Senin, 12 Oktober 2015

HIME TO KISHI

ff ini dibuat atas ideku dan Ruika Rei Mizutanismile emoticon
Part 2
Suasana kota cukup ramai. Lalu lintas yang padat, kerumunan orang yang akan pergi beraktivitas, menambah suasana ramai di kota. Suasana ini juga memancing kejahatan. Oleh karena itu, biasanya beberapa prajurit kerajaan akan berkeliling kota untuk berpatroli dan mengawasi. Inilah pekerjaan yang selalu dilakukan Yuya selain mengawal Pangeran Ryosuke.
“Bagaimana keadaan jalan?”, tanya Yuya pada salah seorang petugas keamanan yang sedang berjaga disana.
“Tidak ada yang berubah. Semua tetap aman terkendali”, jawab petugas itu.
“Bagus. Tetap waspada dan awasi lingkungan”, balas Yuya.
Yuya terus berjalan melanjutkan tugasnya. Dia terus memeriksa dan mengamati keadaan. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang terus mengikutinya sejak dia keluar dari istana. Sepasang mata itu berusaha mengikuti Yuya tanpa ketahuan.
“Tuan putri... ayo kembali saja...”, bujuk Keito pada Daiki yang ternyata sedang mengikuti Yuya dengan menyamar menjadi seorang pelayan.
“Tidak mau. Kalau kau ingin kembali, kembali saja sendiri. aku masih mau disini”
“Aduh tuan putri... nanti Nakajima marah pada saya. Seharusnya kalau tuan putri mau keluar, tuan putri lapor dulu pada Nakajima”
Daiki menggembungkan pipinya. “Ogah... Yuto gak asyik sih. Uh.. aku pengen tukar...”
Daiki kembali mengamati Yuya. tapi sosok yang diikutinya sudah menghilang dari pandangan. “Yah... Keito.... gara-gara kamu, kita kehilangan jejaknya... Huhuhu... Yuya...”, Daiki mulai merengek.
“Eh? Aduh tuan putri, jangan nangis. Aduh... bagaimana ini?”, ucap Keito yang mulai panik melihat tuan putri cilik yang ada di hadapannya itu mulai menitikkan air mata. Dia kemudian melihat ke arah penjual pocky yang tidak jauh dari mereka. “Ah, tuan putri, tunggu sebentar ya”.
Keito kemudian berlari menuju ke penjual pocky untuk membelikan sebungkus pocky untuk tuan putri. Tuan putri sangat suka pocky. Keito berharap pocky yang dibelinya itu bisa menghibur hati si tuan putri.
“Huhuhu... Yuya... Huhuhu... “, rengek Daiki di tempat persembunyiannya.
“LEPASKAN!”
Tangisan Daiki langsung berhenti saat mendengar suara teriakan. Tidak lama kemudian ada beberapa orang mulai mengerumuni suatu tempat. Karena penasaran, Daiki langsung menuju kerumunan orang.
Dengan tubuhnya yang kecil, Daiki berhasil menyelinap masuk ke dalam kerumunan dan menuju ke bagian depan. Kini dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. ada seorang wanita yang sedang dihadang oleh sekelompok pria yang Daiki duga adalah kelompok preman. Dari pembicaraan orang-orang yang ada di dekatnya, Daiki bisa menyimpulkan kalau sekelompok preman itu meminta pertanggungjawaban dari wanita itu karena tanpa sengaja menabraknya.
Salah seorang preman mulai mengarahkan salah satu tangannya ke arah wanita itu. Tampaknya preman itu berniat memukul wanita itu. Daiki langsung berlari menuju ke arah wanita itu dan melindunginya dengan badannya. Pukulan preman itu berhasil mendarat dengan mulus di muka chubby tuan putri itu.
“Aduh... sakit...”, Daiki meringis sambil memegangi pipinya yang sedikit memar akibat pukulan preman tersebut.
“Minggir kau pelayan! Aku punya urusan dengan wanita yang ada di belakangmu!”, seru salah seorang preman.
Daiki menggeleng. Dia masih melindungi wanita itu dengan tubuhnya.
“Tidak mau! Kalian tidak boleh menganiaya orang yang lemah!”
“Cih! Wanita pelayan ini... ayo kita hajar dia juga!”
Daiki mulai gemetar ketakutan. Dia sangat takut melihat gerombolan preman ini. Daiki ingin lari. Tapi dia tidak tega meninggalkan wanita itu sendirian.
Salah seorang preman mulai bersiap menghajarnya. Daiki langsung memejamkan matanya karena takut. Sekilas sosok seseorang muncul di kepalanya.
“Hiks.. hiks.. hiks.. YUYA!!!”
BRUAGH. Terdengar suara sesuatu yang sedang jatuh. Tidak lama, terdengar juga suara baku hantam. Daiki mulai membuka matanya. Dia tersenyum senang saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
“YUYA!”, jerit Daiki.
“TUAN PUTRI! TUAN PUTRI TIDAK APA-APA?”, Keito tiba-tiba datang bersama dengan Yuto. Wajah panik Keito terlihat jelas sekali. Daiki merasa sedikit bersalah karena membuat bawahannya cemas.
“Berani-beraninya kalian mengeroyok perempuan kecil hah? Kalian sama sekali tidak akan kuampuni!”
Yuya menggeram marah sambil mengepalkan kedua tangannya. Beberapa preman itu mulai mundur ketakutan dan berlari. Tapi disaat mereka akan lari, Yuto dengan sigap menghadang preman itu dan melumpuhkan mereka semua.
“YUUYAAA.....”, Daiki langsung berlari untuk memeluk Yuya.
GREP. Yuya memegang kepala Daiki dengan satu tangan. BLETAK! Yuya kemudian menjitak pelan kepala tuan putri tersebut.
“Yuya kejam...”, Daiki merintih pelan.
“Daiki.... sudah kubilang kan. Jangan keluyuran sendirian. Aduh... kenapa kau susah sekali dibilangin sih?”, Yuya tiba-tiba memeluk Daiki dengan erat. Saking eratnya sampai Daiki merasa sedikit sesak. “Kalau terjadi sesuatu padamu, aku tidak tahu harus bagaimana”
“Maaf... maafkan aku...”, ucap Daiki sambil sedikit terisak. “Huu... aku takut sekali tadi...”, kali ini giliran Daiki yang memeluk erat Yuya.
Yuya terdiam saat menyadari sosok kecil yang ada di pelukannya itu gemetar karena ketakutan. “Sudah, sudah, semua sudah berakhir kok. Tenanglah”, ucap Yuya sambil berusaha menghilangkan rasa takut yang ada di dalam diri tuan putri ini.
“Ngomong-ngomong, apa yang sedang anda lakukan tuan putri?”, tanya Yuya tiba-tiba. “Kenapa anda berpakaian seperti itu?”, tanya Yuya sekali lagi saat sadar dengan seragam pelayan yang dikenakan oleh Daiki.
“Aku...”, Daiki diam tidak bisa menjawab. Tidak mungkin dia cerita kalau dia sedang menguntit Yuya kan? “Aku ingin berjalan-jalan di kota dengan bebas. Kalau aku mengenakan pakaianku yang biasanya, maka mereka akan segera mengenaliku sebagai puteri kerajaan dan aku tidak bisa menikmati jalan-jalanku kan?”
“Benar itu alasannya?”, Yuya masih merasa sedikit curiga dengan alasan yang diberikan oleh tuan puteri kecilnya itu. Daiki memang terkenal memiliki ide yang sedikit gila dan sudah tidak terhitung berapa kalinya dia merepotkan Yuya dan pegawai istana yang lain.
Daiki mengangguk sambil menunduk. Dia tidak berani bertatapan muka langsung dengan Yuya. Daiki tahu dia tidak akan semudah itu menyembunyikan sesuatu dari Yuya. kebersamaan mereka membuat mereka mengenal dan saling mengerti satu sama lain.
Yuya menghela nafas panjang. “Baiklah. Kalau begitu ayo pulang Tuan Puteri”
“Tidak mau! Aku masih mau jalan-jalan!”
Yuya menatap Daiki. sikap Daiki menunjukkan kalau dia bersikeras tidak mau pulang dan mau tetap berada disana. Sekeras apapun usaha Yuya, maka itu akan percuma.
“Haahh....”, Yuya menghela napas panjang. dia kemudian melepas jas seragamnya dan memberikannya pada Keito. “Aku titip ini. ayo pergi Tuan puteri”
“Eh? Eh?”, Daiki masih bingung dengan sikap Yuya.
Yuya menarik tangan Daiki dan menggandengnya. “Tuan puteri mau jalan-jalan kan? Jadi akan kutemani. Tapi tidak bisa lama-lama ya, setelah tuan puteri puas jalan-jalan, kita akan langsung pulang”. Yuya melihat ke arah Keito. “Sampaikan pada Yang Mulia, Tuan puteri ada bersamaku, tidak usah khawatir”
“Ah baik. Berhati-hatilah di jalan”. Keito membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan Yuya dan Daiki. Bersama dengan Yuto, Keito kembali ke istana.
Daiki melihat Yuya yang masih menggandeng tangannya. Daiki memperat gandengannya dan tidak ingin melepaskannya. Dia sangat senang Yuya mau menemaninya.
“Nah, kita mau kemana?”, tanya Yuya
“Entah. Terserah Yuya saja”
“Lha kok terserah aku? Kan yang mau jalan-jalan tuan puteri”
“Daiki!”
“Eh?”
“Kan kau sudah janji akan memanggilku ‘Daiki’ kalau kita Cuma berdua”, Daiki memonyongkan bibirnya, wajahnya tampak sangat menggemaskan. Yuya menahan senyum saat melihat wajah tuan puteri serta teman masa kecilnya itu.
“Iya Daiki. sekarang kita mau kemana?”
“Kau yang menunjukkan jalannya. Aku tidak terlalu hapal kota ini. Aku kan jarang keluar”.
Raut wajah Daiki menjadi sedikit muram. Karena dia adalah salah satu anggota keluarga kerajaan, maka dia tidak bisa sembarangan keluar istana. Terkadang Daiki iri dengan Ryosuke yang bisa bebas keluar istana karena dia adalah penerus tahta kerajaan. Sebagai penerus, Ryosuke harus tahu situasi negara dan keadaan masyarakat.
Yuya menjadi merasa kasihan pada Daiki. Tidak tega melihat teman kecilnya sedih, Yuya akhirnya memutuskan mengajaknya jalan-jalan untuk bersenang-senang. ‘Sekali-kali tidak apa-apa deh’, batin Yuya.
“Baiklah, kita jalan-jalan saja yuk”
Yuya menggandeng tangan Daiki dan mengajaknya berkeliling. Daiki sangat senang. Dia merasa sedang berkencan dengan Yuya. Ini bukan pertama kalinya mereka berdua keluar bersama. Tapi sudah bertahun-tahun Daiki tidak keluar bersama dengan Yuya. Ya, sejak Daiki tidak menjadi penerus tahta lagi, semenjak itulah Daiki tidak pernah bersama dengan Yuya lagi. Dan semenjak itu pula Daiki terus merengek pada ayahnya untuk mengembalikan Yuya menjadi pengawal pribadinya dan selalu ditolak oleh ayahnya.
Daiki berhenti di sebuah etalase toko. Dia melihat sepasang cincin perak bergambar penguin. “Lucunya...”, gumam Daiki saat melihat cincin itu. “Enaknya kalau aku bisa memakai cincin itu bersama dengan Yuya”. Daiki langsung membayangkan dirinya dan Yuya memakai cincin itu. “Kyaa!!! Itu seperti cincin tunangan saja!”. Daiki tenggelam dalam khayalannya sendiri.
“Kau sedang melihat apa?”, Yuya tiba-tiba berdiri di belakang Daiki dan hampir membuat jantung puteri itu copot.
“Ah, eh, itu...”, Daiki menunjuk ke arah sepasang cincin perak bergambar penguin yang dilihatnya. “Lucu kan? Aku mau cincin itu”. daiki menatap Yuya penuh harap. Dalam hatinya dia berharap Yuya juga menginginkan cincin itu dan memakainya bersama.
“Ah iya, itu lucu”, Yuya hanya menjawab datar. Berlawanan dengan harapan Daiki. daiki sedikit kecewa saat Yuya membalasnya dengan biasa saja. “Ayo kita pulang Daiki, sudah hampir malam”
Daiki mengangguk. Dengan wajah sedikit tertunduk, dia berjalan meninggalkan toko itu. “iya ya, yang suka itu hanya aku sendiri”, gumam Daiki.
Yuya berjalan mengikuti Daiki dari belakang. Tanpa Daiki sadari, Yuya melihat sekali lagi ke arah cincin yang ditunjuk oleh Daiki. Sebuah senyum tergambar di wajahnya.
---***---
Daiki dan Yuya telah kembali ke istana. Mereka berdua disambut oleh Keito yang sudah menanti kepulangan mereka. keito segera memberikan jas seragam Yuya.
“Kau sudah pulang Daiki”, Yabu, raja negara Union menghampiri anaknya.
“Iya, ayah”
“Segera ganti bajumu. Ayah ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Ini mengenai pertunanganmu”
Tsuzuku ~~~

1 komentar: