Di depan rumah Yamada
“Yuya-san, terima kasih sudah mengantarku pulang”.
“Yah, tidak apa-apa kok. Lagian aku juga tadi sempat membuatmu takut waktu kita pertama kali bertemu”, Yuya tersenyum kearahku. Sesaat aku merasa pernah melihat orang ini sebelumnya, tapi aku lupa dimana.
“Bagaimana kalau mampir sejenak?”, aku menawarkan pada Yuya untuk masuk ke dalam.
“Ah terima kasih untuk tawaranmu. Tapi sayangnya aku harus segera pergi. Aku ada pekerjaan setelah ini. Sampaikan salamku pada ibumu ya”, Yuya mulai menyalakan mesin mobil. “Oh ya, Yamada kun,sebaiknya kau pertimbangkan lagi perkataan master soal tinggal bersama kami. Hal ini demi kebaikan semuanya. Dah, see you soon!!!”. Setelah berkata seperti itu, mobil mulai melaju. Aku terus melihat mobil Yuya hingga tidak terlihat lagi. Setelah itu aku langsung ke dalam rumah.
“Tadaima!! Kaa-san!”.
“Ryosuke, kenapa lama sekali kau pulang.Katamu hari ini kau bisa pulang cepat”. Ibu menyambutku di depan pintu.
“Gomennasai, tadi aku ada perlu sebentar”. Aku melepas sepatu dan meletakkannya di rak.
“setidaknya telepon ibu kalau kau tidak bisa pulang tepat waktu. Ibu cemas kalau terjadi sesuatu denganmu”. Ibu memelukku dengan hangat. “Ryosuke kenapa kakimu? Kenapa di celanamu ada noda darah? Apa yang terjadi?”. Ibu tampak panik melihat kakiku.
“Oh ini, tadi aku tergelincir terus jatuh.Tapi sama sekali tidak ada luka kok bu. Jadi ibu tidak usah khawatir”. Aku membuka celanaku dan memperlihatkan kakiku. Aku tidak bisa bilang pada ibu bahwa tadi memang ada luka yang besar hingga harus dijahit dan sekarang lukaitu lenyap tanpa bekas.
“aduh, makanya ibu selalu bilang hati-hati kalau jalan. Ya sudah, ayo kita rayakan ulang tahunmu. Ibu sudah menyiapkan pesta kecil”, ibu tersenyum dan mengajakku ke ruang makan. Disana sudah tersedia kue ulang tahun dan beberapa makanan kesukaanku. Kami segera duduk.
“Ryosuke, otanjoubi omedetou!”. Ibu menyodorkan kue ulang tahun padaku.
“Arigatou, kaa-san”. Aku pun meniup lilin yang ada di atas kue.
“Ryosuke, ini hadiahmu. Ibu harap kau bisa menyukainya”. Ibu meyodorkan sebuah kotak kecil.
Aku membuka kotak tersebut, didalamnya ada jam tangan antik berwarna putih yang bagus sekali. “Arigatou,kaa-san”. Aku langsung memeluk ibu dan mencium pipi ibu. Jam itu langsung kupakai di tangan. Ukurannya pas sekali. Aku sangat senang dengan hadiah ini.
“Ryosuke, ada yang ingin ibu bicarakan”. Ibu menatapku dengan muka yang serius. Melihat ibu seperti itu, aku pun teringat pertemuanku dengan para ksatria dan master. Juga soal kematian ayah dan siapa ayah yang sebenarnya.
“Ibu, apakah yang ingin ibu bicarakan itu adalah soal ayah?”. Aku menatap ibu.
“iya, bagaimana kau bisa tahu?”, ibu melihatku dengan sedikit terkejut. Aku menceritakan semuanya pada ibu apa yang kualami tadi pagi. Pertemuanku dengan makhluk kegelapan, para ksatria, dan juga pria yang disebut ‘master’ yang memberitahuku siapa ayahku yang sebenarnya dan bagaimana dia tewas.
Setelah selesai aku bercerita, ibu mendesah nafas pelan.“Ternyata kau sudah bertemu dengan mereka”. ibu lalu berdiri dan masuk ke dalamkamar. Aku duduk terheran-heran. Tak lama ibu keluar dengan membawa sebuah buku.
“Ini buku harian ayahmu”. Ibu menyodorkan buku yang dibawanya tadi padaku. “disana tertulis semua tentang ayahmu, siapa dia dan apa yang dia lakukan”. Aku membuka buku tersebut. Halamannya banyak yang sudah lusuh, tapi tulisannya masih jelas saat dibaca. “saat kau berumur 17 tahun, ibu bertekad akan memberitahukan semuanya padamu. Ayahmu mengatakan pada ibu kalau kekuatanmu itu akan mulai aktif saat kau menginjak usia 17 tahun.Saat kekuatanmu mulai aktif itulah, para makhluk kegelapan akan mulai mengejarmu.Tapi ternyata, mereka sudah menyerangmu lebih cepat dari yang ibu duga. Dan syukurlah kau bisa bertemu dengan rekanmu sesama ksatria”. Ibu menatapku dengan matanya yang lembut. Entah kenapa dari sorotan mata ibu aku bisa merasakan kesedihan.
Sebelum tidur, aku membuka buku harian ayahku. Disana tertulis bagaimana ayah menjadi seorang ksatria. Bagaimana ayah menjalani dan bertarung melawan para makhluk kegelapan. Bayangan ayah yang kuingat saat kecil memang beliau adalah sosok yang kuat, berani dan sigap melindungiku kapan saja. tapi aku sama sekali tidak menyangka bahwa ayah juga melawan makhluk mengerikan itu. Tiba-tiba air mataku menetes, aku mulai merindukan ayah. Ayah meninggalkan kami saat aku berusia 14 tahun. Tak terasasudah 3 tahun ayah meninggalkan kami. Aku menatap langit malam, disana terlihat banyak bintang bertebaran, aku pun berharap ayah ada di salah satu bintang tersebut. ‘ayah, aku merindukanmu’, gumamku dalam hati.
“WAAA!!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI??CEPAT KELUAR!!”.
Aku tersentak kaget. Ternyata aku ketiduran saat membaca buku harian ayah.
“CEPAT KELUAR DARI SINI!!”.
Aku mendengar teriakan ibu. “Ibu, apa yang terjadi?”, aku keluar kamar dan segera menghampiri ibu. Tampaknya ibu berada di ruang keluarga. Aku pun mempercepat langkahku.
“JANGAN KESINI RYOSUKE! CEPAT LARI!!”. Ibu berteriak lagi.
Aku terperanjat kaget melihat ruang keluarga yang berantakan. Aku terbelalak kaget saat melihat apa yang sedang berhadapan dengan ibu. Ibu sedang menahan sesosok makhluk, bentuk tubuhnya hampir menyerupai manusia, seluruh tubuhnya berbulu, dan makhluk itu memiliki kuku yang tajam. Ibu menahan makhluk itu dengan sekuat tenaga. ‘makhluk kegelapan’, ucapku pelan. Makhluk itu kemudian melihat ke arahku. Makhluk itu tersenyum saat melihatku, dan aku bisa merasakan dari pandangan matanya kalau dia ingin memangsaku.
“Akhirnya kutemukan juga kau, ksatria kesepuluh”, suara makhluk itu terdengar berat dan parau.
“Apa yang kau lakukan disini Ryosuke? Cepatlari selagi ibu menahannya”, teriak ibu
“Tapi ibu, aku tidak mungkin meninggalkan ibu sendrian”
“Cepat pergi, saat ini keselamatanmu adalah yang terpenting buat ibu. Cepat pergi selagi ibu menahannya disini”
“Tapi.... “
“Ryosuke, kau selalu menuruti perkataan ibu kan? Oleh karena itu, kali ini turutilah perintah ibu juga”, ibu melihatku dengan pandangan memohon.
“Tidak akan kubiarkan kau lari! Raja memintaku untuk membawanya ke istana. Aku pasti akan menangkapmu” makhluk itu kemudian mengibaskan tangannya dan melempar ibuku hingga ibu terpental ke dinding.
“Ibu!!”
“Ryosuke, jangan khawatirkan ibu. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini”, ibu merintih kesakitan. Aku bisa melihat darah mengucur keluar dari kepala ibu. Makhluk itu kemudian menghampiriku. Sesuai dengan perkataan ibu, aku pun bergegas keluar rumah. Suasana di luar rumah masih agak gelap, sehingga kondisi jalan masih sangat sepi. Aku berlari sekuat tenaga. Aku melihat kebelakang, kulihat makhluk itu tidak berlari mengikutiku,tapi terbang. Terlihat dia mengepakkan sayap yang cukup lebar. “Kena kau!”. Makhluk itu kemudian menukik tajam ke arahku.
SING!! Tiba-tiba aku merasa sensasi aneh. Sensasi ini pernah kurasakan sebelumnya. Ya, ini sama dengan waktu itu. Kejadian pagi kemarin saat di pasar. BLARR!!! Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Makhluk terbang itu kemudian jatuh karena sesuatu yang mengenainya. Tiba-tiba di depanku muncul mobil. Pintu belakang mobil itu terbuka.
“Ayo, cepat naik!”. Seorang cewek mengulurkan tangannya padaku. Aku ragu-ragu menerima tangan itu. Siapa mereka? kulihat makhluk terbang tadi bersiap untuk berdiri.
“Ayo cepat! Tidak ada waktu lagi! Kau mau mati disini hah??” ujar cewek itu tak sabar. Dengan sigap aku menerima uluran tangannya dan masuk ke dalam mobil. “Yosha, Yabu-kun cepat jalankan mobilnya!” kata cewek itu kepada cowok yang berada di belakang kemudi. Mobil itu kemudian melaju dengan kencang.
“Yamada kun, benar?”. Tanya cowok tersebut.
“Iya”. Jawabku. Di dalam mobil terdapat 3 orang. Cowok yang berada di belakang kemudi, kemudian ada seorang cewek di sebelahnya, wajahnya sangat cantik. Dan ada satu lagi cewek yang berada di sebelahku,omongannya kasar dan sedikit tomboi tampaknya.
“Perkenalkan namaku Yabu, dia Inoo” tunjuknya pada cewek yang berada di sebelahnya. “dan yang berada di sebelahmu itu namanya Ryuu”.”kami juga ksatria, sama sepertimu”.
“Cih, padahal kita baru saja pulang dari misi, malah harus membantu anak ini”, gerutu Ryuu.
“Keito melihat kalau ada ‘makhluk kegelapan’ yang mengincarmu. Dan karena kami barusan pulang dan kebetulan sedang berada didekat sini, maka diputuskan kalau kami bertiga yang akan membantumu”, kata cewek yang bernama Inoo ini. Suaranya lembut dan mencerminkan wajahnya yang cantik. Bagai seorang Yamato Nadeshiko saja.
BRUAKH!! Dari belakang mobil, mobil seperti dihantam sesuatu yang keras. Saat melihat kebelakang, makhluk yang tadi mengejarku sudah bangkit dan kini melancarkan serangan pada kami.
“Yabu, bisakah kau mengarahkan mobilnya kejalan sempit yang ada disana?”, Inoo menunjuk ke suatu tempat.
“Bisa. Kenapa?”, tanya Yabu.
“Aku punya ide untuk mengalahkan makhluk itu,Ryuu ayo bantu aku”. Atap mobil mulai terbuka. Inoo dan Ryuu pun bersiap-siap melancarkan serangan. ‘apa yang akan mereka lakukan’, tanyaku.
Tsuzuku~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar