PART 41
Dengan penuh waspada dan hati-hati, kami melangkah masuk ke dalam. Jalan yang berada di balik dinding ini tidak jauh berbeda dengan jalan lorong yang kami lalui tadi. Penerangan yang ada pun hanya berasal dari obor dari tangan Yuya. Aku terus memasang mata dan telingaku lebar-lebar. Begitu pula dengan para ksatria yang lain. Hikaru berjalan di depan menuntun kami. Keito terus menerus melihat bola kristalnya.
Tiba-tiba, tidak jauh dari tempat kami berada, terdengar suara gemuruh. Bersamaan dengan itu, kami merasakan getaran. Getaran ini persis seperti yang kurasakan sebelumnya, saat aku masih bersama Chinen, saat aku bertemu dengan prajurit kegelapan itu.
“Berhati-hatilah, kurasa ini bukan getaran biasa”, aku memperingati para ksatria yang lain. Tampaknya mereka juga mengerti kalau ini bukan gempa biasa. semuanya memasang tampang yang cukup serius. Aku bisa merasakan kalau gempa ini semakin dahsyat. Tanah yang ada di atas kami bahkan sampai runtuh akibat gempa ini. ‘Mungkinkah dia datang kembali? Si prajurit kegelapan itu?’.
“AWAASSS!!!!!”, jerit Keito. Bertepatan dengan itu, tanah yang ada di atas kami mulai runtuh. Tidak hanya tanah, batu-batu besarpun berjatuhan. Kami tidak mempunyai waktu untuk lari. Aku segera mendorong Inoo dan Daiki agar tidak terkena reruntuhan ini. Hikaru juga menarik tubuh Keito agar bisa menghindar dari reruntuhan. Reruntuhan itu telah berada sangat dekat dengan kami. Kali ini, aku pun tidak akan bisa menghindarinya. Aku menutup mataku, dan berharap sesuatu akan terjadi.
“YAMADA!!!”, aku bisa mendengar jeritan Daiki. Aku membuka mataku, ‘aku selamat! Tapi, bagaimana bisa?’. Aku melihat ke arah atas. Reruntuhan itu berhenti tepat di atas kami, seakan-akan ada sesuatu yang menghalangi mereka agar tidak jatuh menimpa kami.
“Kalian berdua tidak apa-apa?”, Yuya berdiri di depanku. Tangannya mengarah ke atas, seakan-akan dia menahan sesuatu. Aku kemudian mengerti, Yuya menggunakan kemampuannya untuk menghentikan reruntuhan itu dan melindungi kami. Hikaru terbaring tidak jauh dari tempatku berada.
“Terima kasih Yuya”, Yuya mengulurkan tangannya padaku untuk membantuku berdiri. Kami berdua lalu membantu Hikaru juga. Aku melihat ke sekeliling. Kami bertiga terkurung akibat reruntuhan tadi.
“Yuya!!! Yamada!!! Hika!!! kalian baik-baik saja?”, aku mendengar suara Daiki lagi. Suara itu berasal dari balik setumpuk batu besar. Tampaknya kami dipisahkan oleh batu ini.
“Kami baik-baik saja Daichan! Kau sendiri bagaimana??”, balas Yuya.
“Aku baik-baik saja. Keito dan Inoo juga baik-baik saja!”, seru Daiki lagi. Aku menghela nafas lega. Untunglah semuanya baik-baik saja.
“Baiklah, ayo kita hancurkan batu besar ini agar kita bisa berkumpul bersama dengan mereka lagi”, Yuya mengepalkan tangannya dan bersiap untuk menghancurkan batu besar itu.
“Kurasa tidak akan semudah itu”, kata Hikaru.
“Apa maksudmu?”, tanya Yuya lagi.
“Kurasa dia tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja”, Hikaru menunjuk ke arah bagian lorong yang gelap. Aku mendengar langkah kaki yang mendekat. Bau amis mulai tercium. Lama kelamaan sosok itu semakin jelas.
Aku kenal sosok itu, aku tahu wajah itu, aku kenal bau ini, “Kamiyama....”, ucapku pelan. Prajurit kegelapan yang kuhadapi tadi, yang membawa pergi Chinen.
“Yamada..... tidak kusangka akan bertemu denganmu lagi......”, Kamiyama melihat ke arahku dengan mata sayunya.
“Kau kenal dia Yamada??”, tanya Hikaru.
“Ya, dialah prajurit kegelapan yang kuhadapi tadi. Dia yang membawa Yuri pergi”. Kamiyama nmelihatku dengan senyum mengejek. Aku sedikit kesal saat dia melihatku seperti itu. Seakan dia merendahkanku.
“Bau apa ini?? apakah bau ini berasal dari dia?”, Yuya menutup hidungnya.
“Ya, begitu dia muncul, bau ini mulai tercium”, balas Hikaru.
“Tampaknya dia bukan lawan yang mudah. Kalian mencium bau amis ini kan? Ini bukan bau amis biasa, ini bau darah. Kalau sampai bau darah ini tercium sangat kuat, berarti dia sudah sering berlumuran darah”, Yuya memperingati kami. Dia berjalan ke arah batu besar yang menghalangi kami, “Daichan! Kau bisa mendengarku?”.
“Ya! Ada apa Yuya? apa yang terjadi?”, balas Daiki dari seberang batu.
“Maafkan aku, aku tidak bisa berkumpul dengan kalian sekarang. Ada salah satu prajurit kegelapan disini. Dia adalah musuh yang tadi dihadapi oleh Yamada, dan tampaknya akan sangat sulit menghadapinya. Kami bertiga akan menghalangi dan mengalahkannya terlebih dahulu. Kalian pergilah duluan, nanti setelah kami selesai, kami akan menyusul kalian”, seru Yuya lagi.
Daiki terdiam beberapa saat. Tidak lama, suaranya terdengarlagi, “Baiklah! Kami bertiga akan pergi terlebih dahulu ke tempat segel. Kami akan berusaha untuk menyelamatkan Chii dan Yuto. Segera susul kami jika kau sudah selesai!”.
“Keito! Jaga Inoo dan Daiki! Aku percayakan padamu untuk menjaga para putri!", seru Hikaru.
“Tenang saja. kau bisa mengandalkanku!”, balas Keito. “Inoo, Daichan, ayo kita pergi!”.
“Daichan! Jangan lakukan pertarungan yang tidak perlu. Kalau kau bertemu dengan musuh, larilah terlebih dahulu, jangan berhadapan musuh secara langsung! Kau mengerti??”, seru Yuya lagi.
“Tenang saja! aku bisa menjaga diriku kok!”, balas Daiki. Tak lama, aku mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Tampaknya mereka bertiga sudah berjalan terlebih dahulu ke arah tempat segel. Tinggal kami bertiga yang terjebak di dalam gua dan bersiap menghadapi musuh yang ada di hadapan mata.
Aku mengeluarkan pedangku, “kalian berdua, berhati-hatilah! Dia bisa melukai kita tanpa mendekati kita. Terlebih lagi, kekuatan serangannya sangat dahsyat. Tendangan kakinya seperti kita dihantam oleh sebuah truk besar”.
Hikaru menodongkan pistolnya ke arah musuh, Yuya memasang kuda-kudanya. Mereka berdua berkonsentrasi penuh terhadap musuh. Hikaru berjalan menuju sisi kanan musuh, sedangkan Yuya menuju sisi kiri musuh. Aku tetap berada di tempat, di hadapan Kamiyama. Kami berniat menyerangnya darisegala arah, hingga dia tidak mempunyai kesempatan untuk kabur.
Sementara itu.....
Inoo, Daiki, dan Keito, terus berjalan menuju ketempat segel. Inoo berjalan di depan, tangannya memegang lampu kecil yang berasal dari jam tangannya, sama seperti milik Chinen. Keito berjalan disampingnya sambil melihat bola kristalnya. Saat berjalan, beberapa kali Daiki melihat ke arah belakang. Mukanya menunjukkan ekspresi cemas. Meskipun dia berusaha menunjukkan muka sedang baik-baik saja, tapi Inoo dan Keito tahu kalau Daiki mengkhawatirkan tiga orang yang tertinggal di belakang. Mereka berdua juga merasakan hal yang sama seperti Daiki.
Keito kembali mengamati Daiki. Dia melihat kedua tangan Daiki yang putih bersih, ada beberapa bekas luka di kedua tangannya. Tampaknya luka itu berasal dari tali yang menjerat Daiki saat dia dikurung. Keito terus mengamati kedua pergelangan tangan Daiki.
“Ada apa Keito? kau kepikiran dengan bekas luka ini?”, Daiki langsung menutupi bekas luka di kedua tangannya. Dia menaruh kedua tangannya ke belakang.
“Hmm... ah tidak”, sekali lagi, Keito tampak terkejut saat Daiki menyadari kalau dia mengamatinya. “Bekas lukamu itu, apakah tidak sakit?”, sahut Keito lagi.
“Ah. Sudah tidak terasa sakit lagi kok. Berkat obat yang diberikan oleh Inoo”, Daiki tersenyum ke arah Inoo. Inoo melihat kedua pergelangan tangan Daiki yang memerah. Kedua tangannya tampak mulus, tidak ada apapun di tangan Daiki, meskipun bekas merah itu tampak seperti gelang yang melingkari tangannya. Inoo kemudian melihat ke arah Daiki dan mengamatinya sejenak. Inoo melihat sekilas ke arah Keito yang kebetulan juga sedang melihatke arahnya. Keito mengangguk pelan. Tampaknya Inoo mengerti apa yang dimaksud oleh Keito. Dia kemudian balas tersenyum pada Daiki.
“Jangan paksakan dirimu. Jika ada musuh yang datang, serahkan pada kami”, Inoo memegang kedua tangan Daiki, Daiki mengangguk pelan,dan tersenyum.
Mereka bertiga terus berjalan, mereka menemui sebuah anak tangga. Mereka memutuskan untuk menaiki tangga tersebut. Mereka terus menaiki tangga, kini mereka telah sampai ke sebuah ruangan yang cukup besar. Penerangan di ruangan ini cukup jelas. Jendela-jendela besar yang ada, meneruskan sinar matahari sehingga sinar itu bisa menerangi dalam ruangan.
“Tempat ini, jangan-jangan....”, Keito mengamati ke sekeliling ruangan. Ada beberapa pintu di sudut ruangan. Dinding ruangan itu penuh dengan ukiran. Di bagian atas ruangan, terdapat sebuah simbol yang cukup besar.
“Tidak salah lagi, ini tempat segel. Kita sudah berada di dalam”, jawab Daiki.
“Lalu, dimana segel itu berada?”, tanya Inoo.
“Nah, itu masalahnya. Aku lupa”, ucap Daiki sambil menjulurkan lidahnya. Inoo menghela napas, lalu melihat ke arah Keito, “Kau bisa lihat dimana tempatnya berada Keito?”.
“Ah, maaf, aku dari tadi berusaha melihat keseluruhan tempat ini, tapi aura kegelapan di tempat ini sangat kuat, sehingga aku tidak bisa melihat. Aura kegelapan ini membentuk semacam tabir penghalang sehingga aku tidak bisa melihatnya dengan kemampuanku”, jawab Keito.
Inoo melihat ke pintu-pintu yang berada di ujung ruangan. “Tidak ada cara lain, terpaksa kita harus memeriksa satu persatu pintuitu. Kuharap salah satu diantaranya menuju tempat dimana segel itu berada”, Inoo mulai berjalan menuju ke salah satu pintu. Dia membuka pintu itu dengan hati-hati. Sebuah ruangan yang tidak kalah luas dengan ruang yang pertama berada di hadapan mereka. Mereka bertiga kemudian berjalan masuk ke dalam.
“Aku sudah menunggumu, tuan putri yang cantik”, terdengar suara seseorang dari balik pintu. mereka semua langsung menoleh ke asal suara. Inoo dan Keito membelalakkan mata mereka saat melihat sosok yang berdiri di hadapan mereka.
“Kau.... kenapa kau ada disini?”, Keito menunjuk kearah cowok yang berada di hadapannya. Cowok itu adalah cowok yang mereka temui sebelumnya.
“Loh?? Kalian tahu siapa dia?”, tanya Daiki yang tidak tahu menahu soal pemuda yang ada dihadapannya. Tapi Inoo dan Keito tampaknya sama sekali tidak menghiraukan Daiki. Pandangan mereka tetap tertuju pada pemuda yang ada di hadapan mereka.
“Kenapa? Ini sudah menjadi tugasku untuk menjaga tempat ini”, jawab pemuda itu. Dia mulai berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.
“Dimana Yabu? Bukankah kau tadi berhadapan dengannya? Dimana dia?”, tanya Inoo tidak sabar. Pikiran buruk mulai menyerang Inoo. Dia berharap tidak ada sesuatu yang terjadi pada Yabu.
“Yabu? Ah, maksudmu dia?”, pemuda itu menunjuk ke salah satu arah. Di arah yang ditunjukkan olehnya, terdapat tiga tiang yang berdiri tegak. Terdapat sesuatu yang menempel di masing-masing tiang tersebut. Inoo, Keito, dan Daiki sangat terkejut saat mengetahui apa yang menempel ditiang tersebut. Kemarahan mulai menyerang Inoo saat dia melihat Yabu terikat di salah satu tiang tersebut. Di samping kanan kiri Yabu, Chinen dan Yuto juga terikat disana.
Inoo menatap pemuda itu dengan tatapan mata benci. Tidak hanya itu, aura kemarahan dan kebencian keluar dari tubuhnya. Tanpa pikir panjang, Inoo langsung menyerang Hamada, prajurit kegelapan itu, dengan kedua pedang miliknya. Hamada mengeraskan kedua tangannya dan bersiap untuk menyerang balik Inoo.
“INOO JANGAN!!!”, Daiki memperingatkan Inoo. Tanpa disadari oleh Inoo, Hamada telah berdiri di hadapannya. Tangannya telah berubah menjadi seperti pedang panjang. Hamada meluruskan tangannya dan bersiap untuk menebas Inoo dengan tangannya. Jarak mereka berdua sangat dekat sehingga tidak ada kesempatan bagi Inoo untuk menghindar. Tidak ada waktu lagi, tangan Hamada kali ini benar-benar telah berada sangat dekat dengan Inoo. CRASH! Darah mulai bercucuran akibat sabetan tangan Hamada.
“KEITOOO!!!!”, jerit Daiki saat melihat Keito tersungkur di hadapan Inoo. Darahnya mengucur deras dari punggungnya. Sabetan tangan Hamada mengenai punggung Keito. Tampaknya Keito berusaha melindungi Inoo dengan tubuhnya. Inoo menahan tubuh Keito yang terjatuh.
“Keito! kau tidak apa-apa? Kenapa kau melindungiku?”, Inoo mulai meneteskan air matanya. Tangannya masih memegang luka Keito, sebisa mungkin dia berusaha menghentikan darah yang keluar agar tidak banyak darah yang keluar lagi.
“Aku... sudah berjanji pada Hika untuk melindungi kalian berdua....”, Keito menatap lurus ke arah Inoo. “Terlebih lagi.... Yabu akan marah padaku kalau melihatmu terluka”, Keito mengusap air mata Inoo dengan tangannya.
“Tapi.... kau.....”, Inoo mulai terbata-bata. Dia semakin tidak sanggup menahan air matanya. Rasa bersalah mulai menghantuinya. Akibat kecerobohannya, Keito terluka karena melindunginya.
Hamada yang berdiri sejak tadi melihat Inoo dan Keito, merasa ini adalah kesempatan yang bagus untuk menghabisi mereka berdua. Dia mulai berlari menghampiri mereka berdua dengan niat membunuh. Baik Keito maupun Inoo sama sekali tidak menyadari pergerakan Hamada. Sekali lagi, Hamada mengayunkan tangannya ke arah mereka berdua. Kali ini dia yakin bisa mengenai mereka. BUAGH! Tendangan Daiki tepat mengenai tubuh Hamada hingga menyebabkan dia terpental cukup jauh.
“Keito, bagaimana keadaanmu?”, Daiki duduk disamping Keito. Darah masih mengucur deras dari lukanya. Inoo memberikan pil obat yang dia bawa dan memberikannya pada Keito. Dengan segera, Keito meminum pil itu.
“Sekarang sudah agak baikan kok”, jawab Keito.
“Begitukah? Baguslah”, Daiki menghela napas lega. Dia kemudian melihat ke arah Inoo yang masih terduduk diam. “Inoo, aku butuh bantuanmu”.
“Apa?”, tanya Inoo sambil berusaha mengusap bekas air matanya yang keluar.
“Aku punya rencana. Aku akan bertarung menghadapi musuh ini. Pada saat itu, kau bebaskan ketiga teman kita yang terikat disana”, ucap Daiki mantap.
“Tidak! Aku akan ikut bertarung bersamamu. Kau tidak bisa bertarung sendirian. Apalagi dengan kondisimu yang seperti itu”, Inoo menggenggam kedua tangan Daiki dengan erat. Keito juga melihat ke arah Daiki. Sekilas Daiki menunjukkan ekspresi muka terkejut.
“Rupanya kalian berdua menyadarinya ya... pantas Keito melihatku terus menerus...”, Daiki menghela napas dan melihat ke arah Keito. Keito hanya menunjukkan senyum tipis di wajahnya.
“Oleh karena itu, aku tidak akan membiarkanmu bertarung. Setidaknya kita berdua bersama-sama menghadapinya”, ucap Inoo mantap.
“Inoo, dengarkan baik-baik. Menyelamatkan mereka bertiga juga salah satu tujuan kita datang kemari. Mereka bertiga diikat disana kan? Aku bisa melihat kalau mereka bertiga juga diikat oleh sebuah segel sama seperti aku diikat. Hanya kau yang bisa membebaskan mereka bertiga. Oleh karena itu, segera bebaskan mereka, dan kita akan menyerang musuh bersama-sama. Semakin banyak orang, akan semakin baik kan?”, Daiki mengedipkan sebelah matanya.
“Tapi, kau tidak akan bisa melawannya sendirian...”,ucap Inoo lagi.
“Aku akan mengulur waktu dan mengalihkan perhatiannya. Selama itu, kau harus berusaha membebaskan mereka. Lebih cepat lebih baik, karena aku sendiri tidak tahu sampai berapa lama aku bisa menahannya”, Daiki mengambil kedua pedang Inoo yang terjatuh. “Aku pinjam pedangmu ya”.
“Tapi....”, Inoo masih merasa cemas dengan keadaan Daiki. Dia masih belum bisa meninggalkan Daiki sendirian untuk bertarung.
“Kau tenang saja Inoo... Daiki tidak sendirian, aku akan membantunya dari sini”, Keito yang sedari tadi terdiam mengamati kedua temannya itu akhirnya mulai berdiri sambil memegang bola kristal di tangannya.
“Kau bisa bertarung Keito?”, tanya Daiki tidak percaya.
“Aku juga ksatria sama sepertimu. Lagian, tidak keren kan kalau aku dilindungi oleh seorang cewek?”, jawab Keito. Daiki tersenyum, dia lalu melihat ke arah Inoo, dan memberikan tanda padanya untuk segera pergi. Hamada yang tadi jatuh tersungkur mulai berusaha untuk bangkit kembali.
“Inoo, cepat pergi! Serahkan urusan dia pada kami!”, Daiki mendorong pundak Inoo. Inoo pun segera berlari menuju Yabu dkk yang sedang terikat. Hamada yang melihat Inoo menuju para tawanan pun langsung berusaha berlari untuk mencegahnya membebaskan tawanan tersebut. Sekali lagi, Hamada mengubah tangannya menjadi sebuah pedang yang tajam, tangannya mulai terayun tepat di hadapan Inoo, akan tetapi, dengan sigap Daiki menahan serangan Hamada.
“Kau....”, geram Hamada. Dia semakin gusar karena dua kali serangannya berhasil digagalkan oleh Daiki.
“Maaf ya, tapi tidak akan kubiarkan kau mendekati Inoo lebih dari ini”, Daiki tersenyum mengejek ke arah Hamada. Kali ini, dia balas menyerang Hamada dengan dua pedang Inoo yang berada di tangannya. Pertarungan sengit terjadi di antara mereka berdua.
Di bawah tanah, Yamada dkk
Pertarungan sengit juga terjadi di bawah tanah. Serangan kombinasi dari tiga ksatria mampu mengurangi serangan dari Kamiyama. Saat kamiyama mulai menyerang, serangannya berhasil ditahan oleh Yuya dengan kemampuannya. Saat itu, Hikaru akan menembakkan pistolnya ke arah musuh. Saat musuh terluka akibat terkena peluru tembakan, aku akan menyerang maju dan menghunuskan pedangku padanya. Meskipun begitu, dia belum juga lumpuh, meskipun daya serangnya sedikit melemah, akan tetapi tidak ada tanda dari musuh kalau dia akan kalah.
“Benar-benar lawan yang merepotkan”, gerutu Hikaru saat mengambil jarak sejenak dan menggunakan kesempatan yang sedikit itu untuk mengatur napas dan menghimpun energi.
“Tapi, kurasa dia sudah mulai melemah. Daya serangnya sudah mulai menurun dibandingkan dengan yang tadi”, kataku sambil terengah-engah.
“Aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku harus segera mengalahkannya dan menyusul Daichan. Aku tidak bisa membiarkannyasendirian”, ucap Yuya.
“Daichan sedang bersama dengan Keito dan Inoo. Kau tidak usah khawatir. Terlebih lagi, Daichan sangat tangguh bila bertarung kan? Baik kemampuan khususnya maupun keahlian beladirinya jauh lebih baik dan lebih kuat dari kita semua kan? Bila mereka bertemu dengan musuh, mereka pasti bisa mengatasinya”, kataku sambil terus mengamati pergerakan dari Kamiyama.
“Justru itulah masalahnya, aku tidak ingin Daichan bertarung dengan musuh”, aku dan Hika melihat ke arah Yuya dengan tatapan heran, Yuya terdiam sejenak dan akhirnya mulai berkata, “Daichan... dia telah kehilangan kemampuannya. Sejak aku menemukannya di kediaman Jack, aku tahu kalau dia sudah tidak memiliki kemampuan khusus lagi. Dia berusaha menyembunyikannya agar tidak membuat kalian khawatir. Yang tersisa saat ini hanyalah kemampuan ilmu beladirinya saja. Aku harap dia tidak bertarung dengan musuh yang sangat kuat”.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar