Minggu, 01 November 2015

AKUMA NO YOROI

Part 29
Di suatu pulau yang terpencil dan suram, terdapat sebuah bangunan tua. Disanalah para penjahat kelas kakap dikurung, penjara Alkatraz. Semua narapidana yang ada disana adalah mereka yang dijatuhi hukuman mati atau kurungan seumur hidup. Itu adalah tempat yang sangat ditakuti oleh para narapidana. Jika mereka sudah dimasukkan disana, maka dipastikan kalau mereka akan mati disana. Tidak ada tempat untuk melarikan diri. Jurang yang curam mengelilingi pulau tersebut. Tidak hanya itu, bangunan itu dikelilingi oleh hutan yang dihuni oleh binatang buas. Jika ada yang berniat terjun ke laut, maka dia akan menjadi santapan hiu ganas yang selalu setia menunggu para narapidana yang bosan dengan hidupnya.
Suasana di dalam penjara bagaikan kuburan. Disana sunyi dan suram. Para narapidana disana hanya diam di sel mereka. Menunggu malaikat maut datang menjemput. Tatapan mereka kosong. Tidak ada secercah cahaya kehidupan di mata mereka. Para sipir pun tidak mempedulikan mereka. Mereka hanya tertawa mengejek melihat para narapidana itu. Ironis, para sipir itu terlihat seperti orang jahat dan para narapidana terlihat seperti orang lemah yang tidak berdaya.
“Ah... kau datang menjemputku, Tuan”
Seorang narapidana tersenyum lemah saat melihat sosok yang ada di hadapannya. Seorang laki-laki tinggi yang tampan. Matanya yang merah menyala membakar nyali narapidana itu. Gigi taringnya yang tajam terlihat saat pemuda itu tersenyum padanya. Narapidana itu mengira kalau pemuda yang ada di hadapannya itu adalah malaikat maut yang telah menjemputnya.
“Aku akan melepaskan penderitaanmu”
Seusai pemuda itu berkata demikian, narapidana itu menutup matanya. Nyawanya sudah pergi dari tubuhnya. Sayangnya, penderitaannya itu terus berlanjut. Nyawanya kini berada dalam tubuh demon yang ada di hadapannya. Nyawanya tidak pergi ke tempat yang seharusnya. Tidak hanya itu, tubuhnya yang kini telah kosong, dicabik-cabik oleh demon itu. Demon itu mengulitinya, mengambil dagingnya, dan memberikan tulangnya pada demon satu lagi yang terbaring lemah tidak jauh dari demon yang bertubuh tinggi itu. Darah narapidana itu berceceran di seluruh sel tahanan itu. Menyebarkan bau amis yang memuakkan.
Demon itu menunggu temannya memakan seluruh tulang narapidana itu. selagi menunggu, dia memasukkan daging yang tercecer itu ke dalam kantung yang diberikan oleh Inoo sebelum dia pergi. Yuto tersenyum saat melihat kulit wajah narapidana itu yang kini telah terlepas dari kepalanya. Dia membuang mata dan organ dalam yang tersisa. Dia hanya tertarik pada daging.
“Ayo kita ke sel berikutnya”
Demon itu menyeret temannya dan segera pergi ke sel berikutnya. Keadaan sel itu pun tidak jauh beda dari sel sebelumnya. Mereka terus melakukan itu hingga mereka puas dan merasa kenyang. Hampir satu lantai penjara itu berada dalam kondisi yang sama. Terlihat seperti ada pembantaian besar-besaran disana.
“Tinggal sedikit lagi dan kekuatanku akan kembali”, gumam Hikaru sambil terus menguyah tulang manusia yang diberikan oleh Yuto.
Gerakan Hikaru terhenti saat melihat Yuto yang kini memasang wajah yang sangat serius. Beberapa detik kemudian dia langsung tersenyum saat mengetahui apa yang terjadi. Mereka kedatangan seorang tamu.
“Wah, wah... apakah kalian tidak tahu kalau mengganggu orang lain di saat makan itu sangat tidak sopan, Taiga?”
Hikaru menoleh. Dia lalu mendapati sosok Taiga yang kini berdiri dia atas lautan darah yang tidak jauh dari mereka. Kulitnya yang putih dan wajahnya yang cantik membuatnya seakan-akan seperti malaikat yang akan menuntun manusia itu ke jalan mereka yang benar.
“Kau bicara seperti itu padahal kau juga sering sekali mengganggu Takaki saat makan, Nakajima”
“Kalau begitu kau juga ingin ikut makan bersama kami? Silahkan. Disini banyak sekali manusia yang bisa kau makan kok”. Yuto tersenyum penuh arti. Dia bersikap ramah pada demon yang ada di hadapannya itu karena Yuto tahu maksud dari kedatangan Taiga. Dan Yuto tidak menyukainya.
“Bolehkah? Kalau begitu kami tidak akan sungkan”
“Kami?”
Tanpa perlu bertanya lebih jauh, Yuto segera tahu jawabannya. Demon satu lagi telah berdiri di arah yang berlawanan dengan Taiga. Dua demon itu mengepung Yuto dari arah depan dan belakang. Mata merahnya yang penuh dengan gejolak nafsu menyala terang di kegelapan. Yuto bahkan bisa mendengar desahan nafas memburu demon itu.
‘Ini tidak bagus’, batin Yuto.
Saat ini, Hikaru sedang lemah dan tenaganya belum pulih. Sehingga Yuto tidak bisa mengandalkan bantuan darinya. Dan Yuto sendirian menghadapi dua demon yang cukup merepotkan. Sebenarnya tidak ada masalah jika dia harus berhadapan dengan Taiga. Mereka sama-sama kelas S jadi pertarungan akan imbang. Yang menjadi masalah adalah demon yang satunya. Arioka Daiki. Kelasnya memang lebih rendah dari Yuto, tapi kemampuan Daiki yang bisa memakan demon yang kelasnya lebih tinggi itulah yang merepotkan.
“Nah Arioka, kau bisa memakan apapun sepuasmu”
Taiga menarik sesuatu. Sepertinya itu sebuah rantai. Rupanya Daiki diikat dengan rantai sehingga dia tidak bisa bergerak dengan bebas. Pantas saja Daiki tidak langsung menyerang Yuto dan Hikaru. Yuto dengan gesit menghindar dari serangan Daiki yang membabi buta.
Tidak hanya Daiki, kali ini Taiga juga menyerang Yuto dengan mantera miliknya. Dengan lihai, Taiga memanggil para shikigami dan menyerang Yuto. Karena sibuk menghindar dari serangan Daiki, maka Yuto tidak sempat menghindar dari serangan Taiga. Darah hitam yang berceceran di tanah membuktikan kalau Yuto terluka.
“Inilah akhirnya, Yuto”
Taiga tersenyum dengan penuh kemenangan. Dia sangat senang saat melihat sosok Yuto yang penuh luka. Sedikit lagi, maka kemenangan akan jadi miliknya.
“Cih, dasar tidak berguna!”, umpat Yuto saat melihat Hikaru yang hanya bisa terduduk lemas dan menatapnya dengan sayu. Daiki tidak mempedulikan Hikaru karena dia tidak tertarik dengan makhluk yang lebih lemah darinya. Taiga juga tidak menyerang Hikaru karena baginya Hikaru bukan ancaman. Taiga bisa membereskan Hikaru dengan mudah setelah dia membereskan Yuto.
“Sampai disini saja hidupmu Yuto!”
Sekelompok demon kecil yang dibuat oleh Taiga menyerang Yuto. Yuto tidak bisa berkutik. Dia telah terpojok. Di belakangnya ada sebuah tembok beton penjara yang tebal, di hadapannya ada sekelompok demon kecil dan Daiki yang akan menyerangnya. Yuto pun memasang kuda-kuda, bersiap untuk kejadian terburuk.
BRUGH! Yuto berhasil menahan Daiki dengan kedua tangannya. Sekelompok demon kecil yang akan menyerang Taiga mendadak lenyap. Yuto tersenyum lega saat mengetahui apa yang terjadi. Terdapat sebuah tangan yang menembus tubuh Taiga. Tangan itu berlumuran darah hitam milik Taiga.
“Kau.....”
Taiga menggeram marah saat melihat sosok yang menyerangnya. Dengan sisa tenaganya, dia berhasil melepaskan diri. Tapi, belum sempat Taiga memulihkan diri, tangan itu dengan cepat menusuk dada Taiga dan mengambil jantungnya.
“Nice timing, Yuya...”
Yuto mendorong Daiki hingga menabrak dinding di belakangnya. Yuya hanya berdiri kaku disana sambil memegang jantung Taiga yang berdetak lemah di tangannya.
“Kau harus memperhatikan sekelilingmu, Taiga... sudah pernah kubilang kan kalau pertahananmu melemah saat kau menyerang. Itu membuatmu mudah diserang dari belakang”
“Kau baik sekali memberitahuku, Yuya”
“Kau demon yang hebat Taiga, tapi meskipun wajahmu sama cantiknya dengan Inoo, Inoo masih jauh lebih pintar daripada kau. Dia jauh lebih hebat dalam soal bertarung meskipun dia jauh lebih lemah darimu”
Sesuai berkata seperti itu, Yuya segera menghancurkan jantung milik Taiga. CRASH. Jantung Taiga kini telah remuk. Yuya meminum sisa darah yang mengalir dari jantung itu sampai habis. Taiga kini terkapar kaku. Matanya berubah menjadi hitam legam diikuti oleh tubuhnya. Yuto kemudian membakar habis tubuh Taiga. Kedua demon itu hanya menatap dingin pada sosok Taiga yang kini hampir habis oleh api.
“Aku tidak berniat membantumu”
“Lalu, kenapa kau kemari?”
“Aku merasakan Daiki kemari. Aku akan membawanya kembali. Taiga menghalangiku, jadi sekalian saja kubunuh dia”
Yuya menggenggam leher Daiki dengan erat. Daiki meronta sekuat tenaga tapi dia masih belum bisa melepaskan diri dari cengkeraman Yuya. Tampaknya Daiki melemah setelah bertarung terus-terusan dan tidak makan satu kalipun. Meskipun dia sudah melemah, tapi tenaganya masih sebanding dengan Yuya. Jika Yuya lengah sedikit saja, maka Daiki akan menyerangnya.
Yuto membuka kantung miliknya dan memberikan isinya pada Daiki. Dengan segera dia menerkam semua daging itu tanpa ragu. Hikaru pun melanjutkan acara makannya. Yuya dan Yuto hanya melihat kedua demon yang sedang makan itu. Yuya bisa merasakan aura demon milik Daiki perlahan menjadi tenang. Rupanya dia sudah tidak mengamuk lagi karena rasa laparnya sudah berkurang.
“Aku bangkit kembali!!!”, seru Hikaru.
“Padahal sosokmu yang lemah tidak berdaya itu imut sekali lo Hikaru... kau jauh lebih lemah daripada manusia-manusia yang menyedihkan itu”
“Tidak lucu”, Hikaru menoleh ke arah Yuya. “Ini semua gara-gara kau. Seandainya kau tidak meminum habis darahku, aku tidak akan kerepotan seperti ini”
“Tapi kau tidak mati kan? Aku hanya meminum darahmu, bukan memakan tubuhmu”
“Sama saja”
Hikaru dan Yuya melanjutkan debat kecil mereka. Yuto hanya menggeleng melihat dua demon itu. Yah, dengan begini satu demon kelas S telah kalah.
“DAGING!!!”
Daiki langsung berlari menghampiri Yuya yang sedang berdebat dengan Hikaru dan menggigit tangannya. Karena terkejut dengan serangan mendadak dari Daiki, Yuya tidak sempat melawan. Daiki dengan mudah bisa memutus lengan Yuya dan memakannya sampai habis.
“Daiki yang seperti ini yang kusuka”
Hikaru memeluk Daiki yang masih sibuk mengunyah. Daiki tidak mempedulikan Hikaru dan terus mengunyah hingga habis.
“Sial! Tanganku putus lagi”, umpat Yuya saat melihat tangannya yang buntung. Yuto tertawa terbahak-bahak melihat adegan itu. Ini adalah adegan yang sering mereka lihat. Yuto merasa lega semuanya kembali seperti semula.
“Yuya... aku mau makan lagi”
Daiki segera menyerang Yuya dan berniat menggigitnya lagi. Tapi kali ini Yuya lebih sigap dan menghindar dari serangan Daiki. Daiki hanya tersenyum kecut karena dia tidak bisa menggigit Yuya.
“Aku sudah mendengar semuanya dari Inoo”
Yuto berhenti tertawa saat mendengar ucapan Yuya. Dia kini menatap demon itu dengan wajah yang cukup serius. Hikaru dan Daiki hanya menatap bingung ke arah 2 demon kelas S itu.
“Lalu, apa kau juga ingin ikut serta dalam rencana itu?”
---***---
“SIAL!!!”
Juri menghantam tembok di hadapannya hingga hancur berkeping-keping. Amarahnya meledak saat mengetahui apa yang terjadi pada Taiga.
“Ini kesalahan. Seharusnya kita tidak membiarkan Taiga pergi sendiri. Aku juga tidak menyangka kalau Yuya akan datang kesana dan membantu mereka”
“Tapi, dia tidak sendiri! Daiki ada bersama dengannya! Harusnya mereka bisa mengalahkan Yuto sendirian”, Juri menatap kesal pada Jesse yang membiarkan Taiga pergi sendirian.
“Daiki tidak bisa terus-terusan menyerang secara membabi buta. Dia punya batas. Karena dia terus menyerang tanpa makan, wajar saja kalau dia tiba-tiba melemah”
“Cih! Mau sampai kapan kita begini terus? Sampai mereka mengalahkan dan menghancurkan kita semua? Dan kau Shin! Sampai kau mau terpuruk disana?”, Juri melempar salah satu puing tembok yang dihancurkannya ke arah Shin yang sedang meringkuk di pojokan.
“Tapi kakakku...”
“Ini benar-benar buruk. Dua demon yang memiliki kemampuan spesial, dua-duanya tidak ada disini. Selama di pihak sana ada Daiki dan Ryuu, mereka punya kemampuan untuk mengalahkan kita”
Semua demon terdiam. Masing-masing memikirkan cara untuk mengatasi masalah yang ada ini. Taiga kini telah lenyap. Kini tersisa 3 demon kelas S, yaitu Jesse, Yugo, dan Juri. Shintaro yang hanya demon kelas C tidak bisa diharapkan untuk menolong mereka. Tanpa kakaknya, Shin hanyalah anak cengeng.
“Lalu, bagaimana kita melaporkan hal ini pada Yang Mulia?”, Yugo cemas membayangkan reaksi Yang Mulia Raja Demon. Sekarang pasti beliau sedang sangat murka mendengar kabar ini.
“Yang Mulia sudah tahu. Apakah kau tidak mendengarnya?”
Yugo bisa mendengar raungan yang memekikkan telinga. Seluruh istana bergetar. Semua demon itu menutup telinga mereka agar tidak kesakitan karena mendengar teriakan itu.
“Nah, kurasa sebentar lagi Yang Mulia akan memanggil kita semua”
---***---
“Hanya ada kau sendirian disini?”
Keito mendapati Yabu sedang berdiri sendirian di tengah taman sambil berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Yabu melihat ke arah Keito sendirian dan kemudian melemparkan pandangannya ke arah lain.
Keito merasa ini kesempatan bagus, dia kemudian mendekati Yabu.

“Kau tahu kan? Apa yang sebenarnya terjadi antara leluhurku dengan Inoo?”

Tsuzuku~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar