HAPPY BIRTHDAY BRITISH PRINCE! OKAMOTO KEITO!!!
Nah, kini giliran Fanfic dengan tokoh utama Keito...
Main Cast : Okamoto Keito
Genre : Supernatural, Fantasy
Part 1
Bumi. Tempat dimana manusia, hewan, dan tumbuhan hidup bersama-sama. Semua makhluk yang bernyawa hidup dengan nyamannya di bumi ini. Masing-masing hidup di bumi ini dengan caranya masing-masing. Ada yang bertahan hidup dengan mengandalkan yang lain, ada yang bertahan hidup dengan memusnahkan yang lain, ada juga yang hidup dengan merampas kehidupan yang lain. Semua memiliki caranya masing-masing untuk hidup di bumi ini.
Selain manusia, hewan, dan tumbuhan, ada sekelompok makhluk lagi yang hidup di bumi ini. Memang, kehadiran mereka tidak bisa dirasakan dengan indra biasa. Hanya manusia yang memiliki indra yang kuatlah yang bisa melihat mereka. Makhluk-makhluk ini sekilas tidak terlihat oleh manusia. Tapi, meskipun mereka tidak terlihat oleh mata telanjang, tapi kehadiran mereka masih bisa dirasakan bagi mereka yang memiliki energi spiritual yang hebat. Sosok mereka pun tidak ada yang pasti. Terkadang mereka bisa berwujud seperti anak-anak, hewan, bahkan mungkin mereka bisa berwujud seperti orang yang kau kenal.
Mereka adalah makhluk spiritual yang biasa disebut makhluk gaib. Wujud mereka pun bermacam-macam. Vampir, drakula, zombie, hantu, setan, dll adalah sebutan bagi mereka. Makhluk gaib yang terkuat disebut ‘demon’ atau ‘akuma’. Mereka dipanggil seperti itu karena sifat mereka yang sangat kejam dan tiada ampun. Mereka sama sekali tidak merasakan kasihan, kesedihan, dan rasa sayang. Yang mereka tahu hanyalah perasaan senang, rakus, dan amarah. Mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
---***---
“Keito-sama... ayo bangun! Ini sudah pagi. Nanti tuan terlambat!”.
Seorang pemuda cilik tampak berusaha membangunkan seorang pemuda yang memiliki lengan berotot yang kini tertidur pulas di tempat tidur. Wajah pemuda itu tertutup oleh masker yang menutupi matanya. Pemuda cilik itu berusaha menarik selimut yang menutupi tubuh pemuda berotot itu, tapi selimut itu sama sekali tidak bergeming.
“Keito-sama..... ayo bangun!!!”.
Pemuda cilik itu berteriak lagi. Kali ini lebih keras. Akan tetapi pemuda yang dipanggil ‘Keito-sama’ itu sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya. Membuka matanya pun tidak.
KRIET... suara pintu terbuka. Pemuda cilik itu menoleh. Dia melihat ada pemuda lain yang berdiri di depan pintu. Pemuda itu tingginya hampir sama dengan pemuda cilik itu. Bedanya, pemuda yang berdiri di depan pintu ini agak lebih tinggi dari pemuda cilik yang berdiri di samping tempat tidur.
“Kenapa Chii? Apakah Keito-sama belum bangun?”, tanya pemuda yang berdiri di depan pintu.
Pemuda cilik itu menggeleng pelan. Pemuda yang sedari tadi berdiri di depan pintu itu pun masuk ke dalam dan menghampiri pemuda cilik yang dipanggil ‘chii’ ini. Pemuda itu menatap ke arah tempat tidur dan melihat Keito-sama masih tertidur pulas. Pemuda itu lalu menghirup nafas panjang. Dengan sekali hembusan nafas, pemuda itu langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Keito, hingga Keito terjatuh dari tempat tidurnya. Pemuda berotot yang sedang tidur pulas itu pun langsung tersentak bangun dan membuka matanya.
“Yama... tidak bisakah kau membangunkan aku dengan cara yang biasa?”, keluh pemuda yang dipanggil Keito-sama itu.
“Saya melakukan ini karena anda tidak kunjung bangun dengan ‘cara yang biasa’”, pemuda yang dipanggil Yama itu menghardik tajam melihat ke arah Keito.
“Ah... maafkan saya tuan. Sedari tadi saya berusaha membangunkan tuan, tapi tuan tidak kunjung bangun. Sehingga Yama terpaksa melakukan hal ini. Saya minta maaf tuan....”, Chii yang berdiri sedari tadi di pinggir tempat tidur mulai meneteskan air matanya.
“Ah, maafkan aku Chii. Ini bukan salahmu kok. Maaf ya...”, Keito langsung merasa tidak enak hati melihat Chii yang menangis tersedu-sedu karena tidak bisa membangunkannya.
CTIK! Yama menjetikkan jarinya. Sekejap, satu set seragam muncul di hadapan Keito. Lengkap dengan tas dan sepatunya. Yama kembali menjetikkan jarinya. Kali ini, dari arah pintu muncul nampan makanan lengkap beserta isinya.
“Saya sudah mempersiapkan semua yang tuan butuhkan. Apakah ada hal lain yang tuan butuhkan?”.
Keito menggeleng. Yama membungkukkan badannya dan berlalu pergi keluar kamar. Kini hanya Keito dan Chii saja yang berada di dalam kamar.
“Keito-sama... saya akan membantu anda”, ucap Chii yang kini sudah berhenti menangis. Tangan Chii lalu meraih kancing piyama tidur Keito dan mulai membukanya satu persatu.
“Tidak usah Chii, aku bisa sendiri”. Keito menepis tangan Chii dengan lembut. Keito pun lalu melepas piyama yang dia kenakan.
Keito berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihkan badannya. Air keran yang hangat mulai mengguyur tubuhnya. Secara teliti, Keito menggosok setiap bagian tubuhnya. Berusaha agar tidak melewatkan satu bagian tubuhnya. Dia sangat ingin tubuhnya benar-benar bersih. Maklum, Keito sangat suka dengan kebersihan. Setelah selesai, Keito mengambil selembar handuk yang sudah disiapkan oleh Chii. Keito berjalan keluar kamar mandi. Chii dengan tenang menunggu Keito disana.
Chii membantu Keito mengusap tubuh Keito yang basah. Dengan penuh perhatian, Chii mengusap seluruh bagian tubuh Keito. Gerakan Chii langsung terhenti saat melihat sesuatu yang tampak seperti luka bakar yang ada di tubuh bagian depan Keito. Sekilas luka bakar itu tampak seperti luka bakar pada umumnya, akan tetapi bila diperhatikan dengan seksama, luka bakar itu seperti sebuah tato. Tato bergambar tengkorak yang terletak tepat di bagian dimana jantung Keito berada. Chii menyentuh tato itu dengan lembut. Mukanya penuh dengan kesedihan saat melihat tato itu.
Keito yang menyadari dengan tingkah laku Chii segera membalikkan badannya untuk menutupi tato itu. Dengan segera, Keito langsung mengenakan seragam yang telah disiapkan oleh Yama. Chii masih menatap punggung Keito dengan sedih.
“Sebentar lagi Keito-sama akan berusia 18 tahun. Waktu yang ditentukan ‘dia’ sudah dekat”.
Keito hanya diam saja sambil menyantap sarapan yang telah disiapkan Yama. Tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit. Bekas luka bakarnya mulai terasa panas. Ini bukan pertama kalinya Keito merasakan hal ini, akan tetapi akhir-akhir ini luka itu terasa sangat menyiksa. Rasa sakitnya semakin terasa saat dia mulai menginjak usia 17 tahun. Keito melihat ke arah kalender. Sekarang sudah bulan Juni, tinggal 10 bulan lagi dia menginjak usia 18 tahun.
Setelah selesai makan, Keito langsung beranjak untuk pergi ke sekolah. Yama sudah menunggu Keito di depan pintu sambil menenteng kotak bekal berisi makanan. Yama menyerahkan kotak bekal itu ke Keito. Keito menerima bekal itu dengan senang hati.
“Aku pergi dulu. Yama, Chii!”.
“Selamat jalan Keito-sama...”, balas Chii sambil melambaikan tangannya.
“Kalau kau butuh bantuan. Segera panggil kami. Kau tahu caranya kan?”, Yama menunjuk ke anting-anting perak yang terpasang di telinga Keito.
“Pegang anting itu dan sebut nama kami. Maka kami akan segera tiba disana”.
“Aku tahu... Kau terus mengatakan hal ini setiap hari. Tidak mungkin aku lupa”, keluh Keito.
“Anda satu-satunya penerus dari keluarga Okamoto. Apalagi waktu yang telah ditentukan oleh ‘dia’ semakin dekat. Nyawa anda terus berada dalam bahaya”. Yama menatap tajam ke arah Keito.
Keito menepuk pundak Yama, “Aku tahu. Karena itu kalian sebagai dewa pelindung akan menjagaku kan?”, senyum Keito.
“Tentu saja. Kami berdua akan menjaga Keito-sama dengan mempertaruhkan nyawa kami”, balas Chii.
“Aku menjagamu karena itu adalah permintaan dari masterku yang lama, Kenichi-sama. Aku terikat kontrak dengannya. Menjagamu termasuk perjanjian dalam kontrak itu”. Yama menepis tangan Keito yang ada di pundaknya.
Keito menghela nafas karena sudah terbiasa dengan tingkah Yama yang dingin ini. Yama memang tidak pernah berlaku baik pada siapapun. Dia hanya berlaku baik pada orang-orang tertentu saja. Setahu Keito, Yama hanya berlaku baik pada Chii dan Kenichi-sama. Chii adalah rekannya sesama dewa pelindung, sedangkan Kenichi-sama adalah masternya yang tidak lain adalah ayah kandung Keito. Berbeda dengan Chii yang berlaku ramah pada Keito.
Dewa pelindung merupakan salah satu makhluk gaib. Mereka adalah makhluk gaib yang menyukai manusia. Mereka disebut dewa pelindung karena mereka bersedia melindungi manusia yang mereka sukai dengan taruhan nyawa mereka. Bisa dibilang kalau mereka adalah makhluk gaib yang baik hati. Manusia yang mengikat kontrak dengan makhluk gaib ini disebut master. Makhluk gaib ini akan melindungi master mereka hingga mereka mati. Yama dan Chii adalah salah satu contoh makhluk gaib yang disebut dewa pelindung ini. Awalnya, mereka berdua terikat kontrak dengan Kenichi, ayah dari Keito. Akan tetapi, karena suatu hal mereka berdua kini melayani Keito atas permintaan dari Kenichi-sama. Memenuhi permintaan sang master adalah salah satu tugas mereka.
Keito berusaha mengenang kembali awal pertemuannya dengan Yama dan Chii. Keito bertemu dengan mereka berdua sesaat setelah Keito menerima luka bakar yang ada di dadanya ini. Saat itu, rumah keluarga Okamoto diserang habis-habisan oleh sekelompok makhluk gaib. Entah apa sebabnya, para makhluk gaib menyerang rumah Keito dengan membabi buta. Keluarga Okamoto memang keluarga yang memiliki energi spiritual yang tinggi sehingga seluruh anggota keluarga ini bisa melihat makhluk gaib. Bahkan beberapa di antara mereka bisa mengikat kontrak dengan makhluk gaib.
Seluruh rumah hancur berantakan akibat serangan para makhluk gaib itu. Tiba-tiba seekor makhluk gaib berukuran raksasa menghampirinya yang saat itu masih berusia 7 tahun. Makhluk itu tampaknya mengatakan sesuatu pada Keito, tapi Keito tidak bisa mencerna dengan jelas. Setelah itu Keito langsung tidak sadarkan diri. Saat dia sadar, dia hanya mendapati ayahnya yang berdiri di sampingnya.
Ayahnya menjerit histeris saat melihat luka bakar yang ada di tubuh Keito. Dia kemudian menangis tersedu-sedu sambil memeluk Keito. “Maafkan ayah nak, karena ayah kau menjadi seperti ini”. Ucapan ayahnya itu masih terngiang jelas di telinga Keito. Sampai saat ini, Keito masih tidak mengerti apa maksud ucapan ayahnya tersebut. Keito tidak sempat menanyakannya pada ayahnya karena ayahnya sudah keburu menghilang keesokan harinya beserta seluruh keluarganya yang lain. Yama dan Chii kemudian muncul di hadapan Keito dengan sosok yang sama persis seperti saat ini. Semenjak itu, Keito tinggal bersama dengan Yama dan Chii.
Yama-lah yang memberitahukan pada Keito kalau luka bakar yang ada di dadanya itu bukan luka bakar biasa. Itu adalah tanda kutukan dari demon. Makhluk gaib terkuat. Menurut Yama, Demon itu akan memangsa Keito saat dia berusia 18 tahun. Yama pernah mencoba menghilangkan kutukan itu. Dewa pelindung bisa menghilangkan kutukan seseorang. Akan tetapi, saking kuatnya kutukan itu, Yama dan Chii tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menjaga Keito sambil mencari cara untuk melepaskan kutukan itu.
Keito mengamati jalanan yang dia lalui. Sepanjang jalan dia melihat beberapa makhluk gaib yang berkeliaran. Ada yang duduk diam di pinggir jalan, ada yang berbaring di jalanan seakan tidak ada apa-apa, ada yang berusaha mengganggu manusia yang lewat meskipun manusia itu tidak bisa melihatnya, dan yang lebih parah ada yang menempel pada manusia dan berusaha merasukinya.
“Haaah... enaknya bagi yang tidak bisa melihat mereka...”, desah Keito.
Kakinya kini telah memasuki sekolah. Sepanjang mata memandang, hanya ada siswa lelaki yang tampak. Maklumlah, ini adalah sekolah khusus laki-laki. Tidak ada seorang perempuan pun yang bersekolah disini.
“Yoo... Keito!”. Seorang pemuda berlari menuju ke arahnya.
“Juri...”, gumam Keito pelan saat pemuda itu mendekat.
“Aku lihat PR-mu donk. Sudah kau kerjakan kan?”, kata pemuda itu lagi.
“Sudah”.
“Sasuga! Kau memang anak pintar! Tidak salah aku berteman denganmu....”, ucap pemuda bernama Juri itu sambil menyeringai. Keito hanya mendesah pelan. Dirinya sudah terbiasa dengan tingkah temannya ini.
Mata Keito kini tertuju pada satu arah. Ada seorang perempuan berdiri di hadapannya. Keito mengernyitkan keningnya. Kenapa bisa ada perempuan di sekolah khusus anak laki-laki ini?
“Hei... sedang apa perempuan itu disana?”, tanya Keito pada Juri yang ada di sebelahnya.
“Perempuan??? Dimana???”, sambut Juri secara antusias. Dia langsung menoleh mencari sosok manusia yang disebut perempuan itu. Maklumlah, Juri sangat suka dengan perempuan.
“Disana...”, Keito menunjuk ke arah tempat perempuan itu berdiri.
Juri lalu melihat ke arah yang ditunjuk oleh Keito. “Dimana? aku tidak melihat ada perempuan satupun. Kau bohong ya...”. Juri langsung meratap sedih.
‘Eh? Juri tidak bisa melihatnya? Berarti itu makhluk gaib? Kenapa dia bisa ada disini?’, tanya Keito dalam hati.
DEG!
Jantung Keito berdegup kencang saat perempuan itu tiba-tiba melihat ke arahnya. Perlahan perempuan itu mendekat ke arah Keito. Tiba-tiba perempuan itu hilang dari hadapannya.
“Sebentar lagi waktumu akan tiba. Tuan besar akan mengambil nyawamu”.
Keito terlonjak kaget saat mendengar bisikan itu. Dia lalu menoleh ke arah samping dan mendapati perempuan itu telah menghilang. Juri yang ada di sampingnya hanya bisa menunjukkan wajah keheranan melihat tingkah laku Keito yang panik tiba-tiba.
Keito tidak menyadari kalau ada beberapa pasang mata yang mengamatinya dari kejauhan. Mata-mata itu menatap Keito dengan pandangan mata yang penuh hasrat.
“Hee... itu ya si anak terkutuk”. Seorang pemuda tersenyum lebar hingga gigi gingsulnya tampak.
“Anak yang malang...”, sahut seorang pemuda yang berparas cantik.
“Sebentar lagi dia akan menghampiri kita”, ucap seorang pemuda yang tampak dewasa.
“Ehh... aku lapar... boleh dia kumakan? Sepertinya dia cukup enak”, ucap pemuda yang paling pendek di antara kumpulan pemuda itu.
“Lagi? Bukankah kau sudah makan?”, sahut pemuda yang berambut panjang dan berwarna pirang.
“Wajahnya tidak imut, aku tidak suka”, sahut pemuda yang tampak asyik memainkan Hpnya.
“Kita lihat saja apakah dia berhasil mengalahkan ‘dia’ atau tidak”, ucap pemuda yang paling tinggi di antara pemuda tersebut.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar