Senin, 12 Oktober 2015

AKUMA NO YOROI

Part 26
“Daichan? Arioka senpai maksudmu?”
Inoo mengangguk. Keito melihat ke atas dimana Daiki, Yuya, dan Jesse saling bertarung. Pertarungan itu sangat tidak enak untuk dilihat. Bahkan Keito tidak ingin mengganggu pertarungan itu kalau bisa.
‘Haruskah aku mengikat kontrak dengan Arioka senpai sekarang?’, batin Keito.
Keito melihat ke arah Yama dan Ryuu yang sedang bertarung. Keliatan sekali kalau itu hanya pertarungan sepihak. Yama hanya berusaha melarikan diri dan bertahan. Dia sama sekali tidak melancarkan serangan.
“Baiklah”, gumam Keito. “Aku akan mengikat kontrak dengan Arioka senpai. Tapi... bagaimana caranya?”
Inoo tersenyum. “Cara yang sama seperti saat kau mengikat kontrak dengan Takaki”. Inoo mengeluarkan sebuah botol kecil dari tas miliknya. Botol itu berisi cairan berwarna merah. Keito langsung menelan ludah saat tahu apa yang berada dalam botol tersebut.
“Tidak adakah cara lain?”, keluh Keito.
Inoo menggeleng. “Kecuali kau mempunyai cara untuk memanggil Daichan kemari dan memastikan dia mendengar perkataanmu. Tapi kurasa itu tidak mungkin mengingat kondisi Daichan seperti itu”, tunjuk Inoo ke arah Daiki yang masih bertindak ‘liar’.
Keito menerima botol itu dengan pasrah. Dia tidak punya ide lain. Keito menelan ludahnya sekali lagi sebelum membuka tutup botol itu.
BLAR!
Petir besar tiba-tiba menyambar. Botol yang berisi darah Daiki hampir saja terjatuh dari tangan Keito saat dia kaget.
“Apa yang---“
Keito tidak bisa meneruskan kalimatnya. Tiba-tiba langit menjadi gelap. Awan hitam berkumpul di atas mereka. Kabut-kabut mulai bermunculan. Bau darah dan busuk tercium dimana-mana. Keito sampai menutup hidungnya karena bau itu membuatnya mual.
Keito melihat ke arah 3 demon yang berada di dekatnya. Yabu dan Hikaru tampak sedikit pucat, sedangkan Inoo masih terlihat tersenyum walaupun Keito melihat ada setetes keringat yang keluar dari sela rambutnya.
“Dia... datang...”, gumam Yabu.
“Mustahil! Kenapa Yang Mulia kemari? Yang Mulia tidak pernah ke dunia manusia lagi selama ribuan tahun. Untuk apa Yang Mulia kemari?”, Hikaru ketakutan. Suaranya terdengar sedikit gemetaran.
“Yang Mulia? Yang Mulia Raja Demon maksud kalian?”, tanya Keito.
Langit terus bergemuruh. Seakan seperti menandakan amarah dari Yang Mulia. Akan tetapi, beberapa demon yang saling bertarung itu tampaknya tidak peduli dengan kedatangan Yang Mulia Raja Demon. Gerakan mereka sempat terhenti, tapi kemudian mereka melanjutkan kembali pertarungan mereka.
BLAR!
Petir kembali menyambar. Gerakan semua demon kembali terhenti.
“Inoo, Daiki!”
Yuto tiba-tiba muncul dari belakang Keito sehingga hampir saja membuat Keito terkena serangan jantung.
“Takaki! Bawa Daiki pergi dari sana!”, seru Inoo. Tampaknya dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yuto.
Yuya tampaknya tidak mendengarkan ucapan Inoo. Dia masih saja terus bertarung dengan Jesse. Sesekali dia juga menghindar dari Daiki yang tampaknya menyerang mereka berdua tanpa ragu.
“Keito! Perintahkan Yuya untuk membawa Daiki pergi! Jika Daiki dibawa pergi oleh Yang Mulia, kita akan kerepotan”
Seperti anjing yang menurut pada majikannya, Keito memerintahkan Yuya untuk membawa Daiki pergi. “Takaki senpai! Tolong bawa Arioka senpai menjauh dari sini”
Terlambat. Saat Yuya –yang terpaksa menuruti perintah- hendak membawa Daiki pergi, sekumpulan asap hitam yang berbentuk tangan telah menangkap Daiki dan membawanya pergi. Saat itu juga, Jesse, Taiga, dan Shin tampak ingin ikut menghilang bersama dengan Yang Mulia.
Yuto yang sigap, segera menangkap Ryuu yang masih saja asyik bertarung dengan Yama. “Kakak!”, seru Shin sebelum dia menghilang bersama dengan demon yang lain.
Tiba-tiba ada seberkas cahaya merah yang menuju ke arah mereka. Keito tahu, akan sangat berbahaya bagi mereka bila terkena cahaya itu.
“Menunduk!”, seru Chii. Chii lalu mengeluarkan bola api yang berasal dari salah satu ekornya. DUAR! Bola api itu kemudian bertabrakan dengan cahaya merah tersebut sehingga menyebabkan sebuah ledakan yang cukup keras.
“Kita harus segera pergi dari sini”. Keito dan Kenichi mengangguk dan mengikuti saran Inoo. Yuto pun menyeret paksa Ryuu agar dia mau ikut bersamanya. “Takaki! Kau juga!”
“Cih”, desis Yuya sebelum akhirnya ikut pergi bersama dengan Keito dkk. Darahnya mengalir deras dari tangan kanannya yang terputus karena sempat terkena cahaya merah tersebut. “Akan kubalas kau, Yugo”, umpat Yuya kesal.
Cahaya merah itu kembali menyerang kumpulan Inoo dkk, tapi Chii bisa menghalangi cahaya itu dengan balas menyerang dengan bola api miliknya.
“Juri?”
Keito sempat melihat ke arah sekumpulan demon yang menghilang sebelum berlari menjauhi tempat itu. Sekilas dia bisa melihat sosok Juri berada diantara mereka. Keito mengucek matanya, memastikan bahwa itu hanya khayalannya, tapi para demon itu telah menghilang.
---***---
“Lepaskan aku!”, ronta Ryuu yang kini terikat oleh mantra Yuto.
Saat ini mereka semua kembali berkumpul di kediaman Okamoto. Kenichi telah mengaktifkan kembali pelindung yang ada di rumah tersebut sehingga rumah itu tidak bisa diketahui oleh para demon.
“HEI! KALIAN SEMUA TULI? LEPASKAN AKU!”
“Berisiknya...”, Yuto menjetikkan jarinya. Suara Ryuu kini tidak terdengar lagi. Padahal dari ekspresi Ryuu dan gerakan mulutnya, jelas-jelas kalau Ryuu mengeluarkan suara dan mungkin sedang berteriak. Tapi suaranya sama sekali tidak terdengar.
PLAK! Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi Yuto.
“Ini bukan salahku”, Yuto mencoba membela dirinya di hadapan demon yang menampar dirinya.
“Oh ya? Lalu salah siapa?”
“Rencana kita sudah diketahui oleh Yang Mulia. Dia hanya bertindak selangkah lebih maju. Itu sebabnya ini semua terjadi”
“Seharusnya kau bisa mencegahnya. Kau kan ada di istana saat itu!”
“Aku berencana untuk memusnahkan Yugo dan Juri sekaligus. Tapi ternyata itu tidak berjalan mulus”
PLAK! Inoo menampar Yuto sekali lagi. “Kau bodoh atau apa? Otakmu dimana? Tentu saja kau tidak bisa mengalahkan mereka berdua sekaligus. Kalian bertiga semuanya demon kelas S. 2 lawan 1. Tentu saja kau akan kalah”
Yuto memegangi pipinya yang ditampar oleh Inoo. Sebuah goresan melukai pipi Yuto. Rupanya itu berasal dari kuku panjang milik Inoo saat menamparnya. Yuto menggigit bibir bawahnya seperti sedang menahan amarah.
“Tadi kau bilang Yugo dan Juri? Maksudmu Yugo dan Juri yang merupakan murid sekolah kita? Teman sekelasku?”
Keito tiba-tiba masuk dan menyela pertengkaran Inoo dan Yuto. Inoo langsung membuang muka karena masih merasa kesal dengan perbuatan Yuto. Sedangkan Yuto melihat ke arah Keito dengan pandangan dingin. Jauh beda dengan pandangan Yuto yang selama ini terlihat lembut, menurut Keito.
“Ya benar. Mereka adalah Yugo dan Juri yang kau kenal. Mereka berdua juga demon kelas S. Sama sepertiku. Kau tidak tahu?”
“Bohong. Tidak mungkin mereka berdua adalah demon”, bantah Keito.
“Ah... Mereka berdua adalah demon yang bertugas mengawasimu. Tindakanmu selalu diawasi oleh mereka berdua. Apalagi Juri, dia bertugas mengawasimu dengan bersikap sebagai teman dekatmu. Yang Mulia terus berusaha mengawasimu dalam jarak dekat”
Keito syok. Dia tidak menyangka kalau selama ini teman baiknya itu adalah demon. Apalagi Juri adalah demon kelas S, yang berarti dia adalah demon murni, bukan demon yang berasal dari manusia.
“Jadi, itu bukan mimpi. Itu benar-benar Juri”. Keito teringat kembali saat dia melihat sosok Juri diantara kerumunan demon itu. Ternyata itu semua bukan khayalannya saja. itu benar-benar Juri.
“Ah, sebagai info, yang menyerang kita dengan cahaya merah itu adalah Yugo”, jelas Yuto lagi sebelum dirinya sibuk ‘bermain’ dengan Ryuu yang terus meronta tanpa suara karena suaranya telah disegel oleh Yuto.
“Yama? Kau baik-baik saja?”
Keito langsung menoleh ke arah Chii dan Yama yang sedang duduk tidak jauh dari mereka. Chii memangku Yama yang masih berada dalam sosok anjingnya. Sedangkan Chii sudah bisa kembali ke sosok manusianya. Yama tampak sangat kelelahan.
“Dia baik-baik saja. Dia terlalu banyak menguras tenaganya saat bertarung dengan demon itu tadi. Biarkan dia tidur seperti ini”, ucap Kenichi yang tiba-tiba ikut berkumpul bersama dengan mereka.
“Ayah...”, gumam Keito. Dia masih tidak tahu bagaimana berbicara dengan ayahnya yang sudah menghilang 10 tahun ini.
“Keito... maafkan ayahmu ini yang sudah seenaknya meninggalkanmu padahal kau masih kecil. Yama, Chii, terima kasih sudah menjaga Keito sampai dia dewasa”
“Itu sudah menjadi tanggung jawab kami, Kenichi-sama”, jawab Chii sambil menundukkan kepalanya. Meskipun saat ini Kenichi bukan masternya lagi, tapi dia tetap menghormati mantan tuannya itu.
“Selama ini ayah menghilang kemana?”, Keito akhirnya memberanikan diri.
“Ayah pergi mencari cara untuk melepas kutukanmu, selain itu ayah mencari makam seseorang”
“Makam?”
“Ya, makam salah seorang leluhur kita. Salah satu pemimpin keluarga. Beliau tidak dimakamkan di pemakaman keluarga seperti leluhur yang lain”
“Jangan-jangan maksud ayah...”, Keito terdiam dan melirik ke arah Inoo yang masih keliatan kesal.
“Ya. Ayah mencari makam Okamoto Kaoru. Leluhur kita yang menghilang bersama dengan demon. Ayah mencari keberadaan makamnya. Tapi sepertinya makamnya disembunyikan dengan rapi oleh demon yang bersamanya saat itu”
“Kenapa kau mencari Kaoru?”, tanya Inoo yang merasa terusik mendengar nama Kaoru.
“Aku mencari makamnya karena ada yang ingin kupastikan”
Inoo mengangkat sebelah alisnya, wajahnya tampak dingin tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum sok ramah.
“Ada sebuah catatan yang menuliskan cara untuk melepaskan kutukan Yang Mulia Raja Demon, yaitu dengan cara mengikat kontrak dengan 7 demon”, Kenichi mengeluarkan sebuah buku tua yang dulu pernah dibaca oleh Keito. “Menurut catatan ini, yang menulis cara melepaskan kutukan itu adalah Okamoto Kaoru. Tapi ada yang aneh dari catatan ini”
“Aneh?”, tanya Keito.
“Menurut para tetua keluarga Okamoto, mereka tidak tahu kapan Kaoru-san menulis cara ini. seharusnya, jika seseorang menulis cara ini di catatan keluarga, atau buku mantera, itu harus sepengetahuan seluruh tetua. Tapi cara ini tiba-tiba saja ada di buku mantera keluarga”
“Apa bukannya para tetua itu saja yang lupa? Ini kan sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu”, sahut Keito lagi.
“Kaoru-san menghilang saat anaknya berumur 7 tahun. Setelah itu keberadaannya tidak diketahui. Menurut para tetua, tulisan di buku itu setidaknya ditulis setelah Kaoru-san menghilang. Jadi, tidak mungkin Kaoru-san yang menulisnya”. Kenichi terdiam sesaat. “Lalu para tetua itu juga mengatakan kalau mereka tidak pernah menerima kasus atau menerima kasus dimana ada seseorang yang menerima kutukan Raja Demon. Keito, kaulah orang pertama yang mengalami kutukan ini”
“Benar Kenichi-sama, ini memang aneh”, gumam Chii.
“Maksudnya?”, tanya Keito yang masih separuh mengerti.
“Keito-sama, anda adalah orang yang pertama menerima kutukan dari Raja Demon. Dan itu baru terjadi 10 tahun yang lalu. Jadi bagaimana bisa Okamoto Kaoru-sama menulis cara itu kalau keluarga Okamoto tidak pernah menemui kasus kutukan itu sebelumnya”
“Itu berarti Okamoto Kaoru adalah orang yang hebat. Dia bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang kan?”, ucap Keito lagi.
“Tidak. Okamoto Kaoru bukan seorang cenayang. Memang kemampuan spiritualnya tinggi, tapi dia bukan seorang cenayang. Lalu, bagaimana bisa tulisan itu berada di buku mantera ini kalau para tetua tidak ada yang tahu kapan dia menulisnya. Seakan-akan cara melepas kutukan ini tiba-tiba ada di buku tersebut”
Keito terdiam. Dia kini mulai bisa mengerti isi pembicaraan ayahnya. Keito sama sekali tidak menyadari keanehan ini. atau lebih tepatnya dia tidak tahu kebenarannya.
“Jadi, siapa yang menulis cara itu? apakah itu semua hanya kebohongan?”, tanya Keito.
“Manusia itu yang menulisnya, si Kaoru itu”, Yabu tiba-tiba masuk bersama Hikaru. “Tapi dia tidak sendirian. Demon berparas cantik yang ada di hadapan kalian itu juga membantunya. Mereka berdualah yang menciptakan cara melepas kutukan yang tertulis di buku itu. Kutukan yang ada padamu itu juga akibat ulah dua makhluk itu”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar