Genre : Angst, Slice of Life, Drama
KRING!!!!
Alarm jam di sebuah kamar telah berbunyi. Waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi.
Langit malam kini telah berganti menjadi langit fajar. Warna hitam yang
sebelumnya mendominasi warna langit, kini telah berubah menjadi warna biru
dengan sedikit warna kemerahan. Bintang-bintang yang bersinar terang, sinarnya
telah disembunyikan oleh sang matahari yang dengan malu-malu keluar dari
persembunyiannya. Rembulan pun segera kembali bersembunyi, menunggu malam tiba
kembali.
KRING!!!
Alarm jam kembali berbunyi. Dengan enggan, Ryosuke mengulurkan tangannya untuk
mematikan alarm. Setelah mematikan alarm, dia segera kembali menarik selimutnya
untuk kembali melanjutkan mimpi indah yang dia alami. Udara dingin tiba-tiba
menyerang tubuhnya. Memaksanya untuk segera pergi dari mimpi indahnya.
“Hayo,
Ryochan.... bangun!”, Daiki menarik selimut Ryosuke. Mau tidak mau, Ryosuke
membuka matanya. Sesaat matanya terasa silau akibat sinar matahari yang masuk
ke dalam kamarnya. Hembusan hawa dingin yang berasal dari jendela yang terbuka
menerpa wajahnya, mengusir rasa ngantuk di matanya.
“Kakak...
aku masih ngantuk....”, gumam Ryosuke pelan. Daiki mengelus kepala adiknya itu
dengan lembut.
“Nanti
kau terlambat masuk sekolah Ryochan. Cepat mandi, setelah itu sarapan. Kakak
akan menyiapkan sarapan untukmu”, ucap Daiki sambil tersenyum. Daiki meletakkan
selimut yang telah dia lipat ke atas kasur, lalu beranjak pergi keluar dari
kamar. Ryosuke mengikutinya dari belakang, lalu berbelok menuju ke kamar mandi
untuk membersihkan diri. Daiki lalu menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Ryosuke
kini telah mengenakan seragam lengkap. Setelah memastikan tidak ada yang salah
dengan pakaiannya, dia kemudian menuju ke ruang makan untuk sarapan dan tidak
lupa pula dia membawa tasnya. Di ruang makan, Daiki sudah duduk menantinya
disana, dia tampak sedang bercakap-cakap dengan Yuya. Yuya adalah teman sejak
kecil Daiki, karena dia tinggal sendiri, Yuya sering ikut menumpang makan
bersama. Ryosuke melihat ke arah meja, disana sudah tersedia makanan roti bakar
dengan selai stroberi dan secangkir susu hangat.
“Kau
lama sekali chibi!”, ucap Yuya saat melihatku.
“Lagi-lagi
kau numpang makan disini, Yuya-san”, balasku sambil mencibir.
“Sudah,
sudah, ayo kita makan saja. Itadakimasu!”, Daiki menengahi pertengkaran Ryosuke
dan Yuya.
Kami
bertiga kemudian melahap sarapan kami dengan lahap. Setelah selesai sarapan,
Ryosuke membantu Daiki membereskan meja makan. Sedangkan Yuya segera menuju ke
kafe di sebelah rumah untuk beres-beres. Setelah lulus sekolah, Daiki tidak
melanjutkan ke bangku kuliah, dia memutuskan untuk membuka kafe di sebelah
rumahnya. Bersama dengan Yuya, Daiki menjalankan usaha kecilnya itu. Dari kafe
itulah, mereka mendapatkan biaya untuk hidup.
Ting
tong! Bel rumah berbunyi. Daiki dan Ryosuke saling bertatapan. Siapa kira-kira
yang ada saat pagi-pagi begini? Daiki segera menuju ke arah pintu untuk melihat
siapa yang datang.
“Selamat
pagi, Arioka”, ucap seorang wanita paruh baya yang ada di depan pintu. Usianya
mungkin sekitar 60-an. Dari pakaiannya bisa terlihat kalau wanita ini berasal
dari kalangan yang berkelas.
“Anda....”,
Daiki tampak terkejut saat melihat wanita itu. Dari ekspresinya terlihat kalau
dia mengenali wanita yang ada di hadapannya ini. Sesaat, tubuh Daiki menjadi
kaku, dia tidak tahu harus bertindak seperti apa.
“Ada apa
kak? Siapa yang datang?”, tanya Ryosuke yang mendekat ke arah Daiki karena
penasaran. Wanita itu kini menoleh ke arah Ryosuke. Dia melemparkan sebuah
senyum padanya. Tanpa sadar, Ryosuke juga membalas senyum wanita itu. ‘siapa
dia?’, tanya Ryosuke dalam hati. Ryosuke menatap ke arah Daiki yang masih
terdiam.
“Daichan,
tidak sopan kalau tamu yang baru datang tidak kau persilahkan duduk”, ucap Yuya
yang baru kembali setelah beres-beres di kafe. Yuya mendekat ke arah pintu, dia
kemudian mempersilahkan wanita itu masuk. Daiki masih berdiri kaku di depan
pintu. Tingkahnya itu tentu saja membuat tanda tanya di pikiran Ryosuke.
“Kakak,
ada apa?”, tanya Ryosuke yang cemas. Daiki kini menatap ke arah Ryosuke, dia
berusaha tersenyum seakan menunjukkan kalau dia baik-baik saja.
“Tidak
apa-apa Daichan, tenanglah”, Yuya menepuk pelan punggung Daiki. Daiki
mengangguk. Dia kemudian menghampiri wanita itu yang kini telah duduk di kursi
ruang tamu. “Dan kau, chibi! Segera berangkat ke sekolah. Nanti kau terlambat”,
Yuya menyerahkan sebuah tas pada Ryosuke.
“Yuya-san,
siapa wanita itu? Apa hubungannya dengan kakak?”, tanya Ryosuke pada Yuya. Tapi
Yuya hanya diam tidak mau menjawab. “Yuya-san, kau tahu sesuatu kan?”, tanya
Ryosuke lagi.
Yuya
menghela napas pelan, “Hal ini tidak bisa kuceritakan padamu. Biar Daichan
sendiri yang menjelaskannya padamu. Lebih baik sekarang kau segera pergi ke
sekolah sebelum terlambat”, Yuya mendorong Ryosuke agar segera pergi. Ryosuke
kembali menatap Daiki yang kini sedang berbicara dengan wanita itu dengan
tampang serius. “Sudahlah, serahkan kakakmu padaku”, Yuya mengacak-acak kepala
Ryosuke. Dengan berat hati, Ryosuke pergi menuju sekolah.
-------------------------------------------------------------
“Jadi,
sesuai kesepakatan kita sebelumnya Arioka. Aku akan mengambil kembali cucuku,
dia akan menjadi penerus keluarga Yamada”, kata wanita itu.
“Tapi,
anda berjanji padaku kalau dia akan tetap ku asuh sampai dia lulus SMA.
Sekarang dia masih kelas 2 SMA”, kata Daiki.
“Ada
sesuatu yang terjadi, kepala keluarga kami saat ini sedang sakit parah. Kami
tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan. Jadi kurasa semakin cepat membawa
Ryosuke akan semakin baik”.
“Tapi,
anda sudah berjanji padaku kalau anda akan membiarkan kami bersama hingga dia
lulus SMA”, ucap Daiki lagi. Mukanya kini tampak sedih. Dia tidak mau berpisah
dengan adiknya itu.
“Tidak
bisa. Ini sudah keputusan akhir. Aku akan segera berbicara padanya nanti, dan
kuharap dia bisa segera ikut denganku. Aku juga tidak bisa membiarkan cucuku
hidup dalam kesengsaraan lebih lama lagi”.
“Kumohon,
jangan ambil dia, nenek....”, pinta Daiki. Mukanya terlihat memelas. Wanita itu
segera menampar Daiki sesaat setelah dia memanggilnya nenek.
“Jangan
pernah panggil aku, nenek! Aku tidak akan mau mengakuimu sebagai cucuku. Kau
adalah anak dari wanita murahan itu! Tidak akan kubiarkan anak yang memiliki
darah kotor memanggilku nenek!”, geram wanita itu. Daiki hanya tertunduk sambil
memegang pipinya yang merah akibat tamparan wanita yang dia panggil nenek itu.
“Pokoknya,
aku akan tetap membawa Ryosuke bersamaku. Sebagai gantinya, aku akan membayar
semua biaya yang telah kau keluarkan untuk mengasuhnya”, wanita itu lalu
berdiri dan segera menuju pintu untuk keluar. “Ingat ini baik-baik Arioka. Aku
akan membawa Ryosuke kembali, apapun caranya”. Wanita itu kini telah menghilang
di balik pintu, meninggalkan Daiki yang masih terduduk lemas.
Yuya
memberikan sebuah handuk basah pada Daiki. Dia menempelkan handuk itu pada pipi
Daiki yang memerah. Perlahan air mata menetes membasahi tangan Yuya.
“Yuya,
apa yang harus kulakukan? Aku...aku tidak ingin berpisah Ryosuke”, rintih
Daiki. Yuya hanya terdiam menatap sahabatnya itu sambil menyeka air mata yang
membasahi wajah Daiki.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Kakak,
aku pulang!”, sapa Ryosuke yang baru pulang dari sekolahnya.
“Selamat
datang, Ryochan”, balas Daiki sambil tersenyum seperti biasanya. “Aku sudah
membuat makanan kecil untukmu, bagaimana kalau kita makan sama-sama?”. Daiki
mengajak Ryosuke duduk. Mereka kini duduk berhadapan. Ryosuke menatap ke wajah
Daiki. Dia bisa melihat ada bekas merah di pipi kakaknya itu. Matanya pun
tampak sedikit bengkak.
“Kakak
kenapa? Apa yang terjadi?”, tanya Ryosuke. Daiki langsung tersentak kaget saat
mendengar pertanyaan adiknya itu. “Ada apa kak? Apa ada hubungannya dengan
wanita yang datang tadi pagi?”. Daiki kembali diam.
“Kurasa
sudah saatnya dia mengetahui semuanya Daichan. Kau tidak bisa menyembunyikannya
terus menerus”, Yuya menepuk pundak Daiki. Dia lalu menatap Ryosuke sambil
tersenyum. “Chibi, dengarkan baik-baik apa yang disampaikan oleh kakakmu ini
ya”.
“Apa?
Apa yang ingin kakak bicarakan?”, tanya Ryosuke.
“Ryochan....”,
gumam Daiki. Dia menarik nafas panjang, “kau dan aku, kita berdua bukan saudara
kandung”. Ryosuke mendadak terdiam saat mendengar perkataan Daiki. Sesaat dia
merasa pernafasannya terhenti. “Lebih tepatnya, kita berdua ini saudara seayah,
tapi beda ibu. Ibuku adalah kekasih ayah waktu SMA, mereka sudah melahirkanku
sebelum menikah resmi. Sedangkan kau adalah anak dari ayah dengan perempuan
yang dijodohkan dengannya. Bisa dibilang, aku adalah anak dari hubungan gelap
ayah”.
“Itu tidak
mungkin kak! Tidak mungkin! Kita berdua diasuh bersama-sama kan?”, bantah
Ryosuke.
“Waktu
aku masih kecil, ibuku meninggal karena sakit. Lalu ayah membawaku kemari untuk
tinggal bersamanya. Ibumu adalah orang yang baik, dia bahkan mau mengasuhku
yang merupakan anak dari hubungan gelap. Mereka membesarkanku sebagai anak
mereka sendiri dan sebagai kakakmu. Aku sangat sedih saat mereka berdua
akhirnya meninggalkan kita akibat kecelakaan itu”. Ryosuke terdiam saja
mendengar kisah Daiki. Dia masih membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya.
“Wanita
yang datang tadi pagi itu, adalah nenekmu”, lanjut Daiki lagi. “Dia datang
kemari untuk membawamu pergi dan menjadikanmu sebagai penerus keluarga Yamada.
Aku memang sudah berjanji padanya untuk mengasuhmu hingga kau lulus SMA karena
aku berjanji pada ayah untuk menjagamu, tapi dia memintaku untuk segera
membawamu kembali ke keluarga Yamada”.
“Lalu,
kakak juga akan pergi bersamaku kan?”, tanya Ryosuke.
Daiki
menggeleng, “hanya kau yang pergi Ryochan. Kau adalah cucu yang dia akui.
Sedangkan aku tidak dianggap sebagai cucu resminya karena aku adalah anak dari
hasil hubungan gelap ayah. Sekarang kau lebih baik segera membereskan
barang-barangmu. Besok nenekmu akan kembali menjemputmu dan membawamu kembali
ke rumah utama”, ucapan Daiki ini entah kenapa terasa dingin.
“Jadi,
kakak tidak keberatan berpisah denganku?”, tanya Ryosuke.
“Sejak
awal kita bukan saudara kandung. Terlebih, aku mengasuhmu karena itu adalah
janjiku pada ayah dan sebagai balas budi karena telah merawatku. Bukankah lebih
enak kalau kau kembali ke keluargamu yang sesungguhnya? Keluarga Yamada itu
kaya lo, kau pasti bisa hidup enak disana. Kalau bersama denganku, kau tidak
akan mendapatkan apa-apa karena kehidupanku yang miskin.
“Aku
tidak mempersalahkan soal uang! Aku tidak keberatan kalaupun aku harus hidup
miskin! Jika aku bisa hidup bersama dengan kakak, aku tidak keberatan. Aku
tidak ingin berpisah denganmu kak”, pinta Ryosuke. Mukanya tampak seperti ingin
menangis. Melihat Ryosuke seperti itu, Daiki langsung mengalihkan pandangannya.
“ini
sudah keputusan akhir Ryochan. Sudah tidak bisa diubah lagi. Kau akan kembali
ke keluargamu yang sesungguhnya. Jujur saja, aku sudah capek mengurusmu.
Terlebih, bila kau kembali pada mereka, aku bisa mendapatkan uang yang banyak.
Dengan itu, aku bisa hidup dengan sedikit layak kan?’, ucap Daiki. Ryosuke
langsung melemparkan gelasnya ke arah Daiki. PRANG! Gelas itu pecah mengenai
tembok yang ada di belakang Daiki.
“Kakak
jahat! Kakak menukarkanku dengan uang! Kupikir kita berdua adalah saudara.
Ternyata aku salah”, ucap Ryosuke. Matanya basah oleh air mata. Dia kemudian
langsung berlari menuju kamarnya meninggalkan Daiki sendirian disana.
“Tidak
apa-apakah seperti ini? Kau bisa dibenci olehnya”, kata Yuya yang sedari tadi
mendengarkan percakapan kakak beradik ini.
“Ya,
tidak apa-apa”, jawab Daiki pelan sambil membereskan pecahan gelas yang
berserakan di lantai. Daiki tetap berusaha tersenyum, berusaha menyembunyikan
perasaannya yang sesungguhnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Selamat
pagi”, sapa Yuya. “Lo? Mana si chibi?”, tanya Yuya yang mendapati Daiki
sendirian di rumah.
“Dia
sudah pergi”, jawab Daiki singkat. Dia tampak menyibukkan diri di dapur. “Waktu
tadi pagi aku memasuki kamarnya, dia sudah tidak ada. Barang-barangnya juga.
Mungkin dia sudah pergi sendiri menuju ke tempat kediaman Yamada”.
“Lalu,
kau tidak apa-apa?”, tanya Yuya.
“Aku
tidak apa-apa. Aku sudah biasa sendirian. Sebelum aku dibawa oleh ayah, aku
selalu sendirian kan? Jadi tidak masalah bagiku”, Daiki tersenyum. “Oh ya Yuya,
bagaimana kalau kau tinggal disini saja bersamaku? Ada satu kamar kosong.
Dengan begitu kau bisa menghemat kan? Kau tidak perlu membayar sewa kos. Kau
juga bisa segera pergi ke kafe”.
“Benarkah
kau tidak keberatan dengan ini Daichan? Kalau kau keberatan dengan
kepergiannya, kenapa kau kemarin tidak bilang saja padanya kalau kau tidak
ingin dia pergi?”, ucap Yuya yang tidak mempedulikan ucapan Daiki sebelumnya.
“Kau
kenapa sih Yuya. Aku sudah tidak peduli padanya kok”, Daiki lalu menyibukkan
dirinya dengan memasak sarapan.
“Kalau
begitu, kenapa kau menyiapkan sarapan untuk 3 orang?”, tanya Yuya sambil
menunjuk piring yang berjumlah 3 buah di atas meja. “Padahal kau kemarin
menangis karena tidak ingin berpisah dengannya. Dasar tidak jujur!”.
“Apa
boleh buat kan? Aku bukan saudara kandungnya. Aku tidak berhak mengatur
kehidupannya. Lebih baik dia kembali dengan keluarganya yang sebenarnya”, ucap
Daiki. Mukanya terlihat murung.
“Memangnya
apa batasan seseorang dikatakan saudara? Apakah yang namanya kakak adik itu
harus memiliki hubungan darah? Jikalau kalian sendiri mengakui dan merasa satu
sama lain sebagai saudara, bukankah itu sudah cukup bukti kalau kalian memang
saudara?”, ucap Yuya. “Benar kan, chibi?”. Daiki langsung membalikkan badannya,
dia melihat Ryosuke berdiri di depan pintu sambil memegangi tas besarnya.
“Sejak
kapan dia ada disana?”, tanya Daiki gugup.
“Sejak
tadi. Dia terus berdiri mematung disana, tampaknya dia tidak berani masuk
kesini”, jawab Yuya.
“Lalu,
kenapa kau kembali kemari? Bukankah kau kembali pada mereka?”, tanya Daiki pada
Ryosuke.
“Aku
tadi sudah mengunjungi keluarga Yamada. Aku kesana hanya untuk mengatakan
sesuatu”, Ryosuke menatap lurus ke arah Daiki. “Aku mengatakan pada mereka,
kalau aku tidak ingin menjadi penerus keluarga Yamada. Aku ingin tinggal disini
bersama kakak. Bagiku, keluargaku satu-satunya hanyalah kakak, aku tidak butuh
yang lain. Aku tidak peduli kalau hidup kita akan kekurangan, aku ingin tinggal
bersama dengan kakak. Apakah aku masih boleh tinggal disini kak?”, tanya
Ryosuke sambil takut-takut. Dia takut kalau Daiki tidak menginginkannya kembali
ke rumah ini.
Daiki
langsung berlari memeluk Ryosuke. Ryosuke bisa merasakan tetesan air hangat
membasahi pundaknya. “Tentu saja kau boleh tinggal disini Ryochan. Sejak awal
ini adalah rumahmu. Maafkan kelakuan kakak kemarin ya. Benar kata Yuya, kakak
tidak ingin kehilanganmu. Bagi kakak, kau adalah satu-satunya keluarga yang
kakak miliki. Kakak tidak bisa membayangkan kalau kau pergi meninggalkan
kakak”.
Ryosuke
membalas pelukan kakaknya. Pelukan itu terasa sangat hangat. Bagi Ryosuke,
kakaknya adalah yang nomor satu. Tidak peduli mereka saudara sedarah atau bukan.
Ryosuke akan tetap menjadi seorang adik bagi kakaknya, Arioka Daiki.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar