Minggu, 01 November 2015

TEN KNIGHTS

PART 44

Kami berenam segera menuju ke luar ruangan. Langkah kami sempat terhenti saat melihat begitu banyaknya makhluk kegelapan yang ada. Aku bahkan tidak tahu pasti jumlahnya, kemungkinan puluhan, atau bisa saja ada ratusan makhluk kegelapan yang ada disini. Aku menelan ludahku, sanggupkah kami semua menghadapi makhluk kegelapan ini dengan kondisi kami yang seperti ini?

“Owaa......”, ucap Yuto. Matanya melotot dan mulutnya terbuka. Aku melihat ke arah ksatria yang lain, ekspresi mereka tidak jauh beda dengan ekspresi kami berdua.

Beberapa makhluk kegelapan yang ada telah menyadari keberadaan kami. Mereka melihat ke arah kami, aku juga merasa pandangan mereka terarah padaku. Para makhluk kegelapan itu mulai mendekat sambil menunjukkan mulut mereka yang penuh dengan gigi yang tajam, serta lidah yang panjang berlapis air liur yang tampak sangat membahayakan. Seketika aku tahu kalau air liur mereka itu sangat berbahaya.

“Tidak ada jalan lain, mau tidak mau kita harus melawannya. Keito, aku ingin kau melacak si pengendali mereka. Makhluk-makhluk kegelapan tingkat rendah dan menengah ini tidak mungkin menyerang kita tanpa ada yang mengendalikannya. Yang lain, serang makhluk kegelapan yang ada di hadapan kalian. Kalau bisa, habisi mereka sampai hancur, itu akan memudahkan kita”, Yabu memberi perintah pada kami. Kami semua menggangguk dan mulai menuruti perintah dari Yabu, ketua kami.

Aku menggenggam erat pedangku. Kakiku sempat kaku dan tidak bisa digerakkan. Jujur saja, ada satu perasaan takut dan cemas yang menyerangku. Aku bahkan ragu untuk menggerakkan kakiku, melangkah ke medan perang bersama yang lain.

Chinen yang berada di sampingku, memegang tangan kiriku dengan erat. Aku melihat ke arahnya, kudapati dia melihatku sambil tersenyum. Senyum yang sangat menenangkanb hati. “Tidak apa-apa Ryochan. Kau tidak sendirian. Aku disini bersamamu. Teman-teman yang lain juga ada. Kita semua akan bekerjasama untuk melawan mereka”, ucap Chinen. Yuto lalu menepuk pundakku dengan kuat. Keito, Inoo, dan Yabu yang berdiri di depan juga melihat ke arahku sambil tersenyum. ‘Ya benar, aku tidak sendirian disini, aku bersama dengan mereka’, gumamku.

“Terima kasih Yuri. Kalian juga, ayo kita berjuang bersama-sama”, kataku. Mereka semua pun menggangguk. Aku mengangkat pedangku, “Ayah, tolong bantu aku. Pinjamkan kekuatanmu padaku”, bisikku pada pedang yang ada di tanganku ini. Lalu, bersama-sama dengan semuanya, kami pun maju dan menghadapi makhluk kegelapan yang ada.

Pertama-tama, Yabu menggunakan kemampuannya, dengan air yang dikendalikannya, dia berhasil menyapu bersih para makhluk kegelapan yang berada di barisan paling depan. Para makhluk kegelapan itu tepental akibat serangan Yabu dan membutuhkan waktu untuk kembali berdiri. Kesempatan ini lalu digunakan olehku dan Inoo, kami berdua segera menyerang maju para makhluk kegelapan yang masih belum bisa bangkit itu. Tanpa ragu-ragu, aku menebas para makhluk kegelapan. Memang, mereka tidak langsung mati saat kutebas, tapi setidaknya mereka membutuhkan waktu untuk kembali berjalan seperti semula. Inoo juga melakukan hal yang sama. Dia mengayunkan kedua pedang yang ada di tangannya untuk menebas makhluk kegelapan yang ada. gerakannya seperti orang yang sedang menari. Aku pun sempat merasa terpesona dengan gerakannya. Tidak lama, Yabu juga maju untuk membantu kami berdua yang sudah terlebih dahulu maju untuk menghadapi musuh.

Chinen menggunakan kemampuannya, dia meniru kemampuan Ryuu. Dia mengubah sosoknya menjadi seekor burung raksasa. Sosok perubahan wujud Chinen ini sangat cantik. Dia berubah menjadi seekor burung dengan bulu yang indah, sayap yang lebar, serta kuku tajam di kakinya yang menambah kesan elegan. Aku sempat terpesoan karena perubahan wujudnya ini. Dia kemudian terbang untuk menyerang musuh yang berada di udara. Chinen mengepakkan kedua sayapnya dengan kuat. Akibatnya, beberapa makhluk kegelapan itu jatuh. Yuto dan Keito yang berada di bawah, menyerang para makhluk kegelapan yang jatuh itu dengan pukulan dan tendangan mereka. Keito terus menyerang sambil terus mengamati bola kristal miliknya, berusaha mencari maou yang mengendalikan para makhluk kegelapan ini.

“KETEMU!”, seru Keito. Sejenak, kami semua menoleh ke arah Keito. “Dia ada disana!”, Keito menunjuk ke dinding bagian atas. Sontak, kami semua mengangkat kepala untuk melihat sang pelaku. Aku melihat makhluk kegelapan bersayap yang sama persis dengan makhluk kegelapan yang menyerangku dulu. Di punggungnya, terdapat sosok tubuh kecil.

“Ararara.... ketahuan ternyata. Hebat sekali”, maou itu mulai berbicara. Suaranya seperti seorang perempuan kecil yang manja. Kami semua langsung mengetahui siapa dia, tanpa perlu melihat wajahnya. Dia satu-satunya maou yang berwujud seperti seorang perempuan. Queen, sang ratu kegelapan.

“Kau......”, Chinen menggeram kesal saat melihat Queen yang berada tepat di hadapannya. Posisi Chinen saat ini memang yang paling dekat dengan sang Queen. Sang Queen tersenyum mengejek melihat muka Chinen yang kesal.

“Kau siapa ya?”, ucap Queen. Chinen yang mendengar itu langsung sangat merasa kesal. Queen melihat ke bawah, tatapanku dan Queen tanpa sengaja bertemu. “Ah, Ryochan! Apa kabar? Aku sudah menunggumu disini!”, Queen melambaikan tangannya padaku. Aku hanya tersenyum kecut melihatnya.

“Jangan seenaknya memanggil pacarku!”, teriak Chinen kesal. Suaranya terdengar cukup keras, mengalahkan suara gaduh yang timbul dari beberapa makhluk kegelapan. “Aku tidak akan memaafkanmu yang sudah menganggu Ryochan!”, teriak Chinen lagi. Suaranya tidak kalah keras dari yang pertama. Aku langsung bergidik saat mendengar suara Chinen. Aku sama sekali tidak menyangka kalau cewek mungil yang selalu ada disampingku itu ternyata bisa semarah ini.

Queen melihat ke arah Chinen, “Ah, aku tahu sekarang. Kau cewek jelek yang dibawa oleh Kamichan kan? Maaf ya, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengingat cewek jelek. Kenapa kau sudah bebas? Padahal kau jauh lebih cantik saat terikat disana. Ah, sosok burung ini juga terlihat lebih pantas untukmu daripada sosok manusiamu”, Queen tersenyum mengejek ke arah Chinen.

“Akan kubalas kau!”, geram Chinen. Mukanya saat ini benar-benar terlihat kesal. “Kalian semua! Serahkan cewek jelek ini padaku! Biar aku saja yang menghadapinya. Kalian tidak boleh ikut campur!”, seru Chinen.

“Tapi, Yuri.....”, aku merasa sangat cemas dan khawatir bila Chinen bertarung sendirian dengan salah satu petinggi maou.

“Biarkan saja Yamachan. Biarkan Chii yang melawan Queen. Kita cukup melawan para makhluk kegelapan yang ada disini saja”, gumam Yuto yang berdiri di dekatku.

“Tapi, Yuto..... lawan Yuri itu Queen, salah satu petinggi maou, dia tidak akan mampu menghadapinya sendirian”, kataku sambil terus menebas makhluk kegelapan yang datang menyerang.

“Biarkan saja. kalaupun kau membantunya, dia malah akan semakin marah. Saat ini, Chii sangat kesal. Lebih baik kita turuti saja dia. Bila dia merasa kesulitan, baru kita menolongnya”, kata Yuto sambil melayangkan pukulannya ke arah makhluk kegelapan yang berada di belakangku. Aku masih belum merasa tenang. Aku tidak bisa membiarkan Chinen bertarung sendirian. “Chii itu kuat lo. Apalagi kalau dia sedang dalam keadaan marah. Terlebih, kemampuan Chii sangat membantu. Dia bisa meniru semua kemampuan kita kan? Jadi, tanpa perlu bantuan pun, aku yakin dia bisa”, kata Yuto yang berusaha menyakinkanku.

Sementara itu......

Hikaru menggigit kain yang ada di mulutnya dengan kuat. Matanya pun tertutup, dia tidak sanggup melihat tangannya dipotong. Meskipun dia sendiri yang meminta Daiki untuk memotong tangannya, perasaan takut dan sakit masih bisa dirasakannya. Hikaru menguatkan hatinya, bersiap untuk merelakan salah satu tangannya. Lebih baik kehilangan satu tangan dibandingkan dengan kehilangan nyawa.

Tes. Hikaru merasakan ada setetes air yang jatuh membasahi tangannya. Tes. Hikaru merasakannya lagi. Karena penasaran, Hikaru membuka matanya. Dia melihat Daiki berdiam disana sambil menangis. Kapak yang tadi diangkat tinggi-tinggi olehnya, kini telah diturunkan.

“Aku tidak bisa Hika..... maaf”, kata Daiki sambil menangis. “A...ku tidak bisa memotongnya. Aku tidak sanggup”. Daiki lalu jatuh terduduk di samping Hikaru. Hikaru mulai menyesali permintaannya. Dia kemudian sadar kalau permintaannya itu terlalu kejam bagi Daiki. Bagaimana bisa dia meminta Daiki untuk memotong tangan keluarganya sendiri?

“ARRGGHHHH!!!!!”, jerit Hikaru. Rasa kesakitan yang luar biasa mulai menyerang dirinya. Tampaknya racun sudah mulai menimbulkan efeknya. Bercak kehitaman di tubuh Hikaru kini mulai merambat naik, mendekat ke arah dimana jantung Hikaru berada. Yuya yang sedang melawan Fuka tidak bisa berkonsentrasi penuh karena khawatir dengan kondisi temannya itu.

“Hika! kau kenapa? Bertahanlah Hika!”, Daiki mulai panik kembali saat melihat Hikaru yang kesakitan. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Seandainya kemampuannya masih ada, dia pasti bisa mengambil racun yang ada di tubuh Hikaru. Tapi, karena kemampuannya kini telah hilang, bila dia bersikeras mengambil racunnya, maka dia akan langsung mati. Daiki kini bimbang memilih apa yang harus dia lakukan.

Daiki, ambil racunnya”, terdengar sebuah suara. Suara yang sama dengan yang memanggil Daiki tadi. “Ambil racunnya. Kau pasti bisa”. Kata suara itu lagi.

“Ambil bagaimana? Kemampuanku saja sudah hilang”, kata Daiki membalas suara itu.

Kemampuanmu belum hilang Daiki. Kau adalah keturunan darah ksatria murni. Kau jauh lebih kuat dari yang kau duga. Percayalah dengan kemampuan dirimu sendiri”, kata suara itu lagi.

Daiki tampak ragu untuk melakukan seperti apa yang dikatakan oleh suara itu. “ARGGGHHHH!!!!”, jerit Hikaru lagi. Rasa sakit yang diderita olehnya tampaknya sangat menyiksa. Mukanya mulai tampak sangat pucat. Keringatnya pun keluar begitu deras.

Kalau kau tidak melakukannya sekarang, temanmu ini bisa mati. Lakukanlah, percayalah dengan kemampuanmu sendiri”, kata suara itu. Daiki kini mencoba untuk mengambil racun dari tubuh Hikaru. Dia akan menuruti suara yang dia dengar tadi. Perlahan, Daiki meletakkan tangannya di atas tangan Hikaru. Dia memejamkan matanya. Berusaha untuk berkonsentrasi menggunakan kemampuannya lagi. Perlahan, racun yang ada di tangan Hikaru,  kini mulai merambat ke tangan Daiki. Bercak kehitaman pun kini juga telah berada di tangan Daiki, sedangkan bercak kehitaman yang ada di tangan Hikaru mulai berkurang.

Yuya yang melihat dari jauh, terbelalak kaget saat melihat apa yang dilakukan oleh Daiki. “Daichan! Apa yang kau lakukan?”, seru Yuya. “Kalau kau lakukan itu, kau bisa mati!”.

“Aku kini mengambil racun yang ada di tubuh Hikaru. Kalau aku tidak melakukan hal ini, Hika bisa mati!”, balas Daiki.

“Tapi, kemampuanmu sudah tidak ada! kau tidak akan tahan bila terkena racun itu!”, seru Yuya lagi sambil terus bertarung melawan Fuka.
Serangannya sama sekali tidak efektif, karena dia tidak berkonsentrasi penuh saat menyerang. Perhatiannya terpecah menjadi beberapa bagian. Hampir saja serangan Fuka berhasil mengenai tubuhnya. Bila dia tidak memiliki kemampuan nullification ini, serangan Fuka tadi akan bisa mengenai tubuhnya.

“Percayakan saja padaku. Aku bisa mengatasinya! Kau fokus saja terhadap pertarunganmu. Kau percaya padaku kan?”, Daiki melihat ke arah Yuya sambil tersenyum. Senyum yang menunjukkan kalau dia tidak apa-apa. Yuya yang melihat itu hanya mengangguk pasrah dan mulai fokus dengan serangannya. Dia berharap, kalau Daiki bisa bertahan melawan racun itu.

Kini, bercak kehitaman di tubuh Hika mulai berkurang. Serbuk racun yang ada di tubuhnya, berpindah ke tubuh Daiki. Raut muka Hikaru menunjukkan kalau rasa sakitnya mulai berkurang. Hikaru juga sudah tidak menjerit kesakitan seperti tadi. Daiki mulai merasa lega melihat kondisi Hikaru yang mulai membaik. Dia terus berusaha untuk mengambil racun yang ada di tubuh Hikaru. Semua racun kini telah berpindah ke tubuh Daiki. Daiki kini mulai merasa kesakitan, tubuhnya terasa lemas, dan bercak kehitaman yang awalnya terpusat di tangan kanannya, kini mulai merambat dan menyebar.

Hikaru kembali sadar setelah kondisi tubuhnya semakin membaik. Tangannya kini sudah tidak terasa sakit lagi, meskipun dia masih merasa kesusahan untuk menggerakkannya. Dia melihat ke arah Daiki yang memegang tangannya yang kesakitan. Hikaru melihat tangan Daiki yang kini mulai menghitam akibat racun. Sontak, Hikaru langsung membelalakkan kedua matanya.

“Daichan... tanganmu....”, gumam Hikaru pelan.

Daiki melihat ke arah Hikaru sambil tersenyum, “Tenang saja Hika, aku bisa mengatasinya. Racun adalah kemampuanku kan?”.
Hikaru mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh tangan Daiki yang mulai menghitam. Seketika, Daiki langsung menarik tangannya agar menjauh dari tangan Hikaru. “Apa yang kau lakukan? Kalau kau lakukan itu, racun ini bisa berpindah lagi padamu. Padahal aku sudah susah payah mengeluarkannya”, omel Daiki.

“Tapi, gara-gara aku, kau jadi terkena racun. Padahal kau sudah tidak bisa menggunakan kemampuanmu lagi”, lirih Hikaru. Suaranya masih terdengar lemah.

Daiki menatap wajah Hikaru dengan ekspresi kesal. “Kau ini. sudah kubilang kalau aku bisa, ya bisa. Tenang saja, racun ini tidak akan membunuhku”. Setelah Daiki berkata seperti itu, perlahan bercak kehitaman di tubuhnya mulai menghilang. Raut wajah Daiki yang awalnya tampak pucat, kini telah kembali seperti semula. Daiki telah berhasil menggunakan kemampuannya kembali.

Hikaru melihat sepupunya itu dengan tidak percaya. Dia melihat ekspresi bahagia terpancar di muka Daiki. Kemampuan Daiki kini kembali. Dia bisa mengontrol racun lagi. Tidak hanya itu, Hikaru melihat serbuk racun berwarna keunguan yang keluar dari tangan Daiki. Kemampuan Daiki benar-benar telah kembali!

“Tuh, lihat kan Hika! aku berhasil! Kemampuanku kembali! Suara itu benar!”, seru Daiki riang.

“Suara? Suara siapa?”, tanya Hika tidak mengerti. Daiki hanya melihat Hikaru sambil tersenyum. Kini dia melihat ke arah Yuya yang masih sibuk bertarung melawan Fuka. Wajahnya sudah kelihatan capek. Wajar saja, selain harus menyerangnya secara fisik, Yuya juga harus terus menggunakan kemampuan khususnya untuk melindungi Daiki dan Hikaru. Hanya kemampuan Yuya sajalah yang bisa menghalangi kemampuan Fuka yang berbahaya.
“Hika, kau bisa berdiri lagi?”, tanya Daiki sambil mengulurkan tangan kanannya.

“Tentu saja!”, jawab Hikaru mantap sambil membalas uluran tangan Daiki.

“Baiklah. Ayo kita bantu Yuya. Tapi ingat, jangan sampai kau membunuh Fuu. Kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan memaafkanmu”, Daiki menatap tajam ke arah Hikaru sehingga Hikaru merasa merinding melihatnya.

“Tenang saja. aku tidak mungkin membunuh keluargaku sendiri”, jawab Hikaru sambil tersenyum. Keduanya kini melangkah maju mendekati Yuya untuk membantunya melawan Fuka.

Setelah mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba gempa yang sangat dahsyat terjadi. Saking hebatnya gempa ini, Daiki dkk sampai terjatuh. Beberapa tembok dan lantai mulai hancur akibat gempa ini. Yuya segera berlari mendekat ke arah Daiki dan Hikaru untuk melindungi keduanya dari reruntuhan.

“AHAHAHAHA..... sudah dimulai! Kalian semua sudah terlambat para ksatria! Kegelapan akan mengambil alih cahaya di dunia ini! AHAHAHAHA!!”, suara tawa Fuka terdengar begitu keras. Daiki, Yuya, dan Hikaru saling berpandangan, apakah prosesnya telah dimulai?

Di bawah, tempat Yamada dkk.

Aku mulai panik ketika tiba-tiba gempa yang sangat dahsyat terjadi. Akibat gempa ini, aku tidak bisa berdiri dengan baik. Chinen pun segera kembali ke sosoknya yang semula untuk menghindar dari reruntuhan yang jatuh dari atas. Beberapa makhluk kegelapan yang tidak bisa menyelamatkan diri, terkena reruntuhan itu. Yuto melindungi aku, Chinen, dan Keito dengan cara menghancurkan reruntuhan yang mengarah ke kami. Sedangkan Yabu melindungi Inoo dengan perisai air miliknya.

“King memang hebat. Dia berhasil melakukannya. Sebentar lagi, sang necromancer akan kembali bangkit. Saat itu jugalah, kami, para makhluk kegelapan, akan menguasai bumi ini dengan menebarkan kegelapan di muka bumi sehingga tidak ada satupun cahaya di bumi ini”, ucap Queen sambil tersenyum lebar.

‘Apa yang harus kami lakukan?’, batinku cemas.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar