisa mendengar suara bisikan beberapa orang yang berkerumun tersebut. Beberapa orang melihat Keito dan Juri dengan pandangan sinis. Keito merasa terpojok dengan keadaan ini. Karena kesalahannya lah orang yang disebut ‘Hime-sama’ itu jatuh.

“Uwah gawat. Kita menabrak Hime-sama. Kita dalam bahaya”, bisik Juri panik.

“Ngomong-ngomong, siapa ‘Hime –sama’ ini? ini kan sekolah khusus putra. Tidak mungkin ada perempuan yang bersekolah disini kan?”, tanya Keito.

Beberapa orang yang ada di sekitar Keito langsung melotot. Juri menatap Keito dengan pandangan memelas. Keito bisa membaca raut muka Juri yang mengatakan ‘baka’. Dia melihat ke arah orang yang jatuh itu yang kini sudah sadar kembali. Keito sangat terkejut begitu melihat wajah orang itu. mukanya cantik sekali seperti perempuan. Keito bahkan sempat lupa kalau orang berwajah cantilk itu adalah laki-laki.

“Dialah ‘Hime-sama’. Nama aslinya adalah Inoo Kei. Murid kelas tiga sekolah ini. Karena mukanya yang sangat cantik seperti perempuan, orang-orang mulai memanggilnya Hime-sama”, ucap seseorang dari arah belakang Keito.

“Yugo! Kau mengagetkanku saja”, kaget Keito saat melihat salah satu teman sekelasnya berdiri di belakangnya.

“Keito, lebih baik setelah ini kau berdoa semoga tidak ada nasib buruk yang menimpamu. Hime-sama memiliki banyak penggemar di sekolah ini. Kau tidak bisa lolos begitu saja karena sudah membuat Hime-sama jatuh”, ucap pemuda yang bernama Yugo lagi.

Keito menelan ludahnya. Dia bisa mengerti apa yang diucapkan Yugo. Beberapa orang dengan sukarela membantu Inoo senpai berdiri dan merapikan buku yang tercecer. Beberapa orang yang tersisa melihat ke arahnya dengan pandangan kesal. Mereka mulai mendekat ke arah Keito dan Juri. Mata mereka seakan hewan buas yang telah menyudutkan mangsanya dan tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.

“Hei kau! Ayo minta maaf pada Hime-sama! Kau sudah mencelakainya!”

“Benar! Kalian berdua sudah berbuat salah!”

“Iya benar! Ayo cepat minta maaf!”

Orang-orang yang berkerumun di dekat Keito dan Juri terus mengatakan hal yang sama. Seolah-olah mereka menyalahkan apa yang terjadi pada mereka berdua. Keito semakin merasa bersalah. Karena tindakannya, dia sudah mencelakai seseorang. Seseorang mulai mendorong Juri hingga menabrak dinding. Seorang lagi kini mencengkeram kerah baju Keito.

“Hentikan, kalian semua! Aku tidak apa-apa. Jangan sudutkan mereka. aku baik-baik saja”

Inoo kini sudah kembali berdiri. Suaranya yang lembut langsung menghentikan perbuatan murid-murid yang mengerumuni Keito dan Juri. Keito bisa melihat raut muka Inoo yang tampak baik-baik saja. Tubuhnya pun tidak terluka. Dalam hati dia merasa lega karena Inoo tidak terluka parah karena kecelakaan tadi.

“Tapi, Hime-sama... mereka berdua sudah mendorong anda”, jawab seseorang yang masih memegang kerah baju Keito.

“Aku tidak apa-apa. Mereka berdua tidak sengaja. Kalian semua berlebihan. Cepat lepaskan mereka”, perintah Inoo. Mukanya yang cantik dan tubuhnya yang kurus membuat penampilannya seperti seorang perempuan. Terlebih lagi, gaya bicara dan tingkahnya yang anggun membuatnya tampak seperti seorang putri. Keito mengerti kenapa orang-orang memanggilnya ‘Hime-sama’.

“Tapi...”, orang-orang yang mengerumuni Keito dan Juri tampak berat hati untuk melepaskan mereka berdua. Mereka masih berdiri mengerumuni Keito dan Juri, seakan tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.

“Ada apa ini? minggir semua! Jangan menghalangi jalanku”

Orang-orang yang ada disana langsung memasang wajah takut ketika melihat sang pemilik suara tadi. Keito melihat ke asal suara, ada seorang laki-laki tinggi berdiri disana, berambut panjang sebahu dan berwarna coklat kemerahan (ralat ya... kemarin aku nulisnya rambutnya pirang. Sekarang kuganti coklat saja. moga kalian g keberatan). Sorot matanya tampak seperti seekor singa. Beberapa orang langsung minggir dan memberi jalan pada orang itu. Kerumunan orang yang ada di lorong sekolah itu langsung bubar seketika. Orang itu lalu berjalan dengan tenang melewati kerumunan orang tersebut. Berkat orang itu, Keito dan Juri bisa lepas dari kerumunan para fans Hime-sama.

“Uwah... berkat dia kita bisa selamat”, bisik Juri lega.

“Nee... siapa orang itu?”

Juri melihat ke arah Keito dengan heran. “Kau ini... masa kau tidak mengenalnya? Seluruh sekolah tahu siapa dia”. Keito menggeleng. Juri mendesah pelan, dia tidak menyangka kalau temannya sekuper ini. “Dia adalah ketua geng sekolah ini, Takaki Yuya, murid kelas 3. Rumor bilang kalau dia juga menguasai wilayah ini”

“Oh...”, gumam Keito pelan. Dia memang merasakan sesuatu yang lain saat melihat sorot mata Takaki senpai itu. Dalam hati kecilnya, dia merasa sangat takut. Dia merasa kalau Takaki itu bukan manusia sembarangan.

Keito melihat ke arah Inoo yang kini mulai membereskan buku yang berceceran di tangga. Keito berjalan menghampirinya untuk meminta maaf atas perbuatannya.

“Maafkan aku. Aku tidak sengaja menabrak anda, err... Hime-sama”

Inoo menatap Keito lekat-lekat. Juri kemudian datang dan ikut meminta maaf bersama dengan Keito. Suasana menjadi sangat hening. Keito merasa sangat takut melihat reaksi Inoo. Dia melirik Inoo dengan takut-takut.

Inoo tersenyum lembut melihat ke arah keduanya. “Tidak apa. Maafkan mereka ya”. Inoo menunjuk ke arah kerumunan murid yang terkumpul disana.

“Itu juga salahmu Inoo... kau membawa buku segitu banyaknya hingga kau tidak bisa melihat jalan yang ada di depanmu”.

Keito menoleh. Seorang pemuda muncul diantara mereka. Dia mengambil beberapa tumpuk buku yang ada di tangan Inoo. Dari badge kelasnya, Keito tahu kalau pemuda ini adalah murid kelas 3.

“Yabu-kun, terima kasih”, ucap Inoo sambil tersenyum. Inoo kemudian mengambil sisa buku yang terjatuh. “Kalian berdua juga, tidak usah dipikirkan ya”. Inoo tersenyum ke arah mereka berdua. Setelah itu, Inoo berlalu pergi meninggalkan mereka bersama pemuda yang dipanggil ‘Yabu-kun’ itu tadi.

Kerumunan orang yang berkumpul mulai membubarkan diri. Keito merasa lega karena kini mereka bisa bernafas dengan tenang. Dia juga lega karena bekalnya tidak berantakan meskipun orang-orang itu sempat mendorongnya. Keito kemudian menyadari sesuatu yang penting. Penyebab dari semua kejadian ini.

“Juri, mana gantungan kunciku?”

Juri menatap ke kedua tangannya. Kosong. Dia merogoh seluruh saku bajunya, tapi gantungan kunci berbentuk rubah itu tidak ditemukan dimanapun.

“Gomen Keito...tampaknya gantungan kunci itu terlepas dari tanganku saat orang-orang itu mendorongku. Aku tidak tahu dimana benda itu sekarang”

Keito langsung panik mendengar jawaban Juri. Dia langsung melihat ke lantai dan mencari Chii di setiap sudut. Dia merasa takut kehilangan Chii. Juri pun membantunya mencari gantungan kunci itu. bagaimanapun juga itu juga termasuk kesalahannya.

“Maaf, apa kau sedang mencari ini?”

Ada sebuah tangan terulur ke arah Keito. Keito merasa sangat gembira saat melihat Chii yang berada di tangan tersebut. Keito langsung meraih Chii dan memegangnya erat-erat.

“Terima kasih”, Keito melihat ke arah sang pemilik tangan. “Emm... Nakajima-san?”

Pemuda yang dipanggil Nakajima itu tersenyum. “aku memungutnya tergeletak disana. Lalu kulihat kau sedang mencari sesuatu. Jadi kupikir kalau benda ini yang kau cari. Untunglah aku mengambilnya”.

“Benar. Ini milikku. Terima kasih banyak”, balas Keito lagi sambil menundukkan kepalanya.

“Sama-sama. Berhati-hatilah, jangan sampai hilang lagi ya”

Pemuda yang dipanggil Nakajima itu kemudian berlalu pergi. Badannya yang tinggi membuatnya cukup mencolok di kalangan para murid. Keito mengenalnya karena mereka berdua berada dalam klub yang sama, klub musik. Keito jarang berbicara dengannya. Apalagi mereka berdua berbeda kelas. Tapi Keito tahu kalau Nakajima itu orangnya baik dan ramah.

“Chii maafkan aku ya...”, bisik Keito pelan ke arah Chii.

“Huwaa... Keito-sama... saya takut sekali tadi”, rengek Chii.

“Sudah. Sekarang sudah tidak apa-apa Chii. Maaf ya kau sampai terlempar dariku”

“Keito-sama... tadi, sesaat saya merasakan ada demon di sekitar sini”

Keito terbelalak kaget mendengar ucapan Chii. “Apa maksudmu? Tadi ada demon disini? Apakah sama dengan demon yang kemarin?”

Chii mengangguk mantap. “Benar Keito-sama. Saya merasakannya tadi. Tapi saya tidak tahu yang mana demon itu karena banyak orang yang berkumpul disini tadi. Sedangkan aura yang saya rasakan tadi cukup lemah dan samar-samar, sehingga saya tidak tahu persis yang mana demon tersebut”

Keito merasa tidak tenang. Ada demon yang berkumpul pada saat keramaian tadi. Apakah demon itu datang untuk mengincarnya? Apa tujuan demon itu datang kemari?

---***---
“Tidak kusangka, aku akan kontak langsung dengannya. Baru kali ini aku melihatnya dari jarak dekat”

“Berhati-hatilah. Dia tidak sendirian, si rubah cilik itu juga ada bersamanya. Kau tidak akan menang melawannya”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar