Jumat, 17 April 2015

TEN KNIGHTS

PART 5

Sepanjang perjalanan suasana dalam mobil terasa sunyi. Banyak hal yang ingin kutanyakan, ‘aku mau dibawa kemana? Siapa yang akan kutemui? Bisakah aku mempercayai mereka?’, pertanyaan itu terus terulang di benakku. Tiba-tiba timbul pikiran negatif dariku, ‘jangan-jangan mereka ini ingin menculikku? Bodoh! Kenapa aku bisa percaya saja dengan mereka dan ikut dengan mereka? Apa aku harus kabur? Tapi mobil ini sedang berjalan. Ah,tapi lebih baik kabur daripada terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan bagiku’,aku sudah bersiap untuk melompat keluar. Tiba-tiba yuya yang sedang menyetir berkata, “Kita sudah sampai”. 

Aku mendongak melihat tempat yang kami tuju,tampaknya seperti gedung perkantoran biasa, tidak ada yang aneh. Tapi bagaimana kalau mereka ingin berbuat sesuatu padaku di dalam? 

“Apa yang kau lakukan Yamada-kun? Ayo cepat turun, kita sudah sampai. Master sedang menunggumu”, ujar Yuto sambil membukakan pintu penumpang. Akhirnya dengan pasrah, aku keluar dari mobil dan mengikuti mereka masuk ke dalam. Aku berharap tidak terjadi apa-apa padaku.

“selamat datang, Takaki-san, Nakajima-san, dan Yamada-san”. Aku tersentak kaget begitu mendengar namaku disapa oleh perempuan yang berjaga di meja depan situ. Yuya dan yuto yang berjalan di depankumembungkukkan badan membalas sapaan perempuan itu, secara refleks, badanku juga bergerak mengikuti mereka. aku mengikuti mereka berdua menuju lift. Yuto menekan tombol 13.

“kenapa yamada? Kau takut?”, tanya Yuto. Dia melihatku dengan pandangan cemas.

“ah tidak”, jawabku sekenanya. Jujur, dalam hatiku saat ini memang ada perasaan takut. Tapi setelah melihat wajah Yuto yang tampaknya melihatku dengan cemas, rasa takut yang kualami tadi hilang. “aku hanya sedikit tegang saja”, tambahku.

“Oh begitu, syukurlah. Tenang saja, master bukan orang yang menakutkan kok, memang wajahnya selalu terlihat serius, tapi orangnya baik kok”, ujar Yuto sambil tersenyum. PING! Pintu lift terbuka, kami sudah tiba di lantai 13, kami menuju ruangan besar yang ada di ujung. Yuto membuka pintu ruangan.

“Yuto Baka!! Kenapa lama sekali kau datang??Aku sudah capek menunggu nih......”, terdengar suara cewek saat Yuto membukapintu. Cewek itu lalu menghampiri  Yuto. Aku melihat ke arah cewek itu, badannya mungil, dilihat dari wajahnya mungkin dia seumuran denganku, dan tampaknya cewek ini imut sekali seperti boneka.

“Ah gomen, gomen. Aku tidak bisa langsung datang kemari. Yamada tadi masuk sekolah dulu, jadi kami menunggu dia selesai sekolah”, jawab Yuto.

“wuah, rajin sekali”, cewek itu lalu melihat ke arahku dan mulai mendekatiku. Kami berdiri cukup dekat, sehingga wajahnya yang imut itu terlihat dengan jelas. Refleks aku mengalihkan pandangan karena malu.

“Jadi kau teman baru kami yang tadi pagi bertemu dengan Daichan? Wuah, dilihat dari dekat kau memang cakep”, cewek itu mulai mengamatiku dari atas hingga bawah. Aku semakin malu dibuatnya.
“Siapa namamu?”, tanya cewek itu.

“Ya....Yama...Yamada Ryosuke desu”, jawabku sedikit gugup.

“Yamada Ryosuke? Hmm, jadi Ryo-chan ya. Salam kenal Ryochan. Aku Chinen Yuri. Biasa dipanggil Chii, tapi kalau kau mau memanggilku Yuri juga boleh”, cewek itu mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya dan mulai bersalaman. Saat itu aku menyadari bahwa kulitnya putih dan halus.

“Chii, jangan goda dia. Dia kemari karena master ingin bertemu dengannya. Kenapa malah kau duluan yang memperkenalkandiri?”, Yuto menarik Chii.

“habisnya aku tidak tahan melihat cowok cakep.Apalagi wajahnya memang tipeku. Kenapa yuto? Kau cemburu?”, Chii melempar senyum nakal ke arah Yuto. Yuto menjitak pelan kepala Chii.

“Yamada Ryosuke?”, aku menoleh. Kulihat seorang pria paruh baya sedang duduk di meja paling besar disana. Pria itu berdiri “silahkan duduk di sofa situ. Kau pasti capek berdiri terus kan?”,tanya pria itu lagi. 

Aku pun mulai menuju sofa yang ditunjuk oleh pria itu.Disana ada 2 remaja laki-laki yang juga sedang duduk disana. Yang satu sedang melihat bola yang tampaknya dari kristal, dan yang satunya lagi sedang asyik memainkan tablet. Begitu aku duduk disana, 2 orang itu lalu melihat ke arahku.Pria tadi juga duduk di kursi yang berseberangan denganku.

“perkenalkan, nama saya Johnny Kitagawa. Saya-lah orang yang disebut master oleh mereka”, ujar pria yang disebut‘master’ tersebut.

“Sebelumnya kau sudah diberitahu sedikit tentang ksatria dari mereka berdua kan?”, master menunjuk ke arah Yuya dan Yuto. Aku mengangguk. “Dan kau kemari untuk mengetahui lebih lanjut tentang siapa sebenarnya dirimu kan?”. Aku mengangguk lagi.

“baiklah. Sebelumnya kukatakan terlebih dahulu, aku mengenal baik ayahmu. Yamada Ryoichi. Dia dulunya adalah seorang ksatria juga”. Aku terbelalak kaget, ‘orang ini kenal dengan ayahku?’. “Kau tahu penyebab kematian ayahmu?”, tanya master. “ibu bilang ayah mengalami kecelakaan saat kerja”, jawabku. 

“Ya benar, ayahmu tewas saat be’kerja’ , saat dia bertarung melawan mereka”. aku menatap master dengan heran. “Ayahmu dulunya adalah salah satu ksatria juga. Tugas ksatria adalah melindungi manusia daripara makhluk kegelapan atau bisa disebut juga ‘dark creature’. Saat ayahmu pergi memerangi mereka, ayahmu tidak sanggup melawan mereka semua karena jumlah mereka yang terlalu banyak. Sehingga hal itu terjadi. Saya juga sangat sedih mengetahui hal itu”, aku menatap master dengan penuh tanda tanya. Apa-apaanini? Apakah mereka bercanda? Dan soal kematian ayahku, ayahku tewas bukan karena kecelakaan tapi dibunuh oleh makhluk kegelapan?

“master, tampaknya dia tidak percaya dengan apa yang barusan master katakan”, ucap cowok yang melihat ke arah bola kristal tersebut.

“Kalau kau tidak percaya , silahkan kautanyakan hal ini pada ibumu. Ibumu mengetahui semua yang terjadi”, aku mendongak kaget. ‘ibu tahu apa yang terjadi? Tapi kenapa selama ini ibu tidak memberitahuku?’ pikirku.

“tunggu, tadi Yuto mengatakan bahwa aku adalah salah satu ksatria juga. Apa itu ksatria? Dan aku adalah teman mereka, apa maksudnya?”, aku menanyakan apa yang ingin kutanyakan kepada orang yang disebut master tersebut.

“benar, kau juga adalah salah satu ksatria. Sama seperti ayahmu. Semua orang yang berada di ruangan ini adalah ksatria juga, mereka adalah temanmu”. Aku melihat ke sekeliling ruangan.

“5 orang yang berada disini semuanya adalah ksatria?”, tanyaku.

“Ya. Dan masih ada 4 orang lagi yang sama seperti kita, tapi mereka tidak ada disini. Yang satunya sedang kesekolah dan 3 lainnya sedang menjalankan misi. Jadi total ada 10 ksatria, bila kau juga termasuk”, Yuto menjawab pertanyaanku. 

Tiba-tiba aku teringat peristiwa yang kualami tadi pagi. “Berarti cewek bertudung yang kutemui tadi pagi juga salah satu ksatria?”, tanyaku. 

“oh, yang kau maksud itu pasti daichan. Yup, dia juga salah seorang ksatria, sekarang dia sedang tidak ada disini karena sedang sekolah”, jawab Chii. 

‘oh jadi nama cewek yang menolongku tadi itu daichan’.

“tapi kenapa aku bisa menjadi salah satu ksatria? Memangnya apa yang bisa membuatku menjadi seorang ksatria?’, tanyaku masih belum paham dengan apa yang mereka jelaskan.

“Karena kau memiliki kemampuan khusus. Semua ksatria memiliki kemampuan khusus yang melebihi orang normal. Dan para ksatria ini di mata makhluk kegelapan memiliki aura berupa sinar yang menyilaukan sehingga memikat makhluk kegelapan untuk mendekati mereka. kau ingat kejadian yang menimpamu tadi pagi? Makhluk kegelapan menyerangmu kan?”, terang master.

“kejadian tadi pagi bisa dikatakan suatu keberuntungan. Bila kau tidak masuk pelindung, kami tidak akan mengetahui kau adalah teman kami. Dan untungnya lagi saat makhluk itu akan memakanmu, daichan bisa menolongmu. Coba kalau kami tidak ada misi di daerah situ, bisa-bisa kau akan dimakan mereka, tanpa kami tahu bahwa kau juga adalah seorang ksatria”,terang cowok yang sedari tadi asyik memainkan tab tersebut.

“tapi kalian pasti salah, aku tidak punya apa yang kalian sebut ‘kemampuan khusus’ itu”.

“kakimu tadi terluka saat dicengkeram oleh si‘muka rata’ tadi pagi kan? Dan kelihatannya lukanya cukup serius. Bagaimana keadaan kakimu? Apa masih sakit? Waktu kau masuk ke ruangan ini, sama sekali kau tidak menunjukkan rasa sakit, padahal kau berdiri lumayan lama tadi”, tanya master. 

Aku memegang kakiku. Benar, entah sejak kapan kakiku sudah tidak terasa sakit lagi. Padahal tadi pagi rasa sakitnya benar-benar terasa. “Coba buka perban kakimu’. Master memintaku membuka perban. Aku membuka perban yang melilit di kakiku. Aku melihat kakiku dengan rasa tidak percaya, luka besar dikakiku sudah tidak ada. Bahkan tidak terlihat bekas luka sama sekali.

“kau memiliki kemampuan penyembuh yang hebat. Kau bisa menyembuhkan diri sendiri dan juga temanmu. Itulah kemampuan khususmu”, jelas master. Aku masih tidak percaya dengan apa yang mereka katakan, tapi melihat kakiku yang bisa sembuh sendiri, mau tidak mau akhirnya aku percaya. 

Aku melihat jam di dinding, jam menunjukkan pukul 7. Gawat! Aku sudah janji pada ibu pulang cepat hari ini.

“Anuu... aku ingin segera pulang. Aku sudah berjanji pada ibu untuk pulang cepat hari ini”, kataku.

“Eh?!?!?!?! Kau sudah mau pulang? Kenapa???”, Chii mendekat ke arahku dan memegangi tanganku.

“Aku sudah berjanji pada ibu bahwa aku akan pulang cepat hari ini. Aku tidak enak membiarkan ibu menunggu terlalu lama”,kataku.

“ah iya, semua yang ingin kusampaikan padamu sudah kukatakan. Selebihnya, kau bisa bertanya langsung pada ibumu apa yang terjadi. Dan kalau bisa Yamada-kun, aku ingin kau tinggal bersama kami semua”,kata master.

“tinggal dengan kalian? Kenapa?”, tanyaku heran.

“semua ksatria tinggal di satu tempat. Hal ini dilakukan untuk melindungi diri mereka sendiri dari bahaya. Rumah yang mereka tinggali itu aman dari makhluk kegelapan. Selain itu, hal ini dilakukan tidak hanya untuk melindungi diri mereka sendiri, tapi juga demi orang lain”, jelas master.

“Ah master benar! Kau akan tinggal bersama kita kan?”, sambil berkata begitu, Chii tetap memegangi tanganku.

“akan kupikirkan, tapi aku tidak ingin meninggalkan ibuku sendirian”, kataku. Aku melepas pelan-pelan tangan Chii yang memegangi tanganku.

“ini demi kebaikanmu dan juga ibumu”, kata master. Aku bersiap-siap pulang.

“Yuya, antarkan dia pulang”, master menyuruh Yuya yang asyik bermain hp dari tadi.

“Hee?? Aku lagi?”, yuya menampakkan wajah melas.

“Kau yang menculiknya kesini, sebaiknya kau juga yang mengembalikannya”, Yuto menarik tangan Yuya dan membantunya berdiri.

“Kalau begitu aku permisi pulang”, aku memberi salam pada master dan semua yang ada di ruangan tersebut. Aku ingin segera pulang. Aku ingin segera bertemu dengan ibu.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar