PART 31
“HENTIKAN! Sudah kubilang jangan mendekatiku!”
Ryuu masih bersikeras menolak Yama. Berkali-kali dia
mendorong Yama hingga terpental dengan kekuatannya. Tapi, Yama jauh lebih hebat
dari Ryuu sehingga dorongan dari Ryuu tidak berpengaruh padanya. Entah sudah
berapa lama Yama dan Ryuu melakukan permainan ‘Jangan Dekati Aku’ ini.
“Sebentar lagi mereka akan datang! Dan kalian akan musnah
semuanya! Termasuk bocah yang sangat kau lindungi itu!”
Ryuu menunjuk ke arah Keito yang sedang sibuk berdiskusi
bersama dengan Chii. Keito tahu kalau saat ini mau tidak mau mereka harus
bertarung. Tidak ada jalan lain lagi.
“Yama, tinggalkan dia. Dia terus menolakmu, apa kau tidak
capek melakukan hal yang sama terus menerus?”, Keito yang sudah tidak tahan
mendengar pertikaian di antara dua makhluk itu akhirnya membuka mulutnya. Jujur
saja, telinga Keito tidak tahan lagi mendengar bentakan dari Ryuu.
“Keito-sama benar. Yama, sebaiknya kita menyusun rencana
untuk menghadapi musuh. Mereka sebentar lagi akan menyerang kita, kita harus
memiliki persiapan yang cukup”
Yama akhirnya meninggalkan Ryuu sendiri dan mulai ikut
berdiskusi bersama dengan Chii dan Keito. sesekali dia melihat ke arah Ryuu
yang terus berusaha melepaskan diri dari mantera pengikat yang dibuat oleh
Yuto. Yuto telah membuat lingkaran sihir di sekitar Ryuu sehingga Ryuu tidak
bisa keluar dari lingkaran tersebut. Dia masih bisa menggunakan kekuatannya,
tapi tidak sepenuhnya.
Mata Keito menyapu seluruh ruangan, wajahnya terlihat
sedikit cemas. Chii yang menyadari tingkah aneh dari tuannya langsung
menanyakannya.
“Ada apa Keito-sama? Anda terlihat cukup khawatir”
“Apakah kalian melihat ayahku? Aku baru sadar kalau aku
tidak melihatnya”
Yama dan Chii saling berpandangan. Chii mengamati seluruh
ruangan itu, sedangkan Yama memejamkan matanya.
“Maafkan saya Keito-sama, saya juga tidak melihatnya”
“Sepertinya Kenichi-sama tidak ada disini”, Yama membuka
matanya. “Aku tidak bisa merasakan keberadaannya di rumah ini. “Tapi, bagaimana
bisa? Seharusnya aku bisa merasakan kalau ada yang masuk atau keluar dari
pelindung yang kubuat. Tunggu... para demon itu juga tidak ada”
Keito langsung berlari keluar ke arah taman tempat para
demon itu tadi berkumpul. Sesampainya disana, Keito hanya bisa melihat taman
yang kering dan layu. Para demon itu telah memakan aura kehidupan di taman itu.
Tapi Keito tidak bisa merasakan keberadaan para demon itu, para demon itu tidak
ada disana.
“Mereka telah pergi mendahului kita”, Chii yang mengikuti
Keito menunjuk ke arah langit yang kelam “Mereka sudah memulai pesta mereka
sendiri”
---***---
Setelah meletakkan seikat bunga yang sedikit layu, Inoo
melangkah mundur secara perlahan. Matanya tetap terpaku pada lubang besar yang
ada di pohon tersebut. Setelah merasakan sesuatu, dia tersenyum.
“Aku tahu kau ada disitu, keluarlah”, ucap Inoo dengan
suara yang cukup keras.
Seorang laki-laki keluar dari kumpulan semak rimbun yang
jaraknya cukup jauh dari Inoo. Laki-laki itu berusaha berjalan mendekati Inoo,
tapi sebelum dia melangkah lebih jauh, Inoo sudah berteleportasi ke hadapan
lelaki itu.
“Tidak kusangka, kepala keluarga Okamoto memiliki hobi
seperti seorang stalker”, Inoo berbisik sambil mengeluarkan aura demon
miliknya. “Bagaimana kau bisa mengikutiku?”
“Tidak ada yang tidak bisa dilakukan kepala keluarga
Okamoto”, jawab lelaki itu. “Rupanya kau menyembunyikannya di tempat ini. Wajar
saja aku tidak bisa menemukannya”
“Karena kau sudah mengetahui tempat ini, jangan berharap
kau bisa pergi begitu saja, Nak Kenichi”
---***---
9 demon berkumpul di udara. Mereka saling beradu
mengeluarkan aura. Sesuatu seperti kabut tipis berwarna hitam mengelilingi para
demon itu. Masing-masing saling melihat dengan mata merah mereka yang menyala.
“Aku tidak menyangka, demon kelas S seperti kalian akan
berpihak pada manusia”, Jesse melihat ke arah Yuto dan Yuya.
“Aku tidak berpihak pada manusia, aku hanya melakukan yang
kumau. Aku memiliki impian yang lebih besar”, jawab Yuto.
“Aku dipaksa mengikat kontrak dengan bocah itu gara-gara
Hime-sama yang menyebalkan itu”, geram Yuya saat mengingat kembali kejadian
itu.
“Aku tidak peduli apa alasan kalian. Mengkhianati Yang
Mulia Raja adalah pelanggaran berat, kalian akan menerima hukuman kalian saat
ini juga”, Juri mengacungkan tongkat sabitnya yang cukup panjang ke 5 demon
yang ada di hadapannya.
“Memangnya kalian bisa melakukannya?”, ejek Yabu. “Kalian
masih seperti anak bau kencur bila dibandingkan dengan kami. Pengalaman kami
jauh lebih banyak daripada kalian karena kami hidup lebih lama daripada kalian”
“Kita tidak akan tahu kalau tidak dimulai kan?”
Setelah berkata seperti itu, Yugo langsung melemparkan
bola sihir yang berwarna kemerahan ke arah lawannya. Yuya langsung maju dan
menahan bola itu dengan tangannya. Masing-masing tidak mau mengalah dan
mengeluarkan auranya dengan sekuat tenaga. Karena keduanya sama-sama seimbang,
benturan dua aura demon itu membuat ledakan besar di udara.
“Pertarungan sudah dimulai”
Bersamaan dengan ledakan itu, Keito yang melihat semuanya
dari bawah bisa melihat ada 4 cahaya yang berpisah dari pusat ledakan.
Keempatnya berpencar ke arah yang berbeda. Salah satu cahaya itu mengarah ke
tempat Keito dan yang lain berada.
“Yama! Buatkan pelindung yang besar! Usahakan bisa
melindungi sebanyak yang kau bisa!”, perintah Keito.
Yama kembali ke wujud aslinya, bukan menjadi seekor anjing
kecil berwarna hitam, tapi menjadi seekor anjing besar yang berbulu keemasan.
Sekilas dia terlihat seperti seekor singa dengan warna bulunya yang seperti
itu. Yama mengeluarkan sinar keemasan dari tubuhnya. Perlahan sinar itu meluas
dan mengelilingi kediaman Okamoto dan beberapa rumah yang ada di sekitar
mereka. Dilihat dari besarnya pelindung yang dibuat oleh Yama, setidaknya
pelindung yang dibuatnya berdiameter sekitar 1 km.
Saat cahaya kemerahan itu menabrak pelindung yang dibuat
oleh Yama, sekilas terjadi kilatan cahaya dan suara seperti sesuatu yang telah
meledak. Cahaya kemerahan itu akhirnya menembus masuk ke dalam pelindung itu
dengan paksa.
“Yama, bisakah kau membuat pelindung juga di daerah dimana
3 cahaya yang lain berada?”
“Aku tidak bisa menjanjikannya, tapi akan kucoba”
Yama mengeluarkan 3 bola emas dari tubuhnya, 3 bola emas
itu kemudian memisahkan diri dan terbang keluar dari pelindung. Ketiga bola
emas itu menuju ke arah 3 cahaya kemerahan yang lain berada.
“Hai Keito”
Keito tertegun. Dia mengenali suara itu. Suara orang yang
selalu menemaninya selama ada di sekolah.
“Ju... ri...”, gumam Keito saat dia melihat Juri yang kini
telah jelas terlihat. Keito melangkah mundur. Dia masih belum bisa mempercayai
kalau Juri adalah demon. Tapi setelah melihat mata Juri yang berwarna merah dan
sabit besar yang dibawanya, yakinlah Keito kalau Juri benar-benar demon.
Apalagi dia bisa merasakan aura membunuh yang cukup besar yang berasal dari
Juri. Aura yang kelam dan menyesakkan.
“Keito-sama, jangan ragu. Dia bukanlah teman anda. Dia
adalah demon yang mengincar anda”
“Keito! Yang ada di depanmu itu musuh. Bukan temanmu!”
Keito menghentikan langkahnya. Dia memejamkan matanya.
Setelah menghela nafas yang cukup panjang, dia membuka matanya. Raut wajah
Keito telah berubah. Tidak ragu-ragu seperti sebelumnya. Yama dan Chii
tersenyum lega melihat tuan mereka itu.
“Kalian benar Yama, Chii. Juri yang kukenal sudah tidak ada.
Yang ada di hadapan kita adalah musuh yang harus kita kalahkan dan kita habisi”
“Apa kau bisa menghadapi mereka semua, Juri?” Yabu
tiba-tiba muncul dari samping. Dengan tenang dia berjalan mendekati Keito, dkk.
Juri tersenyum. Sebagai jawaban dari pertanyaan Yabu, dia
mengeluarkan auranya lebih banyak dari sebelumnya. Matanya kini berwarna merah
pekat seperti darah. Jika bukan karena pelindung yang dibuat oleh Yama, Keito
pasti akan merasa sesak karena aura membunuh yang dikeluarkan oleh Juri.
“Akan kuhadapi kalian sekaligus”
Juri mengayunkan sabitnya ke arah mereka berempat. Chii
dengan cepat berubah menjadi seekor kyuubi dan membawa Keito menghindar. Yama
berhasil menahan serangan Juri dengan pelindung yang dibuat olehnya. Sedangkan
Yabu dengan gesit sudah bergerak sesaat sebelum ayunan sabit itu mengarah
kepadanya.
“Kamaitachi (pedang angin), seperti biasanya, seranganmu
tidak pernah terkendali dengan baik, Juri”, gumam Yabu saat melihat semua yang
berada di area serangan Juri membelah menjadi 2.
“Diam dan bertarunglah denganku, mantan tetua”
---***---
“Huwee.... kenapa aku bersama dengan Hikaru???”
“Diamlah Daichan. Lebih baik kau berfokus kepada musuh
yang ada di hadapanmu”
“Aku tidak mau. Aku lapar. Aku mau daging. Huwee....
Yuya...”
Hikaru menggelengkan kepalanya melihat tingkah Daiki yang
seperti anak-anak. Hikaru sendiri tidak tahu kenapa dia berpasangan dengan
Daiki. Dia hanya mengikuti salah satu demon yang ada di hadapannya ini.
“Bisakah kalian berdua berhenti bermain-main? Aku tidak punya
waktu untuk bermain bersama dengan kalian. Aku harus menuju ke tempat kakak”
Hikaru melihat ke arah Shin yang kini telah bersiap
menyerang. Kemampuan Shin sama seperti kakak kembarnya, yang berarti sama juga
dengan kemampuan Daiki. Pertarungan ini sama sekali tidak menguntungkan bagi
Hikaru, apalagi Daiki tidak berniat menyerang Shin yang lebih lemah dari
mereka. Daiki hanya tertarik pada demon yang levelnya lebih tinggi.
“Bagaimana aku menghadapinya?”, keluh Hikaru sambil
melihat ke arah Daiki yang masih terduduk dengan muka cemberut.
---***---
“Nah bagaimana? Kau tidak punya waktu lama untuk
memikirkannya. Kau juga merasakannya kan? Saat ini mantan temanku sesama demon
sedang menyerang kalian. Termasuk anakmu. Apa kau tidak mau bergabung bersama
dengan anakmu dan menolongnya?”
Kenichi terdiam sejenak. Sungguh dia ingin sekali
menghajar wajah demon berparas cantik yang ada di hadapannya itu. Tapi dia
menahan amarahnya “Baiklah. Aku setuju”
---***---
Di tempat lain, 2 kilatan cahaya merah saling beradu. 2
demon sedang bertarung di udara. Saking cepatnya gerakan kedua demon itu
sehingga sosok mereka tidak terlihat dan hanya meninggalkan secercah cahaya
kemerahan saja bila dilihat dengan mata telanjang.
“Seperti biasa, kau lemah dalam pertarungan jarak dekat,
Yugo”
“Kau sendiri tidak jauh beda denganku, Takaki-san”
Mereka kembali beradu kekuatan. Sebenarnya mereka berdua
lebih ahli dalam pertarungan jarak jauh. Tapi entah kenapa, karena sudah
mengetahui kemampuan masing-masing, mereka berdua memutuskan untuk melakukan
pertarungan dengan jarak dekat.
Yugo mengeluarkan senjata sabitnya yang sedikit lebih
pendek dari milik Juri. Dia mengarahkan sabit itu ke arah Yuya dan berhasil
memutus lengan Yuya. Darah mengalir deras dari lengan demon itu. Yugo tersenyum
sekilas saat melihat Yuya yang terluka karena serangannya.
“Heh, apa kau lupa siapa yang mengajari kau dan Juri?”
---***---
Berbeda dengan 3 tempat lain yang sudah memulai
pertarungan mereka, di tempat ini, 2 demon ini sama sekali tidak bergerak dari
tempat mereka dan saling mengamati satu sama lain. Masing-masing mengamati
setiap gerakan lawannya dan berusaha melihat celah.
Jesse mengamati seluruh gerakan Yuto tanpa berkedip
sedikitpun. Dia tidak ingin melewatkan satu gerakanpun. Jesse tidak ingin
bertindak gegabah. Dia tidak ingin salah langkah. Jesse masih belum mengetahui
kemampuan Yuto yang sebenarnya. Meskipun mereka berdua sama-sama menjadi
pengawal Yang Mulia, tapi Yuto lebih banyak menghabiskan waktunya di istana
daripada keluar dan bertarung. Dia lebih suka menyuruh anak buahnya untuk
menyerang.
“Kenapa? Kau tidak ingin menyerangku?” Yuto menggerakkan
tangan kanannya, membuat Jesse semakin waspada. Pandangannya kini terpaku pada
tangan kanan Yuto. “Kalau begitu aku mulai duluan ya?”
BUAGH! Sebuah pukulan berhasil mendarat di wajah Jesse
bagian kiri. Dia sama sekali tidak menyangka ada serangan yang datang dari
sana. Jesse melihat ke arah tangan kiri Yuto yang tidak bergerak sedikitpun,
dan jelas terlihat olehnya kalau tangan kanan Yuto yang bergerak.
“Inilah kemampuanku, Jesse”, bisik Yuto yang kini sudah
berada tepat di belakang Jesse.
---***---
Keito menahan rasa sakit yang ada di dadanya. Dia berusaha
melupakan sosok yang kini sedang bertarung di hadapannya. Sosok yang terus
menemaninya selama beberapa tahun ini.
“Jangan pernah membawa perasaanmu saat kau bertarung.
Kalau tidak, kau akan mengalami kekalahan yang pahit”, ucap Yabu saat berdiri
di samping Keito. Setelah berkata demikian, Yabu menghilang dari sisi Keito.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar