Main Cast : Okamoto Keito
Jika tidak suka dengan genrenya, jangan dibaca!!!
---***---
BRAK!
Chinen, Inoo, dan Daiki langsung menoleh. Mencari tahu apa penyebab suara keras itu berasal. Mata mereka langsung terfokus pada Keito yang berdiri terpaku dan sebuah HP yang tergeletak di lantai.
Chinen mengambil inisiatif. Dia lalu mengambil HP Keito yang jatuh. Chinen langsung tersenyum saat melihat foto yang terpampang di layar HP. Dia tahu alasan Keito terpaku seperti itu.
Tanpa ba-bi-bu, Chinen langsung menunjukkan foto itu pada Inoo dan Daiki. Mereka berdua pun langsung mengerti apa yang menyebabkan Keito pucat dan terdiam bagai patung.
Foto apa sih?
Itu adalah salah satu foto cuplikan adegan di Pink & Grey, judul film yang dibintangi Yuto. Foto itu memang lagi ngetren di kalangan fans dan menyebabkan fans menangis. Apa? Tentu saja foto Yuto berciuman dengan salah satu pemeran wanita di film itu.
"Shock?"
Chinen tidak perlu mendengar jawaban pertanyaannya. Sikap Keito yang masih terpaku menandakan kalau dia shock berat.
"Eh? Kau menyukai Yuto? Kupikir kau Menyukai Hikaru"
Inoo mengangguk setuju mendengar ucapan Daiki. Chinen hanya menatap kesal ke mereka. Ayolah... Chinen saja tahu, kenapa 2 orang itu Lola?
"Why? Why? Why?"
Kebiasaan Keito kumat. Dia mulai berbicara Inggris. Bagai boneka rusak, dia hanya mengulang kata yang sama. Chinen menepuk punggung temannya itu untuk menabahkan hatinya. 'Apakah Ryosuke juga mengalami hal ini dulu?', pikir Chinen.
"Kalau begitu, kami akan memberitahu caranya padamu!"
Semua yang ada di ruangan itu menoleh ke Inoo. Cara apa?
"Cara untuk mencium Yuto! Kau juga ingin berciuman dengannya kan?"
"Eh, no no no"
Keito menggeleng. Tapi ketiga orang yang lain tahu, Keito ingin. Muka Keito yang merah menunjukkan keinginannya yang tersembunyi.
"Kalau begitu, kita akan menunjukkannya"
Tidak lama, Yamada datang. "Osu!", sapanya. Dia langsung menuju sofa dan berleha-leha disana. Tidak lama kemudian, Chinen berjalan menghampirinya. Entah bagaimana, Yamada merapatkan kedua kakinya dan membuka lebar tangannya. Dia tahu kalau Chinen ingin duduk di pangkuannya.
Chinen merangkul Yamada. "Kiss me"
"Disini? Masih ada yang lain Chii"
"Kiss me!"
Yamada menyerah. Dia lalu mencium Chinen. Chinen memperat rangkulannya. Sepertinya mereka sudah asyik dengan dunianya sendiri sehingga melupakan 3 orang lainnya.
"Begitulah caranya"
Chinen menoleh ke arah Keito. Meninggalkan kalimat tanya di kepala Yamada.
"I can't do that"
Keito menggeleng. Membayangkan dirinya bersikap manja pada Yuto, duduk di pangkuannya, sambil meminta ciuman? No! That's Horrible! That's not Okamoto Keito! Daiki dan Inoo mengangguk setuju. Mereka juga bisa membayangkan, betapa mengerikannya melihat Keito yang manja.
"Kalian sedang apa?"
Kali ini giliran Yuya yang datang. Inoo langsung berdiri dan segera menghanpiri Yuya. Tapi tindakannya dicegah oleh Daiki.
"Kau lakukan itu, aku akan memusuhimu seumur hidup!"
Yuya yang tidak punya bayangan apa yang terjadi, hanya bisa masuk ke dalam ruangan. Setelah menaruh tasnya, dia lalu berjalan ke arah Daiki yang memanggilnya. Daiki lalu menyodorkan sebungkus pocky padanya.
"Kau mau?", tawar Daiki. "Ini rasa baru"
"Rasa teh hijau? Boleh juga. Aku ingin mencobanya"
Daiki tersenyum. Dia mengambil sebatang pocky dan menyuapkan ke Yuya. Saat batang pocky yang ada di mulut Yuya telah menjadi pendek, Daiki lalu ikut memakan pocky itu hingga bibir keduanya bertemu.
"Kau juga bisa memakai cara ini Keito. Pocky game adalah cara yang manjur itu mencium seseorang"
Inoo mengangguk setuju. Chinen dan Yamada tidak peduli apa yang terjadi karena kini mereka telah asyik dengan dunianya sendiri.
Keito terdiam. Pocky game. Itu bukan cara yang aneh. Tapi dia yang berinisiatif duluan? That's impossible!
"Apa yang kalian bicara--- umph...", Yuya tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Daiki kembali menjejalkan pocky ke mulutnya dan sebagai penutup, dia ikut memakan pocky itu bersama dengan Yuya.
Seperti YamaChii, TakaDai kini juga sibuk dengan dunianya sendiri.
"Yabu... Cepatlah datang...", gerutu Inoo. Dia iri melihat 2 pasangan yang 'lovey-dovey' di ruangan itu.
Cklek. Pintu terbuka. Tanpa pikir panjang, Inoo langsung berlari menghampiri Yabu yang bahkan belum sempat masuk ke ruangan itu. Inoo langsung memeluknya dan menciumnya. Awalnya Yabu kaget dengan tindakan tiba-tiba Inoo, tapi lama-lama dia menyerah dan membalas ciuman member yang terkenal 'cantik' itu.
"WHAT THE HELL IS GOING ON IN HERE?!"
Semua member langsung sontak melihat ke arah Hikaru yang kini sudah berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.
"For God... What the hell? Why all of you just kiss each other?"
Semua member terpaku. Sontak mereka melihat ke arah Keito, berharap penglihatan mereka salah. Bahwa yang berbicara Inggris adalah Keito, bukan Hikaru. Tapi Keito sama terkejutnya. Dia termangu, terbelalak, dan membuka lebar mulutnya. Semua orang yang ada disana memiliki pikiran yang sama.
"Sejak kapan Hikaru berbicara dengan bahasa Inggris?"
"Chii! Berhenti bermanja-manja. Daiki! Mau sampai kapan kalian bermain pocky? Yabu! Kau yang tertua! Seharusnya kau mengatur mereka! Kenapa kau Malah asyik berciuman di depan pintu? Keito! Kalau kau melihat ini semua, kenapa tidak kau hentikan! For the God sake, all of you! Change your clothes right now!"
"Aku tidak mengajarinya"
Itu jawaban Keito saat beberapa member bertanya padanya. Dia sendiri juga heran melihat Hikaru berbicara Inggris. Bukankah Hikaru tidak menyukai bahasa Inggris?
"What are you doing? Let's move!" Hikaru segera memerintah yang lain untuk segera bergerak dan bersiap untuk pemotretan. "What? Do you wanna kiss too? Shall I kiss you?"
Keito menggeleng dengan keras. Dia langsung mengalihkan pandangannya dan bersiap ganti baju. Sementara member yang lain hanya bersungut kesal karena 'keasyikan' mereka dibuyarkan oleh Hikaru.
"Yo!!! Sory telat!", Yuto akhirnya datang juga setelah semua member sudah bersiap. "Syutingku makan waktu lama"
Jantung Keito langsung berdetak kencang saat Yuto mengucapkan kata 'syuting'. Adegan ciuman itupun kembali terngiang di kepala Keito. Sekilas, wajah Keito jadi murung.
"Ayo segera ke lokasi!" Hikaru memerintah semuanya untuk segera pergi. Chinen, Inoo, dan Daiki menarik pasangannya masing-masing untuk segera keluar. Memberikan waktu berduaan untuk Keito dan Yuto.
"Keito! Lakukan saja, kami sudah menunjukkan caranya padamu", ucap Inoo.
"Keito, good luck!", ucap Chinen sambil mengacungkan jempolnya.
"Keito, ganbatte!", terakhir, Daiki yang memberi semangat.
Tidak lama, tinggal Yuto dan Keito saja yang ada di ruangan itu.
"Mereka bicara soal apa?", tanya Yuto yang masih sibuk berganti pakaian.
Keito hanya menunduk malu. Dia tidak berani menatap Yuto.
'Apakah aku harus mencium Yuto saat ini juga? Aku malu. Tapi, aku memang ingin melakukannya. Tapi, bagaimana caranya? Apakah aku harus menggunakan cara Chii yang bersikap manja? Apakah aku harus menggunakan permainan seperti cara Daiki, atau menyerangnya secara mendadak seperti cara Inoo?'
"Keito?"
'Oh My God!!! Mana cara yang tepat???', teriak Keito di dalam hati.
---***---
"Hah..."
"Ini sudah ketiga kalinya aku mendengar kau menghela nafas. Kau tahu, bila kau melakukan itu lebih Dari 3x, nasib buruk akan menimpamu"
Hikaru menegur Keito yang terus saja menghela nafas. Saking depresinya Keito, tanpa sadar dia terus menghela napas panjang.
"Hari ini ada apa sih? Kau tampak murung. Sedangkan yang lain seperti orang gila. Mereka saling berciuman. Ini memang bukan pertama kalinya aku melihat mereka berciuman. Tapi ini pertama kalinya aku melihat mereka saling berciuman di depan satu sama lain. Biasanya mereka akan lebih sembunyi-sembunyi saat melakukannya"
Keito melihat ke arah Hikaru yang terus mengomel. Baginya, Hikaru juga sama anehnya. Tiba-tiba dia berbicara dengan bahasa Inggris. Kesurupan apa nih anak?
"Bukan apa-apa"
Tidak lama setelah itu, Hikaru pergi meninggalkan Keito karena sekarang adalah giliran Hikaru untuk difoto. Keito sendirian. Yang lain? Entah. Mungkin melanjutkan kembali 'kemesraan' yang mereka tunjukkan tadi?
Keito tidak peduli. Dia melihat kembali ke HPnya. Foto Yuto yang berciuman kembali terpampang. Keito menghela nafas lagi. Matanya kini tampak sedikit berair. Keito menutup matanya, berharap dia bisa melupakan foto itu. Tapi semakin dia berusaha melupakan, dia semakin mengingatnya.
"Keito?". Yuto tiba-tiba datang menghampiri Keito. "Kau tidur?". Yuto mengguncang tubuh Keito, tidak ada respon. Keito benar-benar tidur.
Yuto melihat setitik air mata yang ada di ujung mata Keito. "Kau menangis? Kenapa?", tanya Yuto sambil mengusap air mata Keito.
Pandangan Yuto kini beralih pada HP Keito yang masih menyala. Disana dia bisa melihat foto itu.
"Jangan bilang kau menangis gara-gara ini Keito", entah kenapa Yuto Malah tersenyum.
"Maafkan aku sudah membuatmu menangis, ini permintaan maafku", Yuto tersenyum sekali lagi.
---***---
"Gimana Keito??? Sudah kau lakukan?"
"Bagaimana hasilnya?"
"Gimana rasanya?"
Inoo, Daiki, dan Chinen langsung menyerbu Keito saat mereka berganti pakaian. Mereka penasaran apakah Keito berhasil mencium Yuto atau tidak.
Keito menggeleng. "Aku tidak melakukannya"
"Eh??? Kenapa? Padahal kami Sudah memberitahu caranya"
"Aku... Tidak bisa. Itu ciuman pertamaku. Mana mungkin aku langsung bisa melakukannya"
"Eh??? Kau belum pernah ciuman? Masa?", seru Inoo tidak percaya. Keito mengangguk.
"Keito sudah pernah ciuman kok", Yuto tiba-tiba masuk dan bergabung bersama dengan mereka.
"Eh? Tidak pernah kok", bantah Keito.
Yuto tersenyum. "Ciuman pertamamu telah kurebut tadi. Jadi kau sudah pernah ciuman Keito". Yuto mencubit pelan pipi Keito lalu pergi lagi keluar ruangan. Meninggalkan 4 orang yang ada di dalam yang sedang membatu.
"Eh?", Keito memegang pipinya. "Eh??", Keito memegang bibirnya. "EHH?!?! INI BOHONG KAN???"
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar