Rabu, 10 Februari 2016

LITTLE PRANK, MORE REGRET

Cast : Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Shida Mirai, Nishiuchi Mariya
Main cast : OC (reader)
Genre : Angst, Romance, Drama

Part 1

Tuhan terkadang memang kejam. Dia suka memainkan takdir dan nasib manusia. Tidak terkecuali perasaan. Tuhan juga suka menguji ciptaan-Nya. Tuhan suka menguji manusia melalui perasaannya. Jika kita sukses melewati tes kecil yang Dia berikan, maka kita akan mendapat kebahagiaan. Tapi bila kita gagal, maka kesedihan dan kemalangan yang akan menimpa kita.

---***---

Akulah tokoh utama cerita kali ini. Aku masih muda. Umurku baru 16 tahun, itu berarti aku baru menduduki bangku SMA. Aku berhasil masuk SMA yang kuinginkan. SMA yang kumasuki adalah salah satu SMA favorit di kotaku dan terkenal susah untuk dimasuki. Oleh karena itu aku dan keluargaku sangat bangga aku bisa memasuki SMA ini.

Masa SMA adalah masa yang paling indah. Itulah yang sering dikatakan oleh orang-orang yang telah melewati bangku SMA. Ketika aku mendengarkan cerita mereka yang telah lulus, aku merasa kagum, penasaran, dan tidak sabar. Oleh karena itu, aku sangat menantikan kehidupan SMA-ku. Aku penasaran apakah aku bisa melewati kehidupan SMA-ku seperti yang aku impikan.

Ceritaku bermula ketika aku kelas 1 SMA. Pada masa orientasi, aku berkenalan dengan seorang gadis manis dan lugu yang bernama Shida Mirai. Dia sangat ramah dan baik hati. Aku merasa beruntung bisa berkenalan dengannnya.
Tidak lama setelah itu, aku mulai berkenalan dengan 2 orang lelaki yang ada di depanku, lelaki bertubuh tinggi yang bernama Nakajima Yuto dan lelaki bertubuh pendek yang bernama Yamada Ryosuke. Mirai-lah yang mengenalkanku pada mereka. Aku adalah anak yang pemalu, sehingga aku sama sekali tidak bisa memulai percakapan dengan orang lain. Untunglah, 2 anak cowok yang ada di depanku adalah cowok yang baik, sehingga aku bisa memulai bercakap ria dengan mereka.

Beberapa bulan kemudian, kami mulai akrab. Karena duduk kami berdekatan, tidak jarang kami 1 kelompok bersama. Nakajima adalah anak yang periang dan asyik. Dia selalu bercerita mengenai musik yang disukainya, hobinya, keluarganya, dan masih banyak lagi, seakan-akan dia tidak akan kehabisan bahan dalam perbincangan. Sedangkan Yamada, dia adalah anak yang tidak banyak bicara. Menurut teman sekelas yang lain, Yamada adalah anak pendiam. Tapi menurutku, dia sama seperti anak yang lain, dia suka bercanda, dia juga suka berbuat jahil, dia juga sering membalas SMS atau chat pribadiku.

Ya, aku dan Yamada diam-diam menjalin komunikasi secara online. Yamada memang tidak banyak bicara di hadapan orang lain, tapi di chat pribadi kami, dialah yang paling banyak berbicara. Meskipun aku hanya membalas chatnya secara singkat, tapi dia membalasnya secara panjang lebar dan sesekali pesan seperti itu terlihat mengesalkan.

Sering berkomunikasi, sering bertemu, sering bersama, menumbuhkan perasaan lain dari diriku. Ya, perasaan yang aneh. Aku selalu ingin bertemu dengannya, selalu ingin ada di dekatnya. Selalu ingin berjalan bersama dengannya. Selalu ingin tahu tentang dirinya. Pokoknya apapun yang ingin kulakukan dan kupikirkan selalu berkaitan dengannya.
Dan disaat itulah aku mulai sadar. Aku jatuh cinta pada temanku sendiri. Aku jatuh cinta pada Yamada Ryosuke. Dia bukan cinta pertamaku, tapi dialah orang yang pertama kali kusuka di saat aku menduduki bangku SMA ini.

---***---
‘Seandainya kau jadi pacarku, bagaimana?’

Aku terkesiap saat membaca isi chat yang dikirimkan Ryosuke padaku. Ya, karena kedekatan kami, aku diperbolehkan memanggilnya dengan nama kecilnya. Jantungku berdetak tidak karuan. Aku membutuhkan waktu lama untuk membalasnya. Biasanya, kapanpun aku menerima chat darinya, aku langsung membalasnya saat itu juga. Tapi kali ini, aku membutuhkan waktu untuk sejenak memikirkan jawabannya.

‘Memangnya ada apa? Jangan bercanda. Ini tidak lucu’
Bodohnya... aku membalasnya dengan ucapan seperti itu. Bagaimana kalau dia benar-benar serius menanyakan soal itu? bagaimana kalau dia benar-benar suka padaku?

Tidak. Aku tidak boleh terlalu berharap. Pengalaman pahit dengan cinta pertamaku membuatku berhati-hati memilih pasangan. Aku tidak ingin mengalami kesedihan lagi. Terlebih, jika aku benar berpacaran dengan Ryosuke, maka Ryosuke akan menjadi pacar pertamaku dan aku tidak tahu sama sekali bagaimana caranya berpacaran dengan baik.

Aku berdiri dan memandang cermin meja riasku. Aku tidak terlalu tinggi. Badanku tidak terlalu bagus seperti model. Wajahku juga tidak terlalu cantik. Aku juga tidak terlalu pintar, diantara kami berempat, akulah yang paling bodoh. Aku juga tidak memiliki kemampuan khusus. Satu-satunya yang mungkin bisa kubanggakan adalah perasaan sukaku pada Ryosuke yang meluap-luap. Aku bisa membicarakan apa yang kusukai darinya, apa sisi baiknya, dan apa sisi buruknya. Mungkin itu.

‘Kau benar, aku bercanda. Maaf ya... XD’

Aku lemas saat membaca balasan dari Ryosuke. Sekilas aku merasa kecewa. Aku berharap dia mengatakan hal lain. Aku berharap dia berkata, ‘aku menyukaimu’ padaku. Tapi balasan seperti ini saja mungkin cukup membuatku sedikit lega. Kami berdua pun kembali melanjutkan perbincangan kami seperti biasa, isi percakapan kami sama sekali tidak menyinggung percakapan sebelumnya. Dan aku memang tidak ingin membicarakan hal itu.

Seandainya aku tahu, kalau isi chatnya waktu itu serius, maka aku tentu akan menerimanya dan aku tidak akan menyesal seperti yang kualami saat ini.

---***---
Hatiku hancur saat aku melihat Ryosuke dan Mirai bergandengan tangan dan duduk berdekatan saat aku melangkah masuk ke dalam kelas. Langkahku terhenti di depan pintu, rasanya berat sekali untuk melangkah masuk dan mendekati mereka berdua. Tanpa perlu penjelasan dari mereka berdua, aku tahu kalau mereka telah menjadi pasangan kekasih. Raut muka Ryosuke yang sangat bahagia menunjukkannya. Aku sedikit terpukul ketika aku tahu kalau aku tidak pernah melihat ekspresinya yang seperti itu. Itulah ekspresi yang dia perlihatkan hanya pada orang yang sangat berarti baginya. dan itu bukanlah aku.

Oh Tuhan... seandainya ada pintu kemana saja, aku akan pergi ke suatu tempat dimana aku bisa berteriak dan menangis sekeras-kerasnya.

---***---
Akhirnya, aku mulai terbiasa. Aku sudah tidak merasa terlalu sakit saat melihat Ryosuke dan Mirai bersama. Sehari setelah jadian, Mirai menceritakan semuanya padaku. Bagaimana dia bisa merasa suka pada Ryosuke, bagaimana Ryosuke menembaknya, dan bagaimana mereka akhirnya bersama. Aku sedikit kecewa saat aku tahu bahwa Mirai juga diam-diam berhubungan dengan Ryosuke di belakang seperti yang aku lakukan. Awalnya aku sangat sedih, tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai melupakan perasaanku pada Ryosuke dengan mencari kesibukan lain.

Yang tidak aku mengerti adalah, apa maksud perkataan Ryosuke waktu itu? Apakah dia memang berniat mengajakku berpacaran, atau itu hanya candaan belaka seperti yang dia katakan?

Ryosuke mulai jarang mengirimiku pesan. Semenjak dia berpacaran dengan Mirai, frekuensi chat kami berkurang. Itu wajar, dia sudah menjadi milik Mirai. Tentu dia lebih banyak meluangkan waktu bersama dengan Mirai. Tapi aku tidak merasa kesepian. Disaat Ryosuke tidak mengiriku pesan, seorang yang lain mulai aktif berkomunikasi denganku. Dia adalah teman lelakiku yang lain, teman sebangku sekaligus sahabat Ryosuke, Nakajima Yuto.

Entah bagaimana awalnya aku dan Yuto mulai saling berkirim pesan. Ya, sejak awal aku sudah memanggilnya Yuto. Yuto sendiri yang meminta kami memanggilnya begitu. Dia tidak suka dipanggil dengan nama keluarganya. Alasannya, karena dia tidak ingin tertukar dengan panggilan adiknya, dan dia bilang dia akan merasa lebih akrab jika orang lain memanggilnya dengan nama kecilnya.

Aku sangat berterimakasih pada Yuto. Berkatnya aku bisa menerima hubungan Mirai dan Ryosuke. Aku sudah tidak terlalu sakit hati lagi. Aku bisa bersikap normal saat berbicara dengan Ryosuke maupun saat membaca isi pesannya yang terkadang terkesan ‘romantis’.

Sepertinya, Yuto tahu kalau aku menyukai Ryosuke. Terkadang saat aku terjebak diantara Ryosuke dan Mirai, Yuto tiba-tiba datang dan mengajakku pergi. Atau terkadang dia mengalihkan perhatian saat aku mulai merasa tidak enak dengan obrolan romantis Ryosuke dan Mirai. Ketika aku merasa canggung berduaan dengan Ryosuke, Yuto akan datang dan memecah suasana di antara kami. Aku benar-benar bersyukur Yuto ada di kehidupanku.

Beberapa bulan kemudian, perasaanku diuji. Ryosuke mengeluh padaku soal Mirai. Sepertinya mereka mengalami perselisihan akhir-akhir ini. Ryosuke selalu saja menjelekkan Mirai dan membandingkannya denganku. Di sudut hati kecilku, aku merasa senang Ryosuke memperhatikanku seperti itu. Tapi di sisi lain, aku tidak enak dengan Mirai. Aku tidak suka saat Ryosuke menjelekkan Mirai karena Mirai adalah sahabatku yang pertama di SMA ini.

‘Seandainya aku memilihmu menjadi kekasihku’

DEG. Jantungku langsung berdetak kencang saat membaca isi chat Ryosuke. Aku hampir saja tersedak karena saat itu aku sedang minum. Berkali-kali aku membaca isi chat itu dan mencubit pipiku. Ini bukan mimpi. Ini nyata.

Ada apa ini? Bukankah aku sudah memutuskan kalau aku akan melupakannya? Bukankah aku sudah bertekad akan mengikhlaskannya? Kenapa sekarang dia mengatakan kalau dia menyesal memilih Mirai dan menyesal tidak memilihku?

---***---
Beberapa hari ini aku mulai menjauhi Ryosuke. Entah kapan terakhir kali aku berbincang dengannya, aku tidak ingat. Aku ingin melupakan perasaanku dan aku ingin agar dia dan Mirai lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Aku lebih menghabiskan waktuku bersama dengan Yuto. Sama sepertiku, aku merasa kalau Yuto juga jarang berkomunikasi dengan Ryosuke akhir-akhir ini. Meskipun mereka masih duduk sebangku, aku merasa ada sebuah dinding tipis yang menghalangi mereka. Karena aku duduk di belakang mereka, aku tahu. Tidak hanya mereka berdua, aku juga merasakan ada dinding tipis antara aku dan Mirai. Entah kenapa, aku juga sepertinya perlahan menjauhi Mirai. Mirai juga tidak terlalu mempedulikan hal itu, dia juga mulai menjauhiku.

Persahabatan kami pecah. Ryosuke dan Mirai. Aku dan Yuto. Kami berempat mulai jarang berkumpul bersama. Yuto terkadang suka berkumpul bersama teman band-nya. Aku pun terkadang ikut berkumpul bersama mereka. Aku yang pemalu ini akhirnya memiliki banyak teman karena Yuto mengenalkanku pada teman-temannya.

Dan akhirnya, hubungan kami berempat menjadi renggang dan aku mulai merasa menjadi ‘orang lain’ bagi Ryosuke dan Mirai.

---***---
‘Kami akan tampil! Doakan kami!’

Aku tersenyum membaca chat dari Yuto. Bersamaan dengan itu, dia mengirimkan fotonya dengan bandnya yang sedang latihan. Yuto sedang memainkan drumnya. Di foto itu juga ada Okamoto Keito, si gitaris. Inoo Kei, si pianis. Yaotome Hikaru, si basis. Dan Takaki Yuya, yang menjadi main vokal band mereka. Aliran band yang dimainkan oleh Yuto dkk adalah pop rock. Terkadang aku diberikan rekaman permainan mereka oleh Yuto, dan setelah aku selesai mendengarkan, Yuto akan meminta pendapatku. Apakah aku suka atau tidak. Karena aku hanyalah orang awam yang tidak terlalu paham musik, aku hanya menjawab sesuai pendapatku saja.

Kini aku sudah menduduki bangku kelas 2 SMA. Aku, Mirai, Yuto, dan Ryosuke, kami terpisah di kelas yang berbeda-beda. Semenjak saat naik kelas, aku sama sekali tidak berbicara dengan Ryosuke. Kelas kami terpisah jauh. Apabila aku bertemu dengan Ryosuke secara tidak sengaja, maka aku akan berpura-pura tidak melihatnya. Meskipun pandangan kami berdua bertemu, dia tidak menyapaku dan aku pun tidak mau repot menyapanya. Hubunganku dan Ryosuke yang awalnya hangat kini telah berubah menjadi dingin.
Jujur, aku sedikit kecewa dengan ‘perang dingin’ yang terjadi antara aku dan Ryosuke. Tapi di sisi lain, entah kenapa ini adalah yang terbaik bagiku. Aku bisa melupakan Ryosuke dan memfokuskan diriku pada hal lain.

Sesekali aku mendengar berita soal Ryosuke dari mantan teman sekelasku, mereka berkata kalau Ryosuke dan Mirai sudah berpisah. Aku kecewa mendengarnya. Tapi, bila itu yang terbaik bagi mereka berdua, aku tidak berhak mengatakan apapun. Aku mulai merasa nyaman dengan kelas baruku dan hubungan baikku dengan Yuto.

“Kau suka pada Yuto kan?”

Aku tersedak. Mariya melihatku dengan penuh senyum. Dia tersenyum puas saat melihatku salah tingkah. Tebakannya benar. Aku mulai tertarik pada Yuto dan mungkin tanpa kusadari mungkin aku telah jatuh cinta padanya.

Oke... jangan salahkan aku. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta padanya? Dia selalu ada di sampingku akhir-akhir ini. Dia juga selalu menemaniku. Dialah yang menghiburku saat tahu aku bersedih karena kehilangan Ryosuke.

Kelas 2 SMA kulalui dengan bahagia. Meskipun kini Ryosuke tidak lagi ada di sampingku, tapi aku bahagia karena ada Yuto. Bahkan kedekatanku dengan Yuto saat ini sama dengan kedekatanku dengan Ryosuke dulu.

Kini aku mulai melupakan Ryosuke. Memang sih, terkadang mataku masih saja suka melihatnya saat dia tanpa sengaja lewat di depanku. Atau tanpa sengaja aku mendengar suaranya ketika dia berbicara. Tapi sekarang ini aku lebih memperhatikan Yuto. Dimanapun, aku selalu mencari Yuto. Jika aku tidak menemukannya dimanapun, maka aku segera mengirim chat padanya dan menanyakannya dimana dia berada dan sedang apa.

Aku sedikit bahagia saat temannya berkata bahwa kemungkinan Yuto juga menyukaiku. Mariya juga mengatakan hal yang sama. Dia bilang kalau Yuto memperlakukanku dengan sedikit berbeda. Aku menjadi sosok yang ‘spesial’ di matanya.

Tanpa kusadari, sebentar lagi kami akan duduk di bangku 3 SMA. Aku pun berdoa, setidaknya aku bisa sekelas lagi dengan Yuto. Aku berdoa, jikalau aku memang berjodoh dengan Yuto, maka setidaknya jadikan kami teman sekelas.

Dan... seminggu kemudian aku tidak menyangka hal ini...

Hari pertama menjadi murid kelas 3 SMA, aku langsung mencari papan pengumuman. Disana aku mencari dimana namaku dan nama Yuto. Aku hampir berteriak kegirangan saat aku melihat namaku dan Yuto berada di kertas yang sama. Itu berarti aku sekelas dengannya! Aku langsung gembira. Karena kupikir, Yuto benar-benar jodohku. Bukankah dengan terkabulnya doaku, maka itu berarti Tuhan juga mengiyakan Yuto sebagai jodohku?

Aku langsung buru-buru menuju ke kelas baruku. Wajahku langsung bersinar cerah saat aku melihat Yuto di dalam. Dia menyadari kehadiranku. Kakiku otomatis bergerak ke arahnya saat dia melambaikan tangannya ke arahku. Pikiranku hanya terfokus pada Yuto sehingga aku melupakan hal lain.

Terkadang Tuhan suka membuat keusilan. Entah ini hanya keusilan semata atau semacam ujian untuk perasaanku. Aku tidak tahu.

Aku terhenti saat melihat sosok yang sedang berada di depan Yuto. Orang itu sangat kukenal. Memoriku 2 tahun yang lalu kembali berputar di kepalaku.

“Ryosuke....”

Dan saat itulah aku merasa deja vu saat melihat sosok Mirai yang duduk tidak jauh dariku. kami berempat berkumpul kembali di kelas ini.

Tsuzuku~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar