PART 43
BLAR! PYAR! TRANG! Barang-barang yang ada di sekitarsitu pecah dan berantakan saat Daiki berusaha menghindari serangan dari Fuka,adiknya sendiri, yang kini telah menjadi salah satu petinggi maou, Jack. Dindingyang ada di sana pun tidak luput dari serangan Fuka. Bahkan banyak terdapatlubang disana-sini akibat serangan racun dari Fuka. Racun itu memusnahkanapapun yang mengenainya. Daiki terus berusaha menghindari dari serangan Fuka.Dia hanya bisa menghindar.
“Kenapa kak? Kenapa kau sama sekali tidakmenyerangku?”, Fuka terus melemparkan racun ke arah Daiki. Serbuk racun banyakbeterbangan. “Ah, betul juga, kau sudah kehilangan semua kemampuanmu. Iya kan,kakak?”, Fuka tersenyum mengejek ke arah Daiki. Daiki terlalu sibuk menghindariracun milik Fuka.
Daiki semakin terpojok, hampir tidak ada tempat lagiuntuk bersembunyi dan melarikan diri. Serbuk-serbuk racun beterbangan disekitar Daiki. “Kau tidak bisa lari lagi kak.... Sudah saatnya kau mati”, Fukamelihat Daiki dengan tatapan dingin dan penuh dengan kebencian. Daiki melihatkedua mata adiknya itu dengan tatapan sedih. Adik yang sangat disayanginya,berniat membunuhnya dengan sungguh-sungguh.
“Yuya.....”, gumam Daiki pelan. Dia benar-benarsudah pasrah. Baginya sudah tidak ada lagi kesempatan untuk melarikan diri.Fuka semakin mendekat dan berniat menyerang Daiki dengan sungguh-sungguh.
“Selamat tinggal, kakak”, Fuka mengarahkan racunmiliknya ke arah Daiki. Daiki memejamkan matanya, dia menyerahkan semuanya padatakdir. DOR! Terdengar suara tembakan. Daiki membuka matanya, dia melihat Fukajatuh tersungkur. Serbuk racun yang beterbangan di sekitar Daiki seakantertahan oleh sesuatu. Seakan ada yang menghalanginya.
“Kau ini! Sudah kubilang kan kalau ada musuh,sebaiknya kau langsung lari saja!”, Yuya berdiri di hadapan Daiki. Tidak jauhdari situ, Hikaru berdiri sambil terus mengarahkan pistolnya ke arah Fuka.Rupanya, suara tembakan itu berasal dari Hikaru. Fuka yang terjatuh akibat lukatembakan dari Hikaru berusaha untuk kembali berdiri.
“Yuya.....”, Daiki merasa sangat lega saat melihatYuya. Saking leganya, tenaga yang ada di kakinya menghilang. Daiki langsungterduduk lemas. Dia tidak menyangka kalau Yuya dan Hikaru akan datang untukmenyelamatkannya.
“Daichan, kau tidak apa-apa?”, tanya Hikaru. Daiki hanyamengangguk. “Fuu....”, Hikaru melihat ke arah Fuka yang kini telah bangkitkembali. Fuka menatap ke arah Hikaru dan Yuya yang baru saja datang untukmenyelamatkan Daiki.
“Padahal sedikit lagi, rencanaku bisa berjalansempurna”, gerutu Fuka.
“Fuu, kenapa kau lakukan ini. Sadarlah. Kembalilahseperti Fuka yang dulu”, ujar Hikaru.
“Diam! Seandainya kejadian itu tidak terjadi!Seandainya dia tidak ada!”, Fuka menunjuk ke arah Daiki. Daiki hanya menunduksaja. Mukanya terlihat sangat murung.
“Sudah cukup Hika. Tidak ada gunanya kita berbicaradengannya. Lebih baik, kita segera mengalahkannya”, Yuya segera berjalan maju.Dia sudah siap bergerak untuk menyerang Fuka, akan tetapi langkahnya terhentioleh Daiki.
“Kumohon Yuya, jangan bunuh dia. Bagaimanapun, diaadalah adikku”, pinta Daiki. Mukanya terlihat memelas.
Yuya membelai lembut kepala Daiki, “Tenang saja. Akutidak akan membunuhnya kok”, ucap Yuya sambil tersenyum.
Hikaru dan Yuya kini maju untuk menghadapi Fuka.Daiki hanya berdiri saja melihat kekasih dan sepupunya itu bertarung melawanadiknya. Perasaannya campur aduk. Dia berharap, tidak ada yang terluka parahakibat pertarungan ini. Ketiga orang yang sedang berhadapan ini sama-samaberarti baginya. Hikaru menembakkan pelurunya ke arah Fuka. Dari arahserangannya, bisa diketahui kalau Hiakru berusaha mengenai tempat vital.Berbeda dengan Yuya yang menyerang Fuka tanpa ampun. Dia hanya berusaha untuksegera melumpuhkan Fuka agar tidak bisa bergerak lagi.
“Yuya, awas!”, Hikaru menarik Yuya. Bertepatandengan itu, bola-bola hitam yang mengandung racun itu meledak di tempat Yuyaberdiri tadi. Berkat kemampuan pendengaran Hikaru, Yuya berhasil menghindariserangan itu. Yuya bergerak maju untuk menyerang Fuka. Akan tetapi, Fukaberhasil menghindar dengan bergerak mundur. Yuya tidak berniat mengejar Fuka,karena bila dia bergerak maju, maka kemampuan nullification miliknya tidak bisamelindungi Daiki yang berada di belakangnya. Oleh karena itu, Yuya menyerahkanpada Hikaru untuk menyerang Fuka dengan pistol miliknya.
Fuka kini bergerak maju. Dia tidak berniat menyerangYuya maupun Hikaru. Dia langsung mengarahkan serangannya menuju ke arah Daiki.Berkat kemampuan nullification milik Yuya, Daiki berhasil menghindari seranganFuka. Yuya bergerak maju untuk berhadapan satu lawan satu melawan Fuka.Masing-masing mengerahkan kemampuannya untuk saling menyerang. Saking fokusnyaYuya pada Fuka yang ada di hadapannya, Yuya tidak menyadari kalau kini diaberada cukup jauh dari Daiki.
“Lucky....”, ucap Fuka sambil tersenyum. Dialangsung mengerahkan serbuk-serbuk racunnya ke arah Daiki. Yuya yang terlambatmenyadari hal itu langsung berbalik dan berlari menuju ke arah Daiki. Akantetapi, jaraknya cukup jauh dari tempat Daiki berada.
“Daichan!!”, seru Yuya. Daiki berusaha lari dariserangan serbuk racun milik Fuka. Tapi, pergerakan serbuk racun itu sangatcepat. Tiba-tiba Hikaru menarik Daiki sehingga serbuk racun itu tidakmengenainya. Bertepatan dengan itu, Yuya berhasil menggunakan kemampuannyauntuk melindungi mereka berdua dari racun.
“Kau tidak apa-apa Daichan? Kau tidak terkenaracunnya kan?”, ucap Yuya panik sambil melihat ke arah Daiki.
“Tidak. Berkat Hika aku berhasil menghindarinya.Terima kasih Hika”, Daiki menoleh ke arah Hikaru. Tapi, Hikaru hanya terdiamdan memegangi tangannya. “Hika?”, Daiki mendekat ke arah Hikaru, Daiki tampakterkejut saat melihat tangan Hikaru yang mulai menghitam. Rupanya serangan Fukatadi berhasil mengenai tangan kanan Hikaru.
“Tenang saja. Aku tidak apa-apa kok”, ucap Hikarusambil tersenyum. Keringatnya mulai bercucuran. Mukanya terlihat pucat. Efekracun mulai mempengaruhi tubuh Hikaru. Seketika Hikaru jatuh, Daiki segeramenopang tubuh Hikaru.
“Hika?? kau tidak apa-apa?? Hika, sadarlah.Hika!!!!”, seru Daiki.
Di bawah, Yabu dkk....
Pertarungan sengit masih terjadi di antara Hamadadan para ksatria. Yuto terus mengarahkan pukulannya ke arah Hamada. Perlahan,tubuh Hamada yang keras mulai hancur akibat pukulan Yuto. Tidak mau kalahdengan Yuto, Chinen menggunakan kemampuannya sehingga meniru kemampuan Yuto.Jadi, Hamada mendapatkan serangan pukulan yang kuat dari Yuto dan Chinen. Yabumenggunakan kemampuannya mengendalikan air untuk melindungi para ksatria dariserangan langsung Hamada. Inoo juga membantu Yabu untuk melindungi Yuto danChinen dari serangan Hamada, selagi mereka berdua menyerang Hamada. Keito, samaseperti sebelumnya, terus memberitahukan apa yang dilihatnya kepada teman-temannya.
“ARRGGHHHHH!!!!!!”, jerit Hamada. Serangan terakhirdari Yuto berhasil membuat tubuh Hamada yang keras mulai hancur. Tangankanannya mulai retak. Bagian tubuhnya yang hancur bagaikan telur yang retakkulitnya.
Yabu segera menahan gerakan Hamada dengan air yangdia kendalikan. Gerakan Hamada terkunci sehingga dia tidak bisa bergerak bebas.Inoo mengucapkan sesuatu, tiba-tiba ada sesuatu yang melingkar di tangan dankaki Hamada. Inoo mengucapkan mantra yang bisa mengikat gerakan Hamada, sama sepertimantra yang mengikat Daiki.
“Bye....Bye....”, Chinen melambaikan tangannyasambil tersenyum mengejek. Tepat pada saat itu, Yuto mengarahkan tinjunya kearah Hamada. Pertahanan tubuh Hamada sudah tidak kuat lagi menghadang seranganYuto. Akhirnya, Hamada berhasil dikalahkan oleh para ksatria. Pertarungan telahberakhir.
“Yatta! Akhirnya, selesai juga”, Chinen dan Yutosaling berpelukan. Yabu dan Inoo juga. Keito menghela nafas lega. Akhirnya,mereka semua berhasil mengalahkan prajurit kegelapan itu.
“Yokatta.... kalian semua berhasil mengalahkannya”,kataku yang baru saja masuk. Chinen langsung tersenyum lebar begitu melihatku.Dia berlari ke arahku dan segera memelukku.
“Ryochaaannnnnn!!!!! Aku kangen sekali padamu....Kau tidak apa-apa kan? Tubuhmu tidak ada yang terluka kan?”, tanya Chinen.
“Tubuhku baik-baik saja. Tubuhmu yang kelihatannyatidak baik-baik saja”, aku mengamati tubuh Chinen yang penuh dengan luka. Akujuga melihat ke arah ksatria yang lain. Kondisi mereka sama saja dengan keadaanChinen saat ini. “Aku akan memulihkan tubuh kalian. Dimulai dari kau, Yuri”.Chinen mengangguk. Aku segera menggunakan kemampuanku untuk menyembuhkanChinen.
“Kau sendirian Yamada? Mana Hikaru dan Yuya?”, tanyaInoo yang sadar kalau aku datang sendirian.
“Mereka berdua pergi entah kemana. Hika mendengarkalau Daichan sedang diserang, lalu dia dan Yuya segera pergi menuju ke tempatDaichan. Aku ditinggal sendirian. Lalu, aku mendengar suara dari arah sini, akumenuju kemari, dan aku bertemu dengan kalian”, jelasku.
“Daichan diserang? Oleh siapa? Daichan kan sedangduduk disana......”, Yabu menunjuk ke arah tempat dimana Daiki tadiberistirahat. Dia kaget saat mendapati kalau Daiki tidak ada disana. “Keito,dimana Daichan?”.
Keito sama terkejutnya dengan Yabu. Dia juga barumenyadari kalau Daiki tidak ada disana. “ah...eh...aku tidak tahu. Aku samasekali tidak menyadari kalau Daichan pergi”.
“Hadeh....kemana lagi itu anak. Disuruh istirahatmalah pergi. Katamu tadi Daichan diserang, kau tahu dia ada dimana?”, Yabu bertanyapadaku.
“Tidak. Hika dan Yuya langsung pergi tanpamemberitahuku kemana”, jawabku.
“Kau tidak usah khawatir Yabu, Hika dan Yuya sudahmenuju kesana kan? Kurasa mereka berdua bisa menolong Daichan”, Inoomenenangkan Yabu yang tampak sedikit cemas.
“Kau benar”, Yabu mengangguk setuju. Aku segeramemulihkan luka di tubuh mereka semua. Luka di tubuh Keito paling parah,membutuhkan waktu yang cukup lama dan energi yang cukup banyak untuk memulihkannya.
Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh di luar pintu.Kami semua saling berpandangan, bertanya-tanya suara apa itu. “Ada apa ini?”,tanyaku.
“Apa-apaan ini?!”, seru Keito. Matanya melototmelihat ke arah bola kristal yang ada di tangannya.
“Kenapa Keito?”, tanya Yuto heran.
“Di luar sana, ada banyak sekali makhluk kegelapanyang terkumpul. Tidak terhitung jumlahnya. Ditambah lagi, tidak hanya makhlukkegelapan tingkat rendah, tingkat menengah dan tingkat tinggi juga beradadisana”. Kami semua terkejut saat mendengarnya. Aku tidak menyangka, masihbanyak yang harus kami hadapi. Aku lupa, kalau makhluk kegelapan itu banyak.Aku terlalu terfokus dengan para petinggi maou, sampai melupakan kalau masihada makhluk kegelapan yang harus kami hadapi.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan?”, tanyaku.
Beberapa butir air tampak mendekat ke arah Yabu, airitu berkumpul di tangannya, kini air itu telah menjadi sebuah pedang panjang.“Bukankah sudah jelas? Kita akan membasmi mereka. Itu tugas kita kan?”, ucapYabu sambil tersenyum. Inoo langsung mengeluarkan kedua pedangnya. Chinenmenyiapkan kedua tongkatnya. Sedangkan Yuto dan Keito terlihat sedangmeregangkan tubuh mereka. Aku pun segera mengeluarkan pedangku danmenggenggamnya dengan erat.
Yabu berjalan ke arah pintu, “Keluarkan semua tenagakalian. Habisi mereka semua tanpa sisa”, Yabu memberikan komando. Kami semuamengangguk. Dengan mantap, kami berlari menyerang para makhluk kegelapan itu.
-------------------------------------
“HIKA! KUMOHON, BUKA MATAMU HIKA!”, jeritan Daikiterdengar menggema. Hika kini terbaring lemah di pangkuan Daiki. Noda hitamyang ada di tangan kanan Hika tampaknya mulai meluas, wajah Hika semakin pucat.Fuka terus saja melancarkan serangan ke arah para ksatria. Yuya dengan sigapmenggunakan kemampuannya untuk melindungi dia, Daiki, dan Hika dari seranganFuka. Sayangnya, Yuya tidak bisa membalas serangan Fuka. Dia hanya bisa berdirisambil menggunakan kemampuannya. Karena jika dia berpindah tempat, maka Daikidan Hika akan menjadi korban serangan Fuka.
“Sial! Kalau terus begini, tidak akan ada akhirnya.Aku juga akan kehabisan tenaga”, gerutu Yuya.
Perlahan, kesadaran Hika kembali. Dia menggenggamerat tangan Daiki. “Daichan... potong tanganku saat ini juga”, rintih Hikapelan. Daiki membelalakkan matanya tidak percaya. Yuya pun tidak kalahkagetnya.
“Apa katamu? Kau gila! Kenapa kau lakukan hal itu?”,tanya Daiki.
“Kalau begini terus, racun ini akan menyebar keseluruh tubuhku. Dengan memotong tangan ini, penyebaran racun ini akanterhenti, dan aku bisa selamat. Aku beruntung terkena racun Fuka, racunmiliknya masih jauh lebih lemah daripada racun milikmu, sehingga kemungkinanaku selamat lebih besar”.
“Tapi, kau tidak harus memotong tanganmu kan?Tunggulah, aku akan memanggil Yamada kemari. Akan kuminta dia untuk segeramenolongmu”, Daiki segera berdiri untuk beranjak pergi, tapi geraknyadihentikan oleh Hika.
“Hentikan! Kau bisa mati kalau keluar darinullification milik Yuya. Aku juga tidak tahu berapa lama lagi aku bisabertahan. Aku sudah tidak memiliki banyak waktu lagi Daichan. Jadi, potong sajatanganku ini. Meskipun kau memotongnya, aku masih memiliki tangan satunya. Akujuga masih bisa bertarung walaupun tanganku tinggal satu. Aku bisa membantuYuya untuk menghadapi Fuka”.
Daiki menatap Hika, dia masih enggan menurutipermintaan sepupunya itu. “Kau ingat Daichan? Dulu kita bertiga sering bermainbersama. Kau dan aku sering sekali bersekongkol untuk mengerjai Fuu. Aku kangensaat-saat itu”, Hika mulai mengenang masa lalu, “Aku ingin kita bertiga bermainbersama lagi seperti dulu. Oh ya Daichan, kalau pertarungan ini selesai,bagaimana kalau kita bermain bersama lagi? aku, kau, dan Fuka. Kita bertigabermain lagi sepuasnya”. Daiki hanya terdiam tidak menjawab sepupunya itu.
Hika mengangkat kepala Daiki, muka mereka kinisaling berhadapan, “Aku ingin kita bertiga bersama lagi. Aku ingin, kau bisakembali lagi dengan Fuu. Untuk mencapai hal itu, aku harus mengalahkannya. Akutidak bisa bertarung dengan Fuu dengan kondisi seperti ini. Aku harusmenyingkirkan racun ini, oleh karena itu, potonglah tanganku”.
Daiki melihat ke arah mata Hikaru. Daiki mengerti,kalau Hika benar-benar serius akan melakukannya. Apapun yang dikatakannya,mungkin tidak akan dihiraukan oleh Hikaru. “Baiklah, aku akan memotongtanganmu. Tapi, kau harus bisa mengembalikan Fuu seperti semula”, ucap Daikipasrah. Dia masih enggan untuk melakukannya, tapi Hika bersikeras.
Daiki berdiri dan mengamati sekeliling ruangan,mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memotong tangan Hikaru. Tidak jauhdari situ, dia menemukan sebuah kapak. Kapak itu terlihat sedikit berkaratakibat terkena serangan Fuka. Segera Daiki mengambil kapak itu.
Yuya yang masih berdiri menahan serangan Fuka,melihat ke arah Daiki dan Hika dengan cemas. Dia tidak percaya kalau Daikisetuju melakukannya. Dia hanya bisa melihat mereka berdua. Yuya ingin membantumereka, tapi saat ini dia lebih berkonsentrasi agar mereka bertiga tidakterkena serangan Fuka.
Daiki mengikat tangan Hika dengan tali yang ada disekitar situ. Noda hitam itu kini sudah mencapai lengan Hika. “Hika, gigit ini.Ini mungkin akan terasa sangat sakit, jadi bertahanlah”, Daiki menyerahkansepotong kain pada Hika. Hika segera menggigit kain itu. Daiki mengangkat kapakitu tinggi-tinggi dan mengayunkannya ke lengan Hika.
Tsuzuku ~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar