Main Cast : Okamoto Keito
“Aku pulang...”.
Chii yang sedang membersihkan rumah langsung berlari menuju pintu depan untuk menyambut tuan kesayangannya. Mukanya langsung semringah saat melihat Keito yang berdiri di depan pintu sambil melepas sepatunya.
“Selamat datang Keito-sama...”, sapa Chii sambil tersenyum.
Keito ikut tersenyum saat melihat senyuman Chii. Tak lama, Yama juga muncul dari dalam rumah. Keito berusaha melemparkan senyum ke arah Yama, tapi Yama langsung mengalihkan pandangannya dan segera berjalan kembali masuk ke dalam rumah. keito hanya bisa menghela nafas pelan melihat tingkah laku Yama ini.
Setelah selesai merapikan sepatunya, keito segera beranjak masuk ke dalam rumah. Chii membantu membawakan tas Keito. setelah sampai di kamar, Keito segera melepaskan seragamnya. Tiba-tiba, Chii segera menarik seragam Keito dan mengendusnya seakan mencium sesuatu.
“keito-sama, tadi anda bertemu dengan siapa?”.
Keito tampak terkejut mendengar pertanyaan Chii. Chii menatap lekat mata Keito sambil tetap memegang erat seragam Keito. Bola mata Chii langsung berubah menjadi berwarna biru, telinganya pun berubah menjadi telinga rubah. Ekornya pun mulai tampak. Chii mulai kembali menjadi sosoknya yang sebenarnya. Chii menjadi seperti ini bila dia merasakan ada bahaya yang mendekat.
“Apa maksudmu Chii?”, tanya keito.
“Saya bisa mencium bau makhluk gaib di tubuh Keito-sama. Siapa yang anda temui Keito-sama?”.
“Hmm.... setiap hari kan aku bertemu dengan makhluk gaib. Kau ini kenapa sih? Ini kan bukan yang pertama kalinya aku bertemu dengan makhluk gaib. Kalian juga makhluk gaib kan?”.
“Makhluk gaib yang dimaksud Chii adalah demon”, sahut Yama yang muncul tiba-tiba dari arah pintu. “Demon adalah makhluk gaib yang kuat dan jumlah mereka sangat sedikit. Hanya ada kemungkinan 10% bertemu mereka secara kebetulan. Apalagi kalau demon itu bisa meninggalkan bau di tubuhmu, pasti kau sudah melakukan kontak langsung dengan demon tersebut”.
Keito kemudian teringat pertemuannya dengan makhluk gaib yang berwujud perempuan tersebut. Keito tahu kalau perempuan itu adalah makhluk gaib, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau perempuan itu adalah demon. Keito lalu menceritakan pertemuannya dengan perempuan itu pada Yama dan Chii. Dan kata-kata yang dibisikkan oleh perempuan itu sesaat sebelum dia menghilang.
Yama segera menghela nafas panjang setelah mendengarkan Keito selesai bercerita. Dia kemudian melenggang pergi entah kemana. Chii yang masih berada di ruangan itu segera melakukan proses penyucian pada Keito untuk menghilangkan bau demon yang menempel di tubuh Keito. Chii melakukan ini agar Keito tidak menjadi incaran demon yang lain.
Yama yang tadi pergi entah kemana kini telah kembali ke dalam ruangan sambil membawa sebuah buku. Yama menyerahkan buku itu ke arah Keito. Keito menerima buku itu. Tidak ada tulisan apapun di cover buku itu. Keito mencoba membuka buku itu. Kosong. Tidak ada satupun huruf yang tertulis dalam buku itu.
“Kau harus menggunakan energi spiritualmu untuk membacanya”
Keito menuruti perkataan Yama. Dia berusaha mengkonsentrasikan dirinya agar bisa menggunakan energi spiritualnya. Dia mengalirkan energi spiritual yang ada dalam tubuhnya ke buku yang ada di hadapannya. Tidak lama, satu persatu huruf muncul di buku tersebut. Keito mulai membaca isi buku itu dengan seksama.
Keito terus berusaha agar energi spiritualnya tetap terjaga dan seimbang saat membaca buku itu. keito membaca buku itu dengan sangat serius hingga dia kini telah tiba di sebuah halaman.
“Yama... ini...”. keito menunjuk ke sebuah halaman.
“Itu adalah salah satu untuk menghilangkan kutukanmu. Sebenarnya sudah lama aku menemukannya”, jawab Yama.
“Lalu, kenapa kau tidak segera memberitahuku?”. Keito merasa kesal dengan tingkah Yama yang tidak segera memberitahunya berita penting ini.
Yama menghela nafas. “Kau sudah membaca sampai selesai belum sih? Baca dulu”
Keito kembali membaca buku itu dengan seksama. Matanya terbelalak lebar saat selesai membaca itu. Raut mukanya terlihat gelisah. Dia lalu menatap Yama yang sedari tadi mengawasinya.
“Yama... apa buku ini benar? Apa hanya ini satu-satunya cara?”, tanya Keito memastikan.
“Makanya aku tidak mau memberitahumu dulu. Cara ini sangat berbahaya. Kenichi-sama juga menentang hal ini. Maka kami berdua pun merahasiakannya darimu. Kami terus mencari apakah ada cara lain mengatasi kutukanmu selain dengan cara yang ditulis dalam buku itu”, jawab Yama lagi.
Keito kembali membaca buku yang ada di hadapannya itu, kali ini dia berusaha mengamati tiap kata dalam kalimat tersebut.
Kutukan Demon.
Demon tingkat tinggi biasanya sangat suka memangsa manusia yang memiliki energi spiritual yang tinggi juga. Demon itu biasanya memberi tanda pada targetnya berupa tato yang bergambar seperti tengkorak. Lambang tengkorak memiliki arti kematian. Bila seseorang sudah memiliki lambang ini, berarti manusia itu akan menjadi target demon tersebut.
Hanya ada satu cara untuk mengatasi kutukan ini, sang target harus mengikat kontrak dengan 7 demon lain. Akan tetapi, demon yang dipilih bukanlah demon sembarangan. Mereka adalah para demon yang menjaga pintu perbatasan antara dunia gaib dengan dunia manusia. Para demon ini akan membantu sang target untuk menghilangkan tanda kutukan tersebut.
Keito menutup buku yang dibacanya. Dia berusaha mencerna isi dari buku tersebut. Sebenarnya dia sangat senang bisa mengetahui cara untuk melepas kutukannya. Akan tetapi, itu bukan cara yang mudah. Mengikat kontrak dengan demon berbeda dengan mengikat kontrak dengan makhluk gaib yang lain. Biasanya, bila manusia mengikat kontrak dengan makhluk gaib, maka makhluk gaib itu akan menuruti permintaan manusia yang menjadi masternya itu. Akan tetapi, bila seorang manusia mengikat kontrak dengan demon, justru sang manusialah yang harus menuruti permintaan demon tersebut.
“Kenapa sekarang kau menunjukkan hal ini padaku Yama?”, tanya Keito.
“Saat ini kau sudah mulai diincar oleh para demon. Meskipun masih 10 bulan lagi menjelang hari ulang tahunmu yang ke-18, tapi kita tetap tidak boleh lengah. Waktu 10 bulan sangat singkat menurut kami, para makhluk gaib. Hanya ini satu-satunya cara untuk menghilangkan kutukanmu yang kami tahu. Tapi karena caranya sangat berbahaya, aku tidak menyarankanmu melakukannya. Mengikat kontrak dengan satu demon saja sudah berbahaya, apalagi tujuh”
Keito mengangguk mengerti mendengar penjelasan Yama. Makhluk gaib merupakan makhluk yang abadi. Mereka tidak bisa mati kecuali dibunuh oleh sebangsanya. Keito pun tahu kalau Yama dan Chii telah hidup selama ratusan tahun. Selama ratusan tahun itulah Yama dan Chii terus menjadi dewa pelindung keluarganya.
“Tenang saja Keito-sama. Anda tidak harus melakukan kontrak dengan demon. Saya dan Yama akan terus berusaha mencari cara lain untuk mengatasi kutukan Tuan. Saya juga akan terus melindungi Keito-sama dari incaran para demon”.
Chii berusaha menenangkan Keito. Keito melihat ke arah Chii yang tersenyum polos layaknya anak kecil. Melihat senyuman Chii itu, Keito merasa lega.
“Kalau begitu,cepat siap-siap. Kita akan segera berangkat”
Yama menjetikkan jarinya. Seketika muncul satu set pakaian lengkap beserta sebuah hidangan makan malam.
“Kemana?”, tanya Keito bingung.
Yama melotot mendengar pertanyaan Keito. “Tentu saja bekerja. Jangan bilang kau lupa. Klien kita kali ini merupakan orang yang cukup terkenal. Ini kesempatan bagus”
Keito menepuk kepalanya. Dia lupa kalau malam ini dia harus bekerja. Ya, membasmi makhluk gaib. Keluarga Okamoto sejak dulu dikenal sebagai keluarga yang membasmi makhluk gaib. Orang-orang biasanya menyebut hal ini dengan eksorcism, penyucian roh, dll. Tapi bagi Keito, hal itu sama saja. Intinya pekerjaannya adalah membasmi makhluk gaib. Semenjak Keito kecil, dia sudah melakukan pekerjaan ini. Dia terpaksa bekerja untuk menyambung hidup karena seluruh keluarganya tiba-tiba menghilang. Yama pernah memberitahunya kalau keluarganya sedang keluar untuk mencari sesuatu. Semenjak itu Keito tidak pernah menanyakan alasannya, dia tahu kalau Yama akan berbohong dan menutupi alasan yang sebenarnya.
Keito sangat bersyukur karena keluarganya meninggalkan Yama dan Chii untuk menjaganya. Dua dewa pelindung ini sangat bisa diandalkan. Bagi Keito, kehadiran Yama dan Chii sudah seperti keluarganya sendiri. Keito menganggap mereka berdua seperti orangtuanya dan saudaranya. Chii selalu ada di sampingnya sebagai seorang saudara. Sedangkan Yama, meskipun terlihat galak, Keito menganggap kalau tindakan Yama seperti seorang ayah dan ibu. Berkat mereka, Keito sama sekali tidak merasa kesepian.
---***---
“AAAAA!!!!!”.
Seekor makhluk gaib telah musnah akibat serangan dari Chii. Sosok Chii kini telah berubah sepenuhnya. Dia kembali menjadi sosoknya yang sebenarnya, seekor rubah putih bermata biru. Sosok rubah Chii ini tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Hanya Keito saja yang bisa melihatnya. Pada saat pemusnahan makhluk gaib, Keito melakukan hal ini dengan bantuan Chii. Chii merupakan dewa pelindung tipe penyerang, sedangkan Yama adalah dewa pelindung tipe pertahanan. Pada saat Chii menyerang makhluk gaib, Yama akan membuat pelindung tidak terlihat untuk melindungi klien dari serangan makhluk gaib. Keito bertugas untuk mengendalikan Chii agar tidak lepas kendali.
“Uaahhh... upah pekerjaan hari ini lumayan”, ucap Keito sambil menghitung uang yang baru saja diterimanya. Uang yang merupakan upah pekerjaannya.
“Untunglah ya Keito-sama”, ucap Chii yang kini telah kembali ke sosok manusianya.
Mereka bertiga pun berjalan pulang dengan gembira. Sepanjang perjalanan, Keito dan Chii asyik berbincang dengan riang. Sedangkan Yama hanya diam saja mengamati mereka berdua. Angin tiba-tiba berhembus kencang. Rambut Keito yang rapi menjadi berantakan akibat hembusan angin tadi. Dia pun sibuk merapikan rambutnya seperti semula. Dia terkejut saat melihat mata Chii yang menjadi biru.
“Demon...”, gumam Chii pelan.
Yama langsung berlari ke suatu tempat seakan mencium sesuatu. Keito dan Chii yang tertinggal pun segera berlari mengikuti Yama dari belakang. Mereka kini telah sampai di sebuah taman. Meskipun lampu taman masih terang menyala, tapi suasana taman itu tampak sepi.
Keito terkejut saat melihat beberapa orang yang terkapar di tanah seakan mereka telah diserang oleh sesuatu. Tiba-tiba seluruh manusia yang terkapar tadi kembali sadar dengan serentak. Keito menghampiri salah seorang wanita yang terbaring disana.
“Anda tidak apa-apa? Apa yang terjadi?”, tanya Keito.
Wanita itu melihat Keito dengan muka bingung. Dia melihat ke sekelilingnya. Lalu melihat keito lagi.
“Kau siapa? Dimana aku? Aku..aku siapa?”
Keito melihat wanita itu dengan heran. Keito menghampiri seorang pria lain yang juga terbaring disana. Pria itu juga mengajukan pertanyaan yang sama seperti wanita tadi. Chii dan Yama juga menghampiri beberapa orang yang lain dan tampaknya mereka juga hilang ingatan, sama seperti wanita tadi.
“Apa maksudnya ini? apa yang terjadi? kenapa mereka semua bisa hilang ingatan secara serempak?”, tanya Keito tidak mengerti.
“Ini perbuatan demon itu. Aku tidak tahu persisnya, tapi tampaknya ingatan semua orang disini hilang secara serempak. Kemungkinan demon itu mengambil ingatan mereka semua”, gumam Yama.
“Demon? Ada demon disini?”, tanya Keito tidak percaya. Demon adalah makhluk yang jarang sekali bisa ditemui. Ini pertama kalinya keito menemukan kasus yang berkaitan dengan demon. Selama dia bekerja, dia juga tidak pernah bertemu dengan demon. “Lalu, apakah dia masih ada di sekitar sini?”
Chii menggeleng. “Tidak Keito-sama. Baunya memang masih tersisa, tapi demon itu sudah tidak ada disini. Sepertinya dia sudah pergi 10 menit sebelum kita tiba disini tadi”
“Kalian harus tetap waspada. Para demon sudah mulai berkeliaran. Mulai saat ini akan semakin banyak demon yang berkeliaran”.
Keito dan Chii mengangguk bersamaan mendengar perkataan Yama. Keito memegangi dadanya. Luka bakarnya terasa sedikit perih. Apakah ini pertanda kalau mereka sudah mulai mendekat?
---***---
“Aku berangkat!”, seru Keito sambil membenarkan sepatunya.
“Tunggu Keito-sama, saya juga ikut”.
“Chii? Kenapa?”
“Mulai hari ini Chii akan menemanimu pergi ke sekolah. Dia akan melindungimu bila ada demon yang berusaha mendekatimu lagi”, jawab Yama.
“Tapi Chii tidak bisa ikut denganku”
“Tenang saja”, Yama mengarahkan tangannya ke arah Chii. Dalam sekejap Chii kini telah berubah menjadi gantungan kunci mini berbentuk rubah. “Kalau begini dia bisa mengikutimu kan”.
Keito menatap sosok Chii yang telah berubah menjadi rubah mini. Chii terlihat lebih imut dari biasanya.
“Baiklah, tapi jangan mengeluarkan suara selama di sekolah ya. Pelankan suaramu kalau kau ingin bicara denganku”
“Baik, Keito-sama”.
Keito dan Chii pun kini berangkat sekolah bersama. Keito menatap Chii dengan senang. Sudah lama sekali Keito tidak pergi sekolah bersama dengan Chii. Dulu waktu kecil Chii sering mengantarnya pergi ke sekolah, tapi semenjak SMP, Keito meminta Chii untuk tidak melakukannya lagi. Dia takut diolok oleh teman-temannya.
Mereka berdua kini telah sampai di sekolah Keito. keito bisa merasakan aura Chii berubah. Keito mendekatkan Chii ke telinganya.
“Keito-sama..... aku mencium bau demon disini. Bau demon yang sama dengan bau demon yang kita temui kemarin”.
Tsuzuku~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar