Rabu, 10 Februari 2016

HOUSE OF WAX

Part 2

Main cast : Yaotome Hikaru
Cast : Hey! Say! BEST

Suasana kantor agensi sedikit gaduh. Semua ini berkat keributan yang dibuat oleh Yaotome Hikaru pagi ini. Karena dia mengatakan kalau ada sesuatu yang aneh menimpa anak seven.

"Aku yakin. Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka"

"Jangan ne-think donk Hika... Kalau misalnya mereka cuma pergi jalan-jalan bagaimana?"

"Mana mungkin mereka pergi jalan-jalan dan membolos kerja? Anak seven penuh dengan anak rajin dan bertanggungjawab. Mereka tidak akan meninggalkan pekerjaan begitu saja"

"Mungkin Daiki benar? Siapa tahu mereka lelah dengan pekerjaan dan mencari kesempatan libur. Toh hari ini pekerjaan mereka tidak banyak. Yang padat sekarang kan jadwalnya kita", keluh Inoo sambil melihat kertas yang penuh dengan tulisan di tangannya. Disana tertulis jadwal hari ini.

"Kalian ini... Coba baca SMS dari Chii", Hikaru menunjukkan isi SMS itu pada teman-temannya. "Aneh kan? Katanya semua member seven yang lain menghilang selain dia"

"Bisa saja itu kejahilan mereka kan? Mereka bersembunyi dan berusaha mengerjai Chii. Kemarin Chii ulang tahun kan?", ucap Yabu.

"Kalian ini...", Hikaru menatap teman-temannya tidak percaya. "Apa kalian tidak khawatir?"

"Apa bukannya tidak mungkin kalau Chinen ingin mengerjaimu, Hikaru-kun?"

"Maksudmu Yuya?"

"Yah, mungkin Chinen bermaksud membuatmu panik dengan mengatakan hal seperti itu"

"Ah, betul juga itu. Tumben otakmu jalan bakaki", sahut Inoo sambil memuji Takaki.

"Ah... Sudahlah. Yang penting aku akan terus menghubungi Chinen. Kalau tidak ada kabar darinya, maka aku akan melaporkan hal ini ke polisi"

Hikaru pergi keluar. Meninggalkan keempat temannya yang tampak tidak peduli dengan kekhawatiran yang dirasakan oleh Hikaru. Hikaru tidak habis pikir, kenapa anak BEST hari ini bersikap seperti itu? Apa tidak ada sedikitpun rasa khawatir di benak mereka?

Hikaru mengambil hpnya dan berusaha menghubungi Chinen sekali lagi. Berharap bocah chibi itu mengangkat teleponnya dan menyingkirkan segala keresahannya.
---***---
Hikaru sudah tahu mengenai Chinen. Kita akan masuk rencana kedua. Akan kita buat dia merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Chinen.
---***---
"Apa ini?"

Hikaru mengambil amplop merah yang terjatuh dari tasnya. Dia mengamati amplop itu. Tidak ada nama pengirim. Bau lilin yang khas juga tercium dari amplop itu. Tidak ada tulisan apapun selain tulisan, 'To : Yaotome Hikaru'

"Apa itu? Surat penggemar?", tanya Yabu.

"Bukan. Tidak mungkin ini surat penggemar. Hari ini sama sekali tidak ada surat penggemar yang masuk kan?"

"Lalu itu apa?", tanya Yabu penasaran.

"Entahlah, aku menemukannya ketika mengangkat tasku"

"Surat kaleng?", sahut Daiki.

"Tapi itu ditaruh di amplop, bukan kaleng", sahut Yuya.

"Maksudnya Surat kaleng bukan itu bakaki!", Inoo memukul kepala Yuya dari belakang. Sedangkan Yuya hanya meringis kesakitan.

Hikaru mengamati amplop itu. Sama sekali tidak ada nama pengirim. Setelah memandang temannya bergantian, dia mulai menbuka surat itu.

"House of wax?", ucap Hikaru sambil membaca isi surat itu.

"House of wax... Berarti rumah lilin?"

"Pintar sekali bakaki...", puji Daiki.

"Tumben kau mengerti bahasa inggris?", celoteh Yabu.

"Keito yang mengajariku"

"Baguslah, jadi kau tidak hanya mengatakan 'wo ai ni' saja", sahut Inoo.

Hikaru tidak menghiraukan teman-temannya yang sedang ribut sendiri itu. Dia sibuk membaca isi surat yang ternyata undangan ke sebuah tempat bernama 'House of wax' itu. Tercium bau dari surat itu, dan Hikaru yakin itu bau lilin.

"Jadi, kau mau kesana?", tanya Yabu setelah lelah berdebat dengan temannya.

"Hmm...", Hikaru berpikir sejenak. Anggota BEST yang lain diam menunggu keputusan Hikaru. Mereka tahu, Hikaru akan memarahi mereka jika mereka mengganggunya saat berpikir.

"Aku masih cemas dengan keadaan anak seven. Sampai sekarang tidak ada kabar dari mereka", gumam Hikaru.

"Tapi Hikaru...", potong Daiki. "Bisa saja mereka sedang berlibur dan lupa menghubungimu lagi kan? Apalagi rumah lilin ini sepertinya menarik"

"Benar... Aku juga penasaran dengan rumah lilin ini. Bagaimana struktur rumahnya. Apakah semua rumahnya terbuat dari lilin? Kalau iya, bagaimana cara membuatnya? Bagaimana bentuk rumahnya? Bagaimana---"

"Oke. Cukup Inoo. Kami mengerti apa maksudmu", potong Yabu. "Lalu, kau Takaki? Kau mau ikut?"

"Eh??? Aku tidak terlalu tertarik sih... Rumah lilin. Apa asyiknya?"

"Oke! Semua anggota BEST akan pergi ke rumah lilin ini bersama-sama!", seru Daiki.

“Eh?!?! Aku kan bilang kalau aku tidak ikut Arioka-kun...”, protes Takaki.

“Kau pasti takut makanya kau tidak ingin kesana. Tenang saja karena kita semua kesana kau tidak perlu merasa takut lagi. Ayo kita berangkat!”, ucap Daiki bersemangat.

Takaki menyerah. Dia kemudian mengikuti teman-temannya dari belakang. Dia sama sekali tidak tertarik mendatangi rumah lilin yang menurutnya cukup menyeramkan. Selain Takaki, ada satu orang lagi yang juga tidak antusias. Dia terus memandang hpnya dan menghela nafas panjang.

“Tenang saja. Mereka baik-baik saja. Kau terlalu khawatir Hikaru”, Inoo menepuk punggung Hikaru dan menenangkan pikiran pemuda itu.

“Kuharap begitu”
---***---
Hari sudah gelap ketika 5 orang itu tiba di tempat yang tertulis di surat undangan itu. Yah, karena Yabu mengendarai mobilnya sangat pelan, dengan kecepatan 40-60 km/jam, tidak heran kalau perjalanan yang mereka tempuh cukup lama.

“Huh.. tahu gitu aku saja yang menyetir tadi”, keluh Inoo sambil merenggangkan badannya karena terlalu lama duduk di dalam mobil. Member yang lain juga melakukan hal yang sama.

“Ini mobilku dan tidak akan kubiarkan orang lain yang menyetirnya”, ucap Yabu. Inoo hanya menjulurkan lidah ke arah Yabu.

“Uwah... tempat ini besar sekali. Dan... menyeramkan”, komentar Yuya saat melihat bangunan bergaya eropa yang berada di depannya.

Semua member juga terpana dengan bangunan yang ada di depan mereka. Bangunan itu cukup besar dan suram. Penerangan yang ada di rumah itu hanya sebatas penerangan dari cahaya lilin saja. Tidak ada tanda ada seseorang yang tinggal di rumah itu.

“Are?” Semua member menoleh ke arah Daiki yang menunjuk sesuatu. “Itu mobil Yamada kan? Kenapa ada disini?”

Hikaru membelalakkan matanya. Dia segera berlari menuju ke mobil tersebut. Dia melongok ke dalam mobil. Kosong. Tidak ada seorangpun yang ada disana.

“Eh? Jangan-jangan anak-anak 7 ada di tempat ini?”, Hikaru menunjuk ke rumah lilin yang ada di depannya.

"Buat apa mereka datang ke tempat menyeramkan ini?", gumam Takaki sambil bersembunyi di balik badan Yabu. Badannya sedikit gemetaran.

Hikaru mengambil ponselnya dan menghubungi satu persatu anak 7, tapi tidak ada jawaban. Firasat tidak enak Hikaru kembali. Dia segera menuju ke rumah lilin itu, meninggalkan 4 temannya yang berteriak menanyakan kemana dia pergi.

“Chii! Keito! Yama! Yuto! Kalian disini?”, teriak Hikaru ketika masuk ke dalam rumah. Saking paniknya, Hikaru bahkan tidak mempedulikan suasana indah rumah itu.

Krieet... brak!

Hikaru mendengar sesuatu dari dalam rumah itu. Dia lalu mencari sumber suara itu dan sampai di sebuah pintu yang tampaknya sedikit terbuka. Hikaru meraih pintu itu dengan perlahan, dia membuka pintu itu. Sebuah tangga menuju ke ruang bawah tanah terdapat di balik pintu itu.

“Nghh...”

Terdengar suara rintihan seseorang dari bawah tanah. Tanpa berpikir dua kali, Hikaru langsung menuruni tangga itu. Di ujung tangga itu, ada sebuah ruangan aneh. Ada sebuah panci besar yang berisi cairan lengket dan pekat. Ada pula rantai yang menggantung. Meja datar seperti meja operasi. Mata Hikaru terbelalak saat melihat seseorang tergeletak di dalam kurungan di ruangan itu.

“Chinen!” Hikaru langsung menghampiri Chinen yang tergeletak lemas. Kepalanya sedikit memar.

“Hi... ka... ru?”

“Jangan bicara dulu, tubuhmu masih lemah” Hikaru membantu Chinen duduk dan menyandarkan di dinding. “Apa yang terjadi? kenapa kau ada disini?”

“Ngh...”, Chinen memegangi kepalanya, berusaha mengingat apa yang terjadi. “Aku datang kemari bersama anak 7 yang lain. Aku mendapat undangan untuk datang kemari. Sesampainya disini, tiba-tiba satu persatu dari mereka hilang” Chinen membelalakkan matanya. “Dimana Yuto? Yama? Keito? kau menemukan mereka?”

Hikaru menggeleng. Hanya Chinen yang ditemukannya disana. Chinen menunduk lemas, mengetahui kenyataan bahwa teman-temannya masih belum ditemukan membuatnya sedih. Tapi dia senang karena akhirnya Hikaru datang.

“Syukurlah kau kemari, kupikir sms dan teleponku kemarin tidak sampai. Aku menelepon kalian semua, tapi tidak ada jawaban. Aku sempat terhubung dengan Yuyan, tapi saat ada orang yang memukulku dan membuatku tidak sadar, omonganku terputus”

Hikaru mengernyitkan keningnya, ada sesuatu yang ganjal dari cerita Chinen ini. “Tunggu, kau bilang kalau kau menghubungi kalian semua, siapa yang kau maksud?”

“Kalian... anak BEST, kecuali Inoo karena aku tidak tahu nomornya”

“Tunggu, kapan kau menelepon Yuya?”

“Kemarin malam, tepat saat semuanya menghilang. Awalnya aku menghubungi Dai-chan, tapi tidak ada jawaban, aku juga meneleponmu setelah itu”, Hikaru mengangguk. Di hpnya memang ada missed call dan sms dari Chinen. Karena itulah dia merasa khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada anak seven. Chinen kembali melanjutkan ceritanya, “Aku kemudian mengirim sms pada Yabu, terakhir aku menghubungi Yuya, dan akhirnya tersambung”

“Kau yakin kalau kau menghubungi Yuya?”

Chinen mengangguk.

“Kau tidak salah?”

Chinen mulai kesal dengan pertanyaan Hikaru. “Meskipun aku panik, aku tahu kalau aku tidak memencet nomor yang salah Hikaru... Apalagi aku sempat mendengar suara Yuya di telepon. Aku yakin itu dia. Tunggu, akan kutunjukkan buktinya”

Chinen merogoh sakunya, berusaha mencari hpnya. “Are? Hpku tidak ada” chinen kemudian teringat sesuatu, “Ah... pasti jatuh saat itu”, keluhnya sambil memegang kepalanya yang sedikit memar.

“Aneh...”, gumam Hikaru.

“Memang aneh. Siapa orang yang melakukan hal ini? Apa maksudnya?”

“Ya, itu memang aneh, tapi yang kumaksud bukan itu”

Chinen mengerutkan dahinya, “maksudmu?”

“Pagi ini, aku berkumpul bersama anggota BEST. Aku langsung panik saat membaca smsmu. Aku bahkan menunjukkan isi smsmu pada mereka, tapi reaksi mereka biasa saja. Bahkan mereka menganggap itu hanya ulah anak seven yang lain untuk mengerjaimu”

“Eh?”

“Lebih aneh lagi, tidak ada satupun dari mereka yang mengaku mendapat telepon atau sms darimu. Bahkan Yuya pun berkata demikian. Dia tidak bilang kalau dia mendapat telepon darimu”

“Eh... uso... terus suara siapa yang kemari mengangkat teleponku? Masa iya itu setan? Aku yakin kalau itu suara Yuya kok”

“Lebih baik kita segera keluar dari sini. Lalu kita cari anak seven yang lain. kita juga perlu bertanya pada anggota BEST yang lain, apakah benar kalau mereka tidak mendapat telepon atau sms darimu”

Chinen mengangguk setuju. Dia kemudian berdiri dan segera menuju ke pintu keluar dengan dituntun oleh Hikaru. Tubuh Chinen masih sedikit lemas, mungkin karena dia belum makan dan minum apapun sejak kemarin, ditambah lagi kondisi saat ini yang membuatnya khawatir.

Dengan bantuan Hikaru, Chinen berhasil keluar dari ruangan itu. keduanya terkejut saat melihat sesuatu yang diluar dugaan mereka. mereka sama sekali tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi pada mereka.

“Ternyata... kalian....”

Tsuzuku~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar