Senin, 22 Februari 2016

TEN KNIGHTS - AFTER THAT

Ten Knights sekuel versi TakaDai...

Chapter 4 [Terakhir]

Daiki dan Yuya segera membereskan barang-barang mereka untuk kepindahan mereka. atau lebih tepatnya kembali ke tempat mereka semula. Mereka memutuskan untuk kembali ke kota untuk menemui master. Semakin cepat mereka membicarakan masalah ini pada master akan semakin baik. Kalau ternyata Daiya dan Yuki adalah ksatria keturunan darah murni, maka akan lebih baik kalau mereka segera mendapatkan perlindungan.

“Kita mau kemana mama?”

Daiki sedikit terkejut saat mendapati Yuki berdiri di belakangnya. Daiki melipat baju Yuki dan memasukkannya ke dalam tas.

“Kita akan ke Tokyo sayang. Ke tempat asal mama dan papa”

“Kenapa pindah? Yuki suka tinggal disini”, gumam Yuki pelan. “Jangan-jangan ini gara-gara Yuki tadi ya? Kenapa Yuki bisa begitu ma? Apa yang terjadi pada Yuki dan Daiya?”

Daiki menatap Yuki dengan bingung. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini pada anak perempuannya itu.

“Papa dan mama akan menjelaskannya nanti kalau kita sudah tiba di kota sayang...”, Yuya tiba-tiba masuk ke dalam kamar karena mendengar percakapan kecil keduanya. “Di kota, kita akan bertemu dengan orang yang lebih mengetahui tentang hal ini”

Yuki memandang papanya, “Papa dan mama juga punya kekuatan aneh seperti Yuki?”

Daiki dan Yuya saling berpandangan. Keduanya kemudian mengangguk secara bersamaan. “Iya benar. Kemampuan papa adalah nullification dan mama adalah poison”, jelas Yuya.

“Nullification? Poison?”, tanya Yuki tidak mengerti.

Daiki tersenyum. Dia menggendong Yuki. “Kita akan menjelaskan semuanya besok sayang. Lebih baik Yuki cepat tidur. Besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali”. Daiki membawa Yuki kembali ke kamarnya sedangkan Yuya masih melanjutkan mengemas barang-barang mereka.

Daiki meletakkan Yuki di sebelah Daiya yang tertidur. Daiki merapikan kembali selimut mereka dan menciumi mereka satu persatu sebelum pergi keluar kamar. “Selamat tidur sayang...”, ucap Daiki sebelum menutup pintu kamar tersebut.

“Mereka sudah tidur?”, tanya Yuya.

Daiki mengangguk. “Semua sudah beres?”, tanyanya.

“Sudah. Kita siap berangkat besok pagi. Anak-anak itu bagaimana?”, tanya Yuya khawatir.

“Oh... anak-anak yang beku tadi? Tenanglah. Aku menghipnotis mereka agar ingatan mereka tidak kembali dan melupakan semuanya”

“Darimana kau tahu teknik itu?”

“Hmm? Inoo pernah mengajariku. Untunglah aku masih ingat sedikit”

“Nah, ayo kita pergi tidur juga. Besok kita akan sibuk sekali”. Daiki dan Yuya kembali menuju ke kamar mereka. bersiap untuk kepindahan mereka esok hari.

---***---
Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap. Yuki membantu Daiya yang masih sedikit mengantuk. Daiki dan Yuya sibuk memindahkan barang-barang mereka ke dalam mobil peninggalan Keiko-san. Setelah semuanya siap, Daiya dan Yuki masuk ke dalam mobil menunggu kedua orangtua mereka.

“Akhirnya kita meninggalkan tempat ini juga”, ucap Yuya sebelum mengunci pintu rumah itu.

“Ya.. tidak terasa sudah 10 tahun kita tinggal disini. Aku lumayan bahagia saat tinggal disini”, Daiki mengenang saat-saat mereka tinggal di rumah ini.

“Kita sudah melarikan diri selama 10 tahun, sudah saatnya kita kembali”. Yuya mengunci pintu rumah itu. “Terima kasih untuk segalanya”. Yuya membungkukkan diri di depan rumah itu. Daiki mengikutinya.

“Papa! Mama! Ayo cepat!”, seru Daiya tidak sabar dari dalam mobil. Daiki dan Yuya segera masuk ke dalam mobil. Yuya menyalakan mesin dan mobil mulai melaju meninggalkan rumah Keiko-san yang sudah mereka tinggali selama 10 tahun.

Mobil kini mulai melaju meninggalkan desa kecil yang mereka tinggal selama 10 tahun. Daiki melihat desa yang kini tampak mengecil dari spion kaca mobil. Kenangannya saat tinggal disana berputar kembali dalam ingatannya. Kini mereka benar-benar harus kembali ke kota. Ke tempat asal mereka.
Daiya terus saja mengoceh. Berkali-kali dia menanyakan apa yang dilihatnya. Ini memang pertama kalinya Daiya dan Yuki pergi keluar desa. Yuki dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan adiknya yang penuh rasa ingin tahu itu. sesekali Daiki dan Yuya ikut menjawab pertanyaan Daiya bila Yuki tidak mengetahui jawabannya.

Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, mereka kini telah tiba di kota Tokyo. Suasana hiruk pikuk kota itu sama sekali tidak berubah. Daiya tidak bisa menutup mulutnya saat dia takjub melihat pemandangan kota yang ramai.

“Papa, papa, itu kan papa ya?”, tunjuk Daiya ke arah sebuah papan reklame.

Yuya yang sedang menyetir langsung melihat ke arah papan tersebut. Daiki tampak sangat terkejut melihat papan reklame tersebut. Apalagi Yuya. Selama mereka berdua menghilang, Yuya sama sekali tidak melakukan kegiatan modelingnya. Bagaimana bisa ada fotonya yang terpajang disana?

“Ah, ini pasti perbuatan Chii”, gumam Daiki.

“Benar juga, Chii memiliki kemampuan untuk meniru seseorang kan? Tapi, kenapa dia menyamar menjadi aku? Buat apa?”, tanya Yuya tidak mengerti.

“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Kalau kita bertemu lagi dengannya, kita bisa menanyakannya”, Daiki menoleh ke suatu tempat. “Yuya, bisa kau mampir dulu ke suatu tempat?”

“Kemana?”, tanya Yuya.

“Rumah Sakit. Aku ingin memeriksa kondisi Daiya dan Yuki. Daiya sedikit demam kemarin. Aku juga ingin memastikan kalau tubuh Yuki tidak apa-apa”

“Oh baiklah. Kita akan mampir kesana dulu sebelum bertemu master”, Yuya lalu memutar setir kemudi mobil menuju ke arah Rumah Sakit besar.

Sesampainya disana, mereka langsung memeriksakan kondisi Daiya dan Yuki. Untunglah dokter yang memeriksa mereka mengatakan kalau kondisi mereka baik-baik saja walaupun mereka sedikit lemah. Daiki menghela nafas lega, kemampuan khusus yang bangkit memang menghabiskan tenaga, tapi tampaknya Daiya dan Yuki masih dalam kondisi yang baik.

Yuki dan Daiya kini menunggu dengan tenang di lobi rumah sakit sambil menunggu kedua orangtua mereka yang sibuk mengurus administrasi. Yuki yang merasa haus lalu mengajak Daiya pergi membeli minuman. Mereka berdua lalu berjalan bersama menuju mesin penjual minuman.

“Ayo Daiya, mama sudah meminta kita kembali”, ucap Yuki saat melihat Daiki melambaikan tangannya.

Yuki lalu berjalan di depan dan Daiya mengikutinya dari belakang. Perhatian Daiya kini telah teralihkan oleh sesuatu. Daiya berhenti di sebuah toko mainan yang ada di dalam rumah sakit. Saking asyiknya Daiya melihat mainan itu, Daiya tidak sadar kalau Yuki telah jauh meninggalkan dirinya.

“Kakak... Aku mau ini”, tunjuk Daiya pada sebuah mainan robot. “Kakak?”, Daiya menoleh dan mendapati Yuki tidak ada di sebelahnya. Daiya kini sadar kalau dia telah terpisah dari kakaknya. “Kakak?”

Daiya mulai berjalan mengelilingi rumah sakit. Dia terus mencari sosok Yuki dan kedua orangtuanya. Saking asyiknya Daiya berjalan, dia tidak sadar menabrak seseorang.

 “Ah maaf, kau tidak apa-apa dik?”, seorang lelaki berjas putih langsung berjongkok untuk memeriksa keadaan Daiya.

“Aku tidak apa-apa!”, jawab anak itu. Jawabannya terdengar tegas.

“Oh begitu. Benarkah tidak ada yang sakit?”, tanya dokter itu memastikan sekali lagi.

“Iya! Kalau hanya segini, aku masih bisa tahan. Karena Daiya adalah anak laki-laki, Daiya harus kuat. Daiya tidak boleh cengeng. Itu kata papa”, kata Daiya mantap.

“Namamu Daiya? Hebat. Daiya anak pintar”, kata dokter itu sambil mengusap kepala Daiya. “Kau sendirian?”

Daiya menggelengkan kepalanya, “Tadi Daiya bareng dengan kakak, terus kami pisah. Daiya sekarang lagi nyari kakak”.

“Oh ya, siapa nama kakakmu? Ayo kita cari bersama-sama”, tawar dokter itu.

“Yuki. Nama kakakku, Yuki. Kakak Daiya sangat cantik”.

“Daiya!”, tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang mendekat ke arah mereka. “Kau kemana saja? kucari dari tadi”, anak perempuan itu langsung menggandeng tangan Daiya.

“Tadi Daiya tersesat, terus ketemu ama dokter ini. Dokter ini juga mau bantu Daiya nyari kakak, tapi untung kakak sudah ketemu”, jawab Daiya. Mukanya terlihat sangat bahagia saat melihat kakaknya sudah berada di depannya. Wajahnya tampak sangat polos dan imut.

Anak perempuan itu kemudian melihat ke arah dokter laki-laki itu dan membungkukkan badannya dengan sopan, “Terima kasih sudah menjaga adikku dokter”.

“Sama-sama”, balas dokter itu. Dokter itu menoleh ke arah Daiya, “Syukurlah kau bisa bertemu kakakmu. Lain kali hati-hati ya”.

“Nah Daiya, ayo kita pergi, mama dan papa sudah menunggu diluar”, ucap Yuki, anak perempuan itu. “Jangan lupa berterima kasih pada dokter”.

“Iya... Terima kasih dokter!”, Daiya melambaikan tangannya lagi ke arah dokter muda itu. dokter itu tersenyum sambil membalas lambaian tangan Daiya.

Dokter laki-laki itu terus mengamati Daiya dan Yuki yang berjalan menjauh. “Kedua anak itu... mereka mirip sekali dengan Yuya dan Daichan. Bagaimana keadaan mereka berdua ya?”, ucap dokter itu sambil menerawang ke arah luar jendela.

---***---
“Mama! Papa!”, Daiya langsung berlari memeluk Daiki dan Yuya yang sudah menunggu Daiya dengan cemas. Daiki dan Yuya menghela nafas lega.

“Ayo pergi”, ajak Yuya. Mereka berempat pun masuk kembali ke dalam mobil. Dengan santai, Yuya mengemudikan mobilnya ke arah markas.

“Kita mau kemana papa?”, tanya Daiya.

“Kita akan menemui sang master”, jawab Daiki.

“Master? Siapa itu?”, tanya Yuki.

“Dia adalah guru mama dan papa. Master ini jugalah yang akan menjelaskan mengenai kemampuan aneh yang kalian miliki”, jawab Daiki singkat.

Yuya menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung besar di tengah kota. Daiya dan Yuki menatap gedung itu dengan takjub. Ini pertama kalinya bagi mereka melihat sebuah gedung yang besar dan tinggi. Di desa sebelumnya, tidak ada bangunan yang seperti ini.

“Untunglah tempat ini tidak banyak berubah”, ucap Yuya sambil melihat markas yang sudah lama tidak mereka kunjungi.

“Benar. Tapi, ada sedikit perubahan di sekitar sini”, ucap Daiki sambil melihat beberapa bagian gedung yang tampak sedikit berubah.
Daiki dan Yuya menggandeng tangan Yuki dan Daiya. Mereka berempat pun masuk ke dalam.

“Selamat datang kembali, Takaki-san, Arioka-san”, seorang cewek dengan sopannya menyambut Yuya dan Daiki di depan pintu.

“Senang bertemu denganmu lagi, Naomi”, balas Daiki sambil tersenyum. “Kau sepertinya tidak terlalu terkejut dengan kedatangan kami, apa master sudah tahu?”

Cewek bernama Naomi itu tersenyum. “Benar. Master sudah memberitahu saya kalau kalian berdua akan kemari. master sudah menunggu kedatangan anda. Tapi, saya sedikit terkejut melihat dua malaikat kecil itu”, ucap Naomi sambil melihat ke arah Daiya dan Yuki.

“Ah, ini anak kami. Yang perempuan, namanya Yuki. Yang laki-laki namanya Daiya. Ayo kalian berdua beri salam”, ucap Daiki. Seketika itu juga Daiya dan Yuki langsung membungkuk untuk memberi salam.

“Anak yang manis”, balas Naomi.

“Kalau begitu kami menuju ke master dulu ya... sampai nanti Naomi”

Mereka berempat langsung masuk ke dalam lift. Yuya langsung memencet tombol lantai tempat master berada. Yuya dan Daiki saling bertatapan. Bagaimana bisa master mengetahui tentang mereka. Padahal sebelumnya mereka sama sekali tidak memberi kabar mengenai kedatangan mereka.
Daiki dan Yuya melangkah ke sebuah ruangan yang sudah lama tidak mereka masuki. Yuya membuka pintu ruangan itu dengan gugup. Begitu terbuka, sosok laki-laki tua menyambut mereka dengan senyum. Daiki dan Yuya spontan membungkukkan badan mereka dengan hormat.

“Selamat datang kembali Arioka dan Takaki”, sapa master. “Dan, salam kenal untuk kalian anak-anak manis”, ucap master sambil melihat ke arah Daiya dan Yuki.

Master bangkit dari kursinya dan menghampiri Daiya dan Yuki. “Ini anak-anak kalian?”. Daiki dan Yuya mengangguk bersamaan. Master berjongkok di hadapan Daiya dan Yuki. “Namaku Johnny Kitagawa. Papa dan mamamu biasa memanggil paman ini master. Siapa nama kalian?”

“Namaku Daiya”, jawab Daiya mantap.

“Yuki”, sahut Yuki.

“Daiya dan Yuki ya... kalian mirip sekali dengan orangtua kalian”, master menggenggam kedua tangan Daiya dan Yuki. “Ah, kalian punya kemampuan khusus ya? Berarti kalian juga ksatria ya?”

Daiya dan Yuki hanya menatap master dengan heran. Sedangkan Daiki dan Yuya hanya saling bertatapan saja. Bukan hal baru bagi mereka kalau master bisa mengetahui seseorang memiliki kemampuan khusus.

“Aku mengerti sekarang kenapa kalian berdua kembali kemari setelah sekian lama kalian menghilang”, ucap master sambil menatap ke arah Daiki dan Yuya. “Untunglah kalian kembali kemari. Aku sudah berencana akan mengumpulkan kalian semua. Ada hal penting yang ingin kuberitahukan pada kalian semua”

---***---

Di suatu tempat yang jauh, di negara asing. Seorang pemuda tampak berdiri menikmati udara sejuk di negara itu. Dengan berhati-hati, pemuda itu berjalan seraya dibantu oleh tongkat yang ada di tangannya. Tidak lama, seorang lelaki tanggung mendekati pemuda itu sambil menyulut rokok.

“Keito. Ayo pergi”, ucap Jin seraya mengangkut tas milik pemuda itu.

“Eh, kemana?”, tanya Keito sambil melihat ke arah Jin.

“Si tua itu mengirimiku pesan. Dia meminta kita semua kembali”

---***---
Di sebuah desa. Seorang pemuda tampak asyik merekam pemandangan di hadapannya dengan sebuah kamera di tangannya. Kegiatannya itu terganggu saat HP yang ada di sakunya bergetar. Dengan sedikit kesal, Yuto mengambil HP itu dari sakunya. Pemuda itu tampak sedikit terkejut saat membaca isi pesan di Hpnya.

“Baiklah. Aku akan segera kembali”, pemuda itu lalu membereskan peralatannya dan kembali menuju ke markas.

---***---
Di sebuah desa kecil di daerah timur. Tepatnya di sebuah kuil. Tampak ada sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan yang asyik bermain disana. Yang perempuan tampak sangat aktif. Sedangkan yang laki-laki hanya terdiam melihat kembarannya itu bermain.

Seorang perempuan tampak asyik melihat kedua anak kecil itu bermain. Tak lama, seorang laki-laki berjalan menghampiri mereka. di tangannya, terdapat sepucuk surat.

“Kei, siapkan barangmu. Kita akan kembali ke markas”

“Kenapa?”, tanya Inoo. Yabu lalu menyerahkan surat yang ada di tangannya ke Inoo. Inoo segera membaca isi surat tersebut. Dia kemudian mengerti kenapa Yabu meminta mereka untuk kembali ke markas.

“Keita! Keiko!”, panggil Inoo. Kedua anak kembar itu lalu berlari menuju Inoo. “Kita akan pergi ke Tokyo. Ayo siap-siap!”

---***---
Di wilayah barat. Di sebuah rumah besar.

“Fuka. Kau sudah bangun?”, tanya Hikaru pada pemuda yang sedang duduk di tempat tidurnya.

“Ya”, Fuka membuka album foto yang ada di tangannya.

“Aku akan kembali ke Tokyo. Master memintaku untuk datang kesana. Kau mau ikut?”, tanya Hika.

“Ikut. Aku juga ingin menanyakan soal kakak padanya”, jawab Fuka.

---***---
“Aku pulang!”, seru Yamada saat masuk ke dalam rumah.

“Tadaima!!!”, Yuri langsung berlari dan memeluk Yama tanpa mempedulikan perutnya yang membesar.

“Yuri... sudah kubilang jangan berlari seperti itu. Bahaya buat janinmu”, Yamada berusah mengingatkan kembali Yuri yang kini sedang mengandung anak pertama mereka.

“Ehehehe... Aku kangen padamu sih”, ucap Yuri sambil menjulurkan lidahnya. Yamada hanya menghela nafas melihat tingkah istrinya itu. “Oh ya, aku tadi dapat telepon dari Aru, katanya, master meminta kita untuk berkumpul di markas lusa”

“Kumpul? Kenapa?”, tanya Yama sambil menggantungkan jaketnya.

“Entahlah. Aru tidak memberitahuku. Waktu kita kumpul nanti kan kita juga tahu sendiri”

---***---
2 hari kemudian. Di markas.

“Kami datang pak tua!”, ucap Jin sambil membuka pintu dengan paksa.

“Jin... tidak bisakah kau membuka pintu dengan pelan?”, keluh Keito yang berjalan di belakangnya.

“Ah... Jin seperti biasa ya... tidak berubah sama sekali”, ucap Yuto sambil asyik mengutak-atik kamera yang dipegangnya.

“Paman Jin!!!”, salah satu anak kembar yang duduk di pangkuan Kei langsung berlari ke arah Jin.

“Keiko! Hiyaa... kau semakin cantik saja sekarang”, Jin langsung mengangkat anak perempuan itu dan menggendongnya. “Keita, ayo kemari”, Jin mengulurkan tangannya ke arah anak laki-laki yang tertegun melihat saudara kembarnya. Anak laki-laki itu menggeleng pelan dan menyembunyikan wajahnya di dada Kei.

“Keita ini pemalu. Beda sekali dengan Keiko, saudara kembarnya. Difoto saja dia tidak mau”, sahut Yabu.

“Lama tidak bertemu ya kalian semua...”, ucap Keito sambil melihat ke seluruh ruangan. “Tampaknya kami berdua yang terakhir datang ya...”, ucapnya saat mengetahui kalau Yabu, Inoo, Hika, Yuto, Yama, dan Chii sudah berada di sana semua.

“Keito... Kau bisa melihat?”, tanya Yuto.

“Sayangnya, tidak. Tapi, aku bisa menggunakan kemampuanku. Aku tidak bisa menjelaskannya, yah seperti indra keenam begitulah... Gambar yang kulihat juga tidak terlalu berwarna, tapi setidaknya aku bisa melihat kok”, jawab Keito.

Yuto langsung menepuk pundak Keito. Saking semangatnya, Keito hampir terjatuh. “Itu berita bagus! Aku senang kau bisa melihat lagi”

“Nah, pak tua. Apa yang ingin kau bicarakan?”, tanya Jin sambil menyandarkan dirinya di sofa.

“Aku baru mulai bicara kalau semuanya sudah lengkap”, jawab master.

“Eh, bukankah kita semua sudah ada disini master?”, ucap Yamada tidak mengerti. Dia melihat lagi ke sekeliling ruangan, Yabu, Inoo, Yamada, Hikaru, Yuto, dan Keito, semua ksatria sudah berkumpul. Siapa lagi yang akan datang?

“Kau pikun pak Tua? Bukankah kita semua sudah lengkap?”, Jin tiba-tiba berdiri. Dia merasakan aura yang sudah tidak asing lagi. “Mustahil...”, ucapnya sambil melihat ke arah master.

“Ya, mereka sudah kembali”, ucap master sambil tersenyum lebar.

“Mereka? Siapa...”, ucapan Yama terpotong saat mendengar suara pintu terbuka. Yama langsung membuka mulutnya lebar-lebar saking terkejutnya. Semua yang ada di ruangan itu juga menunjukkan ekspresi yang sama. Kehadiran 2 orang yang tidak terduga ini sangat mengejutkan bagi mereka semua.

“Apa kabar semuanya”, ucap Yuya.

“Kami pulang”, tambah Daiki.

“DAICHAN!!!”, Chii langsung berlari memeluk Daiki. Rasa kangennya meluap saat melihat sepupunya yang sudah lama tidak dia temui.

“YUYA!” Yuto dan Hika langsung berlari ke arah Yuya. Mereka berdua memukul Yuya ringan. Yuya terus merintih kesakitan tapi Yuto dan Hika tidak peduli. Mereka terus memukuli Yuya.

“Kalian kemana saja 10 tahun ini?”, tanya Chinen.

“Syukurlah kalau kalian sudah kembali. kupikir kalian berdua sudah mati saat itu”, ucap Yuto.

“Ah! Itu paman kamera yang ada di taman waktu itu!”. Daiya tiba-tiba masuk dan menunjuk ke arah Yuto.

“Eh? Kau anak kecil yang ada di taman itu ya? Yang sedang bermain bola itu?”, ucap Yuto yang tampak terkejut dengan kemunculan Daiya.
Daiya mengangguk. Dia kemudian melihat ke arah Yama yang sedang berdiri sambil mengamatinya. “Ah! Pak dokter! Kak Yuki! Itu pak dokter yang waktu itu”, Daiya menarik Yuki yang ada di belakangnya.

Yama tampak sangat terkejut melihat dua bocah yang ditemuinya 2 hari lalu di Rumah Sakit. “Eh, kalian berdua anak yang waktu itu ya?”
Daiya dan Yuki mengangguk. Daiki dan Yuya hanya terbengong-bengong melihat kedua anaknya sudah mengenali Yama dan Yuto.

“Daiya, kau sudah pernah bertemu dengan paman-paman ini? kapan? Dimana?”, tanya Daiki.

“Aku ketemu paman ini di desa. Waktu Daiya main, tiba-tiba paman ini memotret Daiya”, jawab Daiya.

“Yuto. Kau seperti penculik anak-anak saja”, gumam Keito.

“Habisnya dia lucu sih...”, ucap Yuto membela diri.

“Kalau paman ini”, Daiya menunjuk ke arah Yama. “Daiya dan kakak bertemu dengan paman ini di Rumah Sakit”

“Oh, jadi sekarang kau bekerja menjadi dokter ya?”, gumam Yuya.

“Yah, semenjak kekuatanku hilang, aku memutuskan untuk menjadi dokter demi menolong orang lain”, jawab Yama.

“Eh? Kemampuanmu hilang?”, tanya Yuya.

“Iyup. Semenjak pertarungan itu, kemampuanku sama sekali hilang. Aku hanyalah manusia biasa saja sekarang”, jawab Yamada.

Daiya kemudian melihat ke arah dua anak kembar cilik yang juga sedang mengamatinya. Dengan perlahan dia mendekati kedua anak kembar itu. “Hai, namaku Daiya. Nama kalian siapa?”, Daiya mengulurkan tangannya untuk mengajak kedua anak itu berkenalan.

Salah satu dari anak kembar itu membalas uluran tangan Daiya. “Aku Keiko, dia adikku, namanya Keita”, ucap anak perempuan itu.
Daiki mengamati kedua anak kembar itu. “Ini anak kalian?”, tanya Daiki kepada Yabu dan Inoo. Mereka serempak mengangguk.

“Kakak..”

Daiki tampak terkejut saat melihat seseorang yang memanggilnya ‘kakak’. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar panggilan tersebut. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca saat melihat sosok Fuka berdiri di hadapannya.

“Fuka!”. Daiki langsung memeluk saudaranya itu dengan erat. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau dia bisa melihat adiknya lagi untuk yang kedua kalinya. Apalagi adiknya kini telah memandanginya dengan pandangan yang sama seperti waktu kecil dulu. Suaranya pun terdengar penuh dengan kasih sayang, tidak penuh kebencian seperti pada saat dia masih menjadi salah satu petinggi maou, sang Jack.

Fuka membalas pelukan kakaknya dengan erat. Dia seakan tidak ingin melepaskan kakaknya. Rasa penyesalan dan gembira memenuhi dadanya. Menyesal karena dulu pernah berniat akan membunuh kakaknya, satu-satunya keluarganya. Gembira karena bisa melihat kakaknya lagi setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Dia merasa sangat lega saat melihat kakaknya itu masih melihatnya sebagai adik.

“Sudah. Sudah. Sudah cukup reuninya”, ucapan Jin membuyarkan acara pertemuan kembali yang mengharukan sekaligus membahagiakan itu. Yuya memberikan pandangan kesal pada Jin, tapi Jin tidak mempedulikannya. “Lalu, apa yang ingin kau bicarakan pak tua? Jangan bilang kau memanggil kami kembali kemari hanya karena ini”

Master yang duduk dengan tenang di kursinya mulai angkat bicara. “Seperti yang kalian tahu, saat ini, pasangan Yabu-Inoo, serta Takaki-Arioka sudah memiliki anak masing-masing. Pasangan Yamada-Chinen juga akan segera menyusul. Kalian tahu apa artinya kan? Kalau ada dua orang ksatria yang menikah dan memiliki anak, anak tersebut memiliki beberapa kemungkinan”

“Anak itu bisa menjadi ksatria keturunan darah murni, ksatria biasa, atau bahkan tidak menjadi seorang ksatria”, sahut Yuto.

“Kalau menjadi ksatria biasa atau bukan seorang ksatria tidak akan jadi masalah”, sahut Jin. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa. “yang menjadi masalah adalah kalau anak yang lahir adalah keturunan ksatria murni. Perang yang terjadi 10 tahun lalu bisa terulang kembali”

“Eh? Kok bisa? Bukankah sang Raja Kegelapan telah dikurung selamanya bersama dengan sang necromancer? Seharusnya dia bukan lagi menjadi ancaman”, sahut Yuri.

“Tidak. Ada kemungkinan kalau itu akan terjadi lagi”, bantah Keito. “Selama melakukan perjalanan dengan Jin, aku bertemu dengan beberapa makhluk kegelapan. Beberapa di antara mereka adalah makhluk kegelapan tingkat menengah. Masih ada kemungkinan kalau mereka akan menjadi maou dan kemungkinan terburuknya mereka menjadi salah satu petinggi maou. Dan mereka akan bisa membuka segel itu lagi, seperti petinggi maou yang dulu”

“Jadi... selama semua makhluk kegelapan di bumi ini masih ada, ancaman itu akan selalu menghantui kita?”, keluh Yamada.

“Benar. Saat ini, dari generasi ksatria yang baru, yang benar-benar terbukti menjadi seorang ksatria adalah anak-anak dari Takaki. Tapi tenang saja, mereka bukan ksatria darah murni, tapi karena kekuatan mereka baru bangkit, jadi mereka belum bisa mengontrol dengan baik. Selanjutnya adalah anak-anak dari Yabu dan Yamada, masih belum jelas apakah mereka seorang ksatria juga atau bukan”, jelas master.

“Padahal aku berharap kalau mereka bukan ksatria seperti kami”, gumam Daiki sedih.

“Untuk sementara, aku akan meminta kalian untuk tinggal di kota ini seperti dulu. Tidak perlu tinggal bersama lagi juga tidak apa-apa. Yang penting kalian tetap disini untuk standby bila ada apa-apa. Untuk Daiya dan Yuki, aku akan melatih mereka berdua”

Begitulah, mulai saat ini semua ksatria kembali berkumpul seperti dulu, dan melakukan pembagian tugasnya seperti dulu. Yuya kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai model. Yabu dan Hikaru kembali melanjutkan pekerjaan sebagai pencipta lagu. Yuto menjadi asisten fotografer. Sedangkan Daiki dan Inoo terkadang membantu di agensi kalau mereka memiliki waktu luang. Meskipun mereka menjalani hidup seperti biasa, tapi mereka tidak melupakan tugas mereka sebagai seorang ksatria. Mereka terus memasang sikap waspada, sewaktu-waktu bila ada serangan mendadak dari para makhluk kegelapan, mereka bisa menghadapinya.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar