Cast : Yabu Kota, Takaki Yuya
Main cast : OC (reader)
Genre : Angst
Aku adalah wanita yang berbahagia. Bagaimana tidak? Aku bekerja sesuai dengan pekerjaan yang kuinginkan. Aku memiliki teman-teman yang baik dan selalu menemaniku. Dan yang membuatku bangga, aku berhasil mendapatkan orang yang kusukai. Siapa lagi kalau bukan Yabu Kota.
Aku menyukainya sejak kami kuliah. Kami kuliah di jurusan yang berbeda, tapi kampus kami sama. Dia di jurusan sosial, sedangkan aku di jurusan teknik. Well, terlalu berbeda kan? Lalu kenapa aku bisa mengenalnya?
Aku bertemu dengannya di acara kampus. Aku langsung tertarik padanya saat melihatnya. Cinta pada pandangan pertama? Ya kurasa begitu.
Dengan bantuan teman-temanku, aku berhasil mengetahui tentangnya. Dan berkat mereka pula aku berhasil berkencan dengannya. Aku sangat bahagia.
Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Dia selalu bersama dengan orang yang bernama Takaki Yuya. Kudengar dia sahabatnya. Mereka sudah mengenal sejak kecil. Aku sering melihatnya jalan bersama dengan Takaki Yuya itu jika sedang tidak bersamaku.
Aku iri dengan Takaki itu. Dia mengenal Kota, (yah aku memanggilnya dengan nama kecilnya, tidak masalah kan aku memanggilnya seperti itu? Dia kan pacarku :p) jauh lebih baik dariku. Dia tahu Kota sedang marah, sedih, kecewa, dan lainnya. Kota memang tidak pandai mengekspresikan dirinya dengan baik, dia menutup dirinya dari orang lain, termasuk padaku sendiri yang merupakan pacarnya.
Aku terdengar seperti cemburu pada Takaki. Benar, aku cemburu padanya. Kota selalu membanggakannya, memujinya, dan membicarakannya disaat kami kehabisan topik. Yang kuharapkan adalah aku mendengar cerita soal Kota, bukan Takaki. Tapi Kota kelihatan sangat bahagia ketika membicarakan Takaki, aku tidak tega merusak kebahagiaannya, jadi kuputuskan untuk diam mendengarkan cerita Yabu tentang Takaki hingga aku bosan.
"Apa arti Takaki bagimu?"
Kota terdiam. Aku tidak menyangka kalau pertanyaanku yang setengah bercanda ini dianggap serius olehnya. Wajahnya tampak sangat serius. Jauh lebih serius dibandingkan saat dia mengerjakan tugas kuliahnya yang bertumpuk.
"Takaki itu....... Sahabatku"
Ada jeda yang cukup lama saat Kota menjawab itu. Aku yakin, jawabannya yang sebenarnya bukan itu. Sekarang aku malah berniat mencari tahu tentang mereka berdua gara-gara reaksi Kota itu.
Aku mulai bertanya pada orang-orang yang mengenal Yabu dan Takaki. Jawaban mereka selalu sama. Yabu dan Takaki adalah sahabat sejak kecil. Mereka seperti tidak bisa dipisahkan. Dimana ada Yabu, maka Takaki juga ada disana. Seperti amplop dan perangko. Tidak pernah terpisahkan.
“Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kau sering bertanya soal Takaki”
Aku tersedak. Aku sama sekali tidak menyangka dia akan menanyakan hal itu. Benar-benar di luar dugaan. Luar biasa sekali jaringan informasinya.
“Tidak. Aku hanya penasaran dengan hubungan kalian berdua”
“Penasaran?”, dia mengangkat alisnya. “Soal apa? Sudah kubilang kalau aku dan Takaki adalah sahabat dari dulu kan? Apa lagi yang ingin kau tanyakan?”
“Well... aku merasa hubungan kalian lebih dari itu”, jawabku polos.
“Lebih dari itu? Apa maksudmu?”, Yabu tertawa mendengar ucapanku. “Yah, Takaki adalah orang yang selalu bersamaku sejak kecil. Dia bersama denganku jauh lebih lama darimu. Tentu saja dia jauh lebih mengenalku daripada dirimu”
Aku cemberut. Yabu tertawa melihat reaksiku. Tidak lama aku bisa merasakan tangannya di kepalaku. Dia mengelus kepalaku dengan lembut.
“Kekasihku cemburu pada sahabatku. Manisnya...”.
Aku semakin cemberut mendengar ucapannya. Tidak lama, aku melihat Takaki berjalan melewati kami berdua. Wajahnya tertunduk lesu. Tidak seperti biasanya, dia tidak menyapa Yabu. Kesampingkan soal aku karena Takaki memang jarang sekali menyapaku, dia menyapaku kalau Yabu ada di sampingku. Yah, bisa dibilang dia lebih nyaman berbicara dengan Yabu, bukan denganku.
“Ah Takaki!”
Yabu langsung berlari meninggalkanku sendirian. Wajahnya terlihat sedikit panik. Kulihat dia berlari menghampiri Takaki. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena jarakku cukup jauh dari mereka. Beberapa menit kemudian, aku bisa melihat Yabu berjalan bersama dengan Takaki ke suatu tempat. Sedangkan aku hanya diam di tempat memandangi punggung kedua orang yang sedang berjalan menjauh itu.
“Apakah Takaki lebih penting daripada aku?”
Aku sedikit kesal. Yabu langsung pergi begitu saja menuju Takaki tanpa mengatakan apapun padaku. Apa Yabu lupa kalau aku tadi cemberut gara-gara Takaki? Dan sekarang dia malah pergi bersama dengan Takaki.
Baka! Kenapa aku begitu mencemaskan soal mereka berdua? Yabu dan Takaki sudah kenal sejak dulu. Aku tidak berhak memisahkan hubungan persahabatan mereka yang sudah terjalin begitu lama. Sahabat susah didapat dan aku tahu itu.
---***---
Beberapa bulan kemudian, kegundahanku mengenai hubungan Yabu dan Takaki lenyap. Itu semua karena perkataan yang tidak disangka dari Yabu.
“Maukah kau jadi pendamping hidupku?”
Aku langsung memeluknya sebagai jawaban. Saat ini aku tidak bisa berbicara dengan baik karena aku kehabisan kata-kata. Aku tidak bisa berpikir apa yang harus kukatakan. Semuanya bercampur menjadi satu. Yabu hanya tertawa dan memelukku dengan erat.
Tidak lama kemudian, kami menikah. Saat itulah aku sangat berterimakasih pada Takaki. Dan untuk pertama kalinya aku berbicara dengannya secara private.
“Terimakasih”, ucapnya.
“Untuk apa?”, tanyaku tidak mengerti.
“Terimakasih karena sudah menjadi pendamping hidupnya. Aku bersyukur karena kaulah orang yang dipilih oleh Kota. Aku merasa kau pantas ada di sisinya. Aku tidak bisa menerima orang lain selain dirimu”
Aku terdiam. Ini pertama kalinya Takaki berbicara banyak padaku. Kuputuskan tetap mengunci mulutku sementara Takaki melanjutkan ceritanya.
“Kau bukan perempuan pertama yang mendekati Kota” Aku mengangguk setuju. Aku tahu soal itu. Dua orang sahabat ini memang populer. “Dan aku tahu kalau beberapa di antara mereka memiliki maksud tersembunyi saat mendekatinya. Oleh karena itu aku selalu mengawasi Kota agar dia tidak terkena jebakan perempuan licik seperti itu. Awalnya kukira kau sama seperti mereka”
“Kenapa kau berpikir seperti itu”, tanyaku sedikit kesal. Jujur, aku tidak suka orang yang berpikiran buruk padaku.
“Karena kau sering menanyakan soal kami pada orang lain”. Aku tersentak. Kulihat Takaki tersenyum padaku saat dia melihat reaksiku. “Jangan remehkan kami, jaringan informasi kami sangat luas”
Ah, Yabu juga mengetahui soal ini dulu. Tidak heran kalau Takaki juga mengetahuinya.
“Oleh karena itu, pada awalnya aku merasa lebih baik Yabu tidak bersama denganmu. Tapi, setelah aku mengamatimu baik-baik, aku yakin kalau kau berbeda dengan yang lain. Perasaanmu pada Yabu sangat tulus”
Wajahku memerah saat mendengar ucapan Takaki. Ucapannya terdengar seperti sebuah pujian.
"Jaga Yabu baik-baik ya. Aku yakin kau bisa membahagiakannya", Takaki menatapku lurus. "Kalau kau sampai membuatnya sedih...", dia mengepalkan tangan kanannya. "Aku tidak akan mengampunimu"
Glek. Seketika aku merasa ada udara dingin yang menusuk kulitku. Tatapan tajam dari mata Takaki membuatku gentar. Rupanya Takaki tidak main-main dengan ucapannya. Dia serius.
"Kenapa kau sampai sejauh itu hanya demi Yabu?", tanyaku.
Takaki memejamkan matanya. Ada sedikit jeda waktu sebelum dia menjawabku. "Karena bagiku Yabu sangat berharga. Dia sahabatku"
Lagi. Aku merasakan ada sesuatu yang lain saat dia mengatakan Yabu adalah sahabatnya. Sama seperti Yabu saat itu. Ada makna lain di kata 'sahabat' yang mereka lontarkan. Benar-benar sesuatu yang mungkin tidak bisa mereka ungkapkan.
Dan dalam pikiranku muncul kalimat yang aneh. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berpikiran seperti itu.
'Seandainya Yabu disuruh memilih antara aku dan Takaki, maka siapa yang akan dia pilih?'
---***---
Panas.
Ada apa ini? Kenapa sekelilingku terasa panas?
Aku membuka mataku. Lautan api yang menyala membuatku takut. Aku terjebak di lautan api ini. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Hari ini adalah peringatan sebulan pernikahanku. Kami bermaksud merayakannya di rumah karena kebetulan Kota libur, kami bermaksud memasak makan malam bersama, lalu tiba-tiba tabung gas rumah kami meledak dan api mulai menyambar. Setelah itu aku tidak ingat apa yang terjadi.
Kuedarkan pandanganku, mencari sosok suamiku. Lautan api ini membuatku takut.
"Kota!"
Tidak ada jawaban darinya.
“Kota!!! Kau dimana? Jawab aku...”
Aku hampir menangis ketika aku tidak bisa melihat maupun mendengar suaranya. Air mataku mulai menetes dan langsung mengering karena panasnya api yang menyala di sekitarku.
Grep. Seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku ingin menjerit ketakutan, tapi begitu aku mengenal pemilik tangan itu, aku langsung menangis bahagia.
“Kota...”
“Maafkan aku, aku meninggalkanmu. Kau baik-baik saja?”, tanyanya. Aku mengangguk. Kota tersenyum lega. “Tenang, aku ada disini bersamamu”
Ucapan Kota membuatku tenang. Meskipun kami masih terjebak dalam lautan api, tapi karena Kota ada di sampingku, aku bisa merasa tenang.
“Sekarang, bagaimana kita keluar dari sini?”
Aku mengedarkan pandanganku, semua jalan telah tertutup api. Tidak ada celah yang bisa kami lewati. Aku sudah pasrah. Kalaupun ini akhir kehidupanku, setidaknya aku tidak menyesal karena ada Kota di sampingku.
BRAK! Terdengar bunyi sesuatu yang jatuh. Saat itulah terbentuk suatu jalan yang bisa kami lewati. Seseorang berdiri disana. Seseorang datang menyelamatkan kami.
“Yabu!”
“Takaki!”
Aku terkejut melihat Takaki yang datang menolong kami. Aku melirik sekilas ke arah Kota, wajahnya terlihat senang dan lega ketika melihat Takaki datang. Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi ada rasa kecemburuan di hatiku. Kenapa aku mesti cemburu pada Takaki?
“Kenapa kau ada disini?”, tanya Kota sambil berdiri memapahku.
“Aku merasakan firasat tidak enak soalmu. Aku meneleponmu, tapi tidak tersambung. Aku terkejut setengah mati saat melihat rumahmu kebakaran saat aku kemari”
“Kau memang bisa kuandalkan Takaki”, Kota tersenyum hangat pada Takaki. Takaki pun balas tersenyum. Wajah mereka berdua tidak pernah kulihat sebelumnya dan aku tahu senyum itu penuh arti bagi mereka berdua.
“Cepat. Api mulai menyambar kemari”
Kami bertiga segera mempercepat langkah kami. Takaki membuat jalan baru sementara Kota menuntunku. Sedikit lagi kami akan sampai di pintu keluar.
Kretek... krieet...
Bunyi apa itu?
“AWAS!!!”
Ada sepasang tangan yang mendorongku dan Kota. Aku merintih kesakitan karena tubuhku mendarat mulus di lantai.
“Takaki!!!”
Aku menoleh ke belakang. Kulihat Takaki sedang terjebak. Rupanya atap rumah kami roboh dan hampir menimpa kami tadi. Untunglah Takaki mendorong kami sehingga kami tidak tertimpa reruntuhan, tapi sebagai gantinya, Takaki kini terjebak dan tidak bisa lewat.
“Tunggu disitu! Aku akan menyelamatkanmu”
Kota segera menghampiri Takaki. Dalam hatiku, aku tidak ingin Kota pergi, tapi suaraku tidak bisa keluar. Kuraih tanganku, tapi tidak sampai.
“Tidak usah kemari!”, seruan Takaki membuat Kota berhenti. “Kalian berdua segera keluar dari sini! Aku pasti akan menyusul kalian”
“Tapi...”
“Kota!”, ini pertama kalinya aku mendengar Takaki memanggil Kota dengan sebutan ‘Kota’. “Istrimu perlu bantuan! Segera keluar dari sini dan selamatkan diri kalian. Tidak usah khawatirkan soal diriku, aku pasti bisa menyusul kalian”
Kota melihat ke arahku yang kini pucat pasi. Dia kembali melihat ke arah Takaki.
“Berjanjilah padaku kalau kau akan menyusulku secepatnya”
Takaki mengacungkan jempolnya. Kota menggendongku dan berjalan keluar rumah. sekilas aku melihat wajah Takaki sebelum pergi. Aku tidak bisa melupakan wajah itu dan mungkin selamanya tidak akan kulupakan. Wajah itu membuatku mengerti apa yang terjadi di antara mereka berdua. Membuatku mengerti ikatan tidak terlihat yang terjalin di antara mereka berdua.
Sesampainya diluar, petugas penyelamat segera menolong kami. Aku menarik nafas lega karena berhasil keluar dari lautan api itu. Aku bergidik ngeri saat melihat api yang menyala dari rumahku.
“Dimana dia?”
Aku melirik ke arah Kota yang terus berdiri melihat ke arah pintu. Dia menunggu Takaki keluar dari sana. Dia memainkan kedua tangannya, tanda kalau dia sedang cemas dan panik.
Yabu melihat ke arahku yang masih terduduk lemas. Dia memelukku dengan sangat erat.
“Aku menyayangimu, terimakasih sudah menemaniku dan mencintaiku”, bisik Kota.
Kota menatapku lekat-lekat. Matanya yang kecil itu seakan menembus masuk pikiranku. Aku tahu wajah itu, itu wajah yang sama dengan wajah Takaki tadi.
Aku ingin bertanya apa maksud Kota mengatakan hal seperti itu. Tapi, mulutku telah terkunci oleh bibirnya. Saat aku sadar, sosok Kota sudah menghilang. Dan aku tahu kalau dia masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan Takaki.
‘Kenapa... kenapa kau mengatakan hal itu?’
5 menit, 10 menit, aku menunggu sosok Kota. Aku berharap bisa melihat Kota keluar bersama dengan Takaki. Aku terus berdoa, memohon keselamatan mereka berdua.
Dan hingga api padam, sosok Kota tidak pernah keluar dari rumah kami.
---***---
Seminggu telah berlalu sejak kejadian kebaran itu. Selama itu pula aku dirawat di Rumah Sakit. Baru hari ini aku diijinkan keluar.
Aku menarik nafas panjang. Udara luar terasa begitu sejuk. Berbeda dengan udara di Rumah Sakit. Aku melangkahkan kakiku menuju tempat dimana Kota berada. Aku ingin kesana setelah aku keluar. Itulah niatku. Sebelumnya, aku berbelok ke sebuah toko dan membeli 2 ikat bunga iris.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, aku sampai di tempat yang aku inginkan. Aku tersenyum ketika melihat nama yang tertulis di sebuah batu nisan di depanku.
Yabu Kota.
Aku meletakkan bunga iris yang kubeli. Seikat lagi, kuletakkan di sebelah batu nisan Kota.
Takaki Yuya.
Aku memandang kedua batu nisan itu bergantian. Tanpa kusadari air mata menetes keluar dari kantung mataku.
“Pada akhirnya, kau memilihnya... Kota”, aku memandangi makam Takaki. “Ne Takaki... kau curang... pada akhirnya, kaulah yang bersama dengan Kota. Kaulah yang dipilihnya untuk mendampinginya disana”
Dan selamanya aku tidak bisa menghancurkan ikatan antara mereka berdua.
END
Main cast : OC (reader)
Genre : Angst
Aku adalah wanita yang berbahagia. Bagaimana tidak? Aku bekerja sesuai dengan pekerjaan yang kuinginkan. Aku memiliki teman-teman yang baik dan selalu menemaniku. Dan yang membuatku bangga, aku berhasil mendapatkan orang yang kusukai. Siapa lagi kalau bukan Yabu Kota.
Aku menyukainya sejak kami kuliah. Kami kuliah di jurusan yang berbeda, tapi kampus kami sama. Dia di jurusan sosial, sedangkan aku di jurusan teknik. Well, terlalu berbeda kan? Lalu kenapa aku bisa mengenalnya?
Aku bertemu dengannya di acara kampus. Aku langsung tertarik padanya saat melihatnya. Cinta pada pandangan pertama? Ya kurasa begitu.
Dengan bantuan teman-temanku, aku berhasil mengetahui tentangnya. Dan berkat mereka pula aku berhasil berkencan dengannya. Aku sangat bahagia.
Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Dia selalu bersama dengan orang yang bernama Takaki Yuya. Kudengar dia sahabatnya. Mereka sudah mengenal sejak kecil. Aku sering melihatnya jalan bersama dengan Takaki Yuya itu jika sedang tidak bersamaku.
Aku iri dengan Takaki itu. Dia mengenal Kota, (yah aku memanggilnya dengan nama kecilnya, tidak masalah kan aku memanggilnya seperti itu? Dia kan pacarku :p) jauh lebih baik dariku. Dia tahu Kota sedang marah, sedih, kecewa, dan lainnya. Kota memang tidak pandai mengekspresikan dirinya dengan baik, dia menutup dirinya dari orang lain, termasuk padaku sendiri yang merupakan pacarnya.
Aku terdengar seperti cemburu pada Takaki. Benar, aku cemburu padanya. Kota selalu membanggakannya, memujinya, dan membicarakannya disaat kami kehabisan topik. Yang kuharapkan adalah aku mendengar cerita soal Kota, bukan Takaki. Tapi Kota kelihatan sangat bahagia ketika membicarakan Takaki, aku tidak tega merusak kebahagiaannya, jadi kuputuskan untuk diam mendengarkan cerita Yabu tentang Takaki hingga aku bosan.
"Apa arti Takaki bagimu?"
Kota terdiam. Aku tidak menyangka kalau pertanyaanku yang setengah bercanda ini dianggap serius olehnya. Wajahnya tampak sangat serius. Jauh lebih serius dibandingkan saat dia mengerjakan tugas kuliahnya yang bertumpuk.
"Takaki itu....... Sahabatku"
Ada jeda yang cukup lama saat Kota menjawab itu. Aku yakin, jawabannya yang sebenarnya bukan itu. Sekarang aku malah berniat mencari tahu tentang mereka berdua gara-gara reaksi Kota itu.
Aku mulai bertanya pada orang-orang yang mengenal Yabu dan Takaki. Jawaban mereka selalu sama. Yabu dan Takaki adalah sahabat sejak kecil. Mereka seperti tidak bisa dipisahkan. Dimana ada Yabu, maka Takaki juga ada disana. Seperti amplop dan perangko. Tidak pernah terpisahkan.
“Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kau sering bertanya soal Takaki”
Aku tersedak. Aku sama sekali tidak menyangka dia akan menanyakan hal itu. Benar-benar di luar dugaan. Luar biasa sekali jaringan informasinya.
“Tidak. Aku hanya penasaran dengan hubungan kalian berdua”
“Penasaran?”, dia mengangkat alisnya. “Soal apa? Sudah kubilang kalau aku dan Takaki adalah sahabat dari dulu kan? Apa lagi yang ingin kau tanyakan?”
“Well... aku merasa hubungan kalian lebih dari itu”, jawabku polos.
“Lebih dari itu? Apa maksudmu?”, Yabu tertawa mendengar ucapanku. “Yah, Takaki adalah orang yang selalu bersamaku sejak kecil. Dia bersama denganku jauh lebih lama darimu. Tentu saja dia jauh lebih mengenalku daripada dirimu”
Aku cemberut. Yabu tertawa melihat reaksiku. Tidak lama aku bisa merasakan tangannya di kepalaku. Dia mengelus kepalaku dengan lembut.
“Kekasihku cemburu pada sahabatku. Manisnya...”.
Aku semakin cemberut mendengar ucapannya. Tidak lama, aku melihat Takaki berjalan melewati kami berdua. Wajahnya tertunduk lesu. Tidak seperti biasanya, dia tidak menyapa Yabu. Kesampingkan soal aku karena Takaki memang jarang sekali menyapaku, dia menyapaku kalau Yabu ada di sampingku. Yah, bisa dibilang dia lebih nyaman berbicara dengan Yabu, bukan denganku.
“Ah Takaki!”
Yabu langsung berlari meninggalkanku sendirian. Wajahnya terlihat sedikit panik. Kulihat dia berlari menghampiri Takaki. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena jarakku cukup jauh dari mereka. Beberapa menit kemudian, aku bisa melihat Yabu berjalan bersama dengan Takaki ke suatu tempat. Sedangkan aku hanya diam di tempat memandangi punggung kedua orang yang sedang berjalan menjauh itu.
“Apakah Takaki lebih penting daripada aku?”
Aku sedikit kesal. Yabu langsung pergi begitu saja menuju Takaki tanpa mengatakan apapun padaku. Apa Yabu lupa kalau aku tadi cemberut gara-gara Takaki? Dan sekarang dia malah pergi bersama dengan Takaki.
Baka! Kenapa aku begitu mencemaskan soal mereka berdua? Yabu dan Takaki sudah kenal sejak dulu. Aku tidak berhak memisahkan hubungan persahabatan mereka yang sudah terjalin begitu lama. Sahabat susah didapat dan aku tahu itu.
---***---
Beberapa bulan kemudian, kegundahanku mengenai hubungan Yabu dan Takaki lenyap. Itu semua karena perkataan yang tidak disangka dari Yabu.
“Maukah kau jadi pendamping hidupku?”
Aku langsung memeluknya sebagai jawaban. Saat ini aku tidak bisa berbicara dengan baik karena aku kehabisan kata-kata. Aku tidak bisa berpikir apa yang harus kukatakan. Semuanya bercampur menjadi satu. Yabu hanya tertawa dan memelukku dengan erat.
Tidak lama kemudian, kami menikah. Saat itulah aku sangat berterimakasih pada Takaki. Dan untuk pertama kalinya aku berbicara dengannya secara private.
“Terimakasih”, ucapnya.
“Untuk apa?”, tanyaku tidak mengerti.
“Terimakasih karena sudah menjadi pendamping hidupnya. Aku bersyukur karena kaulah orang yang dipilih oleh Kota. Aku merasa kau pantas ada di sisinya. Aku tidak bisa menerima orang lain selain dirimu”
Aku terdiam. Ini pertama kalinya Takaki berbicara banyak padaku. Kuputuskan tetap mengunci mulutku sementara Takaki melanjutkan ceritanya.
“Kau bukan perempuan pertama yang mendekati Kota” Aku mengangguk setuju. Aku tahu soal itu. Dua orang sahabat ini memang populer. “Dan aku tahu kalau beberapa di antara mereka memiliki maksud tersembunyi saat mendekatinya. Oleh karena itu aku selalu mengawasi Kota agar dia tidak terkena jebakan perempuan licik seperti itu. Awalnya kukira kau sama seperti mereka”
“Kenapa kau berpikir seperti itu”, tanyaku sedikit kesal. Jujur, aku tidak suka orang yang berpikiran buruk padaku.
“Karena kau sering menanyakan soal kami pada orang lain”. Aku tersentak. Kulihat Takaki tersenyum padaku saat dia melihat reaksiku. “Jangan remehkan kami, jaringan informasi kami sangat luas”
Ah, Yabu juga mengetahui soal ini dulu. Tidak heran kalau Takaki juga mengetahuinya.
“Oleh karena itu, pada awalnya aku merasa lebih baik Yabu tidak bersama denganmu. Tapi, setelah aku mengamatimu baik-baik, aku yakin kalau kau berbeda dengan yang lain. Perasaanmu pada Yabu sangat tulus”
Wajahku memerah saat mendengar ucapan Takaki. Ucapannya terdengar seperti sebuah pujian.
"Jaga Yabu baik-baik ya. Aku yakin kau bisa membahagiakannya", Takaki menatapku lurus. "Kalau kau sampai membuatnya sedih...", dia mengepalkan tangan kanannya. "Aku tidak akan mengampunimu"
Glek. Seketika aku merasa ada udara dingin yang menusuk kulitku. Tatapan tajam dari mata Takaki membuatku gentar. Rupanya Takaki tidak main-main dengan ucapannya. Dia serius.
"Kenapa kau sampai sejauh itu hanya demi Yabu?", tanyaku.
Takaki memejamkan matanya. Ada sedikit jeda waktu sebelum dia menjawabku. "Karena bagiku Yabu sangat berharga. Dia sahabatku"
Lagi. Aku merasakan ada sesuatu yang lain saat dia mengatakan Yabu adalah sahabatnya. Sama seperti Yabu saat itu. Ada makna lain di kata 'sahabat' yang mereka lontarkan. Benar-benar sesuatu yang mungkin tidak bisa mereka ungkapkan.
Dan dalam pikiranku muncul kalimat yang aneh. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berpikiran seperti itu.
'Seandainya Yabu disuruh memilih antara aku dan Takaki, maka siapa yang akan dia pilih?'
---***---
Panas.
Ada apa ini? Kenapa sekelilingku terasa panas?
Aku membuka mataku. Lautan api yang menyala membuatku takut. Aku terjebak di lautan api ini. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Hari ini adalah peringatan sebulan pernikahanku. Kami bermaksud merayakannya di rumah karena kebetulan Kota libur, kami bermaksud memasak makan malam bersama, lalu tiba-tiba tabung gas rumah kami meledak dan api mulai menyambar. Setelah itu aku tidak ingat apa yang terjadi.
Kuedarkan pandanganku, mencari sosok suamiku. Lautan api ini membuatku takut.
"Kota!"
Tidak ada jawaban darinya.
“Kota!!! Kau dimana? Jawab aku...”
Aku hampir menangis ketika aku tidak bisa melihat maupun mendengar suaranya. Air mataku mulai menetes dan langsung mengering karena panasnya api yang menyala di sekitarku.
Grep. Seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku ingin menjerit ketakutan, tapi begitu aku mengenal pemilik tangan itu, aku langsung menangis bahagia.
“Kota...”
“Maafkan aku, aku meninggalkanmu. Kau baik-baik saja?”, tanyanya. Aku mengangguk. Kota tersenyum lega. “Tenang, aku ada disini bersamamu”
Ucapan Kota membuatku tenang. Meskipun kami masih terjebak dalam lautan api, tapi karena Kota ada di sampingku, aku bisa merasa tenang.
“Sekarang, bagaimana kita keluar dari sini?”
Aku mengedarkan pandanganku, semua jalan telah tertutup api. Tidak ada celah yang bisa kami lewati. Aku sudah pasrah. Kalaupun ini akhir kehidupanku, setidaknya aku tidak menyesal karena ada Kota di sampingku.
BRAK! Terdengar bunyi sesuatu yang jatuh. Saat itulah terbentuk suatu jalan yang bisa kami lewati. Seseorang berdiri disana. Seseorang datang menyelamatkan kami.
“Yabu!”
“Takaki!”
Aku terkejut melihat Takaki yang datang menolong kami. Aku melirik sekilas ke arah Kota, wajahnya terlihat senang dan lega ketika melihat Takaki datang. Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi ada rasa kecemburuan di hatiku. Kenapa aku mesti cemburu pada Takaki?
“Kenapa kau ada disini?”, tanya Kota sambil berdiri memapahku.
“Aku merasakan firasat tidak enak soalmu. Aku meneleponmu, tapi tidak tersambung. Aku terkejut setengah mati saat melihat rumahmu kebakaran saat aku kemari”
“Kau memang bisa kuandalkan Takaki”, Kota tersenyum hangat pada Takaki. Takaki pun balas tersenyum. Wajah mereka berdua tidak pernah kulihat sebelumnya dan aku tahu senyum itu penuh arti bagi mereka berdua.
“Cepat. Api mulai menyambar kemari”
Kami bertiga segera mempercepat langkah kami. Takaki membuat jalan baru sementara Kota menuntunku. Sedikit lagi kami akan sampai di pintu keluar.
Kretek... krieet...
Bunyi apa itu?
“AWAS!!!”
Ada sepasang tangan yang mendorongku dan Kota. Aku merintih kesakitan karena tubuhku mendarat mulus di lantai.
“Takaki!!!”
Aku menoleh ke belakang. Kulihat Takaki sedang terjebak. Rupanya atap rumah kami roboh dan hampir menimpa kami tadi. Untunglah Takaki mendorong kami sehingga kami tidak tertimpa reruntuhan, tapi sebagai gantinya, Takaki kini terjebak dan tidak bisa lewat.
“Tunggu disitu! Aku akan menyelamatkanmu”
Kota segera menghampiri Takaki. Dalam hatiku, aku tidak ingin Kota pergi, tapi suaraku tidak bisa keluar. Kuraih tanganku, tapi tidak sampai.
“Tidak usah kemari!”, seruan Takaki membuat Kota berhenti. “Kalian berdua segera keluar dari sini! Aku pasti akan menyusul kalian”
“Tapi...”
“Kota!”, ini pertama kalinya aku mendengar Takaki memanggil Kota dengan sebutan ‘Kota’. “Istrimu perlu bantuan! Segera keluar dari sini dan selamatkan diri kalian. Tidak usah khawatirkan soal diriku, aku pasti bisa menyusul kalian”
Kota melihat ke arahku yang kini pucat pasi. Dia kembali melihat ke arah Takaki.
“Berjanjilah padaku kalau kau akan menyusulku secepatnya”
Takaki mengacungkan jempolnya. Kota menggendongku dan berjalan keluar rumah. sekilas aku melihat wajah Takaki sebelum pergi. Aku tidak bisa melupakan wajah itu dan mungkin selamanya tidak akan kulupakan. Wajah itu membuatku mengerti apa yang terjadi di antara mereka berdua. Membuatku mengerti ikatan tidak terlihat yang terjalin di antara mereka berdua.
Sesampainya diluar, petugas penyelamat segera menolong kami. Aku menarik nafas lega karena berhasil keluar dari lautan api itu. Aku bergidik ngeri saat melihat api yang menyala dari rumahku.
“Dimana dia?”
Aku melirik ke arah Kota yang terus berdiri melihat ke arah pintu. Dia menunggu Takaki keluar dari sana. Dia memainkan kedua tangannya, tanda kalau dia sedang cemas dan panik.
Yabu melihat ke arahku yang masih terduduk lemas. Dia memelukku dengan sangat erat.
“Aku menyayangimu, terimakasih sudah menemaniku dan mencintaiku”, bisik Kota.
Kota menatapku lekat-lekat. Matanya yang kecil itu seakan menembus masuk pikiranku. Aku tahu wajah itu, itu wajah yang sama dengan wajah Takaki tadi.
Aku ingin bertanya apa maksud Kota mengatakan hal seperti itu. Tapi, mulutku telah terkunci oleh bibirnya. Saat aku sadar, sosok Kota sudah menghilang. Dan aku tahu kalau dia masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan Takaki.
‘Kenapa... kenapa kau mengatakan hal itu?’
5 menit, 10 menit, aku menunggu sosok Kota. Aku berharap bisa melihat Kota keluar bersama dengan Takaki. Aku terus berdoa, memohon keselamatan mereka berdua.
Dan hingga api padam, sosok Kota tidak pernah keluar dari rumah kami.
---***---
Seminggu telah berlalu sejak kejadian kebaran itu. Selama itu pula aku dirawat di Rumah Sakit. Baru hari ini aku diijinkan keluar.
Aku menarik nafas panjang. Udara luar terasa begitu sejuk. Berbeda dengan udara di Rumah Sakit. Aku melangkahkan kakiku menuju tempat dimana Kota berada. Aku ingin kesana setelah aku keluar. Itulah niatku. Sebelumnya, aku berbelok ke sebuah toko dan membeli 2 ikat bunga iris.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, aku sampai di tempat yang aku inginkan. Aku tersenyum ketika melihat nama yang tertulis di sebuah batu nisan di depanku.
Yabu Kota.
Aku meletakkan bunga iris yang kubeli. Seikat lagi, kuletakkan di sebelah batu nisan Kota.
Takaki Yuya.
Aku memandang kedua batu nisan itu bergantian. Tanpa kusadari air mata menetes keluar dari kantung mataku.
“Pada akhirnya, kau memilihnya... Kota”, aku memandangi makam Takaki. “Ne Takaki... kau curang... pada akhirnya, kaulah yang bersama dengan Kota. Kaulah yang dipilihnya untuk mendampinginya disana”
Dan selamanya aku tidak bisa menghancurkan ikatan antara mereka berdua.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar