PART 47
BRUK!! Banyak batu dan serpihan serpihan lain yang jatuh ke arah kami. Tampaknya, akibat gempa dahsyat yang kedua tadi, bangunan yang ada di lantai dua tidak kuat lagi dan akhirnya jatuh. Aku berusaha menghindar serpihan itu dengan baik. Chinen segera menarikku dan membawaku ke tempat yang aman. Yang tidak terkena reruntuhan puing-puing bangunan.
“Apa yang terjadi?”, tanyaku saat akhirnya tidak ada lagi puing-puing bangunan yang berjatuhan. Aku melihat banyak sekali puing yang jatuh.
“Ryochan, kau baik saja-saja?”, tanya Chinen sambil melihatku dengan cemas.
Aku mengangguk, “Berkatmu, aku baik-baik saja. bagaimana dengan teman-teman yang lain?”, aku melihat ke sekeliling. Berusaha mencari sosok yang kukenal. Aku hanya bisa melihat King dan Queen yang tampak berdiri tegak di antara reruntuhan. Seakan-akan tidak ada yang mengenai mereka.
“Teman-teman! Kalian dimana? Kalian baik-baik saja kan?”, seruku. Aku berharap ada suara yang kukenal yang membalasku.
“Tenang saja Yamada, kami baik-baik saja”, terdengar suara Yabu. Aku melihat ada sebuah batu yang bergerak. Dibalik batu itu aku bisa melihat Yabu dan Inoo. Tubuh mereka seperti berada di sebuah bola air.
“Yuto? Dimana dia? Keito juga. Aku tidak melihat mereka”, kataku mulai panik saat aku sama sekali tidak melihat mereka berdua.
BRUAK! Terdengar ada sesuatu yang hancur. Aku menoleh ke sumber suara. Terlihat Yuto sedang berdiri tegap sambil mengepalkan tinjunya. Kurasa, Yuto tadi menahan batu yang akan menimpanya dan segera menghancurkannya.
“Keito! kau dimana? Jawab aku!”, teriak Yuto. Matanya terus mencari sosok Keito di antara reruntuhan.
“A....ku.....disini....”, terdengar suara Keito. Suaranya terdengar lemah. Yuto akhirnya menemukan Keito. Keito sedang terjepit di antara puing-puing besar. Akibat matanya yang sudah tidak bisa melihat, Keito tidak bisa menyelamatkan dirinya. Yuto segera membantu Keito dan menyingkirkan puing-puing yang menimpa tubuhnya.
“Kau baik-baik saja Keito?”, tanya Yuto panik. Darah mulai keluar dari kakinya.
“Kakiku... aku tidak bisa menggerakkannya. Kurasa tulang kakiku ada yang patah”, jawab Keito. Keito mengulurkan tangannya, seperti meraba-raba sesuatu. Yuto segera menggenggam tangan Keito. “Apa yang terjadi Yuto? Yang kutahu hanya ada gempa dahsyat dan beberapa detik kemudian, tubuhku tertimpa sesuatu”.
“Aku juga tidak tahu Keito. Maafkan aku. Seandainya aku segera menuju ke arahmu dan menolongmu. Tentu kau tidak akan terluka separah ini”, kata Yuto. Suaranya terdengar agak parau. Yuto berusaha menyembunyikan air matanya.
“Tidak apa-apa. Kau sedang bertarung melawan musuh, dan semua ini terjadi dengan begitu cepat kan? Terlebih lagi, aku tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Aku terluka ini akibat kesalahanku sendiri”.
Yuto melihat ke arahku, “Yamachan! Tolong segera kemari. Keito membutuhkan bantuanmu”, seru Yuto. Aku mengangguk. Segera aku berdiri untuk menuju ke lokasi Yuto.
“Aduh....”, rintih Chinen. langkahku terhenti. Aku melihat ke arah Chinen yang terduduk di sebelahku sambil memegang bahunya.
“Kenapa Yuri? Ada yang sakit?”, tanyaku sambil memeriksa bahunya. Aku bisa melihat bahunya yang berwarna biru dan sedikit memar.
“Ah, tidak apa-apa kok. Ini karena tadi mungkin aku terkena sedikit benturan saat mencoba berlari”, Chinen berusaha tersenyum ke arahku.
“Tenanglah. Aku akan segera mengobatimu”, aku mengulurkan kedua tanganku ke arah bahunya. Chinen memegang tanganku dan menggeleng.
“Aku tidak apa-apa. Saat ini, Keito lebih membutuhkan bantuan daripada aku. Cepat pergi kesana. Aku masih bisa menahan sakit ini. ini tidak terlalu sakit kok”, Chinen berusaha menggerakkan tangannya. Aku bisa melihat sekilas kalau dia merintih kesakitan.
Aku tetap diam terpaku dan melihatnya. “Sudah. Cepat sana”, Chinen mendorongku. Aku kemudian menurut pada Chinen dan segera menuju ke arah Keito.
“HUUUAAA..............”, tiba-tiba ada seseorang yang muncul dari balik reruntuhan tepat di hadapanku. “Kupikir aku bakal mati tadi. Kenapa seharian ini aku jatuh melulu sih”. Hika berdiri tepat di hadapanku.
“Hika?”, tanyaku yang masih kaget dengan kemunculan Hikariu yang tiba-tiba.
“Yamada? Eh, kenapa kalian ada disini?”, tanya Hikaru. Dia kemudian melihat ke seluruh ruangan. Hikaru juga melihat ke arah atas. Lantai atas saat ini sudah hancur dan tidak berbentuk lagi. “Ugh...”, rintih Hikaru sambil memegang tangan kanannya.
“Kau baik-baik saja?”, tanyaku cemas.
“Iya. Hanya luka yang kuterima saat pertarungan sebelumnya”, Hikaru menoleh ke kanan dan kiri. “Daichan? Yuya? kalian ada dimana?”, seru Hikaru.
“Daichan dan Yuya?”, tanyaku lagi.
“Iya. Kami tadi bersama-sama. Kupikir mereka juga jatuh ke bawah sepertiku. Tapi, aku tidak melihat mereka”, kata Hikaru sambil terus celingukan mencari mereka berdua.
“Yamachan, apa yang kau lakukan? Cepat tolong Keito!”, seru Yuto. Aku pun segera mempercepat langkahku menuju ke arah Yuto.
“ARGGHHHH”, aku mendengar jeritan Chinen. Aku menoleh ke belakang. Kudapati dia bersama dengan Queen. Queen sedang menginjak bahu Chinen dengan kakinya.
“Yamada, AWAS!”, Hikaru segera menarikku. CLASH! Aku bisa melihat cipratan darah yang keluar dari tubuh Hikaru. Hikaru berdiri sambil melindungiku. Di hadapannya, aku melihat sosok pemuda yang kukenal.
“Jack”, gumam Hikaru sambil memegang lukanya. Jack berdiri di hadapan kami. Matanya menatap tajam ke arah kami. Seakan-akan seperti seekor binatang buas yang siap menyantap mangsanya. Aku bergidik ngeri saat melihatnya.
“Yamada”, gumam Hikaru. “Cepat pergi dari sini. Biar aku yang mengurusnya”, Hikaru melihat ke arahku sambil tersenyum dan mengangguk. Aku pun segera pergi meninggalkan Hikaru sendirian. Kini aku bingung harus menuju kemana. Pergi membantu Chinen yang sedang kesakitan atau menolong Keito yang terluka parah?
“Ryochan! Jangan khawatirkan aku! Aku baik-baik saja. Segera pergi tolong Keito!”, seru Chinen. Dia tampaknya tahu kebimbanganku.
“Huh. Sudah seperti ini. kau masih saja sombong”, gumam Queen. Dia semakin menekan pijakannya ke arah bahu Chinen yang terluka.
“ARRRGGGHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!”, jerit Chinen lagi.
“YURI!”, jeritku. Aku segera melangkahkan kakiku menuju ke arah Chinen untuk membantunya.
“Jangan mendekat Ryochan! Aku sudah bilang kan, biarkan aku sendiri yang melawannya. Cepat pergi sana!”, perintah Chinen. Dengan berat hati aku menuruti perkataan Chinen. Aku segera berbalik menuju ke arah Keito.
“AAA!!!!”, terdengar jeritan Yuto. Aku bisa melihat ada sebuah benda tajam yang tembus menusuk tubuh Yuto. Di depannya, berdiri musuh yang dari tadi di hadapinya.
“Yuto!”, jeritku. Aku segera mempercepat langkahku untuk menuju ke tempatnya.
BRAK! BRUK! BRUAGH!
Aku melihat Yabu dan Inoo yang sedang terlempar akibat serangan King. Tubuh mereka kini penuh luka. Yabu dan Inoo berusaha dengan susah payah untuk bangkit. Tampaknya mereka kini sudah diambang batas. Kemampuan mereka berdua tidak mempan untuk melawan King.
JREB! Ada sesuatu yang menusuk tubuhku. Aku melihat ada makhluk kegelapan yang berdiri di belakangku. Perhatianku menjadi lengah dan tidak memperhatikan sekitarku. Darah mulai mengucur keluar dari tempat yang ditusuk. JREB! Tubuhku ditusuk lagi. Kali ini dari arah samping. Dengan sisa tenagaku, aku menggerakkan pedangku untuk menghalau mereka. Makhluk kegelapan itu menyingkir. Aku mencabut pedang tajam yang menancap di tubuhku. Begitu aku melepasnya, darah menucur deras dari luka tusukan.
“Uhh...”, rintihku pelan. Kepalaku terasa sedikit pusing akibat banyaknya darah yang keluar. Makhluk kegelapan yang tadi menusukku kini berlari ke arahku untuk menyerangku. Aku pun menebas mereka dengan pedang ayahku. Gerakan tanganku sedikit melemah, tapi masih cukup untuk menebas mereka.
Dari arah belakang, kakiku disayat oleh makhluk kegelapan lain. Akibat itu, kakiku langsung terasa lemas. Aku tidak punya tenaga lagi untuk berdiri. Aku terjatuh terbaring. Seketika itu, makhluk kegelapan yang lain segera menyerangku dan menusukku dengan bertubi-tubi. Rasa sakit yang kuderita terlalu banyak sehingga aku tidak sanggup lagi berteriak merintih.
“Apakah Cuma sampai disini saja yang bisa kulakukan?”.
....******.....
“Sorcerer?”, tanya Daiki tidak percaya. Dia melihat wanita yang ada di depannya itu dengan takjub. Dia ingat kalau pernah melihat lukisan dirinya di salah satu jurnal mengenai ksatria yang pernah ditunjukka oleh master. Tubuh wanita itu bercahaya putih. “Tapi, bukankah sorcerer sudah mati beberapa ratus tahun yang lalu?”
“Ini hanya sosok astralku saja Daiki. Saat aku mati, aku meninggalkan sisa energiku di bumi ini. Sehingga aku bisa bangkit kembali untuk sementara. Dengan begini, aku bisa melakukan sesuatu untuk melawan para makhluk kegelapan”.
“Tunggu dulu”, Daiki mulai menyadari sesuatu. “Suara yang kudengar selama ini, itu anda? Anda yang memanggilku selama ini?”.
“Ya. Aku sangat membutuhkan bantuanmu. Hanya kau yang bisa mendengar suaraku”.
“Bantuan?”.
“Aku ingin kau membantuku untuk mengunci lagi segel yang telah terbuka”.
Daiki terbelalak kaget, “Aku? Bagaimana bisa?”.
“Kau merupakan keturunan ksatria murni. Dalam dirimu terdapat kekuatan 2 orang ksatria. Bisa dikatakan, kekuatanmu saat ini sebanding denganku, sang magician, maupun sang alchemist”, Sang sorcerer bergerak ke suatu arah. Entah kenapa, tiba-tiba ruangan menjadi lebih terang. Daiki kini bisa melihat tempat dia berada dengan lebih jelas.
“YUYA!”, jerit Daiki saat melihat Yuya tergeletak tidak jauh darinya. “Yuya, kau tidak apa-apa? Hei, Yuya! sadarlah!”.
“Dia tidak apa-apa Daiki. Dia hanya tertidur akibat kelelahan. Tubuhnya juga tidak menderita luka parah”, kata sang sorcerer.
Daiki menghela napas lega, “Syukurlah. Aku tidak tahu apa yang kulakukan seandainya dia tidak ada. Dia orang yang sangat berharga bagiku”. Daiki mengusap pelan rambut Yuya yang sedang tertidur. Muka Yuya terlihat tenang.
“Kalau begitu, bisakah kau ikut aku?”, Sang sorcerer bergerak maju ke suatu tempat.
“Tapi, aku tidak bisa meninggalkan Yuya sendirian”.
“Tenang saja. Dia akan tetap aman disana. Di sekitar sini tidak ada makhluk kegelapan. Biarkan dia beristirahat disana”. Daiki menatap Yuya yang masih tertidur lelap, akhirnya dia berdiri dan meninggalkan Yuya tidur. Kini dia melangkah mengikuti sorcerer.
Mereka masuk ke jalan seperti sebuah lorong. Tidak lama, mereka tiba di sebuah ruangan. Di tengah ruangan itu tampak bercahaya. Dia bisa melihat ada seperti lingkaran sihir, di sekeliling lingkaran itu terdapat tulisan-tulisan kuno. Daiki tidak dapat membacanya. Di tengah lingkaran, terdapat sebuah gambar, Daiki tahu, kalau itu adalah lambang sang magician. (catatan author : gomen, aku lupa simbolnya kayak apa. Coba aja cari di google atau bayangkan sendiri simbolnya kayak apa. Maaf ya).
Garis-garis lingkaran sihir itu tampak berwarna merah. Daiki mendekati lingkaran itu, dia kemudian tahu kalau garis merah itu berupa cairan berwarna merah.
“Cairan ini, jangan-jangan....”, gumam Daiki sambil menyentuh cairan itu dengan tangannya.
“Ya, ini adalah darahmu. Darah keturunan ksatria murni memiliki kekuatan yang sangat kuat. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kekuatan mereka setara dengan kekuatan kami berempat. Karena yang membuat segel ini adalah sang magician, maka dibutuhkan juga kekuatan yang setara dengan sang magician, dan itu adalah kekuatan dari keturunan ksatria murni”, jelas sang sorcerer.
Daiki menunduk. Mukanya terlihat murung. Dia kemudian merasa bersalah. Seandainya dia tidak ada, tentu segel ini tidak akan terbuka. Dan dunia dalam keadaan yang aman. Fuka juga tidak akan menderita seperti itu.
“Tidak ada gunanya menyalahkan dirimu sendiri Daiki. Semua orang dilahirkan di dunia ini ada artinya”, ucap sang sorcerer lembut seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan Daiki. “Kalau darahmu bisa digunakan untuk membuka segel, maka berarti darahmu juga bisa digunakan untuk menutup segel”.
“Benarkah?”, muka Daiki terlihat lebih cerah. Dia senang kalau akhirnya dia bisa melakukan sesuatu untuk mengakhiri pertarungan ini. “Tapi... kekuatanku sangat lemah. Bahkan kemampuanku sempat habis. Bisakah aku melakukannya?”, tanya Daiki. Tiba-tiba dia merasa murung.
“Untuk itulah aku menuntunmu untuk bertemu dengan adikmu. Dengan begitu kau bisa mendapatkan kembali kekuatanmu. Dan ditambah dengan sedikit kekuatanku, maka kau akan bisa menutup segel lagi”. sang sorcerer berjalan maju mendekati Daiki. “daiki, pinjamkan aku kekuatanmu. Saat ini, hanya kaulah satu-satunya yang bisa menutup segel itu”.
Daiki terdiam dan berpikir keras. Apakah dia memang harus menuruti perkataan sang sorcerer, tapi dia tidak yakin dengan kekuatan tubuhnya. dia merasa masih sangat lemah. Dia kemudian teringat dengan teman-temannya, adiknya, sekolahnya, dan lingkungan tempat dia tinggal. Dia tidak mau kehilangan semuanya. Dia tidak mau kehilangan lagi.
“Baiklah. Aku akan melakukan apapun untuk menutup segel itu”, ucap daiki mantap. Sang sorcerer tersenyum. Dia kemudian mengarahkan tangannya seperti sedang membelai kepala Daiki. Meskipun sang sorcerer tidak bisa menyentuhnya, akan tetapi Daiki bisa merasakan ada sebuah tangan lembut yang sedang mengusap kepalanya.
Sang sorcerer kini masuk ke dalam tubuh Daiki. Mereka berdua menjadi satu. Tubuh Daiki juga ikut bercahaya. Daiki bisa merasakan energi yang melimpah dari tubuhnya. Dia kemudian berjalan ke tengah lingkaran sihir itu, kedua tangannya menyentuh bagian simbol itu. Daiki berusaha mengeluarkan tenaga yang besar ke kedua tangannya.
“Wahai para roh yang bersemayam di muka bumi ini. Aku, sang sorcerer, meminta bantuan kalian untuk membantu kami melawan para makhluk kegelapan. Bantulah kami dalam menghadapi mereka”, gumam Daiki. Dia tahu kalau yang berbicara itu adalah sang sorcerer yang ada dalam tubuhnya.
Cahaya di sekitar tubuh Daiki kini semakin besar, sinarnya menerangi seluruh ruangan. Tidak lama, ada beberapa sosok transparan yang berdiri di sekelilingnya. Satu persatu sosok transparan itu muncul untuk memenuhi panggilan sang sorcerer. Sosok transparan itu memiliki beberapa wujud. Ada yang berwujud seperti anak-anak, orang dewasa, lansia, bahkan hewan pun juga ada.
“Terima kasih karena kalian sudah memenuhi panggilanku. Tolonglah, bantu kami menghadapi para makhluk kegelapan”. Roh-roh yang berkumpul itu mengangguk lalu pergi menuju ke suatu tempat.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar