Minggu, 01 November 2015

PET MASTER

Rabbit 

Okamoto POV 

Alice in Wonderland. Sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang gadis yang berlari mengejar seekor kelinci yang bisa berbicara dan membawa sebuah jam saku. Alice terus mengikuti kelinci itu melalui lubang kecil dan sampai ke sebuah negeri ajaib. 

Bila disamakan dengan kisah itu, maka kini aku adalah Alice. Aku pun sedang mengejar sesuatu. Bukan seekor kelinci, melainkan seorang anak lelaki jangkung yang baru saja berteman denganku. Nakajima Yuto. 

"Ini semua gara-gara Yamada yang berkata aneh" 

Tadi siang, pada saat istirahat, Yamada mengatakan hal yang aneh. Dia mendengar namanya disebut oleh Yuto dan Chinen. Terlebih lagi dia bilang kalau Chinen bertingkah aneh. Yamada tidak menjelaskan apa tingkah Chinen yang aneh, dia hanya mengatakan kalau Chinen aneh. 

"Aku menduga kalau Yuto juga sama anehnya dengan Chinen" 

Ucapan Yamada terdengar yakin. Dia bahkan memintaku untuk mengawasi Yuto dan melaporkan padanya kalau Yuto bertingkah aneh. 

Aku berpikir. Bukankah Yuto memang aneh sejak awal? 

Kenapa dia pindah sekolah saat pertengahan semester 2?Sampai sekarang, pertanyaan itu belum terjawab. 

Mengapa dia dan Chinen pura-pura tidak saling mengenal? Jelas-jelas kalau mereka berdua sangat dekat. Chinen selalu menghabiskan daging yang ada di makanan Yuto tanpa ijin, dan Yuto tidak mempermasalahkannya. 

"Aku vegetarian" 

Itu jawaban Yuto saat kutanya kenapa dia tidak makan daging. Bagaimana Chinen bisa tahu kalau Yuto vegetarian kalau mereka tidak saling kenal sebelumnya? 

Yuto adalah anak yang cukup atletis. Dia memiliki kaki yang panjang. Hal itu membuatnya bisa berlari cepat dan melompat dengan tinggi. Bahkan Izumi Sano, ketua tim atletik sempat datang membujuk Yuto agar masuk ke dalam timnya. 

"Aku tidak suka hal yang merepotkan" 

Itu jawaban yang diberikan Yuto saat menolak tawaran Izumi senpai. 

Kini aku membuntuti Yuto bukan karena aku curiga padanya. Tapi untuk membuktikan kalau Yuto bukanlah anak aneh. Memang hubungannya dengan Chinen bisa dibilang aneh, tapi itu bukan bukti kalau Yuto adalah orang yang aneh. 

Yuto kini berhenti di sebuah tembok yang cukup tinggi. Kira-kira setinggi 3 meter. Dia menoleh ke kanan kiri, seperti memastikan kalau tidak orang di sekitarnya. 

Sedetik kemudian, aku bisa merasa kalau nafasku berhenti sebentar. 

Yuto melompat! Dia melompati tembok setinggi 3 meter itu tanpa halangan. Yuto kemudian menghilang ke balik tembok. 

Bisakah seorang manusia melompat tembok setinggi itu? Bahkan atlet lompat galah saja paling tinggi bisa melompat dengan jarak 2 meter. 

Yamada benar. Yuto sama dengan Chinen. Aneh.

---***---

Dog 

Arioka POV 

Lagi-lagi, dia berdiri disana. Menatap ke arah matahari senja. 

Semenjak dia datang kemari, aku selalu melihatnya berdiri disana setelah pulang sekolah, menatap ke arah matahari senja. 

Rambutnya yang kecoklatan, terlihat berwarna seperti merah saat matahari senja mengenai rambutnya. 

Takaki Yuya. Nama orang yang sedang berdiri di atap sana. Nama orang yang selalu berdiri disana sambil menatap matahari senja. 

Beberapa hari yang lalu, dia baru saja pindah kemari, bersama orang berparas cantik, Inoo Kei. 

Aku bisa akrab dengan Inoo, tapi tidak dengan Takaki ini. Dia seakan membuat dinding tak terlihat antara dirinya dengan orang lain. Seakan tidak ingin orang lain masuk ke kehidupannya. 

Siapa yang dia tunggu? Siapa yang dia cari? 

Pertanyaan itu selalu muncul di benakku saat melihat Takaki berdiri disana, tidak banyak bergerak, hanya melihat ke arah matahari senja. 

Awalnya aku tidak ambil peduli, karena kupikir Takaki tidak ingin orang lain mengganggunya. Tapi entah kenapa kali ini aku tertarik untuk berbicara dengannya. 

Berbekal 2 buah roti isi yang ada di tanganku, aku melangkah menuju atap, dimana dia berada. 

Aku berhenti di depan pintu. Ragu. Apakah tidak apa aku mengganggu orang yang selalu membuat jarak dengan orang lain? 

"Sedang apa kau berdiri disana... Arioka?" 

Deg. 

Aku terkejut. 

Dia tahu aku ada disini. Bagaimana bisa? 

Kubuka pintu perlahan, berjalan menuju arahnya yang masih menatap ke arah matahari senja. 

"Bagaimana kau bisa tahu?", tanyaku 

"Hmm... Baumu sangat khas. Tentu aku tahu" 

Aku mencium badanku. Apa aku sebau itu? 

Masih. Dia masih menatap ke arah matahari senja. Tidak melihat ke arahku ssedikitpun yang kini berada di sebelahnya. 

"Aku selalu melihatmu disini. Melihat ke arah yang sama. Apa yang sedang kau lakukan?" 

"Menunggu", jawabnya singkat. 

"Menunggu siapa?" 

"Orang yang selama ini kunantikan dan kucari" 

"Kekasihmu?", tanyaku 

Dia menggeleng 

"Bukan. Tapi bisa dikatakan kalau aku sangat merindukannya" 

Aku tertegun melihat Takaki. Siapa yang sedang ditunggu olehnya hingga dia terus menunggu di tempat yang sama? Bagaikan cerita hachiko, seekor anjing yang setia menunggu tuannya. 

Aku menyodorkan salah satu roti yang kubawa padanya. 

"Aku akan menemanimu", ucapku. "Aku akan menemanimu sampai kau bertemu dengannya" 

Takaki melihat ke arahku. Akhirnya. Dia melihat ke arahku. Bukan ke arah matahari senja. 

"Kenapa?", tanyanya. 

"Tidak enak kalau sendirian kan? Setidaknya aku akan menemanimu sampai kau bertemu orang yang kau cari" 

Takaki mengulurkan tangannya. Membelai pipiku dengan lembut. Mendekatkan wajahnya. Mendekatkan bibirnya ke arah telingaku. 

"Terima kasih", bisiknya. 

Aku tersenyum. Dia pun tersenyum. Lalu kami berdua melihat ke arah matahari senja, tanpa mengatakan apapun. 

Hanya berdiri sampai saat matahari kembali ke peraduannya. 

---***--- 

Untuk yg selanjutnya, disarankan kalian sudah membaca PET MASTER yg mouse, cat, dan rabbit. Cz bakal bingung nanti pas baca POV yg selanjutnya. 

Sampai sini, kalian bisa menebak kan cerita ini kayak gmn??? 
Yg udah baca, terima kasih ya... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar