Part 30
Yabu hanya menatap ke langit yang cerah. Sesekali matanya bergerak mengikuti kumpulan burung yang sedang terbang secara berkelompok. Tampaknya burung-burung itu sedang bermigrasi, mencari tempat tinggal yang baru. Hewan memiliki insting yang kuat. Mungkin saja kalau burung-burung itu bisa merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi di sekitar mereka sehingga memutuskan mereka untuk bermigrasi.
“Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi kan?”
Keito kembali mengulangi pertanyaannya. Dia sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Yabu. Sedari tadi Yabu hanya diam.
“Bukankah kau sudah tahu semua kejadiannya? Leluhurmu dan Inoo sudah menjelaskannya padamu kan?”
“Apa maksudmu?”
Yabu menghela nafas panjang sebelum bercerita. “Inoo dan Kaoru, mereka berdua tidak sengaja bertemu. Awalnya Kaoru berniat untuk memusnahkan Inoo begitu dia tahu siapa Inoo sebenarnya, tapi Inoo terlihat tidak berniat menyakitinya, sehingga Karou membiarkannya hidup. Inoo bukan tipe demon yang akan memangsa manusia sebagai makanannya, dia hanya tertarik pada ilmu pengetahuan. Anak itu memang gila dengan rasa ingin tahu”
“Kaoru tertarik dengan sifat Inoo yang berbeda dengan demon yang sering ditemuinya, wanita itu pun sering mencari Inoo dan entah kenapa, Inoo juga tertarik pada wanita itu. Akhirnya mereka berdua pun mengenal satu sama lain. Pada saat itu juga, aku menyarankan Inoo untuk menjauhi wanita itu, tapi Inoo tidak mendengarkanku dan terus menemui Kaoru”
Yabu menatap lurus ke mata Keito. Keito serasa seperti sudah memasuki pikiran Yabu melalui tatapan matanya itu. Dalam kepalanya, seperti ada film yang berputar. Film yang menggambarkan keadaan Inoo dan Kaoru saat itu.
“Cerita selanjutnya sama seperti yang kau ketahui dari leluhurmu. Leluhurmu melarang hubungan mereka berdua dan mereka berdua pun berpisah. Tapi sebenarnya, ceritanya tidak hanya itu”
Keito balas menatap Yabu. Rasa ingin tahunya kembali meluap.
“Saat itu, Raja Demon juga mulai mencurigai hubungan Inoo dan Kaoru. Untuk menghindari amarah Yang Mulia, Inoo memutuskan untuk menghindari Kaoru. Inoo tidak ingin Yang Mulia tahu mengenai hubungannya dengan Kaoru”
“Tapi wanita itu kembali memanggil Inoo. Dia bahkan meminta Inoo untuk membawanya pergi. Inoo awalnya menolak, tapi entah kenapa, Inoo menuruti permintaan Kaoru. Mereka berdua pun pergi dan menuju ke tempat yang tidak diketahui oleh siapapun”
“Inoo adalah demon yang jenius, dia bisa menyembunyikan dirinya dengan baik dan menghindari kecurigaan Yang Mulia. Entah selama berapa tahun dia hidup bersama dengan Kaoru. Selama itu aku sendiri juga tidak mengetahui apa yang terjadi diantara mereka berdua”
Yabu dan Keito melihat ke arah langit. Mereka berdua merasa ada sesuatu yang datang mendekat dan menembus pelindung yang dipasang di sekitar rumah. Yabu tersenyum saat mengetahui siapa yang datang. Yuya kembali bersama dengan 2 demon yang pergi mencari makan dan 1 demon yang sempat dibawa pergi oleh Jesse dkk.
“Selamat datang Yuya, Yuto, Hikaru, dan... Daichan”
Inoo tiba-tiba muncul di balik pohon. Kemunculannya mengagetkan Keito.
“Sejak kapan kau ada disana?”, tanya Keito
“Hmm... sejak kapan ya? Kau tebak saja sendiri”. Inoo menjetikkan jarinya ke kepala Keito. Meninggalkan rasa sakit dan bekas kemerahan di kening bocah itu.
Keito masuk kembali ke dalam rumah sambil memegangi keningnya yang kesakitan. Meninggalkan 6 demon yang lain di halaman rumah.
“Kenapa kau tidak melanjutkan ceritamu? Aku yakin kau sudah tahu semuanya kan?”, Inoo berbicara pada Yabu dengan suara yang pelan supaya 4 demon yang lain tidak mendengar pembicaraan mereka.
Yabu tersenyum, “kalau aku meneruskan ceritaku, kau akan mengikat mulutku dengan mantra yang sudah kau siapkan bukan?”, Yabu menunjuk ke arah tangan Inoo yang sedang bersembunyi di balik bajunya. Inoo pun membalas ucapan Yabu dengan senyuman, mereka berdua memang terlalu lama mengenal sehingga tahu apa yang dipikirkan satu sama lain.
“Ingatlah Inoo. Hubungan demon dan manusia tidak bisa terjadi”
“Aku tahu”
Yabu dan Inoo masing-masing terdiam. larut dalam pikiran mereka masing-masing. 2 demon ini memang paling serius bila dibandingkan dengan demon-demon yang lain.
“Hei Inoo! Kau dengar tidak sih?”
Inoo sedikit kaget saat Hikaru menegurnya, tapi dengan segera dia memasang wajah ‘poker face’nya. “Hmm... apa?”
“Sudah kuduga, kau tidak mendengarkanku”, Hikaru menghela nafas panjang. “Kubilang, Taiga kini telah mati. Lalu, apa yang akan kita lakukan? Yang Mulia Raja pasti sangat marah saat ini”
“Oh... kerja bagus kalian semua”, Inoo tersenyum. Dia kemudian berjalan mendekati Daiki yang masih sibuk ‘bermain’ dengan Yuya. “Kali ini giliranmu Daiki, kau bisa kan?”
“Giliran apa?”, tanya Daiki sambil tetap memegangi lengan Yuya dan bersikeras tidak akan melepaskannya walaupun Yuya terus berontak.
“Mengikat kontrak dengan bocah itu atau...”, Inoo menoleh ke arah Yuto. “Kau dulu yang mengikat kontrak dengannya?”
Yuto langsung menggeleng keras mendengar usulan Inoo.
---***---
“Ukh... pada akhirnya aku tidak bisa mendapat informasi apapun mengenai Hime-sama itu. Padahal dia dengan mudah mengetahui informasi mengenai diriku, tapi kenapa aku susah mendapat informasi tentang dirinya?”
“Ukh... pada akhirnya aku tidak bisa mendapat informasi apapun mengenai Hime-sama itu. Padahal dia dengan mudah mengetahui informasi mengenai diriku, tapi kenapa aku susah mendapat informasi tentang dirinya?”
Keito bersungut kesal sambil memegangi dahinya yang kemerahan. Sekali lagi, dia gagal mendapat informasi mengenai hubungan Inoo dengan leluhurnya, Kaoru. Keito tahu kalau Inoo menyembunyikan hal lain. Ada maksud tersembunyi di balik semua kejadian ini, tapi Keito tidak tahu apakah ini termasuk hal yang baik atau hal yang buruk.
“PERGI!!! JANGAN MENDEKAT! MENJAUH DARIKU!!!”
Keito terkejut mendengar jeritan seseorang. Setelah jeritan itu terdengar, Keito bisa mendengar kegaduhan lain, seperti suara beberapa orang yang adu mulut. Keito langsung berlari menuju sumber kegaduhan untuk mengetahui penyebab keributan itu.
“SUDAH KUBILANG! AKU TIDAK INGIN DEKAT-DEKAT DENGANMU! PERGI!”
“Ryuu... dengarkan aku dulu, kumohon...”
“Aku tidak ingin mendengar apapun darimu! Aku tidak kenal denganmu! Menjauh dariku!”
Yama terus berusaha mendekat ke arah Ryuu yang sudah sadarkan diri dan mencoba mengajaknya bicara, tapi Ryuu terus saja membentak padanya dan menyuruhnya untuk menjauh. Chii mencoba memisahkan dan mendamaikan kedua makhluk itu tapi dia tidak bisa membantu lebih banyak. Ryuu sangat keras kepala dan Yama juga tidak menyerah untuk mendekati Ryuu dan mengajaknya bicara.
Keito yang baru saja mendatangi sumber keributan langsung memahami apa yang sedang terjadi disana. Keito ingin turut membantu meredam keributan di antara keduanya, tapi melihat Ryuu yang kini sudah mengeluarkan aura demonnya, Keito meredam keinginannya dan membiarkan pertikaian di antara keduanya terus berlanjut.
“Ryuu... aku tahu tidak mudah bagimu untuk memaafkanku atas apa yang telah kulakukan dulu. Aku tidak menyangkal kalau aku telah menyakitimu, aku memang sudah melukaimu dan adikmu. Tapi, biarkan aku meminta maaf dan menebus kesalahanku padamu”
Yama memohon pada Ryuu dengan sungguh-sungguh. Dari pancaran matanya, terlihat jelas kalau dia tulus mengatakan hal itu. Dia sangat merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan pada Morimoto bersaudara itu. Yama tahu kalau dua bersaudara ini tidak akan memaafkannya.
“Aku tidak kenal denganmu! Bagi kami, yang bernama ‘Yama’ itu telah mati. Sejak kami menjadi demon, kami tidak mengenal siapapun dan tidak mengingat siapapun”, Ryuu membalas ucapan Yama dengan dingin. Matanya yang berwarna merah terasa dingin saat Yama menatapnya dengan mata birunya.
“Ryuu... kumohon. Biarkan aku menebus kesalahanku. Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi. Kita bisa kembali berteman seperti dulu lagi. Kali ini aku berani mempertaruhkan nyawaku untukmu dan akan selalu melindungimu. Aku tidak akan meninggalkanmu dan menyerangmu lagi”
---***---
Suasana langit kembali berubah. Langit yang sebelumnya cerah dan berwarna biru, kini berubah menjadi kelam dan berwarna hitam. Awan tebal menutupi seluruh permukaan langit. Matahari seperti sedang bersembunyi di suatu tempat. Seakan takut akan kedatangan suatu hal yang tidak diinginkan. Orang-orang yang berada di jalanan langsung bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing atau masuk ke dalam gedung untuk melindungi diri. Awan hitam ini memang bukan pertanda yang baik. Sesuatu yang buruk akan terjadi.
Suasana langit kembali berubah. Langit yang sebelumnya cerah dan berwarna biru, kini berubah menjadi kelam dan berwarna hitam. Awan tebal menutupi seluruh permukaan langit. Matahari seperti sedang bersembunyi di suatu tempat. Seakan takut akan kedatangan suatu hal yang tidak diinginkan. Orang-orang yang berada di jalanan langsung bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing atau masuk ke dalam gedung untuk melindungi diri. Awan hitam ini memang bukan pertanda yang baik. Sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Rupanya mereka langsung beraksi”, ucap Hikaru sambil melihat ke arah langit.
Keenam demon itu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pemandangan ini bukan pertama kalinya bagi mereka. Sebelumnya, pemandangan seperti ini sudah pernah terjadi.
“Tentu saja. Taiga sudah mati. Mereka tentu akan langsung menyerang sebelum 7 demon mengikat kontrak dengan bocah itu”, ucap Yuto santai sambil menikmati pemandangan yang membuat manusia biasa merasa ketakutan dan cemas saat melihatnya.
“Nah Daichan, bisakah kau bergegas mengikat kontrak dengan anak itu?”, pinta Inoo.
Daiki melihat ke arah Inoo, dia kemudian melihat ke arah langit. Beberapa detik kemudian dia mengangguk. Dia lalu melepaskan cengkeramannya di tangan Yuya dan langsung berlari ke dalam untuk mencari Keito. Yuya sejenak bernafas lega saat Daiki melepaskannya.
Bagaikan seekor anjing, Daiki mencari sosok Keito. Begitu dia melihat sosok Keito, Daiki langsung menyerbu Keito dengan memeluknya dan mencium keningnya. Sesaat Keito merasa badannya hangat dan bercahaya. Daiki telah mengikat kontrak dengan Keito.
Ryuu dan Yama yang sebelumnya bertikai, mendadak berhenti dan melihat ke arah Keito dan Daiki. Karena terkejut, Keito tidak bisa bereaksi apapun. Begitu pula dengan Chii, dia hanya bisa melongo dan melihat apa yang terjadi. berbeda dengan sebelumnya, kali ini Chii tidak merasakan sakit. Karena kini dia telah menjadi dewa pelindung milik Keito, bukan lagi milik Kenichi, sehingga dia terbebas dari rasa sakit akibat hukuman karena telah melanggar perintah.
Setelah selesai, Daiki melepaskan pelukannya dan tersenyum ke arah Keito. Beberapa detik kemudian, Daiki berlari keluar meninggalkan Keito yang kini masih dilanda kebingungan atas apa yang barusan terjadi. Tanpa dia sadari dan dia setujui, Daiki telah mengikat kontrak dengannya. Kini sudah ada 5 demon yang mengikat kontrak dengannya.
Keito memegangi dadanya, dia membuka bajunya untuk melihat tanda kutukan yang ada. Tanda kutukan itu perlahan mulai menghilang. Tanda itu kini hanya terlihat seperti tato biasa. Tidak seperti sebelumnya yang seperti bekas luka bakar.
“Apakah memang cara yang dibuat oleh Inoo dan leluhurku itu memang ampuh ya?”, pikir Keito.
---***---
“Pertarungan sudah memasuki babak akhir. Bel tanda pertarungan terakhir sudah dibunyikan. Nah, apakah kau bisa memenuhi janjimu padanya?”
“Pertarungan sudah memasuki babak akhir. Bel tanda pertarungan terakhir sudah dibunyikan. Nah, apakah kau bisa memenuhi janjimu padanya?”
---***---
“UARGHH!!!!!”
“UARGHH!!!!!”
Raja Demon menggeram marah di peraduannya. Dari tanda kutukan yang ada di dada Keito, dia bisa merasakan kalau kini Daiki telah mengikat kontrak dengan Keito. Semakin lama, keefektifan tanda kutukan itu semakin berkurang. Kalau ini terus dibiarkan, lama kelamaan Keito akan terbebas dari kutukan itu dan Raja Demon akan kehilangan buruannya yang berharga.
“Cepat musnahkan para demon pengkhianat itu dan bawa bocah terkutuk itu padaku! Aku tidak ingin ada demon lagi yang mengikat kontrak dengannya!”, perintah sang raja pada keempat bawahannya yang masih setia.
“Akan kami laksanakan Yang Mulia”, jawab keempat demon itu secara bersamaan.
Tidak lama setelah itu, keempat demon itu pun pergi menuju ke dunia manusia untuk melaksanakan perintah Raja Demon. Juri tidak sabar untuk menghabisi para pengkhianat yang telah membunuh Hokuto dan Taiga. Shin berencana untuk merebut kembali kakaknya. Sedangkan Jesse dan Yugo hanya memikirkan bagaimana caranya mereka bisa menang melawan musuh mereka ini. karena kini Taiga, si ahli strategis mereka sudah tiada, maka mereka harus memikirkan sendiri bagaimana caranya memenangkan pertarungan ini.
---***---
Yama dan Chii kompak menoleh ke arah langit. Mereka bisa merasakan kedatangan demon yang menjadi musuh mereka. Keito juga. Berkat kekuatan spiritualnya, dia bisa merasakan ada makhluk gaib dengan hawa jahat sedang memasuki dunia manusia ini. ketujuh demon yang ada di kediaman itu pun juga bisa merasakan kedatangan teman sejenis mereka.
Yama dan Chii kompak menoleh ke arah langit. Mereka bisa merasakan kedatangan demon yang menjadi musuh mereka. Keito juga. Berkat kekuatan spiritualnya, dia bisa merasakan ada makhluk gaib dengan hawa jahat sedang memasuki dunia manusia ini. ketujuh demon yang ada di kediaman itu pun juga bisa merasakan kedatangan teman sejenis mereka.
“Wew, cepat sekali mereka datang”, ucap Yuto.
“Akibat Daiki sih. Karena saat bocah itu mengikat kontrak dengan Daiki, si Raja merasakannya dan segera mengambil tindakan sebelum ada demon lain yang mengikat kontrak dengan bocah itu”, gerutu Yuya yang sebal karena Daiki kembali mengusiknya setelah Daiki berhasil mengikat kontrak dengan Keito.
“3 demon kelas S dan 1 demon kelas C. Lawan yang sulit. Di pihak kita hanya ada 2 demon kelas S, 2 demon kelas A, 1 demon kelas C, dan 1 demon kelas E. Ryuu tidak bisa diharapkan karena dia belum berpihak pada kita. Eh? Kemana demon kelas E itu?”, tanya Yuto saat menyadari Inoo telah menghilang dari hadapan mereka semua.
“Entahlah. Mungkin dia sedang jalan-jalan?”, jawab Yabu sekenanya.
---***---
Inoo kini telah berdiri di sebuah tempat yang lapang. Sebuah padang rumput yang luas dan rimbun. Di tengah-tengah situ ada sebuah pohon yang berukuran raksasa, ada lubang besar di tengah pohon tersebut.
Inoo kini telah berdiri di sebuah tempat yang lapang. Sebuah padang rumput yang luas dan rimbun. Di tengah-tengah situ ada sebuah pohon yang berukuran raksasa, ada lubang besar di tengah pohon tersebut.
“Bersabarlah sedikit lagi Kaoru, sebentar lagi, impian kita berdua akan tercapai”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar