Master
Note: sebelum membaca ini, disarankan sudah membaca Pet Master yg mouse, cat, rabbit, dan dog ya. Biar bisa mengira-ngira.
G baca jg gpp sih sebenarnya. :v
Yaotome POV
Aku mendesah lagi. Ah, lebih tepatnya mendengus kesal. Tumpukan laporan yang ada di depanku ini terus saja menggunung, tidak berkurang.
Kemana perginya Yabu dan Daiki? Seharusnya mereka membantuku. Yabu pulang duluan karena ada urusan, sedangkan Daiki, terakhir aku melihatnya berjalan menuju atap. Aku tidak tahu apakah dia sudah kembali atau belum.
BLAR!!
Aku terperanjat kaget. Suara halilintar yang menggelegar, disertai hujan yang lebat, membuatku semakin malas mengerjakan laporan.
Kulihat jam di dinding. Jam 6. Pantas saja aku merasa kalau langit di luar sudah mulai gelap. Hujan semenjak sore tadi membuatku tidak bisa membedakan waktu.
Aku mengemasi laporan yang menumpuk. Kuputuskan untuk melanjutkannya di rumah. Aku ingin segera pulang. Mumpung hujan kini hanya rintik-rintik saja
Sebenarnya, aku tidak suka berada di sekolah hingga malam hari. Banyak cerita misteri di sekolahku ini. Meskipun aku bukan tipe anak yang penakut, tapi tetap saja aku merasa cemas saat berada di ssekolah malam-malam.
Aku terhenti. Memasang telinga. Siapa itu? Aku merasa seperti ada suara orang yang bercakap-cakap.
Laboratorium.
Aku membaca plat nama ruangan yang terpasang. Perlahan, aku membuka pintu ruangan laboratorium. Mengecek, siapa yang berbicara disana.
Aku memicingkan mataku. Kucari tombol lampu. Lampu mulai menyala.
Tidak ada orang.
Seketika aku mundur perlahan. Aku berani sumpah kalau aku tadi mendengar ada suara orang yang berbicara.
"Cit, cit, cit"
Aku tersentak kaget. Seekor tikus tiba-tiba muncul di hadapanku. Tikus kecil berwarna putih.
Tikus itu melihat ke arahku. Aku pun melihat ke arahnya.
Cukup lama aku memandangi tikus itu. Tikus itu membuka mulutnya, lalu menggerakkannya, seakan-akan tikus itu berbicara.
"Mas...ta..."
Deg!
Eh? Mimpikah aku? Apa aku sudah gila? Aku merasa kalau tikus itu sudah melakukan hal yang mustahil. Berbicara!
"kau..."
Aku mendekat ke arah tikus itu, ingin menyentuhnya.
Deg!
Kali ini aku merasa hal lain. Bulu kudukku berdiri. Tiba-tiba aku merasa gatal. Ini reaksi alergiku. Dan itu berarti...
"Meong..."
Aku langsung melangkah mundur. Benar saja. Seekor kucing belang berdiri tidak jauh di belakangku.
"Kenapa ada kucing disini?!"
Aku melihat ke arah kucing itu. Tunggu. Aku pernah melihat kucing itu.
"Kau... Bukannya kau kucing yang sering mampir ke rumah Yabu?"
Aku sangat mengenali kucing itu. Itu kucing yang sering mampir ke rumah Yabu saat aku main disana. Tiap kali aku ke rumah Yabu, entah kenapa kucing itu selalu ada disana.
Kucing itu berjalan mendekat ke arahku. Sontak, aku langsung berlari meninggalkan ruangan itu. Aku bahkan lupa mengenai tikus putih yang bisa berbicara itu.
"Terlambat... Terlambat..."
kali ini aku terhenti lagi. Jantungku sekali lagi seakan mau copot.
Seekor kelinci, berjalan dengan 2 kaki, dan bisa bicara sedang lewat di depanku!!!
Aku mengucek mataku. Berharap ini hanya mimpi. Tapi...
"Terlambat... Terlambat..."
Kelinci itu berbicara lagi! Aku mencubit lenganku. Tidak! Ini bukan mimpi.
"Tunggu!"
Refleks aku mengejar kelinci itu. Sadar kalau aku sedang mengejarnya, kelinci itu lalu melompat dan berusaha lari dariku.
Aku juga tidak tahu kenapa aku mengejar kelinci itu, tapi aku terus berlari.
Kemana dia? Aku kehilangan jejaknya. Kelinci itu lincah sekali.
Menyerah.
Aku akhirnya memutuskan pulang ke rumah. Setelah membuka payung yang kusimpan di loker, aku berjalan menembus hujan.
Lagi.
Anjing itu lagi.
Di taman dekat rumahku. Ada sebuah pohon yang rindang. Dan akhir-akhir ini, aku selalu melihat seekor anjing golden retriever selalu duduk disana.
Apa yang dilakukan anjing itu? Apakah dia menunggu majikannya? Ataukah dia anjing yang dibuang?
Aku tidak tega melihat anjing itu kebasahan. Kudekati anjing itu. Kuberikan payungku padanya agar dia tidak kebasahan.
Anjing itu menjilat tanganku. Aku mengusap-usap kepalanya. Sebelum pergi, aku melihat sekali lagi ke arah anjing itu.
Anjing itu menunduk ke arahku. Seakan bersujud. Sampai aku pergi, anjing itu terus saja bersujud.
Anjing yang aneh.
Sambil berlari, aku mengingat kembali peristiwa yang baru saja kualami.
4 ekor binatang. Tikus, kucing, kelinci, dan anjing.
Aku belum menyadari, pertemuanku dengan keempat binatang itu, membuka sisi lain dari kehidupanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar