Rabu, 29 April 2015

AKU SELALU BERSAMAMU

FF ini merupakan sekuel dari FF One Shoot yang berjudul 'Hanya Kau dan Aku'.
Kalau yang 'Hanya Kau dan Aku' dilihat dari Chinen POV, kalau yg ini dari Hikaru POV.
Disarankan untuk membaca FF itu terlebih dahulu sebelum membaca ini agar tidak bingung. :)

Cast : Yaotome Hikaru and Chinen Yuri
Genre : Romance, Misteri

Hujan. Lagi-lagi hujan turun. Aku menatap tetesan air hujan yang turun dari jendela rumahku. Aku benci air hujan. Sangat-sangat benci. Di saat hari turunnya hujan, kejadian yang tidak mengenakkan selalu terjadi padaku. Seakan-akan hujan bermaksud mengambil semua kebahagiaan dariku. Aku menatap tetesan air hujan yang membasahi jendela dengan tatapan benci. Ingatan burukku kembali ke masa lalu.

Hari itu, aku pulang lebih telat dari biasanya. Aku mengikuti kegiatan klub di sekolah hingga pulang agak malam. Aku pulang dengan rasa berharap. Ayah dan ibu bilang kalau hari ini kami sekeluarga akan pergi jalan-jalan. Aku sangat menantikan hari ini. Kami sekeluarga jarang keluar bersama, karena kesibukan kedua orangtuaku. Aku terus berlari menuju ke rumah. Aku tidak mempedulikan air hujan yang membasahi tubuhku. Pikiranku hanya tertuju pada keluargaku.

Sedikit lagi aku akan tiba di rumahku. Samar-samar aku mendengar suara sirine yang berbunyi yang beradu dengan suara hujan. Tidak hanya itu, aku juga bisa mendengar suara kerumunan orang yang berkumpul. Semakin dekat aku tiba di rumah, semakin jelas aku bisa mendengar suara-suara itu. Langkahku terhenti saat tiba di depan rumahku. Sinar merah dari lampu sirine menyilaukan mataku. Beberapa orang yang melihatku langsung berusaha membawaku pergi dari situ.

“Lepaskan aku!”. Aku menghempaskan tangan-tangan dewasa yang menahanku. Orang-orang dewasa yang lain juga berusaha menangkapku. Dengan badanku yang kecil dan langkahku yang gesit, aku berhasil meloloskan diri dari mereka. Aku berlari menuju ke dalam rumah. Aku yakin, ibu dan ayah sedang menungguku di dalam. Aku sampai di ruang tengah, ada sebuah pita kuning yang menghalangi pintu. Aku menerobos pita itu. Bau amis yang menyengat langsung menyerang hidungku. Mataku terbelalak saat kulihat pemandangan di ruangan itu. Rasa mual langsung menyerangku. Sebuah tangan yang besar langsung menutup mataku. Tangan itu kemudian menuntunku keluar dari ruangan.

Kini aku berada di luar rumah. Aku bisa merasakan air hujan yang membasahi tubuhku. Bau hujan kembali masuk ke dalam paru-paruku. Aku membuka mataku, menatap ke arah hujan yang turun dengan lebatnya. Perlahan aku menutup mataku, dalam sekejap pemandangan yang kulihat tadi kembali berputar dalam ingatanku. Darah yang berceceran dimana-mana, tubuh ayah dan ibu yang telah terpotong-potong sedemikian rupa. Bahkan organ dalam mereka pun berceceran. Bau amis yang tadi kurasakan kembali tercium. Rasa mual kembali menyerangku. Kali ini aku tidak bisa menahannya. Kukeluarkan semua isi perutku sehingga tidak ada lagi yang bisa kukeluarkan.

CKLEK. Suara pintu terbuka membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka. Chinen melangkah keluar dari kamarnya. Aku melihat ke arah jam yang terpasang di dekat situ. Rupanya sudah pagi. Sudah berapa lama aku berdiri disini? Hujan membuatku tidak sadar akan waktu. Aku melangkah mendekati Chinen. Kurapikan bajunya yang kusut dan kusisir rambutnya yang berantakan hingga rapi.

“Kau ingin makan apa hari ini?”, tanyaku pada Chinen. Chinen hanya diam menunduk. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Aku sudah terbiasa dengan tingkahnya ini. Sudah setahun lebih dia bertingkah seperti ini. Sejak kami tinggal bersama, dia tidak pernah berbicara padaku, bahkan menatapku. Aku melangkah menuju ke dapur, menyiapkan makanan untuk kami berdua. Dari dapur, aku bisa melihat Chinen yang melangkah menuju ke jendela. Matanya menatap lekat tetesan air hujan yang turun.

Suara gemuruh hujan yang mengenai atap rumah semakin keras. Suara guntur pun terdengar lebih keras, seakan ingin beradu dengan suara hujan. Setelah itu, kilat datang menyambar seolah tidak mau kalah dengan tetesan air hujan dan guntur. Aku sangat benci hujan. Aku benci hujan karena mereka merebut perhatian Chinen dariku. Mereka tidak perlu bersusah payah merebut perhatiannya. Cukup dengan beberapa tetesan air, Chinen akan memberikan seluruh perhatiannya pada mereka. Sedangkan aku, aku harus berusaha keras untuk mendapatkan perhatiannya. Aku yakin, akubisa kembali melihat garis senyumnya di wajahnya yang imut dan manis itu.

Hujan telah membawa pergi dua orang yang kusayangi, tidak akan kubiarkan hujan membawa pergi lagi orang yang sangat berharga bagiku. Saat aku kehilangan orangtuaku, hidupku terasa hampa. Aku tidak bisa merasakan apapun lagi. Mataku terasa gelap, nafasku terasa sesak, kulitku terasa dingin. Aku membiarkan diriku tenggelam dalam kegelapan.

“Tidak apa-apa Hika. Aku ada disini bersamamu. Aku akan selalu bersamamu”. Kata-kata Chinen waktu itu terus terngiang di kepalaku. Berkat kata-kata itulah, aku bisa melangkah keluar dari kegelapan yang terus mengurungku. Berkat kata-kata itulah aku bisa menjalani hari-hariku. Chinen selalu ada disampingku setiap saat. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia adalah orang yang sangat berharga bagiku. Aku menyukainya. Tidak, lebih dari itu, aku mencintainya. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku berharap aku akan terus bersama dengannya. Selamanya.

Tapi, semua itu berubah saat dia bilang akan pergi meninggalkanku. Dia akan menjauh dariku. Aku menolak keputusannya. Tapi, dia tidak mendengarkanku dan tetap memutuskan untuk pergi. Aku menatap hujan yang masih turun di luar jendela. Rasa kebencianku kembali timbul. Aku benci hujan karena mereka telah membawa pergi senyuman Chinen dariku bersamaan dengan air yang mengalir. Malam itu, saat aku ingin membawa Chinen bersamaku, saat itulah aku kehilangan senyum Chinen untuk selamanya. Aku tidak pernah lagi melihatnya tersenyum padaku. Bahkan, menatapku saja dia tidak mau.

Aku mendekat ke arah Chinen dengan membawa nampan makanan untuk kami berdua. Makanan kesukaan Chinen adalah menu makanan kami setiap hari. Dulu Chinen pernah berkata kalau makanan buatanku itu enak. Dia selalu tersenyum saat aku memasak untuknya. Aku meraih tangan Chinen dan menuntunnya untuk duduk di kursi. Kuberikan piring berisi makanan itu padanya. Dia hanya menatap piring itu.

“Kenapa? Kau tidak suka makanannya?”, tanyaku sambil mendekat ke arahnya. Dia hanya terdiam. Aku menghela napas panjang. Aku kembali menuju dapur untuk membuatkan makanan yang baru.

Aku kembali berkutat dengan bahan-bahan makanan. Aku terlalu sibuk sehingga tidak menyadari Chinen yang berdiri di belakangku. Aku tersentak kaget melihat Chinen yang berdiri diam menundukkan kepalanya di belakangku. “Chii?! Ada apa?”. Perlahan dia mengangkat kepalanya. Matanya menatap lurus mataku. Dalam sekejap, aku merasa telah terhipnotis oleh tatapan matanya. Badanku sama sekali tidak bisa digerakkan. Seakan-akan seluruh gerakan tubuhku telah terkunci oleh tatapan mata itu.

Aku mengamati wajah Chinen dengan seksama. Mulutnya yang kecil mulai membuka. “Hikaru....”. Aku tersentak kaget mendengar kata itu. Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Mataku terasa buram karena berusaha menahan air mataku agar tidak keluar. Perasaanku sangat senang sekali. Chinen memanggil namaku! Akhirnya, dia memberikan perhatiannya padaku!

Perlahan Chinen mendekat ke arahku. Aku terdiam di tempat bersiap untuk menerima tubuhnya yang mungil itu. Chinen merebahkan tubuhnya ke tubuhku. Tubuh kami saling berhimpitan. Tiba-tiba aku merasakan sensasi aneh dari perutku. Aku terjatuh dan terbaring tidak berdaya. Kulihat ke arah perutku, cairan berwarna merah membasahi perutku.

Aku menatap kearah Chinen yang berdiri diam menatapku yang terbaring lemah tidak berdaya. Aku bisa melihat ada sebilah pisau di tangannya. Matanya lurus menatapku. aku merasa tatapan matanya berbeda dengan tatapan mata sebelumnya. Tatapan matanya saat ini jauh lebih hidup dari sebelumnya. Aku membelalakkan mataku, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Chinen tersenyum. Ya, dia kembali tersenyum padaku.

“Akhirnya....kau tersenyum. Sudah lama aku ingin melihat senyummu lagi”. Tepat setelah itu, mataku terasa kabur, kesadaranku semakin lemah. Chinen merendahkan tubuhnya dan duduk di sampingku. Dia mengulurkan tangannya untuk memelukku dalam dekapannya. Aku mendengar suara bisikan yang kukenal, “Tidak apa-apa Hika. Aku ada disini bersamamu. Aku akan selalu bersamamu”.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar