Keito tidak bisa merasa tenang
saat mengikuti pelajaran. Dia terus terbayang dengan ucapan Chii saat mereka
memasuki sekolah tadi. ‘Keito-sama, aku mencium bau demon yang sama dengan bau
demon yang kita temui kemarin’. Keito menatap buku pelajarannya sambil menghela
nafas panjang.
“Okamoto. Apa jawabannya?”
Keito tersentak kaget saat
mendengar namanya dipanggil. Dia langsung melihat ke arah gurunya yang kini
menatapnya, menunggu jawaban yang dilontarkan olehnya. Dia langsung melihat ke
arah bukunya dengan panik. Dia sama sekali tidak mendengar perkataan gurunya.
Keito merasa keringat dinginnya keluar, gurunya ini terkenal galak dan suka
memberi nilai minus pada muridnya.
“Hal 94, nomor 1”
Juri yang duduk di belakangnya
memberitahunya. Keito langsung membuka halaman yang dimaksud dan mulai membaca
soal nomor satu.
“Ada apa Okamoto? Apa
jawabannya?”, tanya sang guru yang sudah mulai tidak sabar.
“Emm... jumlah neutron yang
tersisa adalah 9”, jawab Keito mantap.
Guru IPA yang galak itu langsung
tersenyum. Keito menghela nafas lega begitu melihat ekspresi gurunya itu.
Untunglah dia masih bisa menjawab soal itu. Dia melirik ke arah belakang
sekilas, ke arah Juri yang duduk di belakangnya.
“Arigatou”, ucap Keito pelan.
Juri tersenyum sekilas.
Keito kembali memusatkan
perhatiannya ke pelajaran. Dia berusaha melupakan sejenak ucapan Chii tadi.
Lebih baik berkonsentrasi pada pelajarannya dulu. Dia tidak ingin kejadian tadi
terulang. Untung dia masih bisa menjawab pertanyaan itu. Kalau tidak, nilainya
kini pasti sudah terancam. Keito tidak ingin peringkatnya turun gara-gara ini.
Dia bisa bersekolah disini karena mendapat beasiswa. Jika peringkatnya turun
dari peringkat satu, maka beasiswanya akan dicabut.
---***---
“Hah... yang tadi hampir saja”,
ucap Keito sambil menyandarkan tubuhnya ke kursinya.
“Kau kenapa? Tidak biasanya kau
melamun di tengah pelajaran. Apalagi pada saat pelajaran Ueda sensei”, tanya
Juri.
“Hmm... ada yang kupikirkan
tadi”, jawab Keito singkat.
“Ahh... aku lapar. Ayo kita ke
kantin”, ajak Juri.
“Tapi aku bawa bekal sendiri”
Keito mengangkat kotak bekalnya
yang terbungkus rapi. Bekal yang selalu disiapkan oleh Yama untuknya setiap
hari. Tapi Keito tidak pernah tahu apakah Yama memasak sendiri makanan itu atau
tidak. Makanan sudah siap tersedia saat makan. Keito hanya tinggal menyantapnya
saja.
“Aku tahu... makanya temani aku
makan di kantin”
Juri menarik tangan Keito. Mau
tidak mau, Keito mengikuti Juri ke kantin. Tidak lupa, Keito membawa Chii yang
menjadi gantungan kunci di sakunya.
“Apa itu?”, tanya Juri sambil
menunjuk saku Keito. Juri langsung merogoh saku Keito dan mengambil benda yang
ada di dalamnya. “Uwaahh... gantungan kunci yang imut sekali. Tidak kusangka
kau suka barang-barang imut seperti ini”. Juri mengamati gantungan kunci rubah
itu dengan seksama.
“Kembalikan”, seru Keito sambil
mengulurkan tangannya untuk mengambil kembali gantungan kunci Chii yang
dipegang oleh Juri. Tapi Juri malah mengulurkan tangannya lebih jauh lagi agar
tidak terjangkau oleh tangan Keito. terjadi persaingan sengit di antara
keduanya. Keito ingin segera mengambil kembali Chii, tapi Juri malah menggoda
Keito.
BRUK! Tanpa disadari keduanya.
Mereka menabrak seseorang di dekat tangga.
BRAK! BRUK! BRAK! Terdengar bunyi benda yang jatuh berurutan dengan
keras. Keito dan Juri langsung terdiam terpaku di dekat tangga. Mereka bisa
melihat ada seseorang yang jatuh bersama dengan beberapa buku. Orang itu kini
terkapar di tangga.
“Uwah!!! Hime-sama (tuan putri) !
Hime-sama jatuh!”, seru seseorang yang berada dekat dengan orang yang terbaring
jatuh di tangga tersebut. Orang-orang yang berada di sekitar situ langsung
berkerumun di tangga untuk melihat apa yang terjadi.
“Siapa? Eh, benarkah itu?
hime-sama jatuh?”
Keito bisa mendengar suara
bisikan beberapa orang yang berkerumun tersebut. Beberapa orang melihat Keito
dan Juri dengan pandangan sinis. Keito merasa terpojok dengan keadaan ini.
Karena kesalahannya lah orang yang disebut ‘Hime-sama’ itu jatuh.
“Uwah gawat. Kita menabrak
Hime-sama. Kita dalam bahaya”, bisik Juri panik.
“Ngomong-ngomong, siapa ‘Hime
–sama’ ini? ini kan sekolah khusus putra. Tidak mungkin ada perempuan yang
bersekolah disini kan?”, tanya Keito.
Beberapa orang yang ada di
sekitar Keito langsung melotot. Juri menatap Keito dengan pandangan memelas.
Keito bisa membaca raut muka Juri yang mengatakan ‘baka’. Dia melihat ke arah
orang yang jatuh itu yang kini sudah sadar kembali. Keito sangat terkejut
begitu melihat wajah orang itu. mukanya cantik sekali seperti perempuan. Keito
bahkan sempat lupa kalau orang berwajah cantilk itu adalah laki-laki.
“Dialah ‘Hime-sama’. Nama aslinya
adalah Inoo Kei. Murid kelas tiga sekolah ini. Karena mukanya yang sangat
cantik seperti perempuan, orang-orang mulai memanggilnya Hime-sama”, ucap
seseorang dari arah belakang Keito.
“Yugo! Kau mengagetkanku saja”,
kaget Keito saat melihat salah satu teman sekelasnya berdiri di belakangnya.
“Keito, lebih baik setelah ini
kau berdoa semoga tidak ada nasib buruk yang menimpamu. Hime-sama memiliki
banyak penggemar di sekolah ini. Kau tidak bisa lolos begitu saja karena sudah
membuat Hime-sama jatuh”, ucap pemuda yang bernama Yugo lagi.
Keito menelan ludahnya. Dia bisa
mengerti apa yang diucapkan Yugo. Beberapa orang dengan sukarela membantu Inoo
senpai berdiri dan merapikan buku yang tercecer. Beberapa orang yang tersisa
melihat ke arahnya dengan pandangan kesal. Mereka mulai mendekat ke arah Keito
dan Juri. Mata mereka seakan hewan buas yang telah menyudutkan mangsanya dan
tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.
“Hei kau! Ayo minta maaf pada
Hime-sama! Kau sudah mencelakainya!”
“Benar! Kalian berdua sudah
berbuat salah!”
“Iya benar! Ayo cepat minta
maaf!”
Orang-orang yang berkerumun di
dekat Keito dan Juri terus mengatakan hal yang sama. Seolah-olah mereka
menyalahkan apa yang terjadi pada mereka berdua. Keito semakin merasa bersalah.
Karena tindakannya, dia sudah mencelakai seseorang. Seseorang mulai mendorong
Juri hingga menabrak dinding. Seorang lagi kini mencengkeram kerah baju Keito.
“Hentikan, kalian semua! Aku
tidak apa-apa. Jangan sudutkan mereka. aku baik-baik saja”
Inoo kini sudah kembali berdiri.
Suaranya yang lembut langsung menghentikan perbuatan murid-murid yang
mengerumuni Keito dan Juri. Keito bisa melihat raut muka Inoo yang tampak
baik-baik saja. Tubuhnya pun tidak terluka. Dalam hati dia merasa lega karena
Inoo tidak terluka parah karena kecelakaan tadi.
“Tapi, Hime-sama... mereka berdua
sudah mendorong anda”, jawab seseorang yang masih memegang kerah baju Keito.
“Aku tidak apa-apa. Mereka berdua
tidak sengaja. Kalian semua berlebihan. Cepat lepaskan mereka”, perintah Inoo.
Mukanya yang cantik dan tubuhnya yang kurus membuat penampilannya seperti
seorang perempuan. Terlebih lagi, gaya bicara dan tingkahnya yang anggun
membuatnya tampak seperti seorang putri. Keito mengerti kenapa orang-orang
memanggilnya ‘Hime-sama’.
“Tapi...”, orang-orang yang
mengerumuni Keito dan Juri tampak berat hati untuk melepaskan mereka berdua. Mereka
masih berdiri mengerumuni Keito dan Juri, seakan tidak akan membiarkan mereka
lolos begitu saja.
“Ada apa ini? minggir semua!
Jangan menghalangi jalanku”
Orang-orang yang ada disana
langsung memasang wajah takut ketika melihat sang pemilik suara tadi. Keito
melihat ke asal suara, ada seorang laki-laki tinggi berdiri disana, berambut
panjang sebahu dan berwarna coklat kemerahan (ralat ya... kemarin aku nulisnya
rambutnya pirang. Sekarang kuganti coklat saja. moga kalian g keberatan). Sorot
matanya tampak seperti seekor singa. Beberapa orang langsung minggir dan
memberi jalan pada orang itu. Kerumunan orang yang ada di lorong sekolah itu
langsung bubar seketika. Orang itu lalu berjalan dengan tenang melewati
kerumunan orang tersebut. Berkat orang itu, Keito dan Juri bisa lepas dari
kerumunan para fans Hime-sama.
“Uwah... berkat dia kita bisa
selamat”, bisik Juri lega.
“Nee... siapa orang itu?”
Juri melihat ke arah Keito dengan
heran. “Kau ini... masa kau tidak mengenalnya? Seluruh sekolah tahu siapa dia”.
Keito menggeleng. Juri mendesah pelan, dia tidak menyangka kalau temannya
sekuper ini. “Dia adalah ketua geng sekolah ini, Takaki Yuya, murid kelas 3.
Rumor bilang kalau dia juga menguasai wilayah ini”
“Oh...”, gumam Keito pelan. Dia
memang merasakan sesuatu yang lain saat melihat sorot mata Takaki senpai itu.
Dalam hati kecilnya, dia merasa sangat takut. Dia merasa kalau Takaki itu bukan
manusia sembarangan.
Keito melihat ke arah Inoo yang
kini mulai membereskan buku yang berceceran di tangga. Keito berjalan
menghampirinya untuk meminta maaf atas perbuatannya.
“Maafkan aku. Aku tidak sengaja
menabrak anda, err... Hime-sama”
Inoo menatap Keito lekat-lekat.
Juri kemudian datang dan ikut meminta maaf bersama dengan Keito. Suasana
menjadi sangat hening. Keito merasa sangat takut melihat reaksi Inoo. Dia
melirik Inoo dengan takut-takut.
Inoo tersenyum lembut melihat ke
arah keduanya. “Tidak apa. Maafkan mereka ya”. Inoo menunjuk ke arah kerumunan
murid yang terkumpul disana.
“Itu juga salahmu Inoo... kau
membawa buku segitu banyaknya hingga kau tidak bisa melihat jalan yang ada di
depanmu”.
Keito menoleh. Seorang pemuda
muncul diantara mereka. Dia mengambil beberapa tumpuk buku yang ada di tangan
Inoo. Dari badge kelasnya, Keito tahu kalau pemuda ini adalah murid kelas 3.
“Yabu-kun, terima kasih”, ucap
Inoo sambil tersenyum. Inoo kemudian mengambil sisa buku yang terjatuh. “Kalian
berdua juga, tidak usah dipikirkan ya”. Inoo tersenyum ke arah mereka berdua.
Setelah itu, Inoo berlalu pergi meninggalkan mereka bersama pemuda yang
dipanggil ‘Yabu-kun’ itu tadi.
Kerumunan orang yang berkumpul
mulai membubarkan diri. Keito merasa lega karena kini mereka bisa bernafas
dengan tenang. Dia juga lega karena bekalnya tidak berantakan meskipun
orang-orang itu sempat mendorongnya. Keito kemudian menyadari sesuatu yang
penting. Penyebab dari semua kejadian ini.
“Juri, mana gantungan kunciku?”
Juri menatap ke kedua tangannya.
Kosong. Dia merogoh seluruh saku bajunya, tapi gantungan kunci berbentuk rubah
itu tidak ditemukan dimanapun.
“Gomen Keito...tampaknya
gantungan kunci itu terlepas dari tanganku saat orang-orang itu mendorongku.
Aku tidak tahu dimana benda itu sekarang”
Keito langsung panik mendengar
jawaban Juri. Dia langsung melihat ke lantai dan mencari Chii di setiap sudut.
Dia merasa takut kehilangan Chii. Juri pun membantunya mencari gantungan kunci
itu. bagaimanapun juga itu juga termasuk kesalahannya.
“Maaf, apa kau sedang mencari
ini?”
Ada sebuah tangan terulur ke arah
Keito. Keito merasa sangat gembira saat melihat Chii yang berada di tangan
tersebut. Keito langsung meraih Chii dan memegangnya erat-erat.
“Terima kasih”, Keito melihat ke
arah sang pemilik tangan. “Emm... Nakajima-san?”
Pemuda yang dipanggil Nakajima
itu tersenyum. “aku memungutnya tergeletak disana. Lalu kulihat kau sedang
mencari sesuatu. Jadi kupikir kalau benda ini yang kau cari. Untunglah aku
mengambilnya”.
“Benar. Ini milikku. Terima kasih
banyak”, balas Keito lagi sambil menundukkan kepalanya.
“Sama-sama. Berhati-hatilah,
jangan sampai hilang lagi ya”
Pemuda yang dipanggil Nakajima
itu kemudian berlalu pergi. Badannya yang tinggi membuatnya cukup mencolok di
kalangan para murid. Keito mengenalnya karena mereka berdua berada dalam klub
yang sama, klub musik. Keito jarang berbicara dengannya. Apalagi mereka berdua
berbeda kelas. Tapi Keito tahu kalau Nakajima itu orangnya baik dan ramah.
“Chii maafkan aku ya...”, bisik
Keito pelan ke arah Chii.
“Huwaa... Keito-sama... saya
takut sekali tadi”, rengek Chii.
“Sudah. Sekarang sudah tidak
apa-apa Chii. Maaf ya kau sampai terlempar dariku”
“Keito-sama... tadi, sesaat saya
merasakan ada demon di sekitar sini”
Keito terbelalak kaget mendengar
ucapan Chii. “Apa maksudmu? Tadi ada demon disini? Apakah sama dengan demon
yang kemarin?”
Chii mengangguk mantap. “Benar
Keito-sama. Saya merasakannya tadi. Tapi saya tidak tahu yang mana demon itu
karena banyak orang yang berkumpul disini tadi. Sedangkan aura yang saya
rasakan tadi cukup lemah dan samar-samar, sehingga saya tidak tahu persis yang
mana demon tersebut”
Keito merasa tidak tenang. Ada
demon yang berkumpul pada saat keramaian tadi. Apakah demon itu datang untuk
mengincarnya? Apa tujuan demon itu datang kemari?
---***---
“Tidak kusangka, aku akan kontak
langsung dengannya. Baru kali ini aku melihatnya dari jarak dekat”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar