Rabu, 10 Februari 2016

TEN KNIGHTS - AFTER THAT

sekuel dari Ten Knights tapi dilihat dari TaDaiki version

Chapter 1

"Ngh.....". Perlahan Daiki membuka matanya. Dia melihat langit berwarna kemerahan tepat di hadapannya. Angin pun berhembus di wajahnya. Di sebelahnya terdapat Yuya yang sedang tertidur. Dia melihat ke sekeliling. Padang hijau yang luas terpampang di hadapannya. Tidak jauh Dari situ, Daiki bisa melihat menara tempat segel berada yang kini telah rata dengan tanah.

"Kenapa aku bisa berada disini?? Seingatku tadi kami masih berada di dalam sana", Daiki berusaha mengingat apa yang terjadi. Tapi dia masih tidak tahu apa yang terjadi pads mereka Dan bagaimana mereka bisa keluar dengan selamat Dari sana.

"Ini dimana?", Yuya mulai sadarkan diri.

"Yuya, kau sudah sadar?", Daiki mendekat ke arah Yuya, memeriksa keadaannya.

"Daichan?", Yuya melihat ke sekelilingnya. "Ini dimana?", Yuya melihat ke tubuhnya yang tidak terluka satupun begitu pula dengan Daiki. "Hei, apa kita sekarang sudah mati? Terus kita sekarang berada di surga?".

Daiki menjitak kepala Yuya. "Baka! Kita belum mati tahu! Coba lihat disana", Daiki menunjuk ke arah reruntuhan menara. "Kita berhasil selamat Dari sana, kita masih hidup".

Yuya melihat Daiki dengan penuh tanda Tanya. "Bagaimana caranya? Kau yang membawa kita keluar?".

"Eh? Malah tadinya kupikir kau yang membawa kita keluar Dari sana".

"Tidak. Aku hanya ingat kalau aku tidak sadarkan diri di dalam sana".

"Lalu, bagaimana caranya kita bisa berada disini?", Yuya semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada mereka.

"Kalian berdua sudah sadar?", terdengar suara Dari belakang mereka. Sang sorcerer berdiri disana. Yuya Dan Daiki tersentak kaget saat melihatnya. Sosok sorcerer terlihat berkilauan dengan sinar matahari pagi yang menembus tubuhnya.

"Anda... Jangan-jangan anda yang membawa kami keluar Dari sana?", Tanya Daiki.

Sang sorcerer mengangguk, "benar, aku yang menyelamatkan kalian. Kalian sudah sangat berjasa karena berhasil menutup kembali segel. Tidak mungkin aku membiarkan kalian mati begitu saja. Aku meminta bantuan para roh untuk membawa kalian keluar sebelum kalian tertimbun disana", jelas sang sorcerer. Dia melihat Daiki dan Yuya secara bergantian. "Aku punya permohonan sekali lagi pada kalian berdua".

"Permohonan?", Yuya mengernyitkan dahinya.

"Aku ingin kalian berdua pergi ke wilayah utara. Disana ada kitab milik sang necromancer. Kitab itu berisi ilmu necromancy. Aku ingin kalian mencari kitab itu Dan menghancurkannya", pinta sang sorcerer.

"Kenapa kami? Kau bisa minta tolong pada master Dan Jin", Tanya Daiki.

Sang sorcerer menggeleng pelan, "aku tidak bisa meminta tolong pada mereka berdua. Aku ingin hanya sedikit orang yang tahu mengenai hal ini. Oleh karena itu, aku meminta tolong pada kalian berdua", sang sorcerer memandangi mereka berdua, "kalian tidak mau?".

Yuya dan Daiki saling berpandangan, "tentu saja kami mau", jawab mereka kompak.

"Anda sudah menyelamatkan kami, jadi sebagai balasannya kami akan melakukan apa yang anda inginkan", kata Daiki sambil tersenyum.

"Benar. Kami akan melakukan hal ini dengan senang hati", tambah Yuya.

"Lalu, kami harus kemana?", Tanya Daiki.

Sang sorcerer menghela napas lega. "Para roh akan menuntun kalian ke tempat bekas kediaman sang necromancer. Ikuti saja mereka. Tenang saja, manusia biasa tidak bisa melihat mereka. Bila kalian sudah menemukan kitab itu, langsung bakar habis dengan api hitam yang ada di kediaman sang necromancer".

"Kita tidak bertemu dengan yang lain terlebih dahulu?", Tanya Yuya.

Daiki menggeleng, "lebih baik jangan. Sang sorcerer minta agar ini dirahasiakan Dari yang lain kan? Kalau kita bertemu dengan mereka sekarang dan kita pergi ke utara, mereka pasti bertanya-tanya apa yang kita lakukan. Lebih baik kita pergi diam-diam saja". Daiki menoleh ke arah sang sorcerer, "kami akan pergi sekarang".

Sang sorcerer mengangguk pelan, "baiklah, aku sudah memberitahu para roh. Mereka akan menuntun kalian. Untuk awalnya, kalian ikuti saja dia". Sesosok roh berwujud kucing muncul Dari belakang.

"Lucunyaaaa......", teriak Daiki saat melihat kucing itu. Yuya hanya menggeleng pasrah melihat kelakuan Daiki. "Sayang, aku tidak bisa memeluknya", keluh Daiki.

Kucing itu lalu berjalan pergi ke suatu arah. Daiki Dan Yuya pun mengikuti kucing itu Dari belakang. "Semoga sukses!", ucap sang sorcerer sambil melambaikan tangannya pada mereka. Daiki Dan Yuya pun membalas lambaian tangan sang sorcerer. Mereka berlalu pergi mengikuti roh kucing yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan mereka.

---***---

Selama perjalanan, mereka terus dibimbing oleh para roh. Roh kucing yang awalnya memandu mereka kini tugasnya telah digantikan oleh roh lain yang berwujud anak kecil. Para roh tidak bisa muncul dalam waktu lama, oleh Karena itu, bila roh yang memandu mereka mulai menghilang, maka akan muncul roh baru yang akan memandu mereka.

Karena baik Yuya maupun Daiki sama sekali tidak memiliki uang, maka mereka berdua menuju ke kediaman sang necromancer dengan berjalan kaki. Untuk makan, mereka tinggal memakan buah-buahan atau berburu binatang untuk dimakan. Untuk tidur, mereka mencari rumah kosong atau gudang yang sudah tidak terpakai.

Setelah beberapa hari kemudian, kini mereka telah sampai di wilayah utara. Tinggal sedikit lagi mereka akan tiba di kediaman sang necromancer. Mereka kini memasuki daerah pedesaan. Wilayah disana masih hijau, tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Orang-orang disana pun sangat Ramah. Saat Yuya Dan Daiki bertemu dengan penduduk sana, penduduk itu tanpa ragu menyapa mereka berdua seakan-akan mereka adalah penduduk asli sana.

"Sekarang kita harus kemana?", Tanya Daiki pada roh wanita muda yang kini menuntun mereka. Roh itu kemudian menunjuk ke Arah bukit yang tampaknya cukup dekat dengan tempat mereka berada sekarang.

"Hiyaa.... Masih jauh juga ternyata", Yuya lalu duduk di bebatuan yang ada di pinggir Japan. Dia melebarkan kedua kakinya. "Aku sudah bosan berjalan terus".

Daiki menghela Napas, "tidak ada cara lain lagi Yuya. Satu-satunya cara agar kita bisa sampai disana adalah dengan berjalan kaki".

Brrmmm....
Terdengar suara mesin Mobil. Rupanya ada Mobil yang akan melintas disana. Yuya langsung tersenyum cerah saat mendengarnya, "ada cara lain kok Daichan".

Yuya mengulurkan tangannya ke Arah mobil yang akan melintas. Mobil jeep tua itu kemudian berhenti. Jendela samping mobil terbuka. Dari luar, Yuya Dan Daiki bisa melihat seorang wanita tua sedang duduk di belakang kemudi. Yuya kemudian mendekati jendela yang terbuka itu Dan mulai berbicara dengan wanita tua itu. Daiki tanpa sengaja melihat ke arah roh wanita muda yang menuntun mereka. Roh itu tampak sangat terkejut saat melihat wanita tua itu. Roh itu kini menunjukkan raut wajah sedih.

"Kau kenapa?", tanya Daiki pada roh itu. Roh itu langsung tampak terkejut mendengar pertanyaan Daiki. Daiki hanya diam menatap roh itu, menunggu apa yang akan dikatakan roh itu.

"Daichan! Ago cepat kemari! Keiko-san bersedia memberi tumpangan untuk kita", seru Yuya.

"Ah eh iya!", balas Daiki. Daiki melihat ke arah roh itu. Roh itu kini telah menghilang Dari hadapannya. "Kemana dia?".

"Daichan! Kau sedang apa? Ayo cepat!", ucap Yuya yang tidak sabar.

"Iya iya", Daiki lalu berlari kecil menuju ke arah Yuya.

"He... Istrimu lumayan manis juga", ucap wanita itu saat melihat Daiki. "Kau beruntung sekali memiliki istri seperti dia". Daiki hanya bisa melongo mendengar perkataan wanita tua itu.

"Istri? Memangnya kapan kita menikah?", Daiki bertanya pada Yuya yang hanya tersenyum Dari tadi.

Yuya langsungmerangkul Daiki, "Tentu saja. Istriku ini paling manis sedunia". Daiki semakin bingung dengan ucapan Yuya. Sedangkan Yuya terus merangkul Daiki dengan erat seakan memberi tanda kalau lebih baik Daiki tidak mengatakan apapun.

"Ahahaha... Dasar anak muda! Melihat kalian berdua aku jadi ingin menikah lagi!", ucap wanita itu sambil tertawa. Yuya pun ikut tertawa. Hanya Daiki yang masih bengong karena ucapan Yuya. "Apa yang kalian lakukan? Ayo cepat masuk. Aku akan mengantar kalian. Duduklah di bangku belakang", kata wanita itu. Yuya pun membuka pintu belakang Dan menyuruh Daiki untuk masuk terlebih dahulu, setelah itu baru Yuya masuk.

"Ah, aku belum memperkenalkan kalian ya. Daichan, perkenalkan, beliau ini namanya Keiko-san. Dia ingin kita memanggilnya seperti itu. Keiko-san, ini Daiki, istriku", ucap Yuya sambil memperkenalkan mereka berdua. Daiki langsung melihat ke arah Yuya sambil mengeryitkan dahinya, Yuya hanya cengar-cengir melihatnya.

"Baiklah, kalau begitu Ayo kita berangkat", Keiko-san mulai menyalakàn mobilnya kembali. Mobil jeep itu kini kembali melaju melintasi jalan perbukitan itu.

Daiki lalu menjewer telinga Yuya Dan berbisik padanya, "kau ini kenapa sih? Kita kan belum menikah, kenapa kau mengaku padanya kalau kita sudah nenikah?".

"Aduh...", rintih Yuya pelan sambil memegang telinganya yang kesakitan. "Tidak masalah kan? Toh kita memang akan menikah nanti. Kalaupun aku mengaku kita sudah menikah sekarang juga tidak ada bedanya".

"Dasar!!", Daiki kembali menjewer telinga Yuya. Yuya hanya bisa merintih kesakitan Dan memegangi telinganya yang kini agak sedikit merah.

"Sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu pada kalian", ucap Keiko-san. "Kalian berdua ini kawin lari ya?".

Daiki langsung tersentak kaget mendengar pertanyaan dari Keiko-san. Sedangkan Yuya hanya bisa tertawa terbahak-bahak, "ahahahaha.... Keiko-san ini, kenapa bertanya seperti itu?", tanya Yuya.

"Habisnya kalian berdua masih terlalu muda untuk menikah. Apalagi Daiki ini, kurasa umurnya sekarang masih belasan tahun", kata Keiko-san.

"Kami memang belum mendaftarkan pernikahan kami secara resmi. Tapi kami sungguh-sungguh untuk menikah. Kurasa semakin cepat aku menikahinya, akan semakin baik. Aku tidak ingin dia direbut oleh orang lain", ucap Yuya sambil membelai lembut rambut Daiki. Daiki langsung tersipu malu mendengar ucapan Yuya.

"Oh, ternyata Yuya-kun ini cukup posesif juga ya. Daiki-chan kenapa kau mau dengannya?", tanya Keiko-san pada Daiki.

Daiki melirik ke arah Yuya, "hanya dia satu-satunya yang ingin bersamaku. Dia selalu melindungiku dimanapun aku berada. Saat aku bersama dengannya, aku merasa sangat aman Dan terlindungi", jawab Daiki. Yuya langsung memeluk Daiki dengan erat. Daiki hanya bisa pasrah berada dalam dekapan Yuya.

Sesaat kemudian, Daiki melihat ada sesosok roh laki-laki sedang berdiri di pinggir jalan di depan mereka. Roh itu melambaikan tangannya ke arah Daiki. Daiki langsung mengerti apa yang dimaksud oleh roh itu. Daiki mencolek tangan Yuya, Yuya yang melihat roh itupun juga mengerti apa yang dimaksud oleh Daiki.

"Keiko-san, kami akan turun disini. Terima kasih sudah bersedia mengantarkan kami", ucap Daiki.

"Eh, kalian yakin mau turun disini? Kalau tujuan kalian masih jauh, aku bisa mengantarkan kalian kok", ucap Keiko-san sambil menurunkan kecepatan mobil.

"Tidak apa-apa Keiko-san. Tujuan kami sudah dekat. Kami akan turun disini saja", tambah Yuya. Mobil jeep itu kemudian berhenti tempat di depan roh laki-laki itu, tentu saja, hanya Daiki Dan Yuya yang bisa melihat roh itu.

"Terima kasih Keiko-san", ucap Yuya sambil menundukkan kepalanya.

"Terima kasih sudah mengantarkan kami Keiko-san", tambah Daiki.

"Tidak apa-apa. Aku juga senang bisa membantu kalian", ucap Keiko.

"Baiklah, kami pergi dulu ya Keiko-san", Daiki melambaikan tangannya Dan kemudian berlalu pergi mengikuti roh laki-laki yang kini sudah berjalan terlebih dahulu. Yuya kemudian juga ikut berjalan mengikuti Daiki Dari belakang.

"Semoga sukses para ksatria. Berhati-hatilah, jangan sampai kalian terkena perangkap". Yuya langsung menoleh kembali ke arah belakang, tapi Keiko telah berlalu pergi bersama dengan mobilnya. Yuya menatap mobil Keiko dengan penuh tanda tanya. Dia jadi meragukan apa yang sudah didengarnya tadi.

"Siapa Keiko-san sebenarnya??".

---***---

Yuya Dan Daiki terus berjalan mengikuti roh lelaki itu. Sepanjang perjalanan, Yuya hanya diam saja. Dia masih memikirkan ucapan dari Keiko-san yang didengarnya tadi. Yang menjadi tanda Tanya adalah, bagaimana bisa Keiko-san tahu kalau mereka berdua adalah ksatria? Padahal baik Yuya maupun Daiki sama sekali tidak memberitahukan identitas mereka yang sebenarnya. Dan lagi, apa maksudnya dengan perangkap? Apakah Keiko-san tahu kemana mereka akan pergi?

"Kau kenapa? Capek? Dari tadi kau diam saja", Tanya Daiki yang terus mengamati Yuya. Daiki sadar kalau tingkah laku Yuya sedikit aneh sejak mereka turun dari mobil. Seperti sedang memikirkan sesuatu.

Yuya melihat Daiki. Yuya tahu kalau Daiki terlihat sedikit cemas dengan kondisinya ini. Yuya kemudian tersenyum untuk menghapus kecemasan cewek yang ada di hadapannya itu. "Tidak apa kok. Mungkin aku hanya berprasangka saja".

"Apanya?", tanya Daiki.

"Sudahlah. Ayo kita jalan lagi", Yuya menggandeng tangan Daiki dan menuntunnya berjalan mengikuti roh lelaki itu. Daiki masih bertanya-tanya apa yang dimaksud oleh Yuya.

Mereka kini telah sampai di sebuah ladang hijau yang cukup luas. Tidak ada apapun di ladang itu sehingga bila dilihat dari jauh, ladang itu tampak sangat luas. Tiba-tiba ada sesuatu yang aneh di tengah ladang tersebut. Entah kenapa, tampak seperti ada sebuah kubah bening berada di tengah ladang itu.

"Yuya, kau lihat itu?", Daiki menunjuk ke arah Kubah transparan itu.

Yuya mengangguk. "Ya, kurasa itu adalah sebuah pelindung. Ada sesuatu di dalam pelindung itu. Kurasa disanalah tempat kediaman sang necromancer berada. Benar kan?", Yuya menoleh ke arah roh laki-laki itu. Roh itu mengangguk mengiyakan.

"Eh?? Yang benar?? Kupikr tempat kediaman sang necromancer berada di sebuah gua, atau di bawah tanah. Tidak kusangka dia tinggal di tempat terbuka", ucap Daiki. Yuya hanya tersenyum geli mendengar ucapan Daiki.

"Nah, Ayo kita masuk". Mereka berdua berjalan mendekati pelindung tersebut. Kini mereka telah berada di lapisan terluar pelindung. Mereka berdua terdiam di tempat dan mengamati pelindung tersebut.

"Pelindung ini bagus sekali. Benar-benar sempurna. Siapa yang membuatnya ya?", gumam Yuya.

"Kurasa salah satu dari sang sorcerer, alchemist, atau magician. Hanya mereka bertiga yang tahu tempat ini kan? Kita para ksatria saja tidak mengetahui tempat ini", ucap Daiki.

"Kurasa begitu", Yuya mengarahkan tangannya ke arah pelindung itu. "Ayo kita masuk". Yuya berjalan masuk menembus pelindung. Daiki mengikutinya dari belakang. Sesampainya di dalam pelindung. Yuya dan Daiki dikejutkan dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka.

"Apa apaan ini?", seru Yuya. Matanya terus terbelalak kaget. Di hadapan mereka terdapat banyak batu nisan, jumlahnya mungkin puluhan.

Daiki berjalan mendekati salah satu batu Nisan. Dia mengamati batu nisan tersebut. Ada tulisan kuno terukir di atasnya. Daiki melihat batu nisan yang lain. Kondisinya juga hampir sama. "Hmm... Kurasa ini adalah pemakaman kuno. Tulisan di batu nisan ini, adalah tulisan yang digunakan jalan dulu", ucap Daiki sambil mengamati kuburan satu persatu.

"Kau bisa membacanya?", tanya Yuya yang masih terdiam di tempat.

Daiki menggeleng. "Kalau Inoo mungkin bisa. Dia menguasai hal ini. Aku pernah diajari oleh mama, tapi tidak ada satupun yang kuingat".

"Tapi... Ini kuburan apa? Kenapa kuburan ini ada di balik pelindung? Lalu, dimana kediaman sang necromancer?", Yuya mengamati sekelilingnya. Matanya menangkap suatu bangunan yang ada di tengah pemakaman. "Hei Daichan! Jangan-jangan itu...", Yuya menunjuk bangunan yang tampak seperti sebuah rumah mini. Daiki melihat ke arah yang ditunjuk oleh Yuya.

"Kurasa itu tempatnya. Ayo kita kesana". Daiki dan Yuya beranjak menuju ke rumah tersebut. Yuya memperhatikan langkahnya dengan hati-hati. Sebisa mungkin dia berusaha agar tidak menginjak kuburan yang ada.

Mereka kini telah sampai di depan rumah tersebut. Sesampainya di rumah itu, mereka kini dihadapkan dengan sebuah persoalan sulit. Daiki dan Yuya berkeliling mengamati rumah itu, tapi mereka sama sekali tidak menemukan pintu masuk maupun jendela di rumah itu. Rumah itu hanya terdiri dari dinding tebal.

Srak.
Yuya mendengar ada sesuatu yang bergerak di sekitar mereka. Dia membalikkan badannya dan mencari darimana suara itu berasal. Sedangkan Daiki sama sekali tidak mendengar suara itu dan masih mencari cara untuk masuk ke dalam rumah.

Srak.
Suara itu terdengar lagi. Kali ini cukup keras. Yuya melihat ke arah sumber suara. Dia tampak sangat terkejut saat mengetahui apa yang menimbulkan suara tersebut. Tanpa disadarinya, Yuya berjalan mundur mendekati Daiki.

"Nee.. Daichan. Aku ingin menanyakan sesuatu".

"Apa?", balas Daiki tanpa melihat ke arah Yuya.

"Kemampuan sang necromancer itu, membangkitkan kembali yang sudah mati kan?".

"Iya", jawab Daiki singkat.

"Meskipun sudah jadi tulang, dia bisa membangkitkannya kan?".

"Iya", jawab Daiki. "Kenapa kau bertanya seperti itu?", Daiki yang merasa aneh lalu membalikkan tubuhnya menghadap Yuya. "Owah...". Daiki tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat ada tengkorak hidup yang sedang berjalan ke arah mereka. Daiki langsung menggenggam baju Yuya. "Apa yang akan kita lakukan?", bisik Daiki.

"Aku juga tidak tahu. Yang lebih penting, kenapa tengkorak itu bisa hidup? Apakah ada yang membangkitkannya?".

Tengkorak itu terus berjalan mendekati Daiki dan Yuya. Daiki dan Yuya hanya bisa berdiri terpaku, mereka tidak tahu harus melakukan apa. Kini jarak antara tengkorak dan mereka berdua sangat dekat. Yuya memasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang tengkorak itu bila tengkorak itu menyerang mereka.

Beberapa saat kemudian, Daiki dan Yuya dibuat bengong oleh tengkorak tersebut. Tengkorak itu membungkukkan badannya kepada mereka berdua seakan memberi hormat pada mereka. Tengkorak itu kini melihat ke arah Yuya dan Daiki melalui lubang matanya itu. Tengkorak itu kemudian berjalan ke arah salah satu dinding dan menempelkan kedua tangannya. Seketika, bagian dinding yang tersentuh oleh tengkorak itu membentuk sebuah pintu dan terbuka. Tengkorak itu mengarahkan tangannya ke arah pintu sambil menghadap Yuya dan Daiki.

"Apa maksudnya? Dia ingin kita masuk?", tanya Yuya.

"Kupikir begitu", jawab Daiki. Dia kemudian berjalan melewati Yuya dan menuju ke pintu yang terbuka.

Yuya dengan sigap menghentikan Daiki dengan mencengkeram lengannya. "Apa yang kau lakukan?".

"Bukankah sudah jelas? Masuk ke dalam".

"Kalau ini perangkap bagaimana?".

"Kita akan baik-baik saja. Kan ada kau. Dengan kemampuanmu itu kita bisa terhindar dari serangan mendadak kan?", ucap Daiki sambil tersenyum. Kali ini dia menggandeng tangan Yuya dan menariknya masuk. Yuya hanya bisa pasrah mengikuti kemauan kekasihnya itu. Mereka berdua kini melangkah masuk ke dalam rumah melalui pintu yang terbuka.

Tsuzuku....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar