Senin, 12 Oktober 2015

AKUMA NO YOROI

Part 27
“Apa maksudnya ini?”
Keito menoleh ke arah Inoo yang kini memberikan tatapan tajam ke arah Yabu. Keito terus menatap Inoo, meminta kejelasan mengenai ucapan Yabu barusan. Tapi Inoo hanya bungkam, tidak berniat menjawab.
“Inoo Kei! Aku meminta penjelasan darimu!”
Keito mulai membentak Inoo. Yama yang tertidur sampai terbangun. Chii terperanjat kaget. Ini pertama kalinya dia melihat tuannya membentak orang lain. Yah, meskipun yang dibentak juga bisa dibilang bukan ‘orang’ sih.
“Ini bukan urusanmu bocah. Kau cukup melepas kutukanmu saja”, Inoo akhirnya membuka suara. Tapi ucapannya barusan malah seperti menyiramkan minyak ke dalam api.
Keito mencengkeram lengan Inoo yang terlihat kurus dan berkulit putih itu. “Tidak ada hubungannya? Kau bilang ini semua tidak ada hubungannya? Kalau kau penyebab semua kejadian ini, maka ini semua SANGAT berhubungan denganmu”
Inoo mengepalkan kepalan tangannya. “Ini semua tidak penting. Yang lebih penting adalah mengembalikan kekuatan anjing kecil itu”
Inoo berusaha mengalihkan pembicaraan. Berharap Keito tidak bertanya lebih jauh lagi.
Keito menoleh ke arah Yama yang kini menatapnya dengan tatapan yang lesu. Meskipun Yama berusaha bersikap tegak di hadapannya, tapi Keito tahu kalau Yama hanya pura-pura.
Perlahan, Keito melepaskan cengkeramannya. “Kalau kau tahu, cepat lakukan”, Keito terdengar sedikit dingin. Sebenarnya dia ingin bertanya lagi soal dirinya dan kutukan itu, tapi Keito juga tidak bisa membiarkan Yama melemah terus-terusan.
Inoo tersenyum penuh kemenangan. Dia berhasil mengalihkan perhatian Keito dari topik yang tidak ingin dia bicarakan. Inoo melihat ke arah Yabu yang berdecak kesal. Inoo membuka mulutnya dan menggerakkannya, ‘aku akan berbicara denganmu soal ini nanti’, kata Inoo tanpa suara pada Yabu.
“Tapi...”, Keito teringat sesuatu. “Bukankah kau bilang kalau ingin mengembalikan kekuatan Yama, aku harus mengikat kontrak dengan Arioka senpai? Sekarang Arioka senpai tidak ada bersama dengan kita”
“Sebenarnya tidak ada Daichan juga tidak masalah. Rencanaku sebenarnya adalah membuatmu mengikat kontrak dengan Daichan. Tidak ada hubungannya dengan Ryuu. Meskipun kini level Ryuu setara dengan Yabu, tapi masih ada Hika dan Takaki. 2 demon ini levelnya masih lebih tinggi dari Ryuu. Tidak ada hubungannya dengan Daichan kan?”
Keito sedikit kesal dengan penjelasan Inoo yang seakan-akan bermaksud memanfaatkannya dari awal. “Kalau begitu kenapa kau panik saat Raja Demon menangkap Arioka senpai? Bahkan kau sampai memerintah Takaki senpai untuk menangkap Arioka senpai lebih dulu”
“Karena kekuatan Daichan itu merepotkan. Daichan bisa ‘memakan’ demon yang kelasnya jauh lebih tinggi darinya. Sebisa mungkin aku ingin Daichan ada di pihak kita, tapi sebelum dia mengikat kontrak denganmu, Yang Mulia sudah membawanya pergi. Kalau begitu aku harus mengubah rencanaku lagi”
Inoo mendekat ke arah Yuto yang tampak sedang asyik ‘bermain’ dengan Ryuu yang terikat dan tidak bisa mengeluarkan suara. “Kau akan bekerjasama dengan kami kan Yuto?”
“Kalau aku tidak mau?”
“Brengsek”, Inoo merangkul Yuto dari belakang. Kukunya yang tajam kini berada di leher Yuto. Matanya kini berwarna merah semerah darah. “Kau yang membuat rencana kita berantakan, tentu kau akan bekerjasama kan?”. Inoo mengeluarkan aura demon miliknya.
Yuto juga tidak mau kalah, dia juga mengeluarkan aura demon miliknya. Matanya kini juga berwarna merah. Aura keduanya saling beradu di udara. Sudah jelas kalau aura Yuto lebih kuat dari Inoo. Tapi demon cantik itu tetap tidak mau mengalah.
“Baiklah”, Yuto perlahan menghilangkan aura demonnya. Matanya pun sudah tidak berwarna merah lagi. “Ini juga kesalahanku. Aku akan membantumu”
Inoo tersenyum. Dia kemudian menjauhkan kukunya yang tajam dari leher Yuto. “Kau memang partner yang bisa kuandalkan”
“Lebih baik kau menepati janjimu, Inoo Kei”
“Tentu saja. Karena hal ‘itu’ kita bekerjasama kan?”
Inoo tersenyum. Yuto menghampiri Ryuu yang masih saja meronta. Dengan satu jari, Yuto berhasil membuat Ryuu bungkam. Yuto menusuknya tepat di jantung.
“Jangan bunuh dia”, ucap Inoo. “Dia mungkin bermanfaat bagi kita suatu saat nanti”
“Tidak. Aku hanya membuatnya pingsan untuk beberapa saat”
“Apa yang kalian lakukan?”, tanya Keito yang penasaran dengan percakapan 2 demon itu.
“Kau tidak lihat? Aku akan mengeluarkan kekuatan dewa pelindung milikmu yang ada di tubuh Ryuu”
“Eh? Kau tidak perlu mengikat kontrak denganku? kau tidak perlu imbalan?”
Yuto melihat ke arah Keito. “Imbalanku terlalu tinggi. Kau tidak akan bisa membayarnya”
“Memangnya apa imbalanmu?”, tanya Keito ingin tahu.
“Nyawa manusia”, Inoo yang menjawab pertanyaan Keito karena Yuto kini sudah memasukkan tangannya ke tubuh Ryuu untuk mengambil kekuatan Yama. “Semua demon kelas S memiliki imbalan yang berat. Imbalan mereka berkaitan dengan ‘kehidupan’ manusia. Oleh karena itu jarang ada manusia yang bisa mengikat kontrak dengan demon kelas S karena mereka akan langsung mati setelah permintaan pertama mereka terkabul”
“Maksudmu aku juga akan mati setelah ini?” Keito teringat kalau dia sudah mengikat kontrak dengan Yuya yang merupakan demon kelas S.
Inoo menoleh ke arah Keito. “Yah... sebenarnya kondisimu sial sekali. Daichan tidak ada disini. Itu berarti tidak ada yang menjadi ‘makanan’ bagi Takaki. Apalagi kondisi Takaki saat ini sedang kelaparan karena dia tadi habis bertarung. Itu berarti dia butuh ‘makan’ sekarang”
“ARGHH!!!!”
Terdengar jeritan keras dari luar rumah. Seluruh penghuni rumah langsung menoleh ke asal suara. Para demon yang ada di dalam rumah langsung tahu siapa pemilik erangan tersebut.
Inoo tersenyum ke arah Keito. “Tuh, benar kataku kan? Dia sedang lapar sekarang”
“Lalu bagaimana? Aku harus memberikan darahku untuk dia?”
“Kalau kau mau silahkan saja. Tapi, Takaki suka menghisap darah korbannya hingga habis. Kau akan langsung mati kalau memberikan darahmu padanya”
Keito menggeleng. Dia tidak mau mati gara-gara jadi santapan demon. Dia sekarang sedang berusaha melepaskan kutukan supaya tidak mati, masa harus mati gara-gara demon sih?
“Hikaru, kau saja yang menjadi makanan Takaki”
Hikaru menatap Inoo tidak percaya. “Enak saja! Tidak mau!”
“Tapi diantara kita, kau yang mungkin bisa Hikaru”, tambah Yabu. “Kau selevel dengan Daiki. Jadi kau makanan yang cocok”
“Kalian berdua...” Hikaru menatap dua temannya itu. “Teganya kalian memberikan teman kalian untuk dimakan”
“Meskipun darahmu dihisap sampai habis oleh Yuya juga kau tidak akan mati”, ucap Yabu lagi.
“Benar benar. Nah Hikaru, cepat kau temui Takaki. Dia sudah menunggumu”
“Kalian.....”
“Ah dapat”, Yuto yang sedari tadi sibuk mengeluarkan kekuatan Yama akhirnya berhasil menemukannya. “Susah sekali menemukannya. Kekuatan ini hampir tersembunyi oleh kekuatan Hokuto yang ada di dalam sini”
“ARGHHH!!!!”
Takaki mengerang lagi. Aura demonnya bahkan sudah terasa sampai ke ruangan dimana mereka semua berkumpul. Hikaru menelan ludahnya saat mendengar erangan Yuya.
“Kau sedang apa Hikaru?”, Yuto menoleh ke arah Hikaru sambil memegang sebuah bola cahaya keemasan yang sepertinya itu adalah kekuatan Yama. “Lebih baik kau segera menuju ke Yuya dan bungkam mulutnya. Aku tidak tahan mendengar erangannya terus menerus”
“Kau juga... semuanya kejam sekali. Kenapa tidak kau saja yang memberikan darahmu?”
“Aku memberikan darahku untuk demon lain? maaf saja ya, aku tidak sudi. Sudah sana pergi”, Yuto mengarahkan telunjuknya ke arah Hikaru dan mengarahkannya ke luar. Hikaru juga ikut bergerak mengikuti telunjuk Yuto, sepertinya Yuto membuat badan Hikaru bergerak sesuai dengan kemauannya “Nah... buat dia bungkam Hikaru. Telingaku sakit mendengar erangannya”
“KALIAN SEMUA!!! AWAS KALIAN NANTI!!!”
Beberapa detik kemudian, suara erangan Takaki sudah tidak terdengar lagi, begitu pula dengan suara omelan Hikaru. Aura demon Takaki pun perlahan mulai menghilang. Tampaknya Hikaru sudah memberikan darahnya pada Takaki. Inoo tersenyum lega. Begitu pula dengan Yuto. Dia memegangi telinganya sambil tersenyum. Yabu hanya bersandar di dinding sambil memegangi lehernya. Membayangkan apa yang dilakukan Takaki pada Hikaru saat ini. Sesuatu yang sangat tidak ia inginkan.
“Nah...”, Yuto memberikan bola keemasan itu pada Keito. “Masukkan ini ke tubuhnya maka kekuatannya akan kembali seutuhnya”
Keito menerima bola keemasan itu dan memasukkannya ke dalam tubuh Yama. Yama sedikit mengerang saat bola itu perlahan masuk ke dalam tubuhnya.
---***---
“Hei, hei, tunggu...”
“Apaan sih? Sudah kubilang jangan mengikutiku kan?”
“Aku ingin bermain denganmu Ryuu”
“Jangan seenaknya panggil namaku! Aku tidak suka orang asing memanggil namaku”
“Tapi aku bukan orang asing, aku Yama, temanmu”
“Siapa yang berteman denganmu? Aku tidak ingat pernah setuju untuk berteman denganmu”
“Kau sendirian kan? Ayo bermain denganku”
“Aku punya seorang adik. Aku bukan anak kesepian seperti dirimu”
“Kalau begitu, kau mau mengenalkan adikmu padaku? Kita bertiga bisa bermain bersama”
“Kau ini keras kepala sekali. Kubilang, tinggalkan aku sendiri!”
---***---
“Mau diapakan si Arioka itu?”
“Kenapa dia tidak langsung dimusnahkan saja? kenapa repot-repot membawa dia kembali? bukankah dia adalah pengkhianat?”
“Tenang dulu Juri. Arioka belum mengkhianati kita, dia masih belum mengikat kontrak dengan bocah terkutuk itu. untuk sekarang, keberadaannya sangat diperlukan bagi kita”
---***---
Yama membuka kedua matanya. Pandangan matanya sedikit buram karena tertutup air mata. Yama bisa merasakan setetes air mata keluar dari kedua matanya. Setelah pandangannya sedikit jelas, dia bisa melihat Keito, Chii, dan Kenichi melihatnya dengan pandangan khawatir.
“Kau tidak apa-apa Yama? Aku terkejut saat melihat kau menangis. Apa kau merasa kesakitan?”, tanya Keito cemas.
“Yama, kau tidak apa-apa?”, tanya Chii.
Yama tidak menjawab. Dia bisa merasakan tubuhnya kembali seperti semula. Dia sudah berada dalam sosok manusianya. Dia kemudian melihat ke arah Ryuu yang masih pingsan karena ulah Yuto tadi. Perlahan, dia menghampiri Ryuu.
“Yama?”, tanya Chii lagi.
“Aku mengenalnya. Aku sudah tahu dia sejak dulu. Kenapa aku bisa melupakannya?”, Yama menyentuh muka Ryuu. Setetes air mata tampak mengalir di pipi Yama. “Kenapa kita berdua jadi begini? Bukankah kita dulu teman baik?”
“Bila manusia menjadi demon, maka ingatan dirinya saat menjadi manusia akan dihapus. Termasuk ingatan orang-orang yang berhubungan dengannya”, Yuto melihat ke luar sambil menghirup nafas panjang, membersihkan saluran pernafasannya.
“Tapi, kenapa Ryuu bisa menjadi demon? Apa yang terjadi?”, Yama masih menatap Ryuu. Setelah ingatannya kembali, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah yang dikenalnya itu.
Yuto mendekati Yama. “Bukankah kau yang paling tahu alasannya kenapa Ryuu menjadi demon?”, Yuto mengangkat dagu Yama dengan salah satu jarinya.
“Apa maksudmu?”
“Ryuu menjadi demon karena kau. Awalnya dia memanggilku untuk mengikat kontrak denganku. Tapi aku lebih tertarik menjadikan dua orang bersaudara itu menjadi demon. Sehingga aku mengubah dua bersaudara itu menjadi demon”
“Itu berarti kau yang mengubahnya menjadi demon!”
Yuto menaruh telunjuk di depan bibirnya, menandakan Yama untuk diam. “Kau tahu, Ryuu memiliki kekuatan yang sama dengan Daiki. Mereka bisa memakan demon yang levelnya diatas mereka. Kau tahu kenapa bisa begitu?”
Yama terdiam. Dia tidak tahu jawabannya sehingga memutuskan untuk diam saja. Menunggu Yuto meneruskan sendiri kalimatnya.
“Karena alasan keduanya sama. Mereka sama-sama membenci manusia. Ryuu dan Shin, mereka berdua dianggap sebagai makhluk yang berbahaya. Oleh karena itulah mereka tinggal di hutan yang jauh dari peradaban”, Yuto terdiam lagi. Suatu hari, sekelompok demon datang untuk memangsa mereka. Dan apa bisa kau bayangkan? Alasan para demon itu menyerang mereka karena kau”
Tsuzuku~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar