Senin, 29 Februari 2016

ANGRY

Cast : Takaki Yuya & Arioka Daiki
Genre : Romance
Rate : R dengan sedikit NC di bagian omake
Summary : Takaki marah pada Daiki yang meninggalkannya. Bagaimana Daiki meminta maaf padanya?
Disclaimer : plot cerita adalah milikku. Ideku. Tapi castnya bukan milikku... :(

---***---

Suasana di ruang ganti ini cukup suram. Meskipun Hikaru mengeluarkan leluconnya, meskipun Inoo bersikap lebih random dari biasanya, dan meskipun semuanya tertawa seperti biasanya, entah kenapa ada yang kurang.

Hikaru melirik ke arah lelaki berambut coklat yang sedari tadi hanya diam memainkan hpnya sambil mendengarkan musik melalui headsetnya. Lelaki yang biasanya tertawa paling keras dan memberikan komentar lucu itu kini hanya diam tidak bersuara. Bahkan guyonan Hikaru yang paling lucu itupun tidak membuat lelaki itu tertawa.

Daiki yang duduk di sebelah lelaki itu mendesah nafas panjang. Dia tahu sesuatu. Dia tahu kenapa lelaki itu bersikap seperti itu. Ya, mau bagaimana lagi, itu semua memang salahnya dari awal.

"Mou... Bakaki... Kenapa kau suram seperti itu? Ayo tertawalah", Hikaru yang tidak tahan lagi akhirnya membuka suara dan mencoba memancing bicara lelaki itu.

Daiki melirik takut ke arah Takaki. Melihat reaksinya. Dan benar dugaannya, Takaki hanya diam tidak peduli. Seakan dia tidak mendengar dan melihat apapun.

'Dia benar-benar marah', batin Daiki.

"Daiki", Yabu memanggil Daiki. Suaranya terdengar tegas.

Daiki beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Yabu, sebelum pergi dia sempat melirik ke arah Takaki sebentar.

"Apa yang terjadi hingga Takaki marah seperti itu?", tanya Yabu.

"Kenapa kau mengira aku yang membuatnya marah?", Daiki balik bertanya. Dia tidak menyangka Yabu bisa menebak dengan tepat.

"Itu sudah jelas kan? Kemarin dia masih tertawa seperti biasanya. Kalian berdua memiliki pekerjaan lain kan? Berarti yang bisa membuatnya marah hanya kau. Apa yang terjadi?"

Daiki mendesah. Tebakan Yabu tepat. Memang ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Dia akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi.

"Kemarin, kami berjanji untuk pulang bersama setelah selesai kerja. Sebelum pulang, aku dipanggil oleh salah satu staf jadi aku meminta Takaki untuk menunggu sebentar. Aku tidak menyangka kalau pembicaraan kami cukup lama. Ketika selesai, aku merasa sangat capek dan segera memesan taksi untuk pulang. Ketika aku sampai di rumah, aku baru sadar kalau Takaki menungguku"

"Kau pulang duluan meninggalkannya???"

"Umm...", gumam Daiki pelan sambil mengangguk.

"Berapa lama dia menunggumu?", tanya Yabu lagi.

"Manajer bilang dia menungguku sampai 3 jam lebih"

Yabu menepuk dahinya. "Tidak heran dia marah padamu"

"Dan tidak heran juga dia kelihatan mengantuk", Hikaru tiba-tiba ikut dalam pembicaraan sambil menunjuk ke arah Takaki yang tampak sedikit menguap. "Kali ini semua salahmu Daichan"

"Aku tahu. Aku berusaha meminta maaf padanya tadi pagi. Aku berniat menjemputnya sebagai tanda minta maaf, tapi aku kesiangan"

Yabu menepuk pundak Daiki. "Aku harap masalah kalian cepat selesai. Aku tidak ingin melihat Takaki seperti itu lebih lama lagi"

"Benar. Takaki yang biasanya jauh lebih lucu dan mengasyikkan daripada yang sekarang. Dia tampak menyeramkan. Seperti seorang preman sungguhan", tambah Hikaru.

Daiki hanya tampak pasrah. Dia memutuskan untuk segera meminta maaf pada Takaki atau dia akan mendapat omelan dari member yang lain karena membuat suasana suram.

"Oke.. Semuanya, tolong segera ke lokasi. Pemotretan akan segera dimulai", ucap salah seorang staff.

Semua member segera keluar tak terkecuali Takaki. Daiki segera menghampirinya.

"Ta- ah, Yuya... Maafkan aku. Kau marah karena aku kan?"

"Aku tidak marah kok", jawab Takaki tanpa melihat ke arah Daiki sedikitpun. Dia berjalan begitu saja melewati Daiki.

Daiki hanya mendesah. Matanya fokus ke punggung lelaki yang bertubuh lebih tinggi darinya itu. 'Kau masih marah padaku', batin Daiki. Dengan berat hati, dia mengikutinya dari belakang dan memikirkan cara lain untuk meredakan kemarahan lelaki berambut coklat itu.

---***---
Daiki benar-benar berniat meminta maaf. Dia terus mengikuti Takaki kemana-mana. Bagaikan anak ayam mengikuti induknya. Apapun Daiki lakukan untuk menarik perhatian Takaki.

"Kalau aku jadi Yuya, aku pasti tambah kesal", gumam Yamada yang sedikit terganggu melihat tingkah Daiki yang selalu mengikuti Takaki kemana-mana.

"Dan hebatnya, Yuyan bersikap seolah Daiki tidak ada. Bahkan ketika Daiki duduk di pangkuannya saja Yuyan tidak peduli", Chinen menunjuk ke arah Daiki yang kini sedang duduk di pangkuan Takaki sambil melihat ke arahnya.

"Apa benar mereka sedang bertengkar? Aku malah seperti melihat pasangan yang sedang bermesraan disini", ucap Yuto, dari nada suaranya dia tampak sedikit kesal melihat sikap dua orang itu yang dinilainya 'mesra'. Yah, orang yang tidak tahu situasi sebenarnya pasti mengira dua orang itu sedang bermesraan.

"Nee... Yuyan.... Maafkan aku", Daiki masih duduk di pangkuannya. "Yuyan..."

Takaki tetap diam. Dia mengedarkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak bergeming sekalipun Daiki memasang wajah imutnya dan bertingkah selucu mungkin di pangkuannya. Dia benar-benar marah.

"Ah, Inoo-chan setelah giliranmu aku ya?", tanya Takaki pada Inoo yang barusan selesai. Dia sama sekali tidak mempedulikan Daiki yang ada di pangkuannya.

"Etto... Bukan. Giliranmu setelah Hikaru", jawab Inoo sambil melihat ke arah Daiki yang kini mulai merengut. Inoo langsung kabur menjauh dan tidak ingin terlibat pertengkaran dua orang itu.

Daiki tidak tahan lagi. Dia meletakkan kedua tangannya di pipi Takaki dan memaksa Takaki untuk melihat ke arahnya. Detik berikutnya, Daiki menempelkan bibirnya dan mencium Takaki dengan paksa. Awalnya Takaki menolak, tapi Daiki memaksa Takaki.

Semua member menahan nafasnya. Mereka langsung mengalihkan pandangannya dan berpura-pura tidak melihat. Mereka sangat kaget melihat adegan itu. Yah, semuanya tahu kalau mereka kadang berciuman. Tapi mereka berdua selalu melakukan itu secara sembunyi-sembunyi, tidak pernah terang-terangan.

"Cukup"

Takaki akhirnya mengakhiri ciuman mereka. Daiki hanya menunduk diam. Matanya terlihat berair.

"Maafkan aku... Aku tidak akan meninggalkanmu lagi"
Takaki menghela nafas panjang. Kali ini untuk pertama kalinya dalam hari ini, dia melihat ke arah Daiki. Muncul perasaan tidak tega dari hatinya saat melihat Daiki yang hampir menangis.

"Sudah kubilang, aku tidak marah kok"

"Bohong. Kau menghindariku seharian ini"

"Aku tidak marah", ucap Takaki lagi. Kali ini suaranya lebih lembut, menandakan kalau dia sudah kembali seperti biasanya.

"Maafkan aku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi"

Dan setelah itu, Daiki mengakhiri permintaan maafnya dengan mencium Takaki sekali lagi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Takaki membalas ciumannya. Daiki meletakkan tangannya di kepala Takaki, keduanya saling balas mencium.

"Hari ini kita pulang bareng ya?", ucap Daiki setelah mengakhiri ciumannya. Nafasnya masih sedikit memburu.

"Kau yakin? Apa kau tidak akan meninggalkanku lagi?"

"Tidak", Daiki merangkul Takaki. "Karena hari ini aku akan pulang ke tujuan yang sama denganmu"

"Kau yakin?"

"Umm... Besok kita ada waktu libur kan? Ayo kita lakukan seperti biasanya", Daiki mengedipkan matanya.

"Jangan salahkan aku kalau besok kau tidak bisa berjalan", bisik Takaki.

OMAKE

"Yu~yaaan....", Daiki yang baru saja membuka matanya langsung mencari Takaki.

"Apa?", jawab Takaki. Selembar handuk menutupi tubuhnya. Rupanya dia baru saja mandi.

"Kemarilah...", Daiki meminta Takaki untuk mendekat. Takaki menurutinya. Tangan Daiki kemudian melepas balutan handuk yang menutupi tubuh Takaki. Daiki tersenyum dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya. "Bagaimana kalau part kedua?"

Dan tanpa pikir panjang, mereka berdua melakukannya lagi di pagi hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar