Kamis, 12 November 2015

KYOUDAI

Cast : Yamada Ryosuke, Arioka Daiki, dan sekilas Takaki Yuya
Genre : Angst, Slice of Life, Drama

KRING!!!! Alarm jam di sebuah kamar telah berbunyi. Waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi. Langit malam kini telah berganti menjadi langit fajar. Warna hitam yang sebelumnya mendominasi warna langit, kini telah berubah menjadi warna biru dengan sedikit warna kemerahan. Bintang-bintang yang bersinar terang, sinarnya telah disembunyikan oleh sang matahari yang dengan malu-malu keluar dari persembunyiannya. Rembulan pun segera kembali bersembunyi, menunggu malam tiba kembali.

KRING!!! Alarm jam kembali berbunyi. Dengan enggan, Ryosuke mengulurkan tangannya untuk mematikan alarm. Setelah mematikan alarm, dia segera kembali menarik selimutnya untuk kembali melanjutkan mimpi indah yang dia alami. Udara dingin tiba-tiba menyerang tubuhnya. Memaksanya untuk segera pergi dari mimpi indahnya.

“Hayo, Ryochan.... bangun!”, Daiki menarik selimut Ryosuke. Mau tidak mau, Ryosuke membuka matanya. Sesaat matanya terasa silau akibat sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya. Hembusan hawa dingin yang berasal dari jendela yang terbuka menerpa wajahnya, mengusir rasa ngantuk di matanya.

“Kakak... aku masih ngantuk....”, gumam Ryosuke pelan. Daiki mengelus kepala adiknya itu dengan lembut.

“Nanti kau terlambat masuk sekolah Ryochan. Cepat mandi, setelah itu sarapan. Kakak akan menyiapkan sarapan untukmu”, ucap Daiki sambil tersenyum. Daiki meletakkan selimut yang telah dia lipat ke atas kasur, lalu beranjak pergi keluar dari kamar. Ryosuke mengikutinya dari belakang, lalu berbelok menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Daiki lalu menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Ryosuke kini telah mengenakan seragam lengkap. Setelah memastikan tidak ada yang salah dengan pakaiannya, dia kemudian menuju ke ruang makan untuk sarapan dan tidak lupa pula dia membawa tasnya. Di ruang makan, Daiki sudah duduk menantinya disana, dia tampak sedang bercakap-cakap dengan Yuya. Yuya adalah teman sejak kecil Daiki, karena dia tinggal sendiri, Yuya sering ikut menumpang makan bersama. Ryosuke melihat ke arah meja, disana sudah tersedia makanan roti bakar dengan selai stroberi dan secangkir susu hangat.

“Kau lama sekali chibi!”, ucap Yuya saat melihatku.

“Lagi-lagi kau numpang makan disini, Yuya-san”, balasku sambil mencibir.

“Sudah, sudah, ayo kita makan saja. Itadakimasu!”, Daiki menengahi pertengkaran Ryosuke dan Yuya.

Kami bertiga kemudian melahap sarapan kami dengan lahap. Setelah selesai sarapan, Ryosuke membantu Daiki membereskan meja makan. Sedangkan Yuya segera menuju ke kafe di sebelah rumah untuk beres-beres. Setelah lulus sekolah, Daiki tidak melanjutkan ke bangku kuliah, dia memutuskan untuk membuka kafe di sebelah rumahnya. Bersama dengan Yuya, Daiki menjalankan usaha kecilnya itu. Dari kafe itulah, mereka mendapatkan biaya untuk hidup.

Ting tong! Bel rumah berbunyi. Daiki dan Ryosuke saling bertatapan. Siapa kira-kira yang ada saat pagi-pagi begini? Daiki segera menuju ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.

“Selamat pagi, Arioka”, ucap seorang wanita paruh baya yang ada di depan pintu. Usianya mungkin sekitar 60-an. Dari pakaiannya bisa terlihat kalau wanita ini berasal dari kalangan yang berkelas.

“Anda....”, Daiki tampak terkejut saat melihat wanita itu. Dari ekspresinya terlihat kalau dia mengenali wanita yang ada di hadapannya ini. Sesaat, tubuh Daiki menjadi kaku, dia tidak tahu harus bertindak seperti apa.

“Ada apa kak? Siapa yang datang?”, tanya Ryosuke yang mendekat ke arah Daiki karena penasaran. Wanita itu kini menoleh ke arah Ryosuke. Dia melemparkan sebuah senyum padanya. Tanpa sadar, Ryosuke juga membalas senyum wanita itu. ‘siapa dia?’, tanya Ryosuke dalam hati. Ryosuke menatap ke arah Daiki yang masih terdiam.

“Daichan, tidak sopan kalau tamu yang baru datang tidak kau persilahkan duduk”, ucap Yuya yang baru kembali setelah beres-beres di kafe. Yuya mendekat ke arah pintu, dia kemudian mempersilahkan wanita itu masuk. Daiki masih berdiri kaku di depan pintu. Tingkahnya itu tentu saja membuat tanda tanya di pikiran Ryosuke.

“Kakak, ada apa?”, tanya Ryosuke yang cemas. Daiki kini menatap ke arah Ryosuke, dia berusaha tersenyum seakan menunjukkan kalau dia baik-baik saja.

“Tidak apa-apa Daichan, tenanglah”, Yuya menepuk pelan punggung Daiki. Daiki mengangguk. Dia kemudian menghampiri wanita itu yang kini telah duduk di kursi ruang tamu. “Dan kau, chibi! Segera berangkat ke sekolah. Nanti kau terlambat”, Yuya menyerahkan sebuah tas pada Ryosuke.

“Yuya-san, siapa wanita itu? Apa hubungannya dengan kakak?”, tanya Ryosuke pada Yuya. Tapi Yuya hanya diam tidak mau menjawab. “Yuya-san, kau tahu sesuatu kan?”, tanya Ryosuke lagi.
Yuya menghela napas pelan, “Hal ini tidak bisa kuceritakan padamu. Biar Daichan sendiri yang menjelaskannya padamu. Lebih baik sekarang kau segera pergi ke sekolah sebelum terlambat”, Yuya mendorong Ryosuke agar segera pergi. Ryosuke kembali menatap Daiki yang kini sedang berbicara dengan wanita itu dengan tampang serius. “Sudahlah, serahkan kakakmu padaku”, Yuya mengacak-acak kepala Ryosuke. Dengan berat hati, Ryosuke pergi menuju sekolah.

-------------------------------------------------------------

“Jadi, sesuai kesepakatan kita sebelumnya Arioka. Aku akan mengambil kembali cucuku, dia akan menjadi penerus keluarga Yamada”, kata wanita itu.

“Tapi, anda berjanji padaku kalau dia akan tetap ku asuh sampai dia lulus SMA. Sekarang dia masih kelas 2 SMA”, kata Daiki.

“Ada sesuatu yang terjadi, kepala keluarga kami saat ini sedang sakit parah. Kami tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan. Jadi kurasa semakin cepat membawa Ryosuke akan semakin baik”.

“Tapi, anda sudah berjanji padaku kalau anda akan membiarkan kami bersama hingga dia lulus SMA”, ucap Daiki lagi. Mukanya kini tampak sedih. Dia tidak mau berpisah dengan adiknya itu.

“Tidak bisa. Ini sudah keputusan akhir. Aku akan segera berbicara padanya nanti, dan kuharap dia bisa segera ikut denganku. Aku juga tidak bisa membiarkan cucuku hidup dalam kesengsaraan lebih lama lagi”.

“Kumohon, jangan ambil dia, nenek....”, pinta Daiki. Mukanya terlihat memelas. Wanita itu segera menampar Daiki sesaat setelah dia memanggilnya nenek.

“Jangan pernah panggil aku, nenek! Aku tidak akan mau mengakuimu sebagai cucuku. Kau adalah anak dari wanita murahan itu! Tidak akan kubiarkan anak yang memiliki darah kotor memanggilku nenek!”, geram wanita itu. Daiki hanya tertunduk sambil memegang pipinya yang merah akibat tamparan wanita yang dia panggil nenek itu.

“Pokoknya, aku akan tetap membawa Ryosuke bersamaku. Sebagai gantinya, aku akan membayar semua biaya yang telah kau keluarkan untuk mengasuhnya”, wanita itu lalu berdiri dan segera menuju pintu untuk keluar. “Ingat ini baik-baik Arioka. Aku akan membawa Ryosuke kembali, apapun caranya”. Wanita itu kini telah menghilang di balik pintu, meninggalkan Daiki yang masih terduduk lemas.

Yuya memberikan sebuah handuk basah pada Daiki. Dia menempelkan handuk itu pada pipi Daiki yang memerah. Perlahan air mata menetes membasahi tangan Yuya.

“Yuya, apa yang harus kulakukan? Aku...aku tidak ingin berpisah Ryosuke”, rintih Daiki. Yuya hanya terdiam menatap sahabatnya itu sambil menyeka air mata yang membasahi wajah Daiki.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Kakak, aku pulang!”, sapa Ryosuke yang baru pulang dari sekolahnya.

“Selamat datang, Ryochan”, balas Daiki sambil tersenyum seperti biasanya. “Aku sudah membuat makanan kecil untukmu, bagaimana kalau kita makan sama-sama?”. Daiki mengajak Ryosuke duduk. Mereka kini duduk berhadapan. Ryosuke menatap ke wajah Daiki. Dia bisa melihat ada bekas merah di pipi kakaknya itu. Matanya pun tampak sedikit bengkak.

“Kakak kenapa? Apa yang terjadi?”, tanya Ryosuke. Daiki langsung tersentak kaget saat mendengar pertanyaan adiknya itu. “Ada apa kak? Apa ada hubungannya dengan wanita yang datang tadi pagi?”. Daiki kembali diam.

“Kurasa sudah saatnya dia mengetahui semuanya Daichan. Kau tidak bisa menyembunyikannya terus menerus”, Yuya menepuk pundak Daiki. Dia lalu menatap Ryosuke sambil tersenyum. “Chibi, dengarkan baik-baik apa yang disampaikan oleh kakakmu ini ya”.

“Apa? Apa yang ingin kakak bicarakan?”, tanya Ryosuke.

“Ryochan....”, gumam Daiki. Dia menarik nafas panjang, “kau dan aku, kita berdua bukan saudara kandung”. Ryosuke mendadak terdiam saat mendengar perkataan Daiki. Sesaat dia merasa pernafasannya terhenti. “Lebih tepatnya, kita berdua ini saudara seayah, tapi beda ibu. Ibuku adalah kekasih ayah waktu SMA, mereka sudah melahirkanku sebelum menikah resmi. Sedangkan kau adalah anak dari ayah dengan perempuan yang dijodohkan dengannya. Bisa dibilang, aku adalah anak dari hubungan gelap ayah”.

“Itu tidak mungkin kak! Tidak mungkin! Kita berdua diasuh bersama-sama kan?”, bantah Ryosuke.

“Waktu aku masih kecil, ibuku meninggal karena sakit. Lalu ayah membawaku kemari untuk tinggal bersamanya. Ibumu adalah orang yang baik, dia bahkan mau mengasuhku yang merupakan anak dari hubungan gelap. Mereka membesarkanku sebagai anak mereka sendiri dan sebagai kakakmu. Aku sangat sedih saat mereka berdua akhirnya meninggalkan kita akibat kecelakaan itu”. Ryosuke terdiam saja mendengar kisah Daiki. Dia masih membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya.

“Wanita yang datang tadi pagi itu, adalah nenekmu”, lanjut Daiki lagi. “Dia datang kemari untuk membawamu pergi dan menjadikanmu sebagai penerus keluarga Yamada. Aku memang sudah berjanji padanya untuk mengasuhmu hingga kau lulus SMA karena aku berjanji pada ayah untuk menjagamu, tapi dia memintaku untuk segera membawamu kembali ke keluarga Yamada”.

“Lalu, kakak juga akan pergi bersamaku kan?”, tanya Ryosuke.

Daiki menggeleng, “hanya kau yang pergi Ryochan. Kau adalah cucu yang dia akui. Sedangkan aku tidak dianggap sebagai cucu resminya karena aku adalah anak dari hasil hubungan gelap ayah. Sekarang kau lebih baik segera membereskan barang-barangmu. Besok nenekmu akan kembali menjemputmu dan membawamu kembali ke rumah utama”, ucapan Daiki ini entah kenapa terasa dingin.

“Jadi, kakak tidak keberatan berpisah denganku?”, tanya Ryosuke.

“Sejak awal kita bukan saudara kandung. Terlebih, aku mengasuhmu karena itu adalah janjiku pada ayah dan sebagai balas budi karena telah merawatku. Bukankah lebih enak kalau kau kembali ke keluargamu yang sesungguhnya? Keluarga Yamada itu kaya lo, kau pasti bisa hidup enak disana. Kalau bersama denganku, kau tidak akan mendapatkan apa-apa karena kehidupanku yang miskin.

“Aku tidak mempersalahkan soal uang! Aku tidak keberatan kalaupun aku harus hidup miskin! Jika aku bisa hidup bersama dengan kakak, aku tidak keberatan. Aku tidak ingin berpisah denganmu kak”, pinta Ryosuke. Mukanya tampak seperti ingin menangis. Melihat Ryosuke seperti itu, Daiki langsung mengalihkan pandangannya.

“ini sudah keputusan akhir Ryochan. Sudah tidak bisa diubah lagi. Kau akan kembali ke keluargamu yang sesungguhnya. Jujur saja, aku sudah capek mengurusmu. Terlebih, bila kau kembali pada mereka, aku bisa mendapatkan uang yang banyak. Dengan itu, aku bisa hidup dengan sedikit layak kan?’, ucap Daiki. Ryosuke langsung melemparkan gelasnya ke arah Daiki. PRANG! Gelas itu pecah mengenai tembok yang ada di belakang Daiki.

“Kakak jahat! Kakak menukarkanku dengan uang! Kupikir kita berdua adalah saudara. Ternyata aku salah”, ucap Ryosuke. Matanya basah oleh air mata. Dia kemudian langsung berlari menuju kamarnya meninggalkan Daiki sendirian disana.

“Tidak apa-apakah seperti ini? Kau bisa dibenci olehnya”, kata Yuya yang sedari tadi mendengarkan percakapan kakak beradik ini.

“Ya, tidak apa-apa”, jawab Daiki pelan sambil membereskan pecahan gelas yang berserakan di lantai. Daiki tetap berusaha tersenyum, berusaha menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Selamat pagi”, sapa Yuya. “Lo? Mana si chibi?”, tanya Yuya yang mendapati Daiki sendirian di rumah.

“Dia sudah pergi”, jawab Daiki singkat. Dia tampak menyibukkan diri di dapur. “Waktu tadi pagi aku memasuki kamarnya, dia sudah tidak ada. Barang-barangnya juga. Mungkin dia sudah pergi sendiri menuju ke tempat kediaman Yamada”.

“Lalu, kau tidak apa-apa?”, tanya Yuya.

“Aku tidak apa-apa. Aku sudah biasa sendirian. Sebelum aku dibawa oleh ayah, aku selalu sendirian kan? Jadi tidak masalah bagiku”, Daiki tersenyum. “Oh ya Yuya, bagaimana kalau kau tinggal disini saja bersamaku? Ada satu kamar kosong. Dengan begitu kau bisa menghemat kan? Kau tidak perlu membayar sewa kos. Kau juga bisa segera pergi ke kafe”.

“Benarkah kau tidak keberatan dengan ini Daichan? Kalau kau keberatan dengan kepergiannya, kenapa kau kemarin tidak bilang saja padanya kalau kau tidak ingin dia pergi?”, ucap Yuya yang tidak mempedulikan ucapan Daiki sebelumnya.

“Kau kenapa sih Yuya. Aku sudah tidak peduli padanya kok”, Daiki lalu menyibukkan dirinya dengan memasak sarapan.

“Kalau begitu, kenapa kau menyiapkan sarapan untuk 3 orang?”, tanya Yuya sambil menunjuk piring yang berjumlah 3 buah di atas meja. “Padahal kau kemarin menangis karena tidak ingin berpisah dengannya. Dasar tidak jujur!”.

“Apa boleh buat kan? Aku bukan saudara kandungnya. Aku tidak berhak mengatur kehidupannya. Lebih baik dia kembali dengan keluarganya yang sebenarnya”, ucap Daiki. Mukanya terlihat murung.

“Memangnya apa batasan seseorang dikatakan saudara? Apakah yang namanya kakak adik itu harus memiliki hubungan darah? Jikalau kalian sendiri mengakui dan merasa satu sama lain sebagai saudara, bukankah itu sudah cukup bukti kalau kalian memang saudara?”, ucap Yuya. “Benar kan, chibi?”. Daiki langsung membalikkan badannya, dia melihat Ryosuke berdiri di depan pintu sambil memegangi tas besarnya.

“Sejak kapan dia ada disana?”, tanya Daiki gugup.

“Sejak tadi. Dia terus berdiri mematung disana, tampaknya dia tidak berani masuk kesini”, jawab Yuya.

“Lalu, kenapa kau kembali kemari? Bukankah kau kembali pada mereka?”, tanya Daiki pada Ryosuke.

“Aku tadi sudah mengunjungi keluarga Yamada. Aku kesana hanya untuk mengatakan sesuatu”, Ryosuke menatap lurus ke arah Daiki. “Aku mengatakan pada mereka, kalau aku tidak ingin menjadi penerus keluarga Yamada. Aku ingin tinggal disini bersama kakak. Bagiku, keluargaku satu-satunya hanyalah kakak, aku tidak butuh yang lain. Aku tidak peduli kalau hidup kita akan kekurangan, aku ingin tinggal bersama dengan kakak. Apakah aku masih boleh tinggal disini kak?”, tanya Ryosuke sambil takut-takut. Dia takut kalau Daiki tidak menginginkannya kembali ke rumah ini.

Daiki langsung berlari memeluk Ryosuke. Ryosuke bisa merasakan tetesan air hangat membasahi pundaknya. “Tentu saja kau boleh tinggal disini Ryochan. Sejak awal ini adalah rumahmu. Maafkan kelakuan kakak kemarin ya. Benar kata Yuya, kakak tidak ingin kehilanganmu. Bagi kakak, kau adalah satu-satunya keluarga yang kakak miliki. Kakak tidak bisa membayangkan kalau kau pergi meninggalkan kakak”.


Ryosuke membalas pelukan kakaknya. Pelukan itu terasa sangat hangat. Bagi Ryosuke, kakaknya adalah yang nomor satu. Tidak peduli mereka saudara sedarah atau bukan. Ryosuke akan tetap menjadi seorang adik bagi kakaknya, Arioka Daiki.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar