Minggu, 01 November 2015

TEN KNIGHTS

PART 42

“Daichan! Dia akan menyerang dari sebelah kanan!”, seru Keito. Daiki segera mengarahkan pedangnya ke arah kanan seperti yang telah diperingatkan oleh Keito. Daiki berhasil menghentikan serangan musuh dengan pedang panjang di tangannya. Sedangkan Daiki mengarahkan pedang pendeknya kearah tubuh musuh. Akan tetapi, pedang itu tidak mampu memberikan luka di tubuh Hamada. Berkat kemampuannya yang bisa mengeraskan tubuh, serangan pedang Daiki tidak mempan terhadapnya.

Inoo kini telah berada di hadapan Yabu, Yuto, dan Chinen. Dia mengamati tali yang mengikat mereka bertiga. Rupanya benar yang dikatakan oleh Daiki, mereka diikat oleh semacam mantra yang sama dengan mantra yang mengikat Daiki saat dia disekap. Dengan segera, Inoo menggunakan pembalik mantra untuk melepaskan mantra yang mengikat Yabu. Tidak beberapa lama, mantra itu terlepas, Yabu berhasil lepas dari ikatannya. Inoo segera menopang tubuh Yabu yang jatuh.

“Kota.... Kota.... kau tidak apa-apa?”, Inoo membaringkan tubuh Yabu dengan hati-hati. Inoo terus menerus memanggil Yabu, tapi Yabu sama sekali belum memberikan respon. Tubuhnya penuh dengan luka akibat pertarungannya dengan Hamada. Inoo segera memberikan pil yang diberikan oleh Jin pada Yabu. Setelah itu, dia segera membebaskan Yuto dan Chinen yang masih terikat kuat di tiang.

Keito yang masih terus mengamati pergerakan Hamada melalui bola kristalnya, sesekali melirik ke arah Inoo. Dia menarik nafas lega setelah Inoo berhasil menyelamatkan semua temannya. Kali ini, dia akan memusatkan seluruh konsentrasinya untuk menggunakan kemampuannya dan membantu Daiki untuk menyerang Hamada. Keito hanya bisa membantu Daiki dari jarak jauh. Tubuhnya masih lemah akibat terluka tadi. Dia menyerahkan semuanya pada Daiki untuk menyerang Hamada dalam jarak dekat. Untunglah Daiki termasuk salah satu ksatria yang tangguh dan gesit, sehingga dia bisa bertarung dengan seimbang melawan Hamada.

Setelah selesai membebaskan Yuto dan Chinen, Inoo segera memberikan pil obat itu pada mereka. Inoo terus mengamati ketiga orang itu dengan perasaan cemas. Dia berharap, teman-temannya akan segera bangun setelah dia memberikan pil obat itu pada mereka.

“Hngg.....”, terdengar suara pelan Yabu. Tangannya mulai bergerak. Matanya pun perlahan-lahan mulai terbuka. Inoo segera menghampiri Yabu dan memegang tangannya dengan erat. “Ke....i.....”, gumam Yabu pelan. “Ah, di depanku saat ini ada seorang malaikat cantik. Apakah aku sedang berada di surga?”, ucap Yabu sambil tersenyum. Inoo segera memeluk Yabu dengan erat.

“Kota!!!!”, teriak Inoo lega. “Syukurlah, kau segera sadar. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan seandainya kau tidak bangun”. Inoo mengeluarkan air mata kebahagiaan saat melihat Yabu telah tersadar.

“Ah, tidak mungkin aku pergi meninggalkan gadis cantik yang ada di hadapanku ini sendirian. Kau tidak bisa apa-apa tanpaku kan? Karena aku juga tidak bisa apa-apa tanpamu”, Yabu tersenyum jahil.

“Baka! Bisa-bisanya kau merayuku di tempat seperti ini”, Inoo tersipu malu. Yabu tertawa pelan. Perlahan dia menyeka air mata Inoo yang menetes, membelai pelan rambutnya. Inoo menatap lurus ke mata Yabu. Kedua mata mereka seakan saling terikat satu sama lain. Tidak ada satupun niat untuk mengalihkan pandangan. Perlahan, jarak pandang mereka semakin dekat, sehingga mereka bisa merasakan nafas satu sama lain. Ketika hidung mereka saling bertemu, mata mereka mulai terpejam, dan mereka membiarkan perasaan mereka yang menuntun mereka.

“Urghh....”, gumam Chinen yang tampaknya mulai tersadar. Sontak Yabu dan Inoo segera menjauh dan mengalihkan pandangan masing-masing karena malu dan sadar dengan apa yang akan mereka lakukan.

“Ah....ah.... Chii... kau su-sudah bangun?”, ucap Inoo terbata-bata karena masih salah tingkah.

“Inoo? Kenapa kau ada disini?”, Chinen melihat ke sekelilingnya, “Loh, aku dimana?”. Chinen memegang kepalanya seakan berusaha mengingat apa yang terjadi, “Ryochan? Dimana dia? Tadi aku bersama dengannya”, Chinen menarik tangan Inoo.

“Chii... tenanglah dulu. Kau dibawa kemari oleh salah satu prajurit kegelapan. Tidak hanya kau, Yabu dan Yuto juga dibawa kemari oleh prajurit kegelapan. Kami semua kemari untuk membebaskan kalian semua. Awalnya kami berenam, tapi kami kemudian terpisah, Yamada, Hika, dan Yuya masih tertinggal di bawah tanah. Sedangkan kami bertiga langsung menuju kemari”.

“Yuto! Bagaimana keadaanmu?”, seru Yabu saat melihat Yuto yang juga mulai tersadar. Yuto tampaknya masih setengah sadar, pandangan matanya masih terasa kabur.

“Hoaa.... Yabu?”, ucap Yuto saat mulai bisa mengenali cowok yang ada di hadapannya.

“Akhirnya kalian semua sadar kembali”, ucap Inoo lega saat melihat semua temannya yang tadi terikat dan tertawan kini bisa bangun kembali.

“Daichan?!”, seru Chinen kaget saat melihat pertarungan yang sedang terjadi tidak jauh dari situ. Yuto dan Yabu pun segera mengalihkan pandangannya ke arah pertarungan itu. “Untunglah, dia selamat. Tapi, dengan siapa dia bertarung? Musuh?”, tanya Chinen.

Yabu menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas siapa yang sedang bertarung dengan Daiki. “Hamada?!”, seru Yabu tidak percaya saat dia mengetahui siapa yang sedang dihadapi oleh Daiki.

“Ya, dia adalah pemuda yang kita temui tadi. Dia yang menjaga kalian bertiga disini. Aku hampir saja terluka karena serangannya”, ucap Inoo.

“Lalu, apa kau terluka?”, tanya Yabu panik.

Inoo menunduk sedih, “Tidak. Keito menyelamatkanku di saat kritis. Berkat dia, aku tidak terluka, tapi, Keito menderita luka parah di punggungnya. Akibatnya dia menjadi susah bergerak”.

Yabu menarik nafas lega. Dia merasa sangat berterimakasih pada Keito karena sudah menyelamatkan orang yang sangat berarti baginya, “Lalu, dimana Keito?”.

“Disana”, Inoo menunjuk ke arah pertarungan Daiki. Tidak jauh dari sana, Keito berdiri di dekat situ sambil terus memegang bola kristal. Pertarungan sengit antara Daiki dan Hamada masih terus berlanjut. Daiki tampak mulai kelelahan. Berkali-kali dia menyerang Hamada dengan pedang milik Inoo, akan tetapi tubuh Hamada sama sekali tidak terpengaruh oleh serangan Daiki. Sebaliknya, ketika Hamada menyerang Daiki dengan tubuhnya, seandainya tidak diperingatkan oleh Keito, maka serangan Hamada pasti sudah berkali-kali mengenai tubuhnya.

“Pedang yang dipakai Daichan itu.... Jangan-jangan pedang milikmu ya?”, tanya Yabu pada Inoo yang berdiri di sampingnya.

“Iya. Dia meminjamnya dariku”, jawab Inoo.

“Kenapa Daichan tidak mau menggunakan kemampuannya? Sedari tadi kulihat, dia sama sekali tidak menggunakan kemampuannya. Dia hanya bertarung dengan dua pedang itu saja”, tanya Yabu.

“Bukannya ‘tidak mau’, tapi lebih tepatnya ‘tidak bisa’”, Inoo menunjuk ke arah Daiki yang sedang bertarung. “Coba perhatikan tangan Daichan”. Semua mata menuju ke arah tangan Daiki sesuai dengan perkataan Inoo. Chinen dan Yabu menampakkan wajah heran dan tidak mengerti.

“AHH!!!”, seru Yuto mengagetkan kedua temannya. “Gelangnya Daichan tidak ada! Seharusnya kalau gelang itu tidak ada, saat ini racun pasti sudah keluar dari tubuh Daichan”.

“Gelang??”, tanya Chinen dan Yabu bersamaan.

“Gelang ini”, Yuto menunjukkan gelang yang ada di tangan kanannya. “Kalian tahu kan kalau aku dan Daichan mengalami kesulitan dalam mengontrol kemampuan dan energi kami? Sehingga kami membutuhkan bantuan dari gelang ini untuk mengontrolnya. Master saja meminta kami agar tidak melepasnya sembarangan”, jelas Yuto. “Tunggu dulu... seharusnya kalau gelang ini tidak ada, saat ini kemampuan Daichan pasti sudah tidak terkontrol, tapi kelihatannya, dia sama sekali tidak seperti itu”, Yuto kembali mengamati Daiki yang masih bertarung menghadapi Hamada.

“Ya... aku juga baru menyadarinya tadi. Saat aku bertemu kembali dengan Daichan, gelang itu sudah tidak berada di tangannya.Awalnya kupikir itu bukan masalah bila kemampuan Daichan merembes keluar, karena pada saat itu ada Yuya di sampingnya. Jadi, kupikir kemampuan Daichan tidak keluar karena terhalang oleh kemampuan Yuya. Tapi, ketika kami terpisah dengan Yuya, tidak ada tanda-tanda kalau kemampuan Daichan keluar. Jadi, akhirnya aku bisa menyimpulkan kalau saat ini kemampuan Daichan sudah tidak ada”, jelas Inoo panjang lebar.

“Bagaimana bisa kemampuannya lenyap?”, tanya Chinen tidak percaya.

“Darah....”, gumam Yabu pelan. “Jangan-jangan, kemampuan Daichan hilang akibat seluruh darah miliknya telah diambil?”.

“Kurasa begitu. Di dalam darah milik ksatria, juga ada kemampuan khusus miliknya. Darah Daichan sudah hampir habis tadi, jadi kemampuan khusus miliknya juga lenyap”, Inoo menerawang jauh ke arah Daiki.

BRUAGH! Tiba-tiba Daiki terlempar tidak jauh dari tempat Inoo dkk berdiri. “DAICHAN!!!”, teriak Keito sambil berusaha berlari mendekati Daiki. Inoo dkk pun juga segera berlari menghampiri Daiki. Mereka membantu Daiki menyingkirkan bebatuan yang ada di sekitarnya.

“Daichan? Kau tidak apa-apa?”, tanya Chinen yang khawatir dengan kondisi Daiki.

“Hmm... ah, aku baik-baik saja kok. Aku Cuma merasa 3 tulang rusukku patah, organ dalamku sepertinya ada yang kena, dan pandangan mataku sekarang agak sedikit kabur”, jawab Daiki sambil tersenyum. Semuanya melongo saat mendengar jawaban Daiki. Dia terluka seperti itu, tapi masih bisa bilang kalau dia baik-baik saja?

“Kau ini.... jangan bicara seakan-akan luka yang kau derita itu bukan apa-apa”, jitak Yabu pelan.

“Ahahaha....”, Daiki melihat ke arah Yuto, Chinen, dan Yabu, dia kemudian tersenyum, “Syukurlah kalian semua baik-baik saja”.

“Daichaannnn......”, Chinen segera memeluk sepupunya itu, “Aku kangen padamu. Syukurlah kau bisa kembali pada kami dengan selamat. Maafkan aku tidak bisa ikut menyelamatkanmu. Malah akhirnya kau yang menyelamatkanku”.

“Tidak apa-apa. Itulah gunanya saudara kan? Kita harus saling membantu karena kita keluarga kan?”, Daiki tersenyum pada Chinen. “Ngomong-ngomong, aku punya permintaan pada kalian”.

“Apa?”, tanya Chinen.

“Maaf, kurasa aku tidak bisa bertarung lagi. Aku sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhku, rasanya berat sekali. Bisakah aku meminta kalian untuk melanjutkan pertarungan ini?”.

Semua ksatria yang ada disitu saling berpandangan, mereka kemudian tersenyum, “serahkan saja pada kami. Kau sudah berusaha keras menahan musuh itu hingga kami bebas. Kali ini, giliran kami yang akan mengalahkannya”, ucap Chinen. Daiki tersenyum lega saat mendengar hal itu.

“Kerja bagus Daichan, sekarang beristirahatlah dulu”, Yabu mengacak-acak rambut Daiki. “Dan kau Keito...”, Yabu menoleh ke arah Keito, “Kau juga beristirahatlah dulu. Kudengar kau teluka karena melindungi Inoo. Terima kasih sudah menyelamatkannya”.

“Karena bila Inoo sampai terluka, maka aku yang akan dibuat terluka olehmu”, sahut Keito. Yabu tertawa kecil saat mendengar jawaban Keito. Bersama dengan Yuto, Chinen, dan Inoo, Yabu melangkah maju untuk berhadapan dengan Hamada. Daiki mengembalikan lagi pedang yang dipinjamnya ke Inoo. Dia kemudian tetap bersandar di tempat dia jatuh tadi untuk beristirahat sejenak. Keito berdiri tidak jauh dari Daiki sambil terus memegang bola kristalnya. Tampaknya, dia tetap ingin membantu teman-temannya bertarung.

 “Yoo....tampaknya kalian berhasil bebas ya...”, ucap Hamada yang kembali bangkit, mukanya terlihat sedikit kesal saat melihat Yabu dkk berhasil lolos. Rupanya saat Daiki terpental tadi, Hamada juga ikut terpental. Tapi, seperti yang diduga, tubuhnya yang keras menyebabkan tidak ada satu goresan pun di tubuhnya.

“Tampaknya dia mulai sedikit kelelahan. Coba lihat itu”, Inoo berbisik pada Yabu. Yabu melihat ke arah Hamada yang tampaknya sedikit kesusahan untuk mengatur pernafasannya. Meskipun dia berusaha menutupinya, tapi masih sedikit terlihat jelas kalau nafasnya tidak beraturan.

“Daichan benar-benar hebat! Dia berhasil mendesak musuh walau tanpa kemampuan khususnya itu”, Yabu melirik ke arah Daiki yang sedang beristirahat di pinggir, dia kemudian melihat ke arah Yuto, Chinen, danInoo. “Kalian semua, ayo kita serang dia bersama-sama. Kita harusmengalahkannya. Kita tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan Daichan dan Keito”. mereka bertiga mengangguk.

“Benar. Aku tidak akan kalah lagi untuk kedua kalinya”, Yuto mulai bersiap-siap dan memasang kuda-kuda untuk menyerang. Chinen dan Inoo pun siap dengan senjata masing-masing. Yabu memejamkan matanya, mengangkat tangannya, tak lama, air mulai berkumpul di tangannya dan akhirnya membentuk sebuah pedang.

“Baiklah.... Ayo serang!!!”, Yabu memberikan komando. Seketika itu juga, secara serentak, 3 orang yang lain juga bergerak maju untuk menyerang.

Bawah tanah, Yamada dkk....

BRUAGH!! BRAKK!!! Secara berurutan aku dan Hika terlempar karena tendangan musuh. “Yamada! Hika! kalian baik-baik saja?”, seruYuya yang bergerak maju untuk melawan Kamiyama. Kemampuannya membuatnya bisa menghindari serangan dari Kamiyama.

“Aku tidak apa-apa!”, balasku. Aku mencoba kembali berdiri dengan susah payah.

“Aku juga!”, balas Hika juga.

Aku segera menggunakan kemampuanku untuk memulihkan diriku sendiri dan Hikaru. Setelah selesai, kami kembali berdiri bangkit untukmembantu Yuya yang mulai kewalahan menghadapi Kamiyama sendirian. Dengan segera, aku menyerang maju dengan menghunuskan pedangku pada Kamiyama. Kamiyama yang menyadari kehadiranku segera berusaha menggunakan kedua tangannya untuk menghalau seranganku. DOR! DOR! DOR! Terdengar suara tembakan. Tembakan itu tepat mengenai kedua tangan Kamiyama. Akibat tembakan itu dia tidak bisa melindungi tubuhnya. Pedangku menancap tepat di jantungnya.

“ARGHHH!!!!”, Kamiyama mengerang kesakitan. Rupanya seranganku berhasil mengenainya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Yuyadan Hikaru. Tanpa diperintah, mereka berdua langsung menyerang Kamiyama.

Hikaru menarik nafas panjang, dia kemudian membuka mulutnya lebar-lebar. “AAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!”, teriak Hikaru. Dia menggunakan kemampuannya, seluruh lorong ikut bergetar akibat teriakan Hikaru. Bahkan bebatuan yang tadi menghalangi jalan kami mulai terbuka, sehingga jalannya mulai terlihat lagi. Untunglah, Yuya menarikku hingga berada di dekatnya. Dengan kemampuannya, serangan Hikaru tidak mengenai kami.
Aku melihat ke arah Kamiyama. Beberapa bagian tubuhnya mulai terkoyak. Tangan kanan dan kaki kirinya sudah putus, bahkan tangan kirinya sudah hampir putus terbagi dua. Dampak serangan Hikaru jauh lebih hebat dari yang kuduga, karena saat ini kami berada di bawah tanah, maka jarak lingkupnya semakin kecil, dan dampak serangan yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar. Meskipun begitu, Kamiyama masih berusaha untuk berdiri lagi. Yuya langsung berlari menuju ke arah Kamiyama. Dia memegang tangan kiri Kamiyama yang masih sedikit tersambung. Yuya menarik tangan Kamiyama sehingga putus.Tidak hanya itu, kaki kiri Kamiyama pun dipatahkan oleh Yuya. Setelah itu, Yuya memegang kepala Kamiyama, dan mematahkan lehernya. Semua terjadi dengan sangat cepat. Kali ini, Kamiyama benar-benar tidak bisa bergerak lagi.

“Kau tidak perlu sesadis itu...”, ucapku saat Yuya kembali bersama kami.

“Tapi, kalau kubiarkan dia tetap hidup, kita tidak tahu apa yang akan terjadi, dan apa yang akan dilakukan olehnya. Jadi, semakin cepat kita membunuhnya, maka akan semakin baik”, ucap Yuya.

“Tapi....”, aku masih keberatan dengan tindakan Yuya. Seharusnya dia tidak perlu bertindak sejauh itu. Mengalahkannya sudah cukup.

“Sudahlah Yamada.... apa yang dilakukan Yuya tidak salah. Tugas kita para ksatria adalah membasmi para makhluk kegelapan. Tidak peduli bagaimanapun caranya”, Hikaru mengulurkan tangannya padaku untuk membantuku berdiri. “Nah, ayo kita segera menyusul yang lain. Kurasa saat ini mereka juga sedang menunggu kita”. Kami bertiga pun segera berjalan menyusuri jalan di balik bebatuan itu dan bergegas menyusul Inoo dkk yang telah pergi duluan.

Sementara itu....

Pertarungan sengit terjadi diantara para ksatria dan Hamada. Meskipun Hamada bisa mengubah kekerasan tubuhnya, akan tetapi dia kewalahan juga menghadapi para ksatria yang jumlahnya lebih banyak darinya.Terlebih lagi, pertarungannya dengan Daiki sebelumnya telah menguras tenaganya. Berkali-kali dia terlambat bereaksi terhadap serangan para ksatria, sehingga serangan mereka bisa melukai tubuh Hamada. Serangan yang paling menyusahkan adalah serangan dari Yuto. Kekuatan tinjunya yang sangat hebat membuatnya berkali-kali terpental. Meskipun dia bisa mengatasi serangan dari benda tajam seperti pedang yang digunakan oleh Yabu dan Inoo, akan tetapi dia kesusahan saat harus berhadapan dengan Chinen dan Yuto yang menggunakan senjata tumpul dan kekuatan tinjunya.

“Yabu! Dia akan datang menyerangmu! Yuto! Serang dia dari arah kiri!”, Keito memberikan komando pada teman-temannya dari pinggir. Berkat arahan Keito, mereka bisa menghindari serangan yang fatal, dan bisa memberikan serangan yang terbaik. Hamada tahu bahwa sebaiknya dia segera membunuh Keito. Kemampuannya itu cukup menyusahkan baginya, akan tetapi, dia sudah cukup sibuk menghadapi 4 orang ksatria yang melawannya saat ini.

Daiki....Daiki......”, Daiki segera membuka matanya. Ada seseorang yang telah memanggilnya. Dia melihat ke arah Keito yang sedang sibuk memberikan arahan pada teman-temannya yang sedang bertarung. Dia melihat ke arah pertarungan, lalu menggeleng pelan. Tidak mungkin teman-temannya itu yang memanggilnya. Lalu, siapa?

Daiki....cepat kemari.....”, Daiki mendengarnya lagi. Daiki melihat ada sebuah sinar putih kecil yang melayang tidak jauh dari tempat dia berada. Daiki yakin kalau suara itu berasal dari sinar putih itu. Sinar itu kemudian bergerak, dan melayang pergi. Entah kenapa, Daiki merasa kalau dia harus mengikuti sinar itu. Tanpa disadarinya, badannya mulai bergerak mengikuti sinar itu.

Perlahan, dia terus mengikuti sinar itu hingga keluar ruangan, kembali ke ruangan semula saat mereka baru masuk kemari. Teman-temannya sama sekali tidak menyadari kepergian Daiki. Mereka semua terlalu sibuk dalam menghadapi Hamada yang sangat tangguh dan sulit untuk dikalahkan. Sinar itu lalu berbelok ke arah kanan. Disana terdapat sebuah anak tangga kecil. Anak tangga ini tidak terlihat saat pertama kali mereka tiba diruangan ini. Anak tangga ini baru terlihat saat sudah dekat. Sinar itu menuju ke atas. Daiki pun mengikuti sinar itu ke atas. Dia menaiki anak tangga itu.

Kali ini, Daiki telah tiba di atas. Sinar itu kini menghilang, meninggalkan Daiki sendirian dalam ruangan yang remang-remang. Hanya sedikit sinar matahari yang menyinari ruangan itu. Daiki melihat ke sekeliling mencari sinar putih yang tadi dia ikuti. “Sepertinya aku pernah ketempat ini...”, gumam Daiki saat mengamati sekeliling ruangan.

“Apa yang sedang kau lakukan disini, kakak?”,terdengar suara dari belakang Daiki. Daiki langsung terlonjak kaget saat mengetahui ada seseorang yang berada di belakangnya. Daiki lebih terkejut lagi saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya.

“Fuu....”, gumam Daiki pelan. Fuka berjalan mendekat ke arah Daiki.

“Tidak kusangka kau masih hidup. Seharusnya aku langsung membunuhmu saja saat itu”, sekeliling tubuh Fuka berwarna hitam akibat racun yang keluar dari tubuhnya. Fuka lalu membentuk sebuah bola hitam ditangannya. Daiki bisa menduga kalau bola itu adalah racun. Daiki mundur beberapa langkah ke belakang. ‘Apa yang harus kulakukan?’, batin Daiki.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar