Rabu, 03 Februari 2016

ENTERTAINMENT LOVE

New series!
(Padahal series yg lain blm selesai XD)

Genre : Romance, Drama, dan sedikit comedy.
Warning : Gender switch!
(Inoo, Daiki, Yamada, Chinen, dan Ryutaro jd cewek disini)
NB : pernah dipost di note fbku. Disana tertulis part 1-3, tp disini tertulis chapter 1. G bingung kan?

Chapter 1

Di sebuah kursi, duduklah seorang wanita dan lelaki paruh baya yang tampak tegang membaca isi kertas yang ada di tangan mereka. Sesekali mereka menatap satu sama lain tanpa bicara.

“Bagaimana?”, tanya seorang laki-laki yang sudah berumur. Dilihat dari posisi duduk dan sikap dua orang itu, tampaknya laki-laki itu adalah pemimpin mereka.

“Tapi, pak presdir...”

“Ide bagus kan? Ini juga bisa menghapus stigma buruk masyarakat mengenai idol kita”, lelaki yang dipanggil presdir itu memotong ucapan lelaki paruh baya itu.

“Bagaimana dengan larangan itu? apakah anda akan menghapusnya?”. Kali ini giliran si wanita yang bertanya.

“Peraturan itu tetap akan berjalan. Itu mutlak!”

---***---

“Uwaa.... Inoo-chan kawaii!!!”

Seorang pemuda yang paling jangkung berteriak histeris. Membuat seluruh temannya yang ada di ruangan itu melihat ke arahnya. Di tangannya ada majalah IDOL edisi terbaru. Matanya terpaku pada sosok perempuan muda yang mengenakan gaun putih bersih. Di punggungnya ada sebuah sayap. Bagaikan seorang malaikat.

“Coba lihat dia Yabu. Kawaii deshou?”

“Hmm... apa Yuto?” Pemuda yang dipanggil Yabu itu menoleh sekilas ke arah majalah yang dipegang oleh pemuda itu. “Dia memang cantik”

“But, I think Yamada is more prettier than Inoo. Look... she is so natural and photogenic. More like angel than Inoo, right?”, seorang pemuda yang memiliki tubuh berotot ikut bergabung dengan Yabu dan Yuto.

“Keito! Sudah berkali-kali kubilang, jangan bicara menggunakan bahasa Inggris”, omel pemuda bergigi gingsul yang sedang memainkan bassnya.

“Oh... Sorry Hikaru”

Hikaru hanya berdecak pelan dan kembali melanjutkan permainan gitarnya.

“Nee... Yuya. Kau suka yang mana?”. Yuto menunjuk ke salah satu halaman di majalah. Disana terdapat foto 5 perempuan muda.

“Hmm.... mungkin Inoo?”, jawab pemuda bernama Yuya sekenanya. Dia lalu mengeluarkan mp3 player miliknya dan mendengarkan musik melalui headsetnya.

“JANGAN!!! INOO-CHAN PUNYAKUU!!!”, jerit Yuto histeris. Mukanya terlihat sangat serius.

---***---

“Chii! Gerakanmu tadi sempat berhenti. Daichan! Gerakanmu juga tadi ada yang salah. Ryuu! Suaramu kenapa sumbang gitu?”

“Yama-chan... kita semua baru selesai perform. Istirahat sajalah dulu...”, gumam seorang perempuan bertubuh mungil di antara kelima perempuan yang ada di ruangan itu.

“Itu benar! Terlebih, kenapa kau tidak memarahi Inoo-chan juga? Inoo-chan juga tadi melakukan kesalahan kan?”, gerutu perempuan yang memiliki pipi chubby sambil menunjuk ke arah perempuan yang sibuk menata rambutnya.

“Hmm? Kau ingin mengatakan sesuatu, Yama-chan?”, Inoo menatap ke arah perempuan yang sedari tadi marah-marah itu.

“Tidak. Inoo senpai sangat sempurna. Tidak ada yang salah kok”

“Ah, baguslah”, Inoo melanjutkan kegiatannya menata rambut.

“Cih, pilih kasih”, gerutu perempuan yang paling muda.
Perempuan berpipi chubby itu lalu menyalakan TV yang ada di ruangan mereka. Tangannya terhenti saat TV menyiarkan penampilan sebuah band.

“Seperti biasa, lagu mereka enak didengar”, gumam Chinen.

“Deshou? Lagu buatan Yabu-kun selalu bagus”, balas perempuan yang berpipi chubby.

“Kau selalu saja membanggakan Yabu, Daiki... Padahal yang menyanyikan lagu itu si Takaki. Suara Takaki-lah yang membuat lagu ini bagus”

“Itu karena kau suka pada Takaki kan, Yamada?”, ucapan Daiki membuat Yamada bersemu merah.

“Rap Hikaru juga membuat band ini berbeda”, perempuan yang paling muda itu juga ikut-ikutan menimpali.

“Ah kalian ini... kenapa kalian suka pada laki-laki yang kurus kerempeng begitu? Coba lihat Keito. Dia yang paling laki-laki disini. Permainan gitarnya juga sangat bagus”, Inoo ikut menimpali.

Tidak lama kemudian, 5 perempuan itu masuk ke dalam mode ‘Fangirl’ mereka.

---***---

“Bagaimana ini, Julie-san?”

Wanita yang bernama Julie itu menghela nafas panjang. “Mau tidak mau kita harus menurutinya. Hiruma, beritahu bocah-bocah itu. Aku juga akan bicara dengan gadis-gadis itu”

“Tapi, apakah ini ide yang baik? Menggabungkan mereka. Bagaimana kalau aturan itu dilanggar?”

“Itu tugas kita. Kita akan mengawasi mereka agar aturan itu tetap terjaga. Ingat. Sesama rekan artis dalam satu agensi, dilarang menjalin percintaan”

---***---

5 anak laki-laki dan 5 anak perempuan berkumpul dalam sebuah ruangan yang sama. Mereka duduk saling berhadapan satu sama lain. Wajah mereka terlihat sangat tegang. Sesekali mereka tampak saling berbisik satu sama lain sambil melirik orang yang ada di hadapan mereka.

“Sesuai dengan perintah pak presiden. Kalian akan bekerjasama”

10 anak remaja itu tampak terkejut mendengar perkataan Julie. Mereka kembali saling pandang dan berbisik satu sama lain. Hiruma tampak cemas melihat reaksi mereka. Dia menggerakkan kedua jarinya, kebiasaannya sangat dia merasa gelisah.

“Sepertinya mereka tidak setuju dengan keputusan ini Julie-san”

“Tidak setuju? Darimana kau tahu mereka tidak setuju?”

“Coba lihat ekspresi mereka, mereka terlihat takut dan tegang”

“Ah masa? Apa kau tidak salah lihat?”

“Salah lihat bagaimana?”

Hiruma melihat ke arah 10 pemuda pemudi yang berkumpul itu. Apa yang terjadi selanjutnya tidak bisa dibayangkan oleh Hiruma.

“A—ano.....”, Yuto tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangannya pada Inoo. “Namaku Nakajima Yuto! Aku sangat senang bisa bertemu dengan anda, Inoo-san!”

Suasana langsung hening saat Yuto yang gugup memperkenalkan diri itu berdiri dan diam terpaku ke arah Inoo. Beberapa detik kemudian, terdengar suara tawa dari 3 anak perempuan yang berada di sebelah Inoo.

“Huahahaha!!! Yuto! Kau seperti wota saja!”

“Diam kau, Yama-chan! Aku juga tahu kalau kau nervous berada di depan Yuya. Tidak usah mengejekku!”

Yamada langsung terdiam dan melihat ke arah Yuya yang kini juga melihat ke arahnya. Dia langsung menunduk malu dan menyembunyikan wajahnya di balik pundak Chinen. Arioka yang tadi juga ikut tertawa kini juga ikut terdiam. Dia tidak mau Yuto membeberkan perasaannya pada Yabu yang juga ada disana.

Chinen langsung menatap tajam ke arah Yuto, “Kau seharusnya tidak membocorkan soal itu, Yuto!”, hardik Chinen.

“Salahnya sendiri menertawaiku”, balas Yuto.

Yamada, Chinen, Yuto, Arioka, dan Hikaru semuanya bersekolah di tempat yang sama. Chinen dan Yuto sekelas, sedangkan kelas Yamada ada di sebelah kelas mereka. Mereka bertiga kini duduk di bangku kelas 1, Arioka di kelas 2, sedangkan Hikaru di kelas 3. Meskipun mereka tidak pernah saling bertemu di agensi, tapi mereka saling bertemu saat di sekolah.

“Nakajima-kun kan? Aku sudah mengetahuimu kok”, Inoo akhirnya membalas ucapan Yuto.

“Eh?”

“Guru musik kalian juga mengajariku. Dia sering bercerita tentang kalian, termasuk kau”

Yuto tersipu-sipu mendengar ucapan Inoo. Dia tidak menyangka kalau Inoo sudah mengetahui soal dirinya, dia sangat senang sekali mendengar ucapan itu. Sayangnya Yuto tidak menyadari kalau Inoo mencuri pandang ke arah Keito, yang juga mencuri pandang ke arah Yamada yang masih tersipu malu.

“Kau masih mengingatku, Inoo-san?”

Inoo menoleh ke arah Yabu, dia tersenyum melihat pemuda yang paling kurus di antara 5 pemuda itu. “Tentu saja. Kita berdua seangkatan kan? Sesekali kita bertemu kalau ada pertemuan ketua grup. Benar kan, Yabu-san?”

Arioka yang melihat suasana akrab yang ada di antara Yabu dan Inoo merasa iri. Dia tahu kalau Yabu dan Inoo masuk ke agensi ini dalam waktu yang sama, sehingga mereka saling mengenal. Mereka berdua bahkan termasuk salah satu artis senior di agensi ini. Mereka berdua masuk ke agensi saat agensi ini baru 2 tahun dibuka.

“Ah Daichan, tidak disangka kita bertemu disini ya”, sapaan Hikaru membuyarkan perhatian Arioka. “Aku sama sekali tidak menyangka kita bisa bertemu di luar sekolah”

“Hikaru-kun...”, Arioka merasa ada sesuatu yang menyenggolnya dari belakang, rupanya Ryu meminta Arioka untuk mengenalkan dirinya pada Hikaru. “Hikaru-kun, perkenalkan, ini anggota kami yang paling muda, namanya Morimoto Ryuki”

“Halo, namaku Morimoto Ryuki. Salam kenal Yaotome-san”, ucap Ryu malu-malu. Arioka melihat ke arah Ryu dengan ekspresi heran. Sifat Ryu berubah menjadi sangat manis dan Arioka tidak pernah melihatnya seperti itu bahkan ketika mereka bertemu dengan fans.

“Ah, panggil saja Hikaru seperti Daichan. Aku tidak terbiasa dipanggil dengan nama keluargaku”

“Baiklah. Hikaru.... san”, Ryu langsung tersipu saat dia berhasil memanggil orang yang dikaguminya dengan nama kecil. Dia tidak menyangka kalau impiannya menjadi kenyataan.

Diantara 10 anak muda yang berkumpul itu, sepertinya hanya 1 orang yang tidak tertarik dengan pertemuan ini. Yuya hanya bersandar dan mengamati tingkah laku 9 anak muda yang lainnya. Dia sama sekali tidak berkomentar apapun dan hanya diam sambil mengamati mereka semua.

“Sudah kubilang kan, tidak usah khawatir. Mereka semua pasti akan setuju dengan rencana itu. rencana itu pasti akan berjalan”, ucap Julie sambil menepuk pundak Hiruma yang tercengang melihat apa yang terjadi di depan matanya. “Yang perlu kita khawatirkan sekarang adalah bagaimana supaya peraturan itu tidak dilanggar selama rencana itu berjalan. Perasaan seseorang bisa berubah dan itu bisa berasal dari kejadian yang tidak kita duga sama sekali”, ucap Julie sambil menatap ke arah Yuya yang kelihatan tidak tertarik. Baginya, diantara seluruh anak muda yang berkumpul, dia merasa kalau Yuya yang pertama kali akan membawa masalah.

---***---

Siapa yang menyangka kalau di dalam sebuah gedung yang terlihat tua dari luar,  terdapat beberapa peralatan kamera terbaru. Tidak hanya itu, disana juga terlihat beberapa model baju dari merek terkenal, peralatan make up terbaru dan lengkap, dan yang lebih menarik perhatian adalah beberapa orang yang terlihat keren dan cantik.

“Kita akan syuting PV disini?”, Yuto yang sudah selesai dirias, mengelilingi studio itu.

“Aku tidak menyangka. Kita beneran buat PV!”, sorak Chinen gembira. Dia memang yang paling aktif dan sedari tadi tidak bisa diam.

“Yama-chan... kenapa kau menempel terus padaku?”

“Dai-chan... aku gugup...”

Daiki menghela nafas. Dia tahu alasan kenapa temannya itu selalu menempel padanya dan bersembunyi di balik badannya. Siapa lagi kalau bukan karena Takaki Yuya? Yamada terus menerus gugup ketika berhadapan dengan Takaki.

“Yama-chan, kita akan tampil bersama sebagai 1 grup dalam kurun waktu yang agak lama. Kau harus membiasakan diri”

Ya, seperti yang dibilang sebelumnya. Akibat ide dari direktur, kelompok cewek dan cowok digabung menjadi satu. Mereka dibagi menjadi 2 sub unit. Yamada, Chinen, Arioka, Yuto, dan Takaki, grup mereka bernama STARS. Grup lainnya yang diberi nama MOON  beranggotakan Yabu, Inoo, Yaotome, Okamoto, dan Morimoto. Masing-masing sub unit memiliki satu single, dan kali ini grup STARS yang terlebih dulu menyelesaikan syuting PV sedangkan grup MOON masih berada dalam proses rekaman.

“Tapi Dai-chan... aku tidak bisa tenang. Apalagi si tiang itu sudah membocorkan perasaanku di depan Yuya”, Yamada menunjuk ke arah Yuto yang asyik memainkan kamera staff. “Kau enak karena Yabu tidak ada disini bersamamu”

Daiki menghela nafas lagi. Yamada ada benarnya. Jika dia berada dalam posisi Yamada, maka dia juga akan merasa gugup. Untunglah perasaannya tidak diketahui oleh yang lain. Tapi Daiki tetap merasa takut apabila Yuto tiba-tiba tidak bisa menjaga mulutnya lagi.

“Aaahh.... kenapa aku harus segrup dengan kumpulan chibi ini? inoo-sama.... aku ingin segrup denganmu...”

Daiki dan Yamada langsung spontan memukul kepala Yuto. Sedangkan Chinen tampaknya tidak peduli dan asyik bermain dengan Takaki yang sedang duduk santai di salah satu set syuting. Entah sejak kapan keduanya akrab.

“Kenapa sih kalian berdua?”, geram Yuto sambil memegangi kepalanya yang sakit karena dipukul oleh dua orang cewek chibi itu.

“Salahmu sudah menghina kami!”, Yamada melotot ke arah Yuto. Dia masih dendam pada Yuto karena membocorkan soal perasaannya.

“Apaan sih? Itu kan kenyataan. Kalian berdua memang chibi kok. Coba lihat Chinen, dia tidak keberatan dipanggill chibi”

Yuto menunjuk ke arah Chinen yang kini sedang bergandengan tangan dengan Takaki. Melihat itu, Yamada sedikit syok. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan sedih dan cemburunya saat melihat Chinen dan Takaki.

Yamada sangat iri pada Chinen. Chinen dengan mudahnya berinteraksi dengan Takaki. Ketika grup ini dibentuk, Chinen berhasil langsung memanggil Takaki dengan nama kecilnya, Yuya. Berkali-kali dia melihat Chinen asyik bermanja pada Takaki. Takaki memang orang yang baik. Meskipun dia kelihatan cool dan tidak banyak bicara, tapi dia bisa berinteraksi dengan anak kecil. Itulah mungkin sebabnya Chinen bisa langsung akrab dengan Takaki.

“Kalau kau terus diam saja, Takaki akan diambil oleh Chinen”

“Berisik. Itu semua gara-gara kau membocorkan perasaanku di depannya. Aku jadi susah berinteraksi dengannya”

“Kenapa?”, kali ini Yuto melihat ke arah Yamada. “Bukankah ini kesempatan bagus? Kau bisa segrup dengannya, kau punya kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh, kau jadi sering bertemu dengannya. Kesempatanmu sangat besar, baka!”

“Jika aku menjadi kau, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk berkenalan lebih jauh dan tidak akan menyiakannya”, tambah Yuto lagi sebelum dia kembali memainkan kamera dan pergi meninggalkan Yamada dan Daiki.

Yamada terdiam. Yuto ada benarnya. Bukankah dia diberi kesempatan lebih banyak? Jika biasanya dia hanya bisa melihat Takaki dari jauh, bukankah kini dia beruntung bisa melihatnya lebih dekat? Bukankah itu impiannya bisa melihat Takaki hampir setiap hari?

“Yama-chan!!!”

Chinen mendekat ke arah mereka berdua sambil menggandeng Takaki. Ada sedikit rona kecemburuan saat melihat tangan mereka berdua.

“Setelah ini Yuyan mengajak kita untuk makan bersama. Kalian mau ikut?”

“Eh? Tapi....”

“Kami ikut!”, jawab Daiki sambil merangkul Yamada. “Kami berdua pasti ikut. Ya kan, Yama-chan?”, ucap Daiki sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Yokatta... aku akan memberitahu Yuto soal ini”

Chinen pergi menghampiri Yuto dan menyampaikan berita itu. tampaknya Yuto juga akan ikut bersama setelah Yamada melihat Yuto menganggukkan kepalanya.

“Dai-chan... kenapa?”

“Ini kesempatan bagus Yama-chan. Jangan disia-siakan”

Tsuzuku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar