Minggu, 01 November 2015

OH! IDOL

FF ini dulu kubuat atas rekues dari Arima Sachi aka Annisa Silvany. OC disini adalah Sachi sendiri. ^^

“Kyaa....!!! dia ganteng banget sih....”

“Iya... wajahnya itu lo... haduh, g kuaaat...”

“Bener bener, rasanya kayak ada malaikat turun ke bumi”

“Eh, uda liat doramanya yang baru belum? Keren abis! Mukanya waktu lagi jadi detektif itu lo.. keren gila!!!”

Begitulah sorakan dari para gadis saat melihat sebuah foto idola yang terpampang di sebuah halaman majalah. Semenjak mereka melihat wajah sang idola di majalah tersebut, komentar tanpa henti itulah yang terus keluar. Mereka terus asyik membicarakan sang idola, seakan-akan mereka tahu semua hal tentang sang idola. Masing-masing saling berebut membicarakan apa yang mereka tahu mengenai idola tersebut untuk menunjukkan bahwa dirinyalah yang lebih tahu mengenai idola tersebut.

“Haaa.... sampai kapan kalian membicarakan hal ini? Aku bosan”, oceh seorang gadis. Tampaknya dia sama sekali tidak berminat mengikuti pembicaraan teman-temannya mengenai sang idola. Gadis itu hanya duduk diam saja sambil mendengarkan teman-temannya yang asyik bercerita mengenai idola mereka.

“Kita kan lagi membicarakan Yamada Ryosuke! Itu loh, si artis terkenal itu. Masa kamu gak tahu??”.

“Aku tidak berminat sama yang namanya artis”. Gadis itu menjawab singkat.

“Ah... sejak dulu Sachi memang tidak tertarik dengan yang namanya artis sih. Sachi lebih suka membaca novel daripada lihat TV kan?”

Gadis yang bernama Sachi itu mengangguk. “Lebih bagus membaca kisah buatan shakespeare, roman buatannya selalu bagus. Lebih bagus daripada cerita murahan yang ditayangkan di TV atau bioskop”.

Anak-anak perempuan yang lain menggelengkan kepala dengan heran mendengar ucapan Sachi. Mereka semua tahu kalau Sachi sangat suka dengan karya sastra dan tidak suka dengan film maupun dorama yang ada di TV. Komik aja dia tidak suka. Tetapi, meskipun begitu Sachi bukanlah anak yang kuper. Dia tetap tahu berita terkini yang sedang ngetren di kalangan remaja. Akan tetapi, tetap saja itu tidak bisa menambah kesukaannya terhadap yang namanya artis.

“Enaknya kalau kita bisa bertemu langsung dengan idola kita ya... aku ingin bisa bertemu dengan mereka sekali seumur hidup”.

Sachi hanya menghela nafas mendengar perkataan teman-temannya. Dia tahu kalau semua temannya ini merupakan fangirl berat. Sachi juga sering diajak teman-temannya ini untuk membeli barang-barang yang berkaitan dengan sang idola. Berkat teman-temannya inilah Sachi tidak menjadi anak yang kuper meskipun Sachi tidak terlalu suka menonton berita seleb. Acara TV yang dilihat Sachi adalah berita dan acara dokumenter saja. Selain itu, Sachi sama sekali tidak berniat melihat acara lain.

Setelah berpisah dengan teman-temannya, Sachi memutuskan untuk mampir ke toko buku. Dia ingin melihat apakah ada buku baru yang bagus terbit hari ini. Saat menuju bagian literatur, Sachi melihat pajangan majalah. Matanya tertuju pada sebuah majalah dengan cover seorang pemuda yang dikenalnya, ya pemuda inilah yang tadi dibicarakan dengan sangat antusias oleh teman-temannya.

Sachi mengambil majalah itu dan membuka isinya. Dia membaca sebuah artikel mengenai idola tersebut.

Yamada Ryosuke. Aktor berbakat berusia 21 tahun. Salah satu member grup Johnny’s terbesar, Hey! Say! JUMP. Yamada berhasil memikat hati para fansnya melalui drama barunya ‘Kindaichi Shounen no Jikenbo Neo’. Bersama dengan senpainya di grup, Arioka Daiki, Yamada berhasil membuat rating dorama ini menjadi tinggi.
“Hee... ternyata dia aktor yang lumayan sukses toh”, gumam Sachi sambil melihat foto Yamada yang terpampang disana. “Wajahnya lumayan sih. Tidak salah kalau teman-teman jadi tergila-gila dengannya”.

Sachi kembali menaruh majalah itu di raknya seperti semula. Dia kemudian berbalik arah untuk menuju ke bagian literatur. Karena terlalu mendadak, Sachi tidak sempat melihat ada orang yang berdiri di belakangnya. BRUK! Tabrakan pun tidak dapat terhindari. Tubuh Sachi menabrak tubuh orang yang ada di belakangnya hingga mereka berdua terjatuh.

“Aduuhh... Sakit....”, rintih Sachi.

“Ah, maaf kau tidak apa-apa. Aku tidak tahu kalau kau tiba-tiba berbalik arah seperti itu”, ucap orang itu. Dari suaranya tampaknya kalau orang yang ada di hadapan Sachi ini adalah seorang lelaki.

“Aku tidak apa-apa...”

Sachi sangat terkejut saat melihat wajah orang yang ada di hadapannya. Lelaki itu menggunakan topi lebar dan kacamata hitam. Tapi kacamata hitam itu telah bergeser sehingga wajah lelaki yang ada di hadapannya itu kini menjadi terlihat dengan jelas. Sachi sangat kaget saat melihat lelaki itu.

“YAMADA RYOSUKE?!?!”

Tanpa sadar, Sachi berteriak dengan kencang saat mengetahui identitas sebenarnya dari lelaki yang ada di hadapannya itu. Sontak pengunjung toko yang lain melihat ke arah mereka akibat teriakan Sachi. Beberapa gadis yang ada di dalam toko itu pun langsung mengeluarkan HP mereka untuk memfoto sang idola jika benar bahwa idola mereka ada disana.

“Sst!!! Jangan berisik”

Pemuda yang berada di depan Sachi itu langsung membekap mulut Sachi dengan tangannya. Dalam hitungan detik, pemuda itu lalu menarik tangan Sachi dan mengajaknya keluar dari toko dengan tergesa-gesa. Mereka terus berjalan dengan cepat hingga sampai di sebuah taman yang sepi. Hanya ada beberapa orang di taman itu.

“Haah... kurasa disini sudah aman. Tidak ada orang yang mengejar kita”

Pemuda itu lalu melepas topinya dan membuka kancing jaketnya karena kepanasan. Sachi bisa melihat tetes keringat yang bercucuran saat dia melepas topinya. Hawa matahari siang ini memang sangat terik.

Sachi mengamati dengan seksama pemuda yang ada di hadapannya ini. Wajahnya memang sangat tampan. Ini pertama kalinya Sachi bertemu langsung dengan artis idola. Meskipun dia tidak tertarik dengan artis, tapi berkat teman-temannya yang penggemar idola, Sachi tahu wajah-wajah artis yang sedang tenar saat ini. Entah karena apa, Sachi terus mengamati wajah idola yang ada di hadapannya itu dengan seksama.

“Ah, gara-gara kamu, kita terpaksa harus kabur dari sana. Padahal aku ingin sekali membeli majalah dan komik”, gerutu Yamada.

“Kau.. kau betul-betul Yamada Ryosuke? Artis idola itu?”, tanya Sachi untuk memastikan bahwa orang yang ada di hadapannya ini memang orang yang sama dengan yang ada dalam pikirannya.

“Kau sendiri yang meneriakkan namaku di dalam toko. Seandainya aku bukan Yamada Ryosuke, tentu kita tidak akan lari dari sana kan?”

“Tapi, kenapa kau juga mengajakku ikut lari?”

Yamada melihat gadis yang ada di hadapannya ini dengan sedikit heran. “Kau yang pertama kali membongkar identitasku. Kalau aku tidak mengajakmu pergi juga, pasti saat ini orang-orang  yang ada disana juga akan menanyaimun macam-macam. Kau ingin seperti itu?”

Sachi menggeleng. Dia tidak ingin direpotkan oleh hal-hal yang tidak berguna seperti itu. Dia saja malas membicarakan soal idola dengan temannya.

“Kalau begitu, sudah ya. Aku pergi”

Sachi melenggang pergi. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, langkahnya dihentikan oleh Yamada. Yamada menahan tangan Sachi agar dia tidak nmelangkah lebih jauh lagi.

“Ada apa?”, tanya Sachi.

“Kau mau menemaniku? Sebagai balasan karena sudah membongkar identitasku. Aku ingin kau menemaniku berjalan-jalan seharian ini. Aku ingin kau membantuku menyembunyikan identitasku”.

“Menemanimu? Aku tidak mau”

“Setelah membongkar identitasku seperti itu, kau mau pergi begitu saja? Seandainya kau tidak meneriakkan namaku di dalam toko itu, aku bisa berbelanja dengan tenang”

Sachi menatap Yamada lekat-lekat. Dalam hati dia juga merasa bersalah. Dia sendiri yang membongkar penyamaran Yamada. Berkat itu dia tidak bisa lagi berjalan dengan bebas.

Sachi menghela nafas panjang. “Baiklah. Akan kutemani kau”

Dengan berat hati, Sachi menemani Yamada berkeliling kota. Yamada mengajaknya pergi ke beberapa tempat. Sachi tidak habis pikir, darimana Yamada memiliki tenaga seperti ini? Sepanjang perjalanan ini, Sachi mulai berpikir kalau Yamada seperti anak-anak.

“Kenapa kau harus menyamar? Kenapa tidak keluar saja apa adanya?”

Yamada tertawa mendengar pertanyaan Sachi. “Aku ini seorang artis. Hidup kami berbeda dengan orang biasa. Kami tidak bisa seenaknya berkeliaran dengan bebas karena media selalu mengawasi kami. Sedikit saja ada pemberitaan buruk mengenai kami, maka itu bisa menjadi masalah”

“Lalu kenapa kau memilihku untuk menemanimu seharian ini?”

Yamada menatap lurus ke arah Sachi, “karena kau kelihatannya seperti orang baik. Terlebih, kau sama sekali tidak berminat dengan yang namanya idola kan? Biasanya para gadis akan langsung heboh ketika bertemu denganku, mereka akan meminta foto bersama maupun tanda tangan. Tapi kau sama sekali tidak melakukannya”.

Sachi mengangguk setuju. Dia kagum pada Yamada yang bisa mengetahui hal itu walaupun mereka hanya bertemu hari ini. Berkat kejadian ini, Sachi juga bisa mengetahui sisi lain Yamada yang tidak pernah dibicarakan oleh teman-temannya. Sisi sebagai ‘manusia biasa’. Entah kenapa, Sachi merasa sangat bangga mengetahui hal yang tidak diketahui oleh orang kebanyakan.

Hari sudah menjelang malam. Yamada mengantar Sachi pulang.

“Terima kasih sudah mengantarku”, ucap Sachi.

“Tidak apa. Kau sudah menemaniku seharian ini. Justru akulah yang berterimakasih”. Yamada lalu beranjak pergi, tapi baru beberapa langkah dia kemudian berbalik lagi. “Boleh kupinjam Hpmu?”

Sachi menatap Yamada dengan heran. “Buat apa?”. Sachi mengulurkan Hpnya ke arah Yamada.

“Akan kuberikan kau sebuah hadiah kecil”, ucap Yamada sambil tersenyum kecil.

Yamada mendekatkan tubuhnya ke arah Sachi. Yamada lalu mengangkat HP Sachi tinggi-tinggi. CKLIK! Terdengar seperti suara kamera yang ditekan.

“Ini hadiah dariku. Jarang-jarang lo kau bisa berfoto berdua dengan sang idola”

Sachi menerima Hpnya kembali. Dia melihat foto hasil jepretan Yamada. Foto dirinya berdua dengan Yamada. Sachi menatap lekat-lekat punggung Yamada yang berjalan menjauh sambil menggenggam erat Hpnya.

“Idola ya? Tidak buruk juga. Kurasa besok aku akan mencaritahu soal idola lebih banyak deh”.

Sachi menatap sekali lagi foto yang ada di Hpnya dengan tersenyum.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar