Kamis, 12 November 2015

AKUMA NO YOROI

PART 31

“HENTIKAN! Sudah kubilang jangan mendekatiku!”

Ryuu masih bersikeras menolak Yama. Berkali-kali dia mendorong Yama hingga terpental dengan kekuatannya. Tapi, Yama jauh lebih hebat dari Ryuu sehingga dorongan dari Ryuu tidak berpengaruh padanya. Entah sudah berapa lama Yama dan Ryuu melakukan permainan ‘Jangan Dekati Aku’ ini.

“Sebentar lagi mereka akan datang! Dan kalian akan musnah semuanya! Termasuk bocah yang sangat kau lindungi itu!”

Ryuu menunjuk ke arah Keito yang sedang sibuk berdiskusi bersama dengan Chii. Keito tahu kalau saat ini mau tidak mau mereka harus bertarung. Tidak ada jalan lain lagi.

“Yama, tinggalkan dia. Dia terus menolakmu, apa kau tidak capek melakukan hal yang sama terus menerus?”, Keito yang sudah tidak tahan mendengar pertikaian di antara dua makhluk itu akhirnya membuka mulutnya. Jujur saja, telinga Keito tidak tahan lagi mendengar bentakan dari Ryuu.

“Keito-sama benar. Yama, sebaiknya kita menyusun rencana untuk menghadapi musuh. Mereka sebentar lagi akan menyerang kita, kita harus memiliki persiapan yang cukup”

Yama akhirnya meninggalkan Ryuu sendiri dan mulai ikut berdiskusi bersama dengan Chii dan Keito. sesekali dia melihat ke arah Ryuu yang terus berusaha melepaskan diri dari mantera pengikat yang dibuat oleh Yuto. Yuto telah membuat lingkaran sihir di sekitar Ryuu sehingga Ryuu tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut. Dia masih bisa menggunakan kekuatannya, tapi tidak sepenuhnya.
Mata Keito menyapu seluruh ruangan, wajahnya terlihat sedikit cemas. Chii yang menyadari tingkah aneh dari tuannya langsung menanyakannya.

“Ada apa Keito-sama? Anda terlihat cukup khawatir”

“Apakah kalian melihat ayahku? Aku baru sadar kalau aku tidak melihatnya”

Yama dan Chii saling berpandangan. Chii mengamati seluruh ruangan itu, sedangkan Yama memejamkan matanya.

“Maafkan saya Keito-sama, saya juga tidak melihatnya”

“Sepertinya Kenichi-sama tidak ada disini”, Yama membuka matanya. “Aku tidak bisa merasakan keberadaannya di rumah ini. “Tapi, bagaimana bisa? Seharusnya aku bisa merasakan kalau ada yang masuk atau keluar dari pelindung yang kubuat. Tunggu... para demon itu juga tidak ada”

Keito langsung berlari keluar ke arah taman tempat para demon itu tadi berkumpul. Sesampainya disana, Keito hanya bisa melihat taman yang kering dan layu. Para demon itu telah memakan aura kehidupan di taman itu. Tapi Keito tidak bisa merasakan keberadaan para demon itu, para demon itu tidak ada disana.

“Mereka telah pergi mendahului kita”, Chii yang mengikuti Keito menunjuk ke arah langit yang kelam “Mereka sudah memulai pesta mereka sendiri”

---***---

Setelah meletakkan seikat bunga yang sedikit layu, Inoo melangkah mundur secara perlahan. Matanya tetap terpaku pada lubang besar yang ada di pohon tersebut. Setelah merasakan sesuatu, dia tersenyum.

“Aku tahu kau ada disitu, keluarlah”, ucap Inoo dengan suara yang cukup keras.

Seorang laki-laki keluar dari kumpulan semak rimbun yang jaraknya cukup jauh dari Inoo. Laki-laki itu berusaha berjalan mendekati Inoo, tapi sebelum dia melangkah lebih jauh, Inoo sudah berteleportasi ke hadapan lelaki itu.

“Tidak kusangka, kepala keluarga Okamoto memiliki hobi seperti seorang stalker”, Inoo berbisik sambil mengeluarkan aura demon miliknya. “Bagaimana kau bisa mengikutiku?”

“Tidak ada yang tidak bisa dilakukan kepala keluarga Okamoto”, jawab lelaki itu. “Rupanya kau menyembunyikannya di tempat ini. Wajar saja aku tidak bisa menemukannya”

“Karena kau sudah mengetahui tempat ini, jangan berharap kau bisa pergi begitu saja, Nak Kenichi”

---***---

9 demon berkumpul di udara. Mereka saling beradu mengeluarkan aura. Sesuatu seperti kabut tipis berwarna hitam mengelilingi para demon itu. Masing-masing saling melihat dengan mata merah mereka yang menyala.

“Aku tidak menyangka, demon kelas S seperti kalian akan berpihak pada manusia”, Jesse melihat ke arah Yuto dan Yuya.

“Aku tidak berpihak pada manusia, aku hanya melakukan yang kumau. Aku memiliki impian yang lebih besar”, jawab Yuto.

“Aku dipaksa mengikat kontrak dengan bocah itu gara-gara Hime-sama yang menyebalkan itu”, geram Yuya saat mengingat kembali kejadian itu.

“Aku tidak peduli apa alasan kalian. Mengkhianati Yang Mulia Raja adalah pelanggaran berat, kalian akan menerima hukuman kalian saat ini juga”, Juri mengacungkan tongkat sabitnya yang cukup panjang ke 5 demon yang ada di hadapannya.

“Memangnya kalian bisa melakukannya?”, ejek Yabu. “Kalian masih seperti anak bau kencur bila dibandingkan dengan kami. Pengalaman kami jauh lebih banyak daripada kalian karena kami hidup lebih lama daripada kalian”

“Kita tidak akan tahu kalau tidak dimulai kan?”

Setelah berkata seperti itu, Yugo langsung melemparkan bola sihir yang berwarna kemerahan ke arah lawannya. Yuya langsung maju dan menahan bola itu dengan tangannya. Masing-masing tidak mau mengalah dan mengeluarkan auranya dengan sekuat tenaga. Karena keduanya sama-sama seimbang, benturan dua aura demon itu membuat ledakan besar di udara.

“Pertarungan sudah dimulai”

Bersamaan dengan ledakan itu, Keito yang melihat semuanya dari bawah bisa melihat ada 4 cahaya yang berpisah dari pusat ledakan. Keempatnya berpencar ke arah yang berbeda. Salah satu cahaya itu mengarah ke tempat Keito dan yang lain berada.

“Yama! Buatkan pelindung yang besar! Usahakan bisa melindungi sebanyak yang kau bisa!”, perintah Keito.

Yama kembali ke wujud aslinya, bukan menjadi seekor anjing kecil berwarna hitam, tapi menjadi seekor anjing besar yang berbulu keemasan. Sekilas dia terlihat seperti seekor singa dengan warna bulunya yang seperti itu. Yama mengeluarkan sinar keemasan dari tubuhnya. Perlahan sinar itu meluas dan mengelilingi kediaman Okamoto dan beberapa rumah yang ada di sekitar mereka. Dilihat dari besarnya pelindung yang dibuat oleh Yama, setidaknya pelindung yang dibuatnya berdiameter sekitar 1 km.

Saat cahaya kemerahan itu menabrak pelindung yang dibuat oleh Yama, sekilas terjadi kilatan cahaya dan suara seperti sesuatu yang telah meledak. Cahaya kemerahan itu akhirnya menembus masuk ke dalam pelindung itu dengan paksa.

“Yama, bisakah kau membuat pelindung juga di daerah dimana 3 cahaya yang lain berada?”

“Aku tidak bisa menjanjikannya, tapi akan kucoba”

Yama mengeluarkan 3 bola emas dari tubuhnya, 3 bola emas itu kemudian memisahkan diri dan terbang keluar dari pelindung. Ketiga bola emas itu menuju ke arah 3 cahaya kemerahan yang lain berada.

“Hai Keito”

Keito tertegun. Dia mengenali suara itu. Suara orang yang selalu menemaninya selama ada di sekolah.

“Ju... ri...”, gumam Keito saat dia melihat Juri yang kini telah jelas terlihat. Keito melangkah mundur. Dia masih belum bisa mempercayai kalau Juri adalah demon. Tapi setelah melihat mata Juri yang berwarna merah dan sabit besar yang dibawanya, yakinlah Keito kalau Juri benar-benar demon. Apalagi dia bisa merasakan aura membunuh yang cukup besar yang berasal dari Juri. Aura yang kelam dan menyesakkan.

“Keito-sama, jangan ragu. Dia bukanlah teman anda. Dia adalah demon yang mengincar anda”

“Keito! Yang ada di depanmu itu musuh. Bukan temanmu!”

Keito menghentikan langkahnya. Dia memejamkan matanya. Setelah menghela nafas yang cukup panjang, dia membuka matanya. Raut wajah Keito telah berubah. Tidak ragu-ragu seperti sebelumnya. Yama dan Chii tersenyum lega melihat tuan mereka itu.

“Kalian benar Yama, Chii. Juri yang kukenal sudah tidak ada. Yang ada di hadapan kita adalah musuh yang harus kita kalahkan dan kita habisi”

“Apa kau bisa menghadapi mereka semua, Juri?” Yabu tiba-tiba muncul dari samping. Dengan tenang dia berjalan mendekati Keito, dkk.

Juri tersenyum. Sebagai jawaban dari pertanyaan Yabu, dia mengeluarkan auranya lebih banyak dari sebelumnya. Matanya kini berwarna merah pekat seperti darah. Jika bukan karena pelindung yang dibuat oleh Yama, Keito pasti akan merasa sesak karena aura membunuh yang dikeluarkan oleh Juri.

“Akan kuhadapi kalian sekaligus”

Juri mengayunkan sabitnya ke arah mereka berempat. Chii dengan cepat berubah menjadi seekor kyuubi dan membawa Keito menghindar. Yama berhasil menahan serangan Juri dengan pelindung yang dibuat olehnya. Sedangkan Yabu dengan gesit sudah bergerak sesaat sebelum ayunan sabit itu mengarah kepadanya.

“Kamaitachi (pedang angin), seperti biasanya, seranganmu tidak pernah terkendali dengan baik, Juri”, gumam Yabu saat melihat semua yang berada di area serangan Juri membelah menjadi 2.

“Diam dan bertarunglah denganku, mantan tetua”

---***---

“Huwee.... kenapa aku bersama dengan Hikaru???”

“Diamlah Daichan. Lebih baik kau berfokus kepada musuh yang ada di hadapanmu”

“Aku tidak mau. Aku lapar. Aku mau daging. Huwee.... Yuya...”

Hikaru menggelengkan kepalanya melihat tingkah Daiki yang seperti anak-anak. Hikaru sendiri tidak tahu kenapa dia berpasangan dengan Daiki. Dia hanya mengikuti salah satu demon yang ada di hadapannya ini.

“Bisakah kalian berdua berhenti bermain-main? Aku tidak punya waktu untuk bermain bersama dengan kalian. Aku harus menuju ke tempat kakak”

Hikaru melihat ke arah Shin yang kini telah bersiap menyerang. Kemampuan Shin sama seperti kakak kembarnya, yang berarti sama juga dengan kemampuan Daiki. Pertarungan ini sama sekali tidak menguntungkan bagi Hikaru, apalagi Daiki tidak berniat menyerang Shin yang lebih lemah dari mereka. Daiki hanya tertarik pada demon yang levelnya lebih tinggi.

“Bagaimana aku menghadapinya?”, keluh Hikaru sambil melihat ke arah Daiki yang masih terduduk dengan muka cemberut.

---***---

“Nah bagaimana? Kau tidak punya waktu lama untuk memikirkannya. Kau juga merasakannya kan? Saat ini mantan temanku sesama demon sedang menyerang kalian. Termasuk anakmu. Apa kau tidak mau bergabung bersama dengan anakmu dan menolongnya?”

Kenichi terdiam sejenak. Sungguh dia ingin sekali menghajar wajah demon berparas cantik yang ada di hadapannya itu. Tapi dia menahan amarahnya “Baiklah. Aku setuju”

---***---

Di tempat lain, 2 kilatan cahaya merah saling beradu. 2 demon sedang bertarung di udara. Saking cepatnya gerakan kedua demon itu sehingga sosok mereka tidak terlihat dan hanya meninggalkan secercah cahaya kemerahan saja bila dilihat dengan mata telanjang.

“Seperti biasa, kau lemah dalam pertarungan jarak dekat, Yugo”

“Kau sendiri tidak jauh beda denganku, Takaki-san”

Mereka kembali beradu kekuatan. Sebenarnya mereka berdua lebih ahli dalam pertarungan jarak jauh. Tapi entah kenapa, karena sudah mengetahui kemampuan masing-masing, mereka berdua memutuskan untuk melakukan pertarungan dengan jarak dekat.

Yugo mengeluarkan senjata sabitnya yang sedikit lebih pendek dari milik Juri. Dia mengarahkan sabit itu ke arah Yuya dan berhasil memutus lengan Yuya. Darah mengalir deras dari lengan demon itu. Yugo tersenyum sekilas saat melihat Yuya yang terluka karena serangannya.

“Heh, apa kau lupa siapa yang mengajari kau dan Juri?”

---***---

Berbeda dengan 3 tempat lain yang sudah memulai pertarungan mereka, di tempat ini, 2 demon ini sama sekali tidak bergerak dari tempat mereka dan saling mengamati satu sama lain. Masing-masing mengamati setiap gerakan lawannya dan berusaha melihat celah.

Jesse mengamati seluruh gerakan Yuto tanpa berkedip sedikitpun. Dia tidak ingin melewatkan satu gerakanpun. Jesse tidak ingin bertindak gegabah. Dia tidak ingin salah langkah. Jesse masih belum mengetahui kemampuan Yuto yang sebenarnya. Meskipun mereka berdua sama-sama menjadi pengawal Yang Mulia, tapi Yuto lebih banyak menghabiskan waktunya di istana daripada keluar dan bertarung. Dia lebih suka menyuruh anak buahnya untuk menyerang.

“Kenapa? Kau tidak ingin menyerangku?” Yuto menggerakkan tangan kanannya, membuat Jesse semakin waspada. Pandangannya kini terpaku pada tangan kanan Yuto. “Kalau begitu aku mulai duluan ya?”

BUAGH! Sebuah pukulan berhasil mendarat di wajah Jesse bagian kiri. Dia sama sekali tidak menyangka ada serangan yang datang dari sana. Jesse melihat ke arah tangan kiri Yuto yang tidak bergerak sedikitpun, dan jelas terlihat olehnya kalau tangan kanan Yuto yang bergerak.

“Inilah kemampuanku, Jesse”, bisik Yuto yang kini sudah berada tepat di belakang Jesse.

---***---

Keito menahan rasa sakit yang ada di dadanya. Dia berusaha melupakan sosok yang kini sedang bertarung di hadapannya. Sosok yang terus menemaninya selama beberapa tahun ini.


“Jangan pernah membawa perasaanmu saat kau bertarung. Kalau tidak, kau akan mengalami kekalahan yang pahit”, ucap Yabu saat berdiri di samping Keito. Setelah berkata demikian, Yabu menghilang dari sisi Keito.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar