Sabtu, 11 April 2015

TEN KNIGHTS

Part 4

Di luar klinik, Ryosuke melihat jam tangannya.‘masih pukul 8, ah, lebih baik aku lanjut ke sekolah saja, kalau pulang ibu malah akan cemas dan bertanya macam-macam. Aku tidak mungkin menjelaskan hal ini pada ibu’, gumamku sambil melihat kakinya yang diperban tersebut.

Dengan langkah hati-hati, aku berjalan ke halte bis. Untunglah, aku tiba disana bertepatan dengan bis yang datang. Aku segera menaiki bis tersebut. Kupilih duduk di dekat pintu agar bisa keluar dengan mudah. Di dalam bis, aku kembali merenungi apa yang baru kualami.

‘Hari ini hari ulang tahunku, banyak kejadian aneh yang kualami hari ini. Dikejar makhluk mengerikan yang mukanya rata, hampir dimakan pula. Untunglah cewek bertudung itu lewat. Tapi siapa cewek itu? Kenapa dia menolongku? Bagaimana dia bisa mengalahkan makhluk mengerikan itu?Lalu pembicaraan yang kudengar itu, apa maksudnya dengan pelindung?’, aku berpikir dengan keras. Segala kemungkinan yang logis kupikirkan, tapi tidak ada alasan yang masuk akal kenapa semua ini bisa terjadi. 

Selagi aku berpikir, tanpa kusadari bis sudah tiba di depan sekolahku. Aku pun turun.
Di pagar sekolah saat akan masuk, satpam sekolah menghadangku. Aku pun menjelaskan kejadian yang terjadi tadi pagi. Tentu saja kubilang aku mengalami kecelakan kecil sehingga kakiku perlu dijahit dan diperban. Sebagai bukti kuat, kutunjukkan kakiku yang diperban. Satpam itu percaya dengan ceritaku dan memperbolehkanku masuk. Saat melewati gerbang sekolah, kulihat ada mobil merci hitam legam yang terparkir di depan sekolah. Entah kenapa, aku merasa ada yang mengamatiku dari dalam mobil tersebut. Tapi kupikir itu hanya perasaanku saja dan segera aku masuk ke dalam sekolah untuk menuju ruang guru.

Di dalam mobil merci hitam

“Huaah.... itukah anak yang dimaksud Keito dan master?”, tanya cowok berkacamata hitam yang berada di kursi pengemudi.

“kurasa benar itu dia. Ciri-cirinya sama dengan yang diberikan oleh Keito. dan apa kau tidak melihatnya tadi? Dia tadi melihat ke arah sini, seakan-akan dia tau kalo kita sedang mengawasinya”, sahut cowok bertopi yang berada di kursi penumpang.

“Hmm.... aku juga merasa demikian. Tapi anak itu rajin banget, padahal dia terluka kan? Tapi dia tetap masuk sekolah. Mirip daichan saja”, timpal cowok berkacamata.

“ahahaha.... benar. Sifatnya yang itu mirip dengan daichan”, tiba-tiba cowok bertopi itu mengambil ponsel yang bergetar dari saku celananya. Ada sms masuk ternyata. Saat membacanya, cowok itu langsung tersenyum.

“kenapa?”, tanya cowok berkacamata tersebut.

“Oh, ini sms dari chii, dia ngomel-ngomel kekita karena kita yang menjemput ksatria kesepuluh. Dia juga ingin ikut dengan kita menjemputnya”, jawab cowok bertopi tersebut.

“Oh... kalo Chii sudah tahu soal ini, berarti mereka bertiga sudah sampai di markas donk”, gumam cowok berkacamata.

“kau tidak ingin menelepon daichan, yuya?”,goda cowok bertopi itu

“Ah, tidak usah. Misi mereka pasti berjalan lancar, selain itu daichan pasti sudah kembali ke sekolah. Pulang nanti kan aku bisa bertemu dengannya. Kau sendiri, bagaimana Yuto? Tidak apa-apa tidak membalas sms dari Chii? Bukankah dia paling sebal kalo smsnya tidak dibalas?”,ujar cowok berkacamata yang bernama Yuya tersebut.

“Ah, benar”, Yuto langsung mengetikkan sms dihpnya.

“kalau begini, kita tunggu dia sampai pulang saja. tidak mungkin kita membawa dia sekarang kan?”, ujar Yuya.

“betul juga.....”, gumam yuto.

Di dalam kelas Yamada.....

Karena wali kelasku yang baik hati, aku diijinkan untuk mengikuti pelajaran dari tengah-tengah. Selama pelajaran berlangsung, kejadian yang kualami pagi ini terbayang lagi di pikiranku. Pelajaran matematika yang diterangkan pun sama sekali tidak ada yang masuk.

“Woi!!”. 

Aku kaget dan langsung menoleh kebelakang.

“apaan sih kamiki?”, gerutuku kesal.

“pelajaran sudah selesai tahu, kau sendiri malah bengong selama pelajaran. Uda masuk telat, malah bengong di kelas”, sahut Kamiki. Dia adalah teman baikku di kelas ini.

“Oh gomen, sankyu”.

“Ne ne ne, apa yang terjadi? Gimana ceritanya kau bisa terluka seperti itu?”, Tanya Kamiki dengan rasa ingin tahu.

“Aku terjatuh dan terluka. Sakit banget rasanya....”, aku memasang muka melas.

“Uso.... jatuhmu kayak gimana kok bisa kayak gitu?”, tanya Kamiki lagi

“Ya pokoknya aku jatuh, dan begitu sadar ternyata kakiku terluka”, jawabku sekenanya. Sebenarnya aku agak gak enak hati berbohong padanya, tapi tidak mungkin aku menceritakan yang sebenarnya.

“Oh baiklah. Eh, hari ini kau ultah kan? Kau mau merayakannya?”, Kamiki mengubah topik pembicaraan.

“Hmm, aku akan merayakannya dengan ibuku nanti”, sahutku dengan penuh bangga.

“Wuah.... dasar masakon”, sahut Kamiki.

“Biar saja”, aku menjawab dengan menjulurkan lidah.

Sepulang sekolah

Di luar sekolah, aku melihat mobil yang sama dengan yang kulihat tadi pagi. Dari dalam mobil, keluar dua pria tinggi dan kedua orang itu menuju ke arahku.

“Yamada Ryosuke?”, tanya cowok berkacamata.

“benar”, jawabku dengan agak takut.

“bisakah kau segera ikut dengan kami ke suatu tempat?”, tanya cowok itu lagi.
“Eh, kenapa?”, aku mulai mundur ketakutan. Aku mulai mengira 2 orang ini adalah anggota yakuza atau preman dan mereka ingin menculikku.

“Bakaki!! Jangan berkata seperti itu, kau jadi menakutinya kan?”, seru cowok bertopi yang ada di sebelahnya. Cowok itu memukul kepala cowok berkacamata.

“Yamada Ryosuke, sebelumnya ijinkan kami memperkenalkan diri. Namaku Nakajima Yuto, panggil aku Yuto. Dan cowok disebelahku ini namanya Takaki Yuya, panggil saja Yuya”, ucap cowok bertopi sambil melepaskan topinya, cowok yang ada di sebelahnya juga ikut melepas kacamatanya. Tidak hanya tinggi, 2 cowok ini juga tampan. Sesaat aku merasa tertegun dengan paras mereka.

“Yamada?”, tanya Yuya

“Ah eh, iya”, aku tersentak kaget. “lalu ada perlu apa kalian denganku?”, tanyaku

“agar tidak salah paham, kujelaskan dulu kalau kami bukan penjahat yang ingin memeras atau menculikmu”, kata Yuto. Aku menarik nafas lega. “kami kesini ingin menjemputmu karena kau adalah teman kami. Kauadalah salah satu ksatria. Dan kau adalah ksatria terakhir”, jelas Yuto.

“tunggu, aku tidak mengerti. Teman? Ksatria? Apa maksud kalian?”, aku keheranan mendengar penjelasan Yuto.

“silahkan ikut dengan kami, akan kami pertemukan kau dengan master. Beliau akan menjelaskan semuanya padamu, tentang teman, ksatria, dan siapa dirimu sebenarnya”, Yuya berkata sambil mengarahkan tangannya ke mobil. 

Aku ragu-ragu dengan penjelasan mereka. Aku mulai berpikir negatif kalau mereka memang memiliki niat jahat. Tiba-tiba terbersit dalam pikiranku peristiwa yang kualami tadi pagi. ‘jangan-jangan perkataan mereka ini ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpaku tadi pagi?’, aku bergumam. Karena rasa penasaranku yang tinggi, dengan mantap aku menuju ke mobil mereka dan masuk kedalam. Mesin mobil mulai dinyalakan dan mobil mulai melaju. Sepanjang jalan aku mulai berpikir, 

‘siapa aku sebenarnya??’

Tsuzuku~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar