PART 40
Aku, Yuya, dan Daiki terus berjalan menyusuri lorong. Yuya berjalan di depan memimpin kami dengan membawa serta obor ditangannya. Daiki berjalan di sampingnya sambil terus memegang erat lengan Yuya. Aku berjalan di belakang mereka, sambil sesekali melihat ke arah belakang, untuk memastikan bahwa tidak ada satupun yang mengikuti kami. Entah sudah berapa lama kami berjalan, aku mulai merasakan kelelahan di kakiku.
Yuya dan Daiki yang berada di depan tiba-tiba menghentikan langkah mereka. Aku mendekati mereka berdua untuk melihat apa yang menghentikan langkah mereka. Aku bisa melihat sebuah dinding batu yang besar berada di hadapan kami. Tampaknya kami telah berada di ujung jalan. Aku tidak melihat ada jalan lain disana. Lorong ini benar-benar telah berakhir disini.
Sementara itu, Hika dkk....
“Kita harus masuk ke dalam tanah”, seru Hikaru mantap. Inoo dan Keito saling berpandangan keheranan. Hikaru melihat ke arah kanan dan kiri seakan mencari sesuatu.
“Tunggu dulu Hika, bagaimana caranya kita bisa masuk kesana?”, tanya Keito.
Hikaru menatap Keito dengan ekspresi bingung.“Bukankah sudah jelas? Kita akan menggali”, Hikaru melanjtkan pencariannya. Dia mengambil sebatang kayu yang berada di dekatnya. “Ini dia yang kubutuhkan!”. Hikaru mulai mengais tanah dengan batang kayu di tangannya. Inoo dan Keito hanya diam tertegun melihat Hikaru.
“Kalian berdua sedang apa? Ayo bantu aku”, kata Hikaru. Inoo dan Keito akhirnya mulai mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menggali. Tak lama, mereka berdua juga menemukan batang kayu. Sama seperti Hikaru, mereka akhirnya mulai menggali menggunakan kayu tersebut.
..................................................................................
“Lalu, apa yang kita lakukan sekarang Daichan?”, tanya Yuya.
“Kenapa kau bertanya padaku?”.
“Tampaknya kita berada di jalan buntu. Aku tidak melihat ada jalan lain di sekitar sini. Kalau ini benar-benar jalan buntu, maka itu berarti kita harus kembali ke jalan semula”.
“Tapi aku yakin kalau jalan yang kita lewati ini benar”.
“Gara-gara kau berkata kalau ada suara yang memanggilmu, kita jadi terjebak di lorong ini”.
“Tapi aku benar-benar mendengar suara itu. Dan aku yakin kalau lorong ini mengarah ke suatu tempat!”
“Kau yakin kalau suara-suara itu bukan halusinasimu? Mungkin kau terlalu capek sehingga mengira kau mendengar ada suara-suara yang memanggilmu”
“Kau ini kenapa sih? Kupikir kau percaya padaku”, ekspresi wajah Daiki mulai berubah menjadi cemberut. Dia mulai mencibirkan bibirnya. Yuya hanya diam dan menatap dingin ke arah Daiki. Aku bisa melihat mukanya terlihat sedikit kesal. Aku hanya diam saja melihat ke arah mereka berdua. Aku tidak tahu bagaimana caranya bersikap di hadapan sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Krak..... aku merasakan ada sesuatu yang jatuh menimpa kepalaku. Aku mengusap kepalaku untuk mencari tahu apa yang mengenaiku. “Tanah?”, gumamku saat melihat benda yang ada di tanganku. Aku mendongak kearah atas. Sekilas aku bisa melihat ada seberkas sinar yang masuk dari lubang kecil yang ada di atas.
Yuya dan Daiki masih melanjutkan perdebatan kecil mereka. aku merasakan kalau kali ini semakin banyak remahan tanah yang jatuh menimpaku. Lubang kecil yang kulihat di atas tanah tadi kini semakin lebar. Aku menyipitkan mataku untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Samar-samar aku mendengar ada suara dari atas. Lubang itu makin lama makin besar, sehingga aku kini bisa melihat langit dari bawah sini. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh kebawah. Sesuatu itu jatuh tepat ke arah kami bertiga.
“AWAS!!!”, seruku ke arah Yuya dan Daiki. Terlambat. Saat aku memperingati mereka, mereka sudah tidak bisa menghindar dari sesuatuyang jatuh tersebut. Tubuh mereka tertimpa oleh sesuatu tersebut. “Kalian tidak apa-apa?”, aku segera menghampiri mereka berdua.
“Adududududuh.......”, ucap seseorang. Aku menoleh ke arah sumber suara. Dari suaranya tampaknya itu adalah seorang perempuan. Sosok perempuan itu berdiri di hadapanku. Aku mengenali sosok perempuan yang ada di hadapanku. “Inoo?!”, aku terkejut saat mendapati Inoo di hadapanku.
“Yamada?!”, seru Inoo saat melihatku.
“Kau tidak apa-apa?”, aku mendekat ke arahnya untuk memastikan bahwa dia tidak terluka.
“Ah, tampaknya aku baik-baik saja”, Inoo mendongak ke arah atas. “Huwaa.... kupikir aku bakal mati tadi saat jatuh ke dalam sini”.
“Urghh....”, gumam seseorang yang berada di dekat Inoo. Kami berdua menoleh dan mendapati Keito terduduk di dekat situ sambilmemegangi kepalanya.
“Keito!”, seruku. “Kau baik-baik saja? adakah yang luka?”.
“Hngg? Yamada?”, Keito melihatku sambil menyipitkan matanya. “Ah, kurasa aku baik-baik saja”, Keito memeriksa kedua lengannya dan sekujur tubuhnya. Aku pun mendekati Keito dan memeriksa keadaannya. Aku melihat tidak ada luka satupun di tubuhnya.
“Tolong aku.....”, terdengar suara Yuya. Suaranya terdengar begitu dekat. Aku melihat ke sekeliling, tapi aku sama sekali tidak melihatnya.
“Yuya? Kau dimana?”, tanyaku.
“Disini....”, jawabnya. Aku melihat ke arah bawah. Aku mendapati Yuya yang berada tepat di bawah Keito dan Inoo. Seketika Inoo dan Keito langsung berdiri. Akhirnya aku mengerti bagaimana Inoo dan Keito bisa selamat tanpa luka di tubuh mereka. Yuya telah menahan tubuh Inoo dan Keito saat jatuh tadi.
“Maaf Yuya. Aku tidak tahu kau ada disitu”, ucap Inoo.
“Aku juga minta maaf. Kami benar-benar tidak tahu kalau kau ada disana. Berkatmu kami bisa selamat, terima kasih ya”, ucap Keito.
“Ah, bagus kalau aku bisa menolong kalian. Tapi akan lebih baik kalau kalian berdua langsung menghindar dari tubuhku. Rasanya tadi ada seekor gajah yang menindih tubuhku”, gumam Yuya sambil meringis.
“Kau ini... badanku tidak seberat itu”, seru Inoo yang tampaknya agak kesal dengan ucapan Yuya. “Bukankah seharusnya kau bisa menghindari kami dengan menggunakan kemampuanmu itu?”.
“Semuanya terlalu cepat. Sehingga aku tidak sempat menggunakannya”, bantah Yuya.
“Sudah, sudah”, aku berusaha menenangkan mereka bertiga. Aku mendekat ke arah Yuya dan menggunakan kemampuanku untuk memulihkannya. “Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya kalian bisa jatuh kemari?”, tanyaku pada Inoo dan Keito.
“Ah, ini ide Hika. Kami bertiga sebenarnya telah sampai di depan pintu gerbang tempat segel. Akan tetapi, banyak makhluk kegelapan yang berjaga di sana, sehingga kami tidak bisa masuk dengan mudah. Lalu, Hika mendengar suara kalian dari dalam tanah. Dia memutuskan untuk menggali tanah dan bergabung bersama kalian. Saat menggali, kami kehilangan keseimbangan dan pijakan tanah kami mulai runtuh, sehingga kami bertiga jatuh kemari”, jelas Inoo.
“Berarti, sekarang kita berada tepat di depan gerbang?”, tanyaku.
“Ya. Kami pikir di bawah tanah ini, kami bisamenemukan jalan lain untuk masuk ke dalam tanpa bertemu dengan para makhlukkegelapan itu”, jelas Inoo lagi.
“Lalu, dimana Hika? Aku tidak melihatnya”, tanyaku.
“Eh? Dia juga jatuh ke dalam sini kok”, jawab Inoo.
“Ah, dimana Daichan? Aku juga tidak melihatnya”, ucap Yuya juga.
“Mereka berdua ada disana”, jawab Keito sambil menunjuk sesuatu.
Kami berdua pun mendekat ke arah mereka berdua. Hikaru terbaring diatas tubuh Daiki. Tubuh mereka saling berhimpitan. Wajah mereka pun berdekatan satu dengan yang lain. Mereka berdua kelihatannya masih pingsan dengan kejadian yang menimpa mereka.
“Hika! mau sampai kapan kau tidur? Ayo bangun!”, Yuya menarik paksa tubuh Hikaru agar menjauh dari Daiki. Mukanya terlihat sangat kesal.
“Hngg...? Yuya? aku dimana?”, tanya Hikaru yang mulai sadar.
“Kau ini......”, geram Yuya.
“Yuya, sudahlah. Hika tidak sengaja”, kataku sambil menahan Yuya. Yuya akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya dari tubuh Hikaru. Dia kemudian berjalan menghampiri Daiki.
“Daichan? Bangunlah. Kau tidak apa-apa?”, Yuya berusaha membangunkan Daiki. Perlahan Daiki membuka matanya.
“Ah, aku merasa ada sesuatu yang menimpaku tadi”, jawab Daiki. Daiki melihat ke sekelilingnya, “Inoo?? Keito?? sedang apa kalian disini?”, tanya Daiki yang terkejut saat melihat dua orang temannya itu. Pandangannya kini melihat ke arah Hikaru yang kini mulai berdiri saat mulai tersadar dari pingsannya. “Hika!”, seru Daiki sambil berlari memeluk Hika. Mukanya terlihat gembira sekali.
“Daichan?! Ternyata benar kalau kau selamat!”, seru Hika sambil memeluk Daiki dengan erat. Mereka berdua saling berpelukan dengan wajah gembira. Tiba-tiba Hikaru merasa ada sesuatu yang mengamatinya. Yuya melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan tajam, seakan mengatakan untuk menghentikan apa yang mereka lakukan. Spontan, Hikaru melepas pelukannya dan menjauhkan tubuh Daiki darinya.
Hikaru menoleh ke arahku, “Dimana Chii? Bukankah kau tadi bersama dia?”. Aku terhentak kaget saat mendengar pertanyaan Hikaru. Aku terdiam sejenak sebelum menjawabnya.
“Yuri, dia.....”, aku menatap ke arah Hikaru, Inoo, dan Keito yang tampaknya menunggu dengan sabar jawaban dariku. “Dia ditangkap makhluk kegelapan dan dibawa pergi. Saat kami menyusuri lorong ini, kami bertemu dengan salah satu prajurit kegelapan. Kami berdua tidak mampu menghadapinya, sehingga akhirnya kami kalah”.
Semua orang yang ada disitu terdiam mendengar jawabanku. Tiba-tiba aku juga mulai menyadari sesuatu, “Mana Yuto? Bukankah kau tadi bersamanya Hika?", tanyaku ke arah Hikaru. Kali ini, giliran Hikaru yang terkejut.
Hikaru menatap ke arahku, “Sama seperti Chii, dia juga dibawa oleh prajurit kegelapan. Dia bilang, dia membawa Yuto ke tempat segel. Sehingga akhirnya kami pun bergegas menuju tenpat ini. Kami berdua sama sekali tidak bisa menghadapi prajurit kegelapan ini. Jika saja Keito dan Inoo tidak segera menolongku, aku bisa saja mati di tangan musuh”, jawab Hikaru.
“Mustahil...... Yuto kalah??”, Yuya tampak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, “Sekuat apa musuh kali ini?”.
“Kurasa mereka jauh lebih kuat dibandingkan dengan para prajurit kegelapan lainnya”, jawabku. “Salah satu prajurit kegelapan yang tadi berhadapan denganku mengatakannya, kalau kekuatan mereka jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan prajurit kegelapan lainnya, karena mereka merupakan pengawal pribadi para petinggi maou”. Aku teringat kembali ucapan Kamiyama, prajurit kegelapan yang berhadapan denganku, yang membawa pergi Chinen.
“Lalu, Yabu mana? Bukankah tadi dia pergi bersama dengan kalian berdua?”, tanya Yuya pada Keito dan Inoo.
Keito dan Inoo saling berpandangan, “Kami berhadapan dengan musuh saat perjalanan menuju ke tempat segel, Yabu menyuruh kami untuk pergi duluan dan dia akan segera menyusul kami bila dia telah mengalahkan musuh. Tapi, sampai saat ini dia belum juga menyusul kami”, jelas Inoo.
“Jangan-jangan Yabu telah kalah oleh musuh dan dia juga dibawa oleh musuh, seperti Yuto dan Chinen”, celetuk Daiki. Inoo segera menatap tajam ke arah Daiki. Mukanya terlihat sangat serius.
“Yabu tidak mungkin kalah! Dia pasti akan segera kemari! aku percaya dia akan menang. Sebelumnya dia telah menghadapi salah satu ksatria kegelapan dan dia menang!”, seru Inoo. Daiki yang berada di hadapannya hanya terdiam saja melihat Inoo. Dia tidak berani berbicara macam-macam setelah melihat ekspresi Inoo yang saat ini tampak sangat menakutkan. Kami pun juga ikut terdiam melihat tingkah Inoo yang tampak menakutkan saat ini.
“Sudahlah.... Hentikan kalian berdua. Aku yakin kalau Yabu akan segera menyusul kita kemari. Aku percaya kok Inoo....”, Hikaru mendekat ke arah Inoo dan membelai lembut rambutnya sambil tersenyum. Inoo hanya menunduk terdiam dan kemudian mengangguk, tampaknya dia mulai kembali tenang. Daiki yang masih sedikit takut dengan Inoo, segera menghampiri Yuya dan memegang erat lengan Yuya.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”, tanya Yuya yang mencoba mengganti suasana yang tampak mulai canggung diantara Inoo dan Daiki.
“Apanya?”, tanya Hikaru tidak mengerti.
“Katamu sekarang kita telah berada di depan gerbang. Lalu bagaimana caranya kita masuk ke dalam? Aku tidak melihat ada jalan lain”, Yuya mengangkat obor yang terjatuh dan mengarahkannya ke arah dinding batu yang ada tepat di hadapan mereka semua. Kami hanya berdiri terdiam melihat dindingbatu yang ada di hadapan kami.
“Pasti ada cara untuk membuka dinding batu ini. Aku yakin kalau ada jalan lain di balik dinding ini”, Daiki berdiri dan mulai meraba dinding batu itu.
“Bagaimanapun dilihat ini hanya dinding batu biasa Daichan... aku tidak melihat ada sebuah tombol atau pegangan pintu di batu itu.....”, ucap Yuya. KLIK. Terdengar suara seperti sesuatu telah ditekan.Tidak lama, terasa getaran yang hebat di dalam lorong. Dinding batu yang ada didepan kami bergeser dan di balik dinding itu, kami bisa melihat ada jalan lain. Kami semua hanya terdiam di tempat dan masih merasa terkejut dengan apa yangterjadi.
“Yatta!! Sudah kubilang kalau ada jalan lain kan??", Daiki tersenyum kegirangan. Yuya hanya terdiam melongo saat melihat jalan dihadapannya. “Kali ini, kau percaya padaku kan?”, Daiki merangkul Yuya. Wajahnya menunjukkan senyum kemenangan.
Yuya menghela napas panjang. Tangannya mulai membelai lembut kepala Daiki, “Baiklah, aku percaya padamu. Kerja bagus Daichan....”.
“Baiklah... ayo kita masuk. Aku yakin jalan ini menuju ke tempat segel”, Hikaru mulai melangkah masuk menuju jalan yang ada dibalik dinding batu.
“Tunggu dulu. Kita harus memastikan dulu apakah ada makhluk kegelapan di dalam sana”, Inoo mencegah Hikaru agar tidak masuk terlalu dalam. Tangannya mencengkeram erat tangan Hikaru.
“Sejauh ini, Aku tidak melihat ada musuh di dalam sana”, sahutKeito.
“Bagus. Ayo kita masuk ke dalam. Tidak ada jalan lain lagi. Kita harus menghentikan proses upacaranya. Kita juga harus menyelamatkan Chii dan Yuto yang telah ditawan oleh musuh. Mulai saat ini, kita harus bertarung dengan segenap kemampuan kita”, kata Hikaru sambil memimpin teman-temannya. Para ksatria segera menyiapkan persenjataan mereka. Mereka harus siap menghadapi serangan mendadak dari para musuh.
“Ada apa Keito?”, tanya Daiki pada Keito yang tampaknya diam-diam mengamatinya.
Keito sedikit terkejut saat Daiki menanyainya, “Ah tidak. Bukan apa-apa”, jawab Keito singkat. Keito segera mengalihkan pandangannya, tapi sedikit-sedikit dia berusaha mencuri pandangan ke arah Daiki. Dia menatapke arah Daiki seakan-akan mengamati sesuatu.
“Yuri.... tunggulah, aku akan segera menyelamatkanmu”, aku memegang pedangku dengan erat. Kulangkahkan kakiku dengan mantap, menuju ke jalan lain yang berada di balik dinding.
Tsuzuku~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar