PART 45
Di tempat yang agak jauh dari tempat segel berada, di dekat perbatasan antara wilayah barat dan timur, tampak seperti ada awan hitam yang membumbung tinggi di langit. Orang awam yang melihatnya, pasti mengira itu adalah hanya awan mendung saja. Tapi, bagi orang yang memiliki kemampuan khusus, pasti tahu kalo benda yang berbentuk awan hitam itu adalah sekumpulan makhluk kegelapan. Dan bila diperhatikan baik-baik, maka akan terlihat seperti sebuah lapisan tipis yang membatasi antara awan itu dengan lingkungan yang ada di bawahnya. Lapisan itulah yang disebut pelindung bagi para ksatria. Tidak hanya para ksatria, sang magician dan sang alchemist pun juga bisa membuatnya.
“Haaahhhhh....... kepalaku bisa sakit kalau begini terus”, keluh Jin sambil memegangi lehernya yang terasa kaku. Dia melihat ke arah makhluk kegelapan yang berjumlah sangat banyak. Sebagian memang sudah dimusnahkan oleh Jin, tapi mereka terus saja berdatangan tanpa henti. Membuat Jin kewalahan untuk membasmi mereka. Musuh ini tidak terlalu berat, hanya saja karena jumlahnya yang begitu banyak membuat Jin mulai kecapekan. Jin akhirnya mengurung mereka semua dalam sebuah pelindung yang dia buat.
Sayup-sayup Jin mendengar suara langkah kaki kuda. Bersamaan dengan itu, dia juga mendengar suara seperti sayap yang sedang dikepakkan. “Akhirnya pak tua itu selesai juga”, Jin melihat master yang datang bersama dengan pegasus. Jin mengambil sebuah batang rokok dari sakunya, menyalakannya, kemudian menghisapnya dalam-dalam.
“Maaf membuatmu menunggu”, ucap master. Kini dia telah berada di hadapan Jin.
Jin menghembuskan asap rokok dari mulutnya, “Aku bisa merasakannya dari sini. Kalau kau telah membuat satu pelindung lagi di tempat segel yang berada di wilayah timur”, ucap Jin sambil menunjuk ke arah master berasal.
“Ya. Kini kita sudah tidak usah khawatir. Makhluk kegelapan tidak akan bisa masuk ke wilayah timur. Proses mereka akan terhenti. Dan pintu segel tidak akan terbuka”, ucap master.
“Tidak. Kurasa kita sudah sedikit terlambat”, Jin menunjuk ke arah tempat segel berada. Jin dan master bisa melihat ada sesuatu yang berwarna hitam mengelilingi sebuah tempat yang tampak seperti sebuah menara kecil. Menara itulah tempat segel dimana para ksatria berada. Di wilayah timur juga ada menara yang serupa.
Master membelalakkan matanya, “Tidak mungkin, prosesnya sudah dimulai? Tapi bagaimana bisa? Sekarang masih belum waktunya bulan mati”, master melihat ke arah langit malam. Dia masih bisa melihat bulan, walaupun bentuknya tidak bulat sempurna. Bentuk bulan saat ini bagaikan sebuah sabit kecil.
“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi, meskipun begitu, bulan saat ini memang tidak terlalu bersinar dengan terang. Sinarnya bahkan terhalang oleh awan-awan itu sehingga kondisinya sama seperti saat bulan mati”, Jin melihat ke arah awan-awan tebal yang sedari tadi berusaha untuk menghalangi pancaran bulan.
“Lalu, bagaimana dengan anak-anak itu? bagaimana dengan para ksatria? Apakah mereka semua telah dikalahkan?”, ucap master. Matanya menunjukkan rasa khawatir. “Bagaimana dengan Arioka? Apakah mereka berhasil menyelamatkannya?”
“Aku tidak tahu. Aku dari tadi terus berada disini, bagaimana aku bisa mengetahuinya?”. Jin melihat menara kecil yang tampak seperti menara berwarna hitam. “Kalau sudah begini, aku bisa mengatakan kalau para maou itu berhasil mendapatkan darah si Daiki itu”.
“Ayo pergi. Kita harus membantu mereka”, master menepuk pelan badan si pegasus, memberi tanda padanya untuk segera bergerak. Jin membentangkan tangannya, berusaha untuk menghalangi master pergi. Si pegasus pun menghentikan langkahnya. “Kenapa?”, tanya master heran.
“Aku merasakan ada yang tidak beres berasal dari bawah tanah”, Jin memejamkan matanya. Mukanya terlihat sangat serius. Hembusan angin terasa sangat kencang. Angin itu mulai mengelilingi tubuh Jin, seperti hendak mengatakan sesuatu. Master hanya bisa diam menunggu. “Jangan-jangan..... tidak mungkin.....”, ucap Jin saat dia telah membuka matanya. Angin yang tadi mnengelilingi tubuhnya telah lenyap.
“Kenapa Akanishi?”
“Hei, kau masih ingat bagaimana membangkitkan sang necromancer?”, tanya Jin. Mukanya terlihat sangat serius.
“Tentu. Kau harus mengalirkan darah ksatria keturunan murni di tempat segel yang berada di wilayah barat. Tempat segel di wilayah barat merupakan sebuah gembok untuk membuka segel sang necromancer. Lalu, kau menuju ke tempat segel wilayah timur untuk membuka segelnya secara keseluruhan dengan cara mengorbankan sebanyak mungkin makhluk kegelapan”, jawab master.
“hei, katakan padaku. Apakah pelindungmu itu bisa bekerja hingga ke dalam tanah juga?”
“Iya. Aku bisa membuat pelindung sedalam yang aku inginkan. Aku juga bisa membuatnya setebal mungkin”, master meoleh ke arah Jin yang tampak serius mengamati kondisi di bawah mereka. “Memangnya kenapa? Apa yang kau rasakan?”, tanya master.
“Saat ini aku merasa ada sesuatu yang bergerak di dalam tanah. Tampaknya ada sebuah lorong besar yang berada disana. Di dalam lorong itu, aku bisa merasakan makhluk kegelapan. Aku tidak tahu jumlah pastinya, tapi kurasa sangat banyak”, Jin kemudian menoleh ke arah kumpulan makhluk kegelapan yang terjebak dalam bola pelindung yang dibuatnya. “AHAHAHAA.....”, Jin tertawa lebar.
Master tersentak kaget saat Jin tiba-tiba tertawa. Mukanya jelas menunjukkan ekspresi heran. “Kau kenapa?”.
“Kita dikerjai. Makhluk kegelapan ini hanyalah umpan bagi kita. Kita mengira kalau makhluk kegelapan itu akan pergi menuju ke wilayah timur melalui atas tanah. Seperti saat kemarin mereka menghadang kita. Tapi hari ini, para makhluk kegelapan itu berjalan menuju ke timur melalui bawah tanah. Benar-benar pintar si bocah King itu”. Jin kembali menghisap rokoknya, menghirupnya, dan menghembuskan asapnya perlahan.
“Kalau begitu, kita tidak boleh buang waktu lagi. kita harus segera menghabisi para makhluk kegelapan itu sebelum mereka tiba di tempat segel daerah timur”, master berlalu pergi dengan menaiki pegasus. Pegasus mulai mengepakkan sayapnya dan terbang menuju lorong bawah tanah meninggalkan Jin sendirian. CTIK! Jin menjetikkan jarinya. Seketika itu juga bola pelindung itu pecah dan semua makhluk kegelapan yang ada di dalamnya langsung hancur. Mereka berdua pun langsung bergegas menuju ke lorong bawah tanah untuk menghadang para pasukan kegelapan.
Di tempat segel
Gempa dahsyat ini sudah berlangsung cukup lama. Daiki, Yuya, dan Hikaru masih belum bisa bergerak akibat gempa ini. Yuya terus menggunakan kemampuannya untuk melindungi 2 rekannya itu. Daiki bisa melihat nafas Yuya yang mulai tersengal-sengal. Dia tahu kalau Yuya sudah cukup merasa kelelahan. Tidak lama kemudian, gempa itu berhenti.
“Hei, ada apa ini? apa yang terjadi? kenapa gempanya berhenti?”, bisik Hikaru.
“Aku juga tidak tahu”, jawab Daiki. “Tapi satu yang pasti, pintu segel sudah mulai dibuka. Aku bisa merasakannya”, Daiki meremas bajunya. Dia bisa merasakan jantungnya yang berdetak kencang.
“Kalau begitu, apakah kita sudah terlambat?”, tanya Yuya. Keringat mulai bercucuran dari tubuhnya.
“Tidak, kurasa pintu segel belum terbuka sepenuhnya. Gempa dahsyat tadi menunjukkan kalau mereka sudah berhasil membuka kunci gemboknya. Tapi, aku yakin kalau mereka belum membuka pintunya”, Daiki melihat ke arah Yuya dengan cemas. Dia tahu kalau kekasihnya itu sudah kelelahan.
“AWAS!!”, Yuya segera melindungi Hikaru dan Daiki dari serangan racun Fuka.
“Apa yang kalian lakukan disana? Kalau kalian lengah, aku bisa dengan mudah membunuh kalian lo...”, kata Fuka sambil tersenyum. Di tangannya kini ada bola racun yang siap untuk dilemparkan.
BRUK! Yuya sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya dan terjatuh. Seketika itu juga kemampuan nullification miliknya hilang. Kemampuannya kini sudah mencapai batas.
“YUYA!”, jerit Daiki. Daiki lalu berlari menuju ke arah Yuya.
“A-aku tidak apa-apa kok”, kata Yuya sambil berusaha untuk bangkit kembali. Dia berusaha berdiri dengan susah payah. Dia berusaha menggunakan kemampuannya lagi.
“Jangan lakukan itu Yuya, kalau kau paksakan dirimu, kau bisa mati”, cegah Hikaru.
“Tapi, hanya aku disini yang bisa menghalangi kekuatan racunnya kan? Aku pasti akan melindungi kalian berdua”, Yuya mencoba menggunakan kemampuannya. Tapi, kemampuannya sama sekali tidak keluar. Dia benar-benar telah mencapai batas.
Fuka yang melihat itu merasa kalau itu kesempatan yang bagus untuknya. Dia melemparkan bola racun miliknyan ke arah Hikaru. “Hikaru! AWAS!”, seru Yuya memperingatkan. Bola itu kini sudah semakin dekat dengan Hikaru. Tapi, tiba-tiba bola itu berbelok dan menuju ke arah Daiki. Bola itu masuk ke dalam tubuh Daiki. Yuya dan Hikaru menatap dengan cemas ke arah Daiki. Anehnya, tidak terjadi apa-apa pada tubuh Daiki, seakan-akan racun itu dinetralkan dalam tubuh Daiki.
“Rasakan ini!”, Fuka kembali melemparkan bola racun. Kali ini bola itu mengarah ke arah Yuya yang kini sudah tidak bisa menggunakan kemampuannya. Lagi-lagi, bola racun itu berbelok ke arah Daiki dan masuk ke dalam tubuhnya.
“Hei, apa yang terjadi?”, tanya Hikaru yang keheranan. Dia sama sekali tidak mengerti. Kedua bola racun itu seakan-akan dihisap oleh tubuh Daiki.
“Daichan, kau baik-baik saja? Apa tubuhmu terasa sakit?”, tanya Yuya cemas karena Daiki hanya diam saja. “Daichan?”
“Ah, eh, aku baik-baik saja kok”, Daiki mengamati kedua tangannya dan sekujur tubuhnya. “Aku sama sekali tidak merasa kesakitan atau apapun. Malah sebaliknya, aku merasa kalau tubuhku terasa sangat berenergi setelah bola racun itu masuk ke dalam tubuhku. Seakan-akan ada bagian kosong yang terisi”.
Hikaru mengamati Daiki dari atas hingga bawah. Dia kemudian melihat ke arah Fuka yang terdiam tercengang. “Aku tahu! Mungkin kemampuan Daichan ingin mendapatkan kembali racun miliknya”, seru Hikaru.
“Maksudmu?”, tanya Yuya yang masih belum mengerti.
“Kau ingat tidak? Fuka sama sekali tidak memiliki kemampuan khusus. Kemampuan racun miliknya itu berasal dari serbuk racun milik Daiki yang dulu tidak sengaja mengenainya. Dengan bantuan maou yang merasukinya, dia berhasil menggunakan serbuk racun itu sebagai kemampuannya sendiri. Karena tubuh Daichan kini telah menjadi lebih lemah, kemampuannya mengambil kembali racun yang tersimpan dalam tubuh Fuka”, jelas Hikaru.
“Kau ingin mengatakan kalau aku bisa mendapatkan kembali kemampuanku dengan baik kalau aku bisa mengambil kembali racun milikku?”, tanya Daiki.
“Kurang lebihnya begitu”, jawab Hikaru.
Daiki berjalan maju menuju ke arah Fuka. “Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan mengambil kembali semua racun milikku yang ada dalam tubuh Fuu”.
“Eh, tunggu.... Daichaannnn...................”, seru Yuya. Dia berusaha meraih Daiki, tapi Daiki sudah melesat maju menuju ke arah Fuka. Yuya dan Hikaru hanya diam menyaksikan pertarungan kedua kakak beradik itu. Mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuh Yuya sudah sangat kelelahan, sedangkan Hikaru masih belum bisa menggerakkan tangan kanannya yang sempat terkena racun.
‘Kenapa? Padahal dulu mereka tidak begini’, gumam Hikaru dalam hati. Dia hanya menatap miris pertarungan antara Daiki dan Fuka. Bayangan mereka waktu kecil kembali terulang di kepala Hikaru, seakan-akan dia bisa menyaksikan kembali. Dia masih ingat dirinya waktu keil yang asyik bermain dengan kedua kakak beradik ini. Saat itu benar-benar menyenangkan. Dia tidak akan menduga kalau Daiki adalah seorang ksatria sama sepertinya dan Fuka akan menjadi salah satu musuh terberatnya.
“Kurasa Daichan akan menang”, gumam Yuya pelan. Perkataan Yuya ini membuyarkan lamunannya. Dia kembali melihat pertarungan Daiki dan Fuka. Berkali-kali Fuka berusaha menyerang dengan serbuk racun miliknya, tapi serbuk racun itu malah masuk begitu saja ke dalam tubuh Daiki. Selain menyerang dengan menggunakan racun, Fuka juga menyerang Daiki dengan tendangan dan pukulan. Tapi, dengan lincah, Daiki berhasil menghindar dari serangan Fuka. Tidak hanya itu, Daiki juga berusaha menyerang balik Fuka. Setiap kali Daiki berusaha menghisap racun milik Fuka, kekuatannya juga semakin meningkat.
“Maafkan aku fuu. Aku akan merebut kembali semua racun milikku”, ucap Daiki. Daiki mengarahkan kepalan tinjunya ke arah Fuka. Fuka menutup matanya, sekejap dia merasa pasrah untuk menerima pukulan dari Daiki. GREB. Tanpa diduga, Daiki memeluk Fuka. Fuka langsung membuka matanya tidak percaya. Hikaru dan Yuya yang melihat pun tidak bisa menyembunyikan perasaan kaget mereka. Daiki memeluk Fuka dengan sangat erat seakan tidak mau melepaskan Fuka lagi.
Di bawah....
“Yuri... kau tidak apa-apa?”, tanyaku pada Chinen yang ada di sebelahku.
“Ya, Ryochan terima kasih sudah melindungiku. Berkatmu, aku tidak terkena reruntuhan itu”, jawab Chinen sambil tersenyum.
“Teman-teman! Bagaimana keadaan kalian?”, seruku. Mataku berusaha mencari keberadaan teman-temanku. Aku bisa melihat Yuto berdiri tidak jauh dariku. Keito juga. Sedangkan Yabu dan Inoo berada cukup jauh dariku. Mereka semua terlihat baik-baik saja.
“Aduh, gempa tadi bahaya sekali”, ucap Yabu sambil berusaha membantu Inoo untuk berdiri. Di sekeliling mereka banyak makhluk kegelapan yang jatuh tidak bergerak.
“Untunglah sekarang sudah berhenti. Tapi, ngomong-ngomong apa yang sedang terjadi ya? Kenapa bisa ada gempa sedahsyat itu?”, tanya Inoo. Dia langsung memasang kuda-kuda. Beberapa makhluk kegelapan di sekitarnya mulai bangkit kembali dan berusaha untuk menyerang Yabu dan Inoo yang saat itu berada di dekat mereka.
“INOO! Menunduk!”, seru Keito memperingatkan. Tidak lama ada makhluk kegelapan yang berusaha untuk menyerang Inoo dari atas. Berkat peringatan dari Keito, dia berhasil mengelaknya. Yabu segera membuat sebuah tombak panjang dari air yang dikendalikannya. Dia lalu melemparkan tombak itu ke arah makhluk kegelapan yang menyerang Inoo. Makhluk itu lalu roboh terkena serangan tombak Yabu.
“Terima kasih Kota”, ucap Inoo.
Yabu menepuk kepala Inoo dengan pelan, “Ini sudah menjadi tugasku. Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu”.
“Hei! Mana si Queen itu? dimana dia?”, seru Chinen sambil melihat ke sekelilingnya. Dia berusaha mencari sosok Queen di ruangan itu.
“Ryoooochaaannnnnnn”, tiba-tiba ada seorang gadis yang memelukku dari samping. Aku melihat gadis yang memelukku. Betapa kagetnya aku begitu tahu kalau Queen ada di sampingku.
“AHHH!!!! Menjauh dari Ryochan sekarang juga cewek jelek!”, Chinen segera berlari dan menyerang Queen. Dengan kecepatannya, Queen berhasil mengelak dari serangan Chinen. Chinen semakin kesal. Dia lalu melihatku dengan mata melotot, “Tidak akan kumaafkan kalau kau sampai selingkuh!”. Aku hanya menelan ludahku. Jujur, aku takut melihat Chinen saat ini.
“Aiyah.... Sabar ya Yamachan”, Yuto menepuk pundakku. Aku hanya bisa mengangguk pasrah saja.
“Kalian berdua! Kenapa kalian diam saja! Musuh ada di depan kalian tahu!”, seru Keito memperingatkan kami sambil terus menyerang musuh di sekitarnya. Aku dan Yuto yang sadar dengan ucapan Keito, langsung kembali melawan musuh.
Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Entah kenapa aku merasa hawa dingin dan ketakutan menyerangku. Seketika aku langsung berhenti sejenak. Aku melihat ke arah Yuto yang ada di dekatku. Kelihatannya dia juga sama. Aku bisa merasakannya, ada hawa kegelapan yang sangat kejam sedang mendekati kami. TAP, TAP, TAP. Terdengar suara langkah kaki yang sedang mendekat. Bersamaan dengan itu, hawa kegelapan itu semakin kuat. Tanpa kusadari, kakiku gemetar. Aku mundur beberapa langkah.
“Kenapa kau lama sekali Queen?”, terdengar sebuah suara yang sangat lantang. Dari suara itu, aku bisa merasa kalau si pemilik suara memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap Queen, karena kulihat Queen langsung berhenti menyerang Chinen. Langkah kaki itu semakin mendekat, kini aku bisa melihat ada seorang pemuda yang sedang berdiri cukup jauh di hadapan kami.
Queen langsung menghampiri pemuda itu, kemudian bersujud di hadapannya. “Maafkan aku King, aku hanya ingin sedikit bermain-main”. Tidak hanya Queen, semua makhluk kegelapan yang ada disana juga bersujud kepada pemuda itu.
Pemuda itu melihat ke arah kami satu persatu. Tatapan matanya terasa sangat tajam dan menusuk. Saat aku melihat langsung ke arah matanya, aku bisa merasa hawa kegelapan yang sangat kuat. Tidak hanya itu, aku merasa hawa membunuh yang cukup kuat darinya. Bulu kudukku terus berdiri, keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku, kakiku terus gemetar tanpa henti saat melihat King. Inikah King? Sang pemimpin para makhluk kegelapan?
“Berhenti bermain-main Queen. Aku sudah memasukkan kunci ke dalam lubang kunci, cepat atau lambat kita bisa membuka segel disini. Cepat selesaikan urusan disini”, perintah King. Dia kemudian melihat ke arah kami, para ksatria, “Tidak ada yang bisa kalian lakukan lagi. Kalian semua akan mati disini”.
Yabu yang sedari tadi juga gemetar, memberanikan dirinya untuk menghadapi King, “Selama kami masih hidup, kami tidak akan membiarkan kalian membuka segel itu. Apapun yang terjadi, kami tidak akan mati sebelum tugas kami selesai”. Aku bisa mendengar ada rasa ketakutan dalam suara Yabu, tapi dia bisa menutupi rasa takutnya itu dengan baik.
Pemuda itu tersenyum tipis, “Memangnya kalian bisa melawan kami semua? Aku dan Queen akan menghadapi kalian. Jack juga, cepat atau lambat dia akan menghabisi 3 teman kalian yang lain. Kami semua akan membunuh kalian dan mengambil alih dunia ini”.
‘3 teman yang lain? Jangan-jangan yang dimaksud itu Daichan, Yuya, dan Hika? ternyata musuh yang dihadapi mereka adalah Jack’, kataku dalam hati.
“Huh, coba aja kalau kalian bisa”, kata Yabu. “Kalian semua! Jangan takut pada mereka. Biarkan rasa takut kalian menjadi pemicu untuk menghadapi mereka. ingat, kalau bukan kita yang mengalahkan mereka, siapa lagi?”, suara Yabu terdengar cukup keras. Suaranya terdengar lantang dan gagah. Seakan-akan tidak ada rasa takut lagi dalam tubuhnya. Aku menggenggam gagang pedangku dengan erat. Berkat Yabu, aku bisa mengatasi rasa takutku.
“Huh! Kalian semua hanya bisa bicara saja”, King mengarahkan tangannya ke arah kami. Seketika itu juga, kami langsung terhempas jauh. Seakan-akan ada sesuatu yang menimpa kami. Aku berusaha bangkit kembali. Aku melihat King yang sudah berada di dekat Yabu dan Inoo yang masih terbaring akibat terkena hempasan serangan King.
“Yabu! Inoo!”, seruku memperingatkan mereka. King mengarahkan kedua tangannya ke arah Yabu dan Inoo. Dari kedua tangannya, aku bisa melihat ada sesuatu yang berwarna hitam keluar dan menyelimuti tubuh Yabu dan Inoo.
“ARGHH!!!”, jerit mereka berdua. Mereka berdua tampak sangat kesakitan. Aku tidak tahu apa yang telah dilakukan King.
“Lebih baik kau tidak lengah selama pertarungan makhluk jelek”, ucap Queen yang kini sudah berdiri di dekat Chinen. Chinen terlambat menyadarinya sehingga dia tidak bisa mengelak dari serangan Queen. Chinen terlempar jauh akibat tendangan Queen. Belum sempat dia bangkit berdiri, Queen sudah berada di depannya dan kembali menyerangnya lagi. Dengan cepat, Queen terus berada di dekat Chinen. Aku lupa kalau kemampuan Queen yang sesungguhnya adalah kemampuannya yang bergerak dengan cepat.
***********
Yuto dan Keito yang telah menghimpun kembali tenaga mereka, berusaha bangkit kembali. “Keito, ayo kita bantu mereka”, ucap Yuto sambil membantu Keito untuk bangkit. Mereka berdua segera berjalan. Yuto sudah berjalan cukup jauh di depan, tapi Keito masih diam tidak bergerak.
“Kenapa Keito?”, tanya Yuto saat melihat Keito diam saja.
“Kakiku.... tidak bisa digerakkan. Ada yang mengikat kakiku”, kata Keito. Yuto melihat ke arah kedua kaki Keito. Dia bisa melihat ada sesuatu seperti tali hitam yang melingkar di kedua kakinya.
“Kenapa kalian? Lawan kalian ada disini”, tiba-tiba muncul seorang pemuda dari sebuah bayangan. Keito dan Yuto terbelalak saat melihat pemuda itu.
“Kau....”, Yuto menunjuk ke arah pemuda itu. Salah satu prajurit kegelapan yang tersisa, pemuda yang telah mengalahkannya. Dia ingat kalau dia tidak bisa berkutik melawan pemuda itu.
“Tidak kusangka aku akan menghadapi kalian lagi”, pemuda itu menatap ke arah Yuto dan Keito dengan muka datar. Dia lalu melihat ke arah King.
“Semuanya telah berjalan sesuai rencana, King. Beberapa makhluk kegelapan telah menuju kesana”.
“Kerja bagus”, jawab King sambil terus melawan Yabu dan Inoo yang tampaknya mulai berdiri untuk memberikan perlawanan.
“Yuto! Perhatikan sebelah kirimu!”, seru Keito memperingati Yuto. Yuto segera menghindar ke sebelah kanan dan berhasil menghindar dari serangan bayangan yang dilancarkan oleh Ryuusei, prajurit kegelapan yang memiliki kemampuan khusus bayangan tersebut. Berkat Keito, Yuto berhasil menghindar dari serangan Ryuusei. Dia juga berhasil melancarkan serangan ke Ryuusei. Berbeda dengan pertarungan sebelumnya, Yuto bisa bertarung seimbang melawan Ryuusei.
“Rupanya, aku harus membungkam dirimu terlebih dahulu”, Ryuusei pergi menuju ke arah Keito. Dia mengarahkan bayangan yang dikendalikannya ke arah Keito. PYAR! Bola kristal Keito pecah berkeping-keping. “Kini, kau tidak bisa lagi menggunakan kemampuanmu”. Ryuusei mengarahkan bayangan sehingga bayangan itu menyelimuti tubuh Keito. Yuto bisa melihat kalau Keito berusaha keras meronta agar bisa melepaskan diri.
“Lepaskan Keito!”, seru Yuto sambil mengarahkan tinjunya ke arah Ryuusei. Seketika itu juga, bayangan yang menyelimuti Keito terlepas. Keito langsung terduduk lemas. Yuto segera menghampiri Keito, “Kau tidak apa-apa Keito?”.
Keito mendongakkan kepalanya, “Yuto? Kau dimana?”. Yuto menatap Keito dengan heran. “Apa yang terjadi? Kenapa ruangan ini menjadi gelap sekali?”. Keito mengulurkan tangannya seperti meraba-raba sesuatu. Yuto melihat Keito dengan tatapan tidak percaya.
“Keito, jangan-jangan matamu.....”.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar